Wajah Malioboro Saat Libur Panjang Akhir Oktober 2020

Oktober 2020 ditutup dengan libur panjang. Saya yang tinggal di daerah utara , walaupun hanya sesekali keluar rumah dan harus melewati Jalan (utara ring road) — Jakal atas kalau banyak orang menyebutnya — merasakan suasana yang berbeda.

Dari arah selatan menuju utara — karena banyak obyek wisata yang ke arah Kaliurang — sudah terjadi kemacetan. Mobil berplat luar kota cukup banyak terlihat.

Hari berikutnya, melewati banyak tempat makan yang sepertinya kalau orang luar Yogyakarta akan mampir, terlihat penuh. Jalanan, tentu saja lebih ramai. Perempatan ring road Jl. Affandi dan Jl. Kaliurang, terlihat padat.

? Saya tidak terpikir untuk melewatinya. Tapi, semoga foto di bawah ini cukup menggambarkan kondisi Malioboro. Obyek wisata lain, mungkin juga jauh lebih ramai dari biasanya.

https://www..com/p/CG5A_hXFhJO/

Seorang teman yang mengelola penginapan di daerah Yogyakarta bagian selatan juga kebanjiran pesanan. Seluruh kamar full booked.

Selamat datang di… Yogyakarta.

62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah

Dengan menggabungkan yang kami kumpulkan dari sumber terbuka, Tim Buka Mata Narasi menyusun kembali secara rinci, menit demi menit pembakaran Halte TransJakarta Sarinah pada 8 Oktober 2020. Hasil analisis kami menemukan bahwa para pelaku memang datang untuk membakar Halte TransJakarta dan memperburuk situasi aksi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja.

Narasi Newsroom: YouTube – 62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah

Dua Bangunan Hotel Mutiara Yogyakarta Dibeli oleh Pemda DIY Seharga 170 Miliar

… iya, 170 miliar rupiah, dengan menggunakan Dana Keistimewaan (danais) tahun anggaran 2020. Total anggaran tersebut untuk membeli lahan dan kedua bangunan tersebut. Rencananya, akan digunakan sebagai sentra UMKM, yang lokasinya berada di lokasi yang sangat strategis, di kawasan . Mengutip berita dari krjogja.com:

Sultan mengatakan bagian bangunan yang ada di sebelah utara akan diubah menjadi sentra Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di DIY. 43 kamar akan diubah menjadi gerai pamer sekaligus jual beli UMKM yang nantinya masih akan menjalani serangkaian renovasi.

krjogja.com: Dibeli Dengan Danais Rp 170 Miliar, Hotel Mutiara Bakal Jadi “Mall” UMKM

“Ya bukan mall sebutannya ya, tapi sentra untuk UMKM begitu saja. Kami ingin meningkatkan kualitas UMKM DIY agar punya ruang di kawasan Malioboro, meski nanti sifatnya mungkin tetap menyewa”

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X tentang pembelian dua bangunan Hotel Mutiara senilai 170 miliar.
Hotel Mutiara Malioboro, (sisi utara)

Mengenai bagaimana pemanfaatan atau pengelolaannya, termasuk rencana lanjutannya sepertinya masih perlu dipikirkan dan direncanakan. Mengutip :

Sultan menyebut, pemilik UMKM yang ingin berjualan di sentra UMKM di kawasan Malioboro tersebut nantinya harus membayar uang sewa kepada Pemda DIY. Namun, besaran uang sewa itu belum bisa dipastikan. Selain itu, jumlah UMKM yang bisa ditampung di gedung sentra UMKM tersebut juga belum bisa dipastikan.

Aris — Kepala Paniradya Kaistimewan DIY — menjelaskan, proses pembelian dua bangunan Hotel Mutiara itu sudah dimulai sejak Februari 2020. Sementara itu, proses pembayaran kepada pemilik hotel tersebut dilakukan pada pertengahan September 2020.

Aris menambahkan, setelah pembelian dilakukan, Pemda DIY akan melakukan uji konstruksi dan kajian pengelolaan terhadap bangunan yang dibeli tersebut. Uji konstruksi dilakukan untuk mengetahui kualitas bangunan, sementara kajian pengelolaan dilakukan agar bangunan tersebut bisa dikelola secara baik. ”Kajian pengelolaan dan uji konstruksi dilakukan pada tahun 2020,” katanya.

