Pengalaman Pengembalian Barang Pesanan di Tokopedia

Dari puluhan — atau bahkan mungkin ratusan — transaksi yang saya lakukan di , mungkin baru minggu kemarin saya mengalami kasus dimana saya harus melakukan pengembalian barang karena alasan barang tidak sesuai dengan deskripsi produk.

by Karolina Grabowska

Terakhir kali melakukan pengembalian barang tahun lalu, lebih karena produk dalam kondisi tidak sempurna. Dan, prosesnya waktu itu cukup lancar. Pengalaman kurang mengenakkan sedikit terobati karena penjual memberikan jawaban yang baik. Andai saja saat itu pengecekan barang bisa dilakukan lebih teliti. Pun demikian, bisa saja terjadi ketika proses ekspedisi.

Kali ini, pengalaman saya sedikit berbeda.

Proses transaksi sebenarnya OK saja, dan barang diterima dengan baik tanpa masalah. Ketika melakukan unboxing, barang dalam kondisi baik. Hanya saja, barang yang dikirim berbeda dengan deskripsi order. Bahkan, isi barang juga berbeda dengan label pengiriman yang tertera dalam deskripsi resi.

Saya hubungi penjual melalui fitur chat di aplikasi Tokopedia. Kurang lebih begini diskusinya.

Saya: “Selamat siang, mau update terkait pemesanan. Jadi, barang sudah saya terima, tapi yang dikirim barangnya beda, saya ada unboxing juga. apakah dapat dibantu?”
Penjual: “Iya adanya itu saja gan.Maaf stok kita adanya (ukuran yagn salah di sini)”

Percakapan melalui chat di Tokopedia

Lha! Iya, tetap dikirim walaupun (sebenarnya) stoknya berbeda. Jadi harapannya apa? Pembeli tidak komplen? Duh!

Saya tentu tidak memilih ganti barang, karena toh sudah jelas stok tidak ada. Andai saja penjual sejak awal menginfokan kalau stok (ternyata) tidak tersedia. Jadinya kan tidak perlu ribet mengirim kembali.

Saya lalu coba kembali ke penjual yang lain. Ternyata ada beberapa opsi. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya tanyakan mengenai stok terlebih dahulu. Dan, dapat dua informasi penting:

  1. Barang ready , ketika saya tanyakan ketersediaan barang sesuai tautan produk;
  2. Tipe dan seri barang tersedia, ketika saya tanyakan dengan detail.

Proses transaksi lancar saja, dan ketika barang sampai, kembali barang tidak sesuai pesanan juga!

Dan, ketika menghubungi penjual, jawaban tidak kalah lucu, “Emang gak bisa ya gan? Salah kirim kek nya. Dituker aja deh”

Sejuta topan badai!

Saya memilih untuk langsung saja ajukan komplain, tanpa menjawab apa-apa lagi. Saya rasa tidak perlu lagi melanjutkan diskusi.

Kali ini, seller Tokopedia kurang asik. Dua kali pesanan dalam satu minggu pula!

Pengalaman Membeli dan Mengganti Ban Mobil di Ottoban Indonesia (Yogyakarta)

PERHATIAN

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi menggunakan jasa layanan Ottoban pada April 2022. Penulis tidak memiliki kerjasama dengan pihak Ottoban. Seluruh biaya merupakan biaya pribadi penulis. Pengalaman berbeda mungkin dapat dialami dan penulis merekomendasikan untuk mencari informasi atau referensi terbaru terkait artikel ini.

Awal April lalu, saya kembali melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan kendaraan pribadi saya. Biasanya saya hanya bepergian untuk agenda ke , atau saja. Namun, saat itu rute perjalanan agak sedikit berbeda. Bukan ke Jakarta dari Jogjakarta saja, bukan pula ke Semarang. Dan, ini kali pertama saya tidak melakukan pengecekan air aki, karena sudah ganti dengan aki kering.

Dari , saya berangkat ke Bogor, kemudian ke Jakarta, lanjut ke Tangerang, kembali ke Jakarta, dan pulang lagi ke Jogjakarta. Total perjalanan hampir satu minggu penuh.

Puji Tuhan, perjalanan berjalan dengan lancar. Kendaraan Mobilio yang saya bawa juga dalam kondisi baik. Apalagi, seluruh perjalanan ini merupakan perjalanan , benar-benar sendiri. Cuaca selama perjalanan juga cukup bersahabat, kecuali ketika perjalanan malam dari Bogor menuju Jakarta, sempat hujan, namun beruntung tidak disertai angin.

Ban Belakang Tidak Nyaman

Sekembali dari perjalanan, saya masih menggunakan kendaraan untuk mobilitas. Ada yang sedikit terasa kurang nyaman, tapi saya pikir saat itu ban cuma kurang angin saja.

