Lokasi dan Harga Pemeriksaan/Tes Swab Antigen di Yogyakarta (Desember 2020)

Dengan adanya kebijakan bagi mereka yang melakukan perjalanan dari/ke beberapa daerah seperti , Bali, dan Yogyakarta mengenai persyaratan untuk melakukan swab antigen, otomatis pemeriksaan harus dari yang biasanya rapid test juga sudah cukup.

Kebijakan ini sebenarnya berlaku secara nasional mulai 18 Desember 2020 sampai dengan 8 Januari 2021. Beberapa minggu lalu, saya melihat belum terlalu banyak tempat yang melayani pemeriksaan swab antigen. Namun, beberapa hari terakhir ini, keadaan sudah cukup berubah. Banyak rumah sakit dan laboratorium di Yogyakarta yang akhirnya menyediakan layanan pemeriksaan swab antigen ini.

Berikut beberapa informasi terkait lokasi dan biaya pemeriksaan swab antigen di Yogyakarta.

Perhatian!

Informasi yang tertulis berasal dari berbagai sumber dan valid saat dituliskan. Sangat disarankan untuk selalu melakukan pengecekan informasi/data terbaru dengan menghubungi narahubung rumah sakit, , atau laboratorium tujuan.

Rumah Sakit

Lokasi dan Harga Pemeriksaan/Tes Swab Antigen di Yogyakarta.

Laboratorium

  1. Laboratorium Klinik Parahita
    Alamat: Jl. No.26, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten , Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
    Telepon: 0811 333 21 888 / 0811 333 26 888
    Website: labparahita.com / Surel: [email protected]
    Instagram: @labparahita
  2. INTIBIOS LAB Yogyakarta
    Alamat: Jl. Ngapak – Kentheng No.KM 5, Area Sawah, Banyuraden, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55293 (Google Maps)
    Telepon: 082130001433
    Website: intibioslab.id / Surel: [email protected]
    Instagram: @intibioslab_jogja
  3. Laboratorium Kimia Farma Jalan Adisutjipto
    Alamat: Jl. Laksda Adisucipto No.63A, Ambarukmo, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
    Telepon: 0274-489135
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  4. Laboratorium Kimia Farma Jalan Parangtritis
    Alamat: Jl. Parangtritis No.130, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143 (Google Maps)
    Telepon: 0274-419745
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  5. Laboratorium Kimia Farma Jalan Kaliurang Km. 6
    Alamat: Jl. Kaliurang KM.6 No.48, Purwosari, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55582 (Google Maps)
    Telepon: 0274-885220
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  6. HI-LAB Yogyakarta
    Alamat: Jl. Yos Sudarso No.27, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224 (Google Maps)
    Telepon: 0274-557722
    Website: hilab.co.id / Surel: [email protected]
    Instagram: @hilabjogja
  7. Yogyakarta International Airport (YIA)
    Alamat: Jl. Wates – Purworejo No.Km, RW.42, Area Kebun, Glagah, Kec. Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55654 (Google Maps)
    Telepon: 082220178484
    Instagram: @bandarayogyakarta
  8. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Laboratorium Kesehatan Sleman
    Alamat: Purwosari, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284 (Google Maps)
    Website: labkes.slemankab.go.id / Telepon: 081215083297
    Instagram: @uptdlabkessleman

Biaya dan Ketersediaan Layanan

Untuk biaya, berdasarkan ketetapan Pemerintah Pusat dalam Surat Edaran No HK. 02.02/I/4611/2020 yang dikeluarkan per tanggal 18 Desember 2020, batasan tarif tertinggi pemeriksaan Rapid Test Antigen-Swab sebesar Rp 250.000 untuk Pulau Jawa dan 275.000 untuk di luar Pulau Jawa.

Harga di setiap rumah sakit atau laboratorium mungkin berbeda. Disarankan untuk selalu merujuk ke masing-masing rumah sakit/laboratorium. Kebanyakan info terbaru juga mudah didapatkan melalui profil Instagram.

Sekali lagi, sangat disarankan untuk menghubungi penyedia layanan terlebih dahulu untuk memastikan. Jika ada informasi yang kurang sesuai, atau ada tambahan data, akan dicoba diperbarui dalam artikel ini.

