Bank Jago

Dari begitu banyak pilihan digital, saya rasa Bank Jago ini layak untuk menjadi pilihan. Saya sudah mencoba beberapa seperti yang akhirnya saya tinggalkan — termasuk juga LINE Bank — yang hampir tidak saya gunakan lagi.

Tapi, untuk , setelah saya berikan kesempatan lagi — dulu memang hanya sekadar instal untuk menjawab rasa penasaran saja — dalam beberapa bulan terakhir ini, sepertinya saya akan menggunakannya dalam waktu cukup lama. Selain tentu saja dan OCTO Mobile.

Lupa Nomor ATM CIMB Niaga untuk OCTO Mobile

Sebagai salah satu nasabah , beberapa bulan ini saya banyak menggunakan aplikasi OCTO . Secara umum ya lancar saja. Tapi, ketika saya sedang tidak berada di rumah, saya hanya menggunakan OCTO Clicks transaksi internet banking.

Sederhana saja, karena transaksi utama masih melalui Mobile, dan juga e-wallet. Setelah saya pikir-pikir kembali, sepertinya mengaktifkan OCTO Mobile kembali tidak ada salahnya, kali saja butuh, dan ini akan bisa jauh lebih praktis dibandingkan saya harus transaksi melalui banking.

by Mikhail Nilov

Dulu aplikasi mobile banking CIMB Niaga ini sudah saya gunakan di ponsel . Lalu, karena sudah sangat lama tidak pakai, dan pernah juga aktivasi kembali, tapi nyatanya proses reaktivasi akses ke aplikasi tidak kunjung saya selesaikan.

Penyebabnya sederhana: saya lupa empat digit nomor kartu saya. Saya lupa kapan terakhir kali saya pegang kartu ATM CIMB Niaga milik saya. Jadi, ketika sudah melakuan otentikasi, dengan username dan di OCTO Mobile, proses berhenti karena saya benar-benar tidak tahu nomor kartu ATM saya. Padahal, ini proses yang tidak bisa dilewati.

Sempat terpikir datang langsung ke kantor cabang CIMB Niaga, tapi saya batalkan. Karena, bisa jadi nanti ujungnya saya diminta ke menghubungi Call Center yang beradasarkan pengalaman saya terakhir kali, tidak begitu menyenangkan.

Harusnya sih urus kartu ATM memang di kantor cabang. Tapi, saya pikir lagi, sepertinya saya hampir tidak butuh kartu ATM.

Mendapatkan empat digit nomor kartu ATM

Ternyata caranya cukup mudah. Tinggal masuk ke OCTO Clicks, lalu masuk menu Rekening, pilh salah satu rekening. Dalam sebuah nomor rekening tabungan, ada informasi “Nomor Kartu” di sana.

Berbekal ini, akhirnya bisa juga saya menggunakan aplikasi OCTO Mobile ini di ponsel iPhone saya.

Aplikasi 2FA (Two-Factor Authentication) Pilihan

Untuk beberapa layanan daring yang saya gunakan, hampir semua saya mengaktifkan fitur 2FA (Two-Factor Authentication) atau autentikasi dua faktor. Alasannya cukup sederhana: untuk menambah sedikit lapisan keamanan. Alih-alih hanya menggunakan kombinasi username dan sandi, ketika kombinasi autentikasi sudah dapat digunakan, saya perlu memasukkan kode autentikasi.

Ribet? Mungkin iya. Tapi, sebenarnya tidak ribet juga.

Untuk urusan sandi, walaupun hampir semua sandi menggunakan sandi yang sangat acak dan berbeda sandi antara satu layanan dan lainnya, saya sangat terbantu dengan aplikasi Bitwarden. Bahkan, sudah lebih dari dua tahun saya menggunakan aplikasi ini.

Sangat membantu.

Sebelumnya, saya menggunakan Google Authenticator sebagai aplikasi 2FA. Cukup lama saya menggunakannya. Authenticator sudah berhasil menjalankan fungsinya dengan sangat baik.

Ada sedikit masalah ketika ponsel yang saya gunakan tidak dapat saya akses, misal karena kehabisan baterai, atau tidak sedang berada bersama saya. Dalam kondisi seperti ini, cukup merepotkan.

Karena, hanya dapat digunakan dalam 1 piranti bergerak () untuk Android atau iOS Lebih merepotkan lagi kalau ternyata piranti yang digunakan sampai hilang. Sedangkan, saya kebetulan menggunakan lebih dari satu ponsel, kadang bekerja dengan tablet, dan paling sering bekerja dengan .