Seminggu setelahnya, saat saya melakukan perjalanan (agak jauh), ternyata benar terasa kurang nyaman. Istri saya yang saat itu lebih merasakan, karena dia duduk di kursi belakang bersama dengan anak saya.

Karena dugaan awal adalah ban yang kurang angin, jadi ketika perjalanan sempat kami pastikan tekanan ban dalam kondisi yang cukup. Lagi-lagi, puji Tuhan karena perjalanan malam itu dengan waktu tempuh pulang pergi total hampir 3 jam dapat dilewati dengan selamat.

Sesampai di rumah, akhirnya saya cek ban.Dan, benar saja. Ban belakang sisi sebelah kiri sudah dalam kondisi sudah aus, jadi permukaan ban sudah tidak rata lagi. Sedikit ada semacam “retakan”. Duh! Untuk ban belakang sisi kanan, beruntung masih dalam kondisi cukup aman.

Kondisi ini baru diketahui Sabtu malam. Jelas sudah masalah ada di mana, dan kesimpulannya cuma satu: ganti ban segera. Alasan utama tentu karena faktor keselamatan.

Ganti Ban

Hari Minggu pagi, saya coba cari-cari opsi dimana saya beli (dan ganti) ban mobil. Ada sebenarnya toko ban yang direkomendasikan. Saya beli ban untuk roda depan sekitar 1,5 tahun lalu. Secara harga lebih miring dibandingkan dengan toko ban lain. Masalahnya, hari Minggu tutup.

Jadi saya coba melihat-lihat kembali harga ban di situs niaga-el seperti . Hal ini sekadar untuk mencari tahu saja, berapa harga pasaran ban yang saya pilih yaitu GT Radial Champiro Ecotec 185/65 R15.

Selain itu saya juga coba kontak beberapa toko ban di Jogjakarta setelah mencari melalui . Saya mendapatkan jawaban dan produk tersedia. “Masalahnya”, kebanyakan tutup karena hari Minggu. Ada pula yang toko tersedia di Tokopedia, bisa pesan melalui Tokopedia, lalu pemasangan dengan datang langsung ke toko. Harga juga cocok. Sayangnya, ketika saya mau order, saya diberitahu kalau akan cek stok dulu, dan baru dikabari Senin.

Saya agak memaksakan untuk bisa selesai urusan hari Minggu, untuk menghindari mengurus hal ini di hari dan jam kerja. Dan, supaya ban bisa segera ganti.

Istri saya juga sempat tanya di grup perumahan, dimana pada beli ban. Beberapa menyebutkan nama yang familiar seperti MARI BAN, BAH PETRUK, dan ada yang menyebutkan Ottoban. Nama terakhir ini sebenarnya agak asing, tapi katanya bisa beli lewat niaga-el Tokopedia. Jadi, saya malah penasaran mencari lebih lanjut.

Setelah saya mencari tahu lebih lanjut, sepertinya Ottoban — dengan nama merek Ottoban Indonesia (situs: https://ottobanindonesia.com) — ini cocok dengan kebutuhan di hari itu. Kenapa?

Apple Mac Mini

Bulan Januari ini, saya memutuskan untuk membeli sebuah Mini, yang mungkin akan menggantikan yang ada di rumah. Mungkin “menggantikan” bukan kata yang paling tepat saat ini, karena laptop yang ada sebenarnya juga masih bisa digunakan.

Pertimbangan kenapa akhirnya membeli Mac Mini memang cukup banyak. Beberapa MacBook yang ada — baik punya saya ataupun istri — usianya sudah cukup lama. Punya saya mungkin adalah yang paling lama. 13″ sudah berusia lebih dari 10 tahun, dan yang MacBook Pro 15″ (Retina Display) sudah hampir berumur 9 tahun.

Istri juga menggunakan MacBook yang sudah cukup lama usianya. Jadi, secara singkat ada beberapa “masalah” yang agak mengganggu:

  1. Dukungan sistem operasi yang terhenti. Walaupun, hampir semua kebutuhan aplikasi masih bisa terpenuhi, tapi ada beberapa aplikasi yang cukup esensial sudah tidak didukung oleh versi sistem operasi yang cukup lama;
  2. Performa mesin yang mulai agak kepayahan dengan aplikasi-aplikasi yang ada saat ini. Tak jarang mesin harus bekerja dengan lebih keras, dengan dibantu oleh kipas yang juga bekerja dengan tak kalah keras;

Mungkin kedua hal tersebut menjadi pertimbangan utama. Awalnya, sempat juga ingin membeli laptop saja, tapi ide ini akhirnya batal juga, karena:

