Categories
Umum

Dosis 3 AstraZeneca

Hari Senin lalu, akhirnya saya mendapatkan AstraZeneca sebagai vaksin dosis ketiga saya. Bersama dengan istri saya, proses vaksinasi kami ikuti di RSUD Sleman.

Sebelumnya, saya pernah melakukan registrasi di RS Siloam, tapi di jadwal yang ditentukan, ternyata saya malah ada keperluan sehingga tidak dapat hadir sesuai jadwal. Waktu itu, saya juga dijadwalkan mendapat AstraZeneca.

Bersyukur sebenarnya karena cukup banyak pilihan tempat vaksinasi booster ini. Pilihan ke RSUD Sleman sebenarnya lebih karena lebih dekat dengan rumah saja. Kalau pilihan vaksin, yang banyak tersedia adalah AstraZeneca. Awalnya, saya dan istri berharap bisa dapat Pfizer atau Moderna. Tapi, tidak jelas juga kapan. Jadi, dengan alasan bahwa lebih cepat juga lebih baik, jadi yang ada saja.

Proses Vaksinasi

Proses registrasi saya laksanakan melalui WhatsApp ke 081548500500. Persyaratan membawa fotokopi KTP dan juga salinan sertifikat vaksin. Walaupun akhirnya ketika pendaftaran ulang, yang diperlukan hanya KTP saja. Pelaksanaan sendiri berjalan lancar saja tanpa kendala berarti. Saat itu, untuk setiap hari tersedia kuota 120 orang.

Kalau ingin langsung datang, juga bisa. Prosesnya akan sama. Datang ke loket informasi untuk mengambil nomor antrian vaksinasi, lalu naik ke lantai 4, datang ke meja registrasi, isi formulir, lalu tunggu prosesnya. Untuk layanan vaksinasi di jam 08.00-11.00 WIB.

Proses mungkin sedikit agak lama lebih karena saat itu hanya ada 1 petugas screening dan 1 petugas vaksinator. Ini mungkin juga disesuaikan dengan ketersediaan ruangan juga saya rasa. Tidak masalah.

KIPI

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) masih terasa. Malam harinya, badan terasa agak meriang, tapi tidak parah. Sendiri terasa agak nyeri, tapi ringan saja. Efeknya lebih ke agak susah tidur saja sebenarnya.

Keesokan harinya, cuma terasa badan agak lemas — bisa jadi ini juga karena malamnya kurang tidur — dan kepala agak pusing. Jadi, banyakan dipakai untuk istirahat saja. Demam tidak terasa, suhu badan normal saja.

Tapi, sore harinya, kondisi badan jauh membaik dan sudah bisa beraktivitas normal. Istri saya, malam hari badan hanya terasa sedikit hangat saja, tapi lainnya normal. Bekas suntikan juga hanya terasa pegal ringan saja ternyata.

Categories
Umum

Tak Ada Lagi Tes PCR dan Antigen untuk Perjalanan Domestik

Photo by Pixabay from Pexels

Pemerintah melonggarkan syarat pelaku perjalanan domestik. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah menghapus syarat tes Covid-19 Polymerase Chain Reaction (PCR) dan antigen bagi pelaku perjalanan darat, laut, dan udara di dalam negeri yang sudah menerima vaksin corona dosis lengkap.

Katadata: Pemerintah Hapus Syarat Tes PCR dan Antigen untuk Perjalanan Domestik

Masih terkait dengan kebjiakan tersebut, dari sumber artikel yang sama ada beberapa hal lainnya:

  • Kapasitas kompetisi olahraga dilonggarkan. Seluruh kegiatan kompetisi olahraga dapat menerima penonton yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 dosis tambahan atau booster.
  • Terkait dengan kegiatan tersebut, pengunjung wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi.
  • Kapasitas penonton/pengunjung akan didasarkan pada penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di masing-masing wilayah.

Sebagian diri saya menyetujui kebijakan ini, tapi sebagian lagi juga kurang setuju karena walaupun prosentase vaksinasi semakin meningkat — termasuk pemberian dosis ketiga/booster — tapi angka kematian cukup tinggi.

