Pengecekan BI Checking atau SLIK Secara Mandiri Melalui iDebku OJK

Sampai saat ini, saya memang belum pernah secara spesifik melakukan pengecekan informasi keuangan pribadi saya yang dapat dilihat spesifik melalui dokumen SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan).

Selama ini, pengecekan memang dilakukan oleh atau pihak yang memerlukan. Terakhir kali seingat saya saat saya melakukan pengajuan kredit pemilikan rumah. Karena memang dari catatan pribadi memang status kredit (credit scoring) memang ‘harusnya’ status lancar.

Supaya tidak bingung, Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), Informasi Debitur (iDeb), credit scoring, atau BI Checking ini sebenarnya istilah yang sama. Jadi ini merupakan informasi/dokumen untuk melihat bagaimana performa status laporan informasi keuangan kita, ketika kita memiliki pinjaman atau tanggung jawab pengembalian atas kredit/pinjaman kita.

Pinjaman ini bisa dari mana saja, mulai dari bank (misal KPR, , atau produk pinjaman lain), dan juga dari lembaga lain termasuk e-wallet dengan fitur paylater-nya.

Untuk melakukannya, sekarang seharusnya lebih mudah karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah memiliki aplikasi khusus untuk ini. Namanya iDebku.

Kalau dari panduan tata cara, seharusnya ini prosesnya cukup mudah. Kurang lebih proses sebagai berikut:

  1. Masuk ke iDebku di https://idebku.ojk.go.id/
  2. Lakukan proses pendaftaran
  3. Buat permohonan
  4. Lihat hasil permohonan iDeb

Saya sendiri saat ini belum mencobanya, tapi jika ini berfungsi sesuai yang diharapkan, tentu ini bisa sangat bermanfaat.

Ulasan Monitor LED Dell S2721DS 27 Inchi

Beberapa waktu setelah saya bekerja dari rumah, saya sempat terpikir untuk memiliki sebuah monitor yang berukuran agak besar untuk kenyamanan bekerja. Saya sempat gunakan juga sebenarnya “televisi” sebagai monitor, tapi tentu saja ini bukan pilihan yang bijak.

Akhirnya, setelah satu tahun lebih, saya memutuskan untuk membeli sebuah monitor yang akan saya gunakan bersama dengan 15″.

Catatan:

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan produsen monitor, maupun layanan lain yang disebutkan dalam artikel ini. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Karena sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan monitor, awalnya saya agak bingung harus memulai pencarian saya dari mana. Akhirnya, saya lemparkan pertanyaan sekaligus meminta rekomendasi melalui linimasa saya. Berikut beberapa balasan rekomendasi, atau paling tidak yang sedang dipakai:

  1. S2721DS
  2. ThinkVision T27P10
  3. Dell s2721QS
  4. Thinkvision E24-20
  5. LG 24” 4K 24UD58-B

“Beruntung” tidak terlalu banyak rekomendasi yang bisa membuat saya bisa tambah bingung menentukan pilihan. Awalnya, saya berpikir untuk membeli yang 24″ karena sudah cukup besar. Ternyata, beberapa rekan yang kesehariannya bekerja dengan monitor eksternal lebih merekomendasikan untuk ukuran 27″.

Untuk mempermudah pilihan, saya menentukan anggaran paling tinggi Rp4.000.000,-. Dan, setelah membaca beberapa ulasan, melihat ulasan dari pengguna lain, saya memutuskan untuk membeli Dell S2721DS.

Spesifikasi

Berikut spesifikasi dasar untuk Dell S2721DS:

  • Ukuran panel: 27 inchi
  • Tipe panel: IPS
  • Resolusi: QHD 2560 x 1440 @ 75 Hz
  • Aspek rasio: 16:9
  • Konektor: 2x HDMI 1.4, 1x DP1.2
  • Daya: 19 watt (sleep/standby: 0,3 watt)

Spesifikasi lengkap dapat dilihat di situs Dell.

