Kendala Teknis Bekerja dari Rumah

Walaupun menjadi keinginan banyak orang, namun bekerja dari rumah tak lepas dari kendala. Baik itu kendala yang bisa diantisipasi karena kita memiliki kontrol, tapi ada juga kendala yang muncul karena faktor di luar kita. Puji Tuhan, saya saat ini dapat bekerja dari rumah, sebuah berkat tersendiri, apalagi ditambah dalam kondisi sulit COVID-19 ini.

Ada yang sifatnya teknis, tapi ada pula yang non-teknis, terutama gangguan yang muncul karena… kita ada di rumah. Teorinya, ini tentang bagaimana kita mengelola distractions. Atau, ini tentang bagaimana kita fokus bekerja. Nyatanya, memang tidak selalu semudah teori yang ada.

Kendala atau gangguan non-teknis, tentu ada, bahkan banyak. Tapi setelah tujuh bulan lebih benar-benar ada di rumah, ada beberapa kendala utama: mati listrik dan koneksi internet.

Mati Listrik

Saya tidak tahu berapa frekuensi mati listrik dalam satu bulan untuk dikatakan “sering” atau “jarang”. Tapi, dalam satu bulan, mungkin ada beberapa kali waktu. Saya tidak hitung persisnya, tapi mungkin sekitar 2-3 kali dalam satu bulan.

Kebanyakan memang karena kegiatan perawatan, instalasi, atau kegiatan lain yang sudah terjadwal. Bukan karena misalnya daya di rumah tidak mencukupi. Biasanya, kalau lagi kena giliran mati listrik, mati listrik berlangsung sekitar 2 (dua) jam. Dan, biasanya juga berlangsung di jam kerja. Selama ini di area saya antara jam 10.00-13.00 WIB.

Agak sedikit berbeda jika mati listrik di luar jadwal. Karena sepertinya sudah masuk musim penghujan, kadang tiba-tiba saja mati listrik. Pernah terakhir kali kalau tidak salah hampir 4 (empat) jam. Duh!

Saya sih yakinnya cuma kalau ada masalah pasti akan disegerakan untuk diperbaiki oleh PLN. Beruntung juga di kompleks perumahan saya, cukup sering warga langsung kontak PLN dan mengabarkan ke grup perumahan kalau sudah dilaporkan.

Baca juga: Pengalaman Merasakan Layanan yang Baik dari Aduan Pelanggan PLN

Koneksi Internet

Kendala yang berikutnya adalah gangguan koneksi internet. Walaupun bisa dikatakan gangguan ini sangat jarang terjadi untuk koneksi internet di rumah yang saya pakai, tapi karena lagi-lagi tetap butuh listrik, kalau listrik mati, otomatis koneksi internet juga terganggu.

Ada opsi untuk tethering menggunakan koneksi dari ponsel. Masalahnya, ketika listrik mati, koneksi internet dari ponsel juga terganggu, susah sekali — koneksi sangat tidak stabil — untuk mendapatkan koneksi dari provider XL maupun Telkomsel yang saya gunakan.


Berbeda dalam kondisi biasanya yang saya dengan mudah mencari tempat untuk bekerja misal di warung kopi, kali ini saya memilih mengandalkan koneksi yang ada. Kalau sampai listrik mati cukup lama, dan laptop yang saya gunakan juga sudah saatnya harus istirahat dulu, ya apa boleh buat, harus mengandalan ponsel atau piranti lainnya.

Telkomsel untuk Koneksi Internet

Setelah berpindah dari layanan pascabayar XL Prioritas ke layanan prabayar yang sedikit ribet, saya masih menggunakan layanan paket data internet dari XL. Saya merasakan memang kualitas jaringan internet prabayar XL tidak sebagus yang pascabayar, namun masih dalam kondisi yang bisa saya terima.

Yang menjadi pertimbangan selanjutnya adalah paket data internet XL mana yang harus saya gunakan. Ada beberapa pilihan, dan saya perlu sedikit waktu mengeksplorasi karena macam-macam paketnya. Dan, kebanyakan adalah paket dengan konsep ‘kuota malam’. Jadi, sepertinya kuota internet besar, namun waktu penggunaannya yang membedakan. Saya tidak begitu nyaman dengan konsep kuota malam ini.

