Obrolan Wedang Ronde Mas Agus

Sore tadi, pergi ke pasar untuk membeli beberapa sayuran. Rencananya untuk memasak kangkung, dan sekalian beli bahan-bahan buat mbak dirumah yang besok mau masak sop. Tidak ada yang istimewa, seperti biasa karena tempat belanja bisa dikatakan sudah langganan.

Ketika jalan keluar untuk pulang, melihat ada gerobak ronde yang sedang berhenti di pinggir jalan. Ketika belanja, sempat sekilas penjual ronde tersebut sedang mengantarkan dua porsi ronde untuk salah satu penjual di pasar. Ah, mungkin dia sedang menunggu.

Minum ronde di sore hari sepertinya ide yang bagus. Akhirnya, saya datangi penjual wedang ronde tersebut. Sempat ditawarkan apakah mau untuk dibawa pulang atau dimakan ditempat. Saya pilih makan ditempat.

Saya suka dengan wedang ronde. Walaupun memang, sulit untuk menemukan wedang ronde yang memiliki kesamaan rasa. Sebenarnya, hampir tiap malam ada penjual ronde keliling lewat depan rumah. Beberapa kali juga menikmati wedang ronde di tempat yang berlainan. Tapi, sore ini saya rasa saya mendapatkan wedang ronde yang enak.

Seduhan jahe terasa mantap. Ronde — yang dibuat dengan tepung beras dengan diisi gula jawa — juga terasa enak. Kolang-kaling juga, apalagi ditambah dengan kacang yang disangrai. Roti tawar yang biasa menjadi pelengkap saya lewatkan. Saya suka untuk tidak menyertakan irisan roti tawar dalam penyajian ronde.

Pak Agus, penjual wedang ronde

Sambil menikmati wedang ronde, saya sempatkan ngobrol dengan penjualnya. Namanya Mas Agus, asli dari Wonosari, yang sekarang tinggal tidak jauh dari tempat saya bertemu dia. Mungkin kurang dari satu kilometer. Dia tinggal bersama dengan istri dan seorang anaknya yang baru saja masuk SD. Obrolan mengalir. Entah kenapa, saya suka saja terlibat dengan obrolan seperti ini karena bisa mendapatkan cerita yang menarik. Dulu di Jakarta, saya jadi tahu secuil cerita dari Pak Tobari, seorang penjual gorengan di daerah Blok M, Jakarta Selatan. Atau, meluangkan waktu untuk ngobrol dengan Mang Usman yang berjualan di depan kantor.

Baca juga:  Dan trotoar itupun semakin sempit

Ketika saya tanya, Mas Agus cerita kalau dia mengolah sendiri semua bahan-bahan jualannya, bukan dari orang lain. Memang ada juragan ronde yang menjual kebutuhan siap jual bagi para pedagang seperti dia. Selisihnya memang lumayan dibandingkan dengan membuat segala sesuatunya sendiri. Dikontrakannya, ada total enam orang penjual ronde seperti dia.

Biasanya, dia mangkal di seputaran Alun-Alun Selatan, mulai dari waktu menjelang maghrib. “Nek nebas sak gerobag pinten, Mas? (Kalau beli semua satu gerobak berapa, Mas?”. Dia jawab kira-kira Rp 300.000,- sampai Rp. 400.000,- Sebenarnya bergantung kepada jumlah mau pesan untuk berapa porsi.

Obrolan berlanjut dengan santai ke topik-topik yang lain. Kebanyakan memang seputar cerita berjualan ronde, belanja cari bahan, dan topik-topik ringan lainnya. Tak terasa sudah sekitar 30 menit obrolan berlangsung. Wedang ronde yang saya pesan juga sudah habis.

“Pinten, Mas? (Berapa, Mas?)”
“Tigang ewu, Mas… (Tiga ribu, Mas…)”

Setelah saya bayar, saya lanjutkan perjalanan pulang ke rumah yang hanya berjarak sekitar 400 meter saja. Sekarang, paling tidak saya jadi tahu kalau mau cari ronde yang enak seharga Rp. 3.000,-. :)