Tags
,

Hello, HEY!

Yes, I’m joining the crowd to give HEY — email service by the awesome guys at Basecamp — a shout. I wrote them to request for an invite three around three days ago. I am sure that they’re having lots of invitation requests, but today, I finally got the invitation code to register an account.

Before registering, I have read some key information about HEY: about how it works, the HEY manifesto, some key points on the FAQ page, and also how the pricing will work. I also understand that Imbox is not a typo.

Some key points about HEY

In my opinion, these are some key points about HEY. It’s not about my personal preference, but more about ‘what I — or probably you — should now by having a @hey.com account.

  1. It’s NOT an email client. So, it’s not like Gmail for Android/iOS. It’s not Outlook you can have on your Android, Mac, or iOS devices. It’s not even close to Spark, Postbox, or Newton.
  2. It’s an email service provider, with — currently — @hey.com domain for the email address created. That’s right, it’s like Gmail by Google, or Yahoo Mail, or Outlook. It’s also like how you have your email address, powered by your cPanel-based hosting, or maybe you have it installed yourself and having Roundcube as the interface. Creating an account at HEY is like you open an account at Gmail, or having an email at Yahoo Mail service.
  3. It’s not free. It’s a paid service. To enjoy the full service at the moment, with the upcoming features in the futures, we need to pay US$99/year minimum. We need to pay extra if for ‘shorter’ username. 2-characters of username costs US$999/year, and 3-character of username will cost US$349/year. And, we need to pay a year in advance.
  4. It offers “better” privacy. Hint: Gmail.
  5. It might change your workflow. It might be better for some people, but probably it’s not for everyone.

More features that might works better for you can be seen at HEY website.

Let’s give it a try

Reading some of those points above, I was curious about how it works. I mean about the interface, functionalities, workflows, and more. It’s 2020, and making working with email to become an enjoyable experience — for those who work a lot with emails — is still a big challenge.

I am a Gmail user — or Gmail-based email, because I also use Google App for Work — and I use lots of Google services. I signed up for my Gmail account when it was still ‘invite only’ period.

My first question about HEY was, “If HEY is that good, how the integration between services I currently use?”. I have an Gmail email, and once I signed up for it, I can use all the other services right away. The integration between those [Google] service is already that good.

I still believe that HEY is not ‘just another email provider’. Basecamp is a reputable company. I follow Signal vs Noise blog. I bought both REMOTE and REWORK. It’s built by people who know what they do, and who want to make the idea of working to become something efficient and fun at the same time. If we’re talking about productivity, Basecamp should be mentioned here.

I already logged-in to my email account. I have HEY app installed on my iPad and Android phone. I also already sent my first email to it.

Let’s see.

Tags
, , , , ,

Akhirnya, Bisa Juga Punya Akun Jenius BTPN

Sejak gagal melakukan aktivasi akun Jenius beberapa bulan lalu, akhirnya saya memiliki sebuah akun Jenius di akhir Juli 2019 lalu. Namun, prosesnya agak sedikit berbeda. Ada beberapa hal yang dengan cukup santai saya ikuti prosesnya. Toh memang saya tidak terburu-buru, dan seluruh kebutuhan transaksi/perbankan masih bisa terpenuhi dengan akun yang ada.

Registrasi dengan nomor/akun lain

Setelah gagal aktivasi dan registrasi kedaluarsa, seingat saya, saya tidak bisa mendaftar dengan nomor ponsel dan surel yang sama. Namun, karena saya memiliki nomor ponsel lain — dan tentu saja surel lain — akhirnya saya coba daftar kembali.

Kalau pendaftaran saya yang pertama menggunakan nomor XL dengan surel dari Gmail, pendaftaran kedua saya menggunakan nomor Telkomsel dengan surel Yahoo. Dan, pendafaran kedua ini gagal.

Saya tidak pernah mendapatkan konfirmasi di surel. Saya lupa tepatnya urutan bagaimana, tapi saya tidak bisa login ke aplikasi. Padahal saat itu saya memutuskan untuk daftar kembali karena beberapa rekan kantor punya pengalaman yang mudah dalam mendaftar. Apalagi, verifikasi dilakukan melalui video call saja.