Aplikasi 2FA yang dapat mendukung lebih dari satu piranti tentu menjadi pilihan yang paling masuk akal dan memudahkan. Dan, pilihan saya jatuh ke . Sebenarnya, ada beberapa alternatif aplikasi yang dapat digunakan sebagai ‘pengganti’ Google Authenticator, namun dapat menjalankan fungsi 2FA dengan cukup baik. Beberapa diantaranya:

Dan masih banyak lagi.

Lalu, kenapa Authy?

Kalau dari sisi cara menggunakan, menambahkan akun dan lainnya aplikasi yang ada rata-rata akan sama. Kalau sudah pernah menggunakan satu aplikasi autentikasi, berpindah aplikasi saya rasa tidak akan rumit.

Authy menawarkan satu fitur yang sangat membantu saya yaitu dukungan multi piranti. Dari sekian banyak fitur yang ditawarkan, fitur ini bagian paling berguna menurut saya.

Jadi, saya bisa sedikit tidak khawatir apabila saya sedang membutuhkan fungsi autentikasi, karena saya bisa mengakses dari piranti yang sedang saya gunakan, atau yang terdekat dengan saya.

Authy tersedia untuk Android, iOS dan desktop (, , atau ).

Bitwarden: Year Two

I just renewed my subscription for the additional one year, after I decided to move to Bitwarden from LastPass last year. It’s simply because it works well, for me.

I’s cross-platform feature works really well. I have its Desktop app (for Mac), apps (both Android and iOS), and the browser extensions, of course.

Gagal Login ke Akun Jenius

Lalu bagaimana cara mengambil uang kalau tidak bisa masuk ke aplikasi sama sekali?

Walaupun jarang menggunakan untuk transaksi, tapi saya memang masih kadang pakai, sekadar untuk menerima pembayaran. Setelah masuk, saya yang akan mentransfer ke rekening lain. Ini untuk memfasilitasi beberapa pihak yang memilih menggunakan Jenius untuk mengiriman donasi dari kegiatan berbagi bersama yang saya lakukan.

Ketika selama ini saya gagal terus masuk ke aplikasi Jenius di , saya dapat melakukan transaksi melalui Jenius. Setelah otentikasi di aplikasi , saya dapat OTP, saya masukkan OTP, mengeset , lalu saya gagal masuk ke aplikasi, dengan pesan session expired.

Apakah ini terkait dengan kondisi terakhir saya masih terotentikasi di ponsel ? Tidak tahu juga. Yang pasti, ponsel Android saya memang tidak bisa dipakai saat ini. Akses transaksi melalui web yang sebelumnya berhasil, saat ini juga tidak bisa.

Solusi satu-satunya apakah menghubungi layanan nasabah, untuk sesuatu yang mungkin terkait dengan permasalahan di sistem?

Update: Sepertinya memang satu-satunya solusi adalah menghubungi pihak Jenius — sebelum akses melalui situs sudah kembali normal. Saya lihat di , ada yang mengeluhkan kondisi yang sama.

Dan, jawaban dari @JeniusHelp di Twitter ini saya rasa sudah cukup jelas.

OK, ribet.

Menutup Akun Jenius BTPN

Tunggu, memang ada terpikir untuk menutup akun . Tapi, alih-alih langsung menutupnya, saya pastikan bahwa akun kemungkinan tidak akan dipakai, karena saldo nol.

Saya termasuk salah satu yang akhirnya ‘terjerumus’ untuk membuka akun Jenius dari BTPN. Walaupun registrasi pertama gagal di Februari 2019 lalu, tapi setelah mencoba kembali di Agustus 2019 proses pembukaan akun berhasil dilakukan.

Dalam periode hampir dua tahun memiliki rekening di Jenius, tapi Jenius belum menjadi aplikasi yang sering saya gunakan. Transaksi yang sering saya lakukan adalah menerima pengiriman dari beberapa teman, yang secara nominal tidak besar. Selebihnya, hampir tidak pernah saya gunakan. Saya memiliki beberapa Jenius cards yang saya minta. Dan, sepertinya ini tidak terlalu bermanfaat bagi saya, karena justru saya semakin jarang membawa kartu fisik.

Kebanyakan transaksi yang saya sering lakukan akhirnya menempatkan DANA, , Pay, dan sebagai pilihan utama. Pun tidak, dan OCTO Mobile saat ini masih sangat bisa diandalkan.