  1. Pekerjaan kebanyakan akan ada di rumah. Jadi, sebuah “” mungkin akan lebih cocok;
  2. Kalau laptop, agak susah untuk gantian;
  3. Biaya yang mungkin akan muncul juga perlu diantisipasi. Selama menggunakan MacBook, saya pernah mengalami beberapa masalah/perbaikan seperti penggantian baterai, charger yang harus ganti karena kabel rusak/aus, papan ketik yang mati — yang akhirnya harus diganti semua — dan beberapa masalah lain. Nah, biaya penggantian untuk perangkat-perangkat yang rusak itu juga cukup lumayan juga;
  4. Kalau terpaksanya harus bekerja di luar rumah, saya rasa laptop yang ada juga masih bisa digunakan, atau menggunakan .

Pilihan Konfigurasi

Agak bingung juga awalnya mengenai konfigurasi yang saya pilih, RAM 8GB atau 16 GB, 256GB atau 512GB? Pilihan akhirnya jatuh ke konfigurasi RAM 16 GB dan storage 512GB. Beberapa pertimbangan saya:

  1. Mac Mini ini akan cukup lama saya pakai. Paling tidak minimal dalam 5-6 tahun ke depan, atau bahkan lebih. Saya rasa ini alasan yang masih sangat masuk akal, mengingat produk (MacBook, , dan iPad) yang saya gunakan semuanya berumur panjang.
  2. Antisipasi bahwa nanti dengan perbaruan sistem operasi, dan banyaknya aplikasi yang mungkin akan lebih membutuhkan tenaga lebih banyak, RAM yang tinggi mungkin menjadi pertimbangan yang masuk akal.
  3. Media penyimpanan sebenarnay bisa juga dengan tambahan ruang penyimpanan eskternal. Tapi, artinya akan ada tambahan barang dan kabel lagi. Juga, karena ini akan dipakai bersama dengan istri, termasuk juga untuk hal-hal teknis saya (dan istri juga), jadi storage perlu menjadi pertimbangan.

Untuk pembelian, saya melakukan transaksi pembelian melalui , setelah membandingkan beberapa harga produk dan menanyakan ketersediaan stok. Beruntung, saya mendapatkan harga dan pilihan konfigurasi yang sesuai.

Semoga, produktivitas juga bertambah.

Membeli Obat di Apotek Secara Daring

Selain membeli obat atau vitamin secara daring melalui situs-situs niaga-el seperti atau , saya dan istri kadang juga membeli melalui . Dan, sejak pandemi ini membeli secara daring sesekali kami lakukan. Kalau soal , puji Tuhan, kami semua sehat, dan jarang sakit.

Kami banyak memanfaatkan Halodoc dan pesan langsung ke apotek-nya dan nanti kirim menggunakan. Tidak ada alasan khusus metode mana yang lebih kami sukai. Kadang, memang situasional saja.

by Miguel Á. Padriñán from Pexels

Halodoc

Salah satu alasan menggunakan Halodoc adalah mengenai integrasinya — mulai dari pemesanan, pembayaran, sampai dengan pengiriman menggunakan layanan — yang sudah sangat baik. Beberapa kali saya memesan melalui aplikasi ini, dan semua mendapatkan pengalaman yang baik.

Soal harga, ketika secara acak saya bandingkan, memang kadang lebih mahal — misal ketika dibandingkan dengan harga di situs niaga-el. Tapi, jika ini untuk kebutuhan yang mendesak, Halodoc jelas sebuah solusi yang perlu dipertimbangkan.

Terakhir kali saya pesan beberapa bulan lalu ketika anak anak kami sakit, kami perlu beli Pedialyte. Pemesanan saat itu sekitar pukul 00.30 WIB. Semua diproses dengan baik sekitar satu jam. Waktu sampai obat sampai di rumah terkesan lama, namun lebih karena jarak yang jauh saja dari apotek yang punya stok.

Langsung Pesan dari Apotek

Salah satu kebiasaan saya ketika membeli sesuatu di toko adalah mencatat nomor kontak. Jadi, jika dibutuhkan tidak repot. Beberapa apotek yang tidak jauh dari rumah sudah ada dalam daftar kontak.

Jika Anda mungkin belum memiliki kontak-kontak apotek di ponsel, sepertinya tidak ada salahnya sekarang mulai mencatatnya.