Karena gagal lagi, jadi saya putuskan tidak memroses apapun.

Telepon dari Jenius BTPN

Pada suatu siang, saya mendapatkan telepon dari nomor yang mengaku dari BTPN, dan ingin menanyakan beberapa hal mengenai Jenius. Pertanyaan cukup standar, dan saya sampaikan saja kondisi sebagai masukan bahwa saya gagal membuka akun Jenius. Bahkan dua kali.

Dari telepon tersebut, saya mendapatkan beberapa poin informasi:

  1. Saya bisa daftar kembali, setelah akun saya di-reset. Mungkin maksudnya akuns aya dihapus dari sistem, sehingga nomor ponsel dan surel dapat digunakan kembali.
  2. Untuk me-reset akun bisa dilakukan di beberapa tempat di Jogjakarta. Saat itu diinformasikan kalau bisa dilakukan di Jogja City Mall, Hartono Mall, dan Ambarrukmo Plaza.

Saya suka dengan follow-up semacam ini. Dari beberapa opsi tempat, saya akhirnya memutuskan untuk mengurus ke Jogja City Mall, karena hampir tiap akhir pekan saya ada keperluan di sana.

Reset Akun Jenius BTPN di Jogja City Mall

Singkatnya: tidak berhasil sepenuhnya.

Ketika saya menyampaikan (dengan cukup detil) kronologis yang saya alami, saya akhirnya diminta data oleh salah seorang agent yang ada disana. Mereka sepertinya paham kondisi saya dan tahu apa yang harus dilakukan. Mereka mengirimkan beberapa data registrasi saya ke pihak yang mungkin mengurusi perihal reset akun.

Saya tunggu beberapa menit, mungkin ada sekitar 10-15 menit. Sambil saya amati kalau saat itu ada beberapa orang yang menanyakan mengenai Jenius ini, dan sepertinya ada yang langsung dibantu untuk pembuatan akun. Setelah menunggu, saya diinfokan kalau reset akun tidak berhasil (di sana), dan disarankan(?) untuk melakukannya di tempat lain yaitu yang adi Hartono Mall. Saya tidak memperpanjang alasan kenapa tidak bisa, ya karena memang tidak bisa. Apalagi saat itu saya sebenarnya juga sudah cukup terburu-buru untuk pulang.

Reset dan Pembuatan Akun Jenius BTPN di Hartono Mall

Beberapa minggu setelah kegagalan proses di Jogja City Mall, saya sempat ada keperluan untuk ke Hartono Mall. Saat itu sekitar pukul 20.40 malam. Saya coba dengan tanpa ekspektasi yang muluk-muluk. Saya jelaskan minta dibantu untuk reset akun supaya bisa mendaftar ulang lagi, itupun kalau bisa.

Dengan proses yang sama, saya diminta informasi akun yang saya gunakan untuk mendaftar (sebelumnya), dan ditawari untuk dibantu pembuatan akun. Saya mengiyakan, toh memang itu keperluan saya. Saya ikuti proses standar pembuatan akun, dan proses cukup cepat karena memang semua dilakukan secara digital.

Terkait kartu, karena saat itu sudah cukup malam (sekitar jam 21.00) jadi kartu tidak bisa langsung jadi. Kalau tidak salah kartu sebenarnya bisa langsung jadi, tapi karena petugas yang mengurusi kartu ini sudah tidak ada — kalau tidak salah infonya begini — jadi nanti kartu akan dikirim melalui pos. Namun, secara prinsip akun sudah aktif, dan saya login ke akun saya melalui aplikasi Android tanpa masalah.

Tags
,

G Suite

Google Apps for Work now has a new name. It’s G Suite.

G Suite is a set of intelligent apps — Gmail, Docs, Drive, Calendar, Hangouts, and more — designed to bring people together, with real-time collaboration built in from the start. And there’s a lot more on the way. Because we believe that when organizations break down silos, connect people and empower them to work together, we get the speed, agility and impact needed to compete in today’s market.

