Dosis 3 AstraZeneca

Hari Senin lalu, akhirnya saya mendapatkan sebagai dosis ketiga saya. Bersama dengan istri saya, proses kami ikuti di RSUD .

Sebelumnya, saya pernah melakukan registrasi di RS Siloam, tapi di jadwal yang ditentukan, ternyata saya malah ada keperluan sehingga tidak dapat hadir sesuai jadwal. Waktu itu, saya juga dijadwalkan mendapat AstraZeneca.

Bersyukur sebenarnya karena cukup banyak pilihan tempat vaksinasi booster ini. Pilihan ke RSUD Sleman sebenarnya lebih karena lebih dekat dengan rumah saja. Kalau pilihan vaksin, yang banyak tersedia adalah AstraZeneca. Awalnya, saya dan istri berharap bisa dapat Pfizer atau Moderna. Tapi, tidak jelas juga kapan. Jadi, dengan alasan bahwa lebih cepat juga lebih baik, jadi yang ada saja.

Proses Vaksinasi

Proses registrasi saya laksanakan melalui ke 081548500500. Persyaratan membawa fotokopi KTP dan juga salinan sertifikat vaksin. Walaupun akhirnya ketika pendaftaran ulang, yang diperlukan hanya KTP saja. Pelaksanaan sendiri berjalan lancar saja tanpa kendala berarti. Saat itu, untuk setiap hari tersedia kuota 120 orang.

Kalau ingin langsung datang, juga bisa. Prosesnya akan sama. Datang ke loket informasi untuk mengambil nomor antrian vaksinasi, lalu naik ke lantai 4, datang ke meja registrasi, isi formulir, lalu tunggu prosesnya. Untuk layanan vaksinasi di jam 08.00-11.00 WIB.

Proses mungkin sedikit agak lama lebih karena saat itu hanya ada 1 petugas screening dan 1 petugas vaksinator. Ini mungkin juga disesuaikan dengan ketersediaan ruangan juga saya rasa. Tidak masalah.

KIPI

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) masih terasa. Malam harinya, badan terasa agak meriang, tapi tidak parah. Sendiri terasa agak nyeri, tapi ringan saja. Efeknya lebih ke agak susah tidur saja sebenarnya.

Keesokan harinya, cuma terasa badan agak lemas — bisa jadi ini juga karena malamnya kurang tidur — dan kepala agak pusing. Jadi, banyakan dipakai untuk istirahat saja. Demam tidak terasa, suhu badan normal saja.

Tapi, sore harinya, kondisi badan jauh membaik dan sudah bisa beraktivitas normal. Istri saya, malam hari badan hanya terasa sedikit hangat saja, tapi lainnya normal. Bekas suntikan juga hanya terasa pegal ringan saja ternyata.

Pembayaran Pajak Tahunan Kendaraan Melalui Layanan Drive Thru Samsat Sleman

Hari ini, saya memutuskan untuk melakukan pembayaran tahunan kendaraan roda empat di Samsat . Tahun ini, saya sempat mengunjungi Samsat Sleman untuk mendapatkan salinan faktur kendaraan. Mengenai pembayaran pajak tahunan saya hanya pernah dengar — dan dulu sempat melihat — bisa dilakukan melalui drive thru, yang harusnya menjadi jauh lebih cepat daripada antrian.

Menurut saya, ini solusi yang baik. Jadi, karena ada solusi ini, tidak ada salahnya untuk dicoba saja, bukan?

Persiapan

Saya sempat mencari tahu apakah pembayaran nantinya bisa dilakukan secara non-tunai di loket drive thru. Walaupun sebenarnya bisa, tapi ini dilakukan melalui aplikasi lain — dalam hal ini saya lihat dapat dilakukan melalui aplikasi .

Namun, setelah membaca-baca, ternyata dengan pembayaran ini, ketika di loket malah jadi agak sedikit ribet. Karena kita harus menyertakan print-out bukti pembayaran — yang paling lambat 14 hari sejak pembayaran. Saya belum tahu informasi yang valid seperti apa. Kalau ternyata cukup menunjukkan bukti pembayaran melalui ponsel, tentu akan sangat memudahkan — daripada harus mencetak.

Saya tidak mencari tahu lebih lanjut, tapi memang saya coba buka melalui aplikasi Gojek hanya untuk melihat besaran tagihan saya.

Untuk kelengkapan yang dibutuhkan:

  1. STNK asli
  2. KTP asli, sesuai nama yang ada di STNK
  3. Kendaraan sesuai STNK

Karena saya memilih pembayaran tunai — sepertinya di loket tidak tersedia pembayaran non tunai seperti EDC atau digital wallet — jadi uang tunai sudah disiapkan juga.

