Harga Minyak Goreng

Cuitan Presiden Jokowi mengenai pembukaan kembali ekspor miyak goreng dan harga yang sudah beranjak turun.

Walaupun, realitanya — paling tidak di area tempat tinggal saya — di supermarket atau warung belum terlihat juga penurunannya.

“Tiba-tiba Presiden (Jokowi) memerintahkan saya untuk mengurus minyak goreng. Jadi sejak tiga hari lalu, saya mulai menangani masalah kelangkaan minyak goreng”

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, 21 Mei 2022. (Sumber)

Tentang Hepatitis Akut Misterius Pada Anak

Walaupun pandemi COVID-19 belum dikatakan usai, namun melihat tren kasus, dan bagaimana kegiatan sehari-hari berjalan dengan “lebih baik”, rasanya melegakan sekali. Keluarga saya hampir semua sudah vaksinasi COVID-19 dua kali dan satu kali booster, kecuali anak saya yang baru tiga tahun. Semoga bisa segera juga bisa vaksinasi.

Namun, sepertinya kewaspadaan terutama terkait dengan penyakit yang “baru” harus tetap dijaga. Ya, terkait hepatitis akut (dan) misterius. Akut karena dinilai membahayakan dan sudah ada korban jiwa, misterius karena belum diketahui pasti penyebabnya.

Penyakit hepatitis akut ini belum diketahui penyebabnya. Kasus pertama kali ditemukan di Inggris Raya 5 April 2022. Setelahnya, dilaporkan terjadi peningkatan kasus di Eropa, Asia, dan Amerika

Pada 15 April 2022, WHO menetapkan penyakit Hepatitis Akut sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa).

Melalui utas informasi Kementerian Kesehatan di Twitter, berikut beberapa poin informasi mengenai hepatitis akut ini.

  • Di Indonesia sendiri, dalam kurun waktu 2 minggu hingga 30 April 2022, terdapat tiga dugaan kasus pasien anak Hepatitis Akut meninggal setelah mendapatkan perawatan intensif di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta (Sumber)
  • Penyakit Hepatitis Akut menyerang anak usia 0-16 tahun, paling banyak anak usia di bawah 10 tahun.Virus ini sangat berbahaya, beberapa anak dilaporkan meninggal, bahkan 17 dari 170 anak dengan Hepatitis Akut membutuhkan transplantasi hati. (Sumber)
  • Belum diketahui secara jelas penyebab Hepatitis Akut, namun diduga berasal dari Adenovirus 41, SARS CoV-2, virus ABV dll. Adenovirus umumnya menular lewat saluran cerna dan saluran pernafasan. Cara penularan melalui droplet, air yang tercemar & transmisi kontak. (Sumber)

Gejala Hepatitis Akut

  • Gejala awal Hepatitis Akut adalah gangguan gastrointestinal seperti sakit perut, mual, muntah, diare & kadang disertai demam.
  • Gejala bisa berlanjut jadi lebih parah ketika urine berwarna seperti teh, BAB putih pucat, kulit & mata kuning, bahkan sampai penurunan kesadaran. (Sumber)

Pencegahan dan Penanganan

Secara prinsip, pola dan gaya hidup sehat menjadi komponen yang sangat penting. Hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan selama pandemi COVID-19 sepertinya sangat masuk akal untuk terus diterapkan.

Untuk anak saya, kebiasaan selalu cuci tangan dan kaki kalau habis bermain di luar, dan mandi setelah bepergian, jelas sangat baik. Walaupun sekarang sudah lebih longgar untuk bepergian, tapi lebih baik tetap lebih selektif lagi.

PANTONE: Freedom Blue, Energizing Yellow

Gagal Login ke Akun Jenius

Lalu bagaimana cara mengambil uang kalau tidak bisa masuk ke aplikasi sama sekali?

Walaupun jarang menggunakan Jenius untuk transaksi, tapi saya memang masih kadang pakai, sekadar untuk menerima pembayaran. Setelah dana masuk, saya yang akan mentransfer ke rekening bank lain. Ini untuk memfasilitasi beberapa pihak yang memilih menggunakan Jenius untuk mengiriman donasi dari kegiatan berbagi bersama yang saya lakukan.