Saya setuju dalam konteks supaya pergerakan masyarakat terutama untuk roda perekonomian tetap berjalan. Bukan hanya bagi mereka yang punya usaha, tapi bagi karyawan/pekerja ini juga sebuah ‘kemudahan’. Dalam melakukan perjalanan yang membutuhkan tes PCR atau antigen, tentu jadi ada penambahan biaya, dan jumlahnya otomatis tidak kecil.

Beruntung kalau biaya ini bisa dibebankan kepada pihak lain (perusahaan, misanya), kalau tidak?

Sedikit kurang setuju dengan kebijjakan ya mungkin karena kasus masih cukup tinggi. Bagi yang sudah mendapatkan vaksinasi dua dosis, efek apabila terkena COVID-19 cenderung tidak terlalu parah. Namun, bisa jadi kebijakan ini memiliki peran penambahan kasus menjadi signifikan.

Artinya, jumlah kasus naik, lebih banyak masyarakat yang perlu isolasi mandiri, yang otomatis bisa jadi kegiatan perekonomian akan terpengaruh kembali.

Sepertinya, hidup berdampingan dengan COVID-19 ini sudah semakin terasa. Semoga kondisi tetap untuk saling jaga dan waspada dengan protokol kesehatan di level pribadi tetap berjalan.

Categories
Umum

Dosis Tiga Vaksinasi Covid-19

Photo by Nataliya Vaitkevich from Pexels

Hari ini, sudah enam bulan sejak saya mendapatkan dosis kedua Aztra Zeneca untuk vaksinasi Covid-19. Informasi ini saya dapatkan melalui aplikasi PeduliLindungi. Jadi, usai sudah penantian saya menunggu dosis ketiga.

Saya memilih untuk melakukan registrasi di tempat yang sama yaitu di RS Siloam Yogyakarta. Tidak ada alasan khusus, tapi karena saya mendapatkan pengalaman yang baik sebelumnya di sana.

Saat ini sudah melakukan registrasi, dan menurut informasi, untuk jadwal akan menunggu pemberitahuan/undangan. Semoga dalam waktu dekat sudah mendapatkan giliran. Menurut informasi, rencana akan mendapatkan setengah dosis Pfizer.

Update: Informasi terbaru, vaksinasi dosis ketiga dapat diterima setelah 3 (tiga) bulan sejak dosis kedua. (Sumber: Kementerian Kesehatan RI)

Categories
Umum

Menunggu Booster AstraZeneca

Photo by Thirdman from Pexels

Tentang adanya program booster untuk vaksinasi COVID-19, saya termasuk yang menantikannya. Mungkin sama seperti waktu kali pertama saya menantikan dosis pertama vaksinasi, yang saat itu akhirnya saya mendapatkan AstraZeneca. Puji Tuhan, sampai dengan saat ini masih diberikan kesehatan. Dosis kedua AstraZeneca saya terima di akhir Agustus 2021 lalu.

Kalau merujuk kepada rekomendasi dari Kementerian Kesehatan RI, saya berpotensi untuk mendapatkan 1/2 dosis Moderna atau Pfizer, atau 1 dosis AstraZeneca kembali.

Semoga di akhir Maret 2022 nanti, dapat menerima booster ini. Dan, semoga semua selalu diberikan berkat kesehatan.

Categories
Umum

Perpanjangan Masa Berlaku Akun Kredit AirAsia

Karena pandemi COVID-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik, jadi keinginan untuk melakukan perjalanan udara juga masih ditunda lagi. Sebenarnya ada keinginan untuk menggunakan saldo dana yang ada di akun AirAsia dari hasil proses pengembalian dana.

Sedikit ada kabar baik. AirAsia memperpanjang masa berlaku kredit akun menjadi 3 (tiga) tahun sejak diterbitkan. Jadi, ada tambahan 1 (satu) tahun lagi dari masa aktif akun kredit sebelumnya yang selama 2 (dua) tahun.

