Menciptakan Rutinitas dan Kebiasaan

Karena saya bekerja, berangkat dan pulang kerja adalah salah satu rutinitas yang saya jalani setiap hari kerja. Bosan? Tidak, karena hal ini perlu disyukuri. Ditambah dengan saat ini saya bekerja dalam lingkungan yang nyaman, dengan rekan-rekan kerja yang menyenangkan.

975097qsf713tl

Mungkin sekitar satu tahun terakhir ini, ternyata saya memiliki beberapa rutinitas lain yang tidak terlalu saya sadari. Memang saya ciptakan, tapi sepertinya tidak saya sadari bahwa cukup “berhasil”. Dengan memiliki rutinitas atau sesuatu yang sudah terjadwal, waktu jadi bisa lebih berharga. Tidak terlalu ‘wah’ seperti liburan ke luar kota atau luar negeri, bukan pergi menikmati kuliner untuk memanjakan lidah perasa. Bukan rutinitas semacam itu.

Setiap Jumat, walaupun tidak ada aturan berpakaian di tempat kerja, saya berusaha menggunakan kemeja batik. Sebenarnya, menggunakan kaos juga tidak mengapa, menggunakan kemeja lebih baik lagi. Namun, menggunakan batik merupakan hal yang saya pilih, apalagi beberapa rekan kerja juga memakainya.

Selamat tinggal, Pebble Time

Setelah Pebble diakuisisi oleh Fitbit di akhir tahun 2016, saya sempat terpikir bagaimana nasib Time yang saya miliki, terutama terkait perbaruan perangkat lunak. Pebble Time ini adalah smartwatch satu-satunya yang saya miliki. Saya pilih warna hitam, dan istri saya warna putih.

Akhirnya, nasib Pebble diperjelas melalui rilis dari Fitbit yang mengumumkan penghentian dukungan untuk Pebble pada 30 Juni 2018. Setelah tanggal tersebut, Pebble akan menghentikan layanan Pebble appstore, , fitur pengenalan suara (voice recognition), membalas surel dan dengan perangkat , dan beberapa fitur lainnya. Aplikasi untuk dan iOS tidak akan mendapatkan perbaruan lagi.

akan memberikan diskon US$50 bagi mereka yang sebelumnya telah memiliki perangkat Pebble sebelum 7 Desember 2016 untuk produk Fitbit Ionic. Saya sendiri belum berencana beli jam tangan baru. Yang terpikir saya malah ingin kembali ke analog.

Fitur Last Activity di Instagram dan Cara Menonaktifkannya

Saya suka dengan Instagram. Mungkin adalah aplikasi yang paling sering saya gunakan saat ini, termasuk Twitter. Aplikasi lain seperti Path sudah saya tinggalkan cukup lama. Facebook, saya sudah nonaktifkan paling tidak untuk saat ini.

Baru-baru ini, Instagram melalui perbaruan aplikasinya merilis fitur “Last Activity Status”.  Fitur ini kurang lebih seperti , dimana kita bisa melihat kapan terakhir kali seorang dalam kontak terlihat aktif. Bedanya, di Instagram, fitur ini untuk melihat kapan terakhir kali seorang pengguna ‘terlihat’ menggunakan/membuka aplikasi Instagram.

Informasi tersebut terlihat melalui fitur Direct Message. Dibawah username, terlihat kapan terakhir kali pengguna tersebut menggunakan Instagram.

inst91359175-19725

Jadi, semua follower akan dapat melihat informasi ini? Tidak. Informasi ini hanya terlihat oleh akun yang kita follow, atau yang sebelumnya telah mengiriman pesan pribadi (direct message).

Tentu saja ini bukan fitur yang diingikan semua orang. Apalagi fitur ini secara default dalam status diaktifkan. Namun, kita bisa menonaktifkan fitur ini jika tidak menginginkannya.