Perjalanan Ke Luar Kota Dengan Kendaraan Pribadi di Masa Pandemi. Kenapa Tidak Naik Pesawat?

Ketika beberapa waktu lalu ada sebuah urusan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan secara jarak jauh di , akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri acara terkait pekerjaan di Jakarta pada pertengahan November 2020 lalu. Dan, dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Jakarta dengan kendaraan pribadi, sendiri tanpa teman/supir pengganti.

Mengapa tidak naik pesawat atau kereta saja? Bukankah lebih praktis (dan lebih murah)?

Beruntung, saya tinggal di Yogyakarta, dan rute tujuan perjalanan saya semua masih ada di pulau yang sama, punya beberapa pilihan moda transportasi. Sempat memang terpikir untuk memilih antara , atau bahkan kereta . Dua moda transportasi yang paling saya sering gunakan kalau bepergian dari Yogyakarta ke Jakarta (dan sebaliknya).

Barang Bawaan

Perjalanan kemarin, saya berencana akan ada di Jakarta selama sekitar lima hari. Artinya, bawaan saya jelas akan jauh lebih banyak — soal baju saja sudah pasti jumlah jauh berbeda karena selama masa pandemi jadi lebih sering ganti baju. Belum lagi bawaan selain baju seperti yang biasanya saya bawa dalam tas punggung saya.

Dengan banyaknya barang bawaan, otomatis akan berpengaruh terhadap cara mobilitas saya. Saya sempat membayangkan bagaimana bawaan saya harus berpisah sementara ketika saya menggunakan pesawat terbang. Membawa cukup banyak barang bawaan ketika ke Stasiun Tugu atau meninggalkan Stasiun Gambir, sudah terbayang repotnya.

Kalau saya naik pesawat, jelas koper saya harus masuk bagasi — apalagi saya akhirnya membawa dua buah koper dalam ukuran medium. Dan, mungkin bisa jadi saya over baggage.

Soal barang bawaan, kali ini pertimbangan saya adalah saya tidak mau terlalu repot membawa, dan saya mengusahakan sebisa mungkin saya berpisah dengan barang bawaan saya.

Jarak, Maskapai, dan Pilihan Waktu Perjalanan

Kalau saya naik pesawat, berarti saya harus terbang melalui Yogyakarta International Airport (YIA), yang jaraknya jauh dari rumah saya. Menurut Maps, lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Dan, saya harus berangkat menggunakan /GoCar dengan biaya mungkin sekitar Rp200.000,-. Padahal, pengalaman terakhir saya menggunakan GrabCar bulan lalu tidak terlalu menyenangkan.

Kalau mau yang lebih murah, saya bisa menggunakan Damri yang lokasi keberangkatan dari salah satu mal di Sleman, tidak terlalu jauh dari rumah. Dan, dari rumah saya tetap harus menggunakan GrabCar atau GoCar.

Untuk ke Jakarta, saya juga perlu untuk memilih maskapai apa yang perlu saya gunakan. Pilihan saya sempitkan kepada dua maskapai: Citilink Indonesia dan Garuda . Dan, saya tidak terlalu nyaman dengan jadwal penerbangan yang ada. Apalagi, tidak semua jadwal memberlakukan seat distancing dalam pengaturan kursinya.

Belum lagi bahwa saya harus berada di jauh lebih awal. Ditambah dengan jauhnya jarak ke bandara , paling tidak mungkin saya harus berangkat empat jam lebih awal. Misal saya ambil perjalanan pukul 14.40 WIB, mungkin sekitar pukul 11.00 WIB saya sudah harus meninggalkan rumah. Bahkan, bisa lebih awal kalau saya menggunakan Damri, karena saya tidak dapat memastikan jam berapa Damri akan berangkat.

Kalau saya sudah mendarat di Jakarta, berarti saya masih harus berurusan dengan pengambilan bagasi, keluar bandara, mencari transportasi ke arah Jakarta. Yang, biasanya ini juga memakan waktu yang tidak sedikit.

Soal kereta, sepertinya saya sudah tidak terlalu jadikan opsi sejak awal.

Yang pasti, dari semua pilihan yang ada, saya harus menyesuaikan jadwal. Belum lagi terkait dengan kebutuhan bahwa saya harus membawa dokumen hasil pemeriksaan (rapid test).

Dengan segala pertimbangan ini, perjalanan dengan kendaraan pribadi jadi makin masuk akal. Nah, “masalahnya” adalah: saya belum pernah sekalipun ke Jakarta naik mobil sendirian.

Persiapan dan Biaya

Selain meyakinkan diri sendiri bahwa naik kendaraan pribadi adalah pilihan terbaik, saya juga harus memastikan bahwa perjalanan saya akan aman, kendaraan yang saya gunakan juga dalam kondisi baik. Beruntung, baru sekitar tiga bulan lalu, saya mengganti ban depan mobil saya. Pertengahan Oktober lalu, kendaraan juga melakukan servis berkala. Dan, karena menggunakan kendaran sendiri, jadi mungkin sudah lebih ‘mengenal’ kendaraan ini seperti apa.

Soal rute, saya sempat tanya ke beberapa rekan dan saudara saya. Intinya: lewat tol saja, aman, cepat, dan seharusnya penunjuk jalan pasti jelas. Kalau sudah masuk ke Jakarta, apalagi saya akan melewati rute yang cukup familiar, harusnya tidak masalah sama sekali.

Mengenai biaya, untuk perjalanan dari Yogyakarta dan Jakarta kemarin saya habis sekitar Rp800.000,- untuk tol dan bahan bakar kendaraan saya (Mobilio). Di rest area saya tidak mengeluarkan biaya apapun, karena untuk makanan kebetualan saya sudah membawa bekal yang cukup lengkap, termasuk makanan kecil dan minuman. Biaya ini jumlahnya mungkin cukup besar, apalagi saya cuma perjalanan seorang diri. Jika mungkin berbarengan dua atau tiga orang, pastinya akan jauh lebih hemat.

Namun, jika dihitung saya menggunakan pesawat terbang ke Jakarta, apalagi hari Minggu, kurang lebih biaya untuk perbandingan adalah sebagai berikut:

Kalau ditotal, sekitar Rp1.180.000,-. Jadi, dengan kendaraan pribadi masih bisa sedikit lebih murah. Apakah cukup melelahkan perjalanan? Yang saya rasakan sih tidak begitu melelahkan. Karena justru bisa lebih fleksibel untuk istirahat.

Penghapusan Airport Tax/Passenger Service Charge (PSC) di 13 Bandara di Indonesia

Kabar baik untuk para pengguna jasa angkutan pesawat terbang, karena pemerintah baru saja menghapuskan beban tax atau Passanger Charge (PSC) untuk penerbangan dari 13 bandara di . Istilah bandara ini juga dikenal dengan Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) Tentu, ini kabar baik bagi mereka yang harus bepergian dengan pesawat.

Gambar pesawat di area Bandara Soekarno-Hatta (CGK)

Stimulus ini berlaku mulai 23 Oktober 2020 sampai dengan 31 Desember 2020. Daftar 13 bandar udara yang dihapus:

  1. Bandara Soekarno-Hatta (CGK)
  2. Bandara Hang Nadim (BTH)
  3. Bandara Kualanamu ()
  4. Bandara Bali I Gusti Ngurah Rai Denpasar ()
  5. International Yogyakarta Kulon Progo ()
  6. Halim Perdanakusuma Jakarta (HLP)
  7. Bandara Internasional Lombok Praya (LOP)
  8. Jenderal Ahmad Yani Semarang (SRG)
  9. Bandara Sam Ratulangi Manado (MDC)
  10. Bandara Komodo Labuan Bajo (LBJ)
  11. Bandara Silangit (DTB)
  12. Bandara Banyuwangi (BWX)
  13. Bandara Adi Sucipto ()

Dengan penghapusan ini, otomatis akan ada penyesuaian harga tiket yang selama ini harga yang tertera sudah termasuk dengan PSC. Dari puluah kali terbang — ketika harga tiket sudah termasuk PSC — saya sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rincian biaya. Yang saya tahu berapa total harga, dan kadang saya memastikan saja apakah biaya tersebut sudah termasuk bagasi atau tidak.

Tarif Bus DAMRI Malioboro-Pantai Parangtritis, Malioboro-Pantai Baron, dan YIA-Pantai Baron (Oktober 2020)

Walaupun masih dalam masa pandemi COVID-19, Perusahaan umum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik (DAMRI) membuka beberapa rute baru di , untuk menjangkau beberapa tempat wisata — khususnya pantai — dan termasuk Yogyakarta International ().

