Sudah Divaksinasi AstraZeneca

Awal tahun ini, saya dengan sadar memilih untuk divaksinasi jika kesempatan itu mendapatkan vaksinasi memang ada. Kalau ditanya saya masuk golongan yang pro-vaksinasi atau anti-vaksinasi, untuk ke diri saya, saya memilih untuk mendapatkan vaksinasi.

Ya, sederhana saja, saat ini vaksinasi merupakan salah satu proses yang masuk akal untuk menekan lanju COVID-19. Dan, jika saat ini vaksinasi merupakan pilihan terbaik, kenapa tidak?

Photo by Artem Podrez from Pexels

Pilihan Vaksin

Yang sudah beredar banyak setelah Sinovac tentu AstraZeneca. Di awal Juni 2021 ini, yang banyak tersedia adalah AstraZeneca. Lalu, kenapa mau dikasih AstraZeneca, bukankan AstraZeneca itu bla-bla-bla-bla?

Ya, saya cukup banyak baca. Ada kasus penerima vaksinasi yang sampai meninggal karena pembeukan darah setelah menerima AstraZeneca, sedangkan sebelum-sebelumnya ketika pakai Sinovac aman saja.

Saya juga membaca opini bahkan dari orang-orang yang saya kenal bahwa AstraZeneca ini efeknya lebih keras — daripada Sinovac. Dan, yang ngomong rata-rata ada dalam kelompok yang belum vaksinasi sama sekali, dan berdasarkan baca berita atau dengar dari orang lain.

Apakah saya takut untuk menerima AstraZeneca? Perasaan was-was pasti ada. Pun kecil, kasus lanjutan setelah vaksinasi bisa terjadi kepada siapapun, termasuk saya. Tapi, di saat yang sama, bahwa saya bisa tertular COVID-19 atau menjadi carrier itu juga bisa terjadi, itu adalah fakta.

Jadi, alih-alih menunda untuk menghindari AstraZeneca, saya memutuskan untuk menerimanya. Apakah dengan tidak menerima AstraZeneca saya akan bisa menerima vaksin sesuai pilihan saya? Apalagi pilihan tersebut hanya berdasarkan “kayaknya yang A lebih aman”, atau “katanya si B bagus yang vaksin C”. Saya sendiri juga bukan orang medis, tapi satu hal yang saya pegang: vaksin yang beredar pasti sudah melalui proses penelitian, uji klinis, dan mendapatkan ijin edar. Puluhan atau bahkan ratusan ribu orang sudah menerima AstraZeneca sebelum saya. Jadi, kenapa tidak?

Efek Samping AstraZeneca

Sebelum vaksinasi pada hari Rabu, sehari sebelumnya saya tidak ada persiapan selain istirahat yang cukup saja. Dan, pagi sebelum vaksinasi — sekitar jam 11.00 WIB — saya sempatkan sarapan. Selebihnya, biasa saja. Saya sudah baca KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) untuk AstraZeneca di berbagai sumber, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Hari Pertama (Rabu)

Sebelum proses vaksinasi, diawali dengan pengisian data dan pernyataan persetujuan sebagai bagian dari proses screening. Suhu badan normal, tekanan darah normal, dan semua pertanyaan terkait antisipasi dan efek pasca vaksinasi dijawab apa adanya. Tidak ada yang serius dan menghalangi.

Proses observasi di tempat setelah vaksinasi juga tidak ada masalah. Belu ada gejala/efek lanjutan yang langsung terlihat. Bahkan, setelah vaksinasi, saya langsung beraktivitas seperti biasa, termasuk bekerja sampai sore hari.

Malamnya sekitar pukul 20.00 WIB, suhu badan agak naik, terasa agak demam, tapi belum sampai mengganggu sekali. Rasanya seperti mau meriang. Kepala sedikit pusing saja. Kondisi ini terjadi terus, sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Saya putuskan untuk minum obat sakit kepala, karena ini diperbolehkan juga. Kondisi badan terasa dingin, tapi suhu badan agak naik. Lidah juga tidak pahit, bisa mengecap rasa seperti biasa.

Setelah minum obat, saya paksakan istirahat.