Setelah satu bulan, saya akhirnya mencoba menggunakan layanan internet dari Telkomsel yang prabayar. Karena kebetulan selain XL, saya juga memiliki nomor Telkomsel untuk cadangan. Sekitar satu bulan saya sudah menggukan, dan saya cukup puas dengan kualitas jaringan Telkomsel ini. Dan, paket kuota internet keluarga 20 GB menjadi pilihan yang sepertinya paling sesuai untuk saat ini.

Pengalaman Berpindah dari XL Prioritas (Pascabayar) ke XL Prabayar. Sedikit ribet!

Sekitar pertengahan November lalu, akhirnya saya memigrasikan dua nomor XL Prioritas saya ke nomor prabayar. Alasannya, pertama saya sudah tidak terikat harus pascabayar karena paket yang saya pakai tersebut awalnya karena saya membeli ponsel dengan cara bundling. Sedangkan sekarang sudah lunas.

Kedua, karena saya merasakan paket yang saya pakai terlalu besar kuotanya. Salah satu nomor yang dipakai istri saya pemakaian data internet mungkin sebulan tidak sampai 2 GB. Padahal, paket XL Prioritas yang dipakai adalah Prio Platinum (kuota 30 GB). Saya sendiri terakhir masih menggunakan paket Prio Gold dan memang tidak ada keluhan mengenai layanan.

Dari pascabayar ke prabayar tanpa pengembalian dana? Mudah!

Nomor istri saya kebetulan tidak memiliki dana cadangan sebagai batas kredit. Jadi, prosesnya cukup sederhana. Permintaan untuk berpindah ke prabayar langsung diproses. Kartu SIM juga tidak perlu diganti. Yang penting, seluruh tagihan dibayar lunas saja.

Untuk tagihan, saya langsung bayar ditempat dengan menggunakan kartu debit. Jumlah total tagihannya? Dua bulan paket Prioritas Platinum.

Dari pascabayar ke prabayar dengan pengembalian dana? Sedikit ribet!

Saya mengira proses untuk nomor saya juga mudah dan bisa saat itu diselesaikan. Ternyata tidak. Selain bahwa tagihan harus lunas, ternyata kalau ada sisa saldo atau batas kredit yang perlu dikembalikan, saya harus membawa buku tabungan. Ya, membawa buku tabungan.

Sekali lagi: membawa buku tabungan karena dana saldo/batas kredit XL Prioritas akan ditransfer melalui rekening bank!

Agak menyebalkan dan merepotkan sebenarnya. Jadi, urusan ini jadi tertunda. Saya harus kembali lagi lain hari, dengan membawa buku tabungan sesuai dengan nomor rekening yang ingin saya gunakan untuk pengembalian dana.

Kalau awalnya semua tunai atau transfer, kenapa pengembalian dana harus melalui transfer bank dengan membawa buku tabungan? Kenapa nomor rekening — yang nama pemilik rekening bisa dicocokkan dengan nama di Kartu Tanda Penduduk — saja tidak cukup?

Intinya, aturan mengenai pengembalian dana ke rekening tabungan dengan menyertakan salinan buku tabungan tidak bisa ditawar. Tidak menyenangkan!

Jadilah saya pulang, dan menunda proses migrasi nomor saya. Ya, karena kalau pulang ke rumah hanya untuk mengambil buku tabungan terlalu membuang waktu.

Di lain kesempatan, akhirnya saya kembali untuk menyelesaikan urusan ini. Saya sudah terlalu malas untuk berbasa-basi. Saya hanya ingin urusan saya selesai. Setelah tiba giliran saya, saya langsung sampaikan lagi maksud kedatangan saya secara cepat, dan saya sodorkan buku tabungan saya. Karena saya juga tidak ada kepastian bagian mana yang akan di fotokopi, jadi bagian yang menunjukkan mutasi transaksi saya steples. Kan tidak ada jaminan juga bahwa hanya bagian depan yang ada nomor rekeningnya yang akan dilihat. Apalagi proses fotokopi juga tidak dilakukan di depan saya.

Dana tidak langsung masuk ke rekening saat itu juga. Saya lupa, kalau tidak salah bisa sampai sekitar empat belas hari kerja. Informasi ini saya iyakan saja.

Proses selesai. Dan sama saja, saya tidak perlu melakukan penggantian kartu SIM. Jadi tidak ada biaya lainnya. Kalau ada yang bilang bahwa kualitas jaringan XL Prioritas lebih baik dari yang prabayar, mungkin ada benarnya. Saya mengalami sedikit perbedaan kecepatan. Tapi, mungkin ini hanya perasaan saya saja. Yang pasti kecepatan masih bisa saya terima.

Kalau nanti ingin pindah ke paskabayar, ya tinggal pindah lagi. Atau, ganti ke paket prabayar dari Telkomsel karena saya kebetulan juga punya nomor Telkomsel.

Menjadi Pelanggan Pascabayar XL Prioritas

Sudah setahun lebih saya mengubah layanan dari XL dari prabayar menjadi pascabayar. Perubahan ini sebenarnya karena dulu saya membeli ponsel baru gara-gara ponsel saya hilang ketika saya dalam perjalanan dan saat itu pertimbangan mengatakan lebih baik membeli ponsel secara bundline. Saat itu, pilihan operator ada dua: Indosat dan XL.

Saya memilih XL, dan tetap menggunakan nomor saya yang saya beli saat menggunakan kartu perdana proXL. Ya, sudah lama sekali. Selang beberapa minggu, saya baru sempat berpikir –karena mendengar info dari beberapa teman– kalau nomor XL pascabayar tidak dapat diubah lagi menjadi prabayar. Duh!

Setelah satu tahun, melihat pola penggunakan paket internet saya, saya memutuskan untuk mengubah paket yang sebelumnya PRIO Platinum menjadi PRIO Gold. Walaupun, sebenarnya paket PRIO Silver juga sudah mencukupi, tapi paket tersebut tidak bisa saya pilih. Entah kenapa, mungkin paket tersebut untuk pelanggan baru saja.

Downgrade ke PRIO Gold

Proses downgrade saya lakukan langsung di XL Center Yogyakarta. Cukup banyak antrian siang itu, namun karena cukup banyak petugas layanan yang ada, jadi waktu tunggu saya masih cukup wajar.

Apakah pascabayar XL dapat diubah kembali menjadi prabayar?

Ternyata, saya dapat mengubah kembali layanan menjadi prabayar jika saya mau. Informasi ini diberikan kepada saya, karena nomor saya awalnya memang prabayar. Lain halnya kalau sejak awal nomor yang digunakan memang langsung paket pascabayar. Kebetulan saya ada nomor XL lain –dan belum lama digunakan– yang dipakai oleh istri saya. Ketika saya tanyakan dan dicek, nomor istri saya juga dapat diubah. Alasannya sama: karena sebelumnya merupakan nomor prabayar.

Saya belum berencana untuk kembali ke prabayar. Saya sudah cukup puas dengan layanan pascabayar ini. Info dari layanan pelanggan, prosesnya cukup mudah juga, tinggal datang ke XL Center, dan saldo yang ada akan dikembalikan. Belum tahu apakah perlu ganti simcard fisik atau tidak. Kalau harus ganti, untuk penggantian simcard fisik akan dikenakan biaya Rp10.000,-

Menjajal Google Station, Layanan Wifi Gratis dari Google

Beberapa hari lalu, ketika saya melewati club house di tempat saya tinggal, saya melihat spanduk yang menunjukkan informasi bahwa layanan Google Station bisa digunakan. Saya melihat logo Google Station dan CBN di sana.

Singkatnya, Google Station ini adalah layanan (dari Google) yang bekerja sama dengan penyedia jaringan koneksi internet untuk menyediakan koneksi hotspot secara cuma-cuma. Selengkapnya di situs Google Station.

Tentang Google Station

Di Indonesia, Google Station sendiri baru tersedia di beberapa propinsi saja, dan kebanyakan di Pulau Jawa. Di Yogyakarta, saya lihat ada beberapa tempat yang sudah menyediakan. Ada yang perumahan, apartemen, dan juga area wisata.

