Tiga Bulan Menggunakan Mac Mini M1

Tiga bulan yang lalu, saya dan istri memutuskan untuk membeli Mac Mini M1 untuk mendukung pekerjaaan.

Secara umum, tentu performa tidak mengecewakan sama sekali. Istri saya sebenarnya lebih sering menggunakannya, karena selain saya lebih sering bekerja di luar, pekerjaan saya masih sangat memungkinkan untuk saya selesaikan dari saya — yang tahun ini sudah berusia 9 tahun.

Ulasan ini mungkin akan mengecewakan kalau ingin mendapatkan ulasan dari sisi teknis. Namun, kalau dari sisi bagaimana membantu pekerjaan dan juga kenyamanan, Mini ini bisa dikatakan salah satu best buy.

Senyap. Kalau sebelumnya suara kipas dari — kadang dari dua laptop sekaligus — terdengar cukup jelas, sekarang bisa dikatakan tidak ada lagi. Ya, tentu saja masih ada kalau saya sedang bekerja di Macbook Pro lama milik saya. Hehe…

Cepat. Untuk poin ini, istri saya sepertinya punya definisi yang sesuai: “Jadi terasa lebih pintar ketika kerja dan coding“.

Selain itu, sepertinya belum ada yang perlu dikeluhkan.

Apple Mac Mini

Bulan Januari ini, saya memutuskan untuk membeli sebuah Mini, yang mungkin akan menggantikan yang ada di rumah. Mungkin “menggantikan” bukan kata yang paling tepat saat ini, karena laptop yang ada sebenarnya juga masih bisa digunakan.

Pertimbangan kenapa akhirnya membeli Mac Mini memang cukup banyak. Beberapa MacBook yang ada — baik punya saya ataupun istri — usianya sudah cukup lama. Punya saya mungkin adalah yang paling lama. 13″ sudah berusia lebih dari 10 tahun, dan yang MacBook Pro 15″ (Retina Display) sudah hampir berumur 9 tahun.

Istri juga menggunakan MacBook yang sudah cukup lama usianya. Jadi, secara singkat ada beberapa “masalah” yang agak mengganggu:

  1. Dukungan sistem operasi yang terhenti. Walaupun, hampir semua kebutuhan aplikasi masih bisa terpenuhi, tapi ada beberapa aplikasi yang cukup esensial sudah tidak didukung oleh versi sistem operasi yang cukup lama;
  2. Performa mesin yang mulai agak kepayahan dengan aplikasi-aplikasi yang ada saat ini. Tak jarang mesin harus bekerja dengan lebih keras, dengan dibantu oleh kipas yang juga bekerja dengan tak kalah keras;

Mungkin kedua hal tersebut menjadi pertimbangan utama. Awalnya, sempat juga ingin membeli laptop saja, tapi ide ini akhirnya batal juga, karena:

  1. Pekerjaan kebanyakan akan ada di rumah. Jadi, sebuah “” mungkin akan lebih cocok;
  2. Kalau laptop, agak susah untuk gantian;
  3. Biaya yang mungkin akan muncul juga perlu diantisipasi. Selama menggunakan MacBook, saya pernah mengalami beberapa masalah/perbaikan seperti penggantian baterai, charger yang harus ganti karena kabel rusak/aus, papan ketik yang mati — yang akhirnya harus diganti semua — dan beberapa masalah lain. Nah, biaya penggantian untuk perangkat-perangkat yang rusak itu juga cukup lumayan juga;
  4. Kalau terpaksanya harus bekerja di luar rumah, saya rasa laptop yang ada juga masih bisa digunakan, atau menggunakan .

Pilihan Konfigurasi

Agak bingung juga awalnya mengenai konfigurasi yang saya pilih, RAM 8GB atau 16 GB, 256GB atau 512GB? Pilihan akhirnya jatuh ke konfigurasi RAM 16 GB dan storage 512GB. Beberapa pertimbangan saya:

  1. Mac Mini ini akan cukup lama saya pakai. Paling tidak minimal dalam 5-6 tahun ke depan, atau bahkan lebih. Saya rasa ini alasan yang masih sangat masuk akal, mengingat produk (MacBook, , dan iPad) yang saya gunakan semuanya berumur panjang.
  2. Antisipasi bahwa nanti dengan perbaruan sistem operasi, dan banyaknya aplikasi yang mungkin akan lebih membutuhkan tenaga lebih banyak, RAM yang tinggi mungkin menjadi pertimbangan yang masuk akal.
  3. Media penyimpanan sebenarnay bisa juga dengan tambahan ruang penyimpanan eskternal. Tapi, artinya akan ada tambahan barang dan kabel lagi. Juga, karena ini akan dipakai bersama dengan istri, termasuk juga untuk hal-hal teknis saya (dan istri juga), jadi storage perlu menjadi pertimbangan.

Untuk pembelian, saya melakukan transaksi pembelian melalui , setelah membandingkan beberapa harga produk dan menanyakan ketersediaan stok. Beruntung, saya mendapatkan harga dan pilihan konfigurasi yang sesuai.

Semoga, produktivitas juga bertambah.

Ulasan Monitor LED Dell S2721DS 27 Inchi

Beberapa waktu setelah saya bekerja dari rumah, saya sempat terpikir untuk memiliki sebuah monitor yang berukuran agak besar untuk kenyamanan bekerja. Saya sempat gunakan juga sebenarnya “televisi” sebagai monitor, tapi tentu saja ini bukan pilihan yang bijak.

Akhirnya, setelah satu tahun lebih, saya memutuskan untuk membeli sebuah monitor yang akan saya gunakan bersama dengan 15″.

Catatan:

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan produsen monitor, maupun layanan lain yang disebutkan dalam artikel ini. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Karena sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan monitor, awalnya saya agak bingung harus memulai pencarian saya dari mana. Akhirnya, saya lemparkan pertanyaan sekaligus meminta rekomendasi melalui linimasa saya. Berikut beberapa balasan rekomendasi, atau paling tidak yang sedang dipakai:

  1. S2721DS
  2. ThinkVision T27P10
  3. Dell s2721QS
  4. Thinkvision E24-20
  5. LG 24” 4K 24UD58-B

“Beruntung” tidak terlalu banyak rekomendasi yang bisa membuat saya bisa tambah bingung menentukan pilihan. Awalnya, saya berpikir untuk membeli yang 24″ karena sudah cukup besar. Ternyata, beberapa rekan yang kesehariannya bekerja dengan monitor eksternal lebih merekomendasikan untuk ukuran 27″.

Untuk mempermudah pilihan, saya menentukan anggaran paling tinggi Rp4.000.000,-. Dan, setelah membaca beberapa ulasan, melihat ulasan dari pengguna lain, saya memutuskan untuk membeli Dell S2721DS.

Spesifikasi

Berikut spesifikasi dasar untuk Dell S2721DS:

  • Ukuran panel: 27 inchi
  • Tipe panel: IPS
  • Resolusi: QHD 2560 x 1440 @ 75 Hz
  • Aspek rasio: 16:9
  • Konektor: 2x HDMI 1.4, 1x DP1.2
  • Daya: 19 watt (sleep/standby: 0,3 watt)

Spesifikasi lengkap dapat dilihat di situs Dell.

Pembelian

Awalnya saya berniat untuk membeli produk ini secara langsung di toko komputer. Namun, ternyata barang ini tidak banyak bisa saya temukan. Saya tanyakan ke salah satu teman saya yang juga sudah memiliki produk ini, ternyata barang sedang tidak ada dalam stok, dan harga saat ini lebih tinggi dibanding saat dia membelinya.

Ingin Mencoba Laptop Windows

Sudah sekitar 10 tahun saya menggunakan keluaran dari , setelah berpindah dari laptop dengan sistem operasi . Seingat saya, laptop terakhir saya adalah Toshiba dengan sistem operasi Windows 7. Sudah sangat lama, tentu saja. Sejak saat itu, saya belum pernah berpindah ke laptop (atau piranti lainnya) yang menggunakan sistem operasi Windows.

Menggunakan laptop dari Apple, saya berpindah dari Macbook Pro 13″ ke Macbook Pro 15″ (Retina Display). Dan, masih nyaman saja. Bahkan, laptop Macbook Pro 15″ ini juga masih saya pakai sebagai laptop utama untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, beberapa kali melihat ulasan tentang laptop dan tentu saja perkembangan sistem operasi Windows saat ini, saya tergoda untuk mencoba laptop selain keluaran Apple ini. Secara spesifikasi dan jenis, tentu saja saat ini sudah sangat baik. Harga mungkin juga bersaing, pilihan juga makin banyak.

Apalagi, sistem operasi Windows tentu sudah sangat jauh berkembang ke arah yang lebih baik. Sebenarnya, saat ini saya cukup optimis bahwa pekerjaan saya sehari-hari bisa dilakukan di Windows.

Saya belum tahu secara spesifik merek laptop yang saya mau. Tapi, spesifikasi untuk bisa bekerja dengan nyaman, daya tahan baterai bagus, layar oke, saya rasa juga umum untuk menjadi pilihan.

Atau, ada yang mungkin akan memberikan satu untuk saya? Haha!

Perbaikan Masalah MacBook Pro Tidak Bisa Mengisi Daya

Awal Januari ini, akhirnya setelah sekitar 1 bulan MacBook Pro saya harus ke servis, saya sudah kembali ke tangan saya dengan kondisi baik. Masalah yang muncul terkait dengan daya yang tidak masuk melalui charger. Jadi, ketika diisi daya, MacBook tidak merespon sama sekali.

Awalnya, saya ingin sekalian melakukan penggantian baterai. Tapi, sepertinya ada sedikit kesalahpahaman informasi yang mengakibatkan baterai ternyata tidak diganti. Walaupun kondisinya memang sudah tidak ideal, tapi setelah saya terima, daya tahan baterai masih bisa dibilang mencukupi. Apalagi, saya hampir selalu bekerja di rumah, jadi tidak ada kebutuhan spesifik harus bekerja di tanpa charger.

Soal biaya, pengecekan dan perbaikan kemarin biaya Rp1.650.000,-.

iPad Menggantikan Laptop MacBook Pro (untuk Sementara)

Mulai hari Senin lalu, saya akhirnya akan mencoba untuk menggunakan iPad sebagai piranti utama saya untuk bekerja, menggantikan saya yang saat ini ada di center karena kendala terkait baterai.

Jadi, MacBook saya yang sudah berumur tujuh tahun lebih tersebut tidak dapat diisi daya. Sebenarnya kejadian sudah agak lama. Terakhir, pengisian daya sudah sangat lambat, dan indikator baterai menampilkan tulisan “Service Recommended”. Puncaknya, ketika satu atau dua minggu lalu mati , posisi baterai sudah benar-benar hampir habis.

Masih bisa saya hidupkan, tapi indikator baterai selalu dibawah 10%, dan tetap tidak mau diisi baterai. Saya sempat juga ganti charger, tapi tidak berhasil juga. Jadilah, akhir pekan lalu benar-benar laptop tidak bisa menyala.

Saya sempatkan cek riwayat service sebelumnya, kali terakhir melakukan penggantian baterai ternyata sudah sekitar empat tahun lalu. Karena memang saya butuh untuk laptop saya berfungsi normal, saya putuskan untuk melakukan penggantian baterai di salah satu gerai service produk di bagian utara. Ketika saya serahkan, saya minta untuk dilakukan pengecekan terlebih dahulu. Apakah ini murni karena butuh ganti baterai, atau ada sebab lain. Ya, mungkin bisa dimaklumi karena laptop tersebut sudah cukup berumur.