Ada dua apotek yang menjadi pilihan kami selama ini. Pertama adalah Apotek K-24, dan yang kedua adalah apotek Unisia. Keduanya kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Ada alasan mengapa beli langsung dari apotek — khususnya kedua apotek tersebut — menjadi pilihan:

  1. Bisa konsultasi atau bertanya terlebih dahulu mengenai obat yang diperlukan, aplagi kalau sedikit kurang yakin dengan kebutuhan.
  2. Soal harga, bisa langsung ditanyakan.
  3. Buka 24 jam. Walaupun selama ini saya belum perneah pesan lebih dari jam 21.00 WIB.

Seluruh pemesanan melalui apotek langsung hampir semuanya untuk kebutuhan yang tidak terlalu mendesak. Ketika saya butuh membeli perban elastis, saya tidak keberatan menunggu sekitar satu jam untuk dikirim dari apotek pilihan saya.

Apotek K-24

Ada beberapa apotek K-24 yang tidak terlalu jauh dari rumah. Namun, ada satu yang selalu jadi langganan dengan beberapa alasan:

  1. Bisa melakukan pembayaran secara non-tunai. Dulu, saat membeli di lokasi langsung dan melakukan pembayaran non-tunai menggunakan , apakah bisa jika nanti pesan melalui , lalu saya bayar “jarak jauh”, kemudian saya kirim kurir (GoSend atau GrabSend). Ternyata bisa.
  2. Cara ini ternyata tidak bisa — kurang familiar oleh karyawan apotek — dengan apotek K-24 yang sebenarnya secara jarak lebih dekat dari rumah.

Tentu aplikasi K24Klik juga dapat digunakan jika diperlukan. Saat ini, metode yang saya pilih sudah sangat mencukupi dan nyaman.

Apotek Unisia 24

Apotek ini didirikan/dikelola oleh PT. Unisia Polifarma (UII Farma). Di , apotek ini ada di beberapa lokasi. Beberapa alasan pilihan:

  1. Lokasi tidak jauh dari rumah, jadi seandainya di ambil sendiri, atau dikirim melalui kurir, biaya tidak mahal. Namun, ada layanan antar gratis sampai jarak 5 km untuk pembelian minimal Rp50.000.
  2. Ada pernah obat yang rencana saya mau beli ada stok yang kosong. Tapi, karena itu tidak mendesak, jadi bisa diganti dengan merek lain.
  3. Pembayaran bisa dilakukan melalui transfer .

Sama dengan K-24, komunikasi dilakukan dengan WhatsApp. Soal respon, selama ini cukup cepat. Memang pernah saya menghubungi, namun tidak mendapatkan balasan, dan bahkan baru dibalas keeseokan harinya, dengan alasan chat yang tertumpuk/terlewat. Bisa dipahami karena melayanai dengan sistem WhatsApp potensi seperti ini bisa terjadi.

Ulasan Monitor LED Dell S2721DS 27 Inchi

Beberapa waktu setelah saya bekerja dari rumah, saya sempat terpikir untuk memiliki sebuah monitor yang berukuran agak besar untuk kenyamanan bekerja. Saya sempat gunakan juga sebenarnya “televisi” sebagai monitor, tapi tentu saja ini bukan pilihan yang bijak.

Akhirnya, setelah satu tahun lebih, saya memutuskan untuk membeli sebuah monitor yang akan saya gunakan bersama dengan 15″.

Catatan:

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan produsen monitor, maupun layanan lain yang disebutkan dalam artikel ini. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Karena sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan monitor, awalnya saya agak bingung harus memulai pencarian saya dari mana. Akhirnya, saya lemparkan pertanyaan sekaligus meminta rekomendasi melalui linimasa saya. Berikut beberapa balasan rekomendasi, atau paling tidak yang sedang dipakai:

  1. S2721DS
  2. ThinkVision T27P10
  3. Dell s2721QS
  4. Thinkvision E24-20
  5. LG 24” 4K 24UD58-B

“Beruntung” tidak terlalu banyak rekomendasi yang bisa membuat saya bisa tambah bingung menentukan pilihan. Awalnya, saya berpikir untuk membeli yang 24″ karena sudah cukup besar. Ternyata, beberapa rekan yang kesehariannya bekerja dengan monitor eksternal lebih merekomendasikan untuk ukuran 27″.

Untuk mempermudah pilihan, saya menentukan anggaran paling tinggi Rp4.000.000,-. Dan, setelah membaca beberapa ulasan, melihat ulasan dari pengguna lain, saya memutuskan untuk membeli Dell S2721DS.

Spesifikasi

Berikut spesifikasi dasar untuk Dell S2721DS:

  • Ukuran panel: 27 inchi
  • Tipe panel: IPS
  • Resolusi: QHD 2560 x 1440 @ 75 Hz
  • Aspek rasio: 16:9
  • Konektor: 2x HDMI 1.4, 1x DP1.2
  • Daya: 19 watt (sleep/standby: 0,3 watt)

Spesifikasi lengkap dapat dilihat di situs Dell.