Ketika selama ini saya gagal terus masuk ke aplikasi Jenius di iPhone, saya dapat melakukan transaksi melalui website Jenius. Setelah otentikasi di aplikasi mobile, saya dapat OTP, saya masukkan OTP, mengeset PIN, lalu saya gagal masuk ke aplikasi, dengan pesan session expired.

Apakah ini terkait dengan kondisi terakhir saya masih terotentikasi di ponsel Android? Tidak tahu juga. Yang pasti, ponsel Android saya memang tidak bisa dipakai saat ini. Akses transaksi melalui web yang sebelumnya berhasil, saat ini juga tidak bisa.

Solusi satu-satunya apakah menghubungi layanan nasabah, untuk sesuatu yang mungkin terkait dengan permasalahan di sistem?

Update: Sepertinya memang satu-satunya solusi adalah menghubungi pihak Jenius — sebelum akses melalui situs sudah kembali normal. Saya lihat di Twitter, ada yang mengeluhkan kondisi yang sama.

Dan, jawaban dari @JeniusHelp di Twitter ini saya rasa sudah cukup jelas.

OK, ribet.

Merayakan Dicukupkan

Juni lalu, ada sebuah ‘kegelisahan’ yang saya rasakan, dan istri saya juga merasakan hal yang kurang lebih sama. Pandemi yang ternyata bukan membaik, tapi justru semakin memberikan dampak yang lebih berat lagi.

Photo by Mariana Kurnyk from Pexels

Saya hampir tidak baca bagaimana analisis perekonomian nasional dalam masa pandemi. Atau, bagaimana ekonomi secara global. Tapi, sama seperti milyaran manusia di bumi ini, saya tahu yang pasti: semua kena imbasnya. Tentu, ada juga yang secara ekonomi atau bisnis justru sedang menuai.

Itu satu hal.

Saya lebih memilih untuk melihat yang ada di depan mata. Yang sehari-hari terlihat, dan begitu nyata. Dan, semakin melihat banyak hal, semakin terusik perasaan saya. Sangat tidak enak. Saya tidak nyaman.

Dari sekian banyak hal-hal yang bisa dilakukan, segala macam rencana ini dan itu — dari beberapa hal yang sudah berjalan — saya bersama istri akhirnya menambahkan satu lagi komitmen kecil untuk merayakan bagaimana kami selama ini telah sangat dicukupkan.

Kami ingin melakukan hal yang telah banyak dilakukan oleh orang banyak, termasuk beberapa teman yang bahkan jauh lebih dulu. Dulu pernah juga ikut “nebeng” ke aktivitas yang dibuat beberapa teman, dan dengan senang hati melakukannya.

Iya, berbagi nasi/makanan. Karena, dengan kondisi pandemi saat ini, jika ada satu hal yang mungkin harus tercukupi, salah satunya adalah soal bagaimana bisa tetap makan.

Kemasan nasi bungkus yang dibagikan.

Begini rencana awalnya…

“Pesan ke salah satu saudara yang buka warung makan, minta tolong langsung dibungkus, dan nanti diletakkan di depan warung/area dekat situ. Bagi siapapun yang mau ambil, silakan ambil. Kalau habis, ya sudah. Komitmen untuk dua kali seminggu, tidak tahu sampai kapan.”

Kurang lebih rencananya seperti itu. Tidak ada yang sangat istimewa, dan setelah dipikirkan dan dipertimbangkan, harusnya sangat doable.

Soal mekanisme pemesanan, menu, dan lainnya secara detil sudah oke, dan dengan saudara kami ini, memiliki semangat yang sama, dan menyambut baik rencana ini.

Jadi, kami menyerahkan tentang kapan makanan ini akan di masak dan didistribusikan. Dan, karena distribusi tidak akan jauh dari tempat saudara ini, jadi harapannya soal “waktu” bisa lebih disesuaikan sesuai kebutuhan di area tersebut. Oh ya, untuk waktu walaupun bebas kami sepakat untuk tidak di hari Jumat. Karena sepengetahuan kami untuk Jumat sudah banyak saudara-saudara yang sudah berbagi berkat. Kami memilih dua hari yang lain.

