Berkunjung dan Menikmati Sajian Makanan di Dowa Honje Bag and Restaurant Jogjakarta

Kemarin (13 Januari 2015), kali pertama saya menginjakkan kaki di Dowa Honje Restaurant (atau, sebut saja Honje Resto) di kawasan Jl. Mangkubumi, Jogjakarta. Kedatangan saya juga atas ajakan untuk mencicipi sajian kuliner melalui acara kecil food tasting yang diadakan disana.

Kalau kita bicara kota Jogja, laju perkembangan kota ini terasa berjalan dengan cukup cepat. Bagi para pemburu dan pecinta makanan, alternatif juga mulai banyak untuk memanjakan mereka. Bahkan, beberapa gerai makanan yang dulunya mungkin hanya dapat dinikmati di kota besar seperti Jakarta, sekarang sudah dapat ditemui di Jogja. Konsep pilihan makanan yang “itu-itu saja” mungkin mulai tidak berlaku lagi. Atau, bagi beberapa orang mulai bingung dengan banyaknya alternatif.

dowa Honje mangkubumi

Sebelum datang, saya sengaja tidak terlalu banyak mencari referensi tentang apa yang ditawarkan dan lebih memilih untuk menantikan kejutan-kejutan yang mungkin akan saya dapatkan, dengan tanpa memiliki ekspektasi apapun soal rasa, harga, ataupun pilihan menu.

Nama “Honje Resto” mungkin cukup asing jika dibandingkan dengan nama “Dowa” (‘Dowa’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ‘doa’). Untuk yang suka dengan fesyen — terutama pecinta produk tas — produk tas dengan merek Dowa saya rasa cukup familiar. ‘Dowa Honje Resto’ sendiri dapat dilihat sebagai sebuah perbaduan antara showroom produk tas Dowa dan restoran yang berada dalam satu bangunan arsitektur yang sama. Dalam bangunan dua lantai ini, Honje Resto berada di area lantai dua.

Kecombrang, kantan, atau honje (Etlingera elatior) adalah sejenis tumbuhan rempah dan merupakan tumbuhan tahunan berbentuk terna yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Nama lainnya adalah kincung (Medan), kincuang dan sambuang (Minangkabau) serta siantan (Malaya). Orang Thai menyebutnya kaalaa. Di Bali disebut kecicang sedangkan batang mudanya disebut bongkot dan keduanya bisa dipakai sambal (sambel matah). (Sumber: Wikipedia)

Kesan pertama

Tak perlu waktu lama bagi saya untuk jatuh hati pada disain arsitektur bangunan ini. Kesan artistik, unik, dan menarik langsung saya dapatkan ketika saya dihadapkan kepada disain lantainya. Ketika saya ke beberapa area, disain secara keseluruhan selalu menahan saya untuk sejenak menikmatinya. Bahkan, bagi saya tanpa penunjuk toilet juga terlihat menarik.

Karena kebetulan acara yang saya hadiri ini agak sedikit khusus, jadi ada kesempatan juga untuk dapat berbincang dan mendapatkan informasi tentang bangunan yang ditempati oleh showroom Dowa bag dan juga Honje Resto ini.

Continue reading “Berkunjung dan Menikmati Sajian Makanan di Dowa Honje Bag and Restaurant Jogjakarta”

Madam Tan Ristorante: Sajian Italia dengan cita rasa Indonesia

Sabtu lalu (17 Maret), saya dan beberapa rekan di Jogja diundang untuk ikut dalam acara food tasting di salah satu restoran di pusat kota Jogjakarta. Ristorante by Madam Tan namanya. Kalau soal nama “Madam Tan”, saya sendiri cukup familiar, walaupun menang hanya sekilas saja. Menu yang ditawarkanpun juga saya tidak tahu. Saya coba untuk tidak mencari referensi apapun tentang restoran ini, termasuk menu, ataupun ulasannya. Ya, siapa tahu nantinya bisa menjadi kejutan kecil tersendiri bagi saya.

Sabtu siang, saya langsung menuju ke lokasi yang kebetulan masih berada dalam satu kawasan Hotel Grand Aston (tepatnya di Grand Aston Garden), Yogyakarta di Jalan Urip Sumoharjo. Karena ini tentang food tasting, jadi sepertinya langsung kepada sajian utama dalam cerita ini yaitu tentang Ristorante by Madam Tan, dan beberapa menu yang disajikan.

