Penurunan Biaya Transfer Antarbank Mulai Desember 2021

Melalui BI Fast (BI-Fast), akan menurunkan biaya tranfer antarbank yang saat ini sebesar Rp6.500 menjadi Rp2.500. Rencananya, tahap pertama penyesuaian biaya akan dimulai pada minggu kedua Desember 2021.

by Ono Kosuki from Pexels

BI FAST sendiri merupakan sistem baru yang akan menggantikan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

Tahap pertama untuk penyesuaian biaya akan berlaku untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Permata, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Danamon Indonesia, PT Bank , PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank UOB Indonesia, PT Bank Mega Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank OCBC NISP, Bank Tabungan Negara UUS, Bank Permata UUS, Niaga UUS, Bank Danamon Indonesia UUS, Bank Syariah, PT Bank Sinarmas, Bank Citibank NA, PT Bank Woori Saudara Indonesia.

Sedangkan tahap kedua yang rencananya akan mulai berlaku Januari 2022 akan berlaku untuk PT Bank Sahabat Sampoerna, PT Bank Harda International, PT Bank Maspion, PT Bank KEB Hana Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga, PT Bank Ina Perdana, PT Bank Mandiri Taspen, PT Bank Nationalnobu, Bank Jatim UUS, PT Bank Mestika Dharma, PT Bank Jatim, PT Bank Multiarta Sentosa, PT Bank Ganesha, Bank OCBC NISP UUS, Bank Digital BCA, Bank Sinarmas UUS, Bank Jateng UUS, Standard Chartered Bank, Bank Jateng, Bali, Bank , dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Kalau selama ini saya lebih sering menggunakan Flip untuk transaksi transfer antar bank, saya rasa perubahan biaya antar bank secara konvensional juga akan bermanfaat.

Penerimaan Pembayaran Google Adsense Melalui Transfer Bank

by Gabby K from Pexels

Setelah beberapa kali menerima pembayaran Adsense menggunakan metode pembayaran menggunakan biasanya saya melalui Maybank Indonesia, saya akhirnya mengubah cara pembayaran earning saya menggunakan transfer . Selain melalui , pernah dulu berencana melalui Bank BPD, namun gagal. Jadi, secara otomatis pembayaran akan masuk ke rekening bank saya.

Rekening tujuan pembayaran saya putuskan menggunakan Bank . Walaupun melakukan pencairan pembayaran melalui Western Union sebenarnya cukup mudah juga, tapi di masa pandemi ini cara dengan transfer bank sepertinya lebih baik.

Tentu, akan ada biaya administrasi jika menggunakan cara transfer bank disamping berapa nanti kurs dolar terhadap rupiah saat pencairan. Tapi, saya rasa saat ini lebih baik demikian, daripada harus bepergian.

Simpan atau Ambil Barang di Safe Deposit Box dalam Masa Pandemi?

Kali terakhir saya mengunjungi (SDB) saya ternyata sudah hampir satu tahun yang lalu. Memang sangat lama, tapi kebetulan karena memang belum ada keperluan harus mengambil barang yang saya simpan disana.

Nomor antrian konter Safe Deposit Box

Sambil menunggu, saya lihat selebaran info tentang Safe Deposit Box di DIY yang saya gunakan ini. Ternyata, harga langganan masih sama seperti tahun 2019 lalu. Dan, ternyata saya sudah delapan tahun menjadi penyewa.

Dan untuk jam operasional, beruntung bahwa untuk DIY, hari Sabtu masih beroperasi sampai dengan pukul 12.00 WIB.

Saat itu saya datang di jam istirahat, ada dua antrian sebelum saya yang masih dilayani. Semoga saja tidak perlu menunggu sampai jam istirahat selesai baru tiba giliran saya. Sekitar lima belas menit, akhirnya giliran saya dan saya tidak perlu menunggu, langsung bisa dilayani.

Setelah menandatangani formulir kehadiran, saya langsung menuju ke ruangan tempat SDB saya berada.

Area layanan khusus penyewa Safe Deposit Box Bank BPD DIY (September, 2020)

Simpan atau Ambil Semua?

Dari beberapa barang yang ada di SDB, saya memutuskan untuk mengambil hampir semua untuk saya pindahkan ke brankas di rumah. Ada beberapa alasan:

  1. Meminimalkan untuk mobillitas dari rumah ke bank, apalagi dalam masa pandemi saat ini.
  2. Jika dokumen tersebut dibutuhkan — terutama dokumen yang cukup mendesak — maka sudah ada di rumah.
  3. Antisipasi perubahan jam operasional bank. Di hari saya datang ke BPD DIY, saya mendapati informasi ada beberapa kantor cabang bank yang tutup sementara karena ada kondisi khusus.

Kenaikan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) 2020 di Yogyakarta

Kenaikan sampai 400%, walaupun tidak sampai 100 wajib .


Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan salah satu agenda rutin yang (sebaiknya) jangan dilewatkan. Tahun ini, seperti tahun sebelumnya, saya dan keluarga juga harus bayar pajak.

PBB tahun 2020 yang menjadi kewajiban kebetulan ada di kota yang berbeda: dan . Untuk Sleman, pajak dikenakan atas lahan kosong tanpa bangunan.

Yang kedua, adalah PBB untuk sebidang tanah dengan ada bangunan di atasnya yang lokasinya ada di Yogyakarta. Adik saya yang awalnya kaget karena nominalnya terasa sangat tinggi. Usut punya usut, ternyata untuk tahun 2020 ini,

400% untuk 51 Wajib Pajak

Harian melalui artikel “Disebut seperti VOC, Pemkot Jogja Jelaskan soal Kenaikan PBB hingga 400%” menyebutkan beberapa detil perubahan:

  • Tidak mengalami perubahan: 30,4% atau 28.985 wajib pajak
  • Kenaikan kurang dari 100%: 54,8% atau 52.229 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 200%: 11,93% atau 11.369 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 300%: 1,7% atau 1.619 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 400%: 0,16% atau 150 wajib pajak
  • Kenaikan lebih dari 400%: 0,05% atau 51 wajib pajak

Tentu kenaikan ini sangat terasa, apalagi di masa pandemi sekarang ini. Adik saya menghubungi saya perihal ini, dan setelah saya hitung, ternyata kenaikan sekitar 100% lebih sedikit dibanding tahun lalu.

Duh.

Program Permohonan Keringanan

Walaupun kota Yogyakarta punya permohonan keringanan, tapi kami melewatkan kesempatan ini. Ya, karena melewatkan informasi ini. Padahal ini sudah berlangsung cukup lama, dan baru berakhir pada Agustus 2020. Saya sendiri sekarang tinggal di Sleman, jadi berita semacam ini agak luput dari perhatian.

Dengan berbagai pertimbangan, karena juga mobilitas juga penuh risiko, dan memang kewajiban harus dilaksanakan, jadilah kami putuskan untuk membayarnya saja.

Membayar Pajak

Sedikit beruntung karena pembayaran PBB untuk kota Yogyakarta (dan propinsi DIY) dapat dilakukan dengan lebih mudah. Membayar ke DIY sepertinya bukan opsi yang menarik saat ini. Pilihan antara atau .

Dan, saya putuskan untuk melakukan pembayaran melalui Tokopedia. Kenapa tidak melalui Gojek? Karena — setahu saya — riwayat pembayaran di Tokopedia lebih baik dariipada di Gojek. Bukti transaksi di Tokopedia terkirim ke surel secara langsung, jadi lebih mudah diarsipkan. Ini salah satu pertimbangan saya.

Kalau kenaikan PBB di Yogyakarta seperti itu? Bagaimana dengan kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) di Yogyakarta atau Upah Minum Propinsi (UMP) Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 2020?

Nggg….

Harga Sewa Safe Deposit Box Bank BPD DIY Yogyakarta 2019

Tak terasa, sudah hampir 7 tahun ini saya menyewa Safe Deposit Box (SDB) di Bank BPD DIY. Minggu lalu — setelah cukup lama saya tidak ada keperluan — saya ke DIY lagi. Sekalian saya lihat berapa harga sewa terbaru di DIY. Ternyata, dibandingkan waktu kali pertama buka, kenaikannya “hanya” Rp100.000,- saja untuk harga sewa satu tahun, dengan ukuran yang sama.

Saya sendiri tidak terlalu memerhatikan kapan harga terbaru ini mulai berlaku. Bisa jadi sudah beberapa tahun lalu juga.

Pemegang Kunci Safe Deposit Box

Oh ya, setiap kali membuka akun untuk menyewa SDB ini, maka penyewa akan mendapatkan dua buah kunci. Jadi, tidak hanya penyewa sendiri yang bisa memiliki akses ke SDB yang disewanya. Bisa saja misalnya ke istri, anak, atau orang yang dipercaya.

Untuk menambahkan akses, prosesnya juga cukup mudah. Cukup menghubungi layanan pelanggan untuk SDB ini, dan memberitahukan siapa ‘orang tambahan’ yang ditambahkan dalam akses. Nanti akan diminta untuk identitas orang yang ingin ditambahkan. Cukup mudah.

Perubahan/Penambahan Daya Listrik PLN Secara Online

Rumah milik orang tua yang dulu pertama kali dibangun, lalu dikontrakkan, dan masih dalam tahap akhir renovasi membutuhkan penambahan daya . Selama ini, listrik yang terpasang hanya memiliki daya sebesar 450 VA. Karena keperluan penggunaan listrik yang bertambah, saya putuskan untuk melakukan penambahan daya.

