Legalisir Dokumen Kependudukan Secara Daring/Online

Karena ada satu keperluan, saya membutuhkan beberapa dokumen kependudukan yang harus saya siapkan. Dan, bukan hanya salinan fotokopi, namun dokumen yang sudah dilegalisir. Sebenarnya tidak ada masalah dengan proses ini, karena memang bukan kali pertama melakukan legalisir dokumen.

Photo by Lum3n from Pexels

“Masalahnya” adalah jarak tempat tinggal dengan kantor dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil) Bantul bisa dikatakan cukup jauh. Perjalanan bisa jadi satu jam sendiri naik kendaraan pribadi.

Awalnya, saya tanyakan ke salah satu teman saya yang bekerja sebagai ASN di salah satu dinas pemerintahan di DIY mengenai jam operasional disdukcapil. Ketika saya menyampaikan keperluan saya, dia menyarankan untuk melakukannya saja secara daring/online. Lalu saya diberi informasi mengenai layanan Legalisir Online. Jadi, alih-alih datang dengan membawa salinan fotokopi dan dokumen asli, kita hanya perlu mengirimkan dokumen melalui surel, kemudian dokumen yang telah dilegalisir akan dikirimkan pula melalui surel.

Terlihat mudah. Dan, sepertinya ini perlu dicoba.

Legalisir Dokumen

Saya membutuhkan dua dokumen yang dilegalisir, yaitu KTP dan Kartu Keluarga. Kebetulan, Kartu Keluarga saya ini tergolong “baru”, dikeluarkan tahun 2019, dan tanda tangan pejabat berwenang sudah dalam format QR Code.

Di bagian bawah dokumen Kartu Keluarga, tertulis “Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Badan Sertifikasi Elektronik (BSrE), BSSN.

Untuk proses di disdukcapil Kabupaten Bantul, prosesnya sebagai berikut:

  1. Siapkan hasil pindai (scan) dokumen yang akan dilegalisir dalam format PDF. Dokumen dalam bentuk digital ini harus dari dokumen asli, bukan fotokopi.
  2. Untuk KTP, saya pindai dua sisi, kemudian saya masukan dalam Microsoft Word dengan posisi berdampingan layaknya ketika difotokopi. Semua dokumen saya pindai berwarna.
  3. Pastikan dokumen cukup jelas terbaca. Jika bisa, pindai dengan resolusi yang cukup baik.
  4. Setelah semua dokumen PDF siap — satu jenis dokumen dalam satu PDF — kirimkan ke: [email protected] dengan judul surel misanya “Legalisir Dokumen KTP/KK“. Saya mengirimkan dengan judul surel: Legalisir Dokumen KTP/KK {Nama saya}. Ya, supaya lebih mudah/jelas saja.

Saya mengikuti instruksi yang tersedia terkait dengan isi surel. Dalam isi surel, saya tuliskan:

Kepada Disdukcapil Kab. Bantul.

Yang memohonkan:
NIK: {nomor NIK}
Nama: {nama sesuai KTP}
Alamat: {alamat sesuai KTP}
HP: {nomor ponsel}

Yang dimohonkan:
KTP a.n. {nama saya}
KK a.n. {nama kepala keluarga dalam KK}

Terima kasih.

Isi surel kepada disdukcapil untuk permohonan legalisir dokumen secara online/daring.

Saya kirimkan dokumen sekitar pukul 12.50 WIB pada hari Senin. Kalaupun baru diproses pada sore hari atau bahkan keesokan harinya, tidak ada masalah juga.

Ternyata saya salah. Sekitar pukul 13.10 WIB (tidak sampai 30 menit) saya sudah mendapatkan balasan melalui surel saya. Dokumen yang sudah dilegalisir ada dalam lampiran. Saya tidak tahu ini karena antrian sedang sedikit jadi proses cepat, tapi dalam pengalaman saya mengurus dokumen di disdukcapil Bantul, seluruh proses memang cepat, sih.