Tags
, ,

Inbox by Gmail: Moving Spam email to Inbox

screen-shot-2016-09-13-at-2-32-16-pm

I’ve been using Inbox by Gmail as my default web-based email to manage emails powered by Gmail. The “Snooze” and “Pin” are just helpful to keep me organised with my emails. Everything works, but there is a small things that — in my opinion — little bit inconvinient: dealing with Spam.

Gmail’s spam filter is great. But, sometime, I found that Google makes mistakes on the spam identification. Of course, it should be easy to bring back emails marked as spam to the inbox. Well, not while using Inbox by Gmail.

Viewing an email under the Spam folder will give the same experience. How to move email to inbox?

There is a menu to “Move to…”, but I could not see “Inbox” as one of the folder. The solution? Simple: Pin it.

Pinned email will go back to the inbox. It’s much simpler with the classic Gmail.

Tags
, ,

Moving to Google Apps for Work

Google Apps for Work

It’s been two for around two months since my small office moved the email service to Google Apps for Work. So far, it’s been a great experience and I think it was the right decision to make.

Why Moving?

Before moving to Google Apps for Work, we manage the email servers on our own. Meaning, we needed to do the setup, maintenance, including backup. There are less than twenty email accounts to manage under two main domains. The email was hosted on a cloud-based server — we used DigitalOcean. Everything was running almost without any issues.

We depend on emails on day-to-day operation. At the same time, we need to have (almost) zero maintenance and increase our productivity. Our small team needs to share lots of things like documents, spreadsheets, and agendas. The thing is that we need to use our personal Google account to share documents. The other things is on the storage. I have more than 6 GB of email (for work). So, moving to Google Apps for Work is an anticipation. Here are some main reasons on the migration:

  1. Zero maintenance. By outsourcing the email service to Google, we at least only need to keep the domain active.
  2. Integration with other Google services like Google Docs, Google Sheets, Google Calendar, and more. The integration also includes the seamless collaboratoin between coworkers.
  3. Flexible storage. By default, I have 30 GB of storage for my Gmail, Google Drive, and photos. If later I need to upgrade, the price is pretty reasonable. 100 GB for IDR 27,000 (per account) is a good deal.
  4. Simple setup and management. Setting up each service provided by Google Apps for Work is very easy.

Migration Process

The migration process was pretty easy. Since there were only around 12 email accounts, so moving them individually did not take too much time. My coworkers moved all the email account by themselves. The only challenge is not to have the downtime. There is a simple guide to work on this area. During the registration process, I only need to use a primary domain — and setup the secondary domain as domain alias later on.

For the cost efficiency, I worked on the settings on email routing. For example, if there is an email address that was only accessed by specific people in the organisation, I created some routing rules. By this, I can minimise the number of accounts.

After all emails (including attachments) had been migrated to Google Apps, we kept the “old” servers online for few days just to make sure that no data left behind. I was not sure how long the whole processes was completed, but it was around one week.

Tags
, ,

Inbox by Gmail is available for everyone

Inbox by Gmail is now available for everyone. Previously, those who want to get Inbox by Gmail should be invited by other Inbox users. Inbox by Gmail is available for iOS and Android. Or, simply go to inbox.google.com. I’m using it in daily basis, and so far I like the way it displays the messages.

Tags
,

Preview: New Google Contact

Google Contact

Google is about to roll out its Google Contact service page. On a personal note, I use Google account to organise my contacts or address book. So far, I think this is the best solution (for me) since I use multiple devices and I need to have the simplest mechanism to manage the address book.

If you want to see the preview, go to contacts.google.com/preview. It will be available for Gmail and also Google App Domain.

Tags
, , , , , , ,

Ulasan Windows Phone 8 dan Aplikasi pada Ponsel Lumia

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang ponsel Lumia 535. Sebelum saya menuliskan artikel tersebut, saya sudah mencoba menggunakan ponsel (beserta dengan sistem operasi Windows Phone) walaupun belum dalam frekuensi sehari-hari. Selanjutnya, dalam waktu sekitar satu minggu terakhir, saya mencoba untuk menggunakannya dalam keseharian saya. Jadi, saya ingin mencoba ‘memberi kesempatan’ kepada ponsel Lumia (atau sistem operasi Windows Phone) ini untuk menjawab kebutuhan saya.

lma19735091275091725

Artinya, saya mencoba melakukan aktivitas rutin saya — yang biasanya saya lakukan di ponsel Android, iPhone dan iPad — di ponsel Lumia. Walaupun secara spesifik saya menggunakan Lumia 535 dalam tulisan ini, namun secara keseluruhan — koreksi jika saya salah — saya rasa saya bisa saja mendapatkan pengalaman yang sama ketika menggunakan jenis ponsel dari seri keluaran lain, sepanjang ponsel tersebut menggunakan sistem operasi Windows Phone.