Alternatif Koneksi Internet Selain Biznet dan IndiHome

Salah satu yang perlu saya persiapkan dan antisipasi terkait dengan rencana berpindah lokasi hunian adalah ketersediaan koneksi internet. Ini penting, karena saya dan istri memiliki dependensi cukup besar untuk koneksi internet sebagai salah satu faktor penting untuk bekerja.

Koneksi Provider Telko Tidak Stabil

Sementara, saya mungkin bisa menggunakan koneksi melalui tethering dari ponsel saya. Namun sayang, koneksi yang saya gunakan dari XL Axiata tidak begitu stabil. Di depan rumah, koneksi lumayan, tapi ketika masuk ke dalam rumah, termasuk ke lantai dua, koneksi kadang ada, kadang hilang. Ada sinyal, tapi koneksi data tidak dapat digunakan.

Kalau masuk ke bagian lain yang lebih tertutup dinding, sinyalnya lebih parah lagi. Seingat saya, koneksi Telkomsel yang digunakan oleh istri saya agak mendingan, walaupun kadang susah sinyal juga.

Saya belum coba operator selular lain sebagai opsi. Karena opsi tersebut mungkin akan menjadi opsi sementara saja. Sedangkan saya butuh koneksi yang tidak memakai kuota. Tidak terlalu cepat seperti Biznet yang saya gunakan di rumah yang penting stabil.

Opsi Penyedia Koneksi Internet

Biznet Home Internet belum masuk ke area perumahan kami. IndiHome sempat menjadi opsi, apalagi ketika saya cek secara daring untuk cakupan wilayah, tempat tinggal saya bisa mendapatkan layanan. Terakhir menggunakan koneksi IndiHome untuk rumah adalah sekitar Mei 2017.

Tapi, saya tidak terlalu ingin menggunakan koneksi IndiHome. Di kantor saja, koneksi IndiHome sering kali bermasalah. Cukup cepat, tapi tidak stabil sama sekali. Ketika saya tanyakan ke club house perumahan saya, katanya jaringan fiber optic milik Telkom malah belum tersedia.

Dari yang semula ‘ya sudah kalau tidak ada pilihan selain IndiHome, apa boleh buat’ menjadi ‘terus pilihannya apa?’. Saya coba lagi mencari informasi, katanya untuk koneksi internet di perumahan ada layanan dari Citranet dengan nama layanan Citranet Infinite dengan koneksi fiber optic. Soal harga, tidak jauh beda dengan IndiHome dan Biznet Home. Tidak ada layanan tambahan seperti tv cable, tapi tak apa karena saya juga jarang nonton tv.

Saya sudah sempat tanyakan ke bagian pemasaran untuk pemasangan, dan ternyata beberapa rumah sudah aktif menggunakan layanan ini. Tinggal area saya saja yang perlu dilakukan survey. Kalau memang bisa mendapatkan layanan, sepertinya tak perlu menunggu lama berlangganan setelah proses renovasi kecil rumah selesai.

XL Center Adisutjipto Yogyakarta Resmi Dibuka

Hari ini, 8 Oktober 2015, XL Axiata melakukan pembukaan secara resmi XL Center Adisutjipto Yogyakarta sebagai salah satu kanal pelayanan pelanggan produk dari XL Axiata. Saya sendiri kebetulan sudah menggunakan layanan dari XL Axiata sejak sekitar awal tahun 2000 sampai sekarang. Dulu, produk layanan lebih dikenal dengan ProXL. Jadi, mungkin sudah sekitar 15 tahun saya telah menjadi pelanggan.

Kebetulan pula, peresmian XL Center Adisutjipto Yogyakarta ini bertepatan dengan ulang tahun ke-19 — XL sendiri telah beroperasi sejak 8 Oktober 1996 — dari perusahaan ini. Acara ini sendiri dihadiri oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Bambang Parikesit (VP XL Central Region), beberapa perwakilan dari XL Axiata, dan undangan lainnya.

