Perjalanan Ke Luar Kota Dengan Kendaraan Pribadi di Masa Pandemi. Kenapa Tidak Naik Pesawat?

Ketika beberapa waktu lalu ada sebuah urusan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan secara jarak jauh di Jakarta, akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri acara terkait pekerjaan di Jakarta pada pertengahan November 2020 lalu. Dan, dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Jakarta dengan kendaraan pribadi, sendiri tanpa teman/supir pengganti.

Mengapa tidak naik pesawat atau kereta saja? Bukankah lebih praktis (dan lebih murah)?

Beruntung, saya tinggal di Yogyakarta, dan rute tujuan perjalanan saya semua masih ada di pulau yang sama, punya beberapa pilihan moda transportasi. Sempat memang terpikir untuk memilih antara pesawat, atau bahkan kereta api. Dua moda transportasi yang paling saya sering gunakan kalau bepergian dari Yogyakarta ke Jakarta (dan sebaliknya).

Barang Bawaan

Perjalanan kemarin, saya berencana akan ada di Jakarta selama sekitar lima hari. Artinya, bawaan saya jelas akan jauh lebih banyak — soal baju saja sudah pasti jumlah jauh berbeda karena selama masa pandemi jadi lebih sering ganti baju. Belum lagi bawaan selain baju seperti laptop yang biasanya saya bawa dalam tas punggung saya.

Dengan banyaknya barang bawaan, otomatis akan berpengaruh terhadap cara mobilitas saya. Saya sempat membayangkan bagaimana bawaan saya harus berpisah sementara ketika saya menggunakan pesawat terbang. Membawa cukup banyak barang bawaan ketika ke Stasiun Tugu atau meninggalkan Stasiun Gambir, sudah terbayang repotnya.

Kalau saya naik pesawat, jelas koper saya harus masuk bagasi — apalagi saya akhirnya membawa dua buah koper dalam ukuran medium. Dan, mungkin bisa jadi saya over baggage.

Soal barang bawaan, kali ini pertimbangan saya adalah saya tidak mau terlalu repot membawa, dan saya mengusahakan sebisa mungkin saya berpisah dengan barang bawaan saya.

Jarak, Maskapai, dan Pilihan Waktu Perjalanan

Kalau saya naik pesawat, berarti saya harus terbang melalui Yogyakarta International Airport (YIA), yang jaraknya jauh dari rumah saya. Menurut Google Maps, lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Dan, saya harus berangkat menggunakan GrabCar/GoCar dengan biaya mungkin sekitar Rp200.000,-. Padahal, pengalaman terakhir saya menggunakan GrabCar bulan lalu tidak terlalu menyenangkan.

Kalau mau yang lebih murah, saya bisa menggunakan Damri yang lokasi keberangkatan dari salah satu mal di Sleman, tidak terlalu jauh dari rumah. Dan, dari rumah saya tetap harus menggunakan GrabCar atau GoCar.

Untuk ke Jakarta, saya juga perlu untuk memilih maskapai apa yang perlu saya gunakan. Pilihan saya sempitkan kepada dua maskapai: Citilink Indonesia dan Garuda Indonesia. Dan, saya tidak terlalu nyaman dengan jadwal penerbangan yang ada. Apalagi, tidak semua jadwal memberlakukan seat distancing dalam pengaturan kursinya.

Belum lagi bahwa saya harus berada di bandara jauh lebih awal. Ditambah dengan jauhnya jarak ke bandara YIA, paling tidak mungkin saya harus berangkat empat jam lebih awal. Misal saya ambil perjalanan pukul 14.40 WIB, mungkin sekitar pukul 11.00 WIB saya sudah harus meninggalkan rumah. Bahkan, bisa lebih awal kalau saya menggunakan Damri, karena saya tidak dapat memastikan jam berapa Damri akan berangkat.

Kalau saya sudah mendarat di Jakarta, berarti saya masih harus berurusan dengan pengambilan bagasi, keluar bandara, mencari transportasi ke arah Jakarta. Yang, biasanya ini juga memakan waktu yang tidak sedikit.

Soal kereta, sepertinya saya sudah tidak terlalu jadikan opsi sejak awal.

