Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah hasil hutang, atau bukan?

Mungkin telat juga saya tahu berita ini. Saya tahu hari ini ketika menonton cara Metro TV. Yang dibahas adalah mengenai apakah Bantuan Langsung Tunai (BLT) itu hasil hutang atau bukan. Eh, sepertinya kalau dari acara tadi, statement-nya adalah bahwa BLT hasil hutang. Hal ini diperkuat/didasarkan pada hasil pemeriksaan yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berita lengkap tentang pernyataan bahwa BLT ini adalah hasil hutang bisa dilihat di situs Media Indonesia.

Saya kaget dan juga bingung.

Yang menjadi menarik, jika ini memang benar, maka akan menjadi kabar buruk bagi banyak pihak. Apalagi BLT ini semakin gencar dijadikan sebuah amunisi dalam kaitannya dengan pesta demokrasi Pemilihan Presiden 2009.

SBY dan Jusuf Kalla sudah pasti akan mendapatkan banyak sorotan. Bisa jadi ini akan semakin meluas dampaknya, terutama kepada pembangunan persepsi dan opini. Sebelum berita ini beredar, BLT sudah menjadi perdebatan antara setuju dan tidak, antara memberikan manfaat atau malah sebaliknya, antara mensejahterakan atau membuat tambah sengsara.

Masih segar dalam ingatan saya, isu ini juga digunakan dalam merebut simpati. Ada pula yang awalnya memiliki cara pandang yang kurang tegas dalam mensikapi BLT tersebut (antara setuju atau menolak).

Kalau saya harus menilai apakai BLT ini sebuah program yang tepat/bermanfaat atau tidak, sepertinya bukan kapasitas saya untuk bisa menjawab dengan sempurna. Tapi, kalau terpaksa saya harus menjawab saya akan menjawab: ya dan tidak.

Ya, bisa jadi bermanfaat bagi yang menerima. BLT (atau apapun nama dan bentuknya) adalah sebuah bentuk harapan atau bantuan. Apapun bentuknya, ini tentu sebuah berkah tersendiri (bagi penerima). Apakah dalam hal ini penerima akan memikirkan tentang bagaimana duit itu diperoleh? Kenyataan bahwa mereka mendapatkan uang bisa jadi mengesampingkan pertanyaan tersebut. Siapa sih yang tidak senang mendapatkan bantuan tunai semacam itu?

Baca juga:  Tantangan Mencari Properti Rumah Pertama di Jogjakarta

Tentu saja, istilah “manfaat” atau “bermanfaat” itu tidak bisa hanya berhenti disini saja. Karena, bisa jadi bagaimana memanfaatkan bantuan tersebut justru keluar dari rencana yang ingin dicapai. Apakah ada kontrol terhadap penggunaan bantuan tersebut? Ini kembali ke masing-masing individu penerima. Kalau dimanfaatkan untuk biaya hidup (dalam hal ini: makan), tentu ini bermanfaat. Kalau ternyata tidak?

Ini semakin rumit dengan banyaknya masalah yang mengikutinya, tentang bantuan yang salah sasaran, penyelewengan bantuan, ditambah lagi dengan terjadinya konflik-konflik horisontal di masyarakat. Apalagi, sampai harus dibayar dengan nyawa.

Sangat kompleks.

Tidak, jika mekanisme dan hasil tidak sesuai harapan/rencana. Sudah cukup sering penerima BLT sekilas bukanlah orang yang berhak. Tidak semuanya, tapi beberapa. Contohnya, penerima BLT jelas-jelas memakai perhiasan, atau memiliki kondisi yang mungkin bisa dikatakan “hidupnya sudah berkecukupan”. Atau, penerima BLT ini tidak memenuhi kriteria untuk bisa menerima. Kenapa mereka tidak menolak? Lha, siapa yang mau menolak uang tunai semacam itu. Mungkin ada, tapi seberapa banyak?

Wacana yang sering muncul adalah bahwa kalau intinya adalah membantu kehidupan rakyat, mungkin lebih dihadirkan sebuah konsep pemberdayaan masyarakat, memberikan stimulus kepada masyarakat untuk “bangkit”. Mungkin idealnya memang seperti itu, tapi apakah memang bisa semudah itu? Saya tidak tahu.

Kadang, di kehidupan sehari-hari, mendapatkan cerita dari orang-orang yang saya temui di jalan, entah sambil nongkrong di angkringan dengan tukang becak, kuli bangunan yang kadang ketemu kalau lagi ngangkring di dekat rumah bisa menjadi sebuah cerita lain.

Self-esteem kadang bisa menjadi sebuah energi tersendiri, bisa membentuk pola pikir yang kreatif. “Saya kadang narik sehari dapat 15 ribu saja udah untung, paling tidak ada yang bisa dibawa pulang… Sampai sekarang tetap masih bisa menyekolahkan anak saya…”. Saya pernah mendengarkan kalimat semacam ini dari seorang tukang becak. Menurut saya, ini sebuah state of mind yang menurut saya hebat. Hebat dalam arti menerima kondisi, tapi tidak mengeluh melainkan untuk memperjuangkan sesuatu. Tidak perlu yang muluk-muluk, tapi riil. Beliau sudah melakukannya sejak dulu, jauh sebelum ada BLT atau bentuk-bentuk bantuan semacam itu.

Baca juga:  Selamat Tinggal 7-Eleven Indonesia

Loh, kok malah jadi ngomongkan ini?

OK, kalau BLT ternyata adalah hasil hutang… berarti tambah parah dong kondisi hutang negara ini? Kalau ternyata bukan ya syukurlah. Jadi, tanya lagi… hasil hutang atau bukan ya?