Pembayaran

Dari pintu masuk Samsat Sleman, lokasi drive thru berada tidak jauh dari gedung utama. Langsung saja ke arah kiri dari pintu masuk. Antrian drive thru ini jadi satu antara kendaraan roda empat dan roda dua.

Dan, prosesnya sangat cepat. Untuk mempercepat juga, ada sedikit instruksi yang terlihat sebelum sampai ke loket untuk mengeluarkan STNK dari pelindung plastiknya.

Ketika sampai di loket, saya langsung serahkan STNK dan KTP asli. Kemudian petugas melakukan pengecekan dan kasir langsung menginfomasikan jumlah yang harus saya bayar.

Prosesnya mungkin bahkan tidak sampai dua menit. Menurut saya, semua proses ini sangat efisien. Kalau saja ada pilihan pembayaran menggunakan non-tunai di loket, saya rasa akan menambah kenyamanan.

Mendapatkan Salinan Faktur Kendaraan Bermotor

Karena sebuah keperluan, bulan lalu saya harus mengurus proses mendapatkan salinan faktur kendaraan bermotor. Jadi, faktur kendaraan untuk mobil saya — yang katanya seharusnya ada di kartu BPKB — ternyata tidak ada pada tempatnya. Beberapa bulan sebelumnya memang saya melakukan proses balik nama melalu jasa pihak ketiga.

Intinya, dokumen tersebut tidak ada. Berbekal informasi bahwa faktur tersebut bisa didapatkan salinannya di samsat dengan proses yang mudah, jadi saya putuskan untuk mengurusnya.

Karena “alamat baru” pada BKPB ada di , jadi saya disarankan untuk mendatangi Kantor Samsat Sleman. Awalnya agak bingung juga, ke loket mana saya harus melakukan proses ini. Di bagian informasi, saya diarahkan untuk ke salah satu ruangan untuk pengurusan ini.

Setelah saya sampaikan maksud kedatangan saya, saya diminta untuk menunggu pengecekan dokumennya. Ternyata, dokumen saya tidak ada di sana, namun ada di kantor Samsat Maguwo. Setelah diyakinkan bahwa memang dokumen tersebut tidak ada, jadi saya disarankan untuk langsung ke kantor Samsat Pembantu Sleman (Kantor Pelayanan Sleman (Samsat Pembantu)).

Karena hari sudah cukup siang, dan jarak dari Samsat Sleman ke Samsat Maguwo cukup jauh, jadi saya putuskan untuk datang di hari berikutnya.

Salinan Faktur Kendaraan

Di Samsat Pembantu Maguwo, saya langsung diarahkan ke loket 1 yang ada di area layanan utama. Saya sampaikan maksud kedatangan saya dan saya diminta untuk menunggu. Tidak sampai satu menit, saya diinfokan kalau salinan faktur saya ada di Samsat Sleman. Aduh!

Saya sampaikan kalau kedatangan saya ke Samsat Pembantu Maguwo ini atas arahan dari petugas di Samsat Sleman. Setelah berdiskusi singkat dengan cukup santai, dilakukan pengecekan kembali. Mungkin masih terkait alamat yang belum diperbarui atau apa — ini terkait bahwa data BKPB juga sudah berubah alamat –, tapi singkatnya dokumen yang saya butuhkan bisa saya dapatkan. Seluruh proses ini ternyata cukup cepat. Sepertinya tidak sampai 30 menit.

Rekomendasi Jasa Reparasi Kursi Kantor/Kerja di Jogjakarta

Kursi kerja di rumah yang saya pakai memang beberapa kali ganti. Tapi, bukan karena beli melainkan karena saya ada beberapa kursi. Jadi berusaha untuk menemukan kursi yang paling pas. Ada satu kursi dari IKEA yang cukup cocok. Bukan kursi yang empuk dan mewah, tapi secara desain lebih cocok.

Dan, rata-rata kursi memang kurang sesuai untuk saya karena kurang tinggi. Ya, ada sedikit tantangan memang untuk saya yang memiliki tinggi hampir 180cm.

Selain kursi dari IKEA tadi, ada satu buah kursi dengan pegas/hidrolik di rumah, yang dalam kondisi cukup bagus. Masalahnya, pegas/hidrolik tidak berfungsi lagi. Dengan segala hal alasan yang membuat malas untuk mencari solusi, akhirnya kemarin memutuskan untuk mereparasi kursi ini. Targetnya, pegas bisa berfungsi kembali, sehingga kursi bisa lebih tinggi lagi. Walaupun, saya yakin pasti akan tetap kurang tinggi.

Kenapa tidak beli atau mengubah tinggi meja? Saat ini, ini bukan solusi.

Mencari Jasa Reparasi Kursi di Jogjakarta

Catatan

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi pada awal Maret 2021. Pengalaman/hasil mungkin berbeda, namun saya mendapatkan pengalaman dan layanan yang baik, dan dengan senang hati merekomendasikannya.

