1 Tahun Berhenti Merokok

Akhir Mei 2019 lalu sepertinya perlu ada sedikit catatan khusus karena di bulan tersebut, sudah genap satu tahun saya tidak merokok sama sekali.

Puji Tuhan.

Ternyata, enam bulan tidak terlalu terasa untuk dilewati. Bahkan, rasanya lebih mudah dibandingkan dengan hari atau minggu-minggu awal.

“Jadi, apa bedanya?”

Perbedaan yang paling utama adalah berubahnya beberapa kebiasaan yang sedikit banyak melibatkan rokok, atau aktifitas merokok. Misalnya, kalau ada tempat nongkrong atau makan yang menyediakan ruang merokok, saya lebih memilih untuk berada di ruang tanpa merokok. Sebelumnya, area merokok terasa lebih menarik. Walaupun, jika tetap berada di area merokokpun, saya juga tidak masalah.

Demikian juga ketika melakukan perjalanan. Ketika menginap, saya sering mencari area merokok. Di penginapan, bersyukur sekali kalau ada area merokok. Kalau di bandara atau stasiun kereta, area merokok merupakan sebuah area yang sering saya tuju. Bahkan, dulu kadang rela agak jalan jauh hanya karena ingin merokok. Duh!

Intinya, kebiasaan ada yang berubah. Termasuk tidak ada lagi ‘sebats dulu’. Tapi, saya masih oke saja kalau ada yang mau sebatang dulu.

Tapi, ada beberapa perbedaan yang lebih penting menurut saya. Saya tidak perlu membuat istri mencium bau rokok ketika saya ada di dekatnya. Baju juga tidak bau rokok — kecuali karena memang ada di area dimana ada yang merokok. Kayaknya bau rokok yang gampang menempel adalah sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Rumah juga tidak perlu bau rokok. Walaupun, kalau ada yang mau merokok di rumah, tetap diperbolehkan tapi di teras luar.

“Lebih hemat berapa?”

Salah satu alasan saya untuk memutuskan berhenti merokok adalah karena ingin berhemat. Paling tidak, uang yang dibelanjakan untuk merokok bisa dialihkan ke yang lain. Jika dianggap saja setiap bulan saya menghabiskan 15 bungkus rokok, dan setiap bungkus harganya anggap saja Rp25.000,- maka sebulan ada tambahan Rp375.000,- yang bisa saya belanjakan untuk pos pengeluaran lain.

Walaupun sulit dihitung, namun waktu adalah sesuatu yang akhirnya di hemat juga. Dulu, misal sedang melakukan aktifitas kadang mengakhiri sedikit lebih cepat supaya ada waktu untuk sebatang atau dua batang dulu. Tidak selalu untuk hal-hal yang produktif memang, namun tak jarang lumayan juga buat tidur. Haha!

“Jadi, apa yang membuat ini (cukup) berhasil?”

Yang pasti, kalau menanyakan kepada orang-orang terdekat, bukan dalam konteks berhenti merokok saja, namun apapun yang diniatkan untuk hal baik, pasti ada dukungan dan jalannya. Itulah menurut saya satu-satunya alasan. Walaupun, sepertinya ada hal lain yang membantu proses ini.

Saya bawa keinginan ini dalam doa.

Saya bukan orang yang religius, atau memiliki pemahaman biblika yang dalam. Namun, saya merasa bahwa doa memiliki peran yang penting.

Saya bisa saja membuat janji kepada istri atau orang terdekat untuk (misalnya) tidak akan merokok lagi. Toh, kalaupun gagal mungkin bisa dimaklumi. Atau, kalaupun nanti merokok sembunyi-sembunyi juga tidak ada yang tahu. Orang bisa mengejek, istri bisa marah, apa sih yang paling buruk? Semua bisalah dihadapi.

Tapi, meniatkan kepada diri sendiri, membawa dalam doa, membuat ‘perjanjian rahasia’ dengan Tuhan, urusannya bisa jadi beda. Karena Dia mungkin hanya akan melihat dan diam saja. Bukankan didiamkan adalah salah satu siksaan/hukuman yang sangat menyakitkan?

Itu yang saya percaya. Termasuk bahwa saya percaya hal baik akan diikuti oleh hal baik lainnya. Beberapa bulan setelah meniatkan berhenti merokok, istri saya hamil. Saya tidak mau mengkaitkan apakah ini karena niat baik atau bukan, namun saya menerima ini sebagai berkat dari Tuhan.

Genap satu tahun berhenti merokok juga saat anak saya genap berusia satu bulan.

Tuhan itu baik.

Published