Pajak Digital Layanan Amazon, Google, Netflix, dan Spotify Mulai 1 Agustus 2020

Mulai 1 Agustus 2020 nanti, beberapa layanan digital yang digunakan oleh pengguna internet atau layanan daring di Indonesia akan mengalami kenaikan harga. Ada enam perusahaan penyedia produk/layanan digital yaitu Amazon Web Services Inc, Google Asia Pacific Pte. Ltd,Google Ireland Ltd, Google LLC, Netflix International B.V., dan Spotify AB yang akan mengenakan pajak PPN 10% kepada konsumen.

Jadi, yang menggunakan layanan seperti Amazon Web Service (AWS), Google Cloud Platform (termasuk layanan Google lain), Netflix, dan Spotify perlu siap untuk membayar sedikit lebih.

Dari beberapa layanan tersebut, hanya Netflix yang tidak saya gunakan. Walaupun tidak akan terlalu signifikan — karena tagihan saya untuk layanan tersebut tidak besar — tapi mungkin ini juga lumayan. Contohnya, saya berlangganan Spotify Premium dengan total tagihan perbulan saat ini sebesar Rp79.000. Dengan dikenai pajak, maka tagihan saya akan berubah menjadi Rp86.900.

Tentu, ini strategi pemerintah untuk menambah pemasukan. Apalagi potensi pajak yang muncul dari Netflix sebagai dampak dibukanya akses Netflix oleh grup Telkom. Dengan kondisi ini, ada potensi pajak lebih dari Rp96 miliar per tahun dari Netflix.

Dari panel akun saya di Amazon Web Service (AWS), sudah ada isian untuk memasukkan informasi nomor NPWP. Begitu juga dari panel konsumen Google (saya lihat dari layanan Google Apps for Work). Untuk Spotify, saya belum melihat ada isian untuk mengisi NPWP.

Menurunkan Paket Internet Citranet

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi penulis sebagai konsumen layanan internet Citranet di Yogyakarta. Kondisi dan kualitas layanan, termasuk harga yang disebutkan dalam tulisan ini mungkin berbeda saat Anda membacanya. Penulis menyarankan untuk merujuk ke situs Citranet untuk layanan dan harga terbaru.


Setelah sekitar dua tahun saya menggunakan layanan internet rumahan dari Citranet, bulan Juli 2020 ini saya memutuskan untuk menurunkan paket internet yang saya gunakan. Sebelumnya saya menggunakan paket Infinite 10 dengan biaya bulanan termasuk pajak sebesar Rp330.000.

Setelah tahu bahwa ada Citranet memiliki beberapa paket internet baru (yang lebih murah, namun masih sangat sesuai dengan kebutuhan saya), saya berencana untuk downgrade. Di rumah, ada dua buah laptop (yang kebanyakan dipakai untuk bekerja), dan beberapa ponsel.

Saya suka dengan koneksi dari Citranet ini karena tidak ada pemblokiran yang “berlebihan”. Netflix saya bisa buka dengan lancar. Reddit-pun juga demikian. Kalau situs-situs yang masuk dalam kategori memang dilarang karena aturan, ya sudah mau bagaimana lagi.

Jadi, paket baru paling murah yang ditawarkan adalah paket Infinite Home 1 dengan kecepatan Upto 20 Mbps. Harga untuk paket ini adalah Rp220.000 per bulan (belum termasuk pajak). Mungkin sekitar April 2020 ketika mulai periode bekerja dari rumah, saya pernah menghubungi Citranet melalui layanan pesan di web, dan terkait ini setelah meninggalkan kontak saya akan dihubungi oleh bagian pemasaran.

Ternyata, saya tidak dihubungi sama sekali. Akhirnya saya coba lagi sekitar bulan Mei, setelah dua bulan bekerja dari rumah, hasilnya sama. Iya sih, saya memang tidak memutuskan untuk langsung menelpon. Setelah itu, kalau tidak salah saya tidak follow-up lagi.

Di minggu ketiga Juni 2020, saya coba lagi, dan saya dihubungi oleh Ibu Reta (Mareta) dari Citranet. Saya sampaikan secara singkat keinginan saya soal paket internet, dan saya dilayani dengan sangat baik. Jadi, paket dan tagihan baru akan muncul di bulan Juli 2020. Karena hanya berubah paket saja, jadi tidak ada juga biaya instalasi atau biaya lainnya.

