Aplikasi Baru Gojek Indonesia yang Jadi (Kurang) Nyaman

Paling tidak menurut pendapat pribadi saya. Saya memang suka apabila aplikasi di ponsel Android saya selalu up-to-date. Paling tidak, ketika ada fitur baru, saya bisa segera menikmatinya. Toh, umumnya rilis baru berarti ada sesuatu yang baru, lebih baik, dan memberikan jawaban atas solusi pengguna dalam menggunakan aplikasi.

Saya merupakan pengguna aplikasi Gojek dan Grab. Dari kedua aplikasi ini, saya pakai bergantian. Saya suka layanan Gojek, dan Grab juga memberikan pilihan layanan yang baik juga.

Pengalaman menggunakan kedua aplikasi tersebut juga kurang lebih sama. Bahkan, konsep desain antar muka dan bagaimana pengguna berinteraksi dengan aplikasi, tentu sudah sangat dipikirkan.

Namun, aplikasi Gojek terbaru yang ada di ponsel Android saya — karena yang versi iOS sebelumnya belum mendapatkan perbaruan — cukup membuat saya mendapatkan pengalaman yang kurang nyaman. Mungkin karena ada perubahan cukup signifikan dari versi sebelumnya, jadi ini tinggal masalah waktu. Toh, lama-lama terbiasa. Tapi, entahlah, terasa kurang nyaman saja.

Desain “Lama”

Desain ini merupakan tangkapan layar aplikasi Gojek di Android, sebelum desain “terbaru” yang diluncurkan. Dari sekian kali perbaruan desain antar muka, menurut saya ini adalah versi terbaik.

Desain Baru

Gambar di bawah merupakan tangkapan layar aplikasi Gojek terbaru. Aplikasi ini saya instal di ponsel Android saya, dengan sistem operasi Android 9.

Tentang Desain “Lama”

Banyak yang saya suka dari desain lama aplikasi ini. Tapi, sebagai pengguna yang lebih banyak menggunakan fitur layanan Gojek itu sendiri — dibandingkan dengan membaca berita, melihat highlight informasi — berikut hal yang saya nikmati fitur dan fungsinya.

GoPlay dari Gojek

Akhir September 2019 lalu, Gojek meluncurkan layanan video on demand GoPlay kepada publik dengan harga Rp89.000 per bulan yang dapat dinikmati melalui aplikasi GoPlay. Awalnya saya cukup penasaran, karena siapa tahu GoPlay ini menawarkan sesuatu yang lebih menarik dibandingkan Netflix sebagai aplikasi utama yang saya pakai saat ini untuk menonton film.

Sayangnya, tidak ada opsi untuk masuk misalnya dalam masa percobaan (trial) layanan. Netflix menawarkan uji coba gratis 30 hari, dengan biaya langganan Rp109.000 per bulan. Memang sedikit lebih mahal dari GoPlay, tapi sampai saat ini saya masih setia dengan Netflix dibanding layanan sejenis seperti Hooq atau iflix.

Kalau Netflix juga menawarkan Netflix Originals, GoPlay juga menawarkan konten serial secara eksklusif melalui GoPlay Originals. Di awal, rencana ada tiga konten serial yaitu ‘Saiyo Sakato’ dengan Salman Aristo dan Gina S. Noer sebagai produser (showrunners), ‘Tunnel’ garapan Shanty Harmayn dan Tanya Yuson, dan ‘Gossip Girl Indonesia’ dengan sutradara Nia Dinata.

Tanpa Uang Tunai. Ya atau Tidak?

Di tahun 2019 ini, sepertinya saya semakin sering untuk melakukan transaksi non-tunai. Kebetulan, hampir semua kebutuhan harian (pribadi maupun pekerjaan) dapat dilaksanakan dengan transaksi non-tunai.

Saya belum pernah mencoba untuk melakukan aktivitas yang melibatkan transaksi pembayaran dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu penuh. Sepertinya ini menarik untuk dicoba. Paling tidak, jadi semakin terlihat di area mana transaksi yang bisa dilaksanakan dengan non-tunai, bisa non-tunai tapi (terpaksa) harus tunai, atau bahkan tidak bisa non-tunai sama sekali.

Tentu saja, hasil yang berbeda ketika dilaksanakan di kota/area lain. Saya berdomisili di Jogjakarta. Jadi, mari kita coba.

Saat ini, untuk mencoba tanpa uang tunai, saya menggunakan beberapa metode pembayaran berikut:

  1. Kartu debit (ada dari beberapa bank, namun mayoritas saya gunakan BCA)
  2. Kartu e-money (Flazz dan Mandiri)
  3. Akun GoJek (dengan GoPay) dan OVO.
  4. Kartu kredit

Saya juga memiliki akun LinkAja dan Jenius, namun keduanya hampir belum saya gunakan secara aktif. Untuk layanan perbankan, utama saya masih menggunakan BCA (internet banking dan BCA Mobile). Jadi, seri untuk tulisan mengenai tanpa uang tunai akan dibagi menjadi beberapa kategori utama.

Pembayaran Auto Debet BPJS Kesehatan yang Terlambat

Beberapa hari lalu, ketika saya dan istri ingin mendapatkan rujukan dari faskes untuk mendapatkan layanan BPJS Kesehatan, ada sedikit permasalahan gagal proses karena status pembayaran yang menurut sistem ternyata belum bayar, bahkan dua bulan.

Sedangkan, sejak proses pendaftaran saya sudah melengkapi seluruh berkas untuk auto debet pembayaran. Apalagi memang aturannya demikian. Bank yang saya gunakan adalah Bank BCA.

Pihak faskes tentu saja tidak dalam kapasitas membatnu kondisi ini. Akhirnya, kami mencoba mencari informasi dari kenalan kami yang paham mengenai BPJS Kesehatan ini dan disarankan untuk langsung saja melakukan pembayaran menggunakan kanal pembayaran yang ada. Kami pilih menggunakan Go-Pay dari Go-Jek — walaupun bisa juga pakai OVO.

Setelah terkonfirmasi pembayarannya, tinggal menunggu sebentar sebelum status berubah. Kurang dari lima menit kami coba tanyakan kepada petugas faskes, ternyata belum berubah status masih belum bayar.

Petugas faskes tersebut menyampaikan untuk menunggu terlebih dahulu saja beberapa menit. Akhirnya, sekitar lima menit kemudian, petugas memanggil kami karena statusnya sudah terbayar dan dapat digunakan.

Jasa Angkutan Pindahan Rumah/Kos di Jogja. Jasa Konvensional atau GO-BOX?

Sebelum libur panjang Lebaran lalu, saya bersama istri memutuskan untuk melakukan pindahan barang ke tempat tinggal baru. Sebenarnya, belum semua barang siap untuk dipindahkan, namun dengan pertimbangan bahwa jika dilakukan setelah liburan, maka waktunya akan terlalu lama. Kebetulan, tukang yang mengerjakan renovasi lanjutan juga masih ada.

Untuk angkutan atau jasa pindahan, kami menggunakan dua buah jasa berbeda yaitu jasa angkut yang banyak ditemui di pinggir jalan, dan kedua menggunakan layanan GO-BOX dari GO-JEK.

Menggunakan Jasa Angkut Biasa

Di hari pindahan, kebetulan kami melihat ada mobil jasa angkut yang parkir tidak jauh dari rumah. Lalu, kami telepon untuk sekadar mencari informasi. Mobil pickup berukuran cukup besar, dan sepertinya cocok untuk mengangkut beberapa barang yang memang saat itu ada yang ukurannya cukup besar. Saat menelpon, barulah kami tahu beberapa hal seputar jasa angkut ini.

  1. Biaya untuk satu kali perjalanan adalah Rp150.000,- Saat itu, kalau saya lihat, jarak tempuhnya sekitar 5km.
  2. Biaya tersebut sudah termasuk biaya tenaga membantu menaikkan dan menurunkan barang. Jadi, supir disini merangkap sebagai tenaga angkut juga.
  3. Kalau membutuhkan tenaga tambahan, maka per orang tambahan ada tambahan Rp50.000,-. Jadi, misal tambah satu orang tenaga angkut, total yang akan membantu adalah dua orang termasuk supir.

Seluruh proses pindahan hari itu berjalan lancar. Tidak terlalu ribet, dan bapak yang punya jasa angkut ini sangat membantu dengan ikut mengangkat dan menata barang di pickup juga. Ini penting.

Published
Tagged

Google Local Guides (2017)

Ternyata sepanjang tahun 2017 kemarin, saya memberikan sedikit kontribusi dalam Google Local Guides. Ini lebih kepada supaya siapa tahu informasi yang saya ikut bagikan bermanfaat bagi orang lain. Karena, saya sendiri sering kali terbantu dengan kontribusi orang lain melalui Google Maps.

Kalau secara umum (dalam rentang waktu keseluruhan), saya paling banyak memberikan answer (jawaban atas pertanyaan sebuah lokasi seperti ‘Apakah tempat ini hanya melayani pembayaran tunai saja?’), kemudian memberi rating, dan terakhir adalah mengunggah foto.

Kalau tentang apa untungnya, sebenarnya ini lebih kepada ikut berbagi, dan siapa tahu dapat membantu pengguna lain (di Google Maps) yang mungkin sedang mencari informasi tambahan dalam membuat keputusan. Saya sendiri kadang sebelum menentukan apakah saya mengunjungi suatu tempat, saya melihat ulasan dan foto-foto yang dituliskan dan diunggah oleh pengguna lain.