Pemda DIY Beli Dua Bangunan Hotel di Malioboro Rp 170 Miliar
Hotel Malioboro Yogyakarta (sisi selatan)

Oh ya, bangunan Hotel Mutiara ini bukan termasuk cagar budaya, karena baru berdiri sejak tahun 1972. Sedangkan untuk masuk dalam kategori cagar budaya, bangunan sudah harus berusia minimal 50 tahun. Jadi, dua tahun lagi mungkin sudah masuk cagar budaya, kalau bangunan asli masih berdiri.

Kendala Teknis Bekerja dari Rumah

Walaupun menjadi keinginan banyak orang, namun bekerja dari rumah tak lepas dari kendala. Baik itu kendala yang bisa diantisipasi karena kita memiliki kontrol, tapi ada juga kendala yang muncul karena faktor di luar kita. Puji Tuhan, saya saat ini dapat bekerja dari rumah, sebuah berkat tersendiri, apalagi ditambah dalam kondisi sulit ini.

Ada yang sifatnya teknis, tapi ada pula yang non-teknis, terutama gangguan yang muncul karena… kita ada di rumah. Teorinya, ini tentang bagaimana kita mengelola distractions. Atau, ini tentang bagaimana kita fokus bekerja. Nyatanya, memang tidak selalu semudah teori yang ada.

Kendala atau gangguan non-teknis, tentu ada, bahkan banyak. Tapi setelah tujuh bulan lebih benar-benar ada di rumah, ada beberapa kendala utama: mati dan koneksi .

Mati Listrik

Saya tidak tahu berapa frekuensi mati listrik dalam satu bulan untuk dikatakan “sering” atau “jarang”. Tapi, dalam satu bulan, mungkin ada beberapa kali waktu. Saya tidak hitung persisnya, tapi mungkin sekitar 2-3 kali dalam satu bulan.

Kebanyakan memang karena kegiatan perawatan, instalasi, atau kegiatan lain yang sudah terjadwal. Bukan karena misalnya daya di rumah tidak mencukupi. Biasanya, kalau lagi kena giliran mati listrik, mati listrik berlangsung sekitar 2 (dua) jam. Dan, biasanya juga berlangsung di jam kerja. Selama ini di area saya antara jam 10.00-13.00 WIB.

Agak sedikit berbeda jika mati listrik di luar jadwal. Karena sepertinya sudah masuk musim penghujan, kadang tiba-tiba saja mati listrik. Pernah terakhir kali kalau tidak salah hampir 4 (empat) jam. Duh!

Saya sih yakinnya cuma kalau ada masalah pasti akan disegerakan untuk diperbaiki oleh . Beruntung juga di kompleks perumahan saya, cukup sering warga langsung kontak PLN dan mengabarkan ke grup perumahan kalau sudah dilaporkan.

Baca juga: Pengalaman Merasakan Layanan yang Baik dari Aduan Pelanggan PLN

Koneksi Internet

Kendala yang berikutnya adalah gangguan koneksi internet. Walaupun bisa dikatakan gangguan ini sangat jarang terjadi untuk koneksi internet di rumah yang saya pakai, tapi karena lagi-lagi tetap butuh listrik, kalau listrik mati, otomatis koneksi internet juga terganggu.

Ada opsi untuk tethering menggunakan koneksi dari ponsel. Masalahnya, ketika listrik mati, koneksi internet dari ponsel juga terganggu, susah sekali — koneksi sangat tidak stabil — untuk mendapatkan koneksi dari provider XL maupun Telkomsel yang saya gunakan.


Berbeda dalam kondisi biasanya yang saya dengan mudah mencari tempat untuk bekerja misal di warung kopi, kali ini saya memilih mengandalkan koneksi yang ada. Kalau sampai listrik mati cukup lama, dan yang saya gunakan juga sudah saatnya harus istirahat dulu, ya apa boleh buat, harus mengandalan ponsel atau piranti lainnya.

Rental Bioskop Cinépolis

Sepertinya, penawaran untuk merental Cinépolis baru-baru ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang ingin menikmati nonton dengan suasana bioskop — layar besar dan yang memanjakan telinga memang sulit tergantikan. Cinépolis — dulu namanya Cinemaxx — memiliki beberapa paket layanan rental.

Saya kunjungi situs cinepolisrental.com dan beberapa inforamsi sudah ada disana. Selain untuk menonton dengan fasilitas standar menonton bioskop ala Cinèpolis Indonesia, rental ini bisa juga untuk keperluan lain seperti gathering, meeting, pesta, atau main game bersamaan. Yang pasti, jika ini terkait “berkumpul dalam jumlah terbatas, dengan orang-orang yang sudah dikenal/ditentukan saja”, tentu ini menjadi opsi menarik.

Ada tiga pilihan paket:

  1. Squad, harga Rp599.000,-
  2. Superhero, harga Rp799.000,-
  3. Empire, harga Rp999,000,-

Fasilitas ketiga paket tersebut sama yaitu untuk durasi 2 jam (dengan tambahan 1 jam sebelum dan setelah acara), menentukan film dan waktu. Yang membedakan adalah kapasitas maksimum pengunjung, yaiut 15, 20, dan 25 orang.

Mungkin layanan ini cocok untuk mereka yang ingin tetap menikmati di bioskop — walaupun tidak harus nonton — tapi bersama dengan orang-orang yang lebih terseleksi, sehingga faktor dan keamanan di masa pandemi ini lebih terjaga.

Sayangnya, memang belum semua bioskop Cinèpolis mendukung /layanan ini. Saat ini, baru berlaku di , yaitu Pluit Village, Plaza Semanggi, Gajah Mada Plaza, Tamini Square, Cibubur Junction dan Metro Kebayoran. Periode waktu berlangsung sampai 3 November 2020, dan dapat berubah. Mungkin bisa berlangsung lebih cepat, atau sebaliknya.

Terkait dengan materi film, apakah boleh membawa film sendiri atau tidak, dan pilihan film apa saja, kondisinya cukup sederhana:

  1. Film yang diputar hanya yang sedang berlangsung di Cinèpolis,
  2. Jika membawa film sendiri, film diharusnya merupakan film yang original.

Untuk memutar di layar besar, pihak Cinèpolis hanya menyediakan kabel HDMI saja. Jadi dan piranti lainnya perlu disediakan sendiri.

Tertarik?

Penghapusan Airport Tax/Passenger Service Charge (PSC) di 13 Bandara di Indonesia

Kabar baik untuk para pengguna jasa angkutan terbang, karena pemerintah baru saja menghapuskan beban airport tax atau Passanger Charge (PSC) untuk penerbangan dari 13 di Indonesia. Istilah bandara ini juga dikenal dengan Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) Tentu, ini kabar baik bagi mereka yang harus bepergian dengan pesawat.

Gambar pesawat AirAsia di area Bandara Soekarno-Hatta (CGK)

Stimulus ini berlaku mulai 23 Oktober 2020 sampai dengan 31 Desember 2020. Daftar 13 bandar udara yang dihapus:

  1. Bandara Soekarno-Hatta (CGK)
  2. Bandara Hang Nadim (BTH)
  3. Bandara Kualanamu ()
  4. Bandara Bali I Gusti Ngurah Rai Denpasar (DPS)
  5. International Kulon Progo ()
  6. Halim Perdanakusuma (HLP)
  7. Bandara Internasional Lombok Praya (LOP)
  8. Jenderal Ahmad Yani (SRG)
  9. Bandara Sam Ratulangi Manado (MDC)
  10. Bandara Komodo Labuan Bajo (LBJ)
  11. Bandara Silangit (DTB)
  12. Bandara Banyuwangi (BWX)
  13. Bandara Adi Sucipto (JOG)

Dengan penghapusan ini, otomatis akan ada penyesuaian harga tiket yang selama ini harga yang tertera sudah termasuk dengan PSC. Dari puluah kali terbang — ketika harga tiket sudah termasuk PSC — saya sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rincian biaya. Yang saya tahu berapa total harga, dan kadang saya memastikan saja apakah biaya tersebut sudah termasuk bagasi atau tidak.