Apakah iPad sanggup menggantikan MacBook Pro?

yang saya miliki sering saya gunakan untuk kegiatan bekerja, namun banyak fokus untuk mengetik, dan membalas surel. Untuk aktivitas menggunakan aplikasi di Google Workspace (Docs, Sheets, Calendar, Slides), Trello, Telegram, dan lainnya di peramnah, tidak ada masalah sama sekali. Untuk menggunakan aplikasi seperti Microsoft Word, Microsoft Excel, dan Powerpoint juga tidak ada masalah sama sekali.

Mungkin sedikit masalah ketika saya harus masuk ke text , atau aplikasi seperti Sequel Pro, dan aplikasi penyuntingan gambar yang walaupun sederhana, tapi tetap saya perlu gunakan. Oh ya, untuk aplikasi misalnya , di laptop saya cukup sering untuk membuka dua berkas sekaligus. Hal ini masih cukup mudah dilakukan di iPad, paling tidak saat ini.

Untuk rencana servis, diperkirakan mungkin bisa sampai dua minggu, tergantung nanti hasil pengecekan. Tapi, karena baterai juga harus pesan dulu, jadi paling cepat diperkirakan prosesnya satu minggu saja.

Ya, mari kita lihat seminggu ini.

iPad Pro 2018

Dengan berbagai pertimbangan, akhir 2019 lalu saya memutuskan untuk membeli perangkat yang — sesuai dengan alasannya — dapat menunjang pekerjaan saya, yaitu Pro 2018. Dan, dengan beberapa pertimbangan juga, saya memilih warna Space Gray, layar ukuran 11 inchi, dengan kapasitas penyimpanan sebesar 256 GB. Untuk konektivitas, saya memilih yang Wi-Fi (non selular).

Sebenarnya saya sempat ragu antara yang Wi-Fi saja, atau dengan selular. Kalau dengan selular, artinya saya harus mengalokasikan kartu sim untuk tersebut. Dan, kalau ingin mendapatkan manfaat yang maksimal, kartu sim harus memiliki paket . Berarti, ada tambahan biaya lagi untuk koneksi . Padahal, sehari-hari, saya hampir selalu terhubung ke jaringan internet (di rumah, maupun di kantor). Pun, kadang harus berada di luar, jaringan internet sepertinya tidak akan terlalu menjadi masalah.

Kalaupun harus memerlukan koneksi internet, saya bisa melakukan tethering ke ponsel saya. Jadi, versi Wi-Fi saja saya pikir sudah mencukupi. Untuk aksesories, saya putuskan untuk menggunakan generasi kedua, dan Apple Smart Keyboard Folio. Salah satu yang ingin saya tuju adalah perangkat ini bisa memenuhi kebutuhan pekerjaan yang kebanyakan saya lakukan di saya ( 15 inchi, Retina Display).

macOS Catalina

Kemarin, saya melakukan perbaruan sistem operasi di saya dari macOS High Sierra ke macOS Catalina. Dengan begitu banyak fitur dan perbaikan yang ditawarkan, sebenarnya tidak terlalu banyak fitur yang saya akhirnya manfaatkan.

Beberapa highlight mengenai yang baru di bisa dilihat dalam video dibawah ini. juga menyediakan halaman khusus mengenai apa yang ditawarkan oleh sistem operasi versi terbaru mereka.

Saya sendiri saat ini hanya menggunakan dua produk Apple dan saya bukan termasuk yang ingin melengkapi diri dengan produk terbaru dari Apple. MacBook Pro Retina 15″ saya keluaran mid-2012, dan ada sebuah iPad Mini 2 yang tidak mendapatkan dukungan iOS 13. Namun, saya mungkin termasuk yang sebisa mungkin memperbarui aplikasi atau sistem operasi — jika memang masih bisa diperbarui.

Perbaruan sama seperti proses sebelumnya. Sempat saya ragu, apakah saya perlu menunggu terlebih dahulu untuk memperbarui atau langsung saja. Kemungkinan terburuk paling ada beberapa aplikasi yang belum diperbarui jadi tidak dapat digunakan.

Musik, podcast, dan TV

Salah satu perbaruan yang cukup besar ada pada fitur . Namun, sepertinya tidak ada yang akan saya pakai. Untuk musik — termasuk mendengarkan , saya lebih sering mendengarkan (dengan berlangganan Spotify Premium). Kalau menonton film atau video, pilihan saya ke Netflix dan YouTube. Bagi saya, layanan yang saya pakai tersebut sudah mencukupi kebutuhan saya.

Photos, Notes, Reminder

Aplikasi , Notes, dan Reminder juga mendapatkan perbaikan. Namun, saya saat ini sudah cukup nyaman dengan menggunakan Photos. Saya hampir tidak menyimpan foto — dari kamera ponsel — di MacBook. Semua langsung saya unggah ke Google Photos. Untuk pencatatan, saya paling sering masih menggunakan Google Keep. Reminder saya jarang gunakan. Kalaupun perlu reminder paling hanya berupa alarm atau saya buat saja di Google .

Jadi, semua perbaruan terkait fitur diatas sudah cukup terfasilitasi oleh layanan Google di ponsel Android. Soal sinkronisasi juga tidak ada masalah sama sekali.

Bermacamnya Merek Barang Elektronik

Saya bukan tipe orang yang hanya terpaku kepada satu merek saja untuk kebutuhan barang sehari-hari, apalagi untuk barang .

Kalau untuk beberapa produk fesyen, mungkin ada yang spesifik, karena model/jenis yang memang paling sesuai. Namun, dari beberapa barang elektronik untuk penggunaan pribadi maupun di rumah, ternyata cukup banyak jenisnya.

  • , saya menggunakan 15″ — pengganti MacBook Pro 13″. Saya menggunakan produk dari baru sekitar taruh 2010. Khusus untuk laptop, saya pakai produk Apple
  • Ponsel, seri F7 menjadi pilihan saya. Untuk tablet saya kadang masih menggunakan
  • Televisi, menggunakan produk dari SONY
  • Mesin cuci, menggunakan produk dari
  • Lemari es dari LG
  • Pendingin ruangan pakai Sharp dan

Sangat macam-macam ternyata.

Karabiner MacOS

Karabiner, aplikasi untuk memodifikasi tata letak kibor ini cukup bermanfaat bagi saya saat ini. Karena, tombol Shift kiri di saya tidak berfungsi. Saat ini, saya “menukar” tombol Shirt kiri dengan tombol Function (fn).

Upgrading to macOS Sierra

macOS Sierra

I love keeping everything updated on my , from the operating system, and also the applications. I just updated to macOS Sierra — the latest operating system by . I upgraded from OS X El Capitan. This post is posted after the .

Preparation

On my Mac, I installed all upgraded applications. Some applications already released the update to make them work with . About my Mac, it’s 15″ (Retina, Mid 2012) with 2.3 GHz Intel Core i7 processor and 8 GB 1600 MHz DDR3 of memory.

It’s highly recommended to backup everything. The simplest way is probably using Time Machine. But, I decided not to backup using Time Machine. I copied the important files to my external drive. It takes time, but having everything backed up is a good scenario.
Before hitting the button, this was my setup:

Why I Pick Telegram as My Primary Messaging Platform?

Last year, I mentioned that I used Telegram and I enjoyed it. Been using for more than a year, I feel that it’s much better than the other messaging platforms. Well, I’m not using that many platforms to connect with other friends or colleagues if I consider the other options like LINE, Facebook Messenger, , and many more. But, why Telegram?

Since I do not experience all messaging apps, I know that some other apps might be better. For now, I’m still considering that Telegram is the perfect option (for me) for some reasons.

Cross-platform and Multiple Sessions

Currently, I have multiple devices I use on my daily basis. Well, not really daily, but I usually switch between devices. I have 15-inch MacBook Pro Retina, 5, iPad 3rd generation, and Oppo Find 7. I have Telegram installed in those devices. It makes me stay connected. I can easily be in the conversation with friends, and especially colleagues. It’s flexibility to have multiple active session is my favorite!

Features

Telegram offers great set of handy . Go to Telegram’s website for complete features, but here are some of favorite features:

  • File made easy. I can share various types of files, not only , videos, but also PDFs, packages (yes, I use this a lot at work), spreadsheets, or any other document types.
  • API. It can be integrated easily to make useful . I will give some examples in the bottom part of this article.

Simple, fast, and lightweight

I like it’s simplicity. It helps me a lot in communication. I feel that it’s fast, a core feature that a messaging app needs. Of course, there are some extended features like stickers — even we can make our own stickers, bots (hello, @BotFather), animated GIF.

Bots

It’s a Telegram account and operated by machine.

Bots are simply Telegram accounts operated by — not — and they’ll often have AI features. They can do anything — teach, play, search, broadcast, remind, connect, integrate with other services, or even pass commands to the Internet of Things.

The other one is an inline bots.

With the new inline mode, bots become omnipresent and can be used as a tool in any of your chats, groups or channels – it doesn’t matter, whether the bot is a member or not. Inline bots can help you with dozens of different tasks, like quickly sending relevant GIFs, pictures from the Web, YouTube videos, Wikipedia articles, etc.

At work, some of my colleagues made some handy tools based on this platforms.

Microsoft Surface Book dari Microsoft

Microsoft baru saja meluncurkan sebuah laptop baru dengan nama Microsoft Surface Book. Walaupun sudah sekitar lima tahun saya menggunakan produk MacBook dari (sekarang menggunakan 15″ Retina Display sebagai pengganti MacBook Pro 13″), tapi produk baru ini terlihat sangat menarik.

Tentang sendiri, saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya, terutama dari sisi produk perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (). Produk ponsel terakhir dari Microsoft yang saya beli adalah Microsoft Lumia 535. Untuk software, saya menggunakan produk Office 365 dalam keseharian mendukung pekerjaan saya yang banyak berurusan dengan pembuatan dan mengulas dokumen proyek, berselancar, dan membuat presentasi. Saya sendiri mulai menggunakan Office 365 sejak tahun 2014.

msf-srfcbook-1824810-2841-02841


Saya lihat spesifikasi Microsoft Surface Book di situs Microsoft, ternyata spesifikasi dan fiturnya sangat bagus! Walaupun, secara harga — dengan konversi Dollar Amerika terhadap Rupiah saat ini — cukup tinggi. Dalam situs tertulis USD 1,499. Dengan asumsi Dollar Amerika setara dengan Rp 14.000,– maka harganya akan mulai berkisar Rp 20.000.000,-

Spesifikasi

Beberapa spesifikasi dan fitur yang ditawarkan dan sepertinya menarik:

  • Dimensi: 12.30″ x 9.14″ x 0.51 – 0.90″ (312.3mm x 232.1mm x 13.0 – 22.8mm)
  • Media penyimpanan Solid state drive (SSD) dengan opsi 128GB, 256GB, 512GB, atau 1TB.
  • Memory: 8GB atau 16GB RAM
  • Prosesor: 6th Gen Intel® Core i5 atau i7
  • Berat: Mulai dari 3.34 pounds  atau setara 1,516 grams termasuk papan ketik
  • Tampilan:  Layar 13.5″ PixelSense display, resolution: 3000 x 2000 (267 PPI), aspect ratio: 3:2, touch: 10 point multi-touch
  • tahan baterai sampai 12 jam memutar berdasarkan percobaan yang telah dilakukan.

Walaupun belum pernah menggunakan secara langsung, tapi membaca ulasan tentang produk Microsoft Surface Book dari beberapa situs dibawah ini, sepertinya produk ini sangat menarik.

Delete Old Devices Backup on OS X to Reclaim Disk Storage

One of the routines relate to my is to keep everything organised. This includes folders management, removing unused files or installing/uninstalling applications, etc.
For disk usage checking purpose, I use OmniDiskSweeper. Yes, I also have Macpaw’s CleanMyMac 2, but OmniDiskSweeper will do a simple and specific task as mentioned on its :

OmniDiskSweeper is really great at what it does: showing you the files on your drive, in descending order by size, and letting you decide what to do with them.

One of the directories using lots of was ~/Library/Application Support/MobileSync/Backup/. This directory stores the backup of the devices. I have and also iPhone. I only have 250 GB of storage configuration for my , and the backup consumes tens of GB.
iTunes Devices Preferences
To remove the unnecessary backup files, open , choose Preferences, and select the Devices menu. There are some old backups that I think safe enough to be removed. So, I did that. So, I only keep the latest backup for now.
odw-183581841-20851-0825
The backup solution is pretty easy and straight forward. Even I don’t regularly synchronised my files, in most cases I only backup the media files especially . And, I prefer to use Capture to save the /videos to the folder I wanted.

Ulasan Ponsel Microsoft Lumia 535 Dual SIM

Microsoft, sebagai perusahaan yang mengakuisisi Nokia, mengeluarkan produk ponsel pertama yang menghilangkan identitas “”, yaitu 535. Jadi, tidak perlu bingung mengapa dulu ada istilah ‘Nokia Lumia’, namun nama Lumia sendiri sekarang tidak disandingkan dengan ‘Nokia’.

Microsoft Lumia 535

Pertengahan Desember 2014 ini, saya memutuskan untuk membeli Lumia 535. Produk Lumia 535 ini saya beli melalui pre-order di Blibli dan saat itu saya mendapatkan penawaran harga sekitar Rp 1.250.000,00 (pembayaran menggunakan ). Saya memang cukup lama tidak menggunakan produk Nokia Lumia/Microsoft (sekarang Microsoft Lumia). Sehari-hari, saya sendiri menggunakan produk Apple (iPhone 5, iPad 3, dan MacBook Pro 15″ Retina Display), dan juga (OPPO R819). Jadi, secara sistem operasi di ponsel, saya sehari-hari menggunakan iOS dan Android.

Spesifikasi dan Disain

Untuk spesifikasi, saya tidak akan terlalu membahasnya disini. Ulasan lengkap tentang spesifikasi teknis Lumia 535 bisa dilihat langsung di situs Microsoft. Beberapa informasi singkat tentang spesifikasi dasar yang mungkin perlu dilihat adalah:

  • Mendukung dual SIM
  • Ukuran layar 5 inchi
  • Sistem operasi: Windows Phone 8.1 (Lumia Denim)
  • Kamera utama dan kamera depan dengan resolusi 5 MP
  • Dimensi: panjang: 140,2 mm, lebar: 72,4 mm, tebal: 8,8 mm, dan berat: 146 gram
  • Resolusi layar: qHD (960 x 540)
  • RAM: 1 GB
  • Memory internal: 8 GB. Dapat ditambah dengan MicroSD sampai dengan 128 GB.

Pilihan warna cukup beragam sesuai dengan selera yaitu hitam, putih, oranye, hijau, dan biru. Saya sendiri memilih warna oranye. Untuk finishing material casing adalah dengan finishing glossy. Secara disain, saya menyukainya. Walaupun dari sisi ukuran bukanlah yang paling kecil, dan paling tipis, namun secara keseluruhan dari sisi disain tidak mengecewakan. Paling tidak, masih cukup nyaman untuk dipegang dengan satu tangan. Untuk yang berjari agak pendek, mungkin akan terasa agak kurang nyaman dengan dimensi yang ditawarkan.