Bupati Suharsono saat meresmikan Palbapang-YIA di Terminal Palbapang, Kamis (17/9/2020) (Sumber foto: Jumali/Harian )

Hal tersebut untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam masa pandemi .

Khusus untuk tujuan pantai, memang ini masih menjadi tantangan tersendiri, karena angkutan umum publik yang selama ini memang bisa dikatakan cukup minim. Layanan seperti atau mungkin masih menjadi opsi yang lebih menarik walaupun secara biaya juga tidak tergolong murah. Tapi, itu opsi yang mungkin terbaik.

Opsi lain, tentu saja dengan menggunakan kendaraan pribadi, termasuk bagi wisatawan yang datang ke Jogja, bisa saja dengan menyewa sepeda motor.

Tarif dan Rute

Berikut daftar rute dan tarif DAMRI yang bisa dijadikan rujukan. Rute ini mulai beroperasi pada 15 Oktober 2020.

AirAsia Indonesia Terbang Lagi untuk Beberapa Rute Domestik Mulai 19 Juni 2020

Setelah Lion Air yang membuka beberapa rute penerbangan domestik pada 10 Juni 2020 lalu, AirAsia Indonesia melakukan langkah yang sama. Beberapa rute penerbangan domestik akan dibuka mulai 19 Juni 2020.

Mengutip dari keterangan resmi dari situs AirAsia, berikut beberapa rute yang akan dilayani.

No. PenerbanganAsalTujuanBerangkatTibaFrekuensi (hari)
QZ 7520 ()Bali ()09.2512.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 7521Bali (DPS)Jakarta (CGK)12.5013.35Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 192Jakarta (CGK)Medan ()12.1014.40Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 193Medan (KNO)Jakarta (CGK)15.0517.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu

Memang belum banyak, karena secara kebijakan dan karena perubahan standar prosedur operasional pasti banyak yang harus disesuaikan terlebih dahulu.

Rencana penerbangan saya bulan April 2020 lalu juga menggunakan maskapai ini, walaupun harus saya batalkan, dan sampai sekarang belum jelas juga status pengembalian dana karena pembatalan. Walaupun, kalau memang saya tidak eligible untuk mendapatkan refund ya tidak apa-apa, tapi status tiket kasus nomor 40585971 milik saya sampai saya tulis artikel ini juga masih “Sedang Berlangsung”.

Thomas Arie Setiawan, your happy customer
AirAsia Indonesia depart from Adistucipto Airport (JOG)

Secara prosedur, kurang lebih sama dengan bagaimana maskapai lain yang merujuk kepada Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman  Virus Disease 2019 (Covid-19).

Indonesia sendiri telah memiliki “Panduan Terbang Bersama AirAsia Selama Masa Kewaspadaan COVID-19”, dimana penumpang (untuk penerbangan domestik) disayaratkan untuk:

  1. Menunjukkan kartu dentitas diri (KTP atau tanda pengenal lainnya yang sah);
  2. Melengkapi dengan surat keterangan uji Rapid-Test dengan hasil non reaktif yang berlaku 3 hari atau Surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif yang berlaku 7 hari pada saat keberangkatan, atau Surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) yang dikeluarkan oleh Dokter Rumah Sakit/Puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas Test PCR dan/atau Rapid-Test;
  3. Mengunduh dan mengaktifkan aplikasi Peduli Lindungi pada perangkat telepon seluler

Dengan tambahan:

  1. Mengisi kartu kewaspadaan kesehatan elektronik (e-HAC) yang dapat diakses melalui aplikasi seluler e-HAC Indonesia () atau http://sinkarkes.kemkes.go.id/ehac.
  2. Khusus penumpang dari/ke DKI Jakarta diharuskan memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang dapat diproses di https://corona.jakarta.go.id/id/izin-keluar-masuk-jakarta#11sektor
  3. Khusus penumpang tujuan akhir Bali wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif dan mengisi formulir https://cekdiri.baliprov.go.id/
  4. Khusus penumpang tujuan akhir Lombok wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif.
  5. Mengisi surat pernyataan AirAsia. (Surat pernyataan dapat diunduh di Google Drive dalam format PDF)

Walaupun saya belum ada rencana untuk bepergian dengan — dan sebisa mungkin menghindari bepergian jarak jauh apalagi sampai menggunakan moda umum — persyaratan perjalanan memang jauh lebih ketat. Tapi, saya lebih setuju kalau memang pesyaratan ini benar-benar dijalankan oleh seluruh pihak, termasuk penumpang.