Dan, benar saja. Di Juli ini saya mendapatkan pemberitahuan bahwa paket internet saya sudah berubah, dengan nominal tagihan total termasuk pajak Rp242.000,- per bulan untuk koneksi Upto 20 Mbps. Saya coba menggunakan Speedtest, dan hasilnya sangat tidak mangecewakan.

Kecepatan internet tersebut, sudah sangat cukup untuk pemakaian di rumah.

Terima kasih, Citranet.

OCTO Clicks, Bukan Lagi CIMB Clicks

Sebelum saya menginstal OCTO Mobile, seluruh aktivitas perbankan saya di CIMB Niaga hanya saya lakukan melalui CIMB Clicks sebagai nama layanan internet banking dari CIMB Niaga. Bahkan, transaksi yang saya lakukan cukup umum saja: membayar tagihan kartu kredit, melihat mutasi rekening. Beberapa transaksi lain sudah dilakukan secara otodebet.

Setelah OCTO Mobile dirilis untuk menggantikan Go Mobile, giliran OCTO Clicks hadir untuk menggantikan CIMB Clicks. Saya rasa keduanya — OCTO Mobile dan OCTO Clicks — berusaha hadir untuk memberikan solusi yang lebih lagi terkait layanan perbankan, terutama secara digital.

Jadi, ketika biasaya saya membuka internet banking CIMB Niaga melalui cimbclicks.co.id, sekarang alamat berpindah menjadi octoclicks.co.id. Nama domain lama sudah tidak digunakan lagi.

Dibandingkan desain sebelumnya, tampilan yang baru sangat jauh berbeda. Desainnnya mungkin terlihat lebih modern. Desain yang appealing tentu saja sebuah nilai plus. Tapi, yang lebih penting adalah secara fungsi.

Aktivasi PIN Kartu Kredit CIMB Niaga dan Aplikasi OCTO Mobile

Setelah hampir tiga tahun saya memiliki kartu kredit dari CIMB Niaga, hari ini saya memutuskan untuk mengaktifkan PIN (Personal Identification Number) untuk kartu kredit saya. Kenapa baru sekarang, karena kartu kredit tersebut hampir tidak pernah saya gunakan untuk transaksi di merchant secara offline, tapi hanya untuk keperluan transaksi daring.


Bahkan, kartu kredit CIMB Niaga saya malah hampir tidak pernah saya bawa. Namun, karena ada aturan dari Bank Indonesia bahwa per 1 Juli 2020, seluruh transaksi kartu kredit harus menggunakan PIN — tanda tangan tidak diterima — maka saya putuskan untuk mengaktifkan PIN.

Cara Aktivatasi PIN Kartu Kredit

Kirim SMS ke nomor 1418 dengan konten PIN <4 digit terakhir kartu kredit> <tanggal-lahir>. Format tanggal lahir adalah tanggal-bulan-tahun. Contoh: PIN 3213 29041990. Dan, proses aktivasi selesai setelah saya menerima balasan SMS.

PIN untuk kartu kredit 6789 Anda adalah 543221. Segera ganti PIN Anda di ATM CIMB Niaga, app OCTO Mobile atau hub 14041 dalam waktu 14 hari. Info 14041

Isi pesan SMS balasan aktivatasi PIN Kartu Kredit CIMB Niaga

Tentu saja, hal yang pertama saya langsung ingin lakukan adalah mengubah PIN default. Dari opsi untuk datang ke ATM CIMB Niaga atau melalui aplikasi, saya memilih opsi kedua.

OCTO Mobile

Saya tidak memiliki ekspektasi tentang apa fitur yang ditawarkan oleh OCTO Mobile dari CIMB Niaga. Tapi, selama ini saya cukup nyaman dengan aplikasi mobile banking milik BCA. Transaksi perbankan CIMB Niaga biasanya saya lakukan melalui fitur internet banking.

Saya mengunduh OCTO Mobile dari Play Store untuk ponsel Android saya. Versi iOS juga tersedia. Setelah melakukan proses registrasi, saya lanjutkan dengan mengubah PIN kartu kredit saya.

Berhenti Berlangganan Netflix

Bulan ini, saya memutuskan untuk menghentikan (sementara) layanan Netflix setelah sekitar lebih dari satu tahun masa berlangganan saya. Beruntung juga, akses ke Netflix menggunakan koneksi internet di rumah lancar dan tidak terblokir. Alasannya sebenernya cukup sederhana: saya tidak punya waktu, dan sayang saja harus membayar sesuatu yang jarang sekali saya gunakan.

Dalam periode hampir tiga bulan berada di rumah karena pandemi ini, dalam satu minggu bahkan saya sepertinya tidak pernah mengakses Netflix sama sekali. Saya lebih sering membuka YouTube, atau Spotify.

Walaupun jarang, tapi akses ke Apple TV+ yang saya aktifkan setelah membeli iPad Pro beberapa bulan lalu ternyata cukup lumayan. Tapi, dasar saya memang jarang menonton juga, jadi akses ke Apple TV+ sebenarnya juga tidak terlalu saya manfaatkan.

Melihat update dari beberapa orang di kanal media sosial mengenai film atau serial terbaru di Netflix, sepertinya menarik. Tapi, waktu benar-benar hampir tersita banyak untuk aktivitas di rumah yang mungkin lebih penting. Mau nonton malam? Rasanya sudah capek saja.

Jadi, sementara ini, sepertinya Netflix harus berhenti dulu. Mungkin nanti akan berlangganan lagi.

Telkomsel untuk Koneksi Internet

Setelah berpindah dari layanan pascabayar XL Prioritas ke layanan prabayar yang sedikit ribet, saya masih menggunakan layanan paket data internet dari XL. Saya merasakan memang kualitas jaringan internet prabayar XL tidak sebagus yang pascabayar, namun masih dalam kondisi yang bisa saya terima.

Yang menjadi pertimbangan selanjutnya adalah paket data internet XL mana yang harus saya gunakan. Ada beberapa pilihan, dan saya perlu sedikit waktu mengeksplorasi karena macam-macam paketnya. Dan, kebanyakan adalah paket dengan konsep ‘kuota malam’. Jadi, sepertinya kuota internet besar, namun waktu penggunaannya yang membedakan. Saya tidak begitu nyaman dengan konsep kuota malam ini.

Setelah satu bulan, saya akhirnya mencoba menggunakan layanan internet dari Telkomsel yang prabayar. Karena kebetulan selain XL, saya juga memiliki nomor Telkomsel untuk cadangan. Sekitar satu bulan saya sudah menggukan, dan saya cukup puas dengan kualitas jaringan Telkomsel ini. Dan, paket kuota internet keluarga 20 GB menjadi pilihan yang sepertinya paling sesuai untuk saat ini.

iPad Pro 2018

Dengan berbagai pertimbangan, akhir 2019 lalu saya memutuskan untuk membeli perangkat yang — sesuai dengan alasannya — dapat menunjang pekerjaan saya, yaitu iPad Pro 2018. Dan, dengan beberapa pertimbangan juga, saya memilih warna Space Gray, layar ukuran 11 inchi, dengan kapasitas penyimpanan sebesar 256 GB. Untuk konektivitas, saya memilih yang Wi-Fi (non selular).

Sebenarnya saya sempat ragu antara yang Wi-Fi saja, atau dengan selular. Kalau dengan selular, artinya saya harus mengalokasikan kartu sim untuk iPad Pro tersebut. Dan, kalau ingin mendapatkan manfaat yang maksimal, kartu sim harus memiliki paket data. Berarti, ada tambahan biaya lagi untuk koneksi internet. Padahal, sehari-hari, saya hampir selalu terhubung ke jaringan internet (di rumah, maupun di kantor). Pun, kadang harus berada di luar, jaringan internet sepertinya tidak akan terlalu menjadi masalah.

Kalaupun harus memerlukan koneksi internet, saya bisa melakukan tethering ke ponsel saya. Jadi, versi Wi-Fi saja saya pikir sudah mencukupi. Untuk aksesories, saya putuskan untuk menggunakan Apple Pencil generasi kedua, dan Apple Smart Keyboard Folio. Salah satu yang ingin saya tuju adalah perangkat ini bisa memenuhi kebutuhan pekerjaan yang kebanyakan saya lakukan di laptop saya (MacBook Pro 15 inchi, Retina Display).

Pengalaman Berpindah dari XL Prioritas (Pascabayar) ke XL Prabayar. Sedikit ribet!

Sekitar pertengahan November lalu, akhirnya saya memigrasikan dua nomor XL Prioritas saya ke nomor prabayar. Alasannya, pertama saya sudah tidak terikat harus pascabayar karena paket yang saya pakai tersebut awalnya karena saya membeli ponsel dengan cara bundling. Sedangkan sekarang sudah lunas.

Kedua, karena saya merasakan paket yang saya pakai terlalu besar kuotanya. Salah satu nomor yang dipakai istri saya pemakaian data internet mungkin sebulan tidak sampai 2 GB. Padahal, paket XL Prioritas yang dipakai adalah Prio Platinum (kuota 30 GB). Saya sendiri terakhir masih menggunakan paket Prio Gold dan memang tidak ada keluhan mengenai layanan.

Dari pascabayar ke prabayar tanpa pengembalian dana? Mudah!

Nomor istri saya kebetulan tidak memiliki dana cadangan sebagai batas kredit. Jadi, prosesnya cukup sederhana. Permintaan untuk berpindah ke prabayar langsung diproses. Kartu SIM juga tidak perlu diganti. Yang penting, seluruh tagihan dibayar lunas saja.

Untuk tagihan, saya langsung bayar ditempat dengan menggunakan kartu debit. Jumlah total tagihannya? Dua bulan paket Prioritas Platinum.

Dari pascabayar ke prabayar dengan pengembalian dana? Sedikit ribet!

Saya mengira proses untuk nomor saya juga mudah dan bisa saat itu diselesaikan. Ternyata tidak. Selain bahwa tagihan harus lunas, ternyata kalau ada sisa saldo atau batas kredit yang perlu dikembalikan, saya harus membawa buku tabungan. Ya, membawa buku tabungan.

Sekali lagi: membawa buku tabungan karena dana saldo/batas kredit XL Prioritas akan ditransfer melalui rekening bank!

Agak menyebalkan dan merepotkan sebenarnya. Jadi, urusan ini jadi tertunda. Saya harus kembali lagi lain hari, dengan membawa buku tabungan sesuai dengan nomor rekening yang ingin saya gunakan untuk pengembalian dana.

Kalau awalnya semua tunai atau transfer, kenapa pengembalian dana harus melalui transfer bank dengan membawa buku tabungan? Kenapa nomor rekening — yang nama pemilik rekening bisa dicocokkan dengan nama di Kartu Tanda Penduduk — saja tidak cukup?

Intinya, aturan mengenai pengembalian dana ke rekening tabungan dengan menyertakan salinan buku tabungan tidak bisa ditawar. Tidak menyenangkan!

Jadilah saya pulang, dan menunda proses migrasi nomor saya. Ya, karena kalau pulang ke rumah hanya untuk mengambil buku tabungan terlalu membuang waktu.

Di lain kesempatan, akhirnya saya kembali untuk menyelesaikan urusan ini. Saya sudah terlalu malas untuk berbasa-basi. Saya hanya ingin urusan saya selesai. Setelah tiba giliran saya, saya langsung sampaikan lagi maksud kedatangan saya secara cepat, dan saya sodorkan buku tabungan saya. Karena saya juga tidak ada kepastian bagian mana yang akan di fotokopi, jadi bagian yang menunjukkan mutasi transaksi saya steples. Kan tidak ada jaminan juga bahwa hanya bagian depan yang ada nomor rekeningnya yang akan dilihat. Apalagi proses fotokopi juga tidak dilakukan di depan saya.

Dana tidak langsung masuk ke rekening saat itu juga. Saya lupa, kalau tidak salah bisa sampai sekitar empat belas hari kerja. Informasi ini saya iyakan saja.

Proses selesai. Dan sama saja, saya tidak perlu melakukan penggantian kartu SIM. Jadi tidak ada biaya lainnya. Kalau ada yang bilang bahwa kualitas jaringan XL Prioritas lebih baik dari yang prabayar, mungkin ada benarnya. Saya mengalami sedikit perbedaan kecepatan. Tapi, mungkin ini hanya perasaan saya saja. Yang pasti kecepatan masih bisa saya terima.

Kalau nanti ingin pindah ke paskabayar, ya tinggal pindah lagi. Atau, ganti ke paket prabayar dari Telkomsel karena saya kebetulan juga punya nomor Telkomsel.

Menjadi Pelanggan Pascabayar XL Prioritas

Sudah setahun lebih saya mengubah layanan dari XL dari prabayar menjadi pascabayar. Perubahan ini sebenarnya karena dulu saya membeli ponsel baru gara-gara ponsel saya hilang ketika saya dalam perjalanan dan saat itu pertimbangan mengatakan lebih baik membeli ponsel secara bundline. Saat itu, pilihan operator ada dua: Indosat dan XL.

Saya memilih XL, dan tetap menggunakan nomor saya yang saya beli saat menggunakan kartu perdana proXL. Ya, sudah lama sekali. Selang beberapa minggu, saya baru sempat berpikir –karena mendengar info dari beberapa teman– kalau nomor XL pascabayar tidak dapat diubah lagi menjadi prabayar. Duh!

Setelah satu tahun, melihat pola penggunakan paket internet saya, saya memutuskan untuk mengubah paket yang sebelumnya PRIO Platinum menjadi PRIO Gold. Walaupun, sebenarnya paket PRIO Silver juga sudah mencukupi, tapi paket tersebut tidak bisa saya pilih. Entah kenapa, mungkin paket tersebut untuk pelanggan baru saja.

Downgrade ke PRIO Gold

Proses downgrade saya lakukan langsung di XL Center Yogyakarta. Cukup banyak antrian siang itu, namun karena cukup banyak petugas layanan yang ada, jadi waktu tunggu saya masih cukup wajar.

Apakah pascabayar XL dapat diubah kembali menjadi prabayar?

Ternyata, saya dapat mengubah kembali layanan menjadi prabayar jika saya mau. Informasi ini diberikan kepada saya, karena nomor saya awalnya memang prabayar. Lain halnya kalau sejak awal nomor yang digunakan memang langsung paket pascabayar. Kebetulan saya ada nomor XL lain –dan belum lama digunakan– yang dipakai oleh istri saya. Ketika saya tanyakan dan dicek, nomor istri saya juga dapat diubah. Alasannya sama: karena sebelumnya merupakan nomor prabayar.

Saya belum berencana untuk kembali ke prabayar. Saya sudah cukup puas dengan layanan pascabayar ini. Info dari layanan pelanggan, prosesnya cukup mudah juga, tinggal datang ke XL Center, dan saldo yang ada akan dikembalikan. Belum tahu apakah perlu ganti simcard fisik atau tidak. Kalau harus ganti, untuk penggantian simcard fisik akan dikenakan biaya Rp10.000,-

Tanpa Uang Tunai. Ya atau Tidak?

Di tahun 2019 ini, sepertinya saya semakin sering untuk melakukan transaksi non-tunai. Kebetulan, hampir semua kebutuhan harian (pribadi maupun pekerjaan) dapat dilaksanakan dengan transaksi non-tunai.

Saya belum pernah mencoba untuk melakukan aktivitas yang melibatkan transaksi pembayaran dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu penuh. Sepertinya ini menarik untuk dicoba. Paling tidak, jadi semakin terlihat di area mana transaksi yang bisa dilaksanakan dengan non-tunai, bisa non-tunai tapi (terpaksa) harus tunai, atau bahkan tidak bisa non-tunai sama sekali.

Tentu saja, hasil yang berbeda ketika dilaksanakan di kota/area lain. Saya berdomisili di Jogjakarta. Jadi, mari kita coba.

Saat ini, untuk mencoba tanpa uang tunai, saya menggunakan beberapa metode pembayaran berikut:

  1. Kartu debit (ada dari beberapa bank, namun mayoritas saya gunakan BCA)
  2. Kartu e-money (Flazz dan Mandiri)
  3. Akun GoJek (dengan GoPay) dan OVO.
  4. Kartu kredit

Saya juga memiliki akun LinkAja dan Jenius, namun keduanya hampir belum saya gunakan secara aktif. Untuk layanan perbankan, utama saya masih menggunakan BCA (internet banking dan BCA Mobile). Jadi, seri untuk tulisan mengenai tanpa uang tunai akan dibagi menjadi beberapa kategori utama.

Gangguan KlikBCA karena Terkena Malware?

Karena cukup sering menggunakan BCA Mobile, saya cukup jarang melakukan transaksi melalui internet banking BCA. Beberapa waktu lalu, saya bermaksud untuk menambahkan beberapa nomor rekening dalam daftar transfer di internet banking BCA saya. Walaupun daftar transfer tersebut sudah ada dalam BCA Mobile saya, namun karena data transfer memang tidak tersinkron dengan internet banking, jadi perlu ditambahkan manual.