Categories
Umum

Sudah Divaksinasi AstraZeneca

Awal tahun ini, saya dengan sadar memilih untuk divaksinasi jika kesempatan itu mendapatkan vaksinasi memang ada. Kalau ditanya saya masuk golongan yang pro-vaksinasi atau anti-vaksinasi, untuk ke diri saya, saya memilih untuk mendapatkan vaksinasi.

Ya, sederhana saja, saat ini vaksinasi merupakan salah satu proses yang masuk akal untuk menekan lanju COVID-19. Dan, jika saat ini vaksinasi merupakan pilihan terbaik, kenapa tidak?

Photo by Artem Podrez from Pexels

Pilihan Vaksin

Yang sudah beredar banyak setelah Sinovac tentu AstraZeneca. Di awal Juni 2021 ini, yang banyak tersedia adalah AstraZeneca. Lalu, kenapa mau dikasih AstraZeneca, bukankan AstraZeneca itu bla-bla-bla-bla?

Ya, saya cukup banyak baca. Ada kasus penerima vaksinasi yang sampai meninggal karena pembeukan darah setelah menerima AstraZeneca, sedangkan sebelum-sebelumnya ketika pakai Sinovac aman saja.

Saya juga membaca opini bahkan dari orang-orang yang saya kenal bahwa AstraZeneca ini efeknya lebih keras — daripada Sinovac. Dan, yang ngomong rata-rata ada dalam kelompok yang belum vaksinasi sama sekali, dan berdasarkan baca berita atau dengar dari orang lain.

Apakah saya takut untuk menerima AstraZeneca? Perasaan was-was pasti ada. Pun kecil, kasus lanjutan setelah vaksinasi bisa terjadi kepada siapapun, termasuk saya. Tapi, di saat yang sama, bahwa saya bisa tertular COVID-19 atau menjadi carrier itu juga bisa terjadi, itu adalah fakta.

Jadi, alih-alih menunda untuk menghindari AstraZeneca, saya memutuskan untuk menerimanya. Apakah dengan tidak menerima AstraZeneca saya akan bisa menerima vaksin sesuai pilihan saya? Apalagi pilihan tersebut hanya berdasarkan “kayaknya yang A lebih aman”, atau “katanya si B bagus yang vaksin C”. Saya sendiri juga bukan orang medis, tapi satu hal yang saya pegang: vaksin yang beredar pasti sudah melalui proses penelitian, uji klinis, dan mendapatkan ijin edar. Puluhan atau bahkan ratusan ribu orang sudah menerima AstraZeneca sebelum saya. Jadi, kenapa tidak?

Efek Samping AstraZeneca

Sebelum vaksinasi pada hari Rabu, sehari sebelumnya saya tidak ada persiapan selain istirahat yang cukup saja. Dan, pagi sebelum vaksinasi — sekitar jam 11.00 WIB — saya sempatkan sarapan. Selebihnya, biasa saja. Saya sudah baca KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) untuk AstraZeneca di berbagai sumber, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Hari Pertama (Rabu)

Sebelum proses vaksinasi, diawali dengan pengisian data dan pernyataan persetujuan sebagai bagian dari proses screening. Suhu badan normal, tekanan darah normal, dan semua pertanyaan terkait antisipasi dan efek pasca vaksinasi dijawab apa adanya. Tidak ada yang serius dan menghalangi.

Proses observasi di tempat setelah vaksinasi juga tidak ada masalah. Belu ada gejala/efek lanjutan yang langsung terlihat. Bahkan, setelah vaksinasi, saya langsung beraktivitas seperti biasa, termasuk bekerja sampai sore hari.

Malamnya sekitar pukul 20.00 WIB, suhu badan agak naik, terasa agak demam, tapi belum sampai mengganggu sekali. Rasanya seperti mau meriang. Kepala sedikit pusing saja. Kondisi ini terjadi terus, sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Saya putuskan untuk minum obat sakit kepala, karena ini diperbolehkan juga. Kondisi badan terasa dingin, tapi suhu badan agak naik. Lidah juga tidak pahit, bisa mengecap rasa seperti biasa.