‘Indomie Goreng’ Goreng

Mie Goreng dari Indomie memang tidak diragukan lagi diciptakan sebagai mie instan, yang dimasak secara instan saja sudah enak. Saya tidak akan mendebat ini. Tapi, diolah dengan tidak seinstan itu, bisa jadi tidak kalah enak. Tambah enak malahan, menurut saya.

Tak jarang, saya menikmati mie goreng dari Indomie ini dengan memasaknya kembali. Tidak ada resep atau aturan baku, tapi seharusnya dengan modifikasi model apapun — yang umum dengan bahan dasar mie — harusnya tidak akan salah.

Setelah mie saya rebus dan tiriskan, saya menambahkan beberapa sayuran — tergantung apa yang ada di kulkas — seperti kubis, daun bawang, wortel, buncis, tomat, dan kadang pakcoy yang saya petik dari belakang.

Beberapa sayuran yang butuh untuk dibuat lebih empuk dulu, saya masukkan terlebih dahulu saat merebus mie. Sambil merebus, saya potong halus bawang merah dan bawang putih. Saya kasih sedikit kemiri yang saya haluskan.

Karena saya hanya masak di dapur rumahan, proses masak juga pilih yang gampang saja. Wajan saya beri sedikit minyak, kemudian saya masukkan telur untuk saya orak arik. Setelah agak matang, saya tambahkan sedikit minyak lagi, dan saya tumis duo bawang dan sedikit kemiri tadi. Cepat saja, sampai harum. Lalu saya tambahkan sedikit air matang (biasanya sudah langsung air panas) dan saya masukkan cepat sayuran yang ada. Kalau ada yang masih mentah tapi cepat masak, saya masak sebentar disini.

Setelah cukup empuk, saya masukkan semua mulai dari mie yang sudah direbus dan tiriskan, bumbu bawaan mie goreng Indomie. Sudah masuk saja semua. Kalau terasa terlalu kering, saya tambahkan sedikit minyak. Setelah itu aduk saja. Saya suka yang sedikit agak basah. Tambahkan garam dan merica sedikit. Bumbui dengan sesuka hati sampai enak. Oh ya, kadang saya tambahkan juga kaldu jamur Totole.

Diakhiri dengan seledri atau bawang goreng, kalau ada. Dinikmati langsung ketika masih hangat agak panas, tentu enak! Oh ya, kalau ada cabai rawit kecil, bolehlan buat sedikit tendangan.

Bagaimana?

Thai Airways, Restoran Bertema Pesawat, dan Pa Tong Go

Dari sekian banyak industri dan bisnis di dunia, indsutri perjalanan mungkin salah satu yang terkena dampak sangat besar, dan sangat cepat. Tak butuh berbulan-bulan untuk dampaknya langsung dirasakan.

Karena orang juga mulai berpikir ulang untuk bepergian entah untuk urusan pekerjaan atau , industri penerbangan — yang otomatis juga memengaruhi industri lain dalam sektor — langsung perlu penyesuaian. Mulai dari pengurangan rute, pengurangan frekuensi penerbangan, termasuk pengurangan beban operasional lainnya.

Sedih melihatnya. Ditambah ketika pembatasan perjalanan harus dilakukan karena regulasi dari otoritas.

salah satunya. Untuk tetap membuat operasional berjalan, mereka melakukan beberapa penyesuaian bisnis, melakukan adaptasi, seperti yang dilakukan oleh puluhan, ratusan, atau bahkan jutaan bisnis di dunia.

Restoran Thai Airways

Restoran yang ditawarkan oleh Thai Airways ini memberikan pengalaman makan dengan tema ‘penerbangan’. Dengan menu, armosfer, dan pengalaman khas ala Thai Airways. Tentu, ini juga sudah pasti Thai Airways tidak bisa mengoperasikan penerbangan komersialnya.

Patong-go

Berikutnya, Thai Airways juga mulai melakukan langkah yang lain yaitu berjualan roti goreng, dengan nama patong-go atau diistilahkan dengan deep-fried dough. Mungkin kalau di , mirip seperti cakwe, atau bolang baling. Atau, mungkin odading lebih bisa lebih mirip dengan ini. Tentu, kita tak perlu mendebatkan mana yang duluan apakah pa tong go, odading, cakwe, atau bolang baling yang duluan. Atau malah galundeng?

(: Chanat Katanyu/Bangkok Post)

Acting THAI Chansin Treenuchagron told reporters that the fried dough sticks were popular and formed long queues to buy them each morning at the ’s five food outlets in Bangkok. Monthly sales were around 10 million baht. Encouraged by this, the airline planned to franchise its fried dough sticks, so THAI and its partners could mutually benefit from their popularity.

Bangkok Post: Thai Airways cashing in on fried dough

Semangat!

Menjajal GrabCar GrabProtect dari Grab Indonesia dengan Kualitas Layanan yang Berbeda

Saya suka menggunakan layanan dan . Masing-masing punya kelebihannya sendiri, terutama untuk fitur , pemesanan makanan, dan pengantaran barang. Untuk Grab, layanan yang paling saya gunakan adalah GrabFood. Layanan transportasi seperti GrabBike dan juga kadang saya gunakan. Namun, sejak pandemi , sudah lebih dari 7 (tujuh) bulan saya tidak menggunakan kedua layanan transportasi ini.

Sampai minggu lalu, akhirnya saya menggunakan layanan transportasi dari Grab, yaitu GrabCar. Layanan ini akhirnya saya gunakan karena saya perlu melakukan perjalanan, dan saya memang tidak membawa mobil sendiri. Dari pilihan yang ada yaitu menggunakan layanan kendaraan roda dua atau roda empat, saya memutuskan untuk memilih layanan roda empat (GrabCar). Grab juga menjadi salah satu opsi saya ketika di , ataupun ketika saya bepergian ke .

Ketika melihat pilihan armada di aplikasi Grab, saya diberikan saran untuk menggunakan layanan GrabCar Protect selain GrabCar, GrabTaxi, GrabCar Plus, GrabCar 6, dan GrabGerak. Dan, saya bepergian sendirian.

Di situs Grab, ada sedikit penjelasan mengenai GrabProtect ini.

Menurut deskripsi, tentang GrabCar Protect ini:

GrabCar Protect adalah transportasi khusus yang menyediakan layanan ekstra dalam keamanan dan kenyamanan perjalanan dalam situasi COVID-19.

Jadi, diantara opsi yang ada, jika konteksnya adalah opsi paling “aman”, maka GrabCar Protect seharusnya menjadi pilihan utama. Dan, dibandingkan dengan opsi kendaraan yang lain, harga juga sedikit lebih mahal (jika dibandingkan dengan GrabCar, bahkan GrabCar Plus dan GrabCar 6. Masih tentang GrabCar Protect ini, kalau di aplikasi, ada beberapa hal yang dituliskan, yaitu:

  1. Kapasitas 1-3 penumpang
  2. Partisi plastik untuk melindungi pengemudi dan penumpang
  3. Pengemudi mendapatkan pelatihan khusus dan SOP
  4. Pengemudi dengan APD (masker, sarung tangan, pembersih tangan)
  5. Penyemprotan desinfektan secara berkala pada mobil
  6. Tarif yang tertera termasuk biaya pemesanan senilai Rp4.000 yang mencakup inovasi fitur keselamatan terbaru, pelatihan pengemudi, asuransi perjalanan dan biaya operasional lainnya.

Sedikit tambahan dalam deskripsi juga ada keterangan “Extra protection from Lifebuoy”. Dengan segala informasi tersebut, cukup menjadi alasan bagi saya untuk akhirnya memilih GrabProtect.

Perjalanan Pertama: Puas dan Menyenangkan

And, I felt safe.

Itulah pengalaman yang saya dapatkan ketika kali pertama menggunakan layanan ride Grab dengan armada GrabProtect. Jelas saja ekspektasi jauh berbeda dibandingkan sebelum masa pandemi COVID-19.

Kenapa saya puas dan perjalanan pertama di hari itu berlangsung dengan menyenangkan dan ada perasaan aman? Karena:

  1. Sekat partisi antara kabin pengemudi dengan penumpang terpasang dengan baik
  2. Pengemudi menggunakan masker
  3. Kondisi mobil bersih
  4. Ada cairan hand sanitizer di kantong pintu penumpang

Dengan kondisi tersebut, saya tidak keberatan juga untuk diajak mengobrol, walaupun memang tidak sepanjang perjalanan. Saya sendiri juga menggunakan masker, kacamata, dan juga membawa hand sanitizer dalam tas.