Hari Kedua (Kamis)

Pagi bangun masih agak demam, tapi tidak sepanas hari sebelumnya — yang dirasakan. Saya juga tidak sempat ukur suhu badan. Kepala masih sedikit pusing, tapi aktivitas biasa tidak terganggu.

Karena saya rasa tidak terlalu mengganggu, jadi aktivitas harian masih saya lakukan termasuk bekerja. Cuma, badan rasanya jadi terasa lebih lelah saja. Jadi, beberapa saat saya selingi dengan rebahan. Yang pasti, tetap makan dan minum saja.

Sampai malam hari, demam masih, tapi terasa berkurang termasuk sakit kepala. Tapi, secara umum badan terasa lebih enak dari hari sebelumnya. Ketika akan berangkat tidur, badan juga biasa saja. Tidak terasa dingin juga. Bagian lengan atas bekas suntikan agak terasa kaku/pegal. Di hari kedua, saya tidak mengonsumsi obat sama sekali.

Hari Ketiga (Jumat)

Jumat pagi ketika bangun tidur, kondisi badan semua sudah bisa dikatakan normal. Badan tidak ada demam sama sekali, efeknya seperti malam sakit, minum obat, lalu pagi bangun dengan suhu badan normal dan badan segar. Sakit kepala yang sebelumnya ada, tinggal terasa sedikit sekali.

Cuma memang badan masih agak terasa capek saja. Tapi, dengan sedikit dipaksa untuk bergerak, jalan-jalan sebentar di luar rumah, dan aktivitas biasa, badan justru terasa lebih enak.

Area lengan atas tetap terasa agak kaku dan pegal saja, tapi secara umum tidak menghalangi aktivitas sama sekali.

Vaksinasi Lanjutan

Berbeda dengan Sinovac yang memiliki jarak 28 hari dari dosis pertama ke dosis kedua, jarak vaksinasi kedua untuk AstraZeneca adalah 12 minggu. Untuk saya, dijadwalkan di minggu akhir Agustus 2021 untuk dosis keduanya.

Informasi mengenai tanggal vaksinasi dosis satu, termasuk jenis vaksin yang dipakai tertera dengan jelas di kartu vaksinasi. Saya sendiri mendapatkan AstraZeneca batch CTMAV 547.

3 Tahun Berhenti Merokok

Photo by Basil MK from Pexels

Sedikit catatan pencapaian pribadi di akhir Mei 2021 kemarin, akhirnya sudah genap tiga tahun berhenti merokok. Satu tahun pertama mungkin salah satu yang paling menantang. Tahun kedua dilewati dengan lebih mudah.

Dan, tahun ketiga terasa juga jauh lebih mudah. Apalagi tahun ketiga ini dilewati dalam masa pandemi. Sebagai yang pernah merokok dalam jangka waktu lama, tentu berada di rumah, dengan kegiatan yang cenderung lebih sedikit, bisa jadi rokok makin banyak. Paling tidak, saat dulu masih merokok, di rumah nyantai, tidak banyak kegiatan, bersantai sambil menghisap rokok bisa makin sering.

Sehari-hari, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tetap berada dalam lingkungan yang kadang ada perokok. Dan, itu biasa saja. Saya juga tidak sampai tahap alergi atau tidak suka dengan asap rokok. Biasa saja sebenarnya.

Buat yang akan atau punya keinginan berhenti merokok… semangat!

Menparekraf Sandiaga Uno tentang Dana Testing Corona Dialihkan untuk Biaya PCR-Antigen Wisatawan

Diperlukan keringanan biaya testing untuk calon wisatawan yang ke Bali. Ini yang akan kita pertimbangkan sebagai bentuk insentif yang bisa kita berikan, yakni testing (biaya PCR atau antigen) yang dibebankan ke pemerintah. Ternyata anggaran testing itu sampe Rp 6 triliun yang belum terserap, baru sedikit sekali yang terserap. Jadi, saya nanti mengusulkan dan dorong ke PEN agar itu bisa dialihkan, anggaran yang tidak terserap sebagai intensif.