Pembelian

Awalnya saya berniat untuk membeli produk ini secara langsung di toko komputer. Namun, ternyata barang ini tidak banyak bisa saya temukan. Saya tanyakan ke salah satu teman saya yang juga sudah memiliki produk ini, ternyata barang sedang tidak ada dalam stok, dan harga saat ini lebih tinggi dibanding saat dia membelinya.

Selesai: Pengembalian Kredit Google Hangout

Sewaktu melakukan perubahan kartu kredit untuk pengembalian kredit Google Hangout pertengahan Maret lalu, saya kira prosesnya memang bisa sampai dua bulan. Ternyata, proses malah jauh lebih cepat.

Dalam catatan mutasi , ternyata di tanggal tersebut sudah masuk. Informasi baru terlihat karena tagihan terbaru kartu kredit baru tercetak awal April ini.

Pengembalian Dana/Kredit Google Hangout

Karena Google sudah tidak meneruskan layanan panggilan suara pada aplikasi Hangouts pada bulan Maret 2021, maka pengguna yang masih memiliki /kredit yang melekat pada aplikasi Hangouts akan mendapatkan pengembalian dana. Pengguna Hangouts akan diarahkan untuk berpindah ke layanan Google Chat.

Termasuk saya, yang ternyata masih ada US$10 di akun.

Saya sebenarnya malah tidak ingat bahwa saya pernah melakukan penambahan kredit di akun saya. Namun, surel yang saya dapatkan dari sistem bukan terkait berhasilnya pengembalian dana, namun karena dana yang akan dikembalikan tidak dapat diproses.

Pengaturan pembayaran saya saat ini memang menggunakan . Saya pikir, kegagalan karena informasi kartu kredit saya tidak valid. Setelah saya cek, kartu kredit yang saya gunakan sudah benar — dapat digunakan untuk pembayaran.

Akhirnya, saya ubah informasi pembayaran dengan detil kartu kredit yang lain yang ternyata untuk pemrosesan pengembalian kembali bisa sampai 2 bulan.

Data Pembayaran di Situs Belanja. Simpan atau Hapus?

Foto oleh Avery Evans via Unsplash

Sebagai salah satu kegiatan bebersih akun, selain menghapus following akun di , saya juga melakukan penghapusan beberapa pembayaran yang melekat di akun-akun saya, terutama di situs/layanan yang cukup sering saya gunakan untuk bertransaksi.

Tentu aja, dengan punya data pembayaran, proses akan sedikit lebih cepat, tapi di saat yang sama bisa juga ‘berbahaya’. Ya, terkait dengan adanya kemungkinan peretasan, tapi keputusan/proses membeli jadi lebih singkat. Jadilah saat ini seluruh data pembayaran () di situs-situs niaga-el seperti , , Blibli, dan lainnya saya hapus semua.

Untuk Shopee dan Tokopedia, saya lebih suka menggunakan pembayaran langsung melalui saldo atau . Untuk pembayaran lain secara daring, saya rasa juga sekarang sudah sangat fleksibel pilihannya. Pembayaran kartu kredit di kedua platform tersebut lebih sering ketika saya gunakan untuk transaksi yang agak besar, atau cicilan.

Untuk data-data di layanan lain yang sifatnya berlangganan atau tagihan rutin dan mengharuskan adanya metode/data pembayaran yang harus tersimpan, perubahannya hanya terkait dengan adanya cadangan metode pembayaran. Ada yang memang hanya satu alat pembayaran, ada pula yang lebih. Sebenarnya, bisa juga dengan konsep deposit, namun saya masih agak kurang nyaman dengan cara ini, apalagi deposit juga menarik dari kartu kredit.

Biaya Denda Kekurangan Dana di Layanan Jenius BTPN

Walaupun sudah lebih dari satu tahun saya memiliki akun Jenius, sampai saat ini masih belum menjadi pilihan utama untuk urusan terkait . Bagi saya, berpindah layanan perbankan bukan sebuah keputusan yang cukup mudah dilakukan. Ini juga terkait dengan perubahan pola/cara saya dalam bertransaksi yang makin hari ternyata makin banyak menggunakna e-wallet seperti GoPay, , , dan ShopeePay.