Dokumen Kartu Keluarga tidak dikirimkan karena tidak dilegalisir dan saya mendapatkan informasi tambahan dari petugas dalam surel bahwa sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) mengenai Dokumen Kependudukan No 104 tahun 2019 Pasal 19 ayat (6) bahwa: Dokumen Kependudukan seperti Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Akta Kematian, Akta Perkawinan yang sudah menggunakan Tanda Tangan Elektronik (TTE) tidak perlu di legalisir.

Bagaimana jika Kartu Keluarga belum memiliki QR Code? Untuk mendapatkan yang terbaru, bisa saja melalui perbaruan data untuk dapat dicetak ulang.

Terima kasih untuk pelayanan yang sangat cepat, Disdukcapil Kabupaten Bantul!

Lokasi dan Harga Pemeriksaan/Tes Swab Antigen di Yogyakarta (Desember 2020)

Dengan adanya kebijakan bagi mereka yang melakukan perjalanan dari/ke beberapa daerah seperti Jakarta, Bali, dan Yogyakarta mengenai persyaratan untuk melakukan swab antigen, otomatis pemeriksaan harus upgrade dari yang biasanya rapid test juga sudah cukup.

Kebijakan ini sebenarnya berlaku secara nasional mulai 18 Desember 2020 sampai dengan 8 Januari 2021. Beberapa minggu lalu, saya melihat belum terlalu banyak tempat yang melayani pemeriksaan swab antigen. Namun, beberapa hari terakhir ini, keadaan sudah cukup berubah. Banyak rumah sakit dan laboratorium di Yogyakarta yang akhirnya menyediakan layanan pemeriksaan swab antigen ini.

Berikut beberapa informasi terkait lokasi dan biaya pemeriksaan swab antigen di Yogyakarta.

Perhatian!

Informasi yang tertulis berasal dari berbagai sumber dan valid saat dituliskan. Sangat disarankan untuk selalu melakukan pengecekan informasi/data terbaru dengan menghubungi narahubung rumah sakit, klinik, atau laboratorium tujuan.

Rumah Sakit

Lokasi dan Harga Pemeriksaan/Tes Swab Antigen di Yogyakarta.

Laboratorium

  1. Laboratorium Klinik Parahita
    Alamat: Jl. Kaliurang No.26, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
    Telepon: 0811 333 21 888 / 0811 333 26 888
    Website: labparahita.com / Surel: [email protected]
    Instagram: @labparahita
  2. INTIBIOS LAB Yogyakarta
    Alamat: Jl. Ngapak – Kentheng No.KM 5, Area Sawah, Banyuraden, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55293 (Google Maps)
    Telepon: 082130001433
    Website: intibioslab.id / Surel: [email protected]
    Instagram: @intibioslab_jogja
  3. Laboratorium Kimia Farma Jalan Adisutjipto
    Alamat: Jl. Laksda Adisucipto No.63A, Ambarukmo, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
    Telepon: 0274-489135
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  4. Laboratorium Kimia Farma Jalan Parangtritis
    Alamat: Jl. Parangtritis No.130, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143 (Google Maps)
    Telepon: 0274-419745
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  5. Laboratorium Kimia Farma Jalan Kaliurang Km. 6
    Alamat: Jl. Kaliurang KM.6 No.48, Purwosari, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55582 (Google Maps)
    Telepon: 0274-885220
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  6. HI-LAB Yogyakarta
    Alamat: Jl. Yos Sudarso No.27, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224 (Google Maps)
    Telepon: 0274-557722
    Website: hilab.co.id / Surel: [email protected]
    Instagram: @hilabjogja
  7. Yogyakarta International Airport (YIA)
    Alamat: Jl. Wates – Purworejo No.Km, RW.42, Area Kebun, Glagah, Kec. Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55654 (Google Maps)
    Telepon: 082220178484
    Instagram: @bandarayogyakarta
  8. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Laboratorium Kesehatan Sleman
    Alamat: Purwosari, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284 (Google Maps)
    Website: labkes.slemankab.go.id / Telepon: 081215083297
    Instagram: @uptdlabkessleman

Biaya dan Ketersediaan Layanan

Untuk biaya, berdasarkan ketetapan Pemerintah Pusat dalam Surat Edaran No HK. 02.02/I/4611/2020 yang dikeluarkan per tanggal 18 Desember 2020, batasan tarif tertinggi pemeriksaan Rapid Test Antigen-Swab sebesar Rp 250.000 untuk Pulau Jawa dan 275.000 untuk di luar Pulau Jawa.