Menparekraf Sandiaga Uno tentang pengalihan biaya pengetesan corona dialihkan untuk membiayai PCR atau rapid test antigen wisatawan (yang mau ke Bali). Sumber: Kumparan

Sebentar, Pak Sandiaga Uno… Sebentar.

Sependek pengetahuan saya, pendapat Anda ini agak membingungkan. Benar bahwa Bali terdampak karena pariwisata menjadi faktor penting perekonomian di sana. Bukan bermaksud mengecilkan, tapi daerah lain — walaupun bukan selalu terkait pariwisata — juga mengalami dampak yang luar bisa karena COVID-19 ini.

Sekali lagi, ini bukan sentimen saya soal Bali, tapi tentang pernyataan beliau ini. Saya juga suka Bali ketika berlibur ke Bali.

Tapi, Pak… saya agak bingung dengan logika berpikir Anda.

Tensocrepe Perban Elastis

Beberapa hari lalu, ketika sedang bebersih rumah dan memindahkan barang, pergelangan tangan kanan saya mengalami cidera. Jadi, saat akan memindahkan — lebih tepatnya membalik — meja, ternyata meja bergeser terlalu cepat dari yang saya perkirakan. Jadi, buru-buru memegang meja — yang kebetulan agak berat — untuk menghindari meja langsung jatuh ke lantai dengan keras.

Usaha cukup berhasil, cuma dengan kondisi ada otot tangan kanan yang keseleo. Setelah itu, saya tetap lanjutkan kegiatan karena rasanya baik-baik saja.

Tensocrepe perban elastis

Baru keesokan harinya pergelangan tangan kanan terasa lebih sakit. Untuk diputar, terasa tidak nyaman. Saya akhirnya menjadikan perban sebagai solusi untuk cidera otot atau keseleo. Beruntung, ada apotek yang buka di hari kedua Lebaran kemarin. Saya diberi pilihan untuk perban elastis merek Tensocrepe dengan ukuran lebar 7,5cm dan 10cm.

Saya pilih yang ukuran 7,5 dengan harga Rp74.400.

Sebelum saya balut dengan perban ini, saya oleskan dulu Counterpain pada area pergelangan tangan. Awalnya, kalau sampai tidak sembuh, saya akan coba ke fisioterapi untuk memeriksakan. Kebetulan klinik fisioterapi tujuan saya masih libur.

Ternyata, di hari kedua saya lakukan perawatan sendiri, kondisi pergelangan tangan jauh membaik. Sepertinya tidak perlu sampai ke klinik. Semoga.

Mematikan Fitur Face Login di Aplikasi DANA

Untuk beberapa kegiatan transaksi, saya memiliki beberapa preferensi dalam hal pembayaran. Misalnya, untuk transaksi nominal di bawah Rp100.000 saya biasanya memilih GoPay, OVO, atau Shopee Pay.

Logo DANA

Sedikit berbeda misalnya ketika melakukan pembayaran untuk transaksi ke supermarket, saya lebih memilih menggunakan DANA. Saya tidak tahu persis kapan mulainya, tapi mungkin sekitar tahun lalu, ketika akan melakukan transaksi, kadang harus melewati proses verifikasi tambahan dengan menggunakan deteksi wajah.

Tentu, ini menjadi salah satu hal baik terkait dengan lapisan keamanan dari aplikasi. Karena, selain PIN, dengan memindai wajah dari pemilik akun untuk otorisasi, proses transaksi seharusnya akan menjadi lebih aman. Namun, ada sedikit kekurangnyamanan terkait fitur ini.

Keamanan dengan kenyamanan memang menjadi sebuah diskusi yang panjang. “Maunya” keamaman dan kenyamanan ini bisa berjalan bersama. Tapi, nyatanya memang tidak selalu bisa berjalan berbarengan.