Setelah selesai perjalanan, dengan senang hati saya memberikan rating 5, walaupun pengemudi juga tidak spesifik meminta saya memberikan rating 5.

Perjalanan Kedua: Tidak Begitu Menyenangkan

Dari begitu banyaknya perjalanan yang saya lewati menggunakan Grab atau Gojek, saya kadang tetap bisa menerima misalkan perjalanan bisa dikatakan “tidak sempurna”. Pengemudi agak ngebut, saya masih OK terlebih ketika terlihat juga percaya diri dalam membawa kendaraan. Salah rute, saya juga pernah. Memilih untuk turun karena tujuan terlanjur dilewati daripada harus putar balik dengan jarak yang jauh, saya juga tidak keberatan.

Nah, perjalanan kedua dengan armada GrabCar GrabProtect di hari yang sama kemarin bisa dikatakan tidak begitu menyenangkan. Kenapa?

  1. Driver tidak menggunakan masker! Saya tahu, sudah ada sekat antara pengemudi dan penumpang, tapi tidak menggunakan masker bukan sebuah gesture yang baik menurut saya. Karena, tetap saja, mobil adalah sebuah tempat dengan area yang tertutup dan ada sirkulasi dari AC.
  2. Tidak ada hand sanitizer yang dapat diakses secara mandiri oleh penumpang. Entah memang tidak ada, atau sebelumnya ada tapi ketika saya naik tidak ada disana. Walaupun, ini tidak terlalu masalah bagi saya karena saya sudah bawa sendiri.

Dan, dibandingkan dengan pengemudi sebelumnya, dengan tidak menggunakan masker justru pengemudi yang ini lebih sering mengajak ngobrol. Saya tidak begitu nyaman, tapi saya juga coba tetap sopan dengan menjawab seperlunya. Foto sengaja tidak saya publikasikan dalam artikel ini, namun ada dalam ponsel saya. Saya sengaja tidak menegur, karena saya masih ragu dengan reaksi yang akan saya terima. Mungkin saya kurang tepat membiarkannya, tapi saya sadar dengan keputusan saya saat itu.

Selesai perjalanan, saya tetap mengucapkan terima kasih, dan pengemudi meminta saya untuk jangan lupa memberi bintang 5. Sebenarnya, kalau mau fair, saya ingin memberi bintang 3. Tapi, niat tersebut saya batalkan. Saya memilih untuk tidak memberikan rating sama sekali.


Mungkin saya berlebihan, tapi dalam kondisi yang agak khusus saat ini, dengan adanya opsi dari penyedia layanan bagi konsumen, tentu hal tersebut merupakan sesuatu yang harus diapresiasi. Semoga penyedia layanan seperti Grab dalam kondisi ini juga memperketat prosedur operasional. Tapi, pengemudi dan penumpang juga memegang peranan penting sehingga kondisi aman dan nyaman bisa terpenuhi.

Sungguh Indah

Walaupun lagu ini sudah cukup lama, tapi cover lagu Sungguh Indah oleh Andy Ambarita ini benar-benar enak untuk dinikmati. Walaupun ini lagu rohani, tapi saya percaya lirik lagu rohani — dari agama apapun — sebenarnya juga sifatnya universal, tidak harus tentang hubungan seseorang dengan penciptanya. Bisa saja tentang sesama manusia.

Ke manakah aku dapat pergi?
Menjauhi rohMu yang suci
Kau sahabat dan Kau dekat

Bahkan seluruh pengabdianku
Tak bisa membalas kesetiaanMu
Sungguh mulia dan berharga

Sungguh besar pengorbananMu bagiku
Terlalu dalam untuk dimengerti
Sungguh besar

Sungguh indah yang Kau pikirkan tentangku
Tak terselami bagiku
Sungguh indah

Bahkan seluruh pengabdianku
Tak bisa membalas kesetiaanMu
Sungguh mulia dan berharga

Sungguh besar pengorbananMu bagiku
Terlalu dalam untuk dimengerti
Sungguh besar

Sungguh indah yang Kau pikirkan…

“Sungguh Indah”

Lagu ini juga dapat ditemukan di Spotify.