Setelah melakukan pencarian melalui , saya menemukan beberapa opsi. Saya kontak beberapa layanan melalui /nomor yang tersedia. Dan, hanya satu yang membalas. Saya memang memilih untuk jasa yang tersedia tidak terlalu jauh dari tempat saya.

& sparepart kursi kantor” adalah nama yang saya temukan di mesin pencarian. Lokasinya ada di sisi barat ring road , dan tidak jauh dari tempat saya. Ketika saya hubungi melalui WhatsApp, saya langsung sampaikan apakah bisa dilakukan servis, dengan sedikit menjelaskan masalah di kursi saya.

Alih-alih memberikan jawaban untuk ganti pegas/hidrolik, saya diberi opsi apakah mau “dikunci tingginya” saja. Jadi, tidak bisa naik turun lagi. Solusi ini jauh lebih murah, kalau mau diambil. Dan, pengerjaannya juga lebih cepat. Harganya Rp40.000,- saja kalau service ini. Kalau ganti hidrolik, ada di kisaran Rp180.000,- — tapi ini mungkin bisa berbeda bergantung jenis kursinya.

Tanpa tunggu lama, saya langsung saja janjian untuk datang ke lokasi. Lokasinya agak masuk ke gang, tapi mobil bisa parkir di dekat lokasi atau bahkan kalau agak berat, bisa drop langsung di depannya.

Ternyata yang berkomunikasi di saya adalah pemiliknya langsung, yang belakangan baru saya tahu namanya Mas Hendra. Orangnya ramah, dan memberikan layanan dan informasi yang oke sekali. Ketika datang menjelang jam makan siang, saya memang hanya bertemu dengan dua orang pegawainya. Dan, diminta untuk meninggalkan kursi, untuk diambil nanti. Sebenarnya, saya inginnya langsung dikerjakan, saya tunggu. Tapi, mungkin karena ada antrian, atau yang mengerjakan belum siap.

Sekitar dua jam berselang, saya dihubungi kembali melalui WhatsApp kalau kursi saya sudah siap. Agak sore, saya datang ke lokasi kembali dan langsung ketemu dengan Mas Hendra.

Saya sampaikan saja sebenarnya saya ini butuh kursi ini “lebih tinggi” dari kursi normal. Kondisinya saat saya datang, kursi memang sudah sesuai kondisi aslinya, dan sepertinya sedikit lebih tinggi. Saya tanya, apakah bisa lebih tinggi lagi, ya? Dengan kondisi tetap saja tidak perlu hidrolik, karena lagi-lagi saya tidak perlu terlalu disesuaikan tingginya. Akhirnya diganti lagi besi penyokong kursinya dengan yang lebih tinggi. Setelahnya, saya diminta untuk mencobanya. “Sepertinya ini cukup tinggi, semoga pas,” pikir saya.

Karena ini adalah sparepart terpisah, jadi ada biaya tambahan yang murah juga. Sebenarnya tidak ada patokan, tapi Mas Hendra bilang, Rp10.000,- juga tidak apa-apa. Saya tidak mau, saya akhirnya bayar Rp20.000,-. Kenapa lebih tinggi? Ya, karena saya tidak hanya bayar untuk harga sparepart, tapi juga atas jasanya. I’m buying the good service also!

Jadilah, sore itu saya mengeluarkan biaya total Rp60.000,-. Kalau tanpa ada modifikasi tambahan, total Rp40.000,-. Jadi, kalau memang ini sudah mencukupi, ya harganya sekian. Harga yang sangat oke untuk saya. Apalagi, dengan layanan yang sangat baik.

Sesampai di rumah, saya coba sandingkan dengan meja yang saya miliki. Dan, pas! Posisi duduk lebih nyaman, dengan posisi tangan terhadap meja juga lebih ideal untuk kegiatan bekerja.

Jika tertarik menggunakan layanan ini — bukan hanya servis kursi, tapi termasuk sofa, bahkan kursi barber — silakan langsung ke lokasi di bawah ini.

Service & sparepart kursi kantor
Jalan Sadewo, Gang Sencaki Barat No.85, RT.06/RW.12, Area Sawah, Nogotirto, Kec. Gamping, Kabupaten , Daerah Istimewa Yogyakarta 55292
Telepon/WhatsApp: 0823-4997-1874 (Mas Hendra)

Lokasi dan Harga Pemeriksaan/Tes Swab Antigen di Yogyakarta (Desember 2020)

Dengan adanya kebijakan bagi mereka yang melakukan perjalanan dari/ke beberapa daerah seperti , Bali, dan Yogyakarta mengenai persyaratan untuk melakukan , otomatis pemeriksaan harus upgrade dari yang biasanya rapid test juga sudah cukup.