Pembelian

Awalnya saya berniat untuk membeli produk ini secara langsung di toko komputer. Namun, ternyata barang ini tidak banyak bisa saya temukan. Saya tanyakan ke salah satu teman saya yang juga sudah memiliki produk ini, ternyata barang sedang tidak ada dalam stok, dan harga saat ini lebih tinggi dibanding saat dia membelinya.

Ulasan K380 Multi-device Bluetooth Keyboard

Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli papan ketik baru, dan pilihan saya jatuh ke K380 Multi-device Bluetooth Keyboard dari .

Catatan

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan Logitech. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Nama Logitech sebenarnya bukan nama yang asing. Saya sudah cukup lama menggunakan tetikus dari merek ini, untuk seri M337. Dan, selama itu pula cukup puas dengan performa dalam mendukung pekerjaan saya sehari-hari.

Mengapa bluetooth keyboard?

Selama ini, sebenarnya saya juga sudah menggunakan magic keyboard dari karena MacBook saya lebih sering saya gunakan bersama dengan monitor eksternal karena memang saya hampir selalu di rumah saja. Tidak ada keluhan spesifik sebenarnya.

Di saat yang sama, saya juga kadang menggunakan , yang juga hampir selalu berada di depan saya (ketika di rumah). iPad yang saya gunakan juga sudah menggunakan magic keyboard.

Kalau ada satu papan ketika yang bisa dengan mudah berpindah piranti, saya rasa itu akan sedikit membantu. Dan, karena juga saya kadang harus berpindah tempat kerja seperti bekerja di luar rumah, dan saya memang lebih nyaman menggunakan papan ketik eksternal, kalau ada yang memenuhi kedua hal ini, tentu akan jadi pilihan.

Kenapa papan ketik nirkabel, ya karena ini lebih praktis saja.

Memilih K380

Ada beberapa pilihan yang sudah saya lihat, tapi spesifikasi yang saya butuhkan sebenarnya cukup sederhana saja, yaitu:

  1. Desain sederhana, dengan ukuran yang cukup compact, dengan built quality yang baik, tidak terkesan ringkih dan murahan.
  2. Mudah untuk pairing, dan tentu saja nirkabel
  3. Saya tidak butuh fitur seperti trackpad, atau tombol dedicated misal untuk angka.
  4. Baterai cukup awet
  5. Harga di bawah Rp500.000

Awalnya saya sempat terpikir untuk membeli Logitech K480 yang sepertinya akan cocok untuk saya. Namun, setelah saya pertimbangkan ulang, fitur untuk menempatkan tablet atau ponsel sepertinya tidak akan terlalu saya gunakan. Dan, ini menjadikan ukuran keseluruhan menjadi terlalu besar

Logitech K480
Ukuran Logitech K480: 299mm x 195 mm x 20 mm.

Seri K480 ini secara umum memiliki spesifikasi yang bagus, cuma kurang cocok untuk kebutuhan saya.

Data Pembayaran di Situs Belanja. Simpan atau Hapus?

Foto oleh Avery Evans via Unsplash

Sebagai salah satu kegiatan bebersih akun, selain menghapus following akun di , saya juga melakukan penghapusan beberapa pembayaran yang melekat di akun-akun saya, terutama di situs/layanan yang cukup sering saya gunakan untuk bertransaksi.

Tentu aja, dengan punya data pembayaran, proses akan sedikit lebih cepat, tapi di saat yang sama bisa juga ‘berbahaya’. Ya, terkait dengan adanya kemungkinan peretasan, tapi keputusan/proses membeli jadi lebih singkat. Jadilah saat ini seluruh data pembayaran () di situs-situs niaga-el seperti , , Blibli, dan lainnya saya hapus semua.

Untuk Shopee dan Tokopedia, saya lebih suka menggunakan pembayaran langsung melalui saldo atau . Untuk pembayaran lain secara daring, saya rasa juga sekarang sudah sangat fleksibel pilihannya. Pembayaran kartu kredit di kedua platform tersebut lebih sering ketika saya gunakan untuk transaksi yang agak besar, atau cicilan.

Untuk data-data di layanan lain yang sifatnya berlangganan atau tagihan rutin dan mengharuskan adanya metode/data pembayaran yang harus tersimpan, perubahannya hanya terkait dengan adanya cadangan metode pembayaran. Ada yang memang hanya satu alat pembayaran, ada pula yang lebih. Sebenarnya, bisa juga dengan konsep deposit, namun saya masih agak kurang nyaman dengan cara ini, apalagi deposit juga menarik dari kartu kredit.