Yang pasti, dari semua pilihan yang ada, saya harus menyesuaikan jadwal. Belum lagi terkait dengan kebutuhan bahwa saya harus membawa dokumen hasil pemeriksaan (rapid test).

Dengan segala pertimbangan ini, perjalanan dengan kendaraan pribadi jadi makin masuk akal. Nah, “masalahnya” adalah: saya belum pernah sekalipun ke Jakarta naik mobil sendirian.

Persiapan dan Biaya

Selain meyakinkan diri sendiri bahwa naik kendaraan pribadi adalah pilihan terbaik, saya juga harus memastikan bahwa perjalanan saya akan aman, kendaraan yang saya gunakan juga dalam kondisi baik. Beruntung, baru sekitar tiga bulan lalu, saya mengganti ban depan mobil saya. Pertengahan Oktober lalu, kendaraan juga melakukan servis berkala. Dan, karena menggunakan kendaran sendiri, jadi mungkin sudah lebih ‘mengenal’ kendaraan ini seperti apa.

Soal rute, saya sempat tanya ke beberapa rekan dan saudara saya. Intinya: lewat tol saja, aman, cepat, dan seharusnya penunjuk jalan pasti jelas. Kalau sudah masuk ke Jakarta, apalagi saya akan melewati rute yang cukup familiar, harusnya tidak masalah sama sekali.

Mengenai biaya, untuk perjalanan dari Yogyakarta dan Jakarta kemarin saya habis sekitar Rp800.000,- untuk tol dan bahan bakar kendaraan saya (Mobilio). Di rest area saya tidak mengeluarkan biaya apapun, karena untuk makanan kebetualan saya sudah membawa bekal yang cukup lengkap, termasuk makanan kecil dan minuman. Biaya ini jumlahnya mungkin cukup besar, apalagi saya cuma perjalanan seorang diri. Jika mungkin berbarengan dua atau tiga orang, pastinya akan jauh lebih hemat.

Namun, jika dihitung saya menggunakan pesawat terbang ke Jakarta, apalagi hari Minggu, kurang lebih biaya untuk perbandingan adalah sebagai berikut:

Kalau ditotal, sekitar Rp1.180.000,-. Jadi, dengan kendaraan pribadi masih bisa sedikit lebih murah. Apakah cukup melelahkan perjalanan? Yang saya rasakan sih tidak begitu melelahkan. Karena justru bisa lebih fleksibel untuk istirahat.

Penghapusan Airport Tax/Passenger Service Charge (PSC) di 13 Bandara di Indonesia

Kabar baik untuk para pengguna jasa angkutan pesawat terbang, karena pemerintah baru saja menghapuskan beban airport tax atau Passanger Service Charge (PSC) untuk penerbangan dari 13 bandara di Indonesia. Istilah pajak bandara ini juga dikenal dengan Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) Tentu, ini kabar baik bagi mereka yang harus bepergian dengan pesawat.

Gambar pesawat AirAsia di area Bandara Soekarno-Hatta (CGK)

Stimulus ini berlaku mulai 23 Oktober 2020 sampai dengan 31 Desember 2020. Daftar 13 bandar udara yang dihapus:

  1. Bandara Soekarno-Hatta (CGK)
  2. Bandara Hang Nadim (BTH)
  3. Bandara Kualanamu Medan (KNO)
  4. Bandara Bali I Gusti Ngurah Rai Denpasar (DPS)
  5. International Yogyakarta Kulon Progo (YIA)
  6. Halim Perdanakusuma Jakarta (HLP)
  7. Bandara Internasional Lombok Praya (LOP)
  8. Jenderal Ahmad Yani Semarang (SRG)
  9. Bandara Sam Ratulangi Manado (MDC)
  10. Bandara Komodo Labuan Bajo (LBJ)
  11. Bandara Silangit (DTB)
  12. Bandara Banyuwangi (BWX)
  13. Bandara Adi Sucipto (JOG)

Dengan penghapusan ini, otomatis akan ada penyesuaian harga tiket yang selama ini harga yang tertera sudah termasuk dengan PSC. Dari puluah kali terbang — ketika harga tiket sudah termasuk PSC — saya sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rincian biaya. Yang saya tahu berapa total harga, dan kadang saya memastikan saja apakah biaya tersebut sudah termasuk bagasi atau tidak.