Tulisan berikut berdasarkan versi Sistem Operasi Windows Phone 8.10.14226.359, versi Firmware 02055.00000.14511.22002.

Layar (yang mungkin terlalu) sensitif

Baik ketika saya menggunakan iPhone atau ponsel OPPO R819, saya tidak mengalami terlalu banyak perbedaan tentang sensitifitas layar. Gesture yang saya lakukan dapat berjalan dengan baik dan hampir tidak mengalami perbedaan berarti. Namun, ketika saya menggunakan ponsel Lumia, saya sering mengalami bahwa layar terlalu sensitif. Ketika saya swipe/scroll, saya sering mengalami bahwa gesture terbaca sebagai ‘tap’. Saya sebenarnya ingin scroll, namun sering kali malah membuka aplikasi. Dan, ini seringkali terjadi.

Email/surel (surat elektronik), Kalender, dan Kontak

wp_ss_20141125_0003

Secara prinsip, surel dapat dipergunakan dengan cukup baik, dalam pengertian bahwa seluruh surel saya baca melalui ponsel. Saya mencoba untuk menambahkan beberapa akun surel seperti Gmail, Yahoo Mail, Outlook, dan email kantor, semua dapat berjalan dengan baik.

Untuk kalender, saya menggunakan Google Calendar sebagai layanan utama untuk mengatur kalender/agenda. Dan, untuk kontak, saya menjadikan layanan Google (melalui Gmail) untuk pengelolaan kontak. Seluruh kontak saya dapat saya impor tanpa masalah.

Untuk kalender dan surel, saya harus berneogisasi dengan diri saya sendiri terutama pada bagaimana keseluruhan experience. Kalau fokusnya adalah bahwa informasi bisa saya dapatkan melalui ponsel Lumia, hal ini sudah terjawab.

Namun, bagaimana terkait dengan tampilan, pengalaman pengguna dan antar muka? Ini memang preferensi yang sangat personal. Tapi, saya harus bilang bahwa saya tidak terlalu menikmati untuk bekerja dengan surel dan kalender di ponsel Lumia saya.

Aplikasi Bertukar Pesan (Messaging)

Untuk bertukar pesan pendek, saya sudah hampir tidak pernah menggunakan SMS. Aplikasi utama yang sering saya pakai — diantara begitu banyak pilihan aplikasi chatting — adalah WhatsApp dan Telegram. Untunglah kedua aplikasi tersebut tersedia untuk Windows Phone.

Aplikasi WhatsApp di Microsoft Lumia (Windows Phone)
Aplikasi WhatsApp di Microsoft Lumia (Windows Phone)

(Tautan: WhatsApp untuk Windows Phone, Telegram untuk Windows Phone).

WhatsApp dan Telegram secara prinsip dapat berjalan dengan cukup baik secara performa. Dan, penting bagi saya karena kedua aplikasi tersebut dikembangkan resmi oleh penyedia layanan. Kadang, saya juga menggunakan Skype dan juga Blackberry Messenger. Saya tidak menggunakan Google Hangouts di Windows Phone, karena aplikasi resmi tidak bisa saya temukan. Dan,saya memang agak jarang menggunakannya — karena tidak banyak rekan dalam kontak saya yang menggunakannya secara aktif (dibandingkan dengan yang ada di WhatsApp atau Telegram).

Papan Ketik yang terlalu besar

Ini memang masalah selera, namun, menurut saya papan ketik (keyboard) yang dimiliki oleh ponsel Lumia ini memakan terlalu banyak area layar. Dan, secara pribadi saya sendiri kurang nyaman dengan kondisi ini.