Stay safe, good people!

Lion Air Group akan Terbang Lagi untuk Rute Domestik 10 Juni 2020

Group dengan maskapai Lion Air (kode penerbangan JT), Wings Air (kode penerbangan IW), (kode penerbangan ID) akan kembali beroperasi pada 10 Juni 2020. Sebelumnya, mereka mengumumkan penghentian sementara operasional penerbangan domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Keputusan Lion Air Group dengan pertimbangan atas evaluasi setiap pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya, bahwa banyak calon penumpang yang tidak dapat melaksanakan perjalanan udara disebabkan kurang memenuhi kelengkapan dokumen-dokumen sebagaimana persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan selama masa kewaspadaan pandemi Virus Disease 2019 ().

Keterangan pers Lion Air terkait penghentian sementara operasional penerbangan domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Pembukaan kembali operasional pada 10 Juni 2020 tersebut didasarkan kepada pertimbangan bahwa “calon penumpang udara sudah semakin memahami serta akan dapat memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan pesawat udara yang ditetapkan selama masa waspada pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)”.

Keputusan ini juga merujuk kepada telah diterbitkannya Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Selain prosedur keselamatan dan pribadi, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam penerbangan. Walaupun ini merujuk kepada rilis yang dikeluarkan oleh Lion Air, tapi saya rasa maskapai lain — dan moda masal lain seperti atau kapal kurang lebih akan sama, yaitu:

  1. Jika tes kesehatan yang digunakan Rapid Testmaka masa berlaku adalah 3 hari, atau jika tes kesehatan yang digunakan Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), maka masa berlaku ialah 7 hari, atau
  2. Apabila kedua metode tes di atas tidak tersedia di daerah asal, maka calon penumpang harus mendapatkan surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) dari dokter rumah sakit/ Puskesmas.Untuk itu calon penumpang Lion Air Group harus mencermati masa berlaku dari dokumen kesehatan yang digunakan.

Walaupun saya belum berencana untuk melaksanakan perjalanan ke luar kota lagi dalam waktu dekat, sepertinya hal tersebut perlu saya catat dulu sebagai rujukan. Yang pasti, memang tidak akan sesederhana dan sefleksibel sebelum era Covid-19.

Dan, tentu saja meluangkan waktu lebih lama untuk tiba di , karena adanya prosedur-prosedur baru yang mengakibatkan proses persiapan pemberangkatan penumpang menjadi lebih lama.

Stay safe, everyone!

Few Things You Need to Know About The New Yogyakarta International Airport (YIA)

According to the news, the new International will be operating in late April 2019. For the first phase, some airlines like , Air Asia , and Silk Air will have their inaugural flights.

I will not talk about the controversies, but one thing for sure: there will be a new airport to support the ‘current’ airport that is too small to handle millions of passengers per year.

Location

New Yogyakarta International Airport is located in Kulon Progo Regency. Yes, it’s still in Yogyakarta Special Region. See map below. “So, is near the city center?”, “Is it far from International airport?”, you may be asking.

I personally haven’t visited this ‘new’ airport. As a citizen who lives not far from city center, — I define area as the city center here — New Yogyakarta International Airport is quite far.

In a very normal traffic, I can reach Malioboro area for about 25-30 minutes by car. Referring to Google Maps, the distance between Adisutjipto Airport and Malioboro area (I use Tugu Monument as the point of reference) is around 9-10km.

Leaving for your destination from Adisutjipto should not be difficult also as you can find taxies easily. Or, you can use ride sharing like Go-Jek Indonesia or Grab. If your destination is also available using Trans , it might be a solution also. Even, if you need go to directly to Solo city for example, the train station is just outside the arrival area.

Compared to the above route, the distance from the ‘new’ airport is ‘only’ around 48km (I pick the ‘shortest’ route provided by Google Maps).