Untuk layanan perbankan, saya masih menggunakan dan CIMB Niaga sebagai akun utama.

Bagaimana layanan Jenius?

Karena tidak terlalu aktif menggunakannya, bahkan sepertinya saya lebih banyak menggunakan karena beberapa rekan sudah cukup lama perlu melakukan transfer dana ke saya melalui Jenius. Untuk transaksi lain seperti pembayaran menggunakan kartu fisik, atau transaksi digital, hampir tidak pernah saya gunakan.

Beberapa kartu tambahan yang saya miliki hampir tidak pernah saya gunakan. Tentu saja ini efek dari bahwa saya cenderung lebih memilih untuk cardless.

Jadi, bukan berarti layanan atau fitur Jenius jelek, tapi memang sepertinya tidak cocok untuk saya. Kartu Jenius bisa langsung dipakai untuk pembayaran MRT di , atau memudahkan dalam penarikan uang tunai di selama di luar negeri. Tapi, sejak saya punya kartu ini, otomatis hal tersebut saya tidak gunakan sama sekali karena memang tidak ada keperluan ke luar negeri.

Kalau tentang application, saya cuma merasakan kalau kecepatan aplikasi Jenius belum dapat dibandingkan dengan aplikasi perbankan lain. Di linimasa — walaupun ini tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan — banyak keluhan kalau aplikasi lambat, dan tak jarang tidak dapat digunakan karena tidak muncul dengan sempurna.

Kenaikan Bea Materai untuk Tagihan Kartu Kredit per Januari 2021

Kalau selama ini untuk setiap tagihan yang saya gunakan ada biaya materai lunas sebesar Rp6.000, untuk tahun 2021 akan ada perubahan dengan dasar UU No. 12 Tahun 2020 tentang Bea Materai. Beberapa hari lalu, mengirimkan surel terkait hal ini.

Kalau merujuk ke detil informasi di laman situs BCA, perubahan biaya materai berdasarkan nominal transaksi adalah:

Saat ini

  • Kurang dari Rp250.000, biaya materai gratis
  • Rp250.000-Rp1.000.000, biaya materai Rp3.000
  • Diatas Rp1.000.000, biaya materai Rp6.000

Perubahan per Januari 2021

  • Kurang dari Rp5.000.000, biaya materai gratis
  • Diatas Rp5.000.000, biaya materai Rp10.000

Perubahan ini mungkin jadi sedikit menguntungkan untuk yang tagihan kartu kredit di bawah Rp5.000.000 karena akan gratis. Sedangkan yang biasanya kena biaya Rp6.000 (misla karena tagihan diatas Rp5.000.000), lumayan juga kenaikannya hampir dua kali lipat.

OCTO Clicks, Bukan Lagi CIMB Clicks

Sebelum saya menginstal OCTO Mobile, seluruh aktivitas saya di hanya saya lakukan melalui CIMB Clicks sebagai nama layanan banking dari CIMB Niaga. Bahkan, transaksi yang saya lakukan cukup umum saja: membayar tagihan , melihat mutasi rekening. Beberapa transaksi lain sudah dilakukan secara otodebet.

Setelah OCTO dirilis untuk menggantikan Go Mobile, giliran OCTO Clicks hadir untuk menggantikan CIMB Clicks. Saya rasa keduanya — OCTO Mobile dan OCTO Clicks — berusaha hadir untuk memberikan solusi yang lebih lagi terkait layanan perbankan, terutama secara digital.

Jadi, ketika biasaya saya membuka internet banking CIMB Niaga melalui cimbclicks.co.id, sekarang alamat berpindah menjadi octoclicks.co.id. Nama lama sudah tidak digunakan lagi.

Dibandingkan desain sebelumnya, tampilan yang baru sangat jauh berbeda. Desainnnya mungkin terlihat lebih modern. Desain yang appealing tentu saja sebuah nilai plus. Tapi, yang lebih penting adalah secara fungsi.

