KeyBCA Hilang? Bisa.

Beberapa waktu lalu, ketika token KeyBCA saya sempat mengalami musibah dengan masuk ke mesin cuci, ternyata saya mendapatkan kejutan. Token saat itu masih bisa digunakan. Paling tidak, ketika memasukkan bisa berhasil tanpa masalah.

Setelah kejadian itu, saya malah sempat tidak pakai. Giliran akan coba pakai (beberapa hari kemudian), malah tidak ketemu. Entah ada dimana. Saya sempat mengira bahwa sempat masuk ke dalam tas. Saya bongkar tas saya. Tidak ada. Atau, mungkin ada di kantor. Saya bersihkan meja kerja di kantor, dan saya buka semua laci dan tempat lainnya seputar meja. Tidak ketemu juga. Terakhir, saya bersihkan dan cari-cari di rumah tidak ketemu.

Pesan moral: Jangan senang dulu walaupun token yang tercuci bisa hidup kembali. Mungkin dia akan mencari cara untuk merepotkan. Demikian.

Salut dan Kasihan

Saya salut dengan orang yang mau berusaha melakukan sesuatu yang belum tahu bisa dilakukan atau tidak. Tapi, hal tersebut dicoba dan bisa. Melakukan sesuatu yang mungkin diatas kemampuannya. Salut. Dan, kepada orang yang sebenarnya mampu, saya yakini bisa melakukan sesuatu, tapi malah tidak mau dengan alasan malas — atau tidak mau tahu, saya merasa kasihan.

Kolektif dan Individu

Kondisi bahwa manusia (hampir) selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya menjadikan banyak hal yang melekat/memengaruhi. Kondisi ini kadang menjadikan kita — sebagai manusia — mendapatkan predikat atau kesan sesuai dengan apa yang ada di sekitar. Kalau berada dalam lingkungan yang oleh orang kebanyakan dianggap baik atau menarik, tentu bisa menjadikan sebuah keuntungan. Paling tidak, kita tidak berada dalam sebuah konsep persepsi yang kurang baik.

Misalnya, dalam konteks pekerjaan. Dalam sebuah pekerjaan (dalam hal ini tim/perusahaan), prestasi sebuah tim akan melekat pada masing-masing individu. Suka atau tidak, walaupun tidak seluruh individu yang ada di dalamnya terlibat dalam kesuksesan/prestasi tersebut.

“Wah, kamu yang kerja di perusahaan A yang keren itu ya?”, atau “Orang itu pasti hebat, karena dia dari perusahaan yang hebat pula!”

Namun, kadang nilai dari individu tidak selalu dilihat secara kolektif. Dalam kondisi tertentu, semua harus dipertanggungjawabkan secara pribadi. Setiap individu harus mampu menunjukkan kualitas dan peran yang sebenarnya. Tak jarang, mungkin kondisi bahwa individu dihadapkan pada pertanyaan yang cukup sulit. “Apa peran Anda dalam keberhasilan/prestasi kelompok tersebut?”, “Anda tentu tahu dengan [isi topik disini] karena Anda berada dalam tim yang hebat, bukan?”

Disini, suka atau tidak, kita tidak dapat bersembunyi dibalik keberhasilan orang lain. Kita sendirian memperjuangkan, dan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Seperti menelanjangi diri sendiri, dengan kelebihan dan kekurangan. Tidak menjadi soal ketika memang kita tahu bahwa kita memang memiliki kontribusi dalam keberhasilan kelompok/kolektif. Sialnya adalah kalau ternyata tidak. Sialnya, kalau ternyata sebenarnya bahwa kita tidak memberikan kontribusi atau bahkan tidak melakukan apapun. Sialnya, kalau selama ini tidak sadar bahwa nilai/value diri kita hanyalah efek dari keberhasilan orang-orang disekitar kita saja.

Pada akhirnya, kadang kita hanya akan sendiri dengan apa yang kita miliki.

Michigo, restoran di Jogjakarta dengan sajian menu masakan Korea

Soal makanan, saya sebenarnya tidak terlalu memiliki selera yang khusus. Mulai dari makanan/camilan tradisional sampai dengan mungkin kategori makanan yang “ini namanya apaan, dan makannya juga bagaimana caranya nggak ngerti”.

Di sendiri, muncul semakin banyak pilihan bagi mereka yang ingin melampiaskan hobi kuliner. Banyak pilihan tempat makan mulai dari yang menyediakan menu tradisional, sampai dengan sajian dengan cita rasa luar (negeri). Salah satu yang sempat beberapa kali saya lihat adalah hadirnya restoran Korea dengan nama Michigo — dengan tagline: “The Awesome Korean Food“, di daerah Jalan Colombo, tidak jauh dari kawasan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri .

MichiGO

Cuma, walaupun sering lewat, saya malah belum pernah mampir untuk mencicipi. Sebelumnya saya pernah mencoba makan di restoran dengan label “Korean Restaurant”. Ada yang cukup cocok dengan selera lidah saya, tapi ada yang memberikan sensasi kurang cocok. Ya, maklumlah karena lidah saya bisa dikatakan lidan ndheso. :)

Belum juga sempat merasakan suasana dan menu dari Michigo yang sering saya lewati, restoran tersebut baru saja membuka gerai keduanya di Ambarrukmo Plaza Yogyakarta. Kebetulan, beberapa kali saya sempat terlibat obrolan dengan orang yang berada dibelakang hadirnya restoran ini. Dan, pada saat pembukaan gerai baru pada akhir pekan ini, saya mendapat kesempatan untuk mencicipi dan merasakan beberapa menu yang ditawarkan.

Michigo Indonesia, Ambarrukmo Plaza

Konsep (digital) self-service

Sempat saya lihat informasi di situsnya, Michigo ini menawarkan konsep self-. Memang, konsep semacam ini mungkin belum terlalu populer (di ). Betapa tidak, konsep secara umum ketika makan di tempat makan adalah konsumen mendapatkan layanan mulai dari pemesanan, makanan sampai di meja, dan meninggalkan tempat makan. Hanya itu.

Michigo melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Ada sesuatu yang menarik disini. Apakah ini akan bisa berjalan? Saya sempat tanyakan, dan ternyata walaupun belum 100% bisa berjalan, tapi konsep seperti ini mulai diterima. Parameternya, lebih banyak konsumen yang akhirnya “ikut dalam permainan/aturan main ini”.

mcg-1385019841

Senam yang iya iyalah