Menonaktifkan fitur ‘Last Activity’

Cara menonaktifkan fitur ini cukup mudah, baik di aplikasi Instagram berbasis atau .

  1. Buka aplikasi Instagram
  2. Masuk ke Profil, kemudian sunting profil
  3. Pada pilihan “Show activity status”, ubah pengaturan menjadi Off (Tidak aktif)

Pengaturan ini akan menonaktifkan fitur ini sepenuhnya, sehingga kita juga tidak bisa melihat status aktivitas pengguna lain juga.

Autodebet Pembayaran Kartu Kredit

Sejak kali pertama saya memiliki kartu kredit sampai dengan saat ini dengan kondisi ada lebih dari satu , saya memilih untuk melakukan pembayaran secara autodebet.

Walaupun kartu kredit ini memang salah satu sarana untuk kita bisa hutang terlebih dahulu kepada , namun kartu kredit jelas bukan alasan utama supaya bisa berhutang.

579017sfo283

Alasan kenapa saya melakukan pembayaran secara autodebet cukup sederhana. Pertama, saya tidak mau lupa melakukan pembayaran, dan tidak mau menyisakan hutang. Pokoknya, berapapun pembayaran yang dibebankan, harus dilunasi. Saya tidak ada kompromi untuk hal ini. Puji Tuhan, sampai dengan saat ini, komitmen tersebut masih bisa saya penuhi.

Kedua, karena saya tidak mau terjebak dalam bunga kartu kredit dan beban lain yang muncul gara-gara adanya tunggakan dalam tagihan kartu kredit. Apalagi, sampai harus melakukan pembayaran kartu kredit dengan kartu kredit lain.

Walaupun, tetap saya cukup sering memanfaatkan fasilitas cicilan 0% dari penerbit kartu kredit. Fasilitas semacam ini bagi saya sayang untuk tidak dimanfaatkan, termasuk fasilitas yang sekiranya menguntungkan.

Pernah satu ketika, saya melakukan transaksi dengan kartu kredit memanfaatkan fitur cicilan 0%. Transaksinya saat itu cukup besar, namun ada kesalahan dari sistem (saat itu setelah saya gali informasinya, kesalahan dalam sistem penjual/merchant). Saya punya dua opsi: urus ke bank untuk mengubah menjadi cicilan, atau melunasinya.

Karena secara prinsip ini lebih kepada kapan harus membayar, jadi saya putuskan untuk langsung saja melakukan pelunasan. Pernah juga malah sebaliknya, saya melakukan perubahan dari cicilan menjadi pembayaran langsung alias non-cicilan.

Lebih baik punya sedikit saldo di rekening daripada saldo banyak tapi hutang juga banyak.

Kemana Kau Mengayuh Becakmu?

Saya tidak ingat pasti, kapan terakhir kali saya bertegur sapa dengan bapak (atau mungkin eyang) penarik becak yang sering mangkal di gang masuk tempat tinggal saya. Ketika masuk gang ke rumah, hampir tak mungkin untuk tidak bertemu jika beliau sedang mangkal menunggu penumpang, atau mungkin beristirahat.

bck182017241

Saya tidak tahu dimana beliau tinggal. Bahkan, namapun saya juga tidak pernah tahu. Yang saya tahu, di usia yang menurut saya sudah harus beristirahat, beliau memilih untuk tetap bergerak, mengayuh becak yang entah miliknya, atau sekadar menyewa saja.

Tidak ingin dikasihani, itu sudah pasti. Jadi, sering kali saya berbagi sedikit rejeki dengan beliau dengan minta mengantarkan saya ke suatu tempat, pergi pulang. Karena, cukup sering saya melihat becaknya hanya berdiam di bawah pohon yang tak begitu tinggi, di pinggir jalan.

Pernah suatu kali, ketika saya sedang ingin membeli makan siang yang agak terlambat karena sudah menjelang sore, saya ajak beliau untuk menemani saya makan. Namun, beliau menolak dengan halus, “mboten sah, saking enjang dhereng narik” (tidak usah, dari pagi belum narik).