Aktivasi PIN Kartu Kredit CIMB Niaga dan Aplikasi OCTO Mobile

Setelah hampir tiga tahun saya memiliki kartu kredit dari CIMB Niaga, hari ini saya memutuskan untuk mengaktifkan (Personal Identification Number) untuk kartu kredit saya. Kenapa baru sekarang, karena kartu kredit tersebut hampir tidak pernah saya gunakan untuk transaksi di merchant secara offline, tapi hanya untuk keperluan transaksi daring.


Bahkan, kartu kredit saya malah hampir tidak pernah saya bawa. Namun, karena ada aturan dari bahwa per 1 Juli 2020, seluruh transaksi kartu kredit harus menggunakan PIN — tanda tangan tidak diterima — maka saya putuskan untuk mengaktifkan PIN.

Cara Aktivatasi PIN Kartu Kredit

Kirim ke nomor 1418 dengan konten PIN <4 digit terakhir kartu kredit> . Format tanggal lahir adalah tanggal-bulan-tahun. Contoh: PIN 3213 29041990. Dan, proses aktivasi selesai setelah saya menerima balasan SMS.

PIN untuk kartu kredit 6789 Anda adalah 543221. Segera ganti PIN Anda di CIMB Niaga, app OCTO atau hub 14041 dalam waktu 14 hari. Info 14041

Isi pesan SMS balasan aktivatasi PIN Kartu Kredit CIMB Niaga

Tentu saja, hal yang pertama saya langsung ingin lakukan adalah mengubah PIN default. Dari opsi untuk datang ke ATM CIMB Niaga atau melalui aplikasi, saya memilih opsi kedua.

OCTO Mobile

Saya tidak memiliki ekspektasi tentang apa fitur yang ditawarkan oleh OCTO Mobile dari CIMB Niaga. Tapi, selama ini saya cukup nyaman dengan aplikasi mobile banking milik . Transaksi CIMB Niaga biasanya saya lakukan melalui fitur internet banking.

Saya mengunduh OCTO Mobile dari Play Store untuk ponsel saya. Versi iOS juga tersedia. Setelah melakukan proses registrasi, saya lanjutkan dengan mengubah PIN kartu kredit saya.

Pembayaran Menggunakan DANA di App Store

DANA adalah salah satu dompet digital yang saya pakai. Saya cukup nyaman menggunakannya, salah satunya karena melalui saya bisa melakukan transaksi dengan saya jika kebetulan saya tidak ada saldo. Alih-alih melakuan top-up ke saldo, saya bisa langsung transaksi dari kartu kredit saya.

Selama saya menggunakan produk , proses pembayaran selalu saya lakukan dengan kartu kredit. Namun, ternyata DANA sudah dapat digunakan — selain kartu kredit tentunya — sebagai metode pembayaran. Informasi ini dapat dilihat dari laman metode pembayaran yang dapat digunakan dengan Apple ID.

Menghubungkan akun DANA ke metode pembayaran

Karena saya tidak punya , saya mencoba menghubungkan akun DANA saya dari . Dan prosesnya cukup sederhana.

Saya belum melakukan transaksi langsung menggunakan DANA di ini. Mungkin nanti. Kalau bisa, saya lebih memilih untuk membayar langsung dari saldo DANA saya.

Menutup Kartu Kredit BNI

Beberapa hari lalu, saya memutuskan untuk menutup yang sudah saya miliki beberapa tahun terakhir ini. Alasannya karena saya sudah hampir tidak menggunakannya lagi, dan ini salah satu cara untuk lebih menyederhanakan keseharian saya.

Proses penutupan saya lakukan di salah satu kantor cabang BNI. Sebenarnya saya berencana untuk melakukan penutupan melalui call center saja, tapi saya hampir tidak bisa terhubung ke call center BNI melalui ponsel saya.