AirAsia Indonesia Terbang Lagi untuk Beberapa Rute Domestik Mulai 19 Juni 2020

Setelah Lion Air yang membuka beberapa rute penerbangan domestik pada 10 Juni 2020 lalu, AirAsia Indonesia melakukan langkah yang sama. Beberapa rute penerbangan domestik akan dibuka mulai 19 Juni 2020.

Mengutip dari keterangan resmi dari situs AirAsia, berikut beberapa rute yang akan dilayani.

No. PenerbanganAsalTujuanBerangkatTibaFrekuensi (hari)
QZ 7520Jakarta (CGK)Bali (DPS)09.2512.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 7521Bali (DPS)Jakarta (CGK)12.5013.35Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 192Jakarta (CGK)Medan (KNO)12.1014.40Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 193Medan (KNO)Jakarta (CGK)15.0517.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu

Memang belum banyak, karena secara kebijakan dan karena perubahan standar prosedur operasional pasti banyak yang harus disesuaikan terlebih dahulu.

Rencana penerbangan saya bulan April 2020 lalu juga menggunakan maskapai ini, walaupun harus saya batalkan, dan sampai sekarang belum jelas juga status pengembalian dana karena pembatalan. Walaupun, kalau memang saya tidak eligible untuk mendapatkan refund ya tidak apa-apa, tapi status tiket kasus nomor 40585971 milik saya sampai saya tulis artikel ini juga masih “Sedang Berlangsung”.

Dear AirAsia Indonesia, I <3 you, but could you please check my case on the refund? If it should be closed and I could not get my refund, just close my ticket. Thank you!

Thomas Arie Setiawan, your happy customer
AirAsia Indonesia depart from Adistucipto Airport (JOG)

Secara prosedur, kurang lebih sama dengan bagaimana maskapai lain yang merujuk kepada Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

AirAsia Indonesia sendiri telah memiliki “Panduan Terbang Bersama AirAsia Selama Masa Kewaspadaan COVID-19”, dimana penumpang (untuk penerbangan domestik) disayaratkan untuk:

  1. Menunjukkan kartu dentitas diri (KTP atau tanda pengenal lainnya yang sah);
  2. Melengkapi dengan surat keterangan uji Rapid-Test dengan hasil non reaktif yang berlaku 3 hari atau Surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif yang berlaku 7 hari pada saat keberangkatan, atau Surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) yang dikeluarkan oleh Dokter Rumah Sakit/Puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas Test PCR dan/atau Rapid-Test;
  3. Mengunduh dan mengaktifkan aplikasi Peduli Lindungi pada perangkat telepon seluler

Dengan tambahan:

  1. Mengisi kartu kewaspadaan kesehatan elektronik (e-HAC) yang dapat diakses melalui aplikasi seluler e-HAC Indonesia (Android) atau http://sinkarkes.kemkes.go.id/ehac.
  2. Khusus penumpang dari/ke DKI Jakarta diharuskan memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang dapat diproses di https://corona.jakarta.go.id/id/izin-keluar-masuk-jakarta#11sektor
  3. Khusus penumpang tujuan akhir Bali wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif dan mengisi formulir https://cekdiri.baliprov.go.id/
  4. Khusus penumpang tujuan akhir Lombok wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif.
  5. Mengisi surat pernyataan AirAsia. (Surat pernyataan dapat diunduh di Google Drive dalam format PDF)

Walaupun saya belum ada rencana untuk bepergian dengan pesawat — dan sebisa mungkin menghindari bepergian jarak jauh apalagi sampai menggunakan moda transportasi umum — persyaratan perjalanan memang jauh lebih ketat. Tapi, saya lebih setuju kalau memang pesyaratan ini benar-benar dijalankan oleh seluruh pihak, termasuk penumpang.

Stay safe, good people!

Karena AirAsia Indonesia Menawarkan Harga Tiket Lebih Murah

Minggu ini, saya perlu kembali melakukan perjalanan terkait pekerjaan ke Jakarta. Karena jadwal, maka saya putuskan untuk naik pesawat terbang. Memang, harga tiket pesawat untuk rute domestik yang ditawarkan maskapai di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan.

Paling simpel, ketika melakukan pengecekan ke situs online travel agent seperti Traveloka atau Tiket.com. Dari Jogjakarta ke Jakarta misalnya, yang beberapa bulan lalu tiket pesawat seperti Citilink, Sriwijaya, atau Lion mungkin ada dikisaran sekitar Rp400.000-Rp600.000. Namun, waktu saya check sudah diangka Rp800.000-an.

AirAsia yang beberapa bulan lalu memutuskan untuk tidak ikut dalam kerjasama dengan seluruh online travel agent menawarkan harga yang lebih jauh lebih baik. Dengan jadwal keberangkatan di hari dan jam yang hampir sama, saya mendapatkan harga tiket sekitar Rp430.000-an saja untuk perjalanan ke Jakarta dari Jogja pada hari Minggu. Dan, untuk pulang ke Jogja kembali pada hari Selasa (malam) saya bahkan mendapatkan tiket dengan harga kurang dari Rp400.000.

Layanannya? Saat itu, seluruh perjalanan saya lancar, tepat waktu, dengan mendapatkan pengalaman terbang yang baik.

Terima kasih, AirAsia!

Hampir Tertinggal AirAsia Indonesia QZ-7550 CGK-JOG

Akhir pekan lalu saya melakukan perjalanan dari Jakarta ke Jogjakarta menggunakan maskapai AirAsia Indonesia QZ-7550. Ini adalah perjalanan saya dengan AirAsia Indonesia setelah sekian lama menggunakan maskapai lainnya. Saat itu, AirAsia Indonesia menawarkan harga tiket yang paling murah untuk perjalanan Jakarta ke Jogja.

Saya melakukan pemesanan langsung di situs AirAsia, karena waktu itu AirAsia menarik penjualan tiket di Traveloka — sedangkan Traveloka merupakan situs utama untuk pembelian tiket saya selama ini.

Telat check-in!

Saya sebenarnya tidak terlalu suka untuk datang ke bandara dengan waktu yang terlalu berisiko. Prinsipnya: lebih awal lebih baik, tidak terburu-buru. Namun, tidak pada saat minggu lalu.

Damri yang membawa saya ke Terminal 2F dari Gambir sebenarnya tepat waktu. Saya berangkat sekitar dua jam dari jadwal keberangkatan, dan saya sangat yakin bahwa lalu-lintas cukup bersahabat waktu itu.

Benar saja, hampir tidak ada kemacetan, jalanan lancar. Masalahnya adalah Terminal 2F adalah terminal terakhir dalam rute. Jadi, tujuan pertama ke Terminal 3 Ultimate, dilanjutkan ke Terminal 1, dan terakhir ke Terminal 2.

Sewaktu sampai di Terminal 2 sekitar pukul 13.55 WIB, saya melihat jadwal penerbangan saya — yang dijadwalkan terbang pukul 14:30 WIB — dan sudah boarding! Agak panik, apalagi saat itu saya belum melakukan check-in. Ketika saya sampai di mesin check-in, ternyata check-in sudah ditutup, dan saya diarahkan untuk check-in manual! Sambil menuju ke konter check-in, saya sudah terpikir bagaimana rencana selanjutnya kalau ternyata saya tidak bisa melanjutkan penerbangan. Satu hal yang pasti: berantakan semua rencana!

Tertinggal KTP di Whiz Prime Pajajaran Bogor

Ketika awal bulan lalu mengunjungi Bogor, ada satu hari dimana saya menginap di Whiz Prime Hotel Pajajaran Bogor. Saya melakukan pemesanan melalui Booking.com dan mendapatkan pengalaman yang positif selama saya menginap. Lokasi cukup strategis, di depan hotel ada Circle K, dan tidak jauh dari tempat makan juga. Proses check-in dan check-out juga cepat.

Beberapa hari setelahnya, saya menginap di tempat lain di Bogor, tidak jauh dari Kebun Raya Bogor. Saya pulang ke Jogjakarta melalui Soekarno-Hatta (CGK); dengan menggunakan bis Damri dari Bogor.

KTP Tertinggal!