Harga di setiap rumah sakit atau laboratorium mungkin berbeda. Disarankan untuk selalu merujuk ke masing-masing rumah sakit/laboratorium. Kebanyakan info terbaru juga mudah didapatkan melalui profil Instagram.

Sekali lagi, sangat disarankan untuk menghubungi penyedia layanan terlebih dahulu untuk memastikan. Jika ada informasi yang kurang sesuai, atau ada tambahan data, akan dicoba diperbarui dalam artikel ini.

Pengalaman Fisioterapi di Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)

Minggu lalu, untuk kali pertama saya merasakan kondisi badan yang tidak nyaman karena (sepertinya) ada cidera otot. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi bagian bahu dan punggung atas sebelah kanan rasanya sakit sekali. Ditambah dengan leher — terutama di bagian kanan — juga sakit luar biasa ketika dipakai untuk menunduk atau menengok.

Catatan

Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan pemberi layanan. Semua yang saya tulis merupakan pendapat dan pengalaman pribadi. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin bisa terjadi. Saya sarankan untuk mencari informasi terbaru terkait pemberi layanan. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pada Oktober 2020.

Ada beberapa dugaan penyebab. Mungkin karena saya dalam posisi salah ketika mengangkat barang — karena kadang geser-geser meja atau angkat galon — atau mungkin juga ketika mau menggendong anak saya.

Saya sendiri banyak bekerja di depan meja menggunakan laptop, sangat bisa jadi ini juga memengaruhi kondisi badan terutama bagian atas.

Hari Selasa malam terasa cukup sakit. Ketika tidur, bahu sangat tidak nyaman. Apalagi ketika mau bangun dari posisi berbaring. Saya cukup kepayahan untuk bangun, karena mungkin memang ada bagian otot yang harus bekerja. Ketika berada di depan komputer, juga sudah sangat tidak nyaman.

Sempat terpikir untuk ke tukang pijat atau tukang urut. Tapi, karena saya yakin ini cidera, akhirnya saya putuskan untuk ke tempat fisioterapi saja di Jogja. Saya pernah baca, sebenarnya tidak masalah kalau ke tukang pijat atau tukang urut, tapi mungkin ketika untuk kasus badan capek, biar lebih segar, namun bukan untuk kondisi cidera. Jadi, bukannya tukang pijit/tukang urut itu jelek atau tidak direkomendasikan, kali ini soal pilihan saya saja.

Mencari tempat fisioterapi di Jogjakarta

Sebelumnya, saya sering dengar bahwa di Jogja memang ada beberapa tempat untuk fisioterapi. Mulai dari yang ada di rumah sakit, atau yang berpraktik secara mandiri. Di Universitas Negeri Yogyakarta, ada juga tempat semacam ini, namanya Physical Therapy Clinic FIK UNY.

Saya coba di internet, ada juga beberapa rumah sakit yang memiliki layanan fisioterapi. Semakin mencari, semakin banyak pilihan. Jadilah saya bertanya ke teman saya yang sebelumnya pernah juga melakukan fisioterapi di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNY.

Setelah berdiskusi, saya mendapatkan opsi lain kalau mau, dan dia juga sudah mencobanya, dan merekomendasikan ke saya untuk coba ke Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC). Saya tanya kapan kali terakhir ke sana, katanya sekitar dua bulan lalu.

