Menikmati Jakarta-Jogjakarta di pagi hari

Sebenarnya, bukan ini rencananya. Tapi, karena dengan “cerdasnya” saya salah pesen tiket , akhirnya saya harus mengalami pengalaman terbang dengan pesawat dari ke di jam 06.00 pagi. Ya, benar jam dimana saya kadang masih tidur, atau bahkan baru berangkat tidur.

Karena takut bangun kesiangan, akhirnya saya putuskan saja untuk tidak tidur sekalian. Padahal, hari itu lumayan banyak juga kegiatan yang harus saya lewati. Sempat terpikir untuk naik taksi dari Kemang ke Blok M untuk menuju tempat perhentian bis , atau malah ke Stasiun Gambir. Bahkan, sempat juga malah langsung saja naik taksi ke Soekarno-Hatta. Sebelumnya, saya bertanya ke beberapa teman tentang kepastian jadwal berangkat bis DAMRI. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat naik DAMRI dari Blok M menuju bandara.

Sekitar jam 03.00, saya akhirnya keluar dari kontrakan untuk menunggu taksi. Lima belas menit menunggu, tak ada taksi yang melintas. Saat itu hari Minggu, dan saya berasumsi kalau di jalan itu banyak taksi — karena daerah yang cukup ramai. Ternyata saya kurang beruntung. Ketika menunggu, ada bajaj yang melintas dan menawarkan untuk mengantar.

Supir bajaj: “Mau kemana? Gambir?”
Saya: “Ke Blok M saja kok, Kang” (ya, saya lebih sering pakai kata “Kang” daripada “Bang”)
Supir bajaj: “Ayolah…”
Saya: “Berapa nih?”
Supir bajaj: “Biasalah, dua puluh ribu…”
Saya: “Ah, lima belas…”
Supir bajaj: “Tujuh belas deh… buat penglaris…”
Saya: “Ayo deh…” (pada akhirnya sih saya kasih Rp 25.000,– untuk ongkos dan pengalamannya)

Gravity Photo Upload Error: XL Problem?

I have been using Gravity for more than a year and so far, I find that this is the best Twitter client for Symbian. I have it installed on my Nokia 5800 XpressMusic and N8. Using Gravity, it’s easy to share photos directly to some photo providers like , yfrog, img.ly, or even Flickr. Sound good? Yes.
But, it’s only when your provider works without any issues. Until today, I only use two mobile internet : and XL . Using Telkomsel, I almost found no problems. Everything is working. Well, not 100% great, but it’s still acceptable. Right now, I use XL internet service. I just want to try its service. Both offer the similar price for its plan. XL has more offers when purchasing the mobile internet package.

The problem is — again, this is related to Gravity application — everytime I upload a photo, I always got : HTTP 401. Telkomsel didn’t give this kind of error. So, is it an issue from XL’s side? Maybe.
Wikipedia says:

401 Unauthorized
Similar to 403 Forbidden, but specifically for use when authentication is possible but has failed or not yet been provided.The response must include a WWW-Authenticate header field containing a challenge applicable to the requested resource. See Basic access authentication and Digest access authentication.

Not good.
When I tweeted this problem, my friend Andrayogi also shared a same experience. So far, I’m happy with the internet by XL. Yes, I have been using XL service for almost 10 years. And this is the first time I use its ‘unlimited’ data plan. If this problem remains unsolved, I think I will be switching back to Telkomsel.

Taksi di Jakarta: (Kadang) Menyenangkan dan (Kadang) Menyebalkan)

Selama tinggal di , saya mencoba untuk merasakan beberapa moda yang ada. Ini mungkin salah satunya untuk memenuhi hasrat ingin tahu saya. Ada yang bilang hanya kalau di Jakarta itu hanya ada beberapa perusahaan taksi yang direkomendasikan, misalnya yang berwarna biru atau putih.