Terlalu banyak tawaran telemarketing BNI

Selain alasan karena sudah jarang digunakan, ada alasan lainnya yaitu terlalu banyaknya kontak telemarketing BNI yang menawarkan berbagai macam layanan. Sebenarnya, melalui aplikasi Truecaller setiap ada penawaran dari BNI, saya sudah dapat alert. Sialnya, yang menawarkan promosi mulai dari limit baru, atau fasilitas lainnya nomor berganti-ganti.

Saya pernah tanyakan perihal ini, dan jawabannya karena nomor ponsel saya — yang terhubung ke nomor kartu kredit — bisa dijadikan dalam daftar untuk dihubungi oleh telemarketing semua BNI. Apakah bisa dikeluarkan dari daftar? Katanya bisa, dan yang perlu diinfokan adalah berapa nomor kartu kredit yang saya gunakan — karena nomor ponsel ada disitu.

Tanpa Uang Tunai. Ya atau Tidak?

Di tahun 2019 ini, sepertinya saya semakin sering untuk melakukan transaksi non-tunai. Kebetulan, hampir semua kebutuhan harian (pribadi maupun pekerjaan) dapat dilaksanakan dengan transaksi non-tunai.

Saya belum pernah mencoba untuk melakukan aktivitas yang melibatkan transaksi pembayaran dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu penuh. Sepertinya ini menarik untuk dicoba. Paling tidak, jadi semakin terlihat di area mana transaksi yang bisa dilaksanakan dengan non-tunai, bisa non-tunai tapi (terpaksa) harus tunai, atau bahkan tidak bisa non-tunai sama sekali.

Tentu saja, hasil yang berbeda ketika dilaksanakan di kota/area lain. Saya berdomisili di . Jadi, mari kita coba.

Saat ini, untuk mencoba tanpa uang tunai, saya menggunakan beberapa metode pembayaran berikut:

  1. Kartu debit (ada dari beberapa , namun mayoritas saya gunakan BCA)
  2. Kartu (Flazz dan Mandiri)
  3. Akun (dengan ) dan OVO.
  4. Kartu kredit

Saya juga memiliki akun LinkAja dan Jenius, namun keduanya hampir belum saya gunakan secara aktif. Untuk layanan , utama saya masih menggunakan ( banking dan BCA ). Jadi, seri untuk tulisan mengenai tanpa uang tunai akan dibagi menjadi beberapa kategori utama.

BCA Express untuk Urusan Perbankan BCA yang Lebih Ekspres

Saya lupa kapan kali terakhir saya mengunjungi kantor cabang utama atau kantor cabang pembantu . Secara umum, saya mendapatkan pengalaman yang baik, tidak sampai seperti pengalaman saya mengantri ketika akan aktivasi akun Jenius di Bank BTPN.

Sejak saya berpindah rumah, saya beruntung karena ternyata ada gerai Express di Alfamidi. Jadi, untuk beberapa urusan BCA, bisa diselesaikan disini. Beberapa waktu lalu, untuk kali pertama istri saya mengunjungi BCA Express untuk mengubah nomor ponsel banking.

Karena tidak terlalu banyak nasabah/calon nasabah, jadi istri saya terlayani dan urusan langsung beres dalam beberapa menit saja. Jadi, di BCA Express ini, ada beberapa layanan nasabah antara lain:

  • Setor & Tarik Tunai
  • Pembukaan Rekening Tahapan BCA
  • Pembukaan Rekening TAHAKA (Tahapan Berjangka)
  • Pembukaan Rekening Tahapan XPRESI
  • Penggantian Kartu
  • m-BCA
  • Klik BCA
  • Halo BCA
  • KKB BCA
  • KPR BCA
  • KSM BCA
  • BCA

Untuk di , BCA Express ini ada di Universitas Atma Jaya Babarsari, Universitas Negeri Yogyakarta dan Alfamidi Jalan .