Pengalaman Pengembalian dan Penggantian Pembelian Barang di Tokopedia

Dari sekian banyak transaksi pembelian barang di situs-situs niaga-el (marketplace) seperti , dan kadang Blibli (situs lain seperti Bukalapak, Lazada, dan niaga-el saya jarang gunakan), di awal tahun 2021 ini untuk kali pertama saya melakukan pengajuan penggantian barang.

Hal ini terjadi karena produk lampu yang saya beli di Tokopedia tidak berfungsi dengan baik. Ketika kali pertama saya buka, lalu menyalakan, tidak ada aliran sama sekali. Saya langsung kontak penjual, dan agak pesimis kalau ini akan bisa dilakukan penggantian. Karena sejak kali pertama saya buka, saya memang tidak mendokumentasikannya.

Foto oleh Keagan Henman via Unsplash

Harga barangnya sendiri sekitar Rp60.000. Sempat terpikir untuk saya perbaiki sendiri saja. Namun, ada risiko kalau malah rusak sama sekali. Kondisi barang ketika saya terima sebenarnya dalam kondisi yang sangat baik. Bungkus sangat aman, bahkan dibungkus dengan semacam pipa karton tebal bekas gulungan kain. Ternyata, oleh penjual setelah saya kirimkan beberapa foto, penjual menawarkan untuk melakukan penggantian barang, dengan terlebih dahulu saya diminta untuk mengirimkan kembali barang tersebut.

Saya mengiyakan.

Semua proses ini saya lakukan melalui aplikasi Tokopedia, melalui menu adukan keluhan. Singkatnya, setelah mengirimkan barang melalui kurir, saya tinggal perlu menuliskan informasi resi, sebagai konfirmasi bahwa barang telah terkirim.

Barang pengganti

Saya cukup beruntung karena sejak awal penjual memberikan respon yang baik. Beberapa hari setelah saya kirimkan barang ke penjual, saya mendapatkan resi baru melalui pusat resolusi keluhan.

Secara umum, proses berjalan baik. Soal ongkos kirim, sebenarnya ada opsi untuk saya melakukan klaim ongkos kirim ke pihak Tokopedia, ada opsi untuk kebutuhan ini. Namun, saya ikhlaskan saya untuk ongkos kirim yang saya keluarkan, karena awalnya barang juga sudah saya terima tanpa ada biaya kirim.

Catatan

Walaupun menyebutkan Tokopedia, tulisan ini merupakan pengalaman pribadi, bukan artikel bersponsor. Walaupun, jika ada yang ingin menawarkan sponsored post, saya juga terbuka :)

Mengganti Sendiri Kunci Immobilizer Honda Mobilio yang Rusak/Pecah

Kedua kunci mobil kendaraan yang saya pakai beberapa waktu lalu dalam kondisi yang kurang beruntung. Salah satu kunci sudah dalam keadaan cukup parah, sehingga ketika pemakaian harus cukup berhati-hati. Kunci cadangan juga ada, dan dalam kondisi yang agak mendingan.

Saya baca-baca, sepertinya banyak yang mengalami kasus serupa. Memang sih, kali pertama saya gunakan, kunci memang sudah dalam kondisi yang tidak sempurna, karena saya beli mobil second-hand. Kunci cadangan saat itu hitungannya juga masih dalam kondisi baik.

Karena pemakaian, dan kadang juga dalam kondisi masuk kantong, atau tidak sengaja agak diduduki, dan lain sebagainya, jadilah makin rusak parah.

Penggantian

Saya sempat tanya ke beberapa tukang kunci untuk penggantian semacam ini bagaimana. Tapi, harganya sangat mahal. Mungkin dikiranya sampai saya ganti penuh, padahal sebenarnya lebih ke masalah casing-nya saja. Saya coba cari informasi di , ternyata solusi versi murah ada juga. Jadi, saya memilih cara yang lebih murah saja saat ini. Jadi, karena hanya soal penggantian sisi luar, bukan bagian “chip”-nya, ada dua opsi:

  1. Beli casing saja, pasang kunci lama ke casing
  2. Beli casing dan badan kunci (logam), lalu bawa ke tukang kunci untuk duplikat

Untuk belinya, ada cukup banyak di situs niaga-el seperti atau . Harga juga bervariasi. Mulai dari yang paling murah sekitar Rp20.000,- sampai sekitar Rp100.000,- tergantung bahan juga.

Saya ambil opsi pertama, karena cukup praktis. Cukup buka kunci dengan obeng plus yang kecil, pindahkan seluruh bagian di kunci lama ke casing baru, selesai. Opsi kedua sebenarnya juga menarik, tapi saya tidak tahu harga duplikat ke tukang kunci. Karena ini duplikat kunci mobil, siapa tahu harga jadi lebih mahal (walaupun semua bahan dari kita sendiri). Opsi kedua — walaupun ini mungkin saja hasilnya malah lebih awet — secara harga mungkin jadi sedikit lebih mahal. Plus, harus pergi ke tukang kunci.