Mematikan Fitur Face Login

Saya tetap mengapresiasi bahwa DANA menawarkan fitur ini. Jelas, saya tidak melihat bahwa fitur ini merupakan fitur yang jelek. Namun, menurut saya ada beberapa kondisi yang kurang cocok untuk saya sebagai pengguna:

  1. Face Login tidak terlalu bersahabat dengan pengguna yang memakai masker.
    Kalau fitur ini digunakan di rumah saja, saya rasa tidak terlalu masalah. Ya walaupun di rumah memang jadi cenderung lebih “aman”, karena tidak perlu ada pihak lain yang mengawasi atau lebih sedikit potensi penyalahgunaan akun. Sedangkan kalau di luar rumah, di masa pandemi COVID-19 ini, saya selalu memakai masker, termasuk ketika sedang berbelanja. Jadi, membuka masker di kasir untuk melakukan validasi pembayaran sepertinya bukan menjadi pilihan untuk saya.
  2. Seingat saya, ada dua kali proses dalam verifikasi dengan wajah di aplikasi DANA ini. Pertama, untuk memvalidasi bahwa benar itu adalah muka pengguna. Kedua, pengguna diminta untuk “berkedip” sebagai konfirmasi proses selanjutnya.

Tentu, pengalaman pengguna lain bisa berbeda.

Beruntung fitur Face Login ini bisa dinonaktifkan dari menu “Me” lalu ke “Profile Settings” (menu sesuai dengan pengaturan bahasa di antar muka ponsel). Jadi, untuk saat ini, saya rasa PIN sudah cukup. Jika nanti ingin mengaktifkan kembali, prosesnya juga mudah.

Menutup Akun Jenius BTPN

Tunggu, memang ada terpikir untuk menutup akun Jenius BTPN. Tapi, alih-alih langsung menutupnya, saya pastikan bahwa akun kemungkinan tidak akan dipakai, karena saldo nol.

Saya termasuk salah satu yang akhirnya ‘terjerumus’ untuk membuka akun Jenius dari BTPN. Walaupun registrasi pertama gagal di Februari 2019 lalu, tapi setelah mencoba kembali di Agustus 2019 proses pembukaan akun berhasil dilakukan.

Dalam periode hampir dua tahun memiliki rekening di Jenius, tapi Jenius belum menjadi aplikasi perbankan yang sering saya gunakan. Transaksi yang sering saya lakukan adalah menerima pengiriman dana dari beberapa teman, yang secara nominal tidak besar. Selebihnya, hampir tidak pernah saya gunakan. Saya memiliki beberapa Jenius cards yang saya minta. Dan, sepertinya ini tidak terlalu bermanfaat bagi saya, karena justru saya semakin jarang membawa kartu fisik.

Kebanyakan transaksi yang saya sering lakukan akhirnya menempatkan DANA, GoPay, Shopee Pay, dan OVO sebagai pilihan utama. Pun tidak, BCA Mobile dan OCTO Mobile saat ini masih sangat bisa diandalkan.

Menutup Akun Jenius

Selain karena memang hampir tidak pernah dipakai, saya juga agak kurang nyaman dengan mekanisme denda atas kekurangan dana apabila dana tidak mencukupi saat dilaksanakannya transaksi di merchant.

Saya coba cari informasinya di situs Jenius, saya tidak menemukan informasi yang cukup jelas termasuk ketika saya coba buka laman Support/FAQ. Pada laman Syarat dan Ketentuan, informasi seputar penutupan akun menyebutkan tentang “Penutupan rekening dapat dilaksanakan oleh Nasabah dengan menghubungi Layanan Nasabah (Contact Center) dan/atau Jenius Live.”

Walaupun sepertinya datang ke kantor BTPN terdekat juga bisa menjadi solusi, tapi dalam kondisi pandemi sepertinya hal ini bukan solusi yang baik. Belum lagi sepertinya tidak ada jaminan bahwa proses bisa berjalan dengan cepat seperti pengalaman saat membuka rekening dulu.

Untuk saat ini, walaupun belum memroses penutupan akun sepenuhnya, seluruh kartu saya sudah saya kosongkan saat ini. Dana yang ada di akun juga sudah saya kosongkan. Ada informasi tambahan bahwa akun Jenius akan menjadi nonaktif (dormant?) jika tidak digunakan selama 6 (enam) bulan.

Mendapatkan Salinan Faktur Kendaraan Bermotor

Karena sebuah keperluan, bulan lalu saya harus mengurus proses mendapatkan salinan faktur kendaraan bermotor. Jadi, faktur kendaraan untuk mobil saya — yang katanya seharusnya ada di kartu BPKB — ternyata tidak ada pada tempatnya. Beberapa bulan sebelumnya memang saya melakukan proses balik nama melalu jasa pihak ketiga.