Dukungan/pilihan aplikasi

Ponsel saat ini banyak sekali digunakan untuk kebutuhan yang bermacam-macam. Saya sendiri selain untuk keperluan pekerjaan, juga memanfaatkan ponsel untuk berinteraksi (melalui aplikasi bertukar pesan), ataupun menggunakan layanan media sosial untuk berbagi informasi, gambar, dan aktivitas lainnya.

Saya memiliki harapan untuk dapat tetap menggunakan aplikasi sehari-hari yang saya pakai walaupun saya berpindah ponsel (dengan sistem operasi berbeda). Hampir semua yang saya lakukan di iPhone dapat saya lakukan di Android — dan juga sebaliknya — walaupun dengan tampilan antar muka yang sedikit berbeda. Namun, secara umum saya mendapatkan pengalaman yang hampir sama.

Hal ini yang tidak bisa saya dapatkan melalui Windows Phone di ponsel Lumia saya. Kalaupun ada aplikasi sejenis, baik yang dikembangkan oleh penyedia layanan atau oleh pengembang lain, tetap saja secara keseluruhan saya kurang menikmati tampilan, disain, dan pengalaman aplikasi yang ditawarkan.

Di akhir tahun 2014, VentureBeat merilis tentang bagaimana aplikasi yang dikembangkan oleh masing-masing sistem operasi untuk perangkat bergerak. Dalam hal ini bagaimana aplikasi yang dibuat oleh Apple (iOS), Google (Android), dan Microsoft (Windows Phone) dan ketersediaannya di masing-masing pasar aplikasi.

Aplikasi Google, Apple, and Microsoft di sistem operasi bergerakDari grafik diatas, Microsoft memang cukup banyak menyediakan aplikasi buatannya untuk tersedia di sistem operasi lain. Tentu saja, di Windows Phone Store, Microsoft menjadi rajanya.  Bahkan, di Apple App Store, Microsoft justru memiliki aplikasi yang lebih banyak dibandingkan kompetitornya.

Namun, ini tidak sebaliknya. Secara aplikasi memang Microsoft memiliki jumlah yang banyak. Tapi, Apple dan Google sepertinya justru tidak tertarik untuk mendistribusikan aplikasi mereka (atau membuatnya tersedia) untuk Windows Phone.

Apple sendiri justru di Apple App Store hanya memiliki sedikit aplikasi. Tapi, sistem operasi, distribusi/penjualan ponsel menjadi magnet sendiri bagi para pengembang aplikasi atau perusahaan untuk membuat aplikasi tersedia disana.

Penutup

Setelah mencoba dalam penggunaan sehari-hari, serta menyesuaikan dengan kondisi sehari-hari bagaimana saya memanfaatkan sebuah ponsel, saya merasa bahwa untuk saat ini ponsel Lumia — dalam hal ini Microsoft Lumia 535 — kurang cocok untuk saya. Secara hardware, Microsoft Lumia 535 ini menurut saya cukup baik, namun terkait dengan aplikasi pendukung, banyak kebutuhan yang belum terjawab — bagi saya untuk penggunaan sehari-hari.

Catatan: Jika harus memilih salah satu aplikasi yang paling bagus (dan karena hanya tersedia di Windows Phone), saya tetap merasa MixRadio adalah aplikasi terbaik.

Tags
, , , , , , , ,

Ulasan Ponsel Microsoft Lumia 535 Dual SIM

Microsoft, sebagai perusahaan yang mengakuisisi Nokia, mengeluarkan produk ponsel pertama yang menghilangkan identitas “Nokia”, yaitu Microsoft Lumia 535. Jadi, tidak perlu bingung mengapa dulu ada istilah ‘Nokia Lumia’, namun nama Lumia sendiri sekarang tidak disandingkan dengan ‘Nokia’.

Microsoft Lumia 535

Pertengahan Desember 2014 ini, saya memutuskan untuk membeli Lumia 535. Produk Lumia 535 ini saya beli melalui pre-order di Blibli dan saat itu saya mendapatkan penawaran harga sekitar Rp 1.250.000,00 (pembayaran menggunakan kartu kredit). Saya memang cukup lama tidak menggunakan produk Nokia Lumia/Microsoft (sekarang Microsoft Lumia). Sehari-hari, saya sendiri menggunakan produk Apple (iPhone 5, iPad 3, dan MacBook Pro 15″ Retina Display), dan juga OPPO (OPPO R819). Jadi, secara sistem operasi di ponsel, saya sehari-hari menggunakan iOS dan Android.