Booking appointment

Saat itu, saya lebih perlu untuk segera mendapatkan pertolongan. Saya buka dulu situs Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC) di jogjaorthosportclinic.com. Saya baca profil singkatnya, dan saya lakukan booking appointment. Sejujurnya, agak ragu apakah saya segera mendapatkan balasan atau tidak. Jadi, saya langsung coba kontak melalui WhatsApp.

Sekitar jam 09.00 WIB saya terhubung melalui WhatsApp dan saya langsung melakukan booking appointment untuk pukul 11.00 WIB hari itu juga.

Jadi, JOSC ini lokasinya ada di Jalan Colombo No. 6C, di kompleks ruko sebelah sisi selatan kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Lokasi persisnya ada di sebelah Pizza Hut Delivery. Lokasi yang cukup menguntungkan untuk yang bawa kendaraan roda empat, karena parkir bisa langsung di depan lokasi.

Perbaruan info (Desember 2021): Lokasi JOSC yang baru berada di Jl. Pakuningratan No. 32A, tidak jauh dari Tugu Yogyakarta.

Terapi di JOSC

Saya datang sekitar pukul 11.00 (agak mepet dari jadwal) karena lalu lintas yang agak padat ketika menuju ke sana. Pertama untuk protokol kesehatan, ada tempat cuci tangan dan sabun yang tersedia di dekat pintu masuk. Ketika sampai di meja resepsionis, saya juga diperiksa suhu badan. All good.

Karena baru pertama kali datang, saya diminta untuk mengisi data melalui formulir yang disediakan. Data yang diisi juga data-data umum saja.

Hello, HEY!

Yes, I’m joining the crowd to give HEY — email service by the awesome guys at Basecamp — a shout. I wrote them to request for an invite three around three days ago. I am sure that they’re having lots of invitation requests, but today, I finally got the invitation code to register an account.

Before registering, I have read some key information about HEY: about how it works, the HEY manifesto, some key points on the FAQ page, and also how the pricing will work. I also understand that Imbox is not a typo.

Some key points about HEY

In my opinion, these are some key points about HEY. It’s not about my personal preference, but more about ‘what I — or probably you — should now by having a @hey.com account.

  1. It’s NOT an email client. So, it’s not like Gmail for Android/iOS. It’s not Outlook you can have on your Android, Mac, or iOS devices. It’s not even close to Spark, Postbox, or Newton.
  2. It’s an email service provider, with — currently — @hey.com domain for the email address created. That’s right, it’s like Gmail by Google, or Yahoo Mail, or Outlook. It’s also like how you have your email address, powered by your cPanel-based hosting, or maybe you have it installed yourself and having Roundcube as the interface. Creating an account at HEY is like you open an account at Gmail, or having an email at Yahoo Mail service.
  3. It’s not free. It’s a paid service. To enjoy the full service at the moment, with the upcoming features in the futures, we need to pay US$99/year minimum. We need to pay extra if for ‘shorter’ username. 2-characters of username costs US$999/year, and 3-character of username will cost US$349/year. And, we need to pay a year in advance.
  4. It offers “better” privacy. Hint: Gmail.
  5. It might change your workflow. It might be better for some people, but probably it’s not for everyone.

More features that might works better for you can be seen at HEY website.

Let’s give it a try

Reading some of those points above, I was curious about how it works. I mean about the interface, functionalities, workflows, and more. It’s 2020, and making working with email to become an enjoyable experience — for those who work a lot with emails — is still a big challenge.

I am a Gmail user — or Gmail-based email, because I also use Google App for Work — and I use lots of Google services. I signed up for my Gmail account when it was still ‘invite only’ period.

My first question about HEY was, “If HEY is that good, how the integration between services I currently use?”. I have an Gmail email, and once I signed up for it, I can use all the other services right away. The integration between those [Google] service is already that good.

I still believe that HEY is not ‘just another email provider’. Basecamp is a reputable company. I follow Signal vs Noise blog. I bought both REMOTE and REWORK. It’s built by people who know what they do, and who want to make the idea of working to become something efficient and fun at the same time. If we’re talking about productivity, Basecamp should be mentioned here.

I already logged-in to my email account. I have HEY app installed on my iPad and Android phone. I also already sent my first email to it.

Let’s see.

25 fundamental email issues

HEY, a new email service by Basecamp, has plan to solve some fundamental issues with… email. HEY has the list of fundamental issues with email. It’s a long list, but I agree with most of them.

Akhirnya, Bisa Juga Punya Akun Jenius BTPN

Sejak gagal melakukan aktivasi akun Jenius beberapa bulan lalu, akhirnya saya memiliki sebuah akun Jenius di akhir Juli 2019 lalu. Namun, prosesnya agak sedikit berbeda. Ada beberapa hal yang dengan cukup santai saya ikuti prosesnya. Toh memang saya tidak terburu-buru, dan seluruh kebutuhan transaksi/perbankan masih bisa terpenuhi dengan akun yang ada.

Registrasi dengan nomor/akun lain

Setelah gagal aktivasi dan registrasi kedaluarsa, seingat saya, saya tidak bisa mendaftar dengan nomor ponsel dan surel yang sama. Namun, karena saya memiliki nomor ponsel lain — dan tentu saja surel lain — akhirnya saya coba daftar kembali.

Kalau pendaftaran saya yang pertama menggunakan nomor XL dengan surel dari Gmail, pendaftaran kedua saya menggunakan nomor Telkomsel dengan surel Yahoo. Dan, pendafaran kedua ini gagal.

Saya tidak pernah mendapatkan konfirmasi di surel. Saya lupa tepatnya urutan bagaimana, tapi saya tidak bisa login ke aplikasi. Padahal saat itu saya memutuskan untuk daftar kembali karena beberapa rekan kantor punya pengalaman yang mudah dalam mendaftar. Apalagi, verifikasi dilakukan melalui video call saja.

Karena gagal lagi, jadi saya putuskan tidak memroses apapun.

Telepon dari Jenius BTPN

Pada suatu siang, saya mendapatkan telepon dari nomor yang mengaku dari BTPN, dan ingin menanyakan beberapa hal mengenai Jenius. Pertanyaan cukup standar, dan saya sampaikan saja kondisi sebagai masukan bahwa saya gagal membuka akun Jenius. Bahkan dua kali.

Dari telepon tersebut, saya mendapatkan beberapa poin informasi:

  1. Saya bisa daftar kembali, setelah akun saya di-reset. Mungkin maksudnya akuns aya dihapus dari sistem, sehingga nomor ponsel dan surel dapat digunakan kembali.
  2. Untuk me-reset akun bisa dilakukan di beberapa tempat di Jogjakarta. Saat itu diinformasikan kalau bisa dilakukan di Jogja City Mall, Hartono Mall, dan Ambarrukmo Plaza.

Saya suka dengan follow-up semacam ini. Dari beberapa opsi tempat, saya akhirnya memutuskan untuk mengurus ke Jogja City Mall, karena hampir tiap akhir pekan saya ada keperluan di sana.

Reset Akun Jenius BTPN di Jogja City Mall

Singkatnya: tidak berhasil sepenuhnya.

Ketika saya menyampaikan (dengan cukup detil) kronologis yang saya alami, saya akhirnya diminta data oleh salah seorang agent yang ada disana. Mereka sepertinya paham kondisi saya dan tahu apa yang harus dilakukan. Mereka mengirimkan beberapa data registrasi saya ke pihak yang mungkin mengurusi perihal reset akun.

Saya tunggu beberapa menit, mungkin ada sekitar 10-15 menit. Sambil saya amati kalau saat itu ada beberapa orang yang menanyakan mengenai Jenius ini, dan sepertinya ada yang langsung dibantu untuk pembuatan akun. Setelah menunggu, saya diinfokan kalau reset akun tidak berhasil (di sana), dan disarankan(?) untuk melakukannya di tempat lain yaitu yang adi Hartono Mall. Saya tidak memperpanjang alasan kenapa tidak bisa, ya karena memang tidak bisa. Apalagi saat itu saya sebenarnya juga sudah cukup terburu-buru untuk pulang.