Ined, Fuuzi, Shesty

Di awal, representasi dari Madam Tan yaitu Ined, Chef Fuuzi, dan Shesty menyambut kami dengan berbagi sedikit cerita tentang Madam Tan, khususnya Ristorante. “Ristorante” sendiri merupakan bahasa Itali yang berarti restoran. Jadi, sudah sedikit menggambarkan apa yang akan disajikan di tempat ini. Sebuah sajian menu Itali. Namun, ternyata ini bukan semata-mata tentang masakan Itali. Yang justru lebih menarik adalah informasi bahwa masakan ini diolah dengan cita rasa Indonesia. Yang saya tangkap adalah ini juga tentang bumbu, rempah, dan bahan-bahan yang digunakan.

Ristorante Madam Tan

Dari sekian macam sajian yang ada, kita berkesempatan untuk mencoba beberapa menu. Chef Fuuzi menjelaskan masing-masing makanan. Walaupun, beberapa sajian memang cukup asing di telinga. Sebut saja Spaghetti Ayam Rica Rica, Pizza Tuna Rica Rica atau Pizza Rendang. Ada  rasa penasaran bagaimana rasa makanan dengan nama-nama itu.

Ketika menyadari kalau hampir semuanya menggunakan daging, saya sempat bertanya, apakah ada menu untuk pengunjung yang vegetarian. Ternyata, menurut informasi ada beberapa pilihan menu khusus yang tidak mengkonsumsi daging. Nah, inilah beberapa menu yang sempat saya cicip disana. Oh ya, karena beberapa menu memang dalam ukuran yang cukup besar, jadi pada saat mencicipi, makanan disajikan dalam ukuran yang lebih kecil.

Continue reading “Madam Tan Ristorante: Sajian Italia dengan cita rasa Indonesia”

Pengalaman Makan di Holycow! Steakhouse Jogja dan Sedikit Tentang (salah satu) Vouchernya

Kemarin (21 20 Januari 2014), saya bersama dengan beberapa teman kantor mencoba untuk menikmati santapan di salah satu restoran steak di Jogja. Holycow! Steakhouse yang berada di area kompleks Hotel Grand Aston, Jl. Urip Sumoharjo.

Tentang restoran ini, sebenarnya saya sudah cukup sering mendengarnya. Cukup populer untuk diperbincangkan, dan saya banyak mendengar tentang kualitas rasa dan masakannya. Namun, dari berkali ke Jakarta, saya belum pernah mampir untuk mencicipi. Sampai akhirnya tadi malam saya mencobanya.

Terus terang, saya bukan penggemar steak. Bukan tidak doyan, tapi tidak terlalu menggandrungi jenis makanan ini. Jadi, saya tidak terlalu banyak memiliki ekspektasi. Dan, setelah pulang kerja, saya bersama tiga orang rekan kerja memutuskan untuk mencoba makan di sana. Oh ya, dua dari kami (Linggar dan Yudan) kebetulan memperoleh sedikit keberuntungan dengan memiliki dua buah voucher potongan harga.  Cerita tentang bagaimana mereka mendapatkan voucher bisa dilihat di tulisan teman saya.

Sekitar pukul 20.00 rombongan kecil kami datang. Saya amati sekeliling, suasanya enak. Mungkin sekitar 40% meja terisi saat itu. Ada bagian yang tertutup oleh bangunan permanen, dan ada juga area yang semi outdoor (terpasang tenda disana). Mungkin karena memang sedang musim hujan — dan kemarin memang kami datang setelah hujan selesai –, atau ini merupakan konsep dekorasi permanen. Saya kurang tahu. Ambience-nya menarik. Saya suka.

Setelah memilih tempat duduk, kami lanjutkan melakukan pemesanan.  Saya sendiri memesan Sirloin Big Bites, dengan saos barbeque, bayam, dan kentang goreng.

12064190113_69a0bfbcec_b

Karena sekaligus ingin menggunakan voucher, kami menanyakan kepada pramusaji yang melayani kami. Kemudian, pramusaji tersebut sepertiya meneruskan informasi ini kepada yang (mungkin) berwenang/mengurusi hal redeem voucher.