Intinya, dokumen tersebut tidak ada. Berbekal informasi bahwa faktur tersebut bisa didapatkan salinannya di samsat dengan proses yang mudah, jadi saya putuskan untuk mengurusnya.

Karena “alamat baru” pada BKPB ada di Sleman, jadi saya disarankan untuk mendatangi Kantor Samsat Sleman. Awalnya agak bingung juga, ke loket mana saya harus melakukan proses ini. Di bagian informasi, saya diarahkan untuk ke salah satu ruangan untuk pengurusan ini.

Setelah saya sampaikan maksud kedatangan saya, saya diminta untuk menunggu pengecekan dokumennya. Ternyata, dokumen saya tidak ada di sana, namun ada di kantor Samsat Maguwo. Setelah diyakinkan bahwa memang dokumen tersebut tidak ada, jadi saya disarankan untuk langsung ke kantor Samsat Pembantu Sleman (Kantor Pelayanan Pajak Sleman (Samsat Pembantu)).

Karena hari sudah cukup siang, dan jarak dari Samsat Sleman ke Samsat Maguwo cukup jauh, jadi saya putuskan untuk datang di hari berikutnya.

Salinan Faktur Kendaraan

Di Samsat Pembantu Maguwo, saya langsung diarahkan ke loket 1 yang ada di area layanan utama. Saya sampaikan maksud kedatangan saya dan saya diminta untuk menunggu. Tidak sampai satu menit, saya diinfokan kalau salinan faktur saya ada di Samsat Sleman. Aduh!

Saya sampaikan kalau kedatangan saya ke Samsat Pembantu Maguwo ini atas arahan dari petugas di Samsat Sleman. Setelah berdiskusi singkat dengan cukup santai, dilakukan pengecekan kembali. Mungkin masih terkait data alamat yang belum diperbarui atau apa — ini terkait bahwa data BKPB juga sudah berubah alamat –, tapi singkatnya dokumen yang saya butuhkan bisa saya dapatkan. Seluruh proses ini ternyata cukup cepat. Sepertinya tidak sampai 30 menit.

Ulasan Monitor LED Dell S2721DS 27 Inchi

Beberapa waktu setelah saya bekerja dari rumah, saya sempat terpikir untuk memiliki sebuah monitor yang berukuran agak besar untuk kenyamanan bekerja. Saya sempat gunakan juga sebenarnya “televisi” sebagai monitor, tapi tentu saja ini bukan pilihan yang bijak.

Akhirnya, setelah satu tahun lebih, saya memutuskan untuk membeli sebuah monitor yang akan saya gunakan bersama dengan MacBook Pro 15″.

Catatan:

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan dana pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan produsen monitor, maupun layanan lain yang disebutkan dalam artikel ini. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Karena sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan monitor, awalnya saya agak bingung harus memulai pencarian saya dari mana. Akhirnya, saya lemparkan pertanyaan sekaligus meminta rekomendasi melalui linimasa Twitter saya. Berikut beberapa balasan rekomendasi, atau paling tidak yang sedang dipakai:

  1. Dell S2721DS
  2. ThinkVision T27P10
  3. Dell s2721QS
  4. Thinkvision E24-20
  5. LG 24” 4K 24UD58-B

“Beruntung” tidak terlalu banyak rekomendasi yang bisa membuat saya bisa tambah bingung menentukan pilihan. Awalnya, saya berpikir untuk membeli yang 24″ karena sudah cukup besar. Ternyata, beberapa rekan yang kesehariannya bekerja dengan monitor eksternal lebih merekomendasikan untuk ukuran 27″.

Untuk mempermudah pilihan, saya menentukan anggaran paling tinggi Rp4.000.000,-. Dan, setelah membaca beberapa ulasan, melihat ulasan dari pengguna lain, saya memutuskan untuk membeli Dell S2721DS.

