Keinginan untuk berhenti merokok di Oktober tahun lalu sepertinya bisa dikatakan tidak berhasil dengan baik. Walaupun secara frekuensi berkurang, namun tetap saja ada bolong-bolong. Tidak perlu didefinisikan sedikit gagal atau gagal total. Intinya: gagal.

Bukan tidak berusaha, tapi godaan atau keinginan untuk merokok masih saja muncul. Apalagi dalam kondisi-kondisi yang memang sangat menggoda. Dari ngopi, menunggu dan mengawasi tukang menyelesaikan pekerjaan, perjalanan luar kota, dan lain sebagainya. Benar-benar tidak mudah.

Namun, efek dari ‘kegagalan’ yang menurut saya paling berat justru bukan soal gagal dari niat saja. Saya jadi berbohong kepada diri sendiri. Parahnya, jadi juga berbohong ke orang lain, termasuk ke orang terdekat. Bilang tidak merokok, padahal iya. Bilang satu batang, padahal dua batang. Intinya lebih tentang berbohong.

Dan, satu kebohongan kecil akan menurunkan kebohongan berikutnya. Begitu seterusnya.

Lalu? Saya sudah membuat cukup banyak alasan dan pembenaran kenapa saya harus berhenti merokok. Alasan sudah sangat kuat dan bahkan mau didebat dengan cara apapun, alasan itu masih akan tetap kuat. Dan, sesungguhnya ini tentang pertarungan dengan diri sendiri. Bukan dengan ratusan alasan, bukan pula dengan ribuan pembenaran.

Jadi, saya berkata dalam hati untuk berusaha lagi, kali ini harus lebih baik. Saya sebut dalam doa kecil bersama pasangan. Saya rasa ini tentang kekuatan hati, yang saya yakin juga dibantu dengan kekuatan doa.

29 Mei 2018, saya putuskan untuk (kembali) mencoba berhenti. Satu hari bisa dilewati. Dan, hari-hari dengan tantangan yang sama dengan sebelumnya juga terlewati, dan kali ini sepertinya berjalan dengan lebih baik. Ketika saya bahkan harus ke luar kota dan sendirian, yang biasanya dengan mudah menghisap rokok, sekarang rasanya biasa saja. Ketika nongkrong yang biasanya akan cari area merokok, berada di area tidak merokok juga biasa saja.

Baca juga:  Catatan Perjalanan: Citilink Indonesia QG-103 JOG-HLP, 25 Juni 2015

Kali ini, semua berjalan terasa lebih mudah. Mungkin, perjuangan ini lebih untuk menjaga kondisi hati dan pikiran saya. Kalau dulu mungkin “ah merokok juga bisa tetap baik-baik saja”, sekarang mungkin sudah mulai berganti menjadi “tidak merokok akan lebih baik”.

One reply on “Jadi, apa kabarnya tentang berhenti merokok?”

Comments are closed.