Search on 2020

An interesting video about the advanced technology implementation on Google Search. That includes hum to search on Google app.

Tarif Bus DAMRI Malioboro-Pantai Parangtritis, Malioboro-Pantai Baron, dan YIA-Pantai Baron (Oktober 2020)

Walaupun masih dalam masa pandemi COVID-19, Perusahaan umum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) membuka beberapa rute baru di Yogyakarta, untuk menjangkau beberapa tempat wisata — khususnya pantai — dan termasuk Yogyakarta International Airport (YIA).

Bupati Bantul Suharsono saat meresmikan DAMRI Palbapang-YIA di Terminal Palbapang, Kamis (17/9/2020) (Sumber foto: Jumali/Harian Jogja)

Hal tersebut untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam masa pandemi COVID-19.

Khusus untuk tujuan pantai, memang ini masih menjadi tantangan tersendiri, karena angkutan umum publik yang selama ini memang bisa dikatakan cukup minim. Layanan seperti Grab atau Gojek mungkin masih menjadi opsi yang lebih menarik walaupun secara biaya juga tidak tergolong murah. Tapi, itu opsi yang mungkin terbaik.

Opsi lain, tentu saja dengan menggunakan kendaraan pribadi, termasuk bagi wisatawan yang datang ke Jogja, bisa saja dengan menyewa sepeda motor.

Tarif dan Rute

Berikut daftar rute dan tarif DAMRI yang bisa dijadikan rujukan. Rute ini mulai beroperasi pada 15 Oktober 2020.

Xiaomi Poco X3 NFC

Belum ada satu minggu sejak Apple meluncurkan iPhone 12 Mini, iPhone 12, iPhone 12 Pro, dan iPhone 12 Pro Max, Xiaomi meluncurkan Xiaomi Poco X3 NFC. Tertarik dengan iPhone 12? Tentu saja, tapi harganya sangat tidak menarik, apalagi pembelian ponsel di kondisi saat ini jelas bukan menjadi prioritas.

Yang menarik justru Xiaomi Poco X3 NFC, bukan soal fiturnya saja yang sangat tidak jelek sama sekali, tapi harganya juga sangat luar biasa. Kalau soal spesifikasi, bisa dilihat di GSM Arena atau melalu serangkaian cuitan dari akun POCO Indonesia di Twitter ini.

Harga POCO X3 NFC

  • 6GB+64GB = Rp3.099.000
  • 8GB+128G = Rp3.499.000

Haduh, kalau ada yang mau memberikan saya ponsel ini sebagai ponsel pertama dengan merek Xiaomi, akan saya terima dengan senang hati!

Robot Vacuum Cleaner/Robot Penghisap Debu. Pilih yang Mana?

Setelah menjajal Kurumi KV 01 Anti Dust Mites UV Vacuum Cleaner di bulan September lalu, saya dan istri akhirnya berpikir kembali untuk membeli satu perangkat untuk membantu bebersih di rumah.

Catatan

Tulisan ini bukan tulisan bersponsor. Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan seluruh merek/produk yang disebutkan dalam tulisan ini. Semua yang saya tulis merupakan pendapat pribadi.


Tujuannya tetap, supaya kegiatan bebersih jadi sedikit lebih enteng, karena sudah sekitar tujuh bulan ini benar-benar tanpa ART dengan kegiatan bebersih rutin tiap hari untuk menyapu dan pel antara 1-3 hari, tergantung kondisi lantai juga, karena kebetulan tempat tinggal kami memiliki dua lantai. Pilihan akhirnya jatuh kepada keputusan untuk membeli robot vacuum cleaner. Masalahnya, pilihannya begitu banyak. Bukan hanya soal merek, tapi juga fitur, rentang harga juga cukup bervariasi.

5 alasan saya mengapa akhirnya membeli robot vacuum cleaner atau robot penghisap debu

Sudah cukup lama sebenarnya saya tertarik untuk beli, namun karena dulu masih merasa belum perlu — karena ada ART, dan merasa untuk membersihkan lantai juga masih bisa dilaukan sendiri — jadi keinginan tersebut selalu ditunda.