Spesifikasi

Berikut spesifikasi dasar untuk Dell S2721DS:

  • Ukuran panel: 27 inchi
  • Tipe panel: IPS
  • Resolusi: QHD 2560 x 1440 @ 75 Hz
  • Aspek rasio: 16:9
  • Konektor: 2x HDMI 1.4, 1x DP1.2
  • Daya: 19 watt (sleep/standby: 0,3 watt)

Spesifikasi lengkap dapat dilihat di situs Dell.

Pembelian

Awalnya saya berniat untuk membeli produk ini secara langsung di toko komputer. Namun, ternyata barang ini tidak banyak bisa saya temukan. Saya tanyakan ke salah satu teman saya yang juga sudah memiliki produk ini, ternyata barang sedang tidak ada dalam stok, dan harga saat ini lebih tinggi dibanding saat dia membelinya.

Glagah yang Sepi

Karena sudah cukup lama tidak mengunjungi eyangnya di ujung selatan Bantul, hari ini saya membawa keluarga untuk datang berkunjung sebentar. Kemarin, si bocah juga baru saja berulang tahun.

Kunjungan singkat tersebut sekaligus kesempatan mampir ke pantai. Dan Pantai Glagah merupakan pilihan siang itu. Tidak ada ekspektasi, selain bahwa semoga cuaca cukup baik. Pengalaman sesekali kali ke pantai — di masa pandemi — memang biasanya memilih jam dan hari yang ‘kurang diminati orang’.

Otomatis memang pantai/obyek wisata pasti cenderung sepi. Pengunjung berkurang. Dan, siang itu, saya menjumpai kawasan Pantai Glagah ini memang sepi. Setelah saya membayar retribusi obyek wisata sebesar Rp18.000 untuk tiga orang, saya langsung mengarahkan kendaraan ke area pantai. Dan, tujuan pertama ke kawasan laguna.

Laguna Pantai Glagah

Ketika mampir di area laguna, saya hanya melihat sekitar emapt mobil saja parkir. Ada beberapa sepeda motor terparkir. Sepi sekali. Ada sebuah perasaan sedih. Entahlah, tidak nyaman melihatnya.

Pantai Glagah.

Ketik sampai ke kawasan parkir pantai, saya hanya melihat satu mobil yang sedang parkir. Lagi-lagi, sangat sepi. Semoga ini memang karena sedang bulan puasa. Walaupun saya tetap mendukung protokol kesehatan untuk tetap dijalankan, tapi di saat yang sama bahwa ada yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata ini, pemandangan yang sepi ini cukup berhasil mengusik saya.

Beberapa orang yang berjaga parkir juga sepertinya menjalani hari yang cukup berat. Beberapa warung juga sepi. Beberapa kawasan yang sepertinya disiapkan (atau dulu malah sudah pernah beroperasi) juga sepertinya tidak menunjukkan bahwa ada aktivitas perekonomian di sana.

Sepi. Sedih.

Ulasan K380 Multi-device Bluetooth Keyboard

Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli papan ketik baru, dan pilihan saya jatuh ke K380 Multi-device Bluetooth Keyboard dari Logitech.

Catatan

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan dana pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan Logitech. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Nama Logitech sebenarnya bukan nama yang asing. Saya sudah cukup lama menggunakan tetikus dari merek ini, untuk seri M337. Dan, selama itu pula cukup puas dengan performa dalam mendukung pekerjaan saya sehari-hari.

Mengapa bluetooth keyboard?

Selama ini, sebenarnya saya juga sudah menggunakan magic keyboard dari Apple karena MacBook saya lebih sering saya gunakan bersama dengan monitor eksternal karena memang saya hampir selalu di rumah saja. Tidak ada keluhan spesifik sebenarnya.

Di saat yang sama, saya juga kadang menggunakan iPad, yang juga hampir selalu berada di depan saya (ketika di rumah). iPad yang saya gunakan juga sudah menggunakan magic keyboard.

Kalau ada satu papan ketika yang bisa dengan mudah berpindah piranti, saya rasa itu akan sedikit membantu. Dan, karena juga saya kadang harus berpindah tempat kerja seperti bekerja di luar rumah, dan saya memang lebih nyaman menggunakan papan ketik eksternal, kalau ada yang memenuhi kedua hal ini, tentu akan jadi pilihan.