Spesifikasi dan Disain

Untuk spesifikasi, saya tidak akan terlalu membahasnya disini. Ulasan lengkap tentang spesifikasi teknis Lumia 535 bisa dilihat langsung di situs Microsoft. Beberapa informasi singkat tentang spesifikasi dasar yang mungkin perlu dilihat adalah:

  • Mendukung dual SIM
  • Ukuran layar 5 inchi
  • Sistem operasi: Windows Phone 8.1 (Lumia Denim)
  • Kamera utama dan kamera depan dengan resolusi 5 MP
  • Dimensi: panjang: 140,2 mm, lebar: 72,4 mm, tebal: 8,8 mm, dan berat: 146 gram
  • Resolusi layar: qHD (960 x 540)
  • RAM: 1 GB
  • Memory internal: 8 GB. Dapat ditambah dengan MicroSD sampai dengan 128 GB.

Pilihan warna cukup beragam sesuai dengan selera yaitu hitam, putih, oranye, hijau, dan biru. Saya sendiri memilih warna oranye. Untuk finishing material casing adalah dengan finishing glossy. Secara disain, saya menyukainya. Walaupun dari sisi ukuran bukanlah yang paling kecil, dan paling tipis, namun secara keseluruhan dari sisi disain tidak mengecewakan. Paling tidak, masih cukup nyaman untuk dipegang dengan satu tangan. Untuk yang berjari agak pendek, mungkin akan terasa agak kurang nyaman dengan dimensi yang ditawarkan.

Tags
, , , ,

1Password-ed

There are many services on the internet. It means there are many accounts (if you’re registering to those services) to remember. Some services offers login using popular “connect” feature. For example you can login using Facebook, Gmail, or Twitter for some specific services. This is a good scenario since we only need to remember password for those services.
But, I personally likes the “native registration” process. Meaning that I have to register manually and using a specific password each service. The consequence is that I have many passwords. I mean many. Of course, it might be easier I use the same password for multiple services. But, it’s not a recommended workflow. Anyway, if a service provides a 2-step authentication process e.g. Google, I will be using it.
1Password 50% OFF
I’m an Apple customer. So, I work most of the time on my MacBook and iPhone. There should be an easy way to manage these passwords. There is a popular application called 1Password by AgileBits Inc. I’ve heard about the application, but I didn’t buy it until yesterday. 1Password gets 50% discount. I decided to buy 1Password for Mac and iOS. I got my Mac version for $24.99 or IDR 289,000.00 (regular price: $49.99), and iOS version for $8.99 or IDR 99,000.00.

Tags
, , , , , ,

Let's talk about the (new) Yahoo's email service

Recently, Yahoo redesigned its mail service again. I’ve talked about Yahoo Mail last August. I hoped for an improvements. Recently, on its 16th birthday, Yahoo gives a new look for its mail service. Quoting from a release published at Yahoo’s blog:

We redesigned Yahoo Mail to be more efficient, too. Things you do all of the time like search, starring, and deleting are now one-click actions that appear when you hover over an email. We also wanted to give you more breathing room in your inbox, so you can collapse the left-hand toolbar to be more productive.

I’m not a big fan of Yahoo email service actually, I’m sold to Google Mail. I use Gmail web-based interface on my daily basis. So, what Yahoo offered on this redesign this time?

1 TB of storage to handle email and attachments.

Yes, that’s huge! Currently, Google ‘only’ offers 15 GB of free storage (shared between Google Drive, Gmail, and Google+ Photos) with some detailed conditions. The 1 TB storage is tempting for marketing purpose and by number. Do I really need 1TB? I can live with 15 GB Google offers. By having 1 TB of storage, it can handles more than 54 million of emails.
Previously, if you’re a Flickr user, Yahoo also offers 1 TB of storage to store more than 500,000 photos in original quality. This one is really a good deal!

