Pengecekan BI Checking atau SLIK Secara Mandiri Melalui iDebku OJK

Sampai saat ini, saya memang belum pernah secara spesifik melakukan pengecekan informasi keuangan pribadi saya yang dapat dilihat spesifik melalui dokumen SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan).

Selama ini, pengecekan memang dilakukan oleh atau pihak yang memerlukan. Terakhir kali seingat saya saat saya melakukan pengajuan kredit pemilikan rumah. Karena memang dari catatan pribadi memang status kredit (credit scoring) memang ‘harusnya’ status lancar.

Supaya tidak bingung, Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), Informasi Debitur (iDeb), credit scoring, atau BI Checking ini sebenarnya istilah yang sama. Jadi ini merupakan informasi/dokumen untuk melihat bagaimana performa status laporan informasi keuangan kita, ketika kita memiliki pinjaman atau tanggung jawab pengembalian atas kredit/pinjaman kita.

Pinjaman ini bisa dari mana saja, mulai dari bank (misal KPR, , atau produk pinjaman lain), dan juga dari lembaga lain termasuk e-wallet dengan fitur paylater-nya.

Untuk melakukannya, sekarang seharusnya lebih mudah karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah memiliki aplikasi khusus untuk ini. Namanya iDebku.

Kalau dari panduan tata cara, seharusnya ini prosesnya cukup mudah. Kurang lebih proses sebagai berikut:

  1. Masuk ke iDebku di https://idebku.ojk.go.id/
  2. Lakukan proses pendaftaran
  3. Buat permohonan
  4. Lihat hasil permohonan iDeb

Saya sendiri saat ini belum mencobanya, tapi jika ini berfungsi sesuai yang diharapkan, tentu ini bisa sangat bermanfaat.

Bank Jago

Dari begitu banyak pilihan digital, saya rasa Bank Jago ini layak untuk menjadi pilihan. Saya sudah mencoba beberapa seperti yang akhirnya saya tinggalkan — termasuk juga LINE Bank — yang hampir tidak saya gunakan lagi.

Tapi, untuk , setelah saya berikan kesempatan lagi — dulu memang hanya sekadar instal untuk menjawab rasa penasaran saja — dalam beberapa bulan terakhir ini, sepertinya saya akan menggunakannya dalam waktu cukup lama. Selain tentu saja dan OCTO Mobile.

Lupa Nomor ATM CIMB Niaga untuk OCTO Mobile

Sebagai salah satu nasabah , beberapa bulan ini saya banyak menggunakan aplikasi OCTO . Secara umum ya lancar saja. Tapi, ketika saya sedang tidak berada di rumah, saya hanya menggunakan OCTO Clicks transaksi internet banking.

Sederhana saja, karena transaksi utama masih melalui Mobile, dan juga e-wallet. Setelah saya pikir-pikir kembali, sepertinya mengaktifkan OCTO Mobile kembali tidak ada salahnya, kali saja butuh, dan ini akan bisa jauh lebih praktis dibandingkan saya harus transaksi melalui banking.

by Mikhail Nilov

Dulu aplikasi mobile banking CIMB Niaga ini sudah saya gunakan di ponsel . Lalu, karena sudah sangat lama tidak pakai, dan pernah juga aktivasi kembali, tapi nyatanya proses reaktivasi akses ke aplikasi tidak kunjung saya selesaikan.

Penyebabnya sederhana: saya lupa empat digit nomor kartu saya. Saya lupa kapan terakhir kali saya pegang kartu ATM CIMB Niaga milik saya. Jadi, ketika sudah melakuan otentikasi, dengan username dan di OCTO Mobile, proses berhenti karena saya benar-benar tidak tahu nomor kartu ATM saya. Padahal, ini proses yang tidak bisa dilewati.

Sempat terpikir datang langsung ke kantor cabang CIMB Niaga, tapi saya batalkan. Karena, bisa jadi nanti ujungnya saya diminta ke menghubungi Call Center yang beradasarkan pengalaman saya terakhir kali, tidak begitu menyenangkan.