Soal menu, kami inginnya tidak hanya soal kuantitas yang penting banyak, tapi harapannya juga secara komposisi cukup baik. Kalau telur atau daging bisa hadir, kenapa tidak?

Semua sudah OK, dana dari komitmen juga sudah ada untuk beberapa minggu ke depan. Jadi, bagaimana kalau langsung mulai saja?

Ulasan Monitor LED Dell S2721DS 27 Inchi

Beberapa waktu setelah saya bekerja dari rumah, saya sempat terpikir untuk memiliki sebuah monitor yang berukuran agak besar untuk kenyamanan bekerja. Saya sempat gunakan juga sebenarnya “televisi” sebagai monitor, tapi tentu saja ini bukan pilihan yang bijak.

Akhirnya, setelah satu tahun lebih, saya memutuskan untuk membeli sebuah monitor yang akan saya gunakan bersama dengan MacBook Pro 15″.

Catatan:

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan dana pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan produsen monitor, maupun layanan lain yang disebutkan dalam artikel ini. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Karena sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan monitor, awalnya saya agak bingung harus memulai pencarian saya dari mana. Akhirnya, saya lemparkan pertanyaan sekaligus meminta rekomendasi melalui linimasa Twitter saya. Berikut beberapa balasan rekomendasi, atau paling tidak yang sedang dipakai:

  1. Dell S2721DS
  2. ThinkVision T27P10
  3. Dell s2721QS
  4. Thinkvision E24-20
  5. LG 24” 4K 24UD58-B

“Beruntung” tidak terlalu banyak rekomendasi yang bisa membuat saya bisa tambah bingung menentukan pilihan. Awalnya, saya berpikir untuk membeli yang 24″ karena sudah cukup besar. Ternyata, beberapa rekan yang kesehariannya bekerja dengan monitor eksternal lebih merekomendasikan untuk ukuran 27″.

Untuk mempermudah pilihan, saya menentukan anggaran paling tinggi Rp4.000.000,-. Dan, setelah membaca beberapa ulasan, melihat ulasan dari pengguna lain, saya memutuskan untuk membeli Dell S2721DS.

Spesifikasi

Berikut spesifikasi dasar untuk Dell S2721DS:

  • Ukuran panel: 27 inchi
  • Tipe panel: IPS
  • Resolusi: QHD 2560 x 1440 @ 75 Hz
  • Aspek rasio: 16:9
  • Konektor: 2x HDMI 1.4, 1x DP1.2
  • Daya: 19 watt (sleep/standby: 0,3 watt)

Spesifikasi lengkap dapat dilihat di situs Dell.

Pembelian

Awalnya saya berniat untuk membeli produk ini secara langsung di toko komputer. Namun, ternyata barang ini tidak banyak bisa saya temukan. Saya tanyakan ke salah satu teman saya yang juga sudah memiliki produk ini, ternyata barang sedang tidak ada dalam stok, dan harga saat ini lebih tinggi dibanding saat dia membelinya.

Clubhouse

Foto oleh Papa Yaw via Pexels

Saya bukan termasuk pengguna awal aplikasi Clubhouse yang di bulan Februari 2021 ini menjadi sangat populer. Paling tidak, di linimasa media sosial yang saya gunakan seperti Twitter dan Instagram, banyak berseliweran konten atau cuitan mengenai Clubhouse.

Dan, baru di pertengahan Februari lalu saya menginstal aplikasi ini. Jadi, karena (saat ini) aplikasi ini hanya tersedia di untuk platform iOS, sedangkan ponsel utama saya justru dengan sistem operasi Android, jadi saya tidak terlalu sepenasaran itu. Apalagi, saat ini memang masih dalam tahap invite only.

Akhirnya, saya instal Clubhouse di iPad saya. Dan, ternyata saya sudah semacam diundang terlebih dahulu oleh salah seorang pengguna awal Clubhouse. Jadi, begitu saya daftar, saya malah langsung punya akun aktif.

Saya eksplorasi dan akhirnya bergabung dalam beberapa diskusi. Menarik sebelumnya, karena seolah mencari tongkrongan secara virtual — dan hanya audio saja. Dan, menarik juga. Saya belum ketemu “tongkrongan wajib”, tapi sudah ada beberapa ‘room’ yang sepertinya menarik untuk diikuti.

