Tiga minggu sudah aktivitas untuk berada di rumah dalam menerapkan social distancing saya jalani, sebagai salah satu usaha untuk mengindari persebaran COVID-19. Walaupun konsep bekerja dari rumah (work from home) atau bekerja jarak jauh (remote working) sudah bukan hal baru, namun kali ini sangat berbeda.

Alih-alih bekerja dari rumah, yang sering terjadi justru ini adalah momen “berada di rumah, dan berusaha kerja”, karena kondisinya memang ‘tidak seperti biasanya’. Ruang gerak terbatas, mobilitas juga terbatas. Apalagi, tetap berada di rumah dengan mengurangi sekali interaksi sosial secara fisik.

Bagi saya yang suka dengan interaksi sosial, yang merasa energized jika bertemu orang atau berada di luar rumah, ini tidak mudah.

Bekerja

Saya cukup beruntung karena memiliki priviledge untuk dapat bekerja dari rumah, atau pekerjaan saya memang bisa dikerjakan secara jarak jauh, tidak selalu perlu bertatap muka. Sedih rasanya, karena bekerja bagi orang lain tidak semudah itu — dan setiba-tiba itu — digantikan dengan konsep bekerja dari rumah.

Bekerja dengan sepenuh hati, dengan sebaik-baiknya. Itu konsepnya. Namun, di saat yang sama banyak sektor usaha yang terpengaruh karena wabah COVID-19. Yang artinya, ini bisa terjadi kepada siapa saja, kapan saja.

Entahlah, sebagai manusia biasa, saya juga merasakan bahwa ini sangat tidak mudah.

Di rumah

Minggu ini juga, sudah sekitar tiga minggu juga dengan menjalani hari-hari tanpa asisten rumah tangga (ART). Sebelum berita tentang COVID-19 ini semakin gencar, ART saya minta ijin untuk libur karena ada keperluan untuk kondangan. Kami mengijinkan, apalagi memang dia belum mengambil jatah libur. Dari yang rencananya pulang Jumat dan hari Minggu sudah kembali, ternyata sampai dengan hari Selasa belum pulang juga.

Sedangkan, hanya dalam waktu beberapa hari, berita tentang COVID-19 ini berkembang sangat cepat. Tentu kami khawatir. Apalagi, berita tentang sebaran kasus juga makin banyak. Dan, ART saya berada di area dimana banyak orang dari kota besar berkumpul.

Akhirnya, dengan berat hati, kami memutuskan untuk menghentikan jasa beliau. Tidak mudah, karena kami sebenarnya sangat cocok dengan beliau. Bahkan, menurut kami, dia bisa membantu menjaga anak dengan baik. Dengan sangat baik malah.

Puji Tuhan, tidak ada drama. Keputusan dibicarakan dengan baik, dan dapat dipahami bersama. Dan, saya percaya ini yang terbaik untuk semua. Kalau memang harus dipertemukan lagi, pasti itu bisa terjadi.

“Ya, kita jalani dengan sebaik-baiknya” menjadi mantra saat itu.

Jadilah bagi tugas antara ngurus anak, ngurus rumah, dan urusan domestik lain. Termasuk tetap untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaan. Tiga minggu ini memang benar-benar membuat banyak hal yang berubah.

Semua rencana yang pernah dibuat, harus ditunda, bahkan dibatalkan. Kebiasaan baru juga akhirnya muncul. Hal-hal yang kadang bisa dikerjakan dengan waktu yang fleksibel, berubah menjadi kebiasaan. Hal-hal menyenangkan yang ada dalam to-do list atau bahkan wishlists, tiba-tiba harus berpindah menjadi postponed atau bahkan cancelled.

Kaya lagi enak-enaknya main di luar, trus diteriakin emak disuruh pulang trus mandi. Kaya lagi main layangan trus tau-tau ujan. Kaya lagi.. ah sudahlah.

Kutipan tulisan Ing di blog The Babybirds dengan judul BRIGHTER FUTURE IS POST ini terasa sangat mewakili perasaan. I can relate.

Bangun pagi, memandikan bayi, menyiapkan sarapan, memasak, mencuci, menyapu, mengepel, bebersih rumah, mencuci cucian di dapur, dan belanja sudah menjadi rutinitas yang kadang harus dibolak-balik urutannya.

Capek? Tentu iya. Melelahnya, sudah pasti.

Tapi… lebih banyak yang harus disyukuri. Paling tidak, Puji Tuhan semua sehat. Kami diberi berkat bisa tinggal di lingkungan perumahan yang baik. Puji Tuhan juga memiliki support system yang bisa menjadi tempat untuk sekadar bercerita satu sama lain secara daring.

So, minggu ke-empat, ke-lima, dan seterusnya? Selamat datang!