Harusnya sih urus kartu ATM memang di kantor cabang. Tapi, saya pikir lagi, sepertinya saya hampir tidak butuh kartu ATM.

Mendapatkan empat digit nomor kartu ATM

Ternyata caranya cukup mudah. Tinggal masuk ke OCTO Clicks, lalu masuk menu Rekening, pilh salah satu rekening. Dalam sebuah nomor rekening tabungan, ada informasi “Nomor Kartu” di sana.

Berbekal ini, akhirnya bisa juga saya menggunakan aplikasi OCTO Mobile ini di ponsel iPhone saya.

Penarikan Tunai Pecahan Rp50.000 di Mesin ATM

Beberapa waktu lalu, saya ada keperluan untuk melakukan penarikan tunai di dengan pecahan Rp50.000. Dan, karena saya memang sudah sangat jarang bawa kartu ATM, penarikan tunai yang saya lakukan lebih sering melalui transaksi non-kartu/cardless.

Saat itu, kebetulan mesin ATM yang saya gunakan bisa untuk melakukan penarikan pecahan Rp50.000 dan Rp100.000.

Ternyata, untuk penarikan tanpa kartu, tidak ada opsi preferensi mengenai pecahan yang ingin digunakan. Ketika saya lakukan penarikan sejumlah Rp500.000, yang keluar adalah lima lembar pecahan Rp100.000.

Saya coba lakukan penarikan lagi senilai Rp250.000, yang keluar adalah dua lembar Rp100.000 dan satu lembar Rp50.000.

Solusinya? Gunakan kartu ATM. Ketika transaksi akhirnya saya pakai menggunakan kartu, jadi ada pilihan mengenai preferensi pecahan penarikan.

Tak Ada Lagi Tes PCR dan Antigen untuk Perjalanan Domestik

by Pixabay from Pexels

melonggarkan syarat pelaku perjalanan domestik. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah menghapus syarat tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dan bagi pelaku perjalanan darat, laut, dan udara di dalam negeri yang sudah menerima dosis lengkap.

Katadata: Pemerintah Hapus Syarat Tes PCR dan Antigen untuk Perjalanan Domestik

Masih terkait dengan kebjiakan tersebut, dari sumber artikel yang sama ada beberapa hal lainnya:

  • Kapasitas kompetisi olahraga dilonggarkan. Seluruh kegiatan kompetisi olahraga dapat menerima penonton yang sudah menerima Covid-19 dosis tambahan atau booster.
  • Terkait dengan kegiatan tersebut, pengunjung wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi.
  • Kapasitas penonton/pengunjung akan didasarkan pada penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di masing-masing wilayah.

Sebagian diri saya menyetujui kebijakan ini, tapi sebagian lagi juga kurang setuju karena walaupun prosentase vaksinasi semakin meningkat — termasuk pemberian dosis ketiga/booster — tapi angka kematian cukup tinggi.

Saya setuju dalam konteks supaya pergerakan masyarakat terutama untuk roda perekonomian tetap berjalan. Bukan hanya bagi mereka yang punya usaha, tapi bagi karyawan/pekerja ini juga sebuah ‘kemudahan’. Dalam melakukan perjalanan yang membutuhkan tes PCR atau antigen, tentu jadi ada penambahan biaya, dan jumlahnya otomatis tidak kecil.

Beruntung kalau biaya ini bisa dibebankan kepada pihak lain (perusahaan, misanya), kalau tidak?

Sedikit kurang setuju dengan kebijjakan ya mungkin karena kasus masih cukup tinggi. Bagi yang sudah mendapatkan vaksinasi dua dosis, efek apabila terkena COVID-19 cenderung tidak terlalu parah. Namun, bisa jadi kebijakan ini memiliki peran penambahan kasus menjadi signifikan.

Artinya, jumlah kasus naik, lebih banyak masyarakat yang perlu isolasi mandiri, yang otomatis bisa jadi kegiatan perekonomian akan terpengaruh kembali.

Sepertinya, hidup berdampingan dengan COVID-19 ini sudah semakin terasa. Semoga kondisi tetap untuk saling jaga dan waspada dengan protokol di level pribadi tetap berjalan.