Continue reading “Pengalaman Makan di Holycow! Steakhouse Jogja dan Sedikit Tentang (salah satu) Vouchernya”

Ulasan: Pengalaman makan di Michigo, restoran Korea di Jogjakarta

Setelah sebelumnya saya sempat mampir ke Michigo bulan November lalu, saya penasaran ingin mencoba untuk datang sebagai konsumen biasa. Ya, niat hati memang ingin merasakan pengalaman makan disana. Apakah konsep (digital) self-service ini memudahkan, atau malah menyulitkan? Akhirnya saya coba saja di tempat yang sama, yaitu di Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta. Oh ya, tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya, dan tidak ada pembicaraan apapun dengan pihak Michigo terkait kedatangan saya kesana saat itu.

Saya datang sekitar jam makan siang. Sedikit ramai, walaupun tidak seluruh kursi terisi. Perasaan saya sih antrian cukup lama. Dari tiga perangkat yang ada untuk pemesanan, semua memang terpakai. Entah karena pengunjung memesan menu yang banyak, atau karena sebab yang lain. Akhirnya saya coba tunggu saja.

Antrian Michigo, Ambarrukmo Plaza

Akhirnya, datang juga giliran saya untuk pesan. Ini adalah kali pertama saya menggunakan piranti digital berupa iPad dengan aplikasi pemesanan disana. Kebetulan keseharian saya juga sudah menggunakan iPad. Tidak terlalu sulit. Saya sendiri hanya secara cepat saja melihat menu-menu yang ditawarkan, bukan untuk mengeksplorasi yang ditawarkan (atau bahkan melihat aplikasi itu sendiri).

Memesan menu makanan di Michigo

Setelah memilih beberapa menu, langsung terlihat berapa jumlah yang harus saya bayarkan. Saya pindah ke kasir untuk melakukan pembayaran. Kalau menurut saya, semua proses ini cukup mudah. Setelah membayar, saya mendapatkan sebuah video pager, yang nantinya akan digunakan untuk memberitahukan kalau pesanan saya siap.

Continue reading “Ulasan: Pengalaman makan di Michigo, restoran Korea di Jogjakarta”

Michigo, restoran di Jogjakarta dengan sajian menu masakan Korea

Soal makanan, saya sebenarnya tidak terlalu memiliki selera yang khusus. Mulai dari makanan/camilan tradisional sampai dengan mungkin kategori makanan yang “ini namanya apaan, dan makannya juga bagaimana caranya nggak ngerti”.

Di Jogjakarta sendiri, muncul semakin banyak pilihan bagi mereka yang ingin melampiaskan hobi kuliner. Banyak pilihan tempat makan mulai dari yang menyediakan menu tradisional, sampai dengan sajian dengan cita rasa luar (negeri). Salah satu yang sempat beberapa kali saya lihat adalah hadirnya restoran Korea dengan nama Michigo — dengan tagline: “The Awesome Korean Food“, di daerah Jalan Colombo, tidak jauh dari kawasan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta.

MichiGO

Cuma, walaupun sering lewat, saya malah belum pernah mampir untuk mencicipi. Sebelumnya saya pernah mencoba makan di restoran dengan label “Korean Restaurant”. Ada yang cukup cocok dengan selera lidah saya, tapi ada yang memberikan sensasi kurang cocok. Ya, maklumlah karena lidah saya bisa dikatakan lidan ndheso. :)

Belum juga sempat merasakan suasana dan menu dari Michigo yang sering saya lewati, restoran tersebut baru saja membuka gerai keduanya di Ambarrukmo Plaza Yogyakarta. Kebetulan, beberapa kali saya sempat terlibat obrolan dengan orang yang berada dibelakang hadirnya restoran ini. Dan, pada saat pembukaan gerai baru pada akhir pekan ini, saya mendapat kesempatan untuk mencicipi dan merasakan beberapa menu yang ditawarkan.