Setelah minum obat, saya paksakan istirahat.

Hari Kedua (Kamis)

Pagi bangun masih agak demam, tapi tidak sepanas hari sebelumnya — yang dirasakan. Saya juga tidak sempat ukur suhu badan. Kepala masih sedikit pusing, tapi aktivitas biasa tidak terganggu.

Karena saya rasa tidak terlalu mengganggu, jadi aktivitas harian masih saya lakukan termasuk bekerja. Cuma, badan rasanya jadi terasa lebih lelah saja. Jadi, beberapa saat saya selingi dengan rebahan. Yang pasti, tetap makan dan minum saja.

Sampai malam hari, demam masih, tapi terasa berkurang termasuk sakit kepala. Tapi, secara umum badan terasa lebih enak dari hari sebelumnya. Ketika akan berangkat tidur, badan juga biasa saja. Tidak terasa dingin juga. Bagian lengan atas bekas suntikan agak terasa kaku/pegal. Di hari kedua, saya tidak mengonsumsi obat sama sekali.

Hari Ketiga (Jumat)

Jumat pagi ketika bangun tidur, kondisi badan semua sudah bisa dikatakan normal. Badan tidak ada demam sama sekali, efeknya seperti malam sakit, minum obat, lalu pagi bangun dengan suhu badan normal dan badan segar. Sakit kepala yang sebelumnya ada, tinggal terasa sedikit sekali.

Cuma memang badan masih agak terasa capek saja. Tapi, dengan sedikit dipaksa untuk bergerak, jalan-jalan sebentar di luar rumah, dan aktivitas biasa, badan justru terasa lebih enak.

Area lengan atas tetap terasa agak kaku dan pegal saja, tapi secara umum tidak menghalangi aktivitas sama sekali.

Vaksinasi Lanjutan

Berbeda dengan Sinovac yang memiliki jarak 28 hari dari dosis pertama ke dosis kedua, jarak vaksinasi kedua untuk AstraZeneca adalah 12 minggu. Untuk saya, dijadwalkan di minggu akhir Agustus 2021 untuk dosis keduanya.

Informasi mengenai tanggal vaksinasi dosis satu, termasuk jenis vaksin yang dipakai tertera dengan jelas di kartu vaksinasi. Saya sendiri mendapatkan AstraZeneca batch CTMAV 547.

Categories
Umum

Menparekraf Sandiaga Uno tentang Dana Testing Corona Dialihkan untuk Biaya PCR-Antigen Wisatawan

Diperlukan keringanan biaya testing untuk calon wisatawan yang ke Bali. Ini yang akan kita pertimbangkan sebagai bentuk insentif yang bisa kita berikan, yakni testing (biaya PCR atau antigen) yang dibebankan ke pemerintah. Ternyata anggaran testing itu sampe Rp 6 triliun yang belum terserap, baru sedikit sekali yang terserap. Jadi, saya nanti mengusulkan dan dorong ke PEN agar itu bisa dialihkan, anggaran yang tidak terserap sebagai intensif.

Menparekraf Sandiaga Uno tentang pengalihan biaya pengetesan corona dialihkan untuk membiayai PCR atau rapid test antigen wisatawan (yang mau ke Bali). Sumber: Kumparan

Sebentar, Pak Sandiaga Uno… Sebentar.

Sependek pengetahuan saya, pendapat Anda ini agak membingungkan. Benar bahwa Bali terdampak karena pariwisata menjadi faktor penting perekonomian di sana. Bukan bermaksud mengecilkan, tapi daerah lain — walaupun bukan selalu terkait pariwisata — juga mengalami dampak yang luar bisa karena COVID-19 ini.

Sekali lagi, ini bukan sentimen saya soal Bali, tapi tentang pernyataan beliau ini. Saya juga suka Bali ketika berlibur ke Bali.

Tapi, Pak… saya agak bingung dengan logika berpikir Anda.

Categories
Umum

Mematikan Fitur Face Login di Aplikasi DANA

Untuk beberapa kegiatan transaksi, saya memiliki beberapa preferensi dalