Lupa Nomor ATM CIMB Niaga untuk OCTO Mobile

Sebagai salah satu nasabah , beberapa bulan ini saya banyak menggunakan aplikasi OCTO . Secara umum ya lancar saja. Tapi, ketika saya sedang tidak berada di rumah, saya hanya menggunakan OCTO Clicks transaksi internet banking.

Sederhana saja, karena transaksi utama masih melalui Mobile, dan juga e-wallet. Setelah saya pikir-pikir kembali, sepertinya mengaktifkan OCTO Mobile kembali tidak ada salahnya, kali saja butuh, dan ini akan bisa jauh lebih praktis dibandingkan saya harus transaksi melalui banking.

by Mikhail Nilov

Dulu aplikasi mobile banking CIMB Niaga ini sudah saya gunakan di ponsel . Lalu, karena sudah sangat lama tidak pakai, dan pernah juga aktivasi kembali, tapi nyatanya proses reaktivasi akses ke aplikasi tidak kunjung saya selesaikan.

Penyebabnya sederhana: saya lupa empat digit nomor kartu saya. Saya lupa kapan terakhir kali saya pegang kartu ATM CIMB Niaga milik saya. Jadi, ketika sudah melakuan otentikasi, dengan username dan di OCTO Mobile, proses berhenti karena saya benar-benar tidak tahu nomor kartu ATM saya. Padahal, ini proses yang tidak bisa dilewati.

Sempat terpikir datang langsung ke kantor cabang CIMB Niaga, tapi saya batalkan. Karena, bisa jadi nanti ujungnya saya diminta ke menghubungi Call Center yang beradasarkan pengalaman saya terakhir kali, tidak begitu menyenangkan.

Harusnya sih urus kartu ATM memang di kantor cabang. Tapi, saya pikir lagi, sepertinya saya hampir tidak butuh kartu ATM.

Mendapatkan empat digit nomor kartu ATM

Ternyata caranya cukup mudah. Tinggal masuk ke OCTO Clicks, lalu masuk menu Rekening, pilh salah satu rekening. Dalam sebuah nomor rekening tabungan, ada informasi “Nomor Kartu” di sana.

Berbekal ini, akhirnya bisa juga saya menggunakan aplikasi OCTO Mobile ini di ponsel iPhone saya.

Paket Masa Aktif Telkomsel

by Pixabay from Pexels

Selain nomor utama dari XL Axiata yang sudah menemani saya lebih dari 20 tahun, saya memiliki memiliki nomor dari provider lain yaitu . Nomor Telkomsel ini, walaupun jarang saya gunakan, tapi sudah digunakan untuk pembuatan akun, atau terhubung dengan beberapa layanan.

Jadi, memastikan bahwa nomor ini selalu dalam masa aktif menjadi penting. Pengisian pulsa secara berkala memang masih saya lakukan, karena belum berpindah ke paska bayar. Ini termasuk apabila kadang harus terhubung ke , dan nomor XL saya bermasalah — walaupun sangat jarang — Telkomsel bisa menjadi alternatif.

Karena memastikan nomor Telkomsel tetap aktif ini jadi lebih penting, akhirnya saya memutuskan untuk membeli layanan tambahan paket masa aktif yang ditawarkan Telkomsel.

Dengan Rp30.000,- saya sudah bisa mendapatkan tambahan masa aktif selama 90 hari. Ada juga sebenarnya paket lain mulai dari Rp2.000 untuk masa aktif 5 hari. Tapi, paket tertinggi yang ditawarkan sepertinya lebih cocok untuk kebutuhan saat ini.

Aktivasi Paket Masa Aktif Telkomsel juga mudah, melalui UMB (USSD Menu ) langsung *500*05# atau *888#. Atau,bisa juga melalui aplikasi My Telkomsel.

Pengalaman Perpanjangan SIM Melalui SIM Corner di Jogjakarta

Akhir Januari ini, saya perlu melakukan perpanjangan masa aktif SIM A milik saya. Saya sempat mencari informasi bagaimana proses perpanjangan SIM di kota ini. Tetapi, informasinya masih agak membingungkan. Sempat juga banyak baca mengenai perpanjangan SIM secara daring. Dan, beberapa teman juga menginformasikan kalau perpanjangan secara daring ini bisa jalan lancar juga. Tapi, opsi ini sepertinya kurang cocok untuk kondisi saya (saat itu).

Perpanjangan SIM secara daring (online)

Beberapa kondisi yang menjadikan proses perpanjangan SIM secara daring ini menjadi pilihan cocok, apabila:

  1. Masa berakhir/kedaluarsa masih cukup lama. Kalau tidak salah, ini bisa dilakukan bahkan tiga bulan sebelum kedaluarsa. Saya lupa tepatnya.
  2. Tetap harus melakukan tes dengan mendatangi dokter/fasilitas kesehatan yang telah ditentukan.
  3. Melakukan proses secara daring melalui Digital Korlantas POLRI yang aplikasi juga sudah tersedia di Play Store untuk Android dan App Store untuk iOS.

Awalnya saya sempat akan menggukan metode ini. Tapi, saya batalkan karena tetap harus melakukan tes kesehatan juga, dan saat itu tinggal 7 (tujuh) hari sebelum masa kedaluarsa SIM saya. Untuk prosesnya, kalau saya baca-baca di , dan juga melalui linimasa , layanan ini bisa menjadi pilihan. Tinggal ikuti saja prosesnya.

Perpanjangan SIM secara luring (offline)

Ada dua pilihan jika akan melakukan perpanjangan SIM dengan cara ini. Pertama, melalui layanan SIM keliling. Kedua, langsung ke Satpas Polresta . Ketiga, datang langsung ke SIM Corner. Pilihan pertama sebenarnya bisa menjadi opsi. Kalau mencari di internet/berita, cukup banyak jadwal SIM keliling ini di Jogjakarta.

Pilihan kedua yaitu langsung ke Satpas Polresta Yogyakarta, sempat pula saya jadikan pilihan. Mengenai antrian, sudah disediakan antrian secara online, jadi ada kepastian. Setelah saya isikan dalam antrian, saya mendapatkan antrian 3 (tiga) hari sebelum tanggal kedaluarsa SIM, dan dapat langsung datang pukul 10.00 pagi ke Satpas Polresta Yogyakarta.

Karena saya belum tentu dapat hadir sesuai jadwal sesuai antrian di Satpas Polresta Yogyakarta, akhirnya saya juga melihat opsi ketiga: datang langsung ke SIM Corner. Setelah mencari informasi:

  1. Pilihan SIM Corner di Jogja City Mall atau SIM Corner di Ramai Mall Malioboro.
  2. Jam buka operasi akan mengikuti jam buka mall, dan kalau kuota sudah terlayani semua, maka layanan selesai. Diperkirakan sekitar jam makan siang harusnya sudah selesai semua. Namun, untuk proses antrian sudah dapat dilaksanakan pagi hari. Tentang pengambilan antrian, saya mendapatkan informasi yang lebih jelas untuk pilihan lokasi yang di Ramai Mall .

Renovasi Lantai

Di bulan Agustus 2021 lalu, untuk kali pertama setelah menempati rumah selama kurang lebih tiga tahun, renovasi agak besar dilakukan di rumah. Di awal menempati rumah, renovasi lebih kepada pengecatan total seluruh dinding (indoor dan outdoor), termasuk sedikit penggantian seluruh lantai kamar mandi.

Beberapa bulan sebelumnya — atau mungkin malah sekitar satu tahun — ada kendala lantai yang popping, tapi tidak parah dan hanya terjadi di dua keping lantai. Karena tidak terlalu mengganggu, jadi memang tidak langsung dilakukan penggantian. Kebetulan, lantai di rumah menggunakan granit ukuran 60×60 sentimeter.

Namun, seiring berjalannya waktu, masalah sejenis muncul di beberapa titik lain, dan sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk melakukan renovasi penggantian lantai granit. Untuk jasa tukang, saya menggunakan jasa tukang yang sebelumnya saya pakai untuk pekerjaan pembangunan lain.

Mengganti yang Rusak Saja dan Estimasi Waktu

Begitu rencananya. Dengan perkiraan bahwa bisa dilakukan penggantian di area yang rusak saja, dibuatlah rencana pembelian dan estimasi waktu pekerjaan yang diperkirakan bisa selesai dalam waktu sekitar 5-7 hari kerja.

Karena pekerjaan ini akan membuat rumah menjadi sangat berdebu, jadi kami memutuskan juga untuk mengungsi ke tempat saudara, paling tidak selama satu minggu, ditambah beberapa hari untuk nanti membersihkan sisa-sisa debu.

Karena ini termasuk kegiatan yang tidak ada dalam rencana, jadi soal anggaran semoga tidak terlalu banyak. Beberapa waktu sebelum pengerjaan, estimasi kebutuhan material sudah didapatkan dan langsung saja dibelanjakan.

Mencari Granit

Masalah pertama adalah mengenai material granit yang akan digunakan. Ternyata, merek dan seri granit yang dipakai saat ini tidak mudah untuk didapatkan. Beberapa toko bangunan yang ada di sudah dihubungi, dan hasilnya nihil.

Sempat melakukan pencarian melalui , dan hasilnya ada yang jual tapi lokasi di . Stok sangat terbatas hanya sekitar 4 dus saja (total 16 keping), dan ternyata harganya lumayan mahal, sekitar Rp300.000/dus (ukuran 1,44 m2/dus).

Karena stok tidak bisa diharapkan, jadi kami ambil keputusan untuk mencari granit dengan merek dan seri lain, dan semoga warna mendekati yang ada saat ini. Dan, ternyata sangat tidak mudah.

Setelah melakukan beberapa kali pencarian di toko/supermarket bangunan, akhirnya ditentukan merek dan seri yang akan digunakan. Karena anggaran, jadi pilihan jath ke granit yang lebih murah dari sebelumnya. Sesuai dengan estimasi, akhirnya beli sebanyak 8 dus, termasuk semen instan perekat granit.

Pengerjaan Awal

Pekerjaan dimulai dengan lancar. Granit yang harus diganti dilepas dengan hati-hati dengan cara dipotong, supaya pengganti bisa dipasang. Tapi, ternyata ada beberapa yang diluar perkiraan. Ternyata granit lain yang masih terpasang dalam kondisi yang rawan popping juga. Bahkan, ketika terkena benturan, ada beberapa yang jadinya terlepas, yang otomatis jadi harus diperbaiki. Pilihannya: pakai granit yang sebelumnya, atau ganti dengan yang baru.

Proses ini cukup memusingkan juga. Karena, jika pakai granit lama, pasti sudah dalam kondisi yang tidak presisi sekali. Bentuk sudah sedikit berubah walaupun masih bisa dipakai. Jika dipaksakan, salah satu efeknya ya jadi kurang rata saja di beberapa titik.

Duh!

Selama proses pengerjaan awal, saya selalu pantau. Dan, beberapa hari makin ragu, apakah keputusan mengganti granit yang rusak saja merupakan keputusan yang tepat (saat itu).

Awalnya saya dan istri sempat terpikir apakah lebih baik diganti semua atau tidak. Kalau iya, artinya secara anggaran akan cukup besar. Kami sempat membuat estimasi perhitungan.

Akhirnya, Diganti Semua

“Pak, bagaimana kalau kita ganti semua saja?,” begitu kira-kira yang saya sampaikan ke tukang yang mengerjakaan pekerjaan ini. Pertimbangan kenapa akhirnya semua lantai granit diganti semua:

  1. Mengurangi potensi renovasi kembali di masa mendatang, karena mungkin kerusakan hanya soal waktu;
  2. Keamanan, karena risiko dari mengganti sebagian ada beberapa area yang jadi kurang aman/rapi. Apalagi, di rumah ada anak.

Membayangkan segala keribetan yang terjadi kalau renovasi lagi merupakan salah satu alasan. Mulai dari pindah sementara, membersihkan debu, mengamankan barang-barang, sampai dengan aktivitas pasca renovasi lainnya.

Yang akhirnya, keputusan untuk mengganti semua ini mengubah banyak sekali rencana seperti:

  1. Anggaran yang jadi jauh membengkak terutama material mulai dari granit, semen instan, semen biasa, pasir termasuk beberapa bahan lainnya. Kalau awalnya jumlah granit yang dibeli hanya sekitar 8 dus, akhirnya berakhir menjadi sekitar 80 dus;
  2. Anggaran jasa tukang juga jadi bertambah. Awalnya hanya sekitar 7 hari, akhirnya menjadi sekitar 5 minggu. Ini juga termasuk pada akhirnya ada anggaran untuk pembuangan brangkalan material;
  3. Karena harus berpindah tempat tinggal sementara, otomatis pengeluaran harian juga jadi bertambah.

Dengan segala proses yang terjadi, akhirnya selesai juga. Ada beberapa kondisi yang mungkin tidak sesempurna yang kami harapkan, tapi bahwa proses renovasi sudah selesai itu sudah sangat disyukuri.

Rekomendasi Jasa Reparasi Kursi Kantor/Kerja di Jogjakarta

Kursi kerja di rumah yang saya pakai memang beberapa kali ganti. Tapi, bukan karena beli melainkan karena saya ada beberapa kursi. Jadi berusaha untuk menemukan kursi yang paling pas. Ada satu kursi dari IKEA yang cukup cocok. Bukan kursi yang empuk dan mewah, tapi secara desain lebih cocok.

Dan, rata-rata kursi memang kurang sesuai untuk saya karena kurang tinggi. Ya, ada sedikit tantangan memang untuk saya yang memiliki tinggi hampir 180cm.

Selain kursi dari IKEA tadi, ada satu buah kursi dengan pegas/hidrolik di rumah, yang dalam kondisi cukup bagus. Masalahnya, pegas/hidrolik tidak berfungsi lagi. Dengan segala hal alasan yang membuat malas untuk mencari solusi, akhirnya kemarin memutuskan untuk mereparasi kursi ini. Targetnya, pegas bisa berfungsi kembali, sehingga kursi bisa lebih tinggi lagi. Walaupun, saya yakin pasti akan tetap kurang tinggi.

Kenapa tidak beli atau mengubah tinggi meja? Saat ini, ini bukan solusi.

Mencari Jasa Reparasi Kursi di Jogjakarta

Catatan

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi pada awal Maret 2021. Pengalaman/hasil mungkin berbeda, namun saya mendapatkan pengalaman dan layanan yang baik, dan dengan senang hati merekomendasikannya.

Setelah melakukan pencarian melalui , saya menemukan beberapa opsi. Saya kontak beberapa layanan melalui /nomor yang tersedia. Dan, hanya satu yang membalas. Saya memang memilih untuk jasa yang tersedia tidak terlalu jauh dari tempat saya.

& sparepart kursi kantor” adalah nama yang saya temukan di mesin pencarian. Lokasinya ada di sisi barat ring road , dan tidak jauh dari tempat saya. Ketika saya hubungi melalui WhatsApp, saya langsung sampaikan apakah bisa dilakukan servis, dengan sedikit menjelaskan masalah di kursi saya.

Alih-alih memberikan jawaban untuk ganti pegas/hidrolik, saya diberi opsi apakah mau “dikunci tingginya” saja. Jadi, tidak bisa naik turun lagi. Solusi ini jauh lebih murah, kalau mau diambil. Dan, pengerjaannya juga lebih cepat. Harganya Rp40.000,- saja kalau service ini. Kalau ganti hidrolik, ada di kisaran Rp180.000,- — tapi ini mungkin bisa berbeda bergantung jenis kursinya.

Tanpa tunggu lama, saya langsung saja janjian untuk datang ke lokasi. Lokasinya agak masuk ke gang, tapi mobil bisa parkir di dekat lokasi atau bahkan kalau agak berat, bisa drop langsung di depannya.

Ternyata yang berkomunikasi di saya adalah pemiliknya langsung, yang belakangan baru saya tahu namanya Mas Hendra. Orangnya ramah, dan memberikan layanan dan informasi yang oke sekali. Ketika datang menjelang jam makan siang, saya memang hanya bertemu dengan dua orang pegawainya. Dan, diminta untuk meninggalkan kursi, untuk diambil nanti. Sebenarnya, saya inginnya langsung dikerjakan, saya tunggu. Tapi, mungkin karena ada antrian, atau yang mengerjakan belum siap.

Sekitar dua jam berselang, saya dihubungi kembali melalui WhatsApp kalau kursi saya sudah siap. Agak sore, saya datang ke lokasi kembali dan langsung ketemu dengan Mas Hendra.

Saya sampaikan saja sebenarnya saya ini butuh kursi ini “lebih tinggi” dari kursi normal. Kondisinya saat saya datang, kursi memang sudah sesuai kondisi aslinya, dan sepertinya sedikit lebih tinggi. Saya tanya, apakah bisa lebih tinggi lagi, ya? Dengan kondisi tetap saja tidak perlu hidrolik, karena lagi-lagi saya tidak perlu terlalu disesuaikan tingginya. Akhirnya diganti lagi besi penyokong kursinya dengan yang lebih tinggi. Setelahnya, saya diminta untuk mencobanya. “Sepertinya ini cukup tinggi, semoga pas,” pikir saya.

Karena ini adalah sparepart terpisah, jadi ada biaya tambahan yang murah juga. Sebenarnya tidak ada patokan, tapi Mas Hendra bilang, Rp10.000,- juga tidak apa-apa. Saya tidak mau, saya akhirnya bayar Rp20.000,-. Kenapa lebih tinggi? Ya, karena saya tidak hanya bayar untuk harga sparepart, tapi juga atas jasanya. I’m buying the good service also!

Jadilah, sore itu saya mengeluarkan biaya total Rp60.000,-. Kalau tanpa ada modifikasi tambahan, total Rp40.000,-. Jadi, kalau memang ini sudah mencukupi, ya harganya sekian. Harga yang sangat oke untuk saya. Apalagi, dengan layanan yang sangat baik.

Sesampai di rumah, saya coba sandingkan dengan meja yang saya miliki. Dan, pas! Posisi duduk lebih nyaman, dengan posisi tangan terhadap meja juga lebih ideal untuk kegiatan bekerja.

Jika tertarik menggunakan layanan ini — bukan hanya servis kursi, tapi termasuk sofa, bahkan kursi barber — silakan langsung ke lokasi di bawah ini.

Service & sparepart kursi kantor
Jalan Sadewo, Gang Sencaki Barat No.85, RT.06/RW.12, Area Sawah, Nogotirto, Kec. Gamping, Kabupaten , Daerah Istimewa Yogyakarta 55292
Telepon/WhatsApp: 0823-4997-1874 (Mas Hendra)

Hotel Sebagai Alternatif Tempat Bekerja di Luar Kantor atau Rumah

Ilustrasi foto oleh Arina Krasnikova via Pexels

Selama hampir satu tahun berada dalam masa pandemi — dan entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir — saya memang beberapa kali memutuskan untuk berada di luar rumah, untuk bekerja. Tentu, dibandingkan dengan masa sebelum pandemi, aktivitas ini sangat berkurang.

Saya coba hitung, kalau tidak salah, secara total saya hanya pernah empat kali duduk di tempat yang memungkinkan saya untuk bekerja — membuka . Namun, itupun belum tentu saya bekerja dan dalam periode waktu yang tidak terlalu lama (tidak sampai seharian).

Selain di warung kopi — yang didesain dan dikelola untuk sekaligus menjadi coworking space — saya akhirnya juga kadang bekerja dari hotel. Agak berbeda memang, karena bagi saya hotel dari dulu bukan opsi utama jika ingin sekadar duduk, membuka laptop, lalu bekerja.

Bekerja dari Hotel

Lebih tepatnya, ini memanfaatkan fasilitas restoran yang tersedia di hotel. Setelah beberapa waktu lalu saya melihat kalau Prime Plaza Hotel Yogyakarta menawarkan semacam Work From Hotel, saya akhirnya mencobanya.

Catatan

Seluruh cerita terkait dengan pengalaman menggunakan layanan/area di Prime Plaza Hotel (PPH Yogyakarta) merupakan pengalaman pribadi, dan tidak memiliki afilitasi/kerjasama dengan pihak hotel. Semua biaya yang muncul merupakan biaya pribadi. Pengalaman berbeda mungkin terjadi, dan saya mendorong untuk mengkonsultasikan dengan pihak hotel, jika diperlukan. Semua foto merupakan koleksi pribadi.

Paket “Work From Hotel” ini sebenarnya merupakan sebuah alternatif terkait dengan pemesanan makanan di hotel. Secara prinsip, tanpa harus menggunakan opsi paket “Work From Hotel (WFH)” , tetap bisa saja memesan makanan dari resto, untuk dinikmati di area resto, dan mulai bekerja di tempat yang tersedia.

Untuk kunjungan pertama, saya coba paket seharga Rp55.000. Secara umum, ada beberapa pilihan “paket” yang dapat dipilih sesuai selera, yaitu:

  1. Kopi/teh dan snack, seharga Rp55.000
  2. Kopi/teh, snack dan makan siang, seharga Rp75.000
  3. Coffee break, makan siang, meeting room, seharga Rp100.000

Harga tersebut adalah harga termasuk . Dan, ini dapat digunakan selama jam operasional hotel yaitu setiap hari (termasuk Sabtu dan Minggu), mulai pukul 07.00-23.00 WIB. Informasi lebih lengkap bisa dilihat di https://work-from-hotel.web.app, tapi tetap ada baiknya juga menghubungi narahubung melalui WhatsAppp.

Jam operasional hotel ini lebih memberikan fleksibilitas. Walaupun saya memanfaatkan di jam kerja saja, dan tidak seharian penuh juga pada akhirnya.

Setelah saya menghubungi narahubung ke sekadar konfirmasi layanan ini, saya datang ke lokasi, dan saat itu sekitar pukul 11.00 WIB. Untuk prosedur masuk ke hotel, masih sama dengan sewaktu kali pertama saya datang sekitar dua bulan lalu.

Setelah memarkir kendaraan saya, saya menuju ke area lobi untuk pemeriksaan suhu, menggunakan hand sanitizer dan memindai QR Code yang perlu saya isi sebagai tamu. Pengisian ini menggunakan Form. Area parkir roda dua dan empat tersedia di bagian depan dan sangat luas menurut saya. Oh ya saya masuk melalui pintu masuk utama di Jl. Affandi.

Oleh petugas di lobi, saya ditanyai ada keperluan apa/mau kemana, saya sampaikan mau ke restoran. Dan, selanjutnya lancar saja. Saya sempatkan ke resepsionis, dan diarahkan untuk langsung saja ke area Colombo Terrace, yaitu restoran yang semi outdoor, yang lokasinya ada di samping kolam renang.

Petugas restoran menyambut saya dengan ramah, dan sepertinya cukup well-informed bahwa ada tamu yang datang untuk “Work From Hotel”. Saya ambil tempat duduk agak di pinggir. Saya amati sekilas untuk akses ke colokan juga tersedia di bawah meja.

Saya tidak punya ekspektasi untuk minuman atau snack yang saya dapatkan untuk harga Rp55.000 yang saya bayarkan. Jadi ya tunggu saja. Setelah saya duduk, beberapa saat kemudian saya diinformasikan mengenai akses yang bisa digunakan, dan selanjutnya saya ditawarkan apakah mau minum teh atau kopi. Siang itu, saya merencanakan mungkin akan berada disana sekitar 2-3 jam saja. Jadi apapun yang disajikan saya perkirakan cukup untuk menemani saya siang itu.

Akhirnya saya tidak jadi membuka laptop, dan bekerja dari saya. Untuk minuman, saya memilih kopi — yang akhirnya kopi ini bisa untuk porsi dua gelas. Kopinya sendiri merupakan black coffee, dimana ini sesuai dengan ekspektasi saya. Mungkin jika ingin yang selain kopi, bisa memilih teh, yang sepertinya penyajian juga hampir sama. Snack dan sedikit cemilan cukup untuk menemani kopi dan waktu bekerja.

Pengalaman pertama saya untuk mencoba alternatif tempat bekerja di hotel kali ini cukup menarik. Saat saya datang, ada beberapa tamu hotel atau pengunjung yang sedang ada di area restoran. Tapi, karena area cukup luas dan penataan meja/kursi cukup lapang, jadi ya tidak masalah juga. Oh ya, karena area ini semi outdoor, jadi untuk yang mungkin membutuhkan tempat merokok, area ini cukup baik. Ya, walaupun saya sudah tidak merokok juga. Ada sebenarnya pilihan untuk area restoran yang indoor dengan AC. Tapi, saat itu saya memagn lebih tertarik yang semi outdoor.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin Menjawab (di Mata Najwa)

Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa

Ketika Menteri Kesehatan terdahulu (Terawan Agus Putranto) tidak hadir memenuhi undangan Najwa Shihab di program Mata Najwa — entah apapun alasannya, mungkin sibuk — saya sempat berpikir mungkin di lain kesempatan. Jadi, masih menjadi harapan karena saya penasaran juga apa yang sebenarnya informasi yang dimiliki oleh (rencana, target, , dan lain sebagainya) dapat dikomunikasikan kepada publik.

Publik perlu tahu. Publik berhak tahu. Itu pikir saya.

Tapi ternyata, keadaan berkata lain. Jabatan Menteri sudah diisi dengan sosok baru, Budi Gunadi Sadikin. Jujur saja, awalnya saya berpikir ini bagaimana Menteri Kesehatan kok bukan/tidak memiliki latar belakang dunia kedokteran atau kesehatan masyarakat. Tapi, pemikiran saya tidak bertahan lama setelah ternyata banyak negara yang memiliki menteri kesehatan bukan dengan latar belakang kedokteran.

misalnya. Gan Kim Yong sebagai menteri kesehatan sebelumnya malah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja. Atau Andrew James Little di Selandia Baru. Dan masih banyak lagi negara yang memiliki menteri kesehatan bukan dari kalangan dokter/kesehatan seperti Kanada, Inggris, Jerman, Jepang, Australia, Denmark, dan lain sebagainya.

Dan, kinerja mereka sudah cukup membuktikan bahwa hal seperti ini bisa berhasil. Belum tentu pasti gagal, tapi bisa saja menteri memiliki performa yang lebih baik. Toh, pada akhirnya bagaimana menteri dapat mengorkestra dan bersinergi untuk tujuan utama yang ingin dicapai, menjadikan kerja bersama untuk mencapai keberhasilan bersama/kolektif?

Rasa “pesimis” terhadap kondisi penanganan COVID-19 di Indonesia, dan termasuk kegemasan terhadap aksi/informasi yang selama ini tidak tersampaikan kepada publik dari Kementerian Kesehatan RI cukup terobati ketika kali pertama saya melihat video keterangan pers Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada akhir Desember lalu.

Kembali ke bagaimana Pak Budi Gunadi Sadikin menjawab begitu banyak pertanyaan yang terwakilkan di Mata Najwa hari Rabu lalu. Saya secara pribadi seperti mendapatkan pemahaman, pengertian, dan informasi yang cukup mencerahkan. Saya juga paham, ini bukan sebuah kerja ringan. Tapi, bagaimana pertanyaan dijawab dan direspon, termasuk bahwa dikatakan jika memang tidak/kurang tahu, ada sebuah harapan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Yang saya jelas tangkap, bagaimana semuanya dikomunikasikan kepada publik oleh Kementerian Kesehatan melalui acara Mata Najwa kemarin perlu untuk diapresiasi.

Walaupun sebaiknya memang tidak perlu membandingkan, tapi sulit untuk tidak membandingkan bagaimana model komunikasi Budi Gunadi Sadikin dan Pak Terawan. Kalau melihat bagaiman pernyataan atau hal-hal dikomunikasikan atau dikomentari oleh Pak Terawan, arsip di dan media sudah sangat banyak.

Untuk wawancara Menteri Kesehatan di Mata Najwa hari Rabu lalu, bisa dilihat di kanal . Berikut tautan seluruh episodenya.

  1. Budi Gunadi Sadikin, Pengisi Kursi Kosong Menkes
  2. Swab Test Mahal? Vaksin Aman? Menkes Budi Menjawab
  3. Cerita Ojek Online Jadi Relawan Vaksin
  4. Kondisi Pandemi Pasca-liburan Akhir Tahun
  5. Rumah Sakit dan Lonjakan Kasus Corona
  6. Menkes Budi Bicara Kacaunya Data Kasus COVID-19
  7. Cek Suhu di Kepala atau di Tangan, Pak Menteri?

Mengganti Sendiri Kunci Immobilizer Honda Mobilio yang Rusak/Pecah

Kedua kunci mobil kendaraan yang saya pakai beberapa waktu lalu dalam kondisi yang kurang beruntung. Salah satu kunci sudah dalam keadaan cukup parah, sehingga ketika pemakaian harus cukup berhati-hati. Kunci cadangan juga ada, dan dalam kondisi yang agak mendingan.

Saya baca-baca, sepertinya banyak yang mengalami kasus serupa. Memang sih, kali pertama saya gunakan, kunci memang sudah dalam kondisi yang tidak sempurna, karena saya beli mobil second-hand. Kunci cadangan saat itu hitungannya juga masih dalam kondisi baik.

Karena pemakaian, dan kadang juga dalam kondisi masuk kantong, atau tidak sengaja agak diduduki, dan lain sebagainya, jadilah makin rusak parah.

Penggantian

Saya sempat tanya ke beberapa tukang kunci untuk penggantian semacam ini bagaimana. Tapi, harganya sangat mahal. Mungkin dikiranya sampai saya ganti penuh, padahal sebenarnya lebih ke masalah casing-nya saja. Saya coba cari informasi di , ternyata solusi versi murah ada juga. Jadi, saya memilih cara yang lebih murah saja saat ini. Jadi, karena hanya soal penggantian sisi luar, bukan bagian “chip”-nya, ada dua opsi:

  1. Beli casing saja, pasang kunci lama ke casing
  2. Beli casing dan badan kunci (logam), lalu bawa ke tukang kunci untuk duplikat

Untuk belinya, ada cukup banyak di situs niaga-el seperti atau . Harga juga bervariasi. Mulai dari yang paling murah sekitar Rp20.000,- sampai sekitar Rp100.000,- tergantung bahan juga.

Saya ambil opsi pertama, karena cukup praktis. Cukup buka kunci dengan obeng plus yang kecil, pindahkan seluruh bagian di kunci lama ke casing baru, selesai. Opsi kedua sebenarnya juga menarik, tapi saya tidak tahu harga duplikat ke tukang kunci. Karena ini duplikat kunci mobil, siapa tahu harga jadi lebih mahal (walaupun semua bahan dari kita sendiri). Opsi kedua — walaupun ini mungkin saja hasilnya malah lebih awet — secara harga mungkin jadi sedikit lebih mahal. Plus, harus pergi ke tukang kunci.

Saat ini, sepertinya dengan cara seperti ini sudah cukup.

Jadi, Berapa Harga Tanaman Hias?

Saya sebenarnya termasuk sangat jarang membeli tanaman hias. Karena, memang bukan hobi (untuk membelinya). Hobi saya lebih kepada merawat, dan memfungsikan tanaman sebagai bagian dari dekorasi. Tidak harus spesifik tanaman hias, yang penting ada tanaman.

Saya masih ingat betul, ketika untuk kali pertama mengunjungi rumah yang akan kami beli dulu, hampir 100% area depan tidak ada tanaman. Ada sih, satu pohon cukup besar di depan rumah. Tapi, pohon itu memang ditanam sebagai bagian dari penghijauan di kawasan depan rumah oleh pengembang perumahan.

Salah satu pojok tanaman di rumah.

Jadi, saya juga tidak terlalu mengikuti perkembangan jenis tanaman yang sedang populer, atau harga di pasaran. Tak jarang karena tanaman di rumah terlalu banyak, jadi saya kurangi dengan memberikan kepada tamu yang berkunjung, atau bahkan saya buang begitu saja. Ya, akhirnya kadang baru tahu belakangan ternyata harga tanaman yang saya buang atau berikan ternyata lumyan.

Kemarin, saya sempat mempir ke salah satu tempat penjual tanaman hias. Ada beberapa penjual di sana, tapi saya punya satu penjual yang dulu sering saya kunjungi kalau membeli media tanam.

Singkatnya, saya tanya berapa harga beberapa tanaman. Ya, sekadar ingin tahu saja. Ya beginilah repotnya kalau ke tempat dimana harta tidak tercantum pada produk. Kalau tidak tahu, ya bisa saja dapat harga lebih tinggi. Beberapa tanaman lain saya sempat lihat harga di , dan tidak selisih jauh dengan yang dijual. Mungkin tidak sampai Rp5.000.

Ketika saya berpindah ke kios sebelah, saya juga tanya untuk harga tanaman yang sama — karena saya sudah tanya nama tanamannya apa. Ternyata, di kios ini, harga tanaman ditawarkan ke saya hampir 4x lipat. Waduh!

Walaupun tidak langsung lari menyelamatkan diri, tapi sepertinya saat sekarang banyak permintaan tentang tanaman, memang lebih baik mencari tahu dulu.

Kendala Teknis Bekerja dari Rumah

Walaupun menjadi keinginan banyak orang, namun bekerja dari rumah tak lepas dari kendala. Baik itu kendala yang bisa diantisipasi karena kita memiliki kontrol, tapi ada juga kendala yang muncul karena faktor di luar kita. Puji Tuhan, saya saat ini dapat bekerja dari rumah, sebuah berkat tersendiri, apalagi ditambah dalam kondisi sulit ini.

Ada yang sifatnya teknis, tapi ada pula yang non-teknis, terutama gangguan yang muncul karena… kita ada di rumah. Teorinya, ini tentang bagaimana kita mengelola distractions. Atau, ini tentang bagaimana kita fokus bekerja. Nyatanya, memang tidak selalu semudah teori yang ada.

Kendala atau gangguan non-teknis, tentu ada, bahkan banyak. Tapi setelah tujuh bulan lebih benar-benar ada di rumah, ada beberapa kendala utama: mati dan koneksi .

Mati Listrik

Saya tidak tahu berapa frekuensi mati listrik dalam satu bulan untuk dikatakan “sering” atau “jarang”. Tapi, dalam satu bulan, mungkin ada beberapa kali waktu. Saya tidak hitung persisnya, tapi mungkin sekitar 2-3 kali dalam satu bulan.

Kebanyakan memang karena kegiatan perawatan, instalasi, atau kegiatan lain yang sudah terjadwal. Bukan karena misalnya daya di rumah tidak mencukupi. Biasanya, kalau lagi kena giliran mati listrik, mati listrik berlangsung sekitar 2 (dua) jam. Dan, biasanya juga berlangsung di jam kerja. Selama ini di area saya antara jam 10.00-13.00 WIB.

Agak sedikit berbeda jika mati listrik di luar jadwal. Karena sepertinya sudah masuk musim penghujan, kadang tiba-tiba saja mati listrik. Pernah terakhir kali kalau tidak salah hampir 4 (empat) jam. Duh!

Saya sih yakinnya cuma kalau ada masalah pasti akan disegerakan untuk diperbaiki oleh . Beruntung juga di kompleks perumahan saya, cukup sering warga langsung kontak PLN dan mengabarkan ke grup perumahan kalau sudah dilaporkan.

Baca juga: Pengalaman Merasakan Layanan yang Baik dari Aduan Pelanggan PLN

Koneksi Internet

Kendala yang berikutnya adalah gangguan koneksi internet. Walaupun bisa dikatakan gangguan ini sangat jarang terjadi untuk koneksi internet di rumah yang saya pakai, tapi karena lagi-lagi tetap butuh listrik, kalau listrik mati, otomatis koneksi internet juga terganggu.

Ada opsi untuk tethering menggunakan koneksi dari ponsel. Masalahnya, ketika listrik mati, koneksi internet dari ponsel juga terganggu, susah sekali — koneksi sangat tidak stabil — untuk mendapatkan koneksi dari provider XL maupun Telkomsel yang saya gunakan.


Berbeda dalam kondisi biasanya yang saya dengan mudah mencari tempat untuk bekerja misal di warung kopi, kali ini saya memilih mengandalkan koneksi yang ada. Kalau sampai listrik mati cukup lama, dan yang saya gunakan juga sudah saatnya harus istirahat dulu, ya apa boleh buat, harus mengandalan ponsel atau piranti lainnya.

Kunjungan Kedua Fisioterapi ke Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai pengalaman melakukan di Orthopaedic Sport Clinic ().
Baca tulisan sebelumnya: Pengalaman Fisioterapi di Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)


Pemesanan

Karena sebelumnya sudah melakukan pemesanan dan komunikasi melalui WhatsApp, untuk kedatangan kedua saya langsung kirim pesan ke sekitar pukul 09.30 WIB. Awalnya saya mau datang di hari Sabtu, tapi Jumat malam benar-benar kondisinya terasa sakit sekali. Bahkan, seolah lebih sakit dari sebelumnya. Saya paham, bahwa paska penanganan memang biasanya tidak langsung sembuh, memar juga saya sudah pahami efek dari penanganan sebelumnya juga.

Tapi, karena memang saya bisa datang lagi, kenapa tidak? Dan, kebetulan untuk jadwal paling cepat bisa di jam 10.30 WIB. Karena hari Jumat ada waktu sholat Jumat, jadi saya berharap semoga waktunya mencukupi.

Catatan

Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan pemberi layanan. Semua yang saya tulis merupakan pendapat dan pengalaman pribadi. Biaya atas jasa yang muncul merupakan biaya pribadi. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin bisa terjadi. Saya sarankan untuk mencari informasi terbaru terkait pemberi layanan. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pada Oktober 2020.

Terapi Kedua

Seperti sebelumnya, saya sampaikan apa keluhan saya, rasanya bagaimana, termasuk apabila ada aktivitas berat yang saya lakukan. Yang melakukan terapi kali ini berbeda. Jadi ada satu terapis wanita, dan satu terapis laki-laki.

Dan, proses terapi dimulai.

Pengalaman Fisioterapi di Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)

Minggu lalu, untuk kali pertama saya merasakan kondisi badan yang tidak nyaman karena (sepertinya) ada cidera otot. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi bagian bahu dan punggung atas sebelah kanan rasanya sakit sekali. Ditambah dengan leher — terutama di bagian kanan — juga sakit luar biasa ketika dipakai untuk menunduk atau menengok.

Catatan

Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan pemberi layanan. Semua yang saya tulis merupakan pendapat dan pengalaman pribadi. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin bisa terjadi. Saya sarankan untuk mencari informasi terbaru terkait pemberi layanan. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pada Oktober 2020.

Ada beberapa dugaan penyebab. Mungkin karena saya dalam posisi salah ketika mengangkat barang — karena kadang geser-geser meja atau angkat galon — atau mungkin juga ketika mau menggendong anak saya.

Saya sendiri banyak bekerja di depan meja menggunakan , sangat bisa jadi ini juga memengaruhi kondisi badan terutama bagian atas.

Hari Selasa malam terasa cukup sakit. Ketika tidur, bahu sangat tidak nyaman. Apalagi ketika mau bangun dari posisi berbaring. Saya cukup kepayahan untuk bangun, karena mungkin memang ada bagian otot yang harus bekerja. Ketika berada di depan komputer, juga sudah sangat tidak nyaman.

Sempat terpikir untuk ke tukang pijat atau tukang urut. Tapi, karena saya yakin ini cidera, akhirnya saya putuskan untuk ke tempat saja di . Saya pernah baca, sebenarnya tidak masalah kalau ke tukang pijat atau tukang urut, tapi mungkin ketika untuk kasus badan capek, biar lebih segar, namun bukan untuk kondisi cidera. Jadi, bukannya tukang pijit/tukang urut itu jelek atau tidak direkomendasikan, kali ini soal pilihan saya saja.

Mencari tempat fisioterapi di Jogjakarta

Sebelumnya, saya sering dengar bahwa di Jogja memang ada beberapa tempat untuk fisioterapi. Mulai dari yang ada di rumah sakit, atau yang berpraktik secara mandiri. Di Universitas Negeri , ada juga tempat semacam ini, namanya Physical Therapy Clinic FIK UNY.

Saya coba di , ada juga beberapa rumah sakit yang memiliki layanan fisioterapi. Semakin mencari, semakin banyak pilihan. Jadilah saya bertanya ke teman saya yang sebelumnya pernah juga melakukan fisioterapi di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNY.

Setelah berdiskusi, saya mendapatkan opsi lain kalau mau, dan dia juga sudah mencobanya, dan merekomendasikan ke saya untuk coba ke Jogja Orthopaedic Sport Clinic (). Saya tanya kapan kali terakhir ke sana, katanya sekitar dua bulan lalu.

Booking appointment

Saat itu, saya lebih perlu untuk segera mendapatkan pertolongan. Saya buka dulu situs Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC) di jogjaorthosportclinic.com. Saya baca profil singkatnya, dan saya lakukan booking appointment. Sejujurnya, agak ragu apakah saya segera mendapatkan balasan atau tidak. Jadi, saya langsung coba kontak melalui .

Sekitar jam 09.00 WIB saya terhubung melalui WhatsApp dan saya langsung melakukan booking appointment untuk pukul 11.00 WIB hari itu juga.

Jadi, JOSC ini lokasinya ada di Jalan Colombo No. 6C, di kompleks ruko sebelah sisi selatan kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Lokasi persisnya ada di sebelah Pizza Hut Delivery. Lokasi yang cukup menguntungkan untuk yang bawa kendaraan roda empat, karena parkir bisa langsung di depan lokasi.

Perbaruan info (Desember 2021): Lokasi JOSC yang baru berada di Jl. Pakuningratan No. 32A, tidak jauh dari Yogyakarta.

Terapi di JOSC

Saya datang sekitar pukul 11.00 (agak mepet dari jadwal) karena lalu lintas yang agak padat ketika menuju ke sana. Pertama untuk protokol , ada tempat cuci tangan dan sabun yang tersedia di dekat pintu masuk. Ketika sampai di meja resepsionis, saya juga diperiksa suhu badan. All good.

Karena baru pertama kali datang, saya diminta untuk mengisi melalui formulir yang disediakan. Data yang diisi juga data-data umum saja.

Robot Vacuum Cleaner/Robot Penghisap Debu. Pilih yang Mana?

Setelah menjajal Kurumi KV 01 Anti Dust Mites UV Vacuum Cleaner di bulan September lalu, saya dan istri akhirnya berpikir kembali untuk membeli satu perangkat untuk membantu bebersih di rumah.

Catatan

Tulisan ini bukan tulisan bersponsor. Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan seluruh merek/produk yang disebutkan dalam tulisan ini. Semua yang saya tulis merupakan pendapat pribadi.


Tujuannya tetap, supaya kegiatan bebersih jadi sedikit lebih enteng, karena sudah sekitar tujuh bulan ini benar-benar tanpa ART dengan kegiatan bebersih rutin tiap hari untuk menyapu dan pel antara 1-3 hari, tergantung kondisi lantai juga, karena kebetulan tempat tinggal kami memiliki dua lantai. Pilihan akhirnya jatuh kepada keputusan untuk membeli robot . Masalahnya, pilihannya begitu banyak. Bukan hanya soal merek, tapi juga fitur, rentang harga juga cukup bervariasi.

5 alasan saya mengapa akhirnya membeli robot vacuum cleaner atau robot penghisap debu

Sudah cukup lama sebenarnya saya tertarik untuk beli, namun karena dulu masih merasa belum perlu — karena ada ART, dan merasa untuk membersihkan lantai juga masih bisa dilaukan sendiri — jadi keinginan tersebut selalu ditunda.

Bagi kami, beberapa hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Efisiensi waktu, tenaga, dan biaya
    Untuk menyapu lantai satu (bagian area dalam dan semi outdoor), kadang masih dlanjutkan dengan mengepel. Lantai dua beberapa area memang tidak disapu tiap hari, hanya yang benar-benar ada aktivitas rutin seperti kamar tidur dan ruang kerja. Area lain kadang juga disempatkan. Dengan tanpa ART, jadilah urusan lain juga harus beres. Jadi, mengenai biaya, budget untuk ART ini bisa dialihkan untuk membeli robot vacuum cleaner ini — karena kami juga belum menggunakan jasa bebersih yang bisa datang harian. Paling tidak, jikapun tidak dipel, tapi lantai sudah disapu.
  2. Portabel dan nirkabel
    Karena sifatnya portabel, jadi cukup mudah untuk saya gunakan di lantai satu dan lantai dua, walaupun charging dock memang hanya ada satu. Mungkin satu saat kalau ada rejeki, bisa ada satu lagi. Amin.
    Berbeda dengan alat vacuum yang menggunakan kabel, dengan tanpa kabel otomatis penggunaan juga jadi lebih fleksibel secara jangkauan.
  3. Otomatisasi
    Karena memiliki fitur yang cukup canggih dan terintegrasi dengan beberapa model pengaturan, jadi lebih fleksibel dalam operasional. Termasuk untuk urusan pengisian baterai. Jadi, saya tinggal atur misalnya kapan si ‘robot’ ini harus membersihkan dan area mana saja — misal jam 22.00 WIB.
  4. Ukuran ringkas dan minim perawatan
    Untuk ukuran juga menjadi penting. Dengan ukuran yang cukup mini, penyimpanan juga lebih tidak makan tempat. Selain itu, robot vacuum cleaner semacam ini juga memiliki bobot yang tidak terlalu berat. Mengenai perawatan, selain beberapa aksesories yang seharusnya juga mudah didapatkan dari produsen, komponen lain juga tidak terlalu rumit untuk perawatannya.
  5. Jangkauan lebih luas dan menyedot debu dengan lebih baik
    Area bawah tempat tidur merupakan area yang cukup sulit untuk dibersihkan, disamping ada juga sofa untuk tamu dan sofa bed. Selain susah dijangkau sepenuhnya dengan sapu, pun sudah disapu biasanya kotoran dan terutama debu cenderung berpindah tempat. Jadi, kalau disapu, debu malah justru terbang kemana-mana. Untuk tempat tidur, kebiasaan selama ini jika membersihkan saya lebih sering geser dipan dan tempat tidur, disapu, dipel, kemudian dikembalikan lagi.

Pertimbangan menentukan pilihan robot vacuum cleaner

Setelah memiliki pertimbangan yang cukup, saatnya memilih: produk robot vacuum cleaner mana yang paling cocok (untuk kami)? Secara umum, ada dua hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Spesifikasi produk dan ulasan
  2. Budget dan harga

Mari kita bahas sedikit.

Reaksi Ahli Biologi Molekuler yang Asli Nonton Video Diskusi Anji dan Hadi Pranoto

Beberapa waktu lalu, sempat muncul sebuah yang cukup populer di platform , antara Anji — seorang musisi — dengan Hadi Pranoto yang diperkenalkan oleh Anji sebagai Profesor Hadi Pranoto. Saya sendiri tidak menontonnya, hanya membaca beritanya saja. Ada pro-kontra, tentu saja.

Walaupun, akhirnya video tersebut telah diturunkan oleh YouTube, tapi yang lebih menarik justru pendapat/reaksi terhadap video tersebut, dari sudut pandang sains, dari orang yang menyampaikan informasi berdasarkan bidang keilmuan. Beliau adalah Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, PhD.

Tentang beliau, cukup mudah informasinya untuk ditemukan di , termasuk publikasi lain yang mendukung bidang keilmuan.

Citranet Permudah Pembayaran Tagihan

Setelah dua tahun lebih melakukan pembayaran untuk layanan dengan cara manual, akhirnya bisa juga melakukan pembayaran dengan lebih mudah, praktis, dan cepat.

Jadi, selama ini, untuk setiap tagihan yang dikirimkan melalui surel (dan tagihan fisik), pembayaran dilakukan melakui transfer ke rekening , memasukkan jumlah tagihan manual, ke rekening virtual spesifik, kemudian mengkonfirmasi pembayaran.

Setiap bulan.

Selama ini tidak ada masalah juga, tapi untuk kondisi saat ini yang semuanya sudah bisa dipermudah dengan begitu banyak pilihan metode pembayaran, gateway, cara seperti itu sepertinya termasuk agak ketinggalan jaman. Apalagi, ini untuk layanan internet.

Sekarang, pembayarna bisa dilakukan secara langsung melalui Midtrans. Gampang dan cepat, dan mengaktifkan fitur pembayaran melalui dompet digital dengan QR Code yang mendukung QRIS, tentu sangat memudahkan.

Cuma, ada sedikit hal yang mengganggu, dimana ada biaya layanan sebesar Rp5.000 untuk setiap transaksi. Ini bisa dipahami, karena memang ada biaya yang muncul karena pemrosesan transaksi oleh Midtrans. Saya memilih untuk menerima saja adanya biaya transaksi. Walaupun, kalau tanpa ada biaya transaksi akan menjadi lebih baik lagi.