Sudah bergabung? Saya ‘thomasarie’ di Clubhouse.

EIGER

Di linimasa Twitter saya kemarin, tiba-tiba banyak dipenuhi oleh cuitan mengenai kejadian yang melibatkan EIGER (PT. Eigerindo Multi Produk Industri) melalui akun @eigeradventure di Twitter dan (awalnya) dengan salah seorang warganet yang membagikan surat keberatan terkait sebuah ulasan video yang diunggah di platform YouTube.

Ketika saya melihat isi surat keberatan tersebut, saya langsung menuju ke laman video-nya yang berjudul “REVIEW Kacamata EIGER Kerato l Cocok Jadi Kacamata Sepeda” karena penasaran juga. Lalu saya putar videonya, dari awal sampai akhir, tanpa ada bagian yang saya lewatkan. Komentar saya: “Ini video dan kontennya bagus! Ulasan personal, dan secara umum menginformasikan sesuatu yang positif terhadap produk (kacamata) dari EIGER!”

Saya juga sering melakukan ulasan untuk produk, jasa, atau layanan di situs ini. Namun memang jarang yang sifatnya audio/visual. Dari persepektif kreator (di video tersebut) saya apresiasi sekali karena membuat konten tersebut juga membutuhkan usaha.

Biaya Denda Kekurangan Dana di Layanan Jenius BTPN

Walaupun sudah lebih dari satu tahun saya memiliki akun Jenius, sampai saat ini Jenius masih belum menjadi pilihan utama untuk urusan terkait perbankan. Bagi saya, berpindah layanan perbankan bukan sebuah keputusan yang cukup mudah dilakukan. Ini juga terkait dengan perubahan pola/cara saya dalam bertransaksi yang makin hari ternyata makin banyak menggunakna e-wallet seperti GoPay, OVO, Dana, dan ShopeePay.

Untuk layanan perbankan, saya masih menggunakan BCA dan CIMB Niaga sebagai akun utama.

Bagaimana layanan Jenius?

Karena tidak terlalu aktif menggunakannya, bahkan sepertinya saya lebih banyak menggunakan karena beberapa rekan sudah cukup lama perlu melakukan transfer dana ke saya melalui Jenius. Untuk transaksi lain seperti pembayaran menggunakan kartu fisik, atau transaksi digital, hampir tidak pernah saya gunakan.

Beberapa kartu tambahan yang saya miliki hampir tidak pernah saya gunakan. Tentu saja ini efek dari bahwa saya cenderung lebih memilih untuk cardless.

Jadi, bukan berarti layanan atau fitur Jenius jelek, tapi memang sepertinya tidak cocok untuk saya. Kartu Jenius bisa langsung dipakai untuk pembayaran MRT di Singapura, atau memudahkan dalam penarikan uang tunai di ATM selama di luar negeri. Tapi, sejak saya punya kartu ini, otomatis hal tersebut saya tidak gunakan sama sekali karena memang tidak ada keperluan ke luar negeri.

Kalau tentang mobile application, saya cuma merasakan kalau kecepatan aplikasi Jenius belum dapat dibandingkan dengan aplikasi perbankan lain. Di linimasa Twitter — walaupun ini tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan — banyak keluhan kalau aplikasi lambat, dan tak jarang tidak dapat digunakan karena data tidak muncul dengan sempurna.

Rental Bioskop Cinépolis

Sepertinya, penawaran untuk merental bioskop Cinépolis Indonesia baru-baru ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang ingin menikmati nonton film dengan suasana bioskop — layar besar dan audio yang memanjakan telinga memang sulit tergantikan. Cinépolis — dulu namanya Cinemaxx — memiliki beberapa paket layanan rental.

Saya kunjungi situs cinepolisrental.com dan beberapa inforamsi sudah ada disana. Selain untuk menonton dengan fasilitas standar menonton bioskop ala Cinèpolis Indonesia, rental ini bisa juga untuk keperluan lain seperti gathering, meeting, pesta, atau main game bersamaan. Yang pasti, jika ini terkait “berkumpul dalam jumlah terbatas, dengan orang-orang yang sudah dikenal/ditentukan saja”, tentu ini menjadi opsi menarik.