Themes

I’m not a fan of themes for email service. I left my Gmail in the standard look, without fancy themes. Yahoo — since it also owns Flickr — brings some selected photos from Flickr to choose as the background theme. Here how it looks.
Yahoo mail themes
For the web interface, I choose the of of the clean theme styles.

Tags
, , , , , , ,

Dear Yahoo! Mail, how are you?

There is a fact that Yahoo! Mail is probably one of my first email service providers. Not sure about the exact date I created my account, but I think it was in 2000’s. It was the time when Yahoo! was so popular, had lots of services, and interesting products. Probably, it was also because that there were not many alternatives. Yahoo! Mail was a good choise.
But, it has been years. Many services — not only email — come and go. But, when we jump to the internet world, everybody will get an email. Not only about the very basic features (sending and receiving email), but email service should be build better, answering what users need. What internet users really need.
Let’s not forget also about some other services. Google launched its Gmail in April 2004 (so, it has been 8 years). Recently, Microsoft re-launched its Hotmail as Outlook.com. Every service tries to make improvements for its users to deliver the best product and features for them. This is how Yahoo! Mail inbox looks like.

If you have a Yahoo! Mail account, just try to login and see yourself. What do you think? Well, what do I think? And, why I’m writing this post, anyway? If I don’t like it, why should I write about it? Isn’t it easier to just leave it?

Tags
, ,

Goodbye Google App for BlackBerry

Beginning November 22, 2011, we will end support for the Gmail App for Blackberry (installed native app). Over this past year, we’ve focused efforts on building a great Gmail experience in the mobile browser and will continue investing in this area. Users may continue to use the app, if installed, however it will not be supported by Google, or available for download starting November 22. BlackBerry users can continue to access Gmail through the mobile web app at http://www.gmail.com in their BlackBerry web browser.

Google Apps Blog: Deprecation of Gmail App for BlackBerry

Tags
, ,

Nokia Funaholic Icon Search

Following Nokia Indonesia’s Eksismeter campaign, there is now Nokia Funaholic Icon Search. This is all about finding an icon for Nokia E5. This Funaholic Icon Search will find three real person that represents three characters: Antonio (the super exist), Daisy (the music lover) and Kareem (the super busy guy). The mechanism is similar with the previous campaign: it’s all about being online presence, and everyone can join.

Right now, there are nine icon candidates. Visitors (you!) can vote your favorite candidates and you can get a chance to win one of these gifts from Nokia Indonesia: Nokia C3, Nokia X5 and Nokia E5!

How those characters — if you’re also one of them — take advantages from Nokia E5 device? Let’s look at some cool features for them.
For those who want to get online everytime (connected to many social network services, chats, and also email), Nokia E5 offers features that work for this purposes:

  • Messaging — Email is one of the important thing that people should have. Fromt this device, you can acess up to 10 personal email accounts. Does it only support Ovi Mail? No. You can check your  Hotmail, Gmail and Yahoo! Mail. I have tried this, and I find it useful. I use the messaging office to check my office email, Yahoo! Mail, Google Apps for domain email, and also Gmail. Until today, I find nothing but good features. Ovi Mail offers 1 GB of storage, and I think it also offers a short and cool domain name.
  • I want to chat also to make real time conversation with my friends. Using Nokia Messaging IM application, I can directly connect to some service like Yahoo! Messenger, and also Google Talk. And, to make the whole communication experience better, Nokia E5 also equipped with full QWERTY keyboard.
  • Nokia E5 also supports 3G and Wi-Fi connection. Free Wi-Fi can be found easily here in Indonesia when going to the mall, coffee shop, and some other public places. Great deal!
  • The home screen can be very useful because you can make access to your favorite menus. Also, you can also customize the home screen to create the a personal look that really “you”.
  • Camera — The camera features are not disappointing I guess. You have 5 MP camera, digital zoom up to 3x and also LED flash. It should be suitable for on-the-go photography. Does it also support video recording? Yes, with .mp4 or .3gp file formats.

All Nokia E5 features can be found at Nokia E5 product info page.
Back to Nokia Funaholic Icon Search I mentioned above, you can get a chance to get this Nokia E5 only by giving your vote. Now, you can start voting and may the best win :D