Reset dan Pembuatan Akun Jenius BTPN di Hartono Mall

Beberapa minggu setelah kegagalan proses di Jogja City Mall, saya sempat ada keperluan untuk ke Hartono Mall. Saat itu sekitar pukul 20.40 malam. Saya coba dengan tanpa ekspektasi yang muluk-muluk. Saya jelaskan minta dibantu untuk reset akun supaya bisa mendaftar ulang lagi, itupun kalau bisa.

Dengan proses yang sama, saya diminta informasi akun yang saya gunakan untuk mendaftar (sebelumnya), dan ditawari untuk dibantu pembuatan akun. Saya mengiyakan, toh memang itu keperluan saya. Saya ikuti proses standar pembuatan akun, dan proses cukup cepat karena memang semua dilakukan secara digital.

Terkait kartu, karena saat itu sudah cukup malam (sekitar jam 21.00) jadi kartu tidak bisa langsung jadi. Kalau tidak salah kartu sebenarnya bisa langsung jadi, tapi karena petugas yang mengurusi kartu ini sudah tidak ada — kalau tidak salah infonya begini — jadi nanti kartu akan dikirim melalui pos. Namun, secara prinsip akun sudah aktif, dan saya login ke akun saya melalui aplikasi Android tanpa masalah.

Gagal Isi Saldo OVO dari CIMB Niaga

Untuk top-up saldo OVO — saya memiliki akun OVO Premiere, saya hampir selalu transfer dari rekening BCA melalui BCA Mobile. Dan, tidak pernah gagal sama sekali. Saldo OVO langsung bertambah secara instan. Begitu juga ketika saya top-up saldo Go-Pay.

Beberapa hari lalu, saya mencoba untuk top-up saldo OVO dari CIMB Clicks. Prosesnya cukup sederhana, yaitu dengan melakukan transfer ke nomor 8099 diikuti dengan nomor ponsel yang terdaftar di akun OVO.

Proses transfer berhasil. Namun, ternyata saldo OVO tidak secara instan bertambah. Saya pikir, mungkin perlu waktu. Jadi saya tunggu saja.

Sekitar satu jam, ternyata tidak bertambah juga saldo OVO saya. Akhirnya saya tanyakan kepada pihak CIMB melalui layanan pesan (chat). Saya berikan juga tangkapan layar transaksi saya ketika diminta. Oleh petugas layanan konsumen, saya diminta untuk menghubungi Call Center CIMB Niaga.

Pengalaman saya sebelumnya menghubungi Call Center CIMB Niaga tidak terlalu baik. Oh ya, saat itu saya juga ‘hanya’ melakukan top-up Rp100.000,-. Akhirnya, saya putuskan untuk meminta bantuan melalui surel ke bantuan konsumen. Saya kirimkan surel ke [email protected] Dalam surel saya sertakan juga bukti transaksi yang saya lakukan.

Hari berikutnya — karena saya mengirim surel setelah pukul 17.00, jadi baru mendapatkan balasan di hari berikutnya — saya mendapat respon:

Menindaklanjuti email Bapak, kami informasikan bahwa proses tindak lanjut telah dilakukan dengan hasil sebagai berikut:

Mohon maaf atas kendala yang Bapak alami. Setelah kami lakukan pengecekan untuk transaksi yang di lakukan tidak berhasil, dan dana Bapak saat ini berada di rekening penampung bank CIMB Niaga. Kami informasikan dana akan di kembalikan ke rekening dalam 10 hari kalender. Mohon kesediaan Bapak menunggu prosesnya hingga akhir hari pada tanggal 20 Juni 2019.

Bapak dapat memberikan balasan melalui email ini dalam kurun waktu 3 (tiga) hari kerja apabila terdapat hal yang ingin disampaikan.

Terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada kami. Melayani Bapak merupakan kebanggaan bagi kami.

Jadi, singkatnya proses top-up ke akun OVO gagal. Dan, beruntung saya hanya mengisi dalam nominal yang tidak terlalu besar. Apa jadinya kalau nominal besar yang ditransfer dan harus dalam kondisi seperti di atas?

Repot.

Update: Dana yang dijanjikan untuk dikembalikan ke rekening akhirnya saya terima pada 20 Juni 2019 sesuai dengan informasi yang dijanjikan.

Berpindah ke Layanan Biznet Home Internet dari Telkom IndiHome

Akhirnya, rencana saya untuk berpindah layanan dari IndiHome PT Telkom Indonesia telah berhasil akhir minggu lalu. Saya akhirnya menggunakan layanan Biznet Home Internet dari Biznet.

Proses Registrasi

Sebenarnya, sudah cukup lama saya ingin menggunakan layanan dari Biznet ini. Namun, saat itu jaringan belum tersedia. Saya pernah memang mengirimkan inquiry melalui email, namun tidak mendapatkan balasan. Mungkin saat itu memang karena layanan belum tersedia.

Saya tidak tahu kapan tepatnya layanan ini tersedia di tempat tinggal saya. Namun, saat melalukan pengecekan di awal bulan ini, ternyata layanan sudah tersedia. Akhirnya lakukan registrasi melalui laman web Biznet Home pada tanggal 4 Mei 2017. Saat itu, saya memilih paket Home Internet 1 dengan harga paket Rp 240.000,00.

Setelah saya lakukan registrasi, saya mendapatkan surel balasan yang berisi mengenai detil permintaan layanan, termasuk harga awal yang termasuk instalasi sebesar total Rp 487.000,00. Saat itu, saya tidak langsung melakukan pembayaran, karena saya belum mendapatkan kepastian apakah layanan tersebut memang dapat terpasang atau tidak.

Tanggal 5 Mei 2017, saya mendapatkan kontak dari Biznet yang akan melakukan survei terkait dengan jaringan. Siang hari, akhirnya ada dua orang dari Biznet yang datang ke rumah. Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa internet dapat terpasang, dan nanti akan dikirimkan beberapa informasi pemasangan beserta dengan instruksi pembayaran karena data registrasi saya perlu diperbarui. Sore harinya, saya mendapatkan informasi pendaftaran kembali melalui surel, dan saya langsung lakukan pembayaran.

123RF Verification on Credit Purchase

123RF

Disclaimer: This review is based on my personal experience. 123RF did not request me to write this article and I’m not endorsed or paid for making this review.

Today, I just decided to purchase some credits under my account at 123RF.com since I need to get some images from there. After creating an account, I simply made a purchase. It was a simple process. When I made the my purchase, I was connected to my office VPN. So, I was detected in Singapore while I was physically in Yogyakarta, Indonesia.

I filled in all billing information. I have been making lots of transactions using my credit cards, and I had most of them succeeded.

When I hit the purchase button, I got a notification saying that a verification process was needed and it would be by calling my phone number. I waited for the next few minutes. But, I didn’t get any phone call (on my mobile number).

So, I decided to contact 123RF from its Live Chat feature. So, I provided the customer service staff with my invoice number and some basic information about my order and account. The customer service staff informed me to make verification process based on the instruction sent to my email. She also requested my mobile number again and I gave her my numbers.

I replied the email with the information about my full name, bank account information, and my home address. I provided all the information based on my credit card information. No credit card number of verification number provided during this process.

In the next few seconds, I got a phone call from 123RF. She introduced herself as Jessica from 123RF, and she was using Bahasa Indonesia. She asked me for some details about my order and the situation that I made an order  from Singapore (while my address is in Yogyakarta, Indonesia). Of course, I was more than happy to give the best answer. Then, she told me that she would be back to work on my order.

After few minutes, I got another call from her telling that the credit was already under my account. I checked directly by refreshing my browser, and the credit was there.