Ketika hendak masuk ke ruang tunggu, saya agak panik karena tidak menemukan KTP saya. Saya coba ingat-ingat kembali dimana kali terakhir saya mengeluarkan KTP. Setelah yakin bahwa terakhir kali KTP saya keluarkan dari dompet ketika check-in di Whiz Prime untuk dipindai, saya langsung coba hubungi melalui telepon ke +62 251 756 0088. Beberapa kali percobaan, gagal.

Saya lanjutkan untuk masuk ke ruang tunggu dengan menggunakan SIM sebagai identitas pengecekan di bandara. Lalu saya coba lagi. Ada nada sambung, tapi telepon saya tidak diangkat. Saya pastikan kembali apakah nomor sudah benar.

Entah percobaan ke berapa, akhirnya saya terhubung dengan operator. Saya sampaikan keperluan saya, operator yang bertugas saat itu — saya lupa namanya siapa — meminta nomor telepon saya dan diberitahu kalau akan dihubungi kembali.

Sampai dengan saya kembali ke Jogja dan beberapa hari berikutnya, saya tidak mendapatkan informasi balasan. Saya coba telepon lagi, dan gagal lagi. Setelah beberapa percobaan lagi, saya terhubung dengan operator — yang kalau tidak salah namanya Dilang — dan diberitahu kalau ada KTP atas nama saya yang benar tertinggal.

Lega. Karena saya sempat membayangkan keribetan yang mungkin akan saya alami dalam mengurus kehilangan dan penggantian KTP. Kemudian saya diminta untuk mengirimkan detil mengenai alamat pengiriman KTP untuk diproses.

Setelah beberapa hari, saya akhirnya mendapatkan kembali KTP milik saya dikirim melalui JNE ke Jogja. Biaya pengiriman saya kirim melalui transfer bank. Saya sendiri yang sejak awal memang meminta untuk menanggung biaya pengirimannya. Terima kasih Whiz Prime Pajajaran Bogor!

Bis Damri Dari Bogor Ke Bandar Udara Soekarno-Hatta (CGK)

Sebelumnya, saya menggunakan Damri dari Halim Perdanakusuma (HLP) ke Bogor. Namun, saya meninggalkan Bogor untuk kembali ke Jogja tidak melalui Halim Perdanakusuma melainkan dari Bandar Udara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.

Jaraknya bahkan lebih jauh dibandingkan menuju Halim Perdanakusuma. Dengan pertimbangan ini pula, saya kembali menggunakan jasa layanan transportasi Damri.

Saya berangkat dari terminal Damri yang ada di kawasan Botani Square sekitar pukul 14:00 WIB di hari Jumat. Sore itu, saya lihat beberapa armada yang berangkat tidak terlalu ramai. Menurut informasi dari jadwal keberangkatan, Damri dari Bogor ini paling pagi berangkat pada pukul 02:00 WIB menuju Soekarno-Hatta.

Pengalaman Menggunakan Jasa Bis Damri Dari Halim Perdanakusuma ke Bogor

Walaupun cukup sering terbang menuju dan dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma (HLP), namun saya belum pernah menggunakan jasa angkutan Damri dari sana. Karena, setahu saya angkutan Damri yang tersedia hanya ke arah Bogor, dan saya memang belum ada keperluan harus ke Bogor.

Awal Mei lalu, saya perlu untuk melakukan perjalan ke Bogor untuk urusan pekerjaan. Ini kali pertama saya ke Bogor. Sebelumnya, perjalanan ke arah selatan dari Jakarta hanya sampai Cibinong. Dan, waktu itu perjalanan saya tempuh dari Stasiun Jatinegara menggunakan taksi.

Ketika harus memikirkan cara saya menuju Bogor, Damri menjadi pilihan utama karena saya yakin biaya lebih murah dibandingkan dengan taksi — walaupun saat itu saya juga belum tahu berapa harga tiketnya. Kereta mungkin bisa menjadi opsi juga, walaupun saya harus berpindah moda transportasi menuju stasiun yang melayani rute ke Bogor.

Catatan Perjalanan: AirAsia QZ-7553 JOG-CGK, 12 Februari 2018

Sudah cukup lama saya tidak terbang bersama AirAsia Indonesia. Alasan utamanya karena beberapa kali perjalanan ke Jakarta saya lebih memilih pertimbangan waktu keberangkatan dan lokasi kedatangan.