Setelah beberapa kata sambutan, XL Center Adisutjipto Yogyakarta dibuka secara resmi dengan penandatanganan prasasti oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Dan, itulah kali pertama juga saya mengunjungi gerai XL Center yang baru. Sebelumnya, saya memang pernah beberapa kali pula mendatangi XL Center yang berada di lokasi sebelumnya di Jl. Mangkubumi, Yogyakarta. Keperluan cukup standar yaitu melakukan penggantian kartu Micro SIM, dan juga kartu Nano SIM.

Pengalaman Mengganti Micro-SIM dan Nano-SIM XL Axiata

Kemarin (Sabtu, 5 Januari 2012), saya akhirnya datang lagi ke Graha XL di Jl. Mangkubumi, Jogjakarta. Kedatangan saya kali ini karena saya ingin mengubah kartu. Kartu utama saya yang terpasang di iPhone 4 — baca tulisan terkait: “Pengalaman Mengurus Micro SIM XL Axiata (di Jogjakarta)” — ingin saya pindahkan ke iPhone 5 yang mulai saya miliki bulan lalu, dan sebaliknya.

Masalahnya adalah bahwa ukuran dari kartu tersebut berbeda. Memang penggantian kartu fisik bisa dilakukan sendiri dari micro-SIM ke nano-SIM. Masalahnya adalah bagaimana dengan dari nano-SIM ke micro-SIM. Ditambah lagi saya malah takut salah potong yang mengakibatkan kartu tidak dapat digunakan.

XL

Sebenarnya, rencana saya untuk mengurus penggantian kartu ini sudah minggu lalu. Tapi, karena akhir tahun dan lalu lintas di Jogja sangat padat, saya tunda terlebih dahulu.

Sabtu sore sekitar pukul 14:30 saya datang ke Graha XL. Tidak banyak antrian sore itu. Ketika saya datang, saya mendapat nomor antrian 471. Baru saja saya duduk, saya dipanggil ke meja Customer Service, dan saya dilayani oleh CSO yang bernama Ratih — menurut identitas di meja nomor 2.

Graha XL - Ratih

Setelah saya sampaikan maksud kedatangan saya, ternyata stok untuk nano-SIM tidak ada. Tapi kalau micro-SIM ada. Karena pada prinsipnya nomor saya yang micro itu tinggal dipotong (walaupun dari sisi tebal memang sedikit berbeda), CSO tersebut menawarkan untuk memotongnya. Saya menyetujuinya. Ternyata berhasil tanpa masalah. Langsung saya pindahkan ke iPhone 5 milik saya, dan semua berfungsi dengan baik.

Nano-SIM yang sudah ada akhirnya diganti dengan kartu lain (micro-SIM) yang baru. Semua proses berjalan dengan cepat, tanpa ada masalah. Saya pasang kartu baru tersebut, dan semuanya berfungsi dengan baik.

Setelah semuanya selesai — saya lupa tepatnya berapa menit, saya sempatkan tanya juga beberapa hal tentang layanan internet di luar negeri, karena kebetulan saya ada rencana perjalanan ke Kuala Lumpur. Informasi yang saya dapatkan cukup lengkap — yang walaupun pada akhirnya saya coba baca lagi di situs XL. Tentang bagaimana nanti pengalaman menggunakannya di luar negeri, saya akan coba ulas.

Oh ya, untuk penggantian kartu — dan modifikasi kartu — tidak dikenakan biaya alias gratis. Lha terus kok pakai 2 buah iPhone? Justru penggantian kartu ini karena iPhone 4 memang mau dibuat untuk keperluan bersama dengan rekan-rekan kerja di kantor :)

Klarifikasi dan diskusi dengan pihak BCA seputar blokir Internet Banking

Malam ini, saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan pihak perwakilan BCA seputar permasalahan saya seputar Internet Banking BCA yang saya alami kemarin (Baca: Permasalahan akun Internet Banking BCA diblokir karena antivirus?). Walaupun sebenarnya permasalahan saya tersebut bisa dikatakan sudah selesai (Baca: Tindak lanjut permasalahan Internet Banking BCA yang terblokir dan beberapa catatan lain).