Menutup Akun Jenius

Selain karena memang hampir tidak pernah dipakai, saya juga agak kurang nyaman dengan mekanisme denda atas kekurangan dana apabila dana tidak mencukupi saat dilaksanakannya transaksi di merchant.

Saya coba cari informasinya di situs Jenius, saya tidak menemukan informasi yang cukup jelas termasuk ketika saya coba buka laman Support/FAQ. Pada laman Syarat dan Ketentuan, informasi seputar penutupan akun menyebutkan tentang “Penutupan rekening dapat dilaksanakan oleh Nasabah dengan menghubungi Layanan Nasabah (Contact Center) dan/atau Jenius Live.”

Walaupun sepertinya datang ke kantor BTPN terdekat juga bisa menjadi solusi, tapi dalam kondisi pandemi sepertinya hal ini bukan solusi yang baik. Belum lagi sepertinya tidak ada jaminan bahwa proses bisa berjalan dengan cepat seperti pengalaman saat membuka rekening dulu.

Untuk saat ini, walaupun belum memroses penutupan akun sepenuhnya, seluruh kartu saya sudah saya kosongkan saat ini. Dana yang ada di akun juga sudah saya kosongkan. Ada informasi tambahan bahwa akun Jenius akan menjadi nonaktif (dormant?) jika tidak digunakan selama 6 (enam) bulan.

Password Manager: Let’s Give Bitwarden a Chance!

I have been using manager since 2017 since I think there should be an easy, secure, and handy mechanism to deal with passwords. Of course, by using password manager, life is a little bit easier.

And, I chose LastPass. Last year, I still renewed my premium subscription for US$36 per year. works really well, but at the same time I am sure other password manager applications — like 1Password, DashLaneKeeper — share similar quality of . But, it’s about choice.

Most “popular” password manager applications also offer similar subscription price, around US$36/year. My LastPass subscription will end next April, and I am thinking of moving to other that does its basic jobs like storing password (of course!), generating good passwords, and managing credentials in categories/folders. Also, it should be also work on multiple devices and browsers.

After reading many articles, I decided to give Bitwarden a try. And, I read pretty much information about . One of the big differences with other password managers is that Bitwarden is . The other reason is on the pricing. It’s only US$10/year for personal use, or US$40/year for personal (family/organization).

My decision is not related to LastPass’ upcoming plan regarding the limitation for the free since I was a paying customer since day one. According to a blog post:

We’re making changes to how Free users access LastPass across device types. LastPass offers access across two device types – computers (including all browsers running on desktops and laptops) or  devices (including mobile , smart watches, and tablets). Starting March 16th, 2021, LastPass Free will only include access on unlimited devices of one type

LastPass blog: Changes to LastPass Free

From the interface point of view, it’s not that beautiful — at least compared to LastPass. But hey, it’s about the features. As long as it works for me, I am fine with the interface.

About Bitwarden:

  1. Bitwarden official site
  2. Bitwarden on GitHub
  3. Bitwarden apps (desktop, mobile, including CLI)
  4. A detailed review about Bitwarden. CNET has some basic comparisons of multiple password managers.

Biaya Denda Kekurangan Dana di Layanan Jenius BTPN

Walaupun sudah lebih dari satu tahun saya memiliki akun Jenius, sampai saat ini masih belum menjadi pilihan utama untuk urusan terkait . Bagi saya, berpindah layanan perbankan bukan sebuah keputusan yang cukup mudah dilakukan. Ini juga terkait dengan perubahan pola/cara saya dalam bertransaksi yang makin hari ternyata makin banyak menggunakna e-wallet seperti , OVO, , dan .

Untuk layanan perbankan, saya masih menggunakan dan CIMB Niaga sebagai akun utama.

Bagaimana layanan Jenius?

Karena tidak terlalu aktif menggunakannya, bahkan sepertinya saya lebih banyak menggunakan karena beberapa rekan sudah cukup lama perlu melakukan transfer dana ke saya melalui Jenius. Untuk transaksi lain seperti pembayaran menggunakan kartu fisik, atau transaksi digital, hampir tidak pernah saya gunakan.

Beberapa kartu tambahan yang saya miliki hampir tidak pernah saya gunakan. Tentu saja ini efek dari bahwa saya cenderung lebih memilih untuk cardless.