Ada tiga pilihan paket:

  1. Squad, harga Rp599.000,-
  2. Superhero, harga Rp799.000,-
  3. Empire, harga Rp999,000,-

Fasilitas ketiga paket tersebut sama yaitu untuk durasi 2 jam (dengan tambahan 1 jam sebelum dan setelah acara), menentukan film dan waktu. Yang membedakan adalah kapasitas maksimum pengunjung, yaiut 15, 20, dan 25 orang.

Mungkin layanan ini cocok untuk mereka yang ingin tetap menikmati hiburan di bioskop — walaupun tidak harus nonton — tapi bersama dengan orang-orang yang lebih terseleksi, sehingga faktor kesehatan dan keamanan di masa pandemi COVID-19 ini lebih terjaga.

Sayangnya, memang belum semua bioskop Cinèpolis mendukung promo/layanan ini. Saat ini, baru berlaku di Jakarta, yaitu Pluit Village, Plaza Semanggi, Gajah Mada Plaza, Tamini Square, Cibubur Junction dan Metro Kebayoran. Periode waktu berlangsung sampai 3 November 2020, dan dapat berubah. Mungkin bisa berlangsung lebih cepat, atau sebaliknya.

Terkait dengan materi film, apakah boleh membawa film sendiri atau tidak, dan pilihan film apa saja, kondisinya cukup sederhana:

  1. Film yang diputar hanya yang sedang berlangsung di Cinèpolis,
  2. Jika membawa film sendiri, film diharusnya merupakan film yang original.

Untuk memutar di layar besar, pihak Cinèpolis hanya menyediakan kabel HDMI saja. Jadi laptop dan piranti lainnya perlu disediakan sendiri.

Tertarik?

Xiaomi Poco X3 NFC

Belum ada satu minggu sejak Apple meluncurkan iPhone 12 Mini, iPhone 12, iPhone 12 Pro, dan iPhone 12 Pro Max, Xiaomi meluncurkan Xiaomi Poco X3 NFC. Tertarik dengan iPhone 12? Tentu saja, tapi harganya sangat tidak menarik, apalagi pembelian ponsel di kondisi saat ini jelas bukan menjadi prioritas.

Yang menarik justru Xiaomi Poco X3 NFC, bukan soal fiturnya saja yang sangat tidak jelek sama sekali, tapi harganya juga sangat luar biasa. Kalau soal spesifikasi, bisa dilihat di GSM Arena atau melalu serangkaian cuitan dari akun POCO Indonesia di Twitter ini.

Harga POCO X3 NFC

  • 6GB+64GB = Rp3.099.000
  • 8GB+128G = Rp3.499.000

Haduh, kalau ada yang mau memberikan saya ponsel ini sebagai ponsel pertama dengan merek Xiaomi, akan saya terima dengan senang hati!

Robot Vacuum Cleaner/Robot Penghisap Debu. Pilih yang Mana?

Setelah menjajal Kurumi KV 01 Anti Dust Mites UV Vacuum Cleaner di bulan September lalu, saya dan istri akhirnya berpikir kembali untuk membeli satu perangkat untuk membantu bebersih di rumah.

Catatan

Tulisan ini bukan tulisan bersponsor. Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan seluruh merek/produk yang disebutkan dalam tulisan ini. Semua yang saya tulis merupakan pendapat pribadi.


Tujuannya tetap, supaya kegiatan bebersih jadi sedikit lebih enteng, karena sudah sekitar tujuh bulan ini benar-benar tanpa ART dengan kegiatan bebersih rutin tiap hari untuk menyapu dan pel antara 1-3 hari, tergantung kondisi lantai juga, karena kebetulan tempat tinggal kami memiliki dua lantai. Pilihan akhirnya jatuh kepada keputusan untuk membeli robot vacuum cleaner. Masalahnya, pilihannya begitu banyak. Bukan hanya soal merek, tapi juga fitur, rentang harga juga cukup bervariasi.

5 alasan saya mengapa akhirnya membeli robot vacuum cleaner atau robot penghisap debu

Sudah cukup lama sebenarnya saya tertarik untuk beli, namun karena dulu masih merasa belum perlu — karena ada ART, dan merasa untuk membersihkan lantai juga masih bisa dilaukan sendiri — jadi keinginan tersebut selalu ditunda.

Bagi kami, beberapa hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Efisiensi waktu, tenaga, dan biaya
    Untuk menyapu lantai satu (bagian area dalam dan semi outdoor), kadang masih dlanjutkan dengan mengepel. Lantai dua beberapa area memang tidak disapu tiap hari, hanya yang benar-benar ada aktivitas rutin seperti kamar tidur dan ruang kerja. Area lain kadang juga disempatkan. Dengan tanpa ART, jadilah urusan lain juga harus beres. Jadi, mengenai biaya, budget untuk ART ini bisa dialihkan untuk membeli robot vacuum cleaner ini — karena kami juga belum menggunakan jasa bebersih yang bisa datang harian. Paling tidak, jikapun tidak dipel, tapi lantai sudah disapu.
  2. Portabel dan nirkabel
    Karena sifatnya portabel, jadi cukup mudah untuk saya gunakan di lantai satu dan lantai dua, walaupun charging dock memang hanya ada satu. Mungkin satu saat kalau ada rejeki, bisa ada satu lagi. Amin.
    Berbeda dengan alat vacuum yang menggunakan kabel, dengan tanpa kabel otomatis penggunaan juga jadi lebih fleksibel secara jangkauan.
  3. Otomatisasi
    Karena memiliki fitur yang cukup canggih dan terintegrasi dengan beberapa model pengaturan, jadi lebih fleksibel dalam operasional. Termasuk untuk urusan pengisian baterai. Jadi, saya tinggal atur misalnya kapan si ‘robot’ ini harus membersihkan dan area mana saja — misal jam 22.00 WIB.
  4. Ukuran ringkas dan minim perawatan
    Untuk ukuran juga menjadi penting. Dengan ukuran yang cukup mini, penyimpanan juga lebih tidak makan tempat. Selain itu, robot vacuum cleaner semacam ini juga memiliki bobot yang tidak terlalu berat. Mengenai perawatan, selain beberapa aksesories yang seharusnya juga mudah didapatkan dari produsen, komponen lain juga tidak terlalu rumit untuk perawatannya.
  5. Jangkauan lebih luas dan menyedot debu dengan lebih baik
    Area bawah tempat tidur merupakan area yang cukup sulit untuk dibersihkan, disamping ada juga sofa untuk tamu dan sofa bed. Selain susah dijangkau sepenuhnya dengan sapu, pun sudah disapu biasanya kotoran dan terutama debu cenderung berpindah tempat. Jadi, kalau disapu, debu malah justru terbang kemana-mana. Untuk tempat tidur, kebiasaan selama ini jika membersihkan saya lebih sering geser dipan dan tempat tidur, disapu, dipel, kemudian dikembalikan lagi.

Pertimbangan menentukan pilihan robot vacuum cleaner

Setelah memiliki pertimbangan yang cukup, saatnya memilih: produk robot vacuum cleaner mana yang paling cocok (untuk kami)? Secara umum, ada dua hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Spesifikasi produk dan ulasan
  2. Budget dan harga

Mari kita bahas sedikit.

Jokowi tentang ekonomi dan kesehatan (7 September 2020)

Disampaikan pada bulan September 2020, sejak kasus COVID-19 mulai santer pada Maret 2020, saat sudah terjadi banyak kelonggaran dalam penegakan aturan dan protokol yang memungkinkan penyebaran COVID-19 semakin banyak. Dan, ketika 6 September 2020 angka total kasus di Indonesia menunjukkan 198.049 (+3.113), dengan kasus aktif 44 44.795 (+573), sembuh 144.440 (+2.431) dan meninggal dunia: 8.806 (+122) (Sumber: @kawalcovid19)

Alternatif Wunderlist

Saya lupa kapan pertama kali menggunakan aplikasi task management Wunderlist. Sepertinya sebelum Wunderlist diakuisisi oleh Microsoft pada tahun 2015. Yang pasti, Wunderlist ini salah satu aplikasi favorit saya untuk task management pripadi. Bahkan, untuk kolaborasi juga fitur sangat mencukupi.