Selama ini, terkait dengan saya hampir hanya melakukan transaksi untuk pembayaran listrik. Proses inipun saya lakukan dengan memanfaatkan layanan pembayaran melalui banking. Dari beberapa informasi melalui media, PLN sepertinya terus berbenah. Misalnya, banyak hal yang dapat dilakukan secara online, daripada harus datang secara fisik ke kantor PLN.

Akhirnya, pada Selasa, 3 November 2015, saya coba lakukan permohonan penambahan daya melalui situs PLN. Memang saat ini prosesnya belum selesai, namun untuk tahap awal, paling tidak prosesnya berjalan dengan cukup lancar.

Pengajuan Permohonan

Di situs PLN, ada beberapa fitur layanan online seperti pengecekan tagihan listri, pemasangan baru, perubahan daya, dan penyambungan sementara.

  • Saya pilih menu layanan Perubahan Daya/Migrasi
  • Kemudian, saya lakukan pencarian terlebih dahulu dengan memasukkan informasi ID Pelanggan dan dilanjutkan dengan mengisi identitas.
Halaman formulir perubahan daya
Halaman formulir perubahan daya
  • Pada bagian “Tarif/Daya Baru” saya memasukkan informasi penambahan menjadi 1.300 VA. Sebagai informasi, untuk daya sebesar 450 VA dan 900 VA hanya dapat diproses langsung melalui loket dengan persyaratan tambahan. Dalam situs, muncul notifikasi peringatan ketika memilih salah satu pilihan daya tersebut yaitu “Mohon maaf, Sambungan 450 VA dan 900 VA hanya dilayani di kantor (loket) PLN dengan membawa surat keterangan tidak mampu dari kepala Desa/Lurah”
  • Proses yang saya ajukan sekaligus untuk melakukan migrasi dari metode listrik pasca bayar menjadi prabayar. Dalam formulir tersebut, saya sekaligus mengisikan untuk Token Perdana sebesar 20.000.

Memperpanjang Masa Sewa Safe Deposit Box

SMS dari Bank BPD DIY

Tak terasa sudah hampir satu tahun saya menggunakan jasa layanan sewa Safe Deposit Box (SDB) di Bank BPD DIY. Sebenarnya, tidak ingat juga sampai beberapa hari lalu saya mendapatkan pesan singkat yang memberitahukan perihal masa sewa saya.

Sebenarnya, saya sendiri bisa dikatakan cukup jarang mengunjungi SDB saya tersebut. Seingat saya, mungkin baru tiga atau empat kali dalam satu tahun ini. Ya memang karena tidak ada keperluan yang membuat saya harus lebih sering berkunjung.

Paling tidak, sampai dengan saat ini, saya merasa cukup tenang — dibandingkan dengan saya menyimpan barang dirumah. Ditambah lagi salah satu faktor bahwa saya sendiri kadang merasa cukup ceroboh dan sering lupa.

Jadi, untuk memperpanjang masa sewa prosesnya cukup mudah. Dalam kasus saya, pihak akan melakukan penarikan langsung dari rekening saya. Ya, ini lebih baik daripada saya harus mendatangi bank untuk keperluan ini. Dan, kebetulan saldo tabungan masih cukup untuk biaya tersebut.

Jadi, mari kita lanjutkan perjalanan satu tahun lagi untuk sewa SDB ini.

Pengalaman Menyewa Safe Deposit Box (di bank)

Sekitar akhir tahun 2012 lalu, saya memutuskan untuk melakukan penyewaan (SDB) di salah satu di . Ini memang antara penting dan tidak penting. Ah, toh hanya berkas dan yang bisa disimpan di rumah. Salah satu alasan saya adalah pengalaman ketika ada bencana alam gempa di Jogjakarta tahun 2006 yang lalu. Bagaimana pada akhirnya, banyak surat-surat berharga dan properti lain yang cukup penting akhirnya harus rusak dan hilang. Apakah dengan disimpan di Safe Deposit Box akan sepenuhnya aman? Saya rasa, paling tidak lebih aman daripada disimpan di rumah.

Untuk membuka/menyewa Safe Deposit Box, pertama yang saya lakukan adalah mencari informasi ke beberapa bank. Saya cari informasi secara umum seperti berapa biaya sewa, besar/ukuran yang tersedia, dan mekanismenya. Selain harga yang cukup bervariasi (dan tidak terpaut jauh), ternyata untuk syarat dan mekanisme juga relatif sama.

8206371651sdb
Ilustrasi gambar safe deposit box

Kebetulan saat saya mencari informasi, saya memiliki rekening di beberapa bank. Ada beberapa bank yang ternyata tidak memiliki SDB yang tersedia. Akhirnya, keputusan saya jatuh ke DIY. Berikut beberapa hal seputar pengalaman membuka SDB di Bank DIY.