How far is the New Yogyakarta International Airport?

If you could not figure out yet how far is the new airport, let’s see some other contexts for comparisons. We will use the distance between Yogyakarta Tugu Monument as the starting point and Google Maps to measure the distance.

So, distance from Yogyakarta Tugu Monument to:

How to get there?

I think Damri as the bus operator will server the route to the new airport, and the train from as well. But, I think it will take a little bit time. Renting a car might be little expensive. Taking Go-Car from Go-Jek or Grab is a reasonable option. Conventional metered-taxi, probably. It will cost more, I suppose. I checked the fare for Go-Car and Grab, it is around IDR 180,000-200,000.

Catatan Perjalanan: Batik Air ID-6375 JOG-CGK, 15 Januari 2018

Penerbangan ke beberapa hari yang lalu berjalan dengan lancar. Walaupun, Batik Air ID-6375 yang saya tumpangi dari () sempat mengalami keterlambatan sekitar 20 menit dari jadwal pukul 17:45 WIB.

Sekitar 30 menit sebelum jadwal boarding, ada pengumuman keterlambatan. Tak lama berselang, ada pengumuman lanjutan bahwa penumpang diminta untuk menuju area gate untuk menikmati makanan.

Saya sempat berpikir, kalau cuma terlambat sebentar saja (bahkan tidak sampai satu jam), kok ada makanan? Jangan-jangan karena ada penambahan waktu delay.

Ternyata, tidak ada pengumuman terkait delay. Tak lama kemudian, terdengar panggilan untuk melakukan boarding.

Oppie Andaresta

Ketika berjalan menuju pesawat dan mengambil foto, saya tidak terlalu memerhatikan bahwa ada Oppie Andaresta. Ya, saya tumbuh di era lagu-lagu seperti Cuma Khayalan, Hanya Kau Yang Bisa, dan juga Inget-Inget Pesan Mama. Saya sedikit mengenali justru ketika baru mau masuk pesawat.

Catatan Perjalanan: Batik Air ID-7533 HLP-JOG, 13 Desember 2017

Perjalanan menggunakan maskapai nomor penerbangan ID-7533 dari Halim Perdanakusuma menuju pada pertengahan Desember 2017 yang lalu berjalan dengan lancar dan tepat waktu.

Ketika tiba di Halim Perdanakusuma, seperti biasa saya langsung melakukan check-in — dan, kalau memang akan melanjutkan untuk sekadar makan siang atau minum kopi saya bisa lakukan setelah check-in.

Dalam penerbangan sebelumnya, saya sempat memanfaatkan layanan check-in mandiri yang ada di dekat pintu masuk. Saat itu, semua berjalan dengan lancar. Tapi, tidak siang itu.

“Ah, sepi sekali!”, begitu pikir saya. Jadi, tidak perlu antri. Namun, ketika saya coba ternyata saat itu sepertinya tidak semua mesin menyala. Tak mengapa, satu saja sebenarnya juga sudah cukup. Saya langsung saja masukkan kode pemesanan saya untuk mendapatkan boarding pass.

Gagal. Kode booking saya tidak dikenali. Saya coba ke mesin yang lain — padahal sebenarnya kalau satu gagal, besar kemungkinan yang lain juga gagal. Sama saja, gagal. Jadi, sepinya tempat check-in mandiri ini memang sangat masuk akal.

Tanpa membuang waktu, saya langsung saja melakukan check-in seperti biasa. Beruntung tak perlu waktu lama untuk melakukan check-in. Selanjutnya saya memilih untuk langsung saja masuk ke ruang tunggu. Tampak cukup banyak kursi tunggu yang terisi, walaupun tidak bisa dikatakan penuh juga.

Saat panggilan untuk boarding diumumkan, saya agak kaget karena waktunya masih cukup lama. Mungkin, saat itu berada agak jauh sehingga dibutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menuju ke pesawat. Karena lebih cepat berarti waktu boarding tidak terlalu terburu-buru, jadi kenapa tidak?

Malaysian man spent 18 days in Changi Airport lounges using 31 forged boarding passes

Malaysian man spent 18 days in Changi Airport lounges using 31 forged boarding passes.

He downloaded images of boarding passes issued by two airlines – Cathay Pacific and Singapore Airlines – from the , and used an editing on his to alter them.
Raejali inserted his name, a false flight number and a false destination on the fake mobile boarding passes, before sending them to his . He forged 31 such passes and used them at nine lounges run by five operators.

Catatan Perjalanan: Batik Air ID-6366 CGK-JOG, 7 Juni 2015

Perjalanan pulang ke saya setelah beberapa hari urusan pekerjaan di saya tempuh dengan , maskapai yang sama dengan yang membawa saya ke Jakarta beberapa hari sebelumnya. Armada taksi Uber yang membawa saya ke Terminal keberangkatan 1C Soekarno-Hatta sampai sekitar pukul 16.00 WIB. Saya langsung melakukan check-in di konter yang Minggu sore itu terlihat tidak begitu ramai. Proses check-in berjalan dengan cepat dan lancar. Dari informasi di boarding pass, waktu boarding direncanakan pukul 17:50 WIB untuk jadwal penerbangan 18:20 WIB.

Sesampainya di Gate C7, saya menghabiskan waktu menunggu. Tidak terlalu ramai saat itu, tidak banyak kursi tunggu yang tidak terisi. Pukul 17:55, panggilan untuk boarding diumumkan. Dengan berjalan kaki menuju ke , saya langsung masuk melalui pintu bagian depan untuk menuju ke tempat duduk saya di nomor 5F.

Sekitar pukul 19:25, pesawat mendarat di Bandara dalam kondisi cuaca yang cukup baik dan dengan waktu sesuai jadwal.

Secara keseluruhan, dua kali perjalanan yang saya tempuh bersama maskapai Batik Air minggu tersebut berjalan dengan baik. Penerbangan tepat waktu, dan layanan yang cukup baik.

Catatan: Tulisan diatas adalah tulisan pribadi berdasarkan pengalaman terbang pada tanggal yang tertulis. Koleksi foto adalah koleksi pribadi yang diambil selama perjalanan.

Catatan Perjalanan: Batik Air ID-6361 JOG-CGK, 4 Juni 2015

Awal Juni, untuk sebuah keperluan di , saya melakukan perjalanan ke Jakarta. Penerbangan yang saya pilih adalah Batik Air dengan nomor penerbangan ID-6361 yang berangkat dari pada pukul 07.40 WIB.

Screen Shot 2015-06-10 at 2.10.37 AM

Suasana Adisutjipto di hari pagi itu cukup padat ketika saya tiba sekitar pukul 06.35 WIB. Segera saya lakukan check-in di konter yang ada. Antrian cukup panjang, namun proses check-in berlangsung cukup lancar. Saya langsung masuk ke ruang tunggu yang pagi itu juga terlihat cukup ramai. Satu demi satu panggilan untuk boarding diumumkan. Akhirnya, sekitar pukul 07.05 WIB panggilan boarding untuk penerbangan saya diumumkan.

Saya masuk melalui pintu bagian belakang, untuk langsung menuju ke tempat duduk saya di nomor 17E. Seluruh proses sampai saya duduk berjalan dengan lancar. Saya lihat melalui jendela, pagi itu cuaca cerah. Suasana yang menyenangkan untuk memulai hari.

Pengalaman terbang dengan Citilink Indonesia

Salah satu rutinitas yang saya lakukan terkait dengan pekerjaan adalah bepergian dengan menggunakan moda udara, walaupun memang rute yang paling sering adalah hanya rute pendek yaitu ke (dan sebaliknya).

Sewaktu saya melihat arsip salah satu transaksi pengeluaran, saya menyadari bahwa dari 6 (enam) kali saya melakukan penerbangan selama dua bulan terakhir, saya menggunakan layanan maskapai Citilink Indonesia. Dari penerbangan tersebut, total saya membeli untuk 10 (sepuluh) penumpang termasuk saya sendiri selain rekan-rekan kantor. Mengapa ?

Citilink_1294812481

Rute, jadwal terbang, dan rutinitas

Alasan yang paling utama adalah terkait dengan aktivitas saya. Ketika berkunjung ke Jakarta, dalam periode tersebut saya banyak menuju ke area Jakarta Selatan. yang mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) di Jakarta Timur tentu sebuah keuntungan tersendiri bagi saya. Jarak yang lebih dekat (dari tujuan) otomatis sedikit mengurangi waktu perjalanan ke tujuan, disamping juga biaya transportasi (taksi).