Michigo Indonesia, Ambarrukmo Plaza

Konsep (digital) self-service

Sempat saya lihat informasi di situsnya, Michigo ini menawarkan konsep self-service. Memang, konsep semacam ini mungkin belum terlalu populer (di Indonesia). Betapa tidak, konsep secara umum ketika makan di tempat makan adalah konsumen mendapatkan layanan mulai dari pemesanan, makanan sampai di meja, dan meninggalkan tempat makan. Hanya itu.

Michigo melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Ada sesuatu yang menarik disini. Apakah ini akan bisa berjalan? Saya sempat tanyakan, dan ternyata walaupun belum 100% bisa berjalan, tapi konsep seperti ini mulai diterima. Parameternya, lebih banyak konsumen yang akhirnya “ikut dalam permainan/aturan main ini”.

mcg-1385019841

Continue reading “Michigo, restoran di Jogjakarta dengan sajian menu masakan Korea”

Jadwal Kereta Api Jogja, Solo, dan Kutoarjo

Walaupun jarang menggunakan jasa layanan kereta api untuk perjalanan singkat ke Solo, satu hal yang sepertinya sulit untuk didapatkan (melalui internet) adalah jadwal keberangkatan. Padahal ada beberapa alternatif kereta seperti Pramex, Sriwedari AC, dan Madiun Jaya. Beberapa kali informasi yang saya dapatkan paling valid adalah dengan menelpon ke stasiun, atau datang langsung.

7241720412

Ketika mengunjungi Stasiun Tugu kemarin, saya mendapatkan informasi jadwal kereta api yang berlaku mulai tanggal 1 April 2013. Berikut informasinya:

Pramex Jogja-Solo

  • Jogja-Solo: 10.50, 14.40, 20.10
  • Solo-Jogja: 05.30, 13.00, 16.20

Pramex Kutoarjo

  • Jogja-Kutoarjo: 06.50, 15.50, 17.35
  • Kutoarjo-Jogja: 09.40, 17.30, 19.00

Sriwedari AC

  • Jogja-Solo: 05.25, 08.00, 09.15, 12.00, 13.00, 17.45, 18.40
  • Solo-Jogja: 07.05, 06.00, 10.10, 11.10, 14.30, 15.45, 20.05

Madiun Jaya

  • Jogja-Madiun: 09.50, 18.30
  • Madiun-Jogja: 06.00, 14.50

Data tersebut saya dapatkan saat saya mencari informasi di layanan pelanggan di Stasiun Tugu, Jogjakarta pada tanggal 8 September 2013. Untuk informasi harga tiket:

  • Pramex: Rp 10.000,-
  • Sriwedari AC: Rp 20.000,-
  • Madiun Jaya AC: Rp 50.000,-

Catatan lain:

  • Sistem pembelian tiket dibuka dua jam sebelum jadwal keberangkatan.
  • Karena padatnya perjalanan/penumpang, maka sering kali saya menjumpai penumpang yang kehabisan tiket. Sistem pemesanan sudah terintegrasi, jadi misalnya di Stasiun Tugu (untuk ke Solo) tiket sudah habis, dapat dipastikan bahwa tiket juga tidak bisa didapatkan di Stasiun Lempuyangan (Jogja).
  • Informasi ini saya dapatkan untuk berbagi informasi. Jika ada data/informasi yang kurang akurat, mohon maaf. Informasi terbaru seputar jadwal kereta api bisa langsung ditanyakan di layanan penumpang di Stasiun.

Sejenak Mengunjungi Kota Solo (Bagian 1)

Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk mengunjungi Solo. Bulan Juli lalu sempat juga ke Solo, untuk keperluan berbeda. Saat itu, saya ke Solo cuma untuk transit melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Perjalanan saya ke Solo terakhir kemarin meninggalkan beberapa kesan, dan pengalaman baru. Rencana awal hanyalah untuk sekadar melihat-lihat ke ACE Hardware — karena di Jogjakarta tidak ada — dan juga bertemu dengan seorang teman.

Perjalanan ke Solo

Saya memutuskan untuk menggunakan kereta dengan alasan waktu tempuh yang paling cepat. Untuk jadwal kereta sendiri, saya tidak terlalu memusingkan jam berapa kereta akan berangkat. Sekitar pukul 09.45 saya mendekati Stasiun Tugu.

Stasiun Tugu

Persis ketika mendekati loket pembelian tiket, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa kereta Madiun Jaya akan segera diberangkatkan pukul 09.50. Saya sempat menanyakan apakah saya masih bisa membeli tiket untuk jadwal tersebut. Ternyata tidak.

Sempat saya tanyakan kepada petugas tiket, apakah saya bisa mendapatkan informasi jadwal kereta api. Petugas tersebut menyampaikan kalau informasi jadwal bisa didapatkan di bagian layanan pengguna. Ternyata tempatnya tidak jauh dari lokasi, masih di area tersebut. Setelah saya mendapatkan, saya coba pelajari secara singkat.

Kereta berikutnya adalah Pramex jurusan Jogja-Solo, pukul 10.50. Berarti masih ada waktu sekitar satu jam lagi. Saya langsung kembali ke loket untuk membeli tiket, harga saat itu adalah Rp. 10.000,-

Continue reading “Sejenak Mengunjungi Kota Solo (Bagian 1)”

Pengalaman pertama terbang bersama Citilink (Jakarta-Jogjakarta)

Jumat (19 April 2013) kemarin adalah kali pertama saya mendapatkan pengalaman terbang menggunakan maskapai Citilink. Walaupun sebenarnya dari sekian kali penerbangan — total dalam tiga bulan terakhir ini, sudah terbang total sekitar 14 kali — kebanyakan memang hanya Jogjakarta – Jakarta (dan beberapa kali Jakarta – Kuala Lumpur), tapi kebetulan mencoba beberapa maskapai penerbangan yang berbeda: Air Asia, Batavia Air, Lion Air, Garuda Indonesia, dan terakhir Citilink.

Citilink di Bandara Soekarno-Hatta (foto oleh Zamroni) Citilink di Bandara Soekarno-Hatta (foto oleh Zamroni)

Setelah Batavia Air berhenti beroperasi, alternatif untuk terbang (JOG-CGK dan sebaliknya) berkurang satu. Kabar baiknya, mulai 15 April 2013 yang lalu Citilink sebagai anak perusahaan PT Garuda Indonesia Tbk membuka rute baru Jakarta (CGK) – Jogjakarta (JOG) dan sebaliknya, setiap hari dengan jadwal penerbangan 16.10 dari CGK, dan 18.05 dari JOG. Jadwal yang lumayan cocok untuk terbang pulang ke Jogjakarta.

Continue reading “Pengalaman pertama terbang bersama Citilink (Jakarta-Jogjakarta)”

Apa Kabar Perangko dan Filateli?

Beberapa minggu lalu, saya sempat bertamu ke rumah dinas salah satu pejabat di Jogjakarta. Ketika di ruang tamu rumah dinas beliau, pandangan saya sempat tertuju pada sebuah pigura yang tertempel manis di dinding. Ada yang mencuri perhatian saya disana: sebuah seri perangko edisi khusus dengan wajah beliau.

Stamp Collection (by ...Rachel J...)

Perangko. Dalam satu tahun ini, sepertinya saya tidak pernah menyentuh barang yang satu ini. Beberapa kali memang memanfaatkan jasa PT. Pos Indonesia. Cukup sering pula menerima kiriman surat yang datang ke rumah — walaupun hampir semua memang bukan untuk saya. Tapi, tak ada satupun perangko yang tertempel dalam surat-surat tersebut. Urusan ke kantor pos juga sebatas memakai jasa pengiriman barang dengan layanan khusus.

Continue reading “Apa Kabar Perangko dan Filateli?”

Pengalaman Mencari Tiket Kereta Api

Minggu lalu, saya pergi ke Jakarta untuk sebuah keperluan. Setelah mempertimbangkan jadwal dan agenda (yang kebetulan saat itu sedang cukup sibuk), saya memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api. Awalnya, saya berencana menggunakan pesawat terbang, tapi harga tiket saat itu sedang kurang bersahabat. Apalagi, kalau saya harus menggunakan pesawat pagi, sebuah perjuangan tersendiri nantinya.