Ketika Layanan Bank CIMB Melalui Call Center Cukup Merepotkan

Di bulan Februari 2019 ini, saya ada keperluan terkait dengan transaksi CIMB saya. Jadi, saya ingin mengubah transaksi kartu kredit yang sebelumnya dengan cicilan menjadi pembayaran tagihan penuh. Sebenarnya, awalnya memang sudah tagihan penuh, tapi karena salah perhitungan setelah mengubahnya menjadi cicilan, saya putuskan untuk kembali bayar dengan tagihan penuh.

Intinya: bunga cicilan kartu kredit (dalam hal ini dalam hitungan saya di ) yang diubah dari transaksi penuh itu bunganya tinggi! Jauh lebih tinggi daripada membayar biaya konversi. Mungkin ada yang memilih kondisi ini karena beberapa alasan, tapi hal ini bukan menjadi opsi untuk saya saat itu. Walaupun, di CIMB proses mengubah tagihan penuh menjadi cicilan menang sangat mudah, karena bisa dilakukan melalui situs CIMB CLICK.

Pengalaman ini berbeda ketika dulu saya melakukan perubahan transaksi cicilan kartu kredit menjadi tagihan penuh menggunakan kartu kredit BNI.

Saya hubungi melalui Call Center CIMB di 14041 karena setelah tanya melalui fitur chat di , saya diarahkan untuk ke Call Center. Saya sering kali berada dalam antrian. Bahkan, saking lamanya saya menunggu, saya kadang batalkan saja dan coba lagi. Ternyata sama saja. Ketika menyambung, telepon terputus karena saya kehabisan pulsa.

Bayar dengan Cicilan Kartu Kredit atau Tunai?

Saya punya dari beberapa , walaupun tidak semuanya saya pakai. Intinya, saya mencoba menggunakannya sebagai mana fungsinya. Benar memang bahwa prinsipnya sih kita hutang yang tetap harus dibayar, cuma yang saya hindari adalah bahwa kartu kredit dipakai untuk membayar hutang kartu kredi yang lain. Itulah kenapa saya pakai metode pembayaran auto-debet.

Selain kartu kredit, saya fitur yang sering saya manfaatkan adalah cicilan dengan bunga 0%. Tidak selalu semua bisa dicicil, cuma kalau bisa dicicil dan memang lebih menguntungkan, kenapa tidak?

Untuk pengeluaran yang sifatnya rutin, saya gunakan cicilan kartu kredit. Atau, untuk barang yang butuh sekarang tapi bisa dinikmati cukup lama.

Saya selalu beli listrik prabayar dalam jumlah yang agak banyak, sekaligus untuk beberapa bulan. Misalnya saya beli sebesar Rp1.000.000,- yang harapannya bisa untuk 6 bulan. Transaksi semacam ini saya gunakan cicilan 0%, jadi saya menghitungnya dengan biaya bulanan sekitar Rp150.000,-.

Karena ini mungkin bisa jadi lebih murah dibandingkan setiap bulan saya isi sedikit demi sedikit. Belum lagi kalau misalnya ketika melakukan pembayaran mendapatkan cashback. Dan juga, kebutuhan dan kemampuan masih bisa sebesar itu.

Contoh lainnya adalah ketika beli ponsel awal Agustus lalu. Saya memilih untuk menggunakan cicilan kartu kredit, karena saya memilih untuk menempatkan ponsel sebagai biaya bulanan. Bahkan, setelah saya pertimbangkan, saya akhirnya memutuskan untuk beralih ke pasca bayar. Jadi, kebutuhan untuk komunikasi (ponsel, pulsa, dan paket ) bisa lebih jelas.

Ya, semoga ponsel jangan hilang lagi saja sih…

Beberapa transaksi yang memang harus bayar tunai, saya usahakan untuk tetap dibayar tunai. Tunai disini maksudnya tunai lunas (entah pakai kartu kredit atau debi), bukan untuk dicicil. Misalnya belanja bulanan, pengeluaran rutin seperti IPL berlangganan . Ya, apalagi kalau memang tidak tersedia opsi cicilan.

Toh secara prinsip kita juga sudah belajar matematika sejak dulu. Jadi, soal penghitungan dan logika jelas masih sangat relevan.