Kalau tidak jauh, bisa naik ojek atau bajaj. Kalau mau merasakan sensasi lain, bisa coba Kopaja atau Metromini. Atau mau coba Busway Transjakarta? Bisa juga. Diantara pilihan transportasi ini, beberapa kali saya mendapati pengalaman berbeda dengan menggunakan taksi. Ada yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan.

Menyenangkan ketika perjalanan sampai ke tujuan ditempuh melalui rute yang sesuai. Mungkin tidak mengambil rute terdekat, tapi kalau misalnya jauh lebih lancar, saya pilih opsi ini. Hal yang menyenangkan lainnya adalah ketika pengemudi taksi cukup akrab ketika diajak ngobrol. Ya, saya kadang suka memancing pembicaraan sesekali daripada berdiam diri di dalam taksi. Hasilnya, beberapa kali terlibat pembicaraan mulai dari sepakbola, kemacetan, Jakarta, bahkan sampai prostitusi. Bagi saya, ya itung-itung informasi gratis. Eh, bukan tentang prostitusi tapi hal lainnya.

Dari kesemuanya itu, yang paling penting adalah jika pengemudi taksi tahu jalan dan tidak melalui rute-rute ajaib. Entah rute tersebut diambil karena ketidaktahuan, atau memang karena kesengajaaan. Saya tidak ingin menuduh yang macam-macam, tapi kadang ketika ini berurusan dengan rute dan perjalanan, saya sering menjadi kesal.

Menikmati Jakarta!

Sudah hampir setahun ini, saya tinggal di . Tentu saja dengan kondisi sering balik juga ke kampung halaman, di . Keputusan untuk tinggal sementara dan bekerja di Jakarta ini juga bukan keputusan yang mudah. Namun, ada sebuah keinginan pribadi untuk menjawab tantangan, melakukan sesuatu di sebuah kota metropolitan — yang bagi beberapa orang penuh rejeki, namun juga (kadang) kejam.

Pekerjaan tentu saja memberikan tantangan tersendiri. Namun, tidak hanya itu. Menjalani hari demi hari di kota ini bisa jadi mengasyikkan dan menyebalkan. Ada sebuah keasyikan tersendiri, kekesalan kadang juga menjadi sebuah bumbu tersendiri. Namun, saya mencoba menikmatinya. Bagi saya, ‘menikmati’ ini menjadi salah satu aktivitas yang lebih menenangkan daripada mencoba bereaksi menumpahkan kekesalan. Walaupun memang tidak gampang juga. Umpatan kekesalan juga sering keluar dari mulut. Suka atau tidak suka: hadapi atau nikmati.

Cara saya menikmati kota ini tentu saja menjadi pilihan pribadi. Kadang, malah saya bawa kebiasaan dan kondisi di kedalam situasi yang sangat berbeda. Misalnya jalan kaki dipinggir jalan besar. Hasilnya, beberapa kali harus kesal karena ada kendaraan yang melintas di genangan air, dipinggir jalan. Atau, jalan sedikit berakrobat karena kadang menemukan trotoar, kadang tidak.

Kebiasaan lain (di Jogja) yang saya bawa/lakukan adalah mengobrol dengan orang yang saya temui di jalan. Menyempatkan untuk duduk dan ngobrol dengan tukang ojek sebelum berangkat ke kantor bagi saya menjadi aktivitas yang menghibur. Mengetahui ada kabar apa di hari sebelumnya, atau ada cerita apa. Bahkan, kadang tak ada cerita — hanya bertegur sapa. Dari sinilah saya belajar beberapa hal seputar ojek. Tidak banyak, tapi menjadi tahu hal baru.

Menikmati Jakarta. Sepertinya menarik juga untuk dituliskan masing-masing bumbunya. Mari!

After using DISQUS for a month

A month ago, I migrated this blog commenting system to DISQUS and I notice that I got zero spam. Great! Previously, I used Akismet and it also worked great. can identify comment spams but the they still entered the system .
I know, this blog doesn’t have a huge amount of traffic. But for a low traffic , Akismet detected hundreds (and sometime thousands) of comment spams — according to the Akismet in my blog. Not good. Thinking of using DISQUS for my other blogs I maintain.