Bagi kami, beberapa hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Efisiensi waktu, tenaga, dan biaya
    Untuk menyapu lantai satu (bagian area dalam dan semi outdoor), kadang masih dlanjutkan dengan mengepel. Lantai dua beberapa area memang tidak disapu tiap hari, hanya yang benar-benar ada aktivitas rutin seperti kamar tidur dan ruang kerja. Area lain kadang juga disempatkan. Dengan tanpa ART, jadilah urusan lain juga harus beres. Jadi, mengenai biaya, budget untuk ART ini bisa dialihkan untuk membeli robot vacuum cleaner ini — karena kami juga belum menggunakan jasa bebersih yang bisa datang harian. Paling tidak, jikapun tidak dipel, tapi lantai sudah disapu.
  2. Portabel dan nirkabel
    Karena sifatnya portabel, jadi cukup mudah untuk saya gunakan di lantai satu dan lantai dua, walaupun charging dock memang hanya ada satu. Mungkin satu saat kalau ada rejeki, bisa ada satu lagi. Amin.
    Berbeda dengan alat vacuum yang menggunakan kabel, dengan tanpa kabel otomatis penggunaan juga jadi lebih fleksibel secara jangkauan.
  3. Otomatisasi
    Karena memiliki fitur yang cukup canggih dan terintegrasi dengan beberapa model pengaturan, jadi lebih fleksibel dalam operasional. Termasuk untuk urusan pengisian baterai. Jadi, saya tinggal atur misalnya kapan si ‘robot’ ini harus membersihkan dan area mana saja — misal jam 22.00 WIB.
  4. Ukuran ringkas dan minim perawatan
    Untuk ukuran juga menjadi penting. Dengan ukuran yang cukup mini, penyimpanan juga lebih tidak makan tempat. Selain itu, robot vacuum cleaner semacam ini juga memiliki bobot yang tidak terlalu berat. Mengenai perawatan, selain beberapa aksesories yang seharusnya juga mudah didapatkan dari produsen, komponen lain juga tidak terlalu rumit untuk perawatannya.
  5. Jangkauan lebih luas dan menyedot debu dengan lebih baik
    Area bawah tempat tidur merupakan area yang cukup sulit untuk dibersihkan, disamping ada juga sofa untuk tamu dan sofa bed. Selain susah dijangkau sepenuhnya dengan sapu, pun sudah disapu biasanya kotoran dan terutama debu cenderung berpindah tempat. Jadi, kalau disapu, debu malah justru terbang kemana-mana. Untuk tempat tidur, kebiasaan selama ini jika membersihkan saya lebih sering geser dipan dan tempat tidur, disapu, dipel, kemudian dikembalikan lagi.

Pertimbangan menentukan pilihan robot vacuum cleaner

Setelah memiliki pertimbangan yang cukup, saatnya memilih: produk robot vacuum cleaner mana yang paling cocok (untuk kami)? Secara umum, ada dua hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Spesifikasi produk dan ulasan
  2. Budget dan harga

Mari kita bahas sedikit.

OpenVPN Install (Ubuntu 20.04)

openvpn-install

This script will let you set up your own VPN server in no more than a minute, even if you haven’t used OpenVPN before. It has been designed to be as unobtrusive and universal as possible.

GitHub: openvpn-install

I tested it on Ubuntu 20.04, and it works like a charm.

Mendapatkan Salinan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Karena satu dan lain hal sekitar dua minggu lalu saya sempat hampir harus mendapatkan kerepotan karena tidak mendapatkan Salinan Surat Pemberitahuan Pajak (SPPT) PBB. Singkatnya, saya perlu untuk melihat informasi yang ada dalam SPPT PBB.

Jika konteksnya mengenai pembayaran, hal ini mudah saja. Berbekal dengan informasi Nomor Objyek Pajak (NOP), pembayaran bisa dilakukan.

Meminta Salinan SPPT PBB

Pengalaman ini untuk proses yang terjadi di kota Yogyakarta. Untuk mendapatkan salinan SPPT PBB, kita perlu mengunjungi Balai Kota Yogyakarta (di bagian sisi timur kompleks balaikota). Ada lembar yang perlu diisi dan akan ditujukan untuk Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Yogyakarta di Jalan Kenari No. 56.

Sempat ciut juga karena perlu untuk mempersiapkan dokumen pendukung yaitu:

  1. Fotokopi KTP Wajib Pajak (bagaimana wajib pajak sudah meninggal, mungkin harus melampirkan surat kematian?)
  2. Fotokopi sertifikat. Ini tentu bisa merepotkan juga.
  3. Fotokopi SPPT PBB tahun sebelumnya. Kalau selama ini langsung bayar tanpa mendapatkan SPPT, ini bisa jadi repot lagi.

Sekali lagi, beruntung karena tidak perlu melewati proses ini. Karena, mendapatkan dokumen pendukung bisa jadi sangat merepotkan. Sangat.

Prosedur Mendapat/Melepas Kewarganegaraan Indonesia

Tata Cara Mendapat dan Melepas Kewarganegaraan Indonesia

Dalam Undang-Undang, persoalan Kewarganegaraan Indonesia diatur dalam UU nomor 12 tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 2 tahun 2007. Menurut UU, ada 13 golongan Warga Negara Indonesia (WNI) ditinjau dari cara mendapatkannya.

Sumber: indonesia.go.id

Menjajal Kurumi KV 01 Anti Dust Mites UV Vacuum Cleaner (September 2020)

Catatan:

Tulisan ini bukan tulisan bersponsor. Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan produsen penghisap debu merek Kurumi ini. Semua yang saya tulis merupakan pendapat pribadi, hasil/pengalaman berbeda dalam menggunakan produk ini tentu sangat mungkin terjadi.