Kunjungan Kedua Fisioterapi ke Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai pengalaman melakukan di Orthopaedic Sport Clinic ().
Baca tulisan sebelumnya: Pengalaman Fisioterapi di Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)


Pemesanan

Karena sebelumnya sudah melakukan pemesanan dan komunikasi melalui WhatsApp, untuk kedatangan kedua saya langsung kirim pesan ke sekitar pukul 09.30 WIB. Awalnya saya mau datang di hari Sabtu, tapi Jumat malam benar-benar kondisinya terasa sakit sekali. Bahkan, seolah lebih sakit dari sebelumnya. Saya paham, bahwa paska penanganan memang biasanya tidak langsung sembuh, memar juga saya sudah pahami efek dari penanganan sebelumnya juga.

Tapi, karena memang saya bisa datang lagi, kenapa tidak? Dan, kebetulan untuk jadwal paling cepat bisa di jam 10.30 WIB. Karena hari Jumat ada waktu sholat Jumat, jadi saya berharap semoga waktunya mencukupi.

Catatan

Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan pemberi layanan. Semua yang saya tulis merupakan pendapat dan pengalaman pribadi. Biaya atas jasa yang muncul merupakan biaya pribadi. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin bisa terjadi. Saya sarankan untuk mencari informasi terbaru terkait pemberi layanan. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pada Oktober 2020.

Terapi Kedua

Seperti sebelumnya, saya sampaikan apa keluhan saya, rasanya bagaimana, termasuk apabila ada aktivitas berat yang saya lakukan. Yang melakukan terapi kali ini berbeda. Jadi ada satu terapis wanita, dan satu terapis laki-laki.

Dan, proses terapi dimulai.

Panen Mentimun

Minggu lalu, ternyata tanaman mentimun yang saya pindah tanam dari media ke tanah, sudah berbuah. Agak kaget juga, karena memang tidak saya khususkan untuk tanam, tapi karena sepertinya pertumbuhan cukup subur, jadi ketika suda terlalu besar untuk ada di sistem hidroponik — apalagi saya pakai sistem wick — jadi saya pindah ke tanah. Itupun, saya cuma pindah ke polibag.

Tidak ada perawatan khusus, karena mungkin tanah juga cukup subur saat itu. Tempatnya juga saya letakkan di bawah sinar matahari. Saya kurang tahu efeknya kalau kurang sinar matahari seperti apa, tapi mentimun ini terlihat segar. Ketika dimanakan, teksturnya juga padat, dengan cukup banyak air, dan tidak pahit!

Untuk media merambat juga saya tidak buat khusus, yang penting bisa merambat saja.

Pengalaman Fisioterapi di Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)

Minggu lalu, untuk kali pertama saya merasakan kondisi badan yang tidak nyaman karena (sepertinya) ada cidera otot. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi bagian bahu dan punggung atas sebelah kanan rasanya sakit sekali. Ditambah dengan leher — terutama di bagian kanan — juga sakit luar biasa ketika dipakai untuk menunduk atau menengok.

Catatan

Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan pemberi layanan. Semua yang saya tulis merupakan pendapat dan pengalaman pribadi. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin bisa terjadi. Saya sarankan untuk mencari informasi terbaru terkait pemberi layanan. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pada Oktober 2020.

Ada beberapa dugaan penyebab. Mungkin karena saya dalam posisi salah ketika mengangkat barang — karena kadang geser-geser meja atau angkat galon — atau mungkin juga ketika mau menggendong anak saya.

Saya sendiri banyak bekerja di depan meja menggunakan , sangat bisa jadi ini juga memengaruhi kondisi badan terutama bagian atas.

Hari Selasa malam terasa cukup sakit. Ketika tidur, bahu sangat tidak nyaman. Apalagi ketika mau bangun dari posisi berbaring. Saya cukup kepayahan untuk bangun, karena mungkin memang ada bagian otot yang harus bekerja. Ketika berada di depan komputer, juga sudah sangat tidak nyaman.