Namun, dari obrolan saya mendapatkan beberapa informasi yang ingin saya bagikan dan semoga bermanfaat jika mengalami permasalahan serupa. Atau, mungkin sebagai informasi awal jika permasalahan seperti yang saya alami muncul dikemudian hari.

Diskusi dengan pihak BCA

Sekitar pukul 17:51 WIB (22 Desember 2012) saya mendapatkan telpon dari pihak Halo BCA yang bermaksud menanyakan beberapa hal/keluhan yang saya sampaikan melalui Twitter. Dalam pembicaraan singkat tersebut, saya sampaikan juga bahwa permasalahan yang saya alami sudah selesai, dan saya sudah dapat mengakses akun Internet Banking BCA saya tanpa masalah.

Ulasan Apple iPhone 5

Minggu lalu, saya berkesempatan untuk memiliki iPhone 5. Seminggu terakhir ini, saya mecoba untuk selalu menggunakan iPhone 5 dalam aktivitas sehari-hari, menggantikan iPhone 4 milik saya sebelumnya. Dan, saatnya menuliskan sedikit ulasan mengenai iPhone 5 ini. Oh ya, ulasan ini merupakan pendapat pribadi saya, sebagai salah satu pengguna produk Apple — disamping beberapa produk lain yang saya punya/gunakan akhir-akhir ini (iPhone 4, New iPad, Lumia 800, HTC Desire HD, dan BlackBerry 9860).

iPhone_5_body_5

Boks

Paket penjualan dalam kardus iPhone 5 cukup standar. Dikemas dalam sebuah kardus yang mirip dengan iPhone 4, cuma dengan ukuran yang sedikit lebih besar. Lalu, apa saja isi dalam kardus paket penjualan ini?

  • Sebuah iPhone 5 — yang saya miliki adalah sebuah iPhone 5 berwarna hitam, dengan kapasitas 16GB.
  • Apple EarPods
  • Adaptor dan kabel Lightning to USB.
  • Buku panduan

Kesan yang saya dapatkan ketika memegang iPhone 5 untuk pertama kali adalah bahwa iPhone 5 ini lebih terasa lebih enteng (dibandingkan iPhone 4 yang biasa saya pakai). Walaupun diklaim memiliki berat 20% lebih ringan (sekitar 112 gram), tapi tidak terasa terlalu enteng. Cukup ringan, tapi saya masih mendapatkan kesan yang kokoh dan padat.

Cerita Peluncuran iPhone 5 di Indonesia (oleh XL Axiata)

Sepanjang tahun 2012 ini, banyak sekali produsen telepon pintar yang meluncurkan produk barunya, termasuk salah satunya peluncuran iPhone 5.

iPhone5_is_here

Saya menginginkannya, dan mungkin ribuan orang lainnya yang menggunakan produk dari Apple (baik itu MacBook Pro, iPad, iPad Mini, dan iPhone). Seperti kehadiran produk iPhone sebelumnya, penjualan iPhone ini bersama dengan beberapa perusahaan telekomunikasi yang menawarkan banyak pilihan paket.

XL_AntriLikeAKing_flow

Untuk menggaet para calon pengguna, perusahaan telekomunikasi melakukan beberapa bentuk kampanye/promo. Salah satunya adalah XL Axiata yang melakukan promo penjualan iPhone 5 melalui kampanye #AntriLikeAKing.  Sudah diprediksikan bahwa animo untuk mendapatkan iPhone 5 di hari pertama — dan sudah terjadi di banyak negara — kalau antrian pasti ada. Cuma, tidak semua orang suka dengan antri.

#AntriLikeAKing (antrilikeaking.com) yang diselenggarakan oleh XL ini ada di dua tempat di Jakarta yaitu Xplor Senayan City, dan Xplor Central Park. Konsep dari program ini adalah memberikan kemudahan bagi calon pembeli dalam melakukan antrian. Ya, karena antri memang bisa sangat membosankan. Yang paling sederhana adalah adanya “joki” untuk mengantri yang memang disediakan oleh pihak XL. Kedua “joki” inilah yang menggantikan antrian.