Sejak diakuisisi Microsoft, tak banyak yang berubah. Microsoft sendiri sudah punya aplikasi sejenis, yaitu Microsoft To Do. Di akhir 2019, Microsoft mengumumkan bahwa mereka akan ‘mematikan’ aplikasi Wunderlist pada Mei 2020, dan mengarahkan seluruh pengguna untuk berpindah ke To Do.

Masalahnya — menurut saya — To Do ini tak sebaik Wunderlist. Antar muka membingungkan dan sinkronisasi yang kurang berjalan baik menjadi alasan kenapa saya kurang menyukainya.

Christian Reber, sebagai pendiri Wunderlist sendiri sempat berencana untuk membeli kembali Wunderlist, sehingga Wunderlist tidak perlu dimatikan.

Namun, sepertinya langkah tersebut kurang berhasil. Hari ini, Microsoft mengirimkan pengingat kembali ke pengguna Wunderlist untuk berpindah ke Microsoft To Do sebelum 6 Mei 2020.

Sebagai pengganti, saat ini saya tidak memilih To Do. Ada cukup banyak pilihan tapi, untuk sekarang, saya cukup puas dengan Tick TickTick.

Gangguan KlikBCA karena Terkena Malware?

Karena cukup sering menggunakan BCA Mobile, saya cukup jarang melakukan transaksi melalui internet banking BCA. Beberapa waktu lalu, saya bermaksud untuk menambahkan beberapa nomor rekening dalam daftar transfer di internet banking BCA saya. Walaupun daftar transfer tersebut sudah ada dalam BCA Mobile saya, namun karena data transfer memang tidak tersinkron dengan internet banking, jadi perlu ditambahkan manual.

Ketika akan menambahkan daftar transfer, muncul pesan bahwa transaksi tidak dapat diproses. Saya pikir hanya permasalahan yang muncul acak. Jadi, saya memutuskan coba lagi lain waktu. Setelah beberapa kali, tetap saja gagal.

Saya coba hubungi HaloBCA melalui Twitter, namun jawaban berakhir bahwa saya disarankan untuk menghubungi Halo BCA melalui telepon. Walaupun selama berurusan dengan layanan nasabah di kantor cabang atau kantor pusat selalu baik — termasuk ketika melalui call center, tapi apa iya menghubungi call center adalah satu-satunya solusi? Saya cukup penasaran.

BCA Express juga kurang membantu

Saya mencoba untuk mencari solusi dengan datang ke BCA Express yang berada tidak jauh dari tempat saya tinggal. Singkatnya, ternyata saya tetap disarankan menghubungi call center BCA. Cuma, saat itu saya mendapatkan informasi bahwa akun saya dengan nomor rekening yang saya sebutkan ke layanan nasabah di BCA Express terkena malware. Sehingga, fitur tersebut semacam dibekukan karena ini merupakan salah satu standar keamanan dari BCA.

Beberapa tahun lalu, walaupun kasusnya tidak sama, namun ada juga permasalahan yang menyangkut dengan virus. Dan, saat itu permasalahan diselesaikan dengan baik.

Saat saya menghubungi Halo BCA, saya sampaikan permasalahan yang saya hadapi, dan menurut petugas layanan nasabah, memang benar bahwa akun saya terkena malware. Saya tidak meminta jawaban dengan mendetil, namun ini karena saya sering mengakses menggunakan Wi-Fi. Mungkin yang dimaksud adalah menggunakan jaringan Wi-Fi yang secara keamanan kurang baik.

Kalau tentang Wi-Fi, tentu saja saya hampir selalu terhubung ke jaringan Wi-Fi melalui laptop saya. Walaupun, saya hampir selalu mengakses internet banking BCA hanya melalui laptop dan ponsel saya. Apakah juga karena Virtual Private Network? Atau sebab lain misalnya peramban yang dideteksi ‘bermasalah’ oleh BCA? Entahlah.

Yang penting, sekarang internet banking dapat digunakan dengan baik.