Jadi, bukan berarti layanan atau fitur Jenius jelek, tapi memang sepertinya tidak cocok untuk saya. Kartu Jenius bisa langsung dipakai untuk pembayaran MRT di , atau memudahkan dalam penarikan uang tunai di selama di luar negeri. Tapi, sejak saya punya kartu ini, otomatis hal tersebut saya tidak gunakan sama sekali karena memang tidak ada keperluan ke luar negeri.

Kalau tentang mobile application, saya cuma merasakan kalau kecepatan aplikasi Jenius belum dapat dibandingkan dengan aplikasi perbankan lain. Di linimasa — walaupun ini tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan — banyak keluhan kalau aplikasi lambat, dan tak jarang tidak dapat digunakan karena tidak muncul dengan sempurna.

Harga Langganan Netflix Per Agustus 2020 Setelah Pajak Digital

Bulan Agustus ini, ada yang sedikit berbeda untuk harga layanan digital Netflix karena kebijakan pemberlakukan pajak digital sudah dilakukan.

Berikut harga berlangganan untuk beberapa pilihan paket layanan setelah pemberlakukan .

  • (Ponsel) Rp 49.000 menjadi Rp 54.000
  • Basic (Dasar) Rp 109.000 menjadi Rp 120.000
  • Standard / HD (Standar) Rp 139.000 menjadi Rp 153.000
  • Premium / Ultra HD (Premium) Rp 169.000 menjadi Rp 186.000

Di halaman Netflix sendiri saat ini, harga juga sudah menampilkan harga terbaru:

Watch Netflix on your smartphone, tablet, Smart TV, , or streaming device, all for one fixed monthly fee. Plans range from IDR54,000 to IDR186,000 a month. No extra costs, no contracts.

Netflix FAQ: How much does Netflix cost?

OCTO Clicks, Bukan Lagi CIMB Clicks

Sebelum saya menginstal OCTO Mobile, seluruh aktivitas saya di hanya saya lakukan melalui CIMB Clicks sebagai nama layanan banking dari CIMB Niaga. Bahkan, transaksi yang saya lakukan cukup umum saja: membayar tagihan , melihat mutasi rekening. Beberapa transaksi lain sudah dilakukan secara otodebet.

Setelah OCTO dirilis untuk menggantikan Go Mobile, giliran OCTO Clicks hadir untuk menggantikan CIMB Clicks. Saya rasa keduanya — OCTO Mobile dan OCTO Clicks — berusaha hadir untuk memberikan solusi yang lebih lagi terkait layanan perbankan, terutama secara digital.

Jadi, ketika biasaya saya membuka internet banking CIMB Niaga melalui cimbclicks.co.id, sekarang alamat berpindah menjadi octoclicks.co.id. Nama lama sudah tidak digunakan lagi.

Dibandingkan desain sebelumnya, tampilan yang baru sangat jauh berbeda. Desainnnya mungkin terlihat lebih modern. Desain yang appealing tentu saja sebuah nilai plus. Tapi, yang lebih penting adalah secara fungsi.

Aktivasi PIN Kartu Kredit CIMB Niaga dan Aplikasi OCTO Mobile

Setelah hampir tiga tahun saya memiliki dari CIMB Niaga, hari ini saya memutuskan untuk mengaktifkan PIN (Personal Identification Number) untuk kartu kredit saya. Kenapa baru sekarang, karena kartu kredit tersebut hampir tidak pernah saya gunakan untuk transaksi di merchant secara offline, tapi hanya untuk keperluan transaksi daring.


Bahkan, kartu kredit saya malah hampir tidak pernah saya bawa. Namun, karena ada aturan dari bahwa per 1 Juli 2020, seluruh transaksi kartu kredit harus menggunakan PIN — tanda tangan tidak diterima — maka saya putuskan untuk mengaktifkan PIN.

Cara Aktivatasi PIN Kartu Kredit

Kirim ke nomor 1418 dengan konten PIN <4 digit terakhir kartu kredit> . Format tanggal lahir adalah tanggal-bulan-tahun. Contoh: PIN 3213 29041990. Dan, proses aktivasi selesai setelah saya menerima balasan SMS.

PIN untuk kartu kredit 6789 Anda adalah 543221. Segera ganti PIN Anda di CIMB Niaga, app OCTO atau hub 14041 dalam waktu 14 hari. Info 14041

Isi pesan SMS balasan aktivatasi PIN Kartu Kredit CIMB Niaga

Tentu saja, hal yang pertama saya langsung ingin lakukan adalah mengubah PIN default. Dari opsi untuk datang ke ATM CIMB Niaga atau melalui aplikasi, saya memilih opsi kedua.

OCTO Mobile

Saya tidak memiliki ekspektasi tentang apa fitur yang ditawarkan oleh OCTO Mobile dari CIMB Niaga. Tapi, selama ini saya cukup nyaman dengan aplikasi mobile banking milik . Transaksi CIMB Niaga biasanya saya lakukan melalui fitur banking.

Saya mengunduh OCTO Mobile dari Play Store untuk ponsel Android saya. Versi iOS juga tersedia. Setelah melakukan proses registrasi, saya lanjutkan dengan mengubah PIN kartu kredit saya.

Pengembalian Dana (Refund) AirAsia Indonesia

Saya suka terbang bersama dengan . Ketika di harga tiket juga mengalami lonjakan, sampai AirAsia akhirnya memilih untuk meninggalkan layanan OTA (Online Travel Agent), dengan senang hati saya memesan langsung melalui situsnya (kadang juga melalui aplikasi mobile).

Hari Sabtu tanggal 7 Maret 2020 dari menuju adalah penerbangan saya yang terakhir bersama . Saat itu, penerbangan berjalan dengan sangat baik. Saya tidak mengeluh sama sekali.

Rencananya, tanggal 15 Maret 2020 saya akan terbang bersama dengan satu rekan kerja ke Jakarta — dari Jogjakarta — dan pulang tanggal 17 Maret 2020 dengan AirAsia Indonesia. Lagi-lagi, karena saya memang puas dengan layanan yang diberikan, dan karena jadwal yang kebetulan sesuai.

Tapi, penerbangan harus dibatalkan, karena saya memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas perjalanan karena perkembangan pandemi yang tidak membaik, bahkan sebaliknya.

Saya melakukan proses pengajuan pengembalian dana melalui mekanisme yang ada. Walaupun, sampai sekarang memang belum ada perkembangan yang berarti.

Pengembalian akan dikreditkan dengan cara yang sama dengan metode pembayaran yang digunakan untuk memesan.

Status terakhir pada halaman pencatatan kasus.

Validasi Data, Pengambilan Kartu, dan Otodebet Pembayaran BPJS Kesehatan

Kemarin, saya kembali lagi ke kantor untuk keperluan pencetakan Kartu Sehat (KIS). Kali ini, saya datang bersama dengan istri. Kartu ini adalah milik keluarga ART saya dan anaknya. Jadi total dalam Kartu Keluarga ART saya ada 2 (dua) anggota keluarga.

Proses registrasi sebenarnya sudah saya lakukan beberapa bulan lalu. Masalahnya adalah ketika akan memvalidasi melalui aplikasi JKN () selalu gagal. Ada data yang tidak sesuai. Pembayaran sejak registrasi awal juga tidak ada masalah sama sekali. Jadi, mengurus kartu ini supaya bisa dipakai ART saya — dan anaknya — jadi prioritas saat ini.

Seluruh proses cukup lancar, sama dengan saat saya mengurus keanggotaan BPJS Kesehatan anak saya beberapa bulan lalu. Bahkan, saya diterima oleh petugas yang sama.

Validasi Data

ART saya tidak ikut, dan kami hanya membawa kartu keluarga dan KTP asli milik ART saya tersebut. Saya sampaikan maksud kedatangan saya dan kondisi terakhir. Setelah melakukan proses validasi data, sekaligus Kartu Indonesia Sehat sebanyak dua lembar langsung tercetak. Proses sepertinya tidak sampai 15 menit saja.

Puji Tuhan, lancar.

Otodebet Pembayaran

Selama ini, saya melakukan pembayaran secara manual, belum secara otodebet. Saya pernah mengurus untuk proses otodebet yang walaupun dulu terlambat dilakukan pendebetan, namun akhirnya berhasil juga. Karena alasan kepraktisan saja, saya berencana juga untuk melakukan pengaturan otodebet untuk pembayaran keanggotaan milik ART saya.

Namun, oleh petugas disarankan untuk dipertimbangkan kembali karena ada beberapa kondisi yang mungkin akan menjadi ribet. Ribetnya adalah misal ketika ART saya sudah tidak bekerja dengan saya, dan saya ingin menghentikan proses otodebet. Hal ini dapat dilakukan hanya oleh ART saya dengan menyertakan fotokopi buku tabungan dan kartu yang akan digunakan sebagai pengganti.

Dengan pertimbangan ini, akhirnya saya putuskan dulu untuk melakukan pembayaran secara manual. Mungkin nanti ketika sudah ada tabungan yang siap digunakan untuk pembayaran otomatis.

Tanpa Uang Tunai. Ya atau Tidak?

Di tahun 2019 ini, sepertinya saya semakin sering untuk melakukan transaksi non-tunai. Kebetulan, hampir semua kebutuhan harian (pribadi maupun pekerjaan) dapat dilaksanakan dengan transaksi non-tunai.

Saya belum pernah mencoba untuk melakukan aktivitas yang melibatkan transaksi pembayaran dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu penuh. Sepertinya ini menarik untuk dicoba. Paling tidak, jadi semakin terlihat di area mana transaksi yang bisa dilaksanakan dengan non-tunai, bisa non-tunai tapi (terpaksa) harus tunai, atau bahkan tidak bisa non-tunai sama sekali.

Tentu saja, hasil yang berbeda ketika dilaksanakan di kota/area lain. Saya berdomisili di . Jadi, mari kita coba.

Saat ini, untuk mencoba tanpa uang tunai, saya menggunakan beberapa metode pembayaran berikut:

  1. Kartu debit (ada dari beberapa , namun mayoritas saya gunakan BCA)
  2. Kartu (Flazz dan Mandiri)
  3. Akun (dengan ) dan OVO.
  4. Kartu kredit

Saya juga memiliki akun LinkAja dan Jenius, namun keduanya hampir belum saya gunakan secara aktif. Untuk layanan , utama saya masih menggunakan ( banking dan BCA ). Jadi, seri untuk tulisan mengenai tanpa uang tunai akan dibagi menjadi beberapa kategori utama.

Gangguan KlikBCA karena Terkena Malware?

Karena cukup sering menggunakan , saya cukup jarang melakukan transaksi melalui banking BCA. Beberapa waktu lalu, saya bermaksud untuk menambahkan beberapa nomor rekening dalam daftar transfer di internet banking BCA saya. Walaupun daftar transfer tersebut sudah ada dalam BCA Mobile saya, namun karena transfer memang tidak tersinkron dengan internet banking, jadi perlu ditambahkan manual.

Ketika akan menambahkan daftar transfer, muncul pesan bahwa transaksi tidak dapat diproses. Saya pikir hanya permasalahan yang muncul acak. Jadi, saya memutuskan coba lagi lain waktu. Setelah beberapa kali, tetap saja gagal.

Saya coba hubungi HaloBCA melalui Twitter, namun jawaban berakhir bahwa saya disarankan untuk menghubungi Halo BCA melalui telepon. Walaupun selama berurusan dengan layanan nasabah di kantor cabang atau kantor pusat selalu baik — termasuk ketika melalui call center, tapi apa iya menghubungi call center adalah satu-satunya solusi? Saya cukup penasaran.

BCA Express juga kurang membantu

Saya mencoba untuk mencari solusi dengan datang ke BCA Express yang berada tidak jauh dari tempat saya tinggal. Singkatnya, ternyata saya tetap disarankan menghubungi call center BCA. Cuma, saat itu saya mendapatkan informasi bahwa akun saya dengan nomor rekening yang saya sebutkan ke layanan nasabah di BCA Express terkena malware. Sehingga, fitur tersebut semacam dibekukan karena ini merupakan salah satu standar keamanan dari BCA.

Beberapa tahun lalu, walaupun kasusnya tidak sama, namun ada juga permasalahan yang menyangkut dengan virus. Dan, saat itu permasalahan diselesaikan dengan baik.

Saat saya menghubungi Halo BCA, saya sampaikan permasalahan yang saya hadapi, dan menurut petugas layanan nasabah, memang benar bahwa akun saya terkena malware. Saya tidak meminta jawaban dengan mendetil, namun ini karena saya sering mengakses menggunakan Wi-Fi. Mungkin yang dimaksud adalah menggunakan jaringan Wi-Fi yang secara keamanan kurang baik.

Kalau tentang Wi-Fi, tentu saja saya hampir selalu terhubung ke jaringan Wi-Fi melalui saya. Walaupun, saya hampir selalu mengakses internet banking BCA hanya melalui laptop dan ponsel saya. Apakah juga karena Virtual Private Network? Atau sebab lain misalnya peramban yang dideteksi ‘bermasalah’ oleh BCA? Entahlah.

Yang penting, sekarang internet banking dapat digunakan dengan baik.