Pengalaman Mengurus Micro SIM XL Axiata (di Jogjakarta)

Kalau tidak salah ingat, kali terakhir saya mendatangi Graha XL di Jogjakarta adalah sekitar tahun lalu, ketika saya berkeinginan untuk membeli iPhone 4. Saat itu, niat saya tidak terwujud karena stok barang yang tidak tersedia. Sebagai pelanggan XL, saya cukup puas sampai dengan saat ini (mungkin sekitar 10 tahun, atau lebih). Walaupun dulu pernah juga mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Mulai dari masalah sinyal/jaringan yang hilangmasalah dengan Ring Back Tone (RBT), dan gangguan yang lain.

Kedatangan saya kali ini adalah terkait masalah micro SIM. Setelah saya menggunakan paket internet XL selama satu bulan, dan kebetulan paket internet di iPhone saya juga sudah habis, saya memutuskan untuk mencoba melanjutkan paket internet yang saya sedang gunakan, yaitu XL HotRod. Alasannya adalah bahwa layanan ini cukup baik, paling tidak ketika saya menggunakannya sehari-hari di beberapa tempat yang sering saya kunjungi (rumah, kantor, ataupun tempat mobillitas lainnya).

Yang menjadikan masalah kemarin adalah bahwa kartu XL saya berukuran standar. Saya memang punya pemotong kartu, tapi mungkin karena memang sudah terlalu lama, jadi disain chip saya kurang perhatikan. Alhasil, jadilah simcard saya terpotong dengan tidak seharusnya. Karena ini nomor utama saya — dan kejadian sudah malam — saya putuskan untuk segara mengurus secepatnya.

grhxl1

Sekitar pukul 12.00 saya mendatangi Graha XL di Jl. Mangkubumi, Jogjakarta. Ternyata saat itu cukup ramai. Setelah mengambil nomor antrian saya menunggu. Ya, paling tidak jadi ada kesibukan untuk memerhatikan orang-orang yang ada disana. Saya mendapat nomor antrian 737, dan saat itu layanan pelanggan sedang melayani nomor antrian 725. Saya mulai saja menyibukkan diri dengan mencoba koneksi nirkabel yang ada disana. Coba login menggunakan iPad, tidak berhasil. Coba dengan BlackBerry dan iPhone, sama saja. Akhirnya saya hanya melihat-lihat saja.

Ada pelanggan yang terlihat sedang dibantu karena masalah koneksi internet di ponselnya. Dari sedikit mencuri dengar obrolan — lebih karena jarak yang dekat dan suara bisa terdengar — petugas layanan sedang membantu melakukan pengecekan. Ada pula pelanggan yang sepertinya sedang melakukan penggantian (atau pembelian, saya kurang tahu) kartu baru.

Pandangan saya alihkan ke arah pintu masuk, petugas depan pintu sesekali membuka pintu untuk yang akan masuk. Saya amati petugas layanan dibelakang meja masing-masing masih terlihat terus berusaha menjawab pertanyaan, dan memberikan layanan.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit.  Limat belas menit. Akhirnya nomor tunggu sebelum saya sudah dilayani. Berarti tinggal giliran saya. Saya lihat masing-masing meja dan mencoba menebak di meja berapa saya akan dilayani. Akhirnya, nomor urut tunggu saya dipanggil, dan saya dibantu oleh CSO di meja No. 5, dengan Kristi (seperti yang tertulis di papan nama di meja). Tapi, ketika saya lihat di nama pengenal, tertulis Kristie. Oke, yang pasti saya yakin namanya bukan Kristianto, dan jelas bukan Kris Biantoro. Abaikan kalimat terakhir ini :D

grhxl2-640x478

Saya sampaikan maksud kedatangan saya. Dan tanpa banyak bicara CSO yang melayani saya segera memberikan catatan di lembar layanan. Setelah meminjam kartu identitas saya, kemudian dia meninggalkan meja. Tanpa banyak bicara ini maksudnya bukan cuek, tapi karena sudah menanyakan dan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan keperluan saya. Dan, saya pribadi nyaman dengan cara seperti ini.

Dia berjalan menjauh meninggalkan saya sendiri. Saya coba menunggu apakah dia akan menengok ke belakaang. Ternyata tidak. Tiba-tiba terdengar lirih suara hati saya yang hancur berkeping-keping.