Saat ini, sepertinya dengan cara seperti ini sudah cukup.

Robot Vacuum Cleaner/Robot Penghisap Debu. Pilih yang Mana?

Setelah menjajal Kurumi KV 01 Anti Dust Mites UV Vacuum Cleaner di bulan September lalu, saya dan istri akhirnya berpikir kembali untuk membeli satu perangkat untuk membantu bebersih di rumah.

Catatan

Tulisan ini bukan tulisan bersponsor. Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan seluruh merek/produk yang disebutkan dalam tulisan ini. Semua yang saya tulis merupakan pendapat pribadi.


Tujuannya tetap, supaya kegiatan bebersih jadi sedikit lebih enteng, karena sudah sekitar tujuh bulan ini benar-benar tanpa ART dengan kegiatan bebersih rutin tiap hari untuk menyapu dan pel antara 1-3 hari, tergantung kondisi lantai juga, karena kebetulan tempat tinggal kami memiliki dua lantai. Pilihan akhirnya jatuh kepada keputusan untuk membeli robot . Masalahnya, pilihannya begitu banyak. Bukan hanya soal merek, tapi juga fitur, rentang harga juga cukup bervariasi.

5 alasan saya mengapa akhirnya membeli robot vacuum cleaner atau robot penghisap debu

Sudah cukup lama sebenarnya saya tertarik untuk beli, namun karena dulu masih merasa belum perlu — karena ada ART, dan merasa untuk membersihkan lantai juga masih bisa dilaukan sendiri — jadi keinginan tersebut selalu ditunda.

Bagi kami, beberapa hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Efisiensi waktu, tenaga, dan biaya
    Untuk menyapu lantai satu (bagian area dalam dan semi outdoor), kadang masih dlanjutkan dengan mengepel. Lantai dua beberapa area memang tidak disapu tiap hari, hanya yang benar-benar ada aktivitas rutin seperti kamar tidur dan ruang kerja. Area lain kadang juga disempatkan. Dengan tanpa ART, jadilah urusan lain juga harus beres. Jadi, mengenai biaya, budget untuk ART ini bisa dialihkan untuk membeli robot vacuum cleaner ini — karena kami juga belum menggunakan jasa bebersih yang bisa datang harian. Paling tidak, jikapun tidak dipel, tapi lantai sudah disapu.
  2. Portabel dan nirkabel
    Karena sifatnya portabel, jadi cukup mudah untuk saya gunakan di lantai satu dan lantai dua, walaupun charging dock memang hanya ada satu. Mungkin satu saat kalau ada rejeki, bisa ada satu lagi. Amin.
    Berbeda dengan alat vacuum yang menggunakan kabel, dengan tanpa kabel otomatis penggunaan juga jadi lebih fleksibel secara jangkauan.
  3. Otomatisasi
    Karena memiliki fitur yang cukup canggih dan terintegrasi dengan beberapa model pengaturan, jadi lebih fleksibel dalam operasional. Termasuk untuk urusan pengisian baterai. Jadi, saya tinggal atur misalnya kapan si ‘robot’ ini harus membersihkan dan area mana saja — misal jam 22.00 WIB.
  4. Ukuran ringkas dan minim perawatan
    Untuk ukuran juga menjadi penting. Dengan ukuran yang cukup mini, penyimpanan juga lebih tidak makan tempat. Selain itu, robot vacuum cleaner semacam ini juga memiliki bobot yang tidak terlalu berat. Mengenai perawatan, selain beberapa aksesories yang seharusnya juga mudah didapatkan dari produsen, komponen lain juga tidak terlalu rumit untuk perawatannya.
  5. Jangkauan lebih luas dan menyedot debu dengan lebih baik
    Area bawah tempat tidur merupakan area yang cukup sulit untuk dibersihkan, disamping ada juga sofa untuk tamu dan sofa bed. Selain susah dijangkau sepenuhnya dengan sapu, pun sudah disapu biasanya kotoran dan terutama debu cenderung berpindah tempat. Jadi, kalau disapu, debu malah justru terbang kemana-mana. Untuk tempat tidur, kebiasaan selama ini jika membersihkan saya lebih sering geser dipan dan tempat tidur, disapu, dipel, kemudian dikembalikan lagi.

Pertimbangan menentukan pilihan robot vacuum cleaner

Setelah memiliki pertimbangan yang cukup, saatnya memilih: produk robot vacuum cleaner mana yang paling cocok (untuk kami)? Secara umum, ada dua hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Spesifikasi produk dan ulasan
  2. Budget dan harga

Mari kita bahas sedikit.