Kebijakan ini sebenarnya berlaku secara nasional mulai 18 Desember 2020 sampai dengan 8 Januari 2021. Beberapa minggu lalu, saya melihat belum terlalu banyak tempat yang melayani pemeriksaan swab antigen. Namun, beberapa hari terakhir ini, keadaan sudah cukup berubah. Banyak rumah sakit dan laboratorium di Yogyakarta yang akhirnya menyediakan layanan pemeriksaan swab antigen ini.

Berikut beberapa informasi terkait lokasi dan biaya pemeriksaan swab antigen di Yogyakarta.

Perhatian!

Informasi yang tertulis berasal dari berbagai sumber dan valid saat dituliskan. Sangat disarankan untuk selalu melakukan pengecekan informasi/data terbaru dengan menghubungi narahubung rumah sakit, , atau laboratorium tujuan.

Rumah Sakit

Lokasi dan Harga Pemeriksaan/Tes Swab Antigen di Yogyakarta.

Laboratorium

  1. Laboratorium Klinik Parahita
    Alamat: Jl. No.26, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten , Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
    Telepon: 0811 333 21 888 / 0811 333 26 888
    Website: labparahita.com / Surel: [email protected]
    Instagram: @labparahita
  2. INTIBIOS LAB Yogyakarta
    Alamat: Jl. Ngapak – Kentheng No.KM 5, Area Sawah, Banyuraden, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55293 (Google Maps)
    Telepon: 082130001433
    Website: intibioslab.id / Surel: [email protected]
    Instagram: @intibioslab_jogja
  3. Laboratorium Kimia Farma Jalan Adisutjipto
    Alamat: Jl. Laksda Adisucipto No.63A, Ambarukmo, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
    Telepon: 0274-489135
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  4. Laboratorium Kimia Farma Jalan Parangtritis
    Alamat: Jl. Parangtritis No.130, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143 (Google Maps)
    Telepon: 0274-419745
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  5. Laboratorium Kimia Farma Jalan Kaliurang Km. 6
    Alamat: Jl. Kaliurang KM.6 No.48, Purwosari, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55582 (Google Maps)
    Telepon: 0274-885220
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  6. HI-LAB Yogyakarta
    Alamat: Jl. Yos Sudarso No.27, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224 (Google Maps)
    Telepon: 0274-557722
    Website: hilab.co.id / Surel: [email protected]
    Instagram: @hilabjogja
  7. Yogyakarta International Airport (YIA)
    Alamat: Jl. Wates – Purworejo No.Km, RW.42, Area Kebun, Glagah, Kec. Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55654 (Google Maps)
    Telepon: 082220178484
    Instagram: @bandarayogyakarta
  8. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Laboratorium Kesehatan Sleman
    Alamat: Purwosari, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284 (Google Maps)
    Website: labkes.slemankab.go.id / Telepon: 081215083297
    Instagram: @uptdlabkessleman

Biaya dan Ketersediaan Layanan

Untuk biaya, berdasarkan ketetapan Pusat dalam Surat Edaran No HK. 02.02/I/4611/2020 yang dikeluarkan per tanggal 18 Desember 2020, batasan tarif tertinggi pemeriksaan Rapid Test Antigen-Swab sebesar Rp 250.000 untuk Pulau Jawa dan 275.000 untuk di luar Pulau Jawa.

Harga di setiap rumah sakit atau laboratorium mungkin berbeda. Disarankan untuk selalu merujuk ke masing-masing rumah sakit/laboratorium. Kebanyakan info terbaru juga mudah didapatkan melalui profil Instagram.

Sekali lagi, sangat disarankan untuk menghubungi penyedia layanan terlebih dahulu untuk memastikan. Jika ada informasi yang kurang sesuai, atau ada tambahan data, akan dicoba diperbarui dalam artikel ini.

Perjalanan Ke Luar Kota Dengan Kendaraan Pribadi di Masa Pandemi. Kenapa Tidak Naik Pesawat?

Ketika beberapa waktu lalu ada sebuah urusan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan secara jarak jauh di Jakarta, akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri acara terkait pekerjaan di Jakarta pada pertengahan November 2020 lalu. Dan, dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Jakarta dengan kendaraan pribadi, sendiri tanpa teman/supir pengganti.

Mengapa tidak naik pesawat atau kereta saja? Bukankah lebih praktis (dan lebih murah)?

Beruntung, saya tinggal di Yogyakarta, dan rute tujuan perjalanan saya semua masih ada di pulau yang sama, punya beberapa pilihan moda . Sempat memang terpikir untuk memilih antara , atau bahkan . Dua moda transportasi yang paling saya sering gunakan kalau bepergian dari Yogyakarta ke Jakarta (dan sebaliknya).

Barang Bawaan

Perjalanan kemarin, saya berencana akan ada di Jakarta selama sekitar lima hari. Artinya, bawaan saya jelas akan jauh lebih banyak — soal baju saja sudah pasti jumlah jauh berbeda karena selama masa pandemi jadi lebih sering ganti baju. Belum lagi bawaan selain baju seperti laptop yang biasanya saya bawa dalam tas punggung saya.

Dengan banyaknya barang bawaan, otomatis akan berpengaruh terhadap cara mobilitas saya. Saya sempat membayangkan bagaimana bawaan saya harus berpisah sementara ketika saya menggunakan pesawat terbang. Membawa cukup banyak barang bawaan ketika ke Stasiun atau meninggalkan Stasiun Gambir, sudah terbayang repotnya.

Kalau saya naik pesawat, jelas koper saya harus masuk bagasi — apalagi saya akhirnya membawa dua buah koper dalam ukuran medium. Dan, mungkin bisa jadi saya over baggage.

Soal barang bawaan, kali ini pertimbangan saya adalah saya tidak mau terlalu repot membawa, dan saya mengusahakan sebisa mungkin saya berpisah dengan barang bawaan saya.

Jarak, Maskapai, dan Pilihan Waktu Perjalanan

Kalau saya naik pesawat, berarti saya harus terbang melalui Yogyakarta International Airport (YIA), yang jaraknya jauh dari rumah saya. Menurut , lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Dan, saya harus berangkat menggunakan /GoCar dengan biaya mungkin sekitar Rp200.000,-. Padahal, pengalaman terakhir saya menggunakan GrabCar bulan lalu tidak terlalu menyenangkan.

Kalau mau yang lebih murah, saya bisa menggunakan yang lokasi keberangkatan dari salah satu mal di Sleman, tidak terlalu jauh dari rumah. Dan, dari rumah saya tetap harus menggunakan GrabCar atau GoCar.

Untuk ke Jakarta, saya juga perlu untuk memilih maskapai apa yang perlu saya gunakan. Pilihan saya sempitkan kepada dua maskapai: Citilink Indonesia dan . Dan, saya tidak terlalu nyaman dengan jadwal penerbangan yang ada. Apalagi, tidak semua jadwal memberlakukan seat distancing dalam pengaturan kursinya.

Belum lagi bahwa saya harus berada di bandara jauh lebih awal. Ditambah dengan jauhnya jarak ke bandara , paling tidak mungkin saya harus berangkat empat jam lebih awal. Misal saya ambil perjalanan pukul 14.40 WIB, mungkin sekitar pukul 11.00 WIB saya sudah harus meninggalkan rumah. Bahkan, bisa lebih awal kalau saya menggunakan Damri, karena saya tidak dapat memastikan jam berapa Damri akan berangkat.

Kalau saya sudah mendarat di Jakarta, berarti saya masih harus berurusan dengan pengambilan bagasi, keluar bandara, mencari transportasi ke arah Jakarta. Yang, biasanya ini juga memakan waktu yang tidak sedikit.

Soal kereta, sepertinya saya sudah tidak terlalu jadikan opsi sejak awal.

Yang pasti, dari semua pilihan yang ada, saya harus menyesuaikan jadwal. Belum lagi terkait dengan kebutuhan bahwa saya harus membawa dokumen hasil pemeriksaan (rapid test).

Dengan segala pertimbangan ini, perjalanan dengan kendaraan pribadi jadi makin masuk akal. Nah, “masalahnya” adalah: saya belum pernah sekalipun ke Jakarta naik mobil sendirian.

Persiapan dan Biaya

Selain meyakinkan diri sendiri bahwa naik kendaraan pribadi adalah pilihan terbaik, saya juga harus memastikan bahwa perjalanan saya akan aman, kendaraan yang saya gunakan juga dalam kondisi baik. Beruntung, baru sekitar tiga bulan lalu, saya mengganti ban depan mobil saya. Pertengahan Oktober lalu, kendaraan juga melakukan servis berkala. Dan, karena menggunakan kendaran sendiri, jadi mungkin sudah lebih ‘mengenal’ kendaraan ini seperti apa.

Soal rute, saya sempat tanya ke beberapa rekan dan saudara saya. Intinya: lewat tol saja, aman, cepat, dan seharusnya penunjuk jalan pasti jelas. Kalau sudah masuk ke Jakarta, apalagi saya akan melewati rute yang cukup familiar, harusnya tidak masalah sama sekali.

Mengenai biaya, untuk perjalanan dari Yogyakarta dan Jakarta kemarin saya habis sekitar Rp800.000,- untuk tol dan bahan bakar kendaraan saya (Mobilio). Di rest area saya tidak mengeluarkan biaya apapun, karena untuk makanan kebetualan saya sudah membawa bekal yang cukup lengkap, termasuk makanan kecil dan minuman. Biaya ini jumlahnya mungkin cukup besar, apalagi saya cuma perjalanan seorang diri. Jika mungkin berbarengan dua atau tiga orang, pastinya akan jauh lebih hemat.

