Tags
,

Podcast: Perjalanan ke Jakarta di Masa Pandemi COVID-19

Akhirnya, setelah berbulan tidak melakukan perjalanan ke luar kota, jadilah saya ke Jakarta. Kali ini, ada yang berbeda. Perjalanan saya lakukan dengan kendaraan pribadi, sendirian pula. Walaupun sudah ada beberapa tulisan terkait dengan cerita ini, akhirnya saya buat versi audio. Selamat mendengarkan!

Tags

Pilkada 9 Desember 2020 Sebagai Hari Libur Nasional

Melalui surat Keputusan Presiden No. 22 Tahun 2020, hari Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada Rabu, 9 Desember 2020 ditetapkan sebagai hari libur nasional. Yang pasti, per akhir November 2020, peningkatan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia justru mengalami penambahan yang menjadikan jumlah kasus harian mencapai puncaknya.

Menetapkan hari Rabu tanggal 9 Desember 2020 sebagai hari libur nasional dalam rangka pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota secara serentak.

Keputusan Presiden No. 22 Tahun 2O2O tentnag HARI PEMUNGUTAN SUARA PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, SERTA WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA TAHUN 2O2O SEBAGAT HARI LIBUR NASIONAL

Karena merupakan hari libur nasional, jadi daerah yang tidak melaksanakan pilkada juga tetap akan mendapatkan hari libur. Dan, pandemi tentu saja tidak mengenal libur.

Tags

Mengganti Sendiri Kunci Immobilizer Honda Mobilio yang Rusak/Pecah

Kedua kunci mobil kendaraan yang saya pakai beberapa waktu lalu dalam kondisi yang kurang beruntung. Salah satu kunci sudah dalam keadaan cukup parah, sehingga ketika pemakaian harus cukup berhati-hati. Kunci cadangan juga ada, dan dalam kondisi yang agak mendingan.

Saya baca-baca, sepertinya banyak yang mengalami kasus serupa. Memang sih, kali pertama saya gunakan, kunci memang sudah dalam kondisi yang tidak sempurna, karena saya beli mobil second-hand. Kunci cadangan saat itu hitungannya juga masih dalam kondisi baik.

Karena pemakaian, dan kadang juga dalam kondisi masuk kantong, atau tidak sengaja agak diduduki, dan lain sebagainya, jadilah makin rusak parah.

Penggantian

Saya sempat tanya ke beberapa tukang kunci untuk penggantian semacam ini bagaimana. Tapi, harganya sangat mahal. Mungkin dikiranya sampai saya ganti penuh, padahal sebenarnya lebih ke masalah casing-nya saja. Saya coba cari informasi di internet, ternyata solusi versi murah ada juga. Jadi, saya memilih cara yang lebih murah saja saat ini. Jadi, karena hanya soal penggantian sisi luar, bukan bagian “chip”-nya, ada dua opsi:

  1. Beli casing saja, pasang kunci lama ke casing
  2. Beli casing dan badan kunci (logam), lalu bawa ke tukang kunci untuk duplikat

Untuk belinya, ada cukup banyak di situs niaga-el seperti Shopee atau Tokopedia. Harga juga bervariasi. Mulai dari yang paling murah sekitar Rp20.000,- sampai sekitar Rp100.000,- tergantung bahan juga.

Saya ambil opsi pertama, karena cukup praktis. Cukup buka kunci dengan obeng plus yang kecil, pindahkan seluruh bagian di kunci lama ke casing baru, selesai. Opsi kedua sebenarnya juga menarik, tapi saya tidak tahu harga duplikat ke tukang kunci. Karena ini duplikat kunci mobil, siapa tahu harga jadi lebih mahal (walaupun semua bahan dari kita sendiri). Opsi kedua — walaupun ini mungkin saja hasilnya malah lebih awet — secara harga mungkin jadi sedikit lebih mahal. Plus, harus pergi ke tukang kunci.

Saat ini, sepertinya dengan cara seperti ini sudah cukup.

Tags
, ,

Gerbang Tol Palimanan

Gerbang Tol Palimanan, pada tanggal 22 November 2020. Foto diambil dari arah Jakarta, dengan menggunakan ponsel Oppo F7.
Tags
, , , ,

iPad Menggantikan Laptop MacBook Pro (untuk Sementara)

Mulai hari Senin lalu, saya akhirnya akan mencoba untuk menggunakan iPad sebagai piranti utama saya untuk bekerja, menggantikan laptop MacBook Pro saya yang saat ini ada di service center karena kendala terkait baterai.

Jadi, MacBook saya yang sudah berumur tujuh tahun lebih tersebut tidak dapat diisi daya. Sebenarnya kejadian sudah agak lama. Terakhir, pengisian daya sudah sangat lambat, dan indikator baterai menampilkan tulisan “Service Recommended”. Puncaknya, ketika satu atau dua minggu lalu mati listrik, posisi baterai sudah benar-benar hampir habis.

Masih bisa saya hidupkan, tapi indikator baterai selalu dibawah 10%, dan tetap tidak mau diisi baterai. Saya sempat juga ganti charger, tapi tidak berhasil juga. Jadilah, akhir pekan lalu benar-benar laptop tidak bisa menyala.

Saya sempatkan cek riwayat service sebelumnya, kali terakhir melakukan penggantian baterai ternyata sudah sekitar empat tahun lalu. Karena memang saya butuh untuk laptop saya berfungsi normal, saya putuskan untuk melakukan penggantian baterai di salah satu gerai service produk Apple di Yogyakarta bagian utara. Ketika saya serahkan, saya minta untuk dilakukan pengecekan terlebih dahulu. Apakah ini murni karena butuh ganti baterai, atau ada sebab lain. Ya, mungkin bisa dimaklumi karena laptop tersebut sudah cukup berumur.