Cerita Perjalanan ke Malaysia (Hari Pertama)

Kalau mendengar kata , pikiran saya seringkali langsung tertuju kepada hubungan yang terasa kurang manis antara dengan Malaysia. Terutama ketika menyangkut , atau budaya. Kadang merasa kesal, tapi jujur saja lebih sering merasa tidak memedulikan. Tidak akan selesai kalau harus mencari siapa yang salah atau dipersalahkan, atau siapa yang benar.

Jadi, lebih sering isu seputar hubungan yang kurang harmonis tidak terlalu menyita perhatian saya.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mendatangi Malaysia, negeri jiran sahabat Indonesia. Kedatangan saya untuk kali pertama tersebut untuk urusan pekerjaan, jadi praktis jadwal dan agenda lebih banyak terkait pekerjaan, bukan liburan. Saya hanya menghabiskan 3 hari 2 malam disana. Tidak banyak waktu mengeksplorasi negara yang memiliki 13 negara bagian, dan 3 wilayah persekutuan tersebut. Dan, ini beberapa catatan dalam perjanan saya.

Terbang menuju Kuala Lumpur

Bersama dengan 4 orang rekan kerja, saya berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dengan maskapai Air Asia pada pukul 06:25. Saya sendiri sudah tiba di lokasi sekitar pukul 05.30. Proses pemeriksaan dan pembayaran tax juga cukup cepat dan lancar.

Air Asia QZ8190 berangkat tepat waktu, tidak ada yang istimewa dalam perjalanan. Saya sendiri menghabiskan sebagian waktu dalam penerbangan untuk tidur — karena belum tidur sama sekali malamnya. Sekitar pukul 09:25 waktu Kuala Lumpur, pesawat mendarat di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) (KUL).

Setelah sampai, saya dan rekan-rekan yang lain memutuskan untuk sarapan (atau lebih tepatnya makan siang). Pilihan jatuh ke Old Town White Coffee. Untuk pilihan menu, saya memilih Old Town Nasi Lemak dengan Ayam Goreng. Untuk minum, saya memilih segelas Teh Tarik.

Nasi Lemak with Fried Chicken
Nasi Lemak with Fried Chicken

Setelah selesai makan, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan taksi ke kawasan Damansara Perdana di Petaling Jaya. Saat itu, saya memang tidak terlalu mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasinya. Perkiraan perjalanan sekitar satu jam. Tujuannya sendiri adalah ke kantor rekanan. Biaya taksi sendiri — dengan harga dari counter taksi yang ada adalah RM 84.30.

Will Soekarno-Hatta (CGK) be on the top 10 busiest airports?

It might be.


Got the tweet from Daniel Giovanni (@qronoz), and I spent my time exploring the at about World’s busiest airports by passenger traffic. Some interesting numbers there. According to the statistics in 2011, Soekarno-Hatta was ranked as the 12th busiest airport (by passanger traffic) in the world after International Airport and Denver International Airport. It’s bussier than John F. Kennedy International Airport and Singapore Changi Airport.
Untitled
Still according to Wikipedia, “a passenger” is described as:

“someone who arrives in, departs from, or transfers through the airport on a given day”.

Seeing from the figure, I think Soekarno-Hatta might be on the top 10 list in 2012. Or, probably in 2013. Of course, there are some other factors involved, but let’s look closer on some facts about Soekarno-Hatta airport:

  • Soekarno-Hatta began to operate in 1985. The current operator is PT Angkasa Pura II, anyway.
  • Currently, there are 3 terminals (Terminal 1, Terminal 2, and Terminal 3). According to the plan, Terminal 4 will be build in 2013. In total, there are 45 gates.
  • By passenger traffic, here are some statistics:
    • In 2008, it was ranked number 36
    • In 2009, it was ranked number 22
    • In 2010, it was ranked number 16
    • In 2011, it was ranked number 12 (19.3% change from the previous year, with the total passengers of 52,446,618). Compared to the other 29 airports on the list, Soekarno-Hatta had the biggest growth followed by Atatürk International Airport of Turkey (16.3%)

So, what do you think about the statistics in 2012?