Namun, jika dihitung saya menggunakan pesawat terbang ke Jakarta, apalagi hari Minggu, kurang lebih biaya untuk perbandingan adalah sebagai berikut:

Kalau ditotal, sekitar Rp1.180.000,-. Jadi, dengan kendaraan pribadi masih bisa sedikit lebih murah. Apakah cukup melelahkan perjalanan? Yang saya rasakan sih tidak begitu melelahkan. Karena justru bisa lebih fleksibel untuk istirahat.

Menengok Protokol Kesehatan COVID-19 di Prime Plaza Hotel Jogjakarta

Selama pandemi, salah satu tempat publik (tertutup) yang sering saya kunjungi adalah supermarket untuk keperluan berlanja, baik yang lokasinya berdiri sendiri atau menjadi satu dengan area lain seperti yang ada di dalam mall.

Khusus untuk area seperti hotel, saya hampir tidak pernah mengunjungi. Apalagi selama pandemi ini saya juga tidak pernah melakukan perjalanan ke luar kota, yang mengharuskan saya harus menginap di hotel. Setelah berbulan, dengan berbagai perkembangan, pelaku bisnis sudah banyak melakukan adaptasi kebiasan baru — saya lebih suka istilah “kebiasaan baru” dibandingkan dengan new normal sebenarnya.

Hotel sebagai salah satu komponen penting dalam dunia juga melakukan adaptasi. Tentu, ini tidak mudah, tapi kalau tidak beradaptasi, mau jadi apa?

Karena sebuah keperluan, beberapa hari lalu saya mengunjungi Prime Plaza Hotel Jogjakarta, sebuah hotel bintang 4 yang ada di Jl. Affandi. Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya menginap di tempat ini. Dan, kunjungan terakhir saya kesana kalau tidak salah tahun lalu, sebelum pandemi untuk sebuah acara yang saat itu hanya memakai lokasi resto saja.

Walaupun tidak sampai menginap, tapi karena kunjungan kemarin saya jadi sedikit menyempatkan untuk melihat bagaimana protokol berjalan di hotel ini.

Ketika memasuki area pintu masuk utama, langsung disambut dengan informasi yang terpampang cukup jelas mengenai beberapa protokol kesehatan yang perlu ditaati oleh setiap penunjung. Ada juga automatic dispenser hand sanitizer, yang bisa digunakan secara contactless. Terakhir, ada QR Code yang perlu dipindai yang setelah saya coba, isinya adalah tautan untuk mengisi beberapa terkait kedatangan.

Hal ini untuk mempermudah perncatatan siapa saja yang masuk ke area hotel, yang tentu saja akan nantinya bermanfaat untuk melakukan contact tracing jika diperlukan. Walaupun, semoga saja tidak perlu ada contact tracing ya… Persis sebelum masuk pintu, ada screening pengecekan suhu tubuh.

Oh ya, kenapa tidak ada tempat cuci tangan secara langsung, ya hal semacam ini selain memenuhi protokol juga secara estetika lebih baik.

Setelah melewati pintu masuk utama lalu belok ke kanan, ada lokasi resepsionis. Selain ada cairan pembersih tangan, alat tulis yang akan digunakan oleh tamu sudah dipisahkan antara yang bersih dan yang yang telah dipakai. Jadi langsung dipisahkan. Jadi, setiap alat tulis yang dipakai otomatis memang selalu dibersihkan. Ini cocok karena alat tulis, selama pengalaman saya check-in di hotel merupakan salah satu benda yang paling sering dipakai bergantian.

Masih di area resepsionis, ada informasi lain bagi tamu terkait beberapa persyaratan/protokol bepergian dengan menggunakan publik. Selain itu, ada lagi juga QR Code lain yang ternyata isinya mengarahkan ke laman untuk mengisi informasi riwayat perjalanan oleh tamu yang akan menginap. Sedikit berbeda dengan yang ada di pintu masuk, karena ketika sudah di resepsionis, besar kemungkinan yang adalah tamu yang menginap. Jadi, formulir ini lebih spesifik untuk tamu menginap.

Sofa tempat duduk yang ada di area lobi juga diubah pengaturannya, sehingga konsep social distancing atau jaga jarak bisa lebih mudah terpenuhi.

Walaupun posisi sudah berjauhan, tapi pengaturan supaya yang duduk tidak berhadapan layak untuk diapresiasi
Pengaturan jaga jarak untuk area sofa yang ukuran lebih besar.

Secara umum, walaupun memang cuma sebentar, bahkan tidak sampai melihat-lihat jauh ke area dalam seperti kolam renang, area gym, dan fasilitas lain, tapi saya cukup nyaman berada disana. Suasana berbeda mungkin bisa terjadi kalau tamu penuh. Tapi, menurut saya hotel merupakan salah satu tempat dimana layanan menjadi yang utama. Jadi, pengaturan dan protokol pasti akan sebaik dan sebisa mungkin untuk dilaksanakan.

Catatan

Walaupun secara umum saya merasa nyaman dan aman ketika berada di sana, ada beberapa detil kecil yang menurut saya pribadi mungkin bisa menjadi catatan. Tentu, ini pendapat pribadi saja.

  1. Informasi jika ditampilkan dengan bahasa mungkin akan lebih mudah dipahami oleh pengunjung. Faktanya, dalam kondisi saat ini mungkin pengunung atau tamu hotel mayoritas merupakan tamu lokal/domestik. Atau jika memang harus dua bahasa, terjemahan dalam Bahasa Inggris tetap bisa ditampilkan, tapi bahasa Indonesia tetap yang utama.
  2. Karena saya memang benar-benar hanya berada di seputar area lobby, jadi yang saya lihat memang tidak banyak seperti bagaimana tempat publik seperti di kolam renang, atau pusat kebugaran, termasuk apakah ada perubahan atau tidak tentang kondisi kamar. Tapi, melihat dari bagaimana semuanya terlihat di area depan, sepertinya standar protokol kebersihan jelas menjadi perhatian khusus.

protokol keamanan dan standar kesehatan bisa juga diliaht melalui video di bawah ini. Dalam video ini juga terlihat kalau untuk sterilisasi kamar juga menggunakan lampu UV-C.

Kontak dan Lokasi

Karena berada di tengah kota dan di salah satu jalan utama di Jogjakarta, hotel ini dapat dengan mudah ditemukan. Akses masuk kendaraan juga sangat mudah.

Prime Plaza Hotel Jogjakarta
Kompleks Colombo, Jl. Affandi, Gejayan, Mrican, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten , Daerah Istimewa 55281 (Google Maps)
Telepon: 0274 584 222
Pemesanan: 0817 9575 292 atau surel [email protected]
: jogja.pphotels.com
: @primeplazahoteljogjakarta

Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Merapi

Sejak perubahan status menjadi Siaga (Level III) minggu lalu, kalau dari tempat tinggal saya masih terlihat aman saja. Saya secara acak juga mengecek live streaming Gunung Merapi juga masih terpantau tidak ada yang mengkhawatirkan. Semoga tidak.

Namun, ini karena mungkin area tempat tinggal saya masih masuk dalam jarak yang cukup aman. Dari informasi warga di perumahan, di tahun 2010 lalu, memang kawasan perumahan tempat tinggal terkena dampak dari abu vulkanik, walaupun tidak parah. Saat ini sudah ada beberapa diskusi singkat yang menyarankan sebaiknya juga bersiap untuk bahan seperti plasti untuk menutup lobang angin atau ventilasi udara biar aman.

“Kebetulan”, tempat tinggal saya memang menghadap ke arah utara, ke arah Gunung Merapi. Jadi kalau angin berhembus dari arah utara (ke arah selatan), memang sudah pasti akan melewati kawasan perumahan.

Pagi ini, ada informasi mengenai Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Merapi. Dari laman peta, informasi tentang peta KRB ini adalah sebagai berikut:

Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Merapi, zona terlarang saat ini dan prakiraan area landaan awan panas dalam status Siaga (Level III) sejak diberlakukan pada 5 November 2020. Dapat dibuka dengan aplikasi pemetaan seperti . Aktifkan GPS di gawai pintar anda untuk mengetahui posisinya terhadap kawasan rawan bencana Gunung Merapi.

Sumber peta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik .

Narasi oleh Kelompok Studi Kawasan Merapi (KSKM).

Sumber: Deskripsi Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Merapi.

Kenaikan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) 2020 di Yogyakarta

Kenaikan sampai 400%, walaupun tidak sampai 100 wajib .


Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan salah satu agenda rutin yang (sebaiknya) jangan dilewatkan. Tahun ini, seperti tahun sebelumnya, saya dan keluarga juga harus bayar pajak.

PBB tahun 2020 yang menjadi kewajiban kebetulan ada di kota yang berbeda: dan . Untuk Sleman, pajak dikenakan atas lahan kosong tanpa bangunan.