Pengalaman Perpanjangan SIM Melalui SIM Corner di Jogjakarta

Akhir Januari ini, saya perlu melakukan perpanjangan masa aktif SIM A milik saya. Saya sempat mencari informasi bagaimana proses perpanjangan SIM di kota ini. Tetapi, informasinya masih agak membingungkan. Sempat juga banyak baca mengenai perpanjangan SIM secara daring. Dan, beberapa teman juga menginformasikan kalau perpanjangan secara daring ini bisa jalan lancar juga. Tapi, opsi ini sepertinya kurang cocok untuk kondisi saya (saat itu).

Perpanjangan SIM secara daring (online)

Beberapa kondisi yang menjadikan proses perpanjangan SIM secara daring ini menjadi pilihan cocok, apabila:

  1. Masa berakhir/kedaluarsa masih cukup lama. Kalau tidak salah, ini bisa dilakukan bahkan tiga bulan sebelum kedaluarsa. Saya lupa tepatnya.
  2. Tetap harus melakukan tes dengan mendatangi dokter/fasilitas kesehatan yang telah ditentukan.
  3. Melakukan proses secara daring melalui Digital Korlantas POLRI yang aplikasi juga sudah tersedia di Play Store untuk Android dan App Store untuk iOS.

Awalnya saya sempat akan menggukan metode ini. Tapi, saya batalkan karena tetap harus melakukan tes kesehatan juga, dan saat itu tinggal 7 (tujuh) hari sebelum masa kedaluarsa SIM saya. Untuk prosesnya, kalau saya baca-baca di , dan juga melalui linimasa , layanan ini bisa menjadi pilihan. Tinggal ikuti saja prosesnya.

Perpanjangan SIM secara luring (offline)

Ada dua pilihan jika akan melakukan perpanjangan SIM dengan cara ini. Pertama, melalui layanan SIM keliling. Kedua, langsung ke Satpas Polresta . Ketiga, datang langsung ke SIM Corner. Pilihan pertama sebenarnya bisa menjadi opsi. Kalau mencari di internet/berita, cukup banyak jadwal SIM keliling ini di Jogjakarta.

Pilihan kedua yaitu langsung ke Satpas Polresta Yogyakarta, sempat pula saya jadikan pilihan. Mengenai antrian, sudah disediakan antrian secara online, jadi ada kepastian. Setelah saya isikan dalam antrian, saya mendapatkan antrian 3 (tiga) hari sebelum tanggal kedaluarsa SIM, dan dapat langsung datang pukul 10.00 pagi ke Satpas Polresta Yogyakarta.

Karena saya belum tentu dapat hadir sesuai jadwal sesuai antrian di Satpas Polresta Yogyakarta, akhirnya saya juga melihat opsi ketiga: datang langsung ke SIM Corner. Setelah mencari informasi:

  1. Pilihan SIM Corner di Jogja City Mall atau SIM Corner di Ramai Mall Malioboro.
  2. Jam buka operasi akan mengikuti jam buka mall, dan kalau kuota sudah terlayani semua, maka layanan selesai. Diperkirakan sekitar jam makan siang harusnya sudah selesai semua. Namun, untuk proses antrian sudah dapat dilaksanakan pagi hari. Tentang pengambilan antrian, saya mendapatkan informasi yang lebih jelas untuk pilihan lokasi yang di Ramai Mall .

Penurunan Biaya Transfer Antarbank Mulai Desember 2021

Melalui BI Fast Payment (BI-Fast), Indonesia akan menurunkan biaya tranfer antarbank yang saat ini sebesar Rp6.500 menjadi Rp2.500. Rencananya, tahap pertama penyesuaian biaya akan dimulai pada minggu kedua Desember 2021.

by Ono Kosuki from Pexels

BI FAST sendiri merupakan sistem baru yang akan menggantikan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

Tahap pertama untuk penyesuaian biaya akan berlaku untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Permata, PT (Persero) Tbk, PT Indonesia, PT Niaga, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank UOB Indonesia, PT Bank Mega Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank OCBC NISP, Bank Tabungan Negara UUS, Bank Permata UUS, Bank UUS, Bank Danamon Indonesia UUS, Bank Syariah, PT Bank Sinarmas, Bank Citibank NA, PT Bank Woori Saudara Indonesia.

Sedangkan tahap kedua yang rencananya akan mulai berlaku Januari 2022 akan berlaku untuk PT Bank Sahabat Sampoerna, PT Bank Harda International, PT Bank Maspion, PT Bank KEB Hana Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga, PT Bank Ina Perdana, PT Bank Mandiri Taspen, PT Bank Nationalnobu, Bank Jatim UUS, PT Bank Mestika Dharma, PT Bank Jatim, PT Bank Multiarta Sentosa, PT Bank Ganesha, Bank OCBC NISP UUS, Bank Digital BCA, Bank Sinarmas UUS, Bank Jateng UUS, Standard Chartered Bank, Bank Jateng, Bali, Bank , dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Kalau selama ini saya lebih sering menggunakan Flip untuk transaksi transfer antar bank, saya rasa perubahan biaya antar bank secara konvensional juga akan bermanfaat.

Gagal Login ke Akun Jenius

Lalu bagaimana cara mengambil uang kalau tidak bisa masuk ke aplikasi sama sekali?

Walaupun jarang menggunakan untuk transaksi, tapi saya memang masih kadang pakai, sekadar untuk menerima pembayaran. Setelah masuk, saya yang akan mentransfer ke rekening lain. Ini untuk memfasilitasi beberapa pihak yang memilih menggunakan Jenius untuk mengiriman donasi dari kegiatan berbagi bersama yang saya lakukan.

Ketika selama ini saya gagal terus masuk ke aplikasi Jenius di , saya dapat melakukan transaksi melalui Jenius. Setelah otentikasi di aplikasi , saya dapat OTP, saya masukkan OTP, mengeset , lalu saya gagal masuk ke aplikasi, dengan pesan session expired.

Apakah ini terkait dengan kondisi terakhir saya masih terotentikasi di ponsel ? Tidak tahu juga. Yang pasti, ponsel Android saya memang tidak bisa dipakai saat ini. Akses transaksi melalui web yang sebelumnya berhasil, saat ini juga tidak bisa.

Solusi satu-satunya apakah menghubungi layanan nasabah, untuk sesuatu yang mungkin terkait dengan permasalahan di sistem?

Update: Sepertinya memang satu-satunya solusi adalah menghubungi pihak Jenius — sebelum akses melalui situs sudah kembali normal. Saya lihat di , ada yang mengeluhkan kondisi yang sama.

Dan, jawaban dari @JeniusHelp di Twitter ini saya rasa sudah cukup jelas.

OK, ribet.

Membeli Obat di Apotek Secara Daring

Selain membeli obat atau vitamin secara daring melalui situs-situs niaga-el seperti atau , saya dan istri kadang juga membeli melalui . Dan, sejak pandemi ini membeli secara daring sesekali kami lakukan. Kalau soal , puji Tuhan, kami semua sehat, dan jarang sakit.

Kami banyak memanfaatkan Halodoc dan pesan langsung ke apotek-nya dan nanti kirim menggunakan. Tidak ada alasan khusus metode mana yang lebih kami sukai. Kadang, memang situasional saja.

by Miguel Á. Padriñán from Pexels

Halodoc

Salah satu alasan menggunakan Halodoc adalah mengenai integrasinya — mulai dari pemesanan, pembayaran, sampai dengan pengiriman menggunakan layanan — yang sudah sangat baik. Beberapa kali saya memesan melalui aplikasi ini, dan semua mendapatkan pengalaman yang baik.

Soal harga, ketika secara acak saya bandingkan, memang kadang lebih mahal — misal ketika dibandingkan dengan harga di situs niaga-el. Tapi, jika ini untuk kebutuhan yang mendesak, Halodoc jelas sebuah solusi yang perlu dipertimbangkan.

Terakhir kali saya pesan beberapa bulan lalu ketika anak anak kami sakit, kami perlu beli Pedialyte. Pemesanan saat itu sekitar pukul 00.30 WIB. Semua diproses dengan baik sekitar satu jam. Waktu sampai obat sampai di rumah terkesan lama, namun lebih karena jarak yang jauh saja dari apotek yang punya stok.

Langsung Pesan dari Apotek

Salah satu kebiasaan saya ketika membeli sesuatu di toko adalah mencatat nomor kontak. Jadi, jika dibutuhkan tidak repot. Beberapa apotek yang tidak jauh dari rumah sudah ada dalam daftar kontak.

Jika Anda mungkin belum memiliki kontak-kontak apotek di ponsel, sepertinya tidak ada salahnya sekarang mulai mencatatnya.

Ada dua apotek yang menjadi pilihan kami selama ini. Pertama adalah Apotek K-24, dan yang kedua adalah apotek Unisia. Keduanya kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Ada alasan mengapa beli langsung dari apotek — khususnya kedua apotek tersebut — menjadi pilihan:

  1. Bisa konsultasi atau bertanya terlebih dahulu mengenai obat yang diperlukan, aplagi kalau sedikit kurang yakin dengan kebutuhan.
  2. Soal harga, bisa langsung ditanyakan.
  3. Buka 24 jam. Walaupun selama ini saya belum perneah pesan lebih dari jam 21.00 WIB.

Seluruh pemesanan melalui apotek langsung hampir semuanya untuk kebutuhan yang tidak terlalu mendesak. Ketika saya butuh membeli perban elastis, saya tidak keberatan menunggu sekitar satu jam untuk dikirim dari apotek pilihan saya.

Apotek K-24

Ada beberapa apotek K-24 yang tidak terlalu jauh dari rumah. Namun, ada satu yang selalu jadi langganan dengan beberapa alasan:

  1. Bisa melakukan pembayaran secara non-tunai. Dulu, saat membeli di lokasi langsung dan melakukan pembayaran non-tunai menggunakan , apakah bisa jika nanti pesan melalui , lalu saya bayar “jarak jauh”, kemudian saya kirim kurir (GoSend atau GrabSend). Ternyata bisa.
  2. Cara ini ternyata tidak bisa — kurang familiar oleh karyawan apotek — dengan apotek K-24 yang sebenarnya secara jarak lebih dekat dari rumah.

Tentu aplikasi K24Klik juga dapat digunakan jika diperlukan. Saat ini, metode yang saya pilih sudah sangat mencukupi dan nyaman.

Apotek Unisia 24

Apotek ini didirikan/dikelola oleh PT. Unisia Polifarma (UII Farma). Di , apotek ini ada di beberapa lokasi. Beberapa alasan pilihan:

  1. Lokasi tidak jauh dari rumah, jadi seandainya di ambil sendiri, atau dikirim melalui kurir, biaya tidak mahal. Namun, ada layanan antar gratis sampai jarak 5 km untuk pembelian minimal Rp50.000.
  2. Ada pernah obat yang rencana saya mau beli ada stok yang kosong. Tapi, karena itu tidak mendesak, jadi bisa diganti dengan merek lain.
  3. Pembayaran bisa dilakukan melalui transfer .

Sama dengan K-24, komunikasi dilakukan dengan WhatsApp. Soal respon, selama ini cukup cepat. Memang pernah saya menghubungi, namun tidak mendapatkan balasan, dan bahkan baru dibalas keeseokan harinya, dengan alasan chat yang tertumpuk/terlewat. Bisa dipahami karena melayanai dengan sistem WhatsApp potensi seperti ini bisa terjadi.

Menparekraf Sandiaga Uno tentang Dana Testing Corona Dialihkan untuk Biaya PCR-Antigen Wisatawan

Diperlukan keringanan biaya testing untuk calon wisatawan yang ke Bali. Ini yang akan kita pertimbangkan sebagai bentuk insentif yang bisa kita berikan, yakni testing (biaya PCR atau ) yang dibebankan ke . Ternyata anggaran testing itu sampe Rp 6 triliun yang belum terserap, baru sedikit sekali yang terserap. Jadi, saya nanti mengusulkan dan dorong ke PEN agar itu bisa dialihkan, anggaran yang tidak terserap sebagai intensif.

Menparekraf Sandiaga Uno tentang pengalihan biaya pengetesan dialihkan untuk membiayai PCR atau rapid test antigen wisatawan (yang mau ke Bali). Sumber: Kumparan

Sebentar, Pak Sandiaga Uno… Sebentar.

Sependek pengetahuan saya, pendapat Anda ini agak membingungkan. Benar bahwa Bali terdampak karena menjadi faktor penting perekonomian di sana. Bukan bermaksud mengecilkan, tapi daerah lain — walaupun bukan selalu terkait pariwisata — juga mengalami dampak yang luar bisa karena ini.

Sekali lagi, ini bukan sentimen saya soal Bali, tapi tentang pernyataan beliau ini. Saya juga suka Bali ketika berlibur ke Bali.

Tapi, Pak… saya agak bingung dengan logika berpikir Anda.

Menutup Akun Jenius BTPN

Tunggu, memang ada terpikir untuk menutup akun . Tapi, alih-alih langsung menutupnya, saya pastikan bahwa akun kemungkinan tidak akan dipakai, karena saldo nol.

Saya termasuk salah satu yang akhirnya ‘terjerumus’ untuk membuka akun Jenius dari BTPN. Walaupun registrasi pertama gagal di Februari 2019 lalu, tapi setelah mencoba kembali di Agustus 2019 proses pembukaan akun berhasil dilakukan.

Dalam periode hampir dua tahun memiliki rekening di Jenius, tapi Jenius belum menjadi aplikasi yang sering saya gunakan. Transaksi yang sering saya lakukan adalah menerima pengiriman dari beberapa teman, yang secara nominal tidak besar. Selebihnya, hampir tidak pernah saya gunakan. Saya memiliki beberapa Jenius cards yang saya minta. Dan, sepertinya ini tidak terlalu bermanfaat bagi saya, karena justru saya semakin jarang membawa kartu fisik.

Kebanyakan transaksi yang saya sering lakukan akhirnya menempatkan DANA, , Pay, dan sebagai pilihan utama. Pun tidak, dan OCTO Mobile saat ini masih sangat bisa diandalkan.

Menutup Akun Jenius

Selain karena memang hampir tidak pernah dipakai, saya juga agak kurang nyaman dengan mekanisme denda atas kekurangan dana apabila dana tidak mencukupi saat dilaksanakannya transaksi di merchant.

Saya coba cari informasinya di situs Jenius, saya tidak menemukan informasi yang cukup jelas termasuk ketika saya coba buka laman Support/FAQ. Pada laman Syarat dan Ketentuan, informasi seputar penutupan akun menyebutkan tentang “Penutupan rekening dapat dilaksanakan oleh Nasabah dengan menghubungi Layanan Nasabah (Contact Center) dan/atau Jenius Live.”

Walaupun sepertinya datang ke kantor BTPN terdekat juga bisa menjadi solusi, tapi dalam kondisi pandemi sepertinya hal ini bukan solusi yang baik. Belum lagi sepertinya tidak ada jaminan bahwa proses bisa berjalan dengan cepat seperti pengalaman saat membuka rekening dulu.

Untuk saat ini, walaupun belum memroses penutupan akun sepenuhnya, seluruh kartu saya sudah saya kosongkan saat ini. Dana yang ada di akun juga sudah saya kosongkan. Ada informasi tambahan bahwa akun Jenius akan menjadi nonaktif (dormant?) jika tidak digunakan selama 6 (enam) bulan.

Akhirnya, Swab Antigen Juga

by Testalize.me on Unsplash

Akhirnya, hari ini saya melakukan untuk kali pertama di HI-LAB Diagnostic Center, salah satu laboratorium yang berada di tengah kota, di seputaran Kotabaru, di sisi selatan Stadion Kridosono. Ini satu area dengan Klinik Mata Sehati, tempat saya memeriksakan mata.

Sekarang memang sudah cukup banyak opsi untuk melakukan swab di , pemilihan lokasi ini tidak ada preferensi khusus. Ya saya milih lokasi ini saja. Kebetulan juga, ART yang akhirnya kembali bekerja juga melakukan tes di lokasi tersebut.

Kenapa?

Jadi beberapa hari lalu, setelah saya bertemu dengan seorang teman, keesokan harinya dia memberitahu kalau salah satu teman istrinya terindikasi terpapar . Sempat kaget juga, tentu saja. Saya bertemu teman saya tidak lama, mungkin hanya sekitar 2 jam. Dan, itu cuma berdua, di tempat yang sirkulasi udara cukup baik, dan duduk tidak berhadapan, dan tetap menjaga jarak aman.

Saya sendiri, kalau di luar rumah khususnya ketika ada bertemu orang dan ada kemungkinan mengobrol, pasti mengusahakan selalu menggunakan masker dobel. Masker kain ditambah masker medis di sisi dalam. Dan, sampai saat ini masih cukup nyaman.

“Harusnya aman karena kan selalu pakai masker terus, dan bahkan dobel” adalah salah satu perasaan yang di awal muncul, setelah mendapatkan saya berinteraksi dengan orang yang kontak yang walaupun belum tentu positif. Jadi, pilihannya tes atau tidak.

Akhirnya, memutuskan untuk swab antigen saja untuk memastikan.

Proses Registrasi dan Swab Antigen

Saya melakukan proses pendaftaran secara daring melalui situs yang disediakan. Proses registrasi berjalan dengan mudah dan efisien. Saya cukup mendaftar, menentukan jadwal pemeriksaan, dan melakukan pembayaran melalui transfer . Untuk dokumen, saya menyertakan KTP saja.

Biaya yang saya keluarkan untuk tes ini adalah Rp225.000,-.

Beruntung antrian tidak panjang. Setelah mengonfirmasi kedatangan, saya langsung diminta menunggu di area tunggu. Saya mungkin menunggu sekitar sekitar 15 menit saja.

Dan, giliran saya tiba. Petugas menjelaskan prosedur dengan ringkas dan jelas, dan saya tinggal menikmati prosesnya, alat swab masuk ke kedua lubang hidung saya. Agak tidak nyaman, tapi syukurlah semua proses berjalan cepat dan lancar.

Hasil

Proses swab saya berlangsung sekitar puklu 08.50 WIB. Dan, hasil tes swab saya terkirim ke surel saya sekitar pukul 09.39 WIB. Jadi kurang dari satu jam hasil sudah dapat diketahui. Mungkin karena proses antrian tidak banyak hari ini.

Puji Tuhan.

Biaya Pencairan Google Adsense Melalui Transfer Bank

Proses penerimaan pembayaran yang saya atur untuk dicairkan menggunakan transfer bank selesai juga. Total potongan dari seluruh total transaksi besarnya lumayan juga, sekitar Rp300.000,-

Nominal yang cukup besar untuk transaksi yang sebenarnya tidak terlalu besar. Jadi, berdasarkan ini mungkin perlu dipertimbangkan lagi untuk kembali menggunakan pembayaran melalui saja.

Penerimaan Pembayaran Google Adsense Melalui Transfer Bank

by Gabby K from Pexels

Setelah beberapa kali menerima pembayaran Adsense menggunakan metode pembayaran menggunakan biasanya saya melalui Maybank Indonesia, saya akhirnya mengubah cara pembayaran earning saya menggunakan transfer . Selain melalui , pernah dulu berencana melalui Bank BPD, namun gagal. Jadi, secara otomatis pembayaran akan masuk ke rekening bank saya.

Rekening tujuan pembayaran saya putuskan menggunakan . Walaupun melakukan pencairan pembayaran melalui Western Union sebenarnya cukup mudah juga, tapi di masa pandemi ini cara dengan transfer bank sepertinya lebih baik.

Tentu, akan ada biaya administrasi jika menggunakan cara transfer bank disamping berapa nanti kurs dolar terhadap rupiah saat pencairan. Tapi, saya rasa saat ini lebih baik demikian, daripada harus bepergian.