Rasanya sesak.

Setelah makan, saya paksa beliau untuk menerima nasi dan minuman yang saya bungkus. Saya tidak ingin berbicara terlalu lama. Berikan sesegera mungkin. Itu saja.

Ketika dua kali saya sedikit berbagi rejeki saat Lebaran, beliau menerima dengan senang hati. Pandangan matanya sepertinya tidak cukup lihai untuk berbohong.

Kini, sudah beberapa bulan saya hampir tidak pernah melihatnya lagi. Mungkin karena saya sering berangkat lebih pagi atau pulang larut malam. Semoga karena ini.

Semoga beliau baik-baik saja. Semoga dia mangkal di tempat yang lebih ramai, dengan rejeki yang lebih baik.

WhatsApp Business

WhatsApp meluncurkan aplikasi WhatsApp Business yang diharapkan dapat lebih membantu lagi mereka yang menggunakan untuk keperluan bisnis seperti online shop dalam hal berinteraksi dengan pelanggannya. Saya sendiri masih menggunakan WhatsApp, walaupun lebih sering menggunakan Telegram terutama untuk terkait pekerjaan.

LuLu

LuLu, aplikasi firewall berbasis open-source untuk . Alternatif untuk Little Snitch.

Tantangan Mencari Properti Rumah Pertama di Jogjakarta

Ini adalah cerita pengalaman saya dan istri dalam mencari hunian di kota . Perlu saya tuliskan, siapa tahu bermanfaat. Tulisan merupakan pengalaman dan pendapat pribadi. Seluruh informasi ini berdasarkan kondisi pada akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018. Beberapa informasi mungkin tidak relevan lagi berdasarkan waktu.

Rumah Pertama

Kami harus bersyukur karena setelah menikah, kami dapat menempati rumah tanpa terlebih dahulu harus mengontrak. Beberapa bulan, kami tinggal di rumah kerabat istri. Kemudian, hampir di satu tahun usia pernikahan, kami tinggal di rumah lain yang selama ini saya tempati. Bukan milik sendiri, namun milik orang tua saya.

Tidak ada masalah sama sekali sebenarnya. Namun, kami sangat ingin untuk memiliki rumah pertama. Sebelumnya memang sudah sempat untuk mendefinisikan hal-hal yang menjadi pertimbangan atau impian untuk hunian. Namun, setelah berjalannya waktu, sepertinya harus ada penyesuaian dari kriteria awal.

Kriteria dan Pertimbangan

Kriteria dan pertimbangan yang kami miliki sebenarnya cukup banyak, namun kami pikir ini juga masih kriteria umum. Jadi, tidak ada yang sangat spesifik.

  1. Rumah — yang siapa tahu bisa — menjadi rumah yang produktif. Jadi, di awal kami masih mempertimbangkan apakah hunian yang akan kami miliki akan dapat diproduktifkan misalnya disewakan sepenuhnya, atau disewakan sebagian.
  2. Berada dalam kawasan perumahan. Hal ini sebenarnya lebih kepada alasan keamanan, lingkungan, dan juga fasilitas umum.
  3. Lokasi strategis. Walapun definisi ‘strategis’ ini cukup sulit, namun bayangan kami adalah lokasi berada daerah kota Jogjakarta, masih di dalam ringroad atau sedikit diluar ringroad.
  4. Harga masih dalam budget. Ini tentu saja yang paling penting, karena kami juga tidak mau terlalu memaksakan sekali.
  5. Bukan apartemen. Walaupun sudah mulai banyak penawaran apartemen di Jogjakarta, namun apartemen bukan pilihan.

Berbekal dengan kriteria di atas, akhirnya kami mulai melakukan pencarian.

Bootstrap 4

Bootstrap 4 telah diluncurkan. Akhirnya.

Penerbangan Internasional AirAsia Pindah ke Terminal 3 Soekarno-Hatta

Mulai 22 Januari 2018 pukul 03.00 WIB, seluruh penerbangan internasional AirAsia berpindah ke Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Konter check-in dan penyerahan bagasi terletak pada konter D 14-18 di area keberangkatan Terminal 3. Sebelumnya, keberangkatan penerbangan internasional berangkat dari Terminal 2E. Penerbangan domestik AirAsia tetap beroperasi di Terminal 2F.

DigitalOcean $5 2018

Walaupun situs blog ini berada dalam layanan cloud server dari Linode, namun saya ada juga menggunakan layanan dari DigitalOcean. Dari sisi harga, keduanya hampir mirip. Hanya saja, per awal Januari 2018, DigitalOcean menawarkan harga yang sedikit lebih murah ($US5 untuk 1GB RAM dan 25GB SSD ).

Catatan Perjalanan: Citilink QG-108 HLP-JOG, 17 Januari 2018

Penerbangan ke dari Halim Perdanakusuma pada pertengahan Januari 2018 dengan maskapai Citilink Indonesia QG-108 kali ini berjalan dengan sangat lancar. Tidak ada keterlambatan, bahkan waktu kedatangan di Bandara Adisutjipto, Jogjakarta sedikit lebih cepat dari jadwal.

Sore itu, Halim Perdanakusuma sebenarnya dilanda hujan. Sempat khawatir apakah cuaca ini akan mengganggu penerbangan atau tidak. Karena tiba di cukup awal, sekitar pukul 15.00 WIB sedangkan penerbangan saya dijadwalkan pukul 19:30 WIB, jadi sejenak menghabiskan waktu sebelum bisa check-in.

Berbeda dengan pertengahan Desember tahun lalu, kali ini konter untuk melakukan check-in secara mandiri yang berada di area keberangkatan beroperasi secara penuh. Apalagi, kebetulan saya juga tidak harus membawa barang dalam bagasi.

Catatan Perjalanan: Batik Air ID-6375 JOG-CGK, 15 Januari 2018

Penerbangan ke beberapa hari yang lalu berjalan dengan lancar. Walaupun, Batik Air ID-6375 yang saya tumpangi dari () sempat mengalami keterlambatan sekitar 20 menit dari jadwal pukul 17:45 WIB.

Sekitar 30 menit sebelum jadwal boarding, ada pengumuman keterlambatan. Tak lama berselang, ada pengumuman lanjutan bahwa penumpang diminta untuk menuju area gate untuk menikmati makanan.

Saya sempat berpikir, kalau cuma terlambat sebentar saja (bahkan tidak sampai satu jam), kok ada makanan? Jangan-jangan karena ada penambahan waktu delay.

Ternyata, tidak ada pengumuman terkait delay. Tak lama kemudian, terdengar panggilan untuk melakukan boarding.

Oppie Andaresta

Ketika berjalan menuju pesawat dan mengambil foto, saya tidak terlalu memerhatikan bahwa ada Oppie Andaresta. Ya, saya tumbuh di era lagu-lagu seperti Cuma Khayalan, Hanya Kau Yang Bisa, dan juga Inget-Inget Pesan Mama. Saya sedikit mengenali justru ketika baru mau masuk pesawat.

Karabiner MacOS

Karabiner, aplikasi untuk memodifikasi tata letak kibor ini cukup bermanfaat bagi saya saat ini. Karena, tombol Shift kiri di saya tidak berfungsi. Saat ini, saya “menukar” tombol Shirt kiri dengan tombol Function (fn).

Nama Organisme Menggunakan Nama Tokoh Ternama

Daftar nama organisme menggunakan nama tokoh ternama. Belum lama, Myzomela irianawidodoae menjadi nama spesies burung yang ditemukan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Nama tersebut diambil dari nama Ibu Negara Iriana Joko Widodo.