Kenapa papan ketik nirkabel, ya karena ini lebih praktis saja.

Memilih K380

Ada beberapa pilihan yang sudah saya lihat, tapi spesifikasi yang saya butuhkan sebenarnya cukup sederhana saja, yaitu:

  1. Desain sederhana, dengan ukuran yang cukup compact, dengan built quality yang baik, tidak terkesan ringkih dan murahan.
  2. Mudah untuk pairing, dan tentu saja nirkabel
  3. Saya tidak butuh fitur seperti trackpad, atau tombol dedicated misal untuk angka.
  4. Baterai cukup awet
  5. Harga di bawah Rp500.000

Awalnya saya sempat terpikir untuk membeli Logitech K480 yang sepertinya akan cocok untuk saya. Namun, setelah saya pertimbangkan ulang, fitur untuk menempatkan tablet atau ponsel sepertinya tidak akan terlalu saya gunakan. Dan, ini menjadikan ukuran keseluruhan menjadi terlalu besar

Logitech K480
Ukuran Logitech K480: 299mm x 195 mm x 20 mm.

Seri K480 ini secara umum memiliki spesifikasi yang bagus, cuma kurang cocok untuk kebutuhan saya.

Opting out of Google’s FLoC Network

Opting your Website out of Google’s FLoC Network.

Selesai: Pengembalian Kredit Google Hangout

Sewaktu melakukan perubahan kartu kredit untuk pengembalian kredit Google Hangout pertengahan Maret lalu, saya kira prosesnya memang bisa sampai dua bulan. Ternyata, proses malah jauh lebih cepat.

Dalam catatan mutasi kartu kredit, ternyata di tanggal tersebut dana sudah masuk. Informasi baru terlihat karena tagihan terbaru kartu kredit baru tercetak awal April ini.

Bye LastPass, Hello Bitwarden

Photo by Anete Lusina from Pexels

After using Bitwarden for about a month, I could say that Bitwarden works for me and has a big chance to replace LastPass as my current password manager.

I have all the features I need. The initial migration to move all my LastPass data to Bitwarden was also easy. After that I did not save any new data to LastPass.

LastPass is a good product. It increases its subscription price time to time. In 2017 — when I subscribed to it — I needed to pay $12. A year later, the subscription fee was $24. And lastly in 2019, LastPass increased the subscription fee to $36/a year. The price is for the annual billing cycle. For monthly subscription, the price will be a little bit higher.

The price above actually almost in the same price range like what other password manager services. So, during the time period, it was more about choosing which service to be used. Thank you, Last Pass for making my digital life become easier in the last four years.

Deleting LastPass account

Now, it’s Bitwarden time. I started by using the basic free account. Yes, it’s a free account. It offers the core features for a good password manager. Basically, it should be enough for those who start to use password manager.

If I need more features, for a single-user account, its Premium Account is $10/year. It’s in a good price range, I think.

Akhirnya, Swab Antigen Juga

Photo by Testalize.me on Unsplash

Akhirnya, hari ini saya melakukan swab Antigen untuk kali pertama di HI-LAB Diagnostic Center, salah satu klinik laboratorium yang berada di tengah kota, di seputaran Kotabaru, di sisi selatan Stadion Kridosono. Ini satu area dengan Klinik Mata Sehati, tempat saya memeriksakan mata.

Sekarang memang sudah cukup banyak opsi untuk melakukan swab Antigen di Jogjakarta, pemilihan lokasi ini tidak ada preferensi khusus. Ya saya milih lokasi ini saja. Kebetulan juga, ART yang akhirnya kembali bekerja juga melakukan tes di lokasi tersebut.

Kenapa?

Jadi beberapa hari lalu, setelah saya bertemu dengan seorang teman, keesokan harinya dia memberitahu kalau salah satu teman istrinya terindikasi terpapar COVID-19. Sempat kaget juga, tentu saja. Saya bertemu teman saya tidak lama, mungkin hanya sekitar 2 jam. Dan, itu cuma berdua, di tempat yang sirkulasi udara cukup baik, dan duduk tidak berhadapan, dan tetap menjaga jarak aman.