Sempat terpikir untuk ke tukang pijat atau tukang urut. Tapi, karena saya yakin ini cidera, akhirnya saya putuskan untuk ke tempat saja di . Saya pernah baca, sebenarnya tidak masalah kalau ke tukang pijat atau tukang urut, tapi mungkin ketika untuk kasus badan capek, biar lebih segar, namun bukan untuk kondisi cidera. Jadi, bukannya tukang pijit/tukang urut itu jelek atau tidak direkomendasikan, kali ini soal pilihan saya saja.

Mencari tempat fisioterapi di Jogjakarta

Sebelumnya, saya sering dengar bahwa di Jogja memang ada beberapa tempat untuk fisioterapi. Mulai dari yang ada di rumah sakit, atau yang berpraktik secara mandiri. Di Universitas Negeri , ada juga tempat semacam ini, namanya Physical Therapy Clinic FIK UNY.

Saya coba di , ada juga beberapa rumah sakit yang memiliki layanan fisioterapi. Semakin mencari, semakin banyak pilihan. Jadilah saya bertanya ke teman saya yang sebelumnya pernah juga melakukan fisioterapi di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNY.

Setelah berdiskusi, saya mendapatkan opsi lain kalau mau, dan dia juga sudah mencobanya, dan merekomendasikan ke saya untuk coba ke Jogja Orthopaedic Sport Clinic (). Saya tanya kapan kali terakhir ke sana, katanya sekitar dua bulan lalu.

Booking appointment

Saat itu, saya lebih perlu untuk segera mendapatkan pertolongan. Saya buka dulu situs Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC) di jogjaorthosportclinic.com. Saya baca profil singkatnya, dan saya lakukan booking appointment. Sejujurnya, agak ragu apakah saya segera mendapatkan balasan atau tidak. Jadi, saya langsung coba kontak melalui .

Sekitar jam 09.00 WIB saya terhubung melalui WhatsApp dan saya langsung melakukan booking appointment untuk pukul 11.00 WIB hari itu juga.

Jadi, JOSC ini lokasinya ada di Jalan Colombo No. 6C, di kompleks ruko sebelah sisi selatan kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Lokasi persisnya ada di sebelah Pizza Hut Delivery. Lokasi yang cukup menguntungkan untuk yang bawa kendaraan roda empat, karena parkir bisa langsung di depan lokasi.

Perbaruan info (Desember 2021): Lokasi JOSC yang baru berada di Jl. Pakuningratan No. 32A, tidak jauh dari Yogyakarta.

Terapi di JOSC

Saya datang sekitar pukul 11.00 (agak mepet dari jadwal) karena lalu lintas yang agak padat ketika menuju ke sana. Pertama untuk protokol , ada tempat cuci tangan dan sabun yang tersedia di dekat pintu masuk. Ketika sampai di meja resepsionis, saya juga diperiksa suhu badan. All good.

Karena baru pertama kali datang, saya diminta untuk mengisi melalui formulir yang disediakan. Data yang diisi juga data-data umum saja.

Servis Rutin Mobil Menggunakan Layanan Honda Extra Care

Bukan Oktober ini, akhirnya memutuskan untuk melakukan perawatan berkala kendaraan roda empat milik kami. Perawatan ini ini untuk servis 50.000 km. Mobil ini memang bukan mobil baru, namun mobil tangan kedua menggantikan mobil sebelumnya — dari merek yang sama yaitu — tapi dengan model yang berbeda. Sewaktu beli, saat itu angka kilometer masih menunjukkan sekitar 27.000 km.

Di servis sebelumnya tahun 2019 lalu (ketika ambil servis rutin per 10.000 km), saya mendapatkan opsi apakah akan langsung mengambil paket perawatan untuk servis berikutnya. Dengan pertimbangan bahwa secara hitungan memang lebih murah — saya lupa tepatnya berapa selisihnya, tapi nominalnya cukup lumayan juga — dan karena juga memang untuk servis kendaraan sebisa mungkin dilakukan rutin, jadi saya ambil penawaran tersebut.

Saat itu, saya membayar Rp2.770.000,- untuk total dua kali servis. Dan, saya bisa menggunakan “jatah” servis ini sampai satu tahun berikutnya, atau di kilometer di jadwal berikutnya. Saya pikir, dengan mobillitas saya yang sebenarnya juga tidak banyak dengan mobil, tapi satu tahun untuk menempuh jarak sekitar 10.000 km sepertinya bisa jadi.