Merayakan Dicukupkan

Juni lalu, ada sebuah ‘kegelisahan’ yang saya rasakan, dan istri saya juga merasakan hal yang kurang lebih sama. Pandemi yang ternyata bukan membaik, tapi justru semakin memberikan dampak yang lebih berat lagi.

Photo by Mariana Kurnyk from Pexels

Saya hampir tidak baca bagaimana analisis perekonomian nasional dalam masa pandemi. Atau, bagaimana ekonomi secara global. Tapi, sama seperti milyaran manusia di bumi ini, saya tahu yang pasti: semua kena imbasnya. Tentu, ada juga yang secara ekonomi atau bisnis justru sedang menuai.

Itu satu hal.

Saya lebih memilih untuk melihat yang ada di depan mata. Yang sehari-hari terlihat, dan begitu nyata. Dan, semakin melihat banyak hal, semakin terusik perasaan saya. Sangat tidak enak. Saya tidak nyaman.

Dari sekian banyak hal-hal yang bisa dilakukan, segala macam rencana ini dan itu — dari beberapa hal yang sudah berjalan — saya bersama istri akhirnya menambahkan satu lagi komitmen kecil untuk merayakan bagaimana kami selama ini telah sangat dicukupkan.

Kami ingin melakukan hal yang telah banyak dilakukan oleh orang banyak, termasuk beberapa teman yang bahkan jauh lebih dulu. Dulu pernah juga ikut “nebeng” ke aktivitas yang dibuat beberapa teman, dan dengan senang hati melakukannya.

Iya, berbagi nasi/makanan. Karena, dengan kondisi pandemi saat ini, jika ada satu hal yang mungkin harus tercukupi, salah satunya adalah soal bagaimana bisa tetap makan.

Kemasan nasi bungkus yang dibagikan.

Begini rencana awalnya…

“Pesan ke salah satu saudara yang buka warung makan, minta tolong langsung dibungkus, dan nanti diletakkan di depan warung/area dekat situ. Bagi siapapun yang mau ambil, silakan ambil. Kalau habis, ya sudah. Komitmen untuk dua kali seminggu, tidak tahu sampai kapan.”

Kurang lebih rencananya seperti itu. Tidak ada yang sangat istimewa, dan setelah dipikirkan dan dipertimbangkan, harusnya sangat doable.

Soal mekanisme pemesanan, menu, dan lainnya secara detil sudah oke, dan dengan saudara kami ini, memiliki semangat yang sama, dan menyambut baik rencana ini.

Jadi, kami menyerahkan tentang kapan makanan ini akan di masak dan didistribusikan. Dan, karena distribusi tidak akan jauh dari tempat saudara ini, jadi harapannya soal “waktu” bisa lebih disesuaikan sesuai kebutuhan di area tersebut. Oh ya, untuk waktu walaupun bebas kami sepakat untuk tidak di hari Jumat. Karena sepengetahuan kami untuk Jumat sudah banyak saudara-saudara yang sudah berbagi berkat. Kami memilih dua hari yang lain.

Soal menu, kami inginnya tidak hanya soal kuantitas yang penting banyak, tapi harapannya juga secara komposisi cukup baik. Kalau telur atau daging bisa hadir, kenapa tidak?

Semua sudah OK, dana dari komitmen juga sudah ada untuk beberapa minggu ke depan. Jadi, bagaimana kalau langsung mulai saja?

Sedikit cerita

Dalam diskusi dengan saudara kami membantu menyiapkan menu makanan, ada beberapa hal yang lagi-lagi cukup mengusik, yang kurang lebih:

  • Yang jualan juga bingung mau jual dengan harga berapa, karena daya beli beberapa pelanggan juga makin menurun. Misal, yang awalnya bsia beli dua kali sehari, sekarang cuma satu kali. Atau, dari sisi yang pada dipesan juga makin berkurang.
  • Makin lama yang beli juga makin sedikit. Mungkin mencari opsi yang lebih murah, atau mengurangi porsi makan. Padahal, ya ini harusnya sudah termasuk harga terjangkau.
  • Bahwa ada beberapa warga sekitar yang akhirnya harus kehilangan penghasilan — atau yang lebih beruntung adalah penghasilan berkurang — juga makin banyak.

Satu hal yang pasti, jika ada satu hal yang bisa dilakukan, hal tersebut adalah: memulai untuk melaksanakan komitmen kecil ini.

Perubahan rencana

Baru di agenda pertama, ternyata rencana langsung berubah. Dari yang awalnya makanan akan dibuat untuk dibagikan kepada siapa yang membutuhkan, untuk langsung diambil, berubah menjadi didistribusikan ke tetangga yang dekat dengan tempat tinggal saudara.

Menu masakan di agenda pertama: Nasi, oseng kacang dan tahu, telur, tempe, dan ayam suwir. (28 Juni 2021)

Tentu, dengan senang hati menerima usulan ini. Karena, tidak ada yang lebih tahu kondisi yang terjadi selain orang yang ada di sana, bukan? Jadi, mulai agenda pertama, makanan didistribusikan ke tetangga yang dirasa membutuhkan. Dan, cerita bahwa sedikit bantuan ini diterima dengan baik, dengan titipan ucapan terima kasih, sudah lebih dari cukup untuk kami.

Yang penting ikhlas dan dilakukan dengan senang hati. Itu saja. Dan, perubahan rencana ini berlanjut ke agenda ke dua dan ketiga — sampai tulisan ini dibuat.

Menu masakan di agenda kedua: Nasi, oseng tahu kentang, kwetiau bakso, tahu, ayam (1 Juli 2021)
Menu masakan agenda ketiga: Nasi, telur balado, sayur buncis wortel, bihun goreng, kentang goreng, tempe goreng tepung, bakso goreng.
Isi sajian per bungkus pada berbagi agenda ketiga.

Partisipan tambahan

Saat agenda pertama kami jalankan, ada salah satu teman yang menghubungi saya apakah boleh sekalian ikut nitip. Tentu, kami terima dengan senang hati, dengan menyampaikan secara singkat ide dan mekanismenya bagaimana.

Saat agenda kedua berjalan, ada dua orang teman lagi yang juga berniat sama, apakah bisa ikut berpartisipasi. Mungkin ini menjadi kesempatan untuk menjadi saluran berkat. Jadi, ya diterima dengan senang hati, dengan tetap menyampaikan bagaimana mekanisme secara singkatnya. Dan, sebelum saya menuliskan cerita ini, ada salah satu teman lagi yang mau ikutan. Bagaimanapun juga, ini merupakan tanggung jawab, dan sejak awal — karena sudah bukan kegiatan pribadi lagi — lebih baik diinformasikan secara terbuka saja. Termasuk bagaimana penyaluran dan laporan pemakaian dananya.

Terima kasih, ya! Matur nuwun!

Sumbangan gambar dari Rony “Lantip” teman saya, ketika saya minta bantuan untuk dibuatkan ilustrasi mengenai niat ini.

Catatan

Berikut bagaimana inisiatif dan komitmen kecil ini berjalan. Mungkin ada yang menjadi pertanyaan, dan semoga bisa menjawab juga ya!

  • Apa bedanya dengan inisiatif/kegiatan sejenis yang saat ini sudah ada? Kenapa tidak bergabung jadi satu saja?
    Daripada melihat/mencari perbedaan, saya lebih melihat kepada kesamaan semangatnya untuk berbagi, merayakan dicukupkan, dan memanfaatkan kesempatan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Memulai sendiri, karena salah satu misi awal juga ingin berkolaborasi dengan saudara yang kebetulan membuka usaha warung makan.
  • Berapa harga satu porsi makanan yang dibagikan?
    Dengan beberapa pertimbangan supaya secara porsi dan komposisi mencukupi, per porsi ada di harga antara Rp7.500-Rp9.000,-. Walaupun ini tidak kaku, bisa saja lebih dari itu. Jadi, konsepnya tetap kami pesan makanan ini dan meminta untuk diatur secara menu dan porsi yang cukup. Untuk menu di agenda ketiga contohnya, itu ada di harga Rp7.500- per porsi. Untuk pembagian juga di area sekitar tempat memasak, namun yang menjadi pegangan utama adalah faktor keselamatan dan seminimal mungkin mobilitas, karena keselamatan dan kesehatan tetap nomor satu.
  • Jika ada yang menitipkan/ikut secara dana, bagaimana penggunaan dan pertanggungjawabannya?
    Kami mengaturnya, supaya kegiatan ini bisa berlangsung dengan lebih lama. Jadi, kami sesuaikan secara penggunaanya. Bisa untuk menambah biaya per porsi, atau menambah jumlah porsi. Saya sebisa mungkin memberikan update secara personal.
  • Bagaimana jika mau ikut titip atau berpartisipasi? Berapa jumlahnya?
    Pertama, saya ucapkan terima kasih. Beberapa teman yang berpartisipasi mengiriman dana melalui transfer ke rekening pribadi saya. Soal nominal, secara sukarela. Paling sederhana adalah mengacu kepada kira-kira akan berbagi berapa porsi nasi. Semua dicatat, dan akan disampaikan secara personal penggunaanya. Saya bisa dikontak melalui jalur pribadi, melalui Twitter, atau Instagram. Jika Anda punya kontak pribadi saya, dengan senang hati saya akan membalas pesan.
  • Bagaimana rencana penggunaan dananya?
    Saat ini masih dalam skala kecil, dan saya ingin tetap terukur. Ada terpikir untuk nanti menduplikasi konsep kecil ini di kampung yang lain, dengan melibatkan orang lain — yang tentu sudah kenal dan memiliki semangat yang sama.
  • Sampai kapan ini akan berlangsung?
    Saya dan istri juga tidak tahu. Kalau memang masih memiliki kesempatan, ya lanjut saja.
  • Update terkait kegiatan ini ada di mana?
    Saya akan tuliskan di laman blog ini, atau melalui akun Instagram saya, dan kadang mungkin di Twitter. Karena kebanyakan rekan-rekan yang terlibat ada di sana — kebanyakan di Instagram.