Saya sendiri, kalau di luar rumah khususnya ketika ada bertemu orang dan ada kemungkinan mengobrol, pasti mengusahakan selalu menggunakan masker dobel. Masker kain ditambah masker medis di sisi dalam. Dan, sampai saat ini masih cukup nyaman.

“Harusnya aman karena kan selalu pakai masker terus, dan bahkan dobel” adalah salah satu perasaan yang di awal muncul, setelah mendapatkan saya berinteraksi dengan orang yang kontak yang walaupun belum tentu positif. Jadi, pilihannya tes atau tidak.

Akhirnya, memutuskan untuk swab antigen saja untuk memastikan.

Proses Registrasi dan Swab Antigen

Saya melakukan proses pendaftaran secara daring melalui situs yang disediakan. Proses registrasi berjalan dengan mudah dan efisien. Saya cukup mendaftar, menentukan jadwal pemeriksaan, dan melakukan pembayaran melalui transfer bank. Untuk dokumen, saya menyertakan KTP saja.

Biaya yang saya keluarkan untuk tes ini adalah Rp225.000,-.

Beruntung antrian tidak panjang. Setelah mengonfirmasi kedatangan, saya langsung diminta menunggu di area tunggu. Saya mungkin menunggu sekitar sekitar 15 menit saja.

Dan, giliran saya tiba. Petugas menjelaskan prosedur dengan ringkas dan jelas, dan saya tinggal menikmati prosesnya, alat swab masuk ke kedua lubang hidung saya. Agak tidak nyaman, tapi syukurlah semua proses berjalan cepat dan lancar.

Hasil

Proses swab saya berlangsung sekitar puklu 08.50 WIB. Dan, hasil tes swab saya terkirim ke surel saya sekitar pukul 09.39 WIB. Jadi kurang dari satu jam hasil sudah dapat diketahui. Mungkin karena proses antrian tidak banyak hari ini.

Puji Tuhan.

Jasa Saluran Mampet

Photo by La Miko from Pexels

Sudah sangat lama sejak kali terakhri saya menggunakan jasa untuk masalah saluran air yang mampet. Secara umum, semua lancar-lancar saja. Sudah beberapa minggu terakhir terpikir untuk memanggil jasa saluran mampet untuk saluran yang membawa air hujan dari area belakang ke depan.

Karena, ketika hujan lebat, kecepatan air mengalir keluar tidak secepat debit air yang masuk. Jadi, kadang air keluar dari saluran/parit kecil. Hasilnya sih lebih kepada kegiatan tambahan setelahnya, yaitu mengepel lantai. Aliran jadi kurang lancar karena sepertinya ada debu, pasir, atau kadang tanah yang masuk ke saluran. Termasuk, kadang ada daun dari pohon di dekat rumah yang terbang tertiup angin.

Dan, rencana tersebut akhirnya harus direalisasikan justru karena sebab lain. Sewaktu ART saya mencuci piring, air buangan wastafel ternyata sedikit meluap. Dugaannya cukup jelas: mampet. Karena ini bagian yang penting untuk kegiatan rumah tangga berjalan baik, jadi harus dibereskan sesegera mungkin.

Melalui mesin pencari, saya mencari alternatif layanan. Dan, saya menemukan salah satu layanan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Saya kirim pesan melalui WhatsApp, dan ternyata langsung dibalas. Setelah saya jelaskan beberapa hal yang perlu dibereskan, dan sepakat dengan harga jasa, penyedia layanan ini menyanggupi untuk datang keesokan harinya.

Pagi harinya, setelah dicek, ternyata memang benar cukup parah sumbatannya. Akhirnya sumbatan dibersihkan dan didorong dengan air. Parit juga dibersihkan. Sebenarnya pekerjaan cukup lancar, sampai pada kondisi air yang digunakan untuk mendorong melalui pompa habis. Kebetulan beberapa hari ini layanan PDAM di kompleks perumahan kurang begitu lancar. Jadi, air yang digunakan adalah air dari toren penampung.

Untunglah, bagian utamanya sudah selesai. Ini lebih kepada membilas kembali dengan air yang banyak saja. Saya cuma berharap hujan deras segera turun, dan air dari PDAM menyala lagi.