Overall, I had a good experience on my first credit order. I know that each companies — when it comes to payment or security — has its own standard of the payment or security. 123RF has its own verification process. Based on my experience just now, 123RF made the verification simple enough.

G Suite

Google Apps for Work now has a new name. It’s G Suite.

G Suite is a set of intelligent apps — Gmail, Docs, Drive, Calendar, Hangouts, and more — designed to bring people together, with real-time collaboration built in from the start. And there’s a lot more on the way. Because we believe that when organizations break down silos, connect people and empower them to work together, we get the speed, agility and impact needed to compete in today’s market.

Inbox by Gmail: Moving Spam email to Inbox

screen-shot-2016-09-13-at-2-32-16-pm

I’ve been using Inbox by Gmail as my default web-based email to manage emails powered by Gmail. The “Snooze” and “Pin” are just helpful to keep me organised with my emails. Everything works, but there is a small things that — in my opinion — little bit inconvinient: dealing with Spam.

Gmail’s spam filter is great. But, sometime, I found that Google makes mistakes on the spam identification. Of course, it should be easy to bring back emails marked as spam to the inbox. Well, not while using Inbox by Gmail.

Viewing an email under the Spam folder will give the same experience. How to move email to inbox?

There is a menu to “Move to…”, but I could not see “Inbox” as one of the folder. The solution? Simple: Pin it.

Pinned email will go back to the inbox. It’s much simpler with the classic Gmail.

Moving to Google Apps for Work

Google Apps for Work

It’s been two for around two months since my small office moved the email service to Google Apps for Work. So far, it’s been a great experience and I think it was the right decision to make.

Why Moving?

Before moving to Google Apps for Work, we manage the email servers on our own. Meaning, we needed to do the setup, maintenance, including backup. There are less than twenty email accounts to manage under two main domains. The email was hosted on a cloud-based server — we used DigitalOcean. Everything was running almost without any issues.

We depend on emails on day-to-day operation. At the same time, we need to have (almost) zero maintenance and increase our productivity. Our small team needs to share lots of things like documents, spreadsheets, and agendas. The thing is that we need to use our personal Google account to share documents. The other things is on the storage. I have more than 6 GB of email (for work). So, moving to Google Apps for Work is an anticipation. Here are some main reasons on the migration:

  1. Zero maintenance. By outsourcing the email service to Google, we at least only need to keep the domain active.
  2. Integration with other Google services like Google Docs, Google Sheets, Google Calendar, and more. The integration also includes the seamless collaboratoin between coworkers.
  3. Flexible storage. By default, I have 30 GB of storage for my Gmail, Google Drive, and photos. If later I need to upgrade, the price is pretty reasonable. 100 GB for IDR 27,000 (per account) is a good deal.
  4. Simple setup and management. Setting up each service provided by Google Apps for Work is very easy.

Migration Process

The migration process was pretty easy. Since there were only around 12 email accounts, so moving them individually did not take too much time. My coworkers moved all the email account by themselves. The only challenge is not to have the downtime. There is a simple guide to work on this area. During the registration process, I only need to use a primary domain — and setup the secondary domain as domain alias later on.

For the cost efficiency, I worked on the settings on email routing. For example, if there is an email address that was only accessed by specific people in the organisation, I created some routing rules. By this, I can minimise the number of accounts.

After all emails (including attachments) had been migrated to Google Apps, we kept the “old” servers online for few days just to make sure that no data left behind. I was not sure how long the whole processes was completed, but it was around one week.

Bye (legacy version of) Yahoo Messenger

Say goodbye to the old legacy versions of Yahoo Messenger — “On August 5, 2016, legacy versions of Yahoo Messenger will be discontinued. If you haven’t upgraded Yahoo Messenger recently, you’re probably using a legacy version. To continue using Yahoo Messenger, please upgrade to the newest version on mobile (iOS or Android) and desktop (messenger.yahoo.com or from Yahoo Mail)”