Cut! Nulis apa ini?! Kembali ke cerita lagi!

Tidak lama kemudian, kartu SIM saya sudah siap. Saya menyampaikan juga kalau minta sekalian didaftarkan untuk paket internet sesuai dengan pilihan saya, dan sekalian untuk melakukan pengisian pulsa. Setelah pulsa masuk, dia meminta ijin untuk melakukan pengecekan pengaturan internet. Setelah semua siap, saya diminta untuk mengecek kembali. Saya cek, semua sudah berjalan dengan lancar. Oh ya, ada sedikit kesalahpahaman — yang ini sepertinya juga tidak ada yang salah. Saya minta untuk diisi pulsa Rp. 100.000,-. Maksud saya adalah pulsa Rp. 100,000,- ditambah dengan paket internet. Tapi, pulsa tersebut ternyata sebagian digunakan untuk melakukan paket berlangganan internet. Saya ditawari apakah mau melakukan penambahan lagi, saya jawab tidak. Mungkin saya akan melakukannya sendiri nanti. No big deal.

Setelah semua beres, saya ucapkan terima kasih dan, meninggalkan meja layanan konsumen. Secara umum, saya mendapatkan pelayanan yang baik, dan petugas layanan konsumen juga memberikan bantuan dengan baik dan ramah. A nice experience to have everyting solved within minutes. Great! Thank you.

[Ditambahkan 28 Agustus 2012, 22:26 WIB]

Hari ini, sekitar pukul 11:30 saya mendapatkan telepon dari XL (melalui nomor 818) yang menanyakan perihal urusan saya kemarin. Kebetulan memang karena saya berinteraksi juga melalui Twitter.

Sempat agak bingung juga, karena pada prinsipnya saya tidak mengalami masalah dengan layanan. Sempat ditanyakan juga tentang bagaimana Twitter — yang saya rasa memang berfungsi sebagai perpanjangan tangan layanan konsumen — membantu menjawab pertanyaan/permasalahan saya. Saya jawab kalau akun Twitter @XLCare membantu dan memberikan informasi yang saya butuhkan (saat itu).

Sepele memang, tapi saya rasa ini hal yang sangat baik sebagai bentuk tindak lanjut dari Twitter sebagai kanal layanan konsumen. Walaupun tidak berharap, semoga ini berlaku sama jika kedepannya ada permasalahan.

Ring Back Tone (RBT) XL yang tidak menyenangkan

Saya adalah pengguna jasa komunikasi XL dari PT Excelcomindo Pratama Tbk (sekarang PT XL Axiata Tbk). Menjadi salah satu pelanggannya juga sudah cukup lama. Lupa kapan tepatnya, tapi waktu itu saya membeli kartu perdana seharga kurang lebih Rp. 75.000,00. Tahun berapa ya itu?

Walaupun tidak bisa dikatakan tanpa masalah, tapi saya lumayan puas deh. Di tahun 2008 lalu, saya pernah menuliskan tentang pengalaman tidak mengenakkan ketika menggunakan Pro XL. Seingat saya, saya belum pernah lagi (dan semoga tidak!) mengalami kejadian serupa.

Di televisi, sering muncul iklan tentang tarif menelpon murah, SMS murah, bahkan sampai harga paket data yang murah juga. Tertarik? Kalau saya tidak terlalu tertarik. Walaupun pesan bahwa ada promosi tarif semacam ini mungkin sampai kepada saya.

Beberapa hari lalu, saya diberitahu oleh oleh Lala kalau ada nada sambung lagu ketika dia menelpon saya dan tanya apakah saya memang memasangnya? Heh? Seingat saya, saya tidak pernah berlangganan hal seperti ini. Bagi saya, ini tidak terlalu penting, apalagi juga disusupi oleh iklan. “Pengen lagu ini jadi nada sambung pribadi kamu?”. Kurang lebih begitu. Kadang, kalau saya menelpon orang dan mendengarkan nada tunggu sepertinya ini, dalam hati (kadang saya ucapkan pelan) saya jawab, “Ndakkkk…”. Eeehhh.. lha kok malah sekarang terpasang di tempat saya.