Karena ada di rumah terus selama pandemi, secara otomatis justru makin melihat barang-barang di rumah setiap hari dengan sedikit lebih detil dari biasanya.Dan, beberapa barang yang awalnya jarang terpakai, akhirnya jadi harus dimanfaatkan kembali. Misalnya karpet.

Sumber Debu

Di perumahan tempat saya tinggal, sebenarnya dalam kondisi “normal” lingkungan bisa dikatakan bersih, nyaman. Kendaraan hanya kendaraan pribadi saja, debu pasti ada misal dari jalanan depan rumah yang pakai konblok.

Musim kemarau ini otomatis debu memang jadi cenderung lebih banyak. Dan juga, beberapa rumah di lingkungan perumahan — yang lokasinya sangat dekat dengan rumah saya — sedang banyak aktivitas renovasi. Jadi, selain urusan suara mesin potong, ataupun ketokan palu, debu otomatis jauh lebih banyak.

Apalagi, kalau sudah sampai tahap memotong keramik. Bahkan, saat ini tetangga belakang persis, sedang merenovasi rumah, dan memotong keramik sudah beberapa hari belum selesai. Jadilah, bagian belakang sebisa mungkin ditutup rapat. Tapi, debu potongan keramik kan benar-benar halus ya.

Terbang, mendarat di lantai, kena kaki, masuk rumah… Duh!

Menjajal Kurumi KV 01

Sebenarnya ada vacuum cleaner di rumah, namun model sangat lama, dan sepertinya sudah waktunya dipensiunkan. Oh. ya, proses akhirnya menjajal ini termasuk tidak sengaja. Ketika istri sedang lihat-lihat untuk menyewa permainan untuk anak di rumah, ternyata tempat persewaan tersebut juga menyewakan Kurumi seri KV 01 ini.

Singkatnya, akhirnya kami coba sewa beberapa hari. Tidak ada ekspektasi yang berlebihan, namun daya sedot yang kuat, ada fitur antibacterial UV Light sudah cukup dijadikan alasan.

Kurumi KV 01 yang kami sewa tersedia dalam varian warna merah. Kali pertama datang dan saya buka dari kardus lalu saya pegang, kesan pertama yang saya rasakan adalah alatnya ternyata cukup berat. Dan, ini dioperasikan langsung dengan dipegang tangan, tanpa alat bantu lainnya.

Ada beberapa barang di rumah kami yang memang diprioritaskan untuk dibersihkan mumpung ada alat ini diantaranya sofa utama ruang tamu beserta dengan bantal-bantalnya, sofa bed, kasur tempat tidur, dan karpet. Dimana semuanya adalah barang-barang yang hampir setiap hari digunakan atau bersentuhan.

Karena debu dan partikel kecil memang sangat sulit untuk terlihat, jadilah baru terlihat seberapa kotor barang-barang yang di rumah.

Tanaman Hidroponik Agak Kurang Cahaya

Sudah beberapa minggu saya memutuskan untuk memcoba membuat instalasi penanaman sendiri di rumah dengan menggunakan pipa pralon. Ukuran yang saya gunakan adalah 3 inchi, dengan netpot berukuran 7cm. Sepertinya ini kombinasi yang cukup pas. Ya, namanya juga eksperimen, jadi masih ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Secara umum sih, untuk pasokan nutrisi AB Mix sudah cukup terdistribusi dengan baik melalui pompa air yang digunakan.

Mengenai lokasi, instalasi ini saya letakkan di halaman belakang, karena lahan memang cukup terbatas. Area memang terkena sinar matahari secara langsung, namun tidak seharian. Mungkin sekitar 2-3 jam saja. Kurang ideal sebenarnya, tapi walaupun tidak terkena sinar matahari langsung, cahaya matahari sih masih bisa terserap.

Hasilnya? Tanaman kangkung yang paling kelihatan efeknya. Walapun terlihat segar, tapi tidak kelihatan cukup gemuk dan berkembang daunnya. Jadi, mungkin khusus untuk kangkung akan saya kembalikan ke sistem wick saja sehingga bisa diletakkan di area yang mendapatkan lebih banyak sinar matahari.

Prioritas Pemberian Vaksin COVID-19

Walaupun penanganan juga masih terus diusahakan dan hasilnya juga kok ya sepertinya belum terlalu mengesankan, namun pernyataan tersebut perlu dicatat. Apakah nanti ada pihak-pihak yang sebenarnya mampu atau bisa dalam kondisi tidak mendesak namun memaksakan diri untuk mendapatkan vaksin dengan lebih cepat? Ya, kita lihat saja nanti.

Gusti Kanjeng Ratu Hayu: Being a Modern Royal Javanese Princess

Princess Hayu grew up in a Royal Family which never told her to conform to society’s perception of how a royal princess should be. Therefore, she went her own way and became an IT specialist. She believes that despite the existing patriarchal culture, women are capable of defying stereotypes and build their paths to success.