Yang kedua, adalah PBB untuk sebidang tanah dengan ada bangunan di atasnya yang lokasinya ada di Yogyakarta. Adik saya yang awalnya kaget karena nominalnya terasa sangat tinggi. Usut punya usut, ternyata untuk tahun 2020 ini,

400% untuk 51 Wajib Pajak

Harian melalui artikel “Disebut seperti VOC, Pemkot Jogja Jelaskan soal Kenaikan PBB hingga 400%” menyebutkan beberapa detil perubahan:

  • Tidak mengalami perubahan: 30,4% atau 28.985 wajib pajak
  • Kenaikan kurang dari 100%: 54,8% atau 52.229 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 200%: 11,93% atau 11.369 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 300%: 1,7% atau 1.619 wajib pajak
  • Kenaikan sampai 400%: 0,16% atau 150 wajib pajak
  • Kenaikan lebih dari 400%: 0,05% atau 51 wajib pajak

Tentu kenaikan ini sangat terasa, apalagi di masa pandemi sekarang ini. Adik saya menghubungi saya perihal ini, dan setelah saya hitung, ternyata kenaikan sekitar 100% lebih sedikit dibanding tahun lalu.

Duh.

Program Permohonan Keringanan

Walaupun kota Yogyakarta punya permohonan keringanan, tapi kami melewatkan kesempatan ini. Ya, karena melewatkan informasi ini. Padahal ini sudah berlangsung cukup lama, dan baru berakhir pada Agustus 2020. Saya sendiri sekarang tinggal di Sleman, jadi berita semacam ini agak luput dari perhatian.

Dengan berbagai pertimbangan, karena juga mobilitas juga penuh risiko, dan memang kewajiban harus dilaksanakan, jadilah kami putuskan untuk membayarnya saja.

Membayar Pajak

Sedikit beruntung karena pembayaran PBB untuk kota Yogyakarta (dan propinsi DIY) dapat dilakukan dengan lebih mudah. Membayar ke DIY sepertinya bukan opsi yang menarik saat ini. Pilihan antara atau .

Dan, saya putuskan untuk melakukan pembayaran melalui Tokopedia. Kenapa tidak melalui Gojek? Karena — setahu saya — riwayat pembayaran di Tokopedia lebih baik dariipada di Gojek. Bukti transaksi di Tokopedia terkirim ke surel secara langsung, jadi lebih mudah diarsipkan. Ini salah satu pertimbangan saya.

Kalau kenaikan PBB di Yogyakarta seperti itu? Bagaimana dengan kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) di Yogyakarta atau Upah Minum Propinsi (UMP) Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 2020?

Nggg….

COVID-19: Kabupaten Sleman Tanpa Zona Hijau Per Akhir Juli 2020

Sudah sekitar 3,5 tahun ini saya menjadi warga , walaupun KTP masih . Walaupun angka kasus di pada umumnya, dan di Kabupaten Sleman pada khususnya tidak sebanyak propinsip lain seperti atau Jawa Timur, namun tetap saja, angkanya terus bertambah.

Hari ini, Kabupaten Sleman tidak lagi memiliki zona hijau, karena ditemukan kasus positif di Kecamatan Cangkringan — yang sampai dengan awal Juli 2020 tidak memiliki kasus.

Walaupun memang, tidak serta merta semua kecamatan saat ini berada dalam zona merah. Sempat juga di awal akhir Juni 2020 dilaporkan bahwa ada penurunan jumlah penambahan kasus, yang menjadikan tidak adanya kecamatan dalam zona merah di Sleman.

Mengenai definisi zona:

  • Zona Merah: Jika ada salah satu desa atau lebih di wilayah kecamatan dalam satu bulan terakhir terdapat penularan setempat atau transmisi lokal.
  • Zona Oranye: Jika ada lebih dari satu desa di wilayah kecamatan terdapat kasus positif aktif.
  • Zona Kuning: Jika ada salah satu desa di wilayah kecamatan pernah atau masih ada kasus positif.
  • Zona Hijau: Jika tidak pemah ada kasus positif di desa wilayah.

Semoga pertambahan kasusnya semakin terkendali. Stay safe!

(Akan) Pindah Rumah

Puji Tuhan, di akhir Januari 2018 lalu, setelah mencoba melakukan pencarian properti di Jogja dengan segala macam tantangannya, akhirnya saya dan istri diperkenankan untuk melewati satu langkah dalam usaha mencari rumah pertama sebagai hunian di .

Lokasi

Kami akhirnya menemukan lokasi hunian dengan fasilitas yang kami rasa cocok di daerah utara kota Jogja. Awalnya, justru unit yang ada di salah satu kawasan perumahan ini tidak masuk dalam rencana. Ketika mengunjungi salah satu rumah yang kami incar, ternyata rumah tersebut cukup jauh dari bayangan kami dari sisi disain, lokasi, dan fasilitas.

Saat itu, agen yang menemani kami menanyakan apakah tertarik untuk melihat-lihat rumah yang saat ini sedang dijual di salah satu kawasan perumahan di Jogja utara. Iklan berupa baliho tentang kawasan perumahan itu sering saya lihat, cuma tidak terpikir sama sekali. Apalagi, sekitas harga yang terlihat memang cukup tinggi.