Ketika akan menambahkan daftar transfer, muncul pesan bahwa transaksi tidak dapat diproses. Saya pikir hanya permasalahan yang muncul acak. Jadi, saya memutuskan coba lagi lain waktu. Setelah beberapa kali, tetap saja gagal.

Saya coba hubungi HaloBCA melalui Twitter, namun jawaban berakhir bahwa saya disarankan untuk menghubungi Halo BCA melalui telepon. Walaupun selama berurusan dengan layanan nasabah di kantor cabang atau kantor pusat selalu baik — termasuk ketika melalui call center, tapi apa iya menghubungi call center adalah satu-satunya solusi? Saya cukup penasaran.

BCA Express juga kurang membantu

Saya mencoba untuk mencari solusi dengan datang ke BCA Express yang berada tidak jauh dari tempat saya tinggal. Singkatnya, ternyata saya tetap disarankan menghubungi call center BCA. Cuma, saat itu saya mendapatkan informasi bahwa akun saya dengan nomor rekening yang saya sebutkan ke layanan nasabah di BCA Express terkena malware. Sehingga, fitur tersebut semacam dibekukan karena ini merupakan salah satu standar keamanan dari BCA.

Beberapa tahun lalu, walaupun kasusnya tidak sama, namun ada juga permasalahan yang menyangkut dengan virus. Dan, saat itu permasalahan diselesaikan dengan baik.

Saat saya menghubungi Halo BCA, saya sampaikan permasalahan yang saya hadapi, dan menurut petugas layanan nasabah, memang benar bahwa akun saya terkena malware. Saya tidak meminta jawaban dengan mendetil, namun ini karena saya sering mengakses menggunakan Wi-Fi. Mungkin yang dimaksud adalah menggunakan jaringan Wi-Fi yang secara keamanan kurang baik.

Kalau tentang Wi-Fi, tentu saja saya hampir selalu terhubung ke jaringan Wi-Fi melalui laptop saya. Walaupun, saya hampir selalu mengakses internet banking BCA hanya melalui laptop dan ponsel saya. Apakah juga karena Virtual Private Network? Atau sebab lain misalnya peramban yang dideteksi ‘bermasalah’ oleh BCA? Entahlah.

Yang penting, sekarang internet banking dapat digunakan dengan baik.

OpenVPN Setup on Ubuntu 18.04 LTS

I could not remember exactly when I setup OpenVPN for the first time. As far as I remember, it was not an easy task. But, I need to have it installed, and I found it easier. Probably, because it’s easier to setup on Ubuntu 18.04 LTS?

I need to have it setup because I have some sites blocked by my internet provider. Using Google’s DNS (8.8.8.8) or even ClouFlare’s 1.1.1.1. did not help either. Changing the DNS made my internet connection do not work.

So, I need to set OpenVPN up somewhere. I was thinking of having it setup on my own cloud server at Linode. Lucky that there is a straight-forward tutorial on how to setup OpenVPN on Ubuntu 18.04 LTS. I will write it down also here for my personal documentation.

Installation

First, update the system by running apt-get update and then apt-get upgrade. For me this is optional.

Oppo A3S Mati Mendadak

Beberapa waktu, ponsel Oppo A3S milik istri saya tiba-tiba saja mati. Tidak dapat diisi baterai juga, bahkan dengan menggunakan charger asli bawaan Oppo. Padahal, ponsel ini beli baru dan belum ada enam bulan.

Ketika dinyalakan, tidak ada respon sama sekali. Kalau overheating, saya rasa juga bukan. Terlalu lama diisi daya, tidak juga karena habis baterai karena tidak di-charge saja.

Ada beberapa solusi yang saya baca di internet. Mulai dari factory reset yang akhirnya tidak bisa saya lakukan, karena ponsel saja tidak bisa menyala.

Solusi untuk menggunakan Android recovery — menekan tombol power dan tombol volume down — juga gagal dilakukan. Dan, ada juga solusi untuk mencoba melakukan pengisian baterai dari sumber daya listrik lain. Akhirnya, dengan kabel charger yang ada, pengisian dilakukan dengan daya dari laptop.

Setelah menunggu, ternyata indikator bahwa ponsel sedang diisi daya menyala, dan terus naik angkanya. Setelah itu, ponsel bisa dihidupkan lagi dan kembali seperti semula.