Apakah iPad sanggup menggantikan MacBook Pro?

iPad yang saya miliki sering saya gunakan untuk kegiatan bekerja, namun banyak fokus untuk mengetik, dan membalas surel. Untuk aktivitas menggunakan aplikasi di Google Workspace (Docs, Sheets, Calendar, Slides), Trello, Telegram, dan lainnya di peramnah, tidak ada masalah sama sekali. Untuk menggunakan aplikasi seperti Microsoft Word, Microsoft Excel, dan Powerpoint juga tidak ada masalah sama sekali.

Mungkin sedikit masalah ketika saya harus masuk ke text editor, atau aplikasi seperti Sequel Pro, dan aplikasi penyuntingan gambar yang walaupun sederhana, tapi tetap saya perlu gunakan. Oh ya, untuk aplikasi misalnya Microsoft Excel, di laptop saya cukup sering untuk membuka dua berkas sekaligus. Hal ini masih cukup mudah dilakukan di iPad, paling tidak saat ini.

Untuk rencana servis, diperkirakan mungkin bisa sampai dua minggu, tergantung nanti hasil pengecekan. Tapi, karena baterai juga harus pesan dulu, jadi paling cepat diperkirakan prosesnya satu minggu saja.

Ya, mari kita lihat seminggu ini.

Tags
, ,

‘iPad is disabled’ dan Instal Ulang

Sesampai di Jakarta pada hari Minggu lalu, saya baru menyadari bahwa ada masalah di iPad saya. Ketika saya buka, ada tulisan “iPad is disabled. Connect to iTunes”. Padahal, seingat saya terakhir kali, iPad tidak ada masalah sama sekali. Kali terakhir adalah malam sebelum saya berangkat ke Jakarta, saya tutup iPad saya bersama dengan Smart Keyboard Folio, lalu saya masukkan tas.

Barulah ketika saya sampai di Jakarta, dan sudah agak malam, saya baru membuka kembali iPad saya. Bukan saat yang tepat untuk mengalami masalah ini, apalagi saya sedang berada di Jakarta.

Penyebab

Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya, tapi kemungkinan besar adalah karena terlalu sering terjadi kesalahan passcode. Ini paling masuk akal, dan ada dua kemungkinan kenapa ada pengisian passcode yang salah dalam frekuensi yang banyak — kalau sampai 10 kali berturut-turut, memang iPad akan dalam kondisi disabled untuk alasan keamanan.

Pertama, bisa jadi karena anak saya sempat bermain dengan iPad. Jadi, tanpa sepengetahuan saya sempat memencet papan ketik dan memasukkan passcode yang salah sampai akhirnya iPad disabled. Kemungkinan kedua, bisa jadi karena selama di dalam tas, ada kondisi iPad yang ada dalam tas terguncang. Ya, karena saya memang mengendari mobil, dan tas berisi iPad tersebut saya letakkan di bagasi.

Intinya: iPad tidak bisa dipakai, dan sesegera mungkin masalah ini diatasi.

Terhubung ke iTunes?

Sebenarnya, menghubungkan perangkat seperti iPad atau iPhone ke MacBook yang saya miliki tidak ada masalah selama ini. Masalahnya saat ini adalah, iPad saya menggunakan konektor USB Type-C, sedangkan Macbook saya masih menggunakan USB biasa. Apalagi, sejak kali pertama saya beli, saya memang belum pernah mengkoneksikan iPad ke MacBook dengan kabel.

Saya sempat mencoba kemungkinan untuk pinjam kabel supaya iPad saya dapat terhubung ke MacBook. Tapi, ini juga bukan perkara mudah. Apalagi, selama ini tidak semua aksesories non-Apple bisa berjalan begitu saja. Beberapa teman menawarkan untuk meminjamkan kabel USB ke USB Type-C. Tapi, setelah saya pikir-pikir, sepertinya kecil kemungkinan untuk berhasil.

Dan, salah seorang teman saya juga bilang kalau solusinya ya memang cuma harus restore atau instal ulang. Pilihan saya jelas instal ulang, karena saya memang tidak pernah melakukan backup ke MacBook. Tapi, karena hampir semua berkas sudah tersinkronisasi ke beberapa layanan berbasis awan, jadi saya tidak terlalu khawatir.

Instal Ulang

Saya segera cari dimana lokasi saya bisa melakukan instal ulang iPad saya keeseokan harinya, sepagi mungkin. Saya lihat opsinya ada di Plaza Indonesia atau Grand Indonesia.

Senin pagi, akhirnya saya meluncur ke Plaza Indonesia terlebih dahulu. Setelah memarkir kendaraan di basement, saya menuju ke pintu masuk dari arah tempat parkir. Saat itu waktu menunjukkan pukul 10 pagi, lebih sedikit. Saya pikir sudah buka. Ternyata, satpam bilang belum buka kalau mau ke salah satu service center yang saya sebutkan. Saya diminta datang saja nanti pukul 11.00 WIB. Duh!

Saya coba ke Grand Indonesia, dan hasilnya kurang lebih sama. Karena tidak banyak lokasi lain yang saya ketahui, akhirnya saya putuskan ke Ratu Plaza. Kali terakhir ke sana dulu untuk urusan servis MacBook. Jadi siapa tahu disana sudah buka.

Sekitar 10.30 WIB, saya sampai sana. Gerai servis yang saya ingin tuju ternyata belum buka. Saya lihat dari luar sepertinya masih bersiap, dan memang tertulis baru buka pukul 11.00 WIB. Ada juga gerai servis produk Apple yang lain, tapi namanya bagi saya kurang familiar. Tapi, dari secara tampilan sangat meyakinkan. Dan, yang paling penting adalah gerai tersebut sudah buka!

Jadilah saya putuskan ke gerai tersebut. Saya langsung sampaikan apa mau saya, dan untuk dapat diproses instal ulang saja. Setelah pencatatan pemesanan layanan, saya diinfokan mungkin sekitar 30-45 menit saja. Bisa ditunggu, atau ditinggal kalau sudah selesai saya akan dikabari.

Saya memilih untuk berjalan-jalan saja sebentar di area Ratu Plaza. Tidak banyak yang bisa dilihat, tapi ya daripada saya hanya menunggu saja. Benar saja, sekitar 30 menit setelahnya saya dihubungi oleh gerai tersebut, yang menginfokan kalau proses telah selesai dan iPad dapat diambil. Oh ya, untuk biayanya sebesar Rp150.000,-. Harga yang oke juga menurut saya.

Masih di lokasi gerai tersebut, saya juga menumpang untuk mengunduh aplikasi-aplikasi yang saya butuhkan di iPad saya tersebut. Beruntung, koneksi yang ada di sana cukup kencang, jadi hanya beberapa menit saja saya mengunduh aplikasi yang sebelumnya ada di iPad saya. Setelah saya rasa cukup, akhirnya saya kembali ke tempat saya menginap, melewati Jalan Sudirman menjelang jam makan siang.

Tags
, , ,

Saldo Maksimal Mandiri e-money

Setelah sekian lama, akhirnya saya melakukan pengisian kartu mandiri e-money yang saya miliki untuk pembayaran tol perjalanan saya ke Jakarta. Pengisian saya lakuan di Indomaret, karena saat akan melakukannya di Alfamart tidak bisa — bahkan saat itu kalau tidak salah infonya karena di Alfamart sudah tidak bisa lagi. Ketika mengisi nominal Rp1.000.000,- ternyata transaksi beberapa kali gagal. Informasinya, katanya saldo maksimal adalah Rp1.000.000,- — sedangkan saat itu di kartu saya memang masih ada sekitar Rp200.000,-. Tapi, di situs mandiri e-money, saldo maksimal yang bisa tersimpan adalah Rp2.000.000,-

Tags
, , , , , , , ,

Perjalanan Ke Luar Kota Dengan Kendaraan Pribadi di Masa Pandemi. Kenapa Tidak Naik Pesawat?

Ketika beberapa waktu lalu ada sebuah urusan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan secara jarak jauh di Jakarta, akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri acara terkait pekerjaan di Jakarta pada pertengahan November 2020 lalu. Dan, dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Jakarta dengan kendaraan pribadi, sendiri tanpa teman/supir pengganti.

Mengapa tidak naik pesawat atau kereta saja? Bukankah lebih praktis (dan lebih murah)?

Beruntung, saya tinggal di Yogyakarta, dan rute tujuan perjalanan saya semua masih ada di pulau yang sama, punya beberapa pilihan moda transportasi. Sempat memang terpikir untuk memilih antara pesawat, atau bahkan kereta api. Dua moda transportasi yang paling saya sering gunakan kalau bepergian dari Yogyakarta ke Jakarta (dan sebaliknya).

Barang Bawaan

Perjalanan kemarin, saya berencana akan ada di Jakarta selama sekitar lima hari. Artinya, bawaan saya jelas akan jauh lebih banyak — soal baju saja sudah pasti jumlah jauh berbeda karena selama masa pandemi jadi lebih sering ganti baju. Belum lagi bawaan selain baju seperti laptop yang biasanya saya bawa dalam tas punggung saya.

Dengan banyaknya barang bawaan, otomatis akan berpengaruh terhadap cara mobilitas saya. Saya sempat membayangkan bagaimana bawaan saya harus berpisah sementara ketika saya menggunakan pesawat terbang. Membawa cukup banyak barang bawaan ketika ke Stasiun Tugu atau meninggalkan Stasiun Gambir, sudah terbayang repotnya.

Kalau saya naik pesawat, jelas koper saya harus masuk bagasi — apalagi saya akhirnya membawa dua buah koper dalam ukuran medium. Dan, mungkin bisa jadi saya over baggage.

Soal barang bawaan, kali ini pertimbangan saya adalah saya tidak mau terlalu repot membawa, dan saya mengusahakan sebisa mungkin saya berpisah dengan barang bawaan saya.

Jarak, Maskapai, dan Pilihan Waktu Perjalanan

Kalau saya naik pesawat, berarti saya harus terbang melalui Yogyakarta International Airport (YIA), yang jaraknya jauh dari rumah saya. Menurut Google Maps, lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Dan, saya harus berangkat menggunakan GrabCar/GoCar dengan biaya mungkin sekitar Rp200.000,-. Padahal, pengalaman terakhir saya menggunakan GrabCar bulan lalu tidak terlalu menyenangkan.

Kalau mau yang lebih murah, saya bisa menggunakan Damri yang lokasi keberangkatan dari salah satu mal di Sleman, tidak terlalu jauh dari rumah. Dan, dari rumah saya tetap harus menggunakan GrabCar atau GoCar.

Untuk ke Jakarta, saya juga perlu untuk memilih maskapai apa yang perlu saya gunakan. Pilihan saya sempitkan kepada dua maskapai: Citilink Indonesia dan Garuda Indonesia. Dan, saya tidak terlalu nyaman dengan jadwal penerbangan yang ada. Apalagi, tidak semua jadwal memberlakukan seat distancing dalam pengaturan kursinya.

Belum lagi bahwa saya harus berada di bandara jauh lebih awal. Ditambah dengan jauhnya jarak ke bandara YIA, paling tidak mungkin saya harus berangkat empat jam lebih awal. Misal saya ambil perjalanan pukul 14.40 WIB, mungkin sekitar pukul 11.00 WIB saya sudah harus meninggalkan rumah. Bahkan, bisa lebih awal kalau saya menggunakan Damri, karena saya tidak dapat memastikan jam berapa Damri akan berangkat.

Kalau saya sudah mendarat di Jakarta, berarti saya masih harus berurusan dengan pengambilan bagasi, keluar bandara, mencari transportasi ke arah Jakarta. Yang, biasanya ini juga memakan waktu yang tidak sedikit.

Soal kereta, sepertinya saya sudah tidak terlalu jadikan opsi sejak awal.

Yang pasti, dari semua pilihan yang ada, saya harus menyesuaikan jadwal. Belum lagi terkait dengan kebutuhan bahwa saya harus membawa dokumen hasil pemeriksaan (rapid test).

Dengan segala pertimbangan ini, perjalanan dengan kendaraan pribadi jadi makin masuk akal. Nah, “masalahnya” adalah: saya belum pernah sekalipun ke Jakarta naik mobil sendirian.

Persiapan dan Biaya

Selain meyakinkan diri sendiri bahwa naik kendaraan pribadi adalah pilihan terbaik, saya juga harus memastikan bahwa perjalanan saya akan aman, kendaraan yang saya gunakan juga dalam kondisi baik. Beruntung, baru sekitar tiga bulan lalu, saya mengganti ban depan mobil saya. Pertengahan Oktober lalu, kendaraan juga melakukan servis berkala. Dan, karena menggunakan kendaran sendiri, jadi mungkin sudah lebih ‘mengenal’ kendaraan ini seperti apa.

Soal rute, saya sempat tanya ke beberapa rekan dan saudara saya. Intinya: lewat tol saja, aman, cepat, dan seharusnya penunjuk jalan pasti jelas. Kalau sudah masuk ke Jakarta, apalagi saya akan melewati rute yang cukup familiar, harusnya tidak masalah sama sekali.

Mengenai biaya, untuk perjalanan dari Yogyakarta dan Jakarta kemarin saya habis sekitar Rp800.000,- untuk tol dan bahan bakar kendaraan saya (Mobilio). Di rest area saya tidak mengeluarkan biaya apapun, karena untuk makanan kebetualan saya sudah membawa bekal yang cukup lengkap, termasuk makanan kecil dan minuman. Biaya ini jumlahnya mungkin cukup besar, apalagi saya cuma perjalanan seorang diri. Jika mungkin berbarengan dua atau tiga orang, pastinya akan jauh lebih hemat.

Namun, jika dihitung saya menggunakan pesawat terbang ke Jakarta, apalagi hari Minggu, kurang lebih biaya untuk perbandingan adalah sebagai berikut:

Kalau ditotal, sekitar Rp1.180.000,-. Jadi, dengan kendaraan pribadi masih bisa sedikit lebih murah. Apakah cukup melelahkan perjalanan? Yang saya rasakan sih tidak begitu melelahkan. Karena justru bisa lebih fleksibel untuk istirahat.

Tags
, , ,

Perjalanan ke Jakarta dari Yogyakarta Menggunakan Kendaraan Pribadi Melalui Tol Trans Jawa

Puji Tuhan, perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta menggunakan kendaraan pribadi hari Minggu yang lalu berjalan dengan lancar. Untuk pertama kali, dengan menggunakan kendaraan pribadi saya merasakan perjalanan melalui tol.

Tarif Tol Yogyakarta – Jakarta

Saya masuk ke tol melalui Boyolali dan keluar di Cikampek, lalu masuk ke tol dalam kota dan keluar di Tomang. Bersyukur, sepanjang perjalanan, seluruh proses pembayaran dengan e-money berhasil dengan baik, tanpa kendala apapun.

Pintu masuk Tol Boyolali

Cuma, bukti pembayaran tidak bisa saya dapatkan semuanya. Karena kadang tidak muncul langsung — atau memang tidak ada — dan daripada terlalu menunggu sementara sering di belakang saya ada antrian kendaraan lain.

Kalau merujuk ke situs Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) di bpjt.pu.go.id/tarif, tarif dari Yogyakarta ke Jakarta, masuk melalui pintu masuk Boyolali adalah Rp431.000

Restarea

Karena perjalanan kali ini saya tidak ada keharusan datang dengan segera, apalagi perjalanan juga hari Minggu, jadi saya tidak terlalu terburu-buru. Restarea yang ada di sepanjang jalan tol juga saya singgahi. Saya agak lupa berapa kali berhenti di restarea, tapi secara umum, kondisi restarea cukup baik dengan fasilitas yang baik pula.

Untuk setiap restarea, saya memutuskan untuk tidak keluar membeli makanan, karena sengaja saya sudah membawa bekal. Jadi sekadar untuk istirahat sebentar, berjalan-jalan sebentar.

Oh ya, untuk fasilitas umum, semua gratis. Secara umum gerai makanan, termasuk minimarket tersedia dengan lengkap. Jadi, kebutuhan istirahat dan juga makan jika diperlukan, dapat dengan mudah terfasilitasi di restarea yang tersedia. Untuk toilet juga tersedia cukup banyak, dengan kebersihan yang baik. Paling tidak, air terus mengalir. Untuk semua fasilitas umum seperti parkir dan toilet, tidak ada biaya sama sekali.