Untuk mendapatkan tiket kereta api, tidak semudah yang dibayangkan. Ya, seharusnya memang mudah, karena tinggal menuju loket pembelian tiket di Stasiun Tugu Yogyakarta, antri, bayar… selesai. Waktu itu saya menunggu kurang lebih 100 antrian. Cukup panjang dan lama juga, karena loket yang melayani pembelian hanya dua (dari 5 atau 6 yang ada). Setelah tiba giliran saya, pemesanan tiket saya tidak dapat diproses dengan alasan sistem sedang offline. Nah loh! Sudah antri lebih dari satu jam, tidak bisa. Menyebalkan!

Ternyata, sistim (atau sistem?) yang sedang offline hanya jadwal kereta api Gajayana (yang ingin saya gunakan). Saya tanya, kira-kira kapan bisa memroses pesanan tiket, ternyata tidak ada jawaban pasti. Ya, petugas tidak dapat memastikan. Oh ya, ini pengalaman pertama menggunakan kereta api Gajayana, karena biasanya saya gunakan Taksaka Malam. Saya sempat agak panik. Akhirnya, saya putuskan untuk beli saja lewat jasa agen. Kebetulan di loket tersebut ada informasi tentang agen tiket. Saya coba keberuntungan saya untuk menelpon salah satunya. Melalui telepon, saya diberitahu kalau sistim sedang tidak bekerja, alias offline. Ternyata, agen tiket tersebut lokasinya tidak jauh dari rumah. Akhirnya saya pesan ke petugas agen kalau saya mau (dan pasti!) pesan tiketnya dan minta diberitahu kalau sistim sudah beroperasi kembali.

Tidak lama kemudian, saya mendapatkan telepon dari agen tiket tersebut yang memberitahukan bahwa tiket bisa dipesan. Langsung saya minta di-book-kan untuk saya. Singkatnya, saya mendapatkan tiket saya tersebut hari itu juga, dengan tambahan biaya Rp. 10.000,00. Ah, kalau tahu seperti ini, mendingan dari awal saya beli lewat agen! Menurut jadwal, kereta api akan berangkat pukul 23.33 dan sampai di Stasiun Gambir pukul 07.15. Tapi, yang namanya jadwal kan itu rencananya. Kenyataannya, saya baru sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 13.00! Gila!

Batik Sarimbit

Sarimbit artinya berpasangan, atau sepasang. Mungkin sudah pada tahu, tapi walaupun katanya saya orang Jawa — lebih tepatnya orang Jogja yang identik dengan batik, tapi saya sepertinya harus mengaku kalau saya baru tahu artinya hari kemarin.

Ini juga gara-gara diajak Lala untuk menemani beli batik sarimbit untuk orang tuanya. Oh ya, salah satu tempat biasa beli batik terakhir-terakhir ini ada di Malioboro, tepatnya di Toko Batik Sekar Arum.

Waktu beli, saya hanya memerhatikan saja. Waktu itu langsung dibagian batik sarimbit. Waktu saya perhatikan, bajunya itu dobel. Nah, saya kira dobel itu dalam artian ada yang bagian dalam dan bagian luar. Sampai akhirnya apa yang saya kira salah ketika tanya ke Lala. “Lha bapak nggak dibeliin sekalian?”

“Lha baju sarimbit ini sudah dua, yang satu cewek yang satu buat cowok”. Kurang lebih begitu deh dia bilang. Waladalah!

Jogja Java Carnival

Jogja Java Carnival. Pertama kali mendengar ini sewaktu saya ikut di acara FAM Trip Journalist beberapa bulan yang lalu. Ya, sebuah pagelaran istimewa yang ingin menampilkan sebuah atraksi budaya dan kesenian untuk peringatan HUT Kota Jogjakarta di tahun ini (HUT Kota Jogjakarta ke-252). Dan, kemarin (25 Oktober 2008), sebuah karnaval itupun berlangsung.

Setelah beberapa hari sebelumnya sempat melihat spanduk-spanduk bertebaran di beberapa sudut kota Jogja, saya tidak ingin melewatkan acara ini. Jujur saja, saya memiliki sebuah ekspetasi tersendiri untuk melihat sebuah suguhan acara yang menarik. Tapi, setelah melihat awal dari acara ini, dan dilanjutkan dengan melihat “sebagian” acara ini, dan jika harus menggambarkan bagaimana acara ini berlangsung: saya tidak merasakan sebuah acara yang spektakuler. Kecewa? Mungkin iya.

Continue reading “Jogja Java Carnival”