EIGER

Di linimasa Twitter saya kemarin, tiba-tiba banyak dipenuhi oleh cuitan mengenai kejadian yang melibatkan EIGER (PT. Eigerindo Multi Produk Industri) melalui akun @eigeradventure di Twitter dan (awalnya) dengan salah seorang warganet yang membagikan surat keberatan terkait sebuah ulasan video yang diunggah di platform YouTube.

Ketika saya melihat isi surat keberatan tersebut, saya langsung menuju ke laman video-nya yang berjudul “REVIEW Kacamata EIGER Kerato l Cocok Jadi Kacamata Sepeda” karena penasaran juga. Lalu saya putar videonya, dari awal sampai akhir, tanpa ada bagian yang saya lewatkan. Komentar saya: “Ini video dan kontennya bagus! Ulasan personal, dan secara umum menginformasikan sesuatu yang positif terhadap produk (kacamata) dari EIGER!”

Saya juga sering melakukan ulasan untuk produk, jasa, atau layanan di situs ini. Namun memang jarang yang sifatnya audio/visual. Dari persepektif kreator (di video tersebut) saya apresiasi sekali karena membuat konten tersebut juga membutuhkan usaha.

Perubahan Status Menjadi Siaga (5 November 2020) dan Live Streaming Gunung Merapi

Hari ini, banyak beredar berkas informasi mengenai perubahan status Gunung Merapi dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) yang berlaku mulai 5 November 2020 pukul 12.00 WIB.


Saya baru tahu informasinya sore hari, tapi menjelang siang tadi memang yang saya rasakan — karena berada di luar rumah — cuaca terasa panas sekali. Ya, biasanya memang panas dan agak mendung, bahkan sering hujan, tapi pagi ini, panasnya terasa berbeda dari biasanya. Bukan seperti panas matahari yang terik.

Saya tidak tahu pasti memang ada hubungan dengan peningkatan aktivitas Gunung Merapi atau tidak, tapi hari ini memang cuaca di Yogyakarta memang panas.

Berdasarkan rekomendasi dari surat edaran tersebut, perkiraan daerah yang dalam status bahaya antara lain:

  1. Untuk Provinsi DIY, ada di Kabupaten Sleman, Kecamatan Cangkringan yaitu Dusun Kalitengah Lor di Desa Glagaharjo, Dusun Kaliadem di Desa Kepuharjo, dan Dusun Pelemsari di Desa Umbulharjo.
  2. Untuk Provinsi Jawa Tengah, ada di:
    1. Kabupaten Magelang, Kecamatan Dukun yaitu Dusun Batu Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar (Desa Ngargomulyo), Dusun Trayem, Pugeran, Trono (Desa Krinjing) Dusun Babadan 1 dan Babadan 2 (Desa Paten)
    2. Kabupaten Boyolali, Kecamatan Selo yaitu Dusun Stabelan, Takeran, Belang (Des Tlogolele), Dusun Sumber, Bakalan, Bangunsari, Klakah Nduwur (Desa Klakah), dan Dusun Jarak, Sepi (Desa Jrakah)
    3. Kabupaten Klaten, Kecamatan Kemalang yaitu Dusun Pajekan, Canguk, Sumur (Desa Tegal Mulyo), Dusun Petung, Kembangan, Deles (Desa Sidorejo) dan Dusun Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang (Desa Balerante)
Pemandangan Gunung Merapi, 3 November 2020, sekitar pukul 08.00 WIB

Saya kebetulan tinggal di daerah yang dapat melihat Gunung Merapi dengan cukup jelas — tentu saja kalau tidak tertutup mendung. Tapi, kalau benar nanti aktivitas meningkat dan area sisi selatan Gunung Merapi terkena dampaknya, sepertinya ini akan menjadi pengalaman pertama. Seberapa dekat dengan Gunung Merapi, baru akhir bulan lalu saya mampir ke kawasan tersebut — ya walaupun “cuma” ke Telogo Putri.

Live Streaming Gunung Merapi

“Gara-gara” ini juga, hari ini saya baru tahu ada live streming Gunung Merapi di YouTube. Saya tidak terlalu tahu siapa yang mengelola, namun saya yakin ini live streaming yang jelas bermanfaat. Salut untuk yang menginisiasi ini!

Saya sama sekali tidak tahu bagiamana membaca visiual atau data yang ada, tapi dari deskripsi di videonya, ada informasi yang cukup bermanfaat:

  • Perhatikan Grafik Seismograf pada 4 Stasiun (PUS,KLS,PAS,LAB) jika ada tanda merah/naik/ada suara beep yang muncul secara bersama di 4 stasiun itu artinya merapi sedang melakukan “sesuatu”, sesuatu ini bisa bermacan mulai dari gempa dalam, gempa hybird, atau guguran untuk lebih lengkapnya tanya sama petugas.
  • Jika Grafik (IMO,MBMBB,UGM) yang hanya bertanda merah/grafik naik tapi TIDAK untuk Stasiun (PUS, KLS, PAS, LAB) artinya sedang terjadi Gempa Tektonik di sekitar Laut Jawa atau bisa juga Gempa yang sangat jauh seperti Fiji, Alaska, Japan, Filipina karena itu muncul di 2Hz – 3Hz
  • Aktivitas Merapi biasanya lebih sering aktif di 4Hz sampai 10Hz jadi selain itu bisa saja noise.
  • Jika hanya muncul di Satu Stasiun itu artinya sedang ada noise atau bisa juga petir,banjir,atau getaran yang hanya terjadi di sekitar stasiun tersebut.
  • Jika kalian melihat cahaya glow di kawah merapi itu normal bagi gunung yang aktif tapi jika glownya termasuk besar artinya sedang terjadi “sesuatu”

Selain Gunung Merapi, silakan kunjungi volcanoyt.com untuk melihat kontribusi lainnya. Kudos untuk kreator dan yang merawat situs dan live streaming tersebut!

Oh ya, erupsi Gunung Merapi terakhir yang besar terjadi di tahun 2010, di bulan Oktober (Wikipedia Bahasa Indonesia). Jadi kali ini peningkatan status menjadi Siaga serasa memang siklus 10 tahunan. Ya, karena Gunung Merapi memang menjadi salah satu gunung berapi yang paling aktif di Indonesia, dan juga di dunia. Jika perlu sedikit detil tambahan tentang Gunung Merapi, laman di Wikipedia tentang Gunung Merapi bisa menjadi awal.

Stay safe!

Nonton Disney+ Hotstar Langsung di TV Pakai Chromecast (Android dan iPadOS)

Karena Disney+ Hostar tidak dapat dinikmati langsung melalui Chromecast di ponsel atau tablet di awal September lalu, saya jadi cukup jarang menontonnya. Ya, tidak praktis saja, masa hanya untuk menonton di TV saya harus membuka Disney+ Hostar di laptop, lalu meng-Cast.

Sekarang, sudah bisa!

Saya tidak tahu kapan persisnya fitur ini tersedia baik di Android ataupun di iPadOS. Pengaturan aplikasi di ponsel dan iPad saya memang saya atur supaya auto-update.

Disney+ Hotstar, Android, iPadOS dan Chromecast

Ikon Chromecast sudah terlihat, jadi tinggal ketuk saja dan pilih piranti mana yang akan memutar. Dalam gambar dibawah, ada tulisan “TV YouTube”, ini karena piranti TV saya saya beri nama… TV, dan saat saya buat tangkapan layar sedang memutar YouTube.

Kalau saya “Cast”, otomatis YouTube di TV akan terhenti dan digantikan dengan apa yang sedang saya putar di aplikasi Disney+ Hotstar.

Untuk di iPad, juga sudah terlihat bahwa bisa diputar di TV melalui Chromecast. Untuk iOS, saya rasa juga akan sama.

Menonton Film Disney+ Hotstar di TV Melalui Chromecast

Ketika di bulan Agustus 2020 lalu, Telkomsel menawarkan promosi tarif spesial untuk layanan Disney+ Hotstar, saya memutuskan untuk menggunakan promosi tersebut. Walaupun, saya tidak terlalu memiliki ekspektasi terlalu tinggi akan bagaimana nantinya.

Rp30.000 untuk menikmati layanan ini selama 3 (tiga) bulan sampai Desember 2020 sepertinya tak ada salahnya dicoba. Apalagi, karena sudah tidak berlangganan Netflix, saya mengandalkan YouTube untuk sekadar menonton hiburan.

Dan, 5 September 2020 yang lalu kali pertama saya mengeksplorasi layanan ini melalui aplikasi Android. Saya coba juga instal aplikasi ini di iPad.

Nonton di Chromecast

Walaupun sudah sekitar 4 tahun lalu Chromecast ini saya beli, tapi sampai sekarang bisa dikatakan tidak ada masalah. YouTube dan (dulunya) Netflix juga bisa dinikmati dengan mudah di TV melalui Chromecast.

Tapi, tidak untuk Disney+ Hotstar ini. Saya tidak menemukan tombol secara langsung untuk meng-cast seperti YouTube atau Netflix. Agak kurang maksimal saja mungkin pengalaman menonton kalau hanya dapat dinikmati di perangkat bergerak seperti ponsel atau tablet.

Padahal, ketika awalnya saya login di iPad saya, dan saya “terdeteksi” di India, saya sempat melihat gambar ikon untuk “cast” ke Chromecast seperti yang biasa saya lihat di YouTube atau Netflix, seperti terlihat dalam gambar di bawah (pojok kanan atas).

Karena melalui ponsel dan tablet juga gagal, saya coba mengggunakan Google Chrome melalui alamat https://www.hotstar.com/id. Google Chrome sendiri sudah memiliki fungsi untuk “cast” melalui Chromecast. Tapi, ini sedikit berbeda karena dengan cara ini, sebenarnya kita me-mirror sebuah tab di peramban Google Chrome.

Tapi, cara ini cukup berhasil, walaupun bukan yang paling nyaman. Caranya cukup mudah:

  1. Buka situs Disney+ Hotstar melalui peramban Google Chome
  2. Dari menu opsi di Google Chrome, pilih Cast
  3. Pilih ke piranti mana yang ingin dituju untuk menampilkan konten dalam tab peramban.

macOS Catalina

Kemarin, saya melakukan perbaruan sistem operasi di MacBook Pro saya dari macOS High Sierra ke macOS Catalina. Dengan begitu banyak fitur dan perbaikan yang ditawarkan, sebenarnya tidak terlalu banyak fitur yang saya akhirnya manfaatkan.

Beberapa highlight mengenai yang baru di macOS Catalina bisa dilihat dalam video dibawah ini. Apple juga menyediakan halaman khusus mengenai apa yang ditawarkan oleh sistem operasi versi terbaru mereka.

Saya sendiri saat ini hanya menggunakan dua produk Apple dan saya bukan termasuk yang ingin melengkapi diri dengan produk terbaru dari Apple. MacBook Pro Retina 15″ saya keluaran mid-2012, dan ada sebuah iPad Mini 2 yang tidak mendapatkan dukungan iOS 13. Namun, saya mungkin termasuk yang sebisa mungkin memperbarui aplikasi atau sistem operasi — jika memang masih bisa diperbarui.

Perbaruan sama seperti proses sebelumnya. Sempat saya ragu, apakah saya perlu menunggu terlebih dahulu untuk memperbarui atau langsung saja. Kemungkinan terburuk paling ada beberapa aplikasi yang belum diperbarui jadi tidak dapat digunakan.

Musik, podcast, dan TV

Salah satu perbaruan yang cukup besar ada pada fitur hiburan. Namun, sepertinya tidak ada yang akan saya pakai. Untuk musik — termasuk mendengarkan podcast, saya lebih sering mendengarkan Spotify (dengan berlangganan Spotify Premium). Kalau menonton film atau video, pilihan saya ke Netflix dan YouTube. Bagi saya, layanan yang saya pakai tersebut sudah mencukupi kebutuhan saya.

Photos, Notes, Reminder

Aplikasi Photos, Notes, dan Reminder juga mendapatkan perbaikan. Namun, saya saat ini sudah cukup nyaman dengan menggunakan Google Photos. Saya hampir tidak menyimpan foto — dari kamera ponsel Android — di MacBook. Semua langsung saya unggah ke Google Photos. Untuk pencatatan, saya paling sering masih menggunakan Google Keep. Reminder saya jarang gunakan. Kalaupun perlu reminder paling hanya berupa alarm atau saya buat saja di Google Calendar.

Jadi, semua perbaruan terkait fitur diatas sudah cukup terfasilitasi oleh layanan Google di ponsel Android. Soal sinkronisasi juga tidak ada masalah sama sekali.

YouTube, Netflix, dan Spotify

Dari sekian banyak pilihan untuk menikmati hiburan di rumah, saya hanya menikmati hiburan melalui YouTube, Netflix, dan Spotify. Beruntung koneksi internet yang dipakai di rumah tidak memblokir akses ke Netflix.

Walaupun ada televisi yang menangkap siaran televisi lokal, namun jarang sekali saya menontonnya. Bahkan, jika memang ada acara yang disiarkan hanya di televisi, kalau juga dapat dinikmati melalui YouTube, saya memilih untuk menontonnya melalui YouTube di ponsel, dan tak jarang saya broadcast ke televisi melalui Chromecast.

Sebenarnya saya belum lama menikmati Netflix kembali setelah dulu kali pertama Netflix muncul saya hanya memanfaatkan periode trial saja. Karena memang tidak terlalu suka menonton film, serial, atau drama. Apalagi dulu sewaktu menggunakan layanan IndiHome yang memblokir Netflix. Walapun layanan seperti HOOQ atau iflix dapat diakses dengan baik, tapi tetap hampir tidak pernah menonton. Pun ada film bagus yang sedang tayang, menonton di bioskop masih menjadi pilihan.

Namun, akhirnya saya harus menyerah kepada Netflix. Dan, sampai saat ini saya cukup menikmatinya, walaupun belum ada secara spesifik serial yang saya ikuti. Pilihan film juga kalau ada rekomendasi atau secara acak saja menonton dari begitu banyak pilihan yang ada. Sama seperti YouTube, saya menikmati Netflix di layar televisi melalui Chromecast.

Dan, untuk musik saya memilih Spotify (Premium). Karena selera musik saya juga termasuk sederhana dan tidak ribet, saat ini Spotify sudah cukup memenuhi kebutuhan selera musik saya. Saya tidak ikut berlangganan ataupun instal JOOX. Tapi ini soal selera saja, bukan?

Solution: Brain freeze Chromecast

I have a positive experience using Chromecast. Mostly, I use it to cast YouTube, and Spotify (sometime). But, recently I use Netflix more.

I did not how it was started, but yesterday I could not cast Netflix on my Chromecast. Nothing was changed. I used the exactly the same setup.

When I tried to cast YouTube, it worked without any issues, but not with Netflix. After few attempts, I finally have it worked again by reinstalling the Netflix app on my Android phone. Everything is back to normal again now.

Trans7 On The Spot: Cari di YouTube, Tayangkan!

Sebenarnya saya cukup jarang menonton siaran televisi lokal. Selain karena memang saya lebih suka melihat tayangan melalui internet seperti di YouTube, Vimeo, atau sekadar membaca berita. Akhir-akhir ini saya kadang menikmati hiburan melalui Netflix, walaupun belum genap satu bulan dapat diakses oleh pengguna internet di Indonesia, Netflix sudah dalam status diblokir oleh Telkom Indonesia sebagai penyedia layanan internet yang saya pakai. Siaran televisi lokal sendiri memang ada beberapa yang kadang saya tonton seperti acara Kick Andy di MetroTV. Walaupun, kadang memang secara acak saja saya nyalakan televisi, atau melihat karena misalnya di rumah ada yang sedang menonton.

Dan, tak jarang beberapa acara televisi hanya berisi tentang kompilasi berita yang sumbernya juga dari internet. Benar, memang kalau dilihat dari sisi jumlah penonton, banyak yang mungkin belum melihat informasi yang salah satu sumbernya adalah internet. Dan, karena konten video adalah konten utama dari acara televisi, YouTube merupakan ladang konten bagi stasiun TV.

Acara On The Spot yang ditayangkan di Trans7 di hari Senin-Jumat pukul 19.15 WIB ini ‘menarik’, karena berisi kompilasi video tentang sebuah topik. Dan, topiknya juga dibuat semenarik mungkin bagi penontonya. Sebut saja kompilasi video tentang “7 Kisah Kapal Hantu”, “7 Fakta Misterius di Dunia”, atau “7 Pengalaman Setelah Meninggal”. Sumber videonya? Kebanyakan dari YouTube (walaupun mungkin tidak semua).

Bagaimana atribusi penyebutan sumbernya? Sederhana saja, cukup ditulis dengan “Source: Youtube” seperti terlihat dalam contoh dua cuitan berikut yang diunggah melalui akun On The Spot di Twitter (@Trans7OnTheSpot).

Saya memang bukan kreator video di YouTube secara aktif. Namun, ada salah satu YouTuber bernama Martin Johnson yang videonya dipakai dalam acara On The Spot Trans7 yang menyampaikan pendapatnya. Saya rasa video berikut cukup mewakili kreator video di YouTube.

President Obama on Comedians In Cars Getting Coffee

Melihat video perbincangan antara Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Jerry Seinfeld ini, saya sangat menikmatinya dan berharap ada yang bikin video serupa dengan Presiden Republik Indonesia. Tapi, siapakah yang cocok untuk mewawancarainya?

Published
Categorized as UmumTagged

Nexus 6P



Salah satu ulasan tentang Nexus 6P. Cuma memang, ini belum tersedia di Indonesia. Ulasan lain yang lengkap dari CNET yang bilang “Best-ever Nexus sets new standard for big-screen Android value”.

Microsoft Surface Book dari Microsoft

Microsoft baru saja meluncurkan sebuah laptop baru dengan nama Microsoft Surface Book. Walaupun sudah sekitar lima tahun saya menggunakan produk MacBook dari Apple (sekarang menggunakan MacBook Pro 15″ Retina Display sebagai pengganti MacBook Pro 13″), tapi produk baru ini terlihat sangat menarik.

Tentang Microsoft sendiri, saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya, terutama dari sisi produk perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Produk ponsel terakhir dari Microsoft yang saya beli adalah Microsoft Lumia 535. Untuk software, saya menggunakan produk Office 365 dalam keseharian mendukung pekerjaan saya yang banyak berurusan dengan pembuatan dan mengulas dokumen proyek, berselancar, dan membuat presentasi. Saya sendiri mulai menggunakan Office 365 sejak tahun 2014.

msf-srfcbook-1824810-2841-02841


Saya lihat spesifikasi Microsoft Surface Book di situs Microsoft, ternyata spesifikasi dan fiturnya sangat bagus! Walaupun, secara harga — dengan konversi Dollar Amerika terhadap Rupiah saat ini — cukup tinggi. Dalam situs tertulis USD 1,499. Dengan asumsi Dollar Amerika setara dengan Rp 14.000,– maka harganya akan mulai berkisar Rp 20.000.000,-

Spesifikasi

Beberapa spesifikasi dan fitur yang ditawarkan dan sepertinya menarik:

  • Dimensi: 12.30″ x 9.14″ x 0.51 – 0.90″ (312.3mm x 232.1mm x 13.0 – 22.8mm)
  • Media penyimpanan Solid state drive (SSD) dengan opsi 128GB, 256GB, 512GB, atau 1TB.
  • Memory: 8GB atau 16GB RAM
  • Prosesor: 6th Gen Intel® Core i5 atau i7
  • Berat: Mulai dari 3.34 pounds  atau setara 1,516 grams termasuk papan ketik
  • Tampilan:  Layar 13.5″ PixelSense display, resolution: 3000 x 2000 (267 PPI), aspect ratio: 3:2, touch: 10 point multi-touch
  • Data tahan baterai sampai 12 jam memutar video berdasarkan percobaan yang telah dilakukan.

Walaupun belum pernah menggunakan secara langsung, tapi membaca ulasan tentang produk Microsoft Surface Book dari beberapa situs dibawah ini, sepertinya produk ini sangat menarik.

Jurassic World

Minggu lalu, akhirnya nonton Jurassic World. Dan, kalau dulu pernah dan suka dengan Jurassic Park, film Jurassic Park tersebut dirilis 22 tahun yang lalu.

Published
Categorized as UmumTagged