Kenaikan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) 2020 di Yogyakarta

Kenaikan sampai 400%, walaupun tidak sampai 100 wajib .


Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan salah satu agenda rutin yang (sebaiknya) jangan dilewatkan. Tahun ini, seperti tahun sebelumnya, saya dan keluarga juga harus bayar pajak.

PBB tahun 2020 yang menjadi kewajiban kebetulan ada di kota yang berbeda: dan . Untuk Sleman, pajak dikenakan atas lahan kosong tanpa bangunan.

Yang kedua, adalah PBB untuk sebidang tanah dengan ada bangunan di atasnya yang lokasinya ada di Yogyakarta. Adik saya yang awalnya kaget karena nominalnya terasa sangat tinggi. Usut punya usut, ternyata untuk tahun 2020 ini,

400% untuk 51 Wajib Pajak

Harian melalui artikel “Disebut seperti VOC, Pemkot Jogja Jelaskan soal Kenaikan PBB hingga 400%” menyebutkan beberapa detil perubahan:

  • Tidak mengalami perubahan: 30,4% atau 28.985 wajib pajak
  • Kenaikan kurang dari 100%: 54,8% atau 52.229 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 200%: 11,93% atau 11.369 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 300%: 1,7% atau 1.619 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 400%: 0,16% atau 150 wajib pajak
  • Kenaikan lebih dari 400%: 0,05% atau 51 wajib pajak

Tentu kenaikan ini sangat terasa, apalagi di masa pandemi sekarang ini. Adik saya menghubungi saya perihal ini, dan setelah saya hitung, ternyata kenaikan sekitar 100% lebih sedikit dibanding tahun lalu.

Duh.

Program Permohonan Keringanan

Walaupun kota Yogyakarta punya permohonan keringanan, tapi kami melewatkan kesempatan ini. Ya, karena melewatkan informasi ini. Padahal ini sudah berlangsung cukup lama, dan baru berakhir pada Agustus 2020. Saya sendiri sekarang tinggal di Sleman, jadi berita semacam ini agak luput dari perhatian.

Dengan berbagai pertimbangan, karena juga mobilitas juga penuh risiko, dan memang kewajiban harus dilaksanakan, jadilah kami putuskan untuk membayarnya saja.

Membayar Pajak

Sedikit beruntung karena pembayaran PBB untuk kota Yogyakarta (dan propinsi DIY) dapat dilakukan dengan lebih mudah. Membayar ke DIY sepertinya bukan opsi yang menarik saat ini. Pilihan antara atau .

Dan, saya putuskan untuk melakukan pembayaran melalui Tokopedia. Kenapa tidak melalui Gojek? Karena — setahu saya — riwayat pembayaran di Tokopedia lebih baik dariipada di Gojek. Bukti transaksi di Tokopedia terkirim ke surel secara langsung, jadi lebih mudah diarsipkan. Ini salah satu pertimbangan saya.

Kalau kenaikan PBB di Yogyakarta seperti itu? Bagaimana dengan kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) di Yogyakarta atau Upah Minum Propinsi (UMP) Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 2020?

Nggg….

Pembayaran PBB DKI Jakarta Melalui Tokopedia

Karena ada keperluan pembayaran Bumi dan Bangunan untuk objek pajak yang ada di , saya dan istri mencoba melakukan pembayaran secara daring. Beberapa pilihan kemarin adalah melalui KlikBCA atau .

Sebelumnya, kami cari tahu dulu mengenai Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) melalui situs Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI Jakarta. Cukup mudah, hanya dengan memasukkan nomor objek pajak, dan akan terlihat statusnya.

Ternyata, pembayaran tidak dapat dilakukan. Entah karena kendala teknis apa, namun setelah saya coba beberapa kali (dalam durasi waktu yang berbeda), hasilnya tetap sama saja. Saya terus mendapatkan pesan kesalahan “Terjadi kendala teknis, silakan coba beberapa saat lagi”.

Karena tidak berhasil juga, kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan pembayaran melalui KlikBCA, dan berhasil dengan lancar.

On Tokopedia Electricity Credit

I tried to purchase electricity token credit from BCA internet banking service. But, it didn’t work. My transaction could not be processed. Lucky that Tokopedia — one of the   marketplaces — is available for electricity token credit. The order process was simple. After having the order under my banking , I made the . And, within seconds I had my order status to “Paid”. Great.

Wait… not so great. The thing was that the token credit was not available yet. It was because of the system that “An order made between 11PM until 1AM will be processed (automatically) after 1AM”. Meh.