Sebenarnya, Google Local Guides ini juga memberikan beberapa perks kepada penggunanya. Misalnya, tambahan media penyimpanan di Google Drive sebesar 1 TB, kupon diskon hotel/penginapan, kalau tidak salah juga pernah ada diskon pembelian tiket, dan juga pernah berupa saldo GO-PAY dari GO-JEK sampai dengan senilah Rp150.000,-.

Untuk perks yang pernah diberikan, saya cuma klaim yang saldo GO-JEK sebesar Rp150.000,- karena saat itu kebetulan saya sudah ada di Level 5, dan juga tambahan penyimpanan sebesar 1TB dari Google Drive. Namun, 1TB tentu saja tidak dapat saya gunakan maksimal, karena total penggunaan Google Drive saya baru sekitar 10GB saja.

Statistik Penggunaan Layanan Go-Jek Indonesia

Saya lupa kali pertama menggunakan layanan GO-JEK, mungkin di Jakarta atau malah di Jogjakarta. Sepanjang tahun 2017 lalu, ternyata saya cukup banyak menikmati layanan dari GO-JEK, walaupun tidak semua dari sekian banyak layanan yang dapat dinikmati. Melalui surel notifikasi, saya mendapatkan beberapa statistik.

GO-RIDE, GO-CAR, GO-BLUEBIRD, dan GO-BUSWAY

Dari layanan mengantar ke tujuan diatas, saya hanya pernah menggunakan layanan GO-RIDE (198 kali) dan GO-CAR (25 kali). Walaupun, dengan GO-CAR, saya juga pernah mendapatkan armada taksi Blue Bird ketika di Jakarta.

GO-FOOD

Ternyata saya “cuma” pernah melakukan pemesanan sebanyak 37 kali sepanjang tahun 2017. Walaupun mungkin sebenarnya lebih karena kadang istri saya yang melakukan pemesanan. Secara umum, puas walaupun dulu sempat juga sedikit bingung dengan biaya di salah satu transaksi.

Published
Tagged

Biaya Tambahan Go-Food oleh Go-Jek Indonesia dari Penjual?

Saya sudah cukup lama menggunakan jasa layanan Go-Jek terutama di Jogjakarta dan Jakarta. Secara frekuensi, dulu kebanyakan hanya ketika di Jakarta saja. Namun, sejak Go-Jek (dengan layanan lainnya) hadir di Jogjakarta, frekuensi pemakaian layanan menjadi lebih tinggi. Ada tiga layanan utama yang paling banyak saya manfaatkan: Go-Ride, Go-Send, dan Go-Food. Secara umum, saya mendapatkan layanan yang cukup baik.

Oh ya, fitur untuk memberikan tip melalui Go-Pay setelah layanan selesai saya rasa juga baik, karena ketika saya ingin memberikan tips, saya sering tidak bawa uang tunai. Dan, hampir seluruh transaksi sekarang saya lakukan melalui Go-Pay.

Soal harga, seluruh layanan bagi saya cukup terjangkau, walaupun kadang kok terasa “terlalu murah”. Jadi, memberikan tip atau kadang menambahkan pesanan di Go-Food untuk diberikan kepada pengemudi bisa jadi salah satu cara — bagi saya — untuk mengucapkan terima kasih.

Kejelasan Harga Layanan Go-Food

Dalam menggunakan layanan Go-Food, saya biasanya memilih atau memutuskan untuk menggunakan layanan dengan alasan berikut:

  • Saya memang cukup malas untuk keluar rumah, apalagi jika memang kebetulan ada pekerjaan dan juga ketika sudah terlalu malam.
  • Variasi makanan yang dapat dipesan juga makin beragam.
  • Layanan yang “Free Delivery” juga tersedia, walaupun tidak semua. Bagian ini saya tidak terlalu masalah, karena kalaupun memang ada biaya antar, toh ini juga jelas biayanya.

Mengenai “Free Delivery” ini, saya merasa ada hal yang kayaknya cukup membingungkan. Atau, paling tidak berbeda antar kebijakan. Pemesanan melalui Go-Good ada dua parameter utama: 1) Harga yang tertera dan 2) biaya kirim (jika ada). Apabila ada outlet yang memiliki label “Free Delivery”, maka biaya pengiriman ditiadakan, dan kita hanya membayar sesuai dengan nota. Sesederhana itu.

Namun, dalam satu transaksi akhir-akhir ini, saya mendapati bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada saya. Biasanya, biaya semacam ini tidak pernah ada. Bahwa misalnya ada “harga khusus versi Go-Food” yang diberlakukan oleh outlet, saya masih bisa menerima misalnya harga dilebihkan. Tapi, selama ini, harga yang tertera di aplikasi dengan harga sebenarnya juga sesuai. Pun tidak, saya berpatokan kepada nota pembelian.

Ketika menerima nota diatas dalam sebuah pemesanan, saya terus terang bertanya-tanya. Saya tidak pernah membaca informasi bahwa ada biaya 15% dari total belanja. Ya, 15%! Outlet pemesanan tersebut — di Jogjakarta — memilik label “Free Delivery”.