Bahan Bakar Kendaraan

Honda Mobilio dengan transmisi otomatis yang saya gunakan saya isi penuh dengan Pertalite dan dari Yogyakarta. Baru saya isi kembali ketika akan memasuki Jakarta dalam kondisi penanda bahan bakar sudah tersisa dua strip. Saya tidak tahu persisnya habis berapa, tapi sekitar full tank lebih sedikit. Mungkin tambahannya sekitar Rp80.000-an. Selama perjalanan juga, puji Tuhan kendaraan tidak ada masalah.

Kebutuhan bahan bakar ini dengan kondisi saya memang tidak mecu kendaraan saya selalu dengan kecepatan tinggi. Rata-rata saya hanya memacu kendaraan di kecepatan antara 100-120 km/jam. Ya, walaupun sesekali di kondisi tertentu karena jalanan sepi saya sempat melaju dengan kecepatan 140 km/jam selama beberapa menit.

Sampai di Jakarta

Saya sampai di tujuan akhir saya di daerah Jakarta Pusat sekitar pukul 14.30 WIB. Memang kalau dari hitungan jam berangkat, terasa perjalanan sangat panjang. Namun, hal ini karena saya memang sering berhenti di rest area untuk sejenak beristirahat, dan juga karena saya jalan agak santai.

Tapi, secara keseluruhan untuk perjalanan pertama kali ke Jakarta menggunakan kendaraan pribadi, sendiri tanpa ada pengemudi/teman yang menggantikan bawa kendaraan, perjalanan kemarin cukup menyenangkan.

Tags
, ,

Jakarta Lagi

Setelah delapan bulan lebih tidak bepergian ke luar kota, baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan, kembali perlu untuk melakukan perjalanan. Kali ini, jika tidak ada halangan perjalanan akan ke Jakarta.

Setelah menimbang begitu banyak hal terkait perjalanan terutama di masa pandemi ini, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan pribadi ke Jakarta. Tentu, menggunakan pesawat menjadi pertimbangan sejak awal. Kali ini, tak selalu segala hal bisa dikerjakan jarak jauh.

Tags
, ,

Menengok Protokol Kesehatan COVID-19 di Prime Plaza Hotel Jogjakarta

Selama pandemi, salah satu tempat publik (tertutup) yang sering saya kunjungi adalah supermarket untuk keperluan berlanja, baik yang lokasinya berdiri sendiri atau menjadi satu dengan area lain seperti yang ada di dalam mall.

Khusus untuk area seperti hotel, saya hampir tidak pernah mengunjungi. Apalagi selama pandemi ini saya juga tidak pernah melakukan perjalanan ke luar kota, yang mengharuskan saya harus menginap di hotel. Setelah berbulan, dengan berbagai perkembangan, pelaku bisnis sudah banyak melakukan adaptasi kebiasan baru — saya lebih suka istilah “kebiasaan baru” dibandingkan dengan new normal sebenarnya.

Hotel sebagai salah satu komponen penting dalam dunia pariwisata juga melakukan adaptasi. Tentu, ini tidak mudah, tapi kalau tidak beradaptasi, mau jadi apa?

Karena sebuah keperluan, beberapa hari lalu saya mengunjungi Prime Plaza Hotel Jogjakarta, sebuah hotel bintang 4 yang ada di Jl. Affandi. Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya menginap di tempat ini. Dan, kunjungan terakhir saya kesana kalau tidak salah tahun lalu, sebelum pandemi untuk sebuah acara yang saat itu hanya memakai lokasi resto saja.

Walaupun tidak sampai menginap, tapi karena kunjungan kemarin saya jadi sedikit menyempatkan untuk melihat bagaimana protokol kesehatan berjalan di hotel ini.

Ketika memasuki area pintu masuk utama, langsung disambut dengan informasi yang terpampang cukup jelas mengenai beberapa protokol kesehatan yang perlu ditaati oleh setiap penunjung. Ada juga automatic dispenser hand sanitizer, yang bisa digunakan secara contactless. Terakhir, ada QR Code yang perlu dipindai yang setelah saya coba, isinya adalah tautan untuk mengisi beberapa data terkait kedatangan.

Hal ini untuk mempermudah perncatatan siapa saja yang masuk ke area hotel, yang tentu saja akan nantinya bermanfaat untuk melakukan contact tracing jika diperlukan. Walaupun, semoga saja tidak perlu ada contact tracing ya… Persis sebelum masuk pintu, ada screening pengecekan suhu tubuh.

Oh ya, kenapa tidak ada tempat cuci tangan secara langsung, ya hal semacam ini selain memenuhi protokol juga secara estetika lebih baik.

Setelah melewati pintu masuk utama lalu belok ke kanan, ada lokasi resepsionis. Selain ada cairan pembersih tangan, alat tulis yang akan digunakan oleh tamu sudah dipisahkan antara yang bersih dan yang yang telah dipakai. Jadi langsung dipisahkan. Jadi, setiap alat tulis yang dipakai otomatis memang selalu dibersihkan. Ini cocok karena alat tulis, selama pengalaman saya check-in di hotel merupakan salah satu benda yang paling sering dipakai bergantian.

Masih di area resepsionis, ada informasi lain bagi tamu terkait beberapa persyaratan/protokol bepergian dengan menggunakan transportasi publik. Selain itu, ada lagi juga QR Code lain yang ternyata isinya mengarahkan ke laman untuk mengisi informasi riwayat perjalanan oleh tamu yang akan menginap. Sedikit berbeda dengan yang ada di pintu masuk, karena ketika sudah di resepsionis, besar kemungkinan yang adalah tamu yang menginap. Jadi, formulir ini lebih spesifik untuk tamu menginap.

Sofa tempat duduk yang ada di area lobi juga diubah pengaturannya, sehingga konsep social distancing atau jaga jarak bisa lebih mudah terpenuhi.

Walaupun posisi sudah berjauhan, tapi pengaturan supaya yang duduk tidak berhadapan layak untuk diapresiasi
Pengaturan jaga jarak untuk area sofa yang ukuran lebih besar.

Secara umum, walaupun memang cuma sebentar, bahkan tidak sampai melihat-lihat jauh ke area dalam seperti kolam renang, area gym, dan fasilitas lain, tapi saya cukup nyaman berada disana. Suasana berbeda mungkin bisa terjadi kalau tamu penuh. Tapi, menurut saya hotel merupakan salah satu tempat dimana layanan menjadi yang utama. Jadi, pengaturan dan protokol pasti akan sebaik dan sebisa mungkin untuk dilaksanakan.

Catatan

Walaupun secara umum saya merasa nyaman dan aman ketika berada di sana, ada beberapa detil kecil yang menurut saya pribadi mungkin bisa menjadi catatan. Tentu, ini pendapat pribadi saja.

  1. Informasi jika ditampilkan dengan bahasa Indonesia mungkin akan lebih mudah dipahami oleh pengunjung. Faktanya, dalam kondisi saat ini mungkin pengunung atau tamu hotel mayoritas merupakan tamu lokal/domestik. Atau jika memang harus dua bahasa, terjemahan dalam Bahasa Inggris tetap bisa ditampilkan, tapi bahasa Indonesia tetap yang utama.
  2. Karena saya memang benar-benar hanya berada di seputar area lobby, jadi yang saya lihat memang tidak banyak seperti bagaimana tempat publik seperti di kolam renang, atau pusat kebugaran, termasuk apakah ada perubahan atau tidak tentang kondisi kamar. Tapi, melihat dari bagaimana semuanya terlihat di area depan, sepertinya standar protokol kebersihan jelas menjadi perhatian khusus.

Video protokol keamanan dan standar kesehatan bisa juga diliaht melalui video di bawah ini. Dalam video ini juga terlihat kalau untuk sterilisasi kamar juga menggunakan lampu UV-C.

Kontak dan Lokasi

Karena berada di tengah kota dan di salah satu jalan utama di Jogjakarta, hotel ini dapat dengan mudah ditemukan. Akses masuk kendaraan juga sangat mudah.

Prime Plaza Hotel Jogjakarta
Kompleks Colombo, Jl. Affandi, Gejayan, Mrican, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
Telepon: 0274 584 222
Pemesanan: 0817 9575 292 atau surel [email protected]
Website: jogja.pphotels.com
Instagram: @primeplazahoteljogjakarta

Tags

Romantisme Becak

Kalau harus menyebutkan pemandangan apa yang “mengganggu”, jawaban saya salah satunya adalah becak, ya tentu saja dengan tukang becaknya. Sebagai orang yang tinggal di Yogyakarta sejak kecil, melewati perjalanan keseharian sejak kecil dengan kemewahan bisa mengalami banyak hal sederhana tapi manis, becak bagi saya memiliki tempat tersendiri.

Tempat yang istimewa. Manis.

Lahiran Diantar Becak

Dulu waktu kecil, saya sempat mendengar bahwa proses kelahiran saya juga tidak lepas dari peran becak. Karena, ternyata untuk ke bidan tempat saya lahir, almarhum ibu saya datang ke bidan/klinik dengan menggunakan becak. Begitu juga pulangnya. Saya hanya rekam saja cerita itu.

Sampai saya tumbuh lebih besar, dan ketika ada dalam periode saya tinggal di rumah eyang — dimana saya dulu menghabiskan masa kecil saya — saya mendapati beberapa tukang becak yang cukup akrab dengan keluarga. Dan, tukang becak itu jadi langganan pula untuk eyang saya. Ada beberapa yang secara usia waktu saya mengenalnya mungkin seusia almarhum bapak.

Saya suka mengobrol, dan sampai ada satu topik obrolan yang membahas bagaimana Pak Yatin — sebut saja namanya demikian — mengantarkan almarhum ibu saya untuk melahirkan saya. Termasuk, ketika mengantar saya pulang.

Kula rumiyin sing ngeterke ibune njenengan pas lahirane njenengan, (Saya dulu yang mengantarkan ibumu ketika melahirkan kamu)” katanya. Bermula dari ini, dalam kesempatan berbeda, fakta ini akhirnya memicu obrolan, rahasia-rahasia kecil, dan tentu saja cerita yang tidak pernah diungkapkan. Karena, ibu saya meninggal ketika saya SMP kelas 3.

Dan, ceritanya begitu banyak. Bahkan, cerita tentang bagaimaan saya pulang dari dokter, diantar becak, masih diceritakan dengan cukup jelas. Puji Tuhan, banyak hal baik yang diceritakan.

Karena Pedal Harus Terus Bergerak

Bagi orang asli Yogyakarta dimana becak sudah menjadi pemandangan sehari-hari, mungkin moda/jasa ini sangat jarang dilirik. Soal kecepatan, jelas kalah. Soal kenyamanan, juga kurang bisa bersaing dengan moda transportasi lain. Soal harga, sesuai kesepakatan. Jangan tanyakan soal jarak tempuh, jelas sangat terbatas.

Saya sendiri kadang mengusahakan untuk tetap ‘berinteraksi’ dengan becak ini. Misal, kalau saya ke pasar dari rumah eyang, walaupun jalan kaki hanya 10 menit saja, saya usahakan akan pakai becak, tentu saja kalau tukang becak sedang tidak narik dan ada di ujung gang keluar rumah.

Atau, secara acak kadang kalau misal ingin makan, saya pilih naik becak, dan mengajak makan tukang becaknya.

Kalau ada sekiranya yang bisa membuat pedal tukang becak terus berputar, saya akan lakukan. Entah di Yogyakarta, atau juga misal sewaktu ke Solo.Dan yang paling penting sebenarnya adalah ada sebuah perasaan senang yang sudah terdeskripsikan. That happy feeling because you do something good.

Dan, mungkin salah satu pantangan saya adalah saya pantang untuk nawar. Dan, mungkin yang paling sulit adalah ketika tukang becak tidak menentukan harga. Tapi, karena sudah cukup sering menggunakan jasa becak, jadi sediit banyak sudah tahu perkiraan tarifnya. Menurut saya, daripada nawar yang jadinya terlalu murah/rendah, lebih baik sejak awal tidak usah merencanakan naik becaknya. Ya, menurut saya seperti itu.

Dan, Sekarang Masa Pandemi COVID-19

Melihat cukup banyak becak yang berhenti di pinggir jalan saat pandemi saat ini, rasanya menyesakkan. Jangankan pandemi, kehadiran moda transportasi lain saja sudah memporakporandakan keseharian dalam mencari rejeki. Apalagi sekarang.

Romantisme yang sudah saya lewatkan puluhan tahun dengan becak (dan tukang becaknya), membuat kondisi saat ini menjadi lebih sentimentil. Yang pasti… sedih.

Beberapa kali ketika saya mengunjungi rumah tempat eyang saya, saya masih melihat tukang becak langganan keluarga kami. Ada sedikit pemandangan berbeda, becak yang menunggu penumpang makin banyak, semua tak bergerak.

I hate this kind of view. I don’t like this kind of feeling.

Puji Tuhan diberikan berkat untuk bisa berbagi, walaupun tidak banyak, tapi semoga bisa sedikit membantu. “Matur nuwun sanget… (Terima kasih sekali…),” yang terucap ketika memberikan sedikit berkat di saat ini begitu berbeda, begitu berat.

Bless them!

Tags
, ,

Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Merapi

Sejak perubahan status Gunung Merapi menjadi Siaga (Level III) minggu lalu, kalau dari tempat tinggal saya masih terlihat aman saja. Saya secara acak juga mengecek live streaming Gunung Merapi juga masih terpantau tidak ada yang mengkhawatirkan. Semoga tidak.

Namun, ini karena mungkin area tempat tinggal saya masih masuk dalam jarak yang cukup aman. Dari informasi warga di perumahan, di tahun 2010 lalu, memang kawasan perumahan tempat tinggal terkena dampak dari abu vulkanik, walaupun tidak parah. Saat ini sudah ada beberapa diskusi singkat yang menyarankan sebaiknya juga bersiap untuk bahan seperti plasti untuk menutup lobang angin atau ventilasi udara biar aman.

“Kebetulan”, tempat tinggal saya memang menghadap ke arah utara, ke arah Gunung Merapi. Jadi kalau angin berhembus dari arah utara (ke arah selatan), memang sudah pasti akan melewati kawasan perumahan.

Pagi ini, ada informasi mengenai Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Merapi. Dari laman peta, informasi tentang peta KRB ini adalah sebagai berikut:

Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Merapi, zona terlarang saat ini dan prakiraan area landaan awan panas dalam status Siaga (Level III) sejak diberlakukan pada 5 November 2020. Dapat dibuka dengan aplikasi pemetaan seperti Google Maps. Aktifkan GPS di gawai pintar anda untuk mengetahui posisinya terhadap kawasan rawan bencana Gunung Merapi.

Sumber peta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia.

Narasi oleh Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM).

Sumber: Deskripsi Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Merapi.
Tags
, , ,

Mampir ke Ledok Sambi

Pemandangan kawasan Ledok Sambi dari daerah pintu masuk utama. Tali di atas adalah untuk flying fox. Harga untuk wahana flying fox adalah Rp20.000 (November 2020)

Akhir pekan ini, lagi-lagi tanpa begitu banyak rencana saya, istri, dan si bocah memutuskan untuk ke Ledok Sambi, sebuah kawasan wisata alam yang ada di daerah Jogja utara — di daerah Sleman. Sebenarnya sudah cukup lama melihat dan tahu lokasi ini, namun baru kali ini mengunjungi tempat tersebut.

Apalagi, sebenarnya lokasinya cukup dekat dengan rumah. Kalau dihitung jarak, mungkin sekitar 12km saja kalau menurut Google Maps. Jadi, hanya sekitar setengah jarak perjalanan ke Telogo Putri, Kaliurang.

Akses Menuju Ledok Sambi

Kawasan ini memang tidak persis terletak di pinggir jalan. Jalan masuk agak melewati daerah perkampungan/pedesaan. Beruntung, untuk kendaraan roda empat tidak ada masalah — dan sepertinya minibus juga bisa. Kami berangkat memang tidak terlalu pagi, sekitar 09.30 WIB kami sampai lokasi. Beruntung cuaca cerah, yang artinya memang agak panas.

Sepanjang perjalanan, lalu lintas cukup lancar. Tidak terlalu ramai. Mungkin, karena minggu lalu sudah puncaknya liburan. Kalau dari arah Yogyakarta, jalan masuk ada di sebelah sisi kanan (timur jalan). Ada papan besar bertuliskan DESA WISATA SAMBI. Dan tulisan penunjuk “Ledok Sambi” terlihat jelas juga.

Ikuti saja arah penunjuk yang sudah cukup jelas. Dan, perjalanan akan berakhir di area parkir yang cukup luas. Cukup banyak petugas pemandu yang mengarahkan, jadi seharusnya tidak perlu khawatir akan tersesat. Kalau mengandalkan Google Maps, lokasinya memang mengarah ke pinggir jalan besar. Jadi, perhatikan saja papan penunjuk jalan.

Menikmati Ledok Sambi

Saya tidak tahu saat itu Ledok Sambi memang ramai atau tidak, tapi pagi itu masih terasa cukup nyaman. Protokol kesehatan seperti anjuran selalu memakai masker, cek suhu tubuh, dan tempat cuci tangan beserta sabun juga tersedia. Jadi, lokasinya seperti hamparan taman alam yang luas, dengan ada aliran sungai yang membelah kawasan tersebut. Debit air saat itu tidak terlalu deras, jadi sangat nyaman dan aman untuk bermain.

Untuk social distancing, juga masih ideal untuk dilakukan. Ada area untuk memesan makanan juga yang menyajikan menu cukup lengkap untuk minuman, snack, bahkan makanan besar seperti nasi sayur. Untuk harga juga masih sangat wajar. Misalnya untuk segelas teh panas, harga hanya Rp4.000,- saja. Pembayaran juga mudah, karena bisa non-tunai menggunakan e-wallet yang dimiliki. Beruntung, pembayaran sudah mendukung QRIS.

Setelah berjalan-jalan sejenak, kami memutuskan untuk ke area yang cukup sepi dan teduh, dekat dengan camping ground. Rumput yang sangat terawat, jadi sangat nyaman. Kami akhirnya sempat juga memesanan minuman dan makanan kecil.

Catatan

Berikut beberapa hal yang mungkin bermanfaat untuk diketahui terlebih dahulu jika ingin mengunjungi Ledok Sambi berdasarkan pengalaman saya.

  1. Ikuti protokol kesehatan yang dianjurkan, pakai masker, tetap jaga jarak, dan jaga satu sama lain.
  2. Jaga kebersihan. Lalu, jaga kebersihan. Terakhir, jaga kebersihan. Banyak tempat sampah yang tersedia di sana.
  3. Tidak ada biaya/tiket masuk. Kontribusi sifatnya juga sukarela.
  4. Buka setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB.
  5. Untuk parkir kendaraan, diberlakukan tarif untuk mobil Rp5.000,- dan motor Rp3.000. Harga yang sangat wajar. Pengelolaan juga resmi, tidak perlu khawatir.
  6. Karena kawasan ini berada di dataran yang lebih rendah, dari tempat parkir perlu berjalan meniti jalanan yang agak curam. Walaupun demikian, masih cukup aman karena ada pegangan dan pengaman. Berjalan tanpa berpeganan juga tidak masalah. Mungkin perlu berhati-hati ketika hujan atau kondisi basah, dan sambil menggandeng atau menggendong anak kecil. Dan, hanya ada satu jalan masuk/keluar. Jadi, berpapasan dengan pengunjung lain tidak bisa dihindari. Jalan cukup lebar untuk berpapasan.
  7. Area food court menyajikan pilihan makanan yang cukup lengkap. Dan, pelayanan saya rasa cukup cepat, tapi mungkin tergantung dengan pilihan menu ya. Tapi, saya rasa harusnya cukup cepat, karena yang disajikan juga tidak terlalu rumit proses memasaknya.

Alamat dan Info Lokasi

Ledok Sambi
Jl. Kaliurang KM 19, Pakembinangun, Kec. Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55582 (Google Maps)
Website: ledoksambi.net
Instagram: @ledoksambi
Kontak: Yetti 0819 0426 2581 / Dini 0813 9232 2529

Tags

Jadi, Berapa Harga Tanaman Hias?

Saya sebenarnya termasuk sangat jarang membeli tanaman hias. Karena, memang bukan hobi (untuk membelinya). Hobi saya lebih kepada merawat, dan memfungsikan tanaman sebagai bagian dari dekorasi. Tidak harus spesifik tanaman hias, yang penting ada tanaman.

Saya masih ingat betul, ketika untuk kali pertama mengunjungi rumah yang akan kami beli dulu, hampir 100% area depan tidak ada tanaman. Ada sih, satu pohon cukup besar di depan rumah. Tapi, pohon itu memang ditanam sebagai bagian dari penghijauan di kawasan depan rumah oleh pengembang perumahan.

Salah satu pojok tanaman di rumah.

Jadi, saya juga tidak terlalu mengikuti perkembangan jenis tanaman yang sedang populer, atau harga di pasaran. Tak jarang karena tanaman di rumah terlalu banyak, jadi saya kurangi dengan memberikan kepada tamu yang berkunjung, atau bahkan saya buang begitu saja. Ya, akhirnya kadang baru tahu belakangan ternyata harga tanaman yang saya buang atau berikan ternyata lumyan.

Kemarin, saya sempat mempir ke salah satu tempat penjual tanaman hias. Ada beberapa penjual di sana, tapi saya punya satu penjual yang dulu sering saya kunjungi kalau membeli media tanam.

Singkatnya, saya tanya berapa harga beberapa tanaman. Ya, sekadar ingin tahu saja. Ya beginilah repotnya kalau ke tempat dimana harta tidak tercantum pada produk. Kalau tidak tahu, ya bisa saja dapat harga lebih tinggi. Beberapa tanaman lain saya sempat lihat harga di internet, dan tidak selisih jauh dengan yang dijual. Mungkin tidak sampai Rp5.000.

Ketika saya berpindah ke kios sebelah, saya juga tanya untuk harga tanaman yang sama — karena saya sudah tanya nama tanamannya apa. Ternyata, di kios ini, harga tanaman ditawarkan ke saya hampir 4x lipat. Waduh!

Walaupun tidak langsung lari menyelamatkan diri, tapi sepertinya saat sekarang banyak permintaan tentang tanaman, memang lebih baik mencari tahu dulu.