Waktu keberangkatan dari Terminal B Bandara Adisutjipto Yogyakarta (JOG) hari itu terlambat dari jadwal. Untunglah hari itu tidak ada agenda penting, sehingga walaupun mengalami keterlambatan total hampir satu jam dari jadwal tidak perlu ada agenda yang terganggu.

Perjalanan cukup lancar dengan cuaca yang relatif baik siang itu, walaupun ada beberapa kali turbulensi kecil. Pesawat mendarat di Terminal 2F, Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan dari sana langsung menuju tujuan di Jakarta dengan menggunakan taksi.

Penerbangan Internasional AirAsia Pindah ke Terminal 3 Soekarno-Hatta

Mulai 22 Januari 2018 pukul 03.00 WIB, seluruh penerbangan internasional AirAsia berpindah ke Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Konter check-in dan penyerahan bagasi AirAsia terletak pada konter D 14-18 di area keberangkatan Terminal 3. Sebelumnya, keberangkatan penerbangan internasional berangkat dari Terminal 2E. Penerbangan domestik AirAsia tetap beroperasi di Terminal 2F.

Catatan Perjalanan: Batik Air ID-6375 JOG-CGK, 15 Januari 2018

Penerbangan ke Jakarta beberapa hari yang lalu berjalan dengan lancar. Walaupun, pesawat Batik Air ID-6375 yang saya tumpangi dari Adisutjipto (JOG) sempat mengalami keterlambatan sekitar 20 menit dari jadwal pukul 17:45 WIB.

Sekitar 30 menit sebelum jadwal boarding, ada pengumuman keterlambatan. Tak lama berselang, ada pengumuman lanjutan bahwa penumpang diminta untuk menuju area gate untuk menikmati makanan.

Saya sempat berpikir, kalau cuma terlambat sebentar saja (bahkan tidak sampai satu jam), kok ada makanan? Jangan-jangan karena ada penambahan waktu delay.

Ternyata, tidak ada pengumuman terkait delay. Tak lama kemudian, terdengar panggilan untuk melakukan boarding.

Oppie Andaresta

Ketika berjalan menuju pesawat dan mengambil foto, saya tidak terlalu memerhatikan bahwa ada Oppie Andaresta. Ya, saya tumbuh di era lagu-lagu seperti Cuma Khayalan, Hanya Kau Yang Bisa, dan juga Inget-Inget Pesan Mama. Saya sedikit mengenali justru ketika baru mau masuk pesawat.

Mengurus Pembatalan dan Pengembalian Dana (Refund) Tiket Pesawat di Traveloka

Pengalaman saya membeli tiket di Traveloka bisa dikatakan cukup baik, tidak ada kendala yang berarti. Setiap melakukan perjalan, saya berusaha untuk memilih jadwal perjalanan yang paling nyaman untuk saya.

Di akhir Oktober 2017 lalu, karena sesuatu hal saya harus melakukan pembatalan/perubahan jadwal penerbangan dari Jakarta (CGK) ke Jogjakarta (JOG). Sebenarnya tidak sulit, cuma memang butuh sedikit kesabaran saja.

Catatan Perjalanan: JOG-CGK-JOG Citilink QG-103 dan AirAsia QZ-7550

Perjalanan akhir bulan Januari 2016 ini untuk menghadiri acara pernikahan teman yang sekaligus pernah menjadi rekan kerja semasa saya ada di Jakarta. Untuk ke Jakarta di hari Sabtu pagi tersebut, saya menggunakan maskapai Citilink Indonesia nomor penerbangan QG-103 yang berangkat dari bandara Adisutjipto (JOG) pada pukul 06:00 WIB menuju Bandara Halim Perdanakusuma (HLP).

Pagi itu, suasana di Adisutjipto tidak terlalu ramai. Antrian untuk check-in di konter Citilink juga tidak terlalu panjang — paling tidak jika dibandingkan dengan beberapa perjalanan saya sebelumnya. Ketika memasuki ruang tunggu, pagi itu juga tidak terlihat cukup ramai, masih banyak kursi kosong.

Sekitar pukul 05:40 WIB, panggilan untuk boarding diumumkan. Saya sendiri kebetulan pagi itu mendapatkan nomor kursi 14F di armada AirBus A320-200. Sewaktu melakukan check-in petugas konter menawarkan kepada saya apakah saya ingin duduk di window seat atau tidak, dan langsung menawarkan di kursi 14F. Saya sendiri tidak menolak karena kursi tersebut memang cenderung memiliki area yang cukup luas — dan, ada di samping jendela darurat.

Tidak ada yang istimewa pagi selain penerbangan yang lancar dalam cuaca yang cukup baik dan tepat waktu. Terima kasih, Citilink Indonesia!

Untuk perjalanan pulang dari Jakarta ke Jogjakarta, saya memutuskan untuk menggunakan maskapai AirAsia Indonesia dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang awalnya direncanakan berangkat pada pukul 14.40 WIB. Namun, sekitar pukul 13.55 (dari jadwal boarding pukul 14.00) ada pengumuman penundaaan penerbangan selama kurang lebih 15 menit.

Sekitar pukul 14:45 WIB saya sudah mulai memasuki pesawat melalui pintu bagian belakang untuk langsung menuju tempat duduk saya di nomor 27D. Pesawat Airbus A320-200 milik AirAsia Indonesia tersebut membawa saya ke Jogjakarta dalam cuaca yang sedikit mendung dan ada beberapa goncangan kecil. Namun, secara keseluruhan perjalanan lancar. Sekitar pukul 15:50 WIB pesawat mendarat dengan mulus di runway bandara Adisutjipto (JOG) dan langsung menuju tempat parkirnya di Terminal B.

Catatan Perjalanan: Batik Air ID-6361 JOG-CGK, 24 Januari 2016

Perjalanan menggunakan maskapai Batik Air pada hari Minggu, 24 Januari 2016 yang lalu berjalan dengan lancar dan tepat waktu. Saya sendiri mengambil penerbangan dengan jadwal berangkat pukul 07:40 WIB dari Bandara Adisutjipto di Jogjakarta.

Ketika akan melakukan check-in terlihat antrian yang cukup panjang. Namun, untunglah ada konter khusus untuk penumpang yang ingin melakukan check-in tanpa bagasi dan pagi itu antrian jauh lebih sepi.

23955652483_3dc20a6749_k

Proses boarding juga berlangsung lancar. Saya langsung menaiki pesawat melalui pintu belakang dan langsung menuju ke tempat duduk saya di nomor 23F. Sisa perjalanan saya habiskan dengan mengambil beberapa foto pemandangan di luar pesawat yang bagi itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

Screenshot 2016-01-27 01.45.11

Pengalaman Memanfaatkan Fitur E-Boarding Pass AirAsia Indonesia

Di akhir Agustus 2015 yang lalu, saya kembali terbang menggunakan maskapai AirAsia Indonesia untuk rute Jakarta (CGK) ke Jogjakarta (JOG). Salah satu yang berbeda adalah sudah tersedianya fitur E-Boarding Pass. Untuk penerbangan dengan AirAsia, saya hampir selalu memanfaatkan aplikasi AirAsia Mobile baik untuk melakukan pemesanan maupun check-in.

E-Boarding Pass AirAsia Indonesia

Saya teringat perjalanan sebelumnya dengan AirAsia Indonesia  dari Jogjakarta menuju Jakarta. Saat itu, seingat saya E-Boarding Pass tidak saya gunakan. Ternyata, memang layanan ini belum dapat digunakan untuk seluruh rute penerbangan domestik. Dari informasi di situs AirAsia, fasilitas E-Boarding Pass ini ternyata baru dapat digunakan untuk penerbangan domestik dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) sejak Mei 2015.

Bagi saya, fitur ini tentu saja sangat praktis. Walaupun fitur ini dapat digunakan hanya dalam kondisi tertentu, antara lain:

  • Baru dapat digunakan untuk penerbangan domestik dari Soekarno-Hatta. Semoga segera dapat digunakan dari bandara keberangkatan yang lainnya.
  • Hanya dapat digunakan untuk satu penumpang saja untuk setiap satu kode pemesanan.
  • Hanya digunakan jika penumpang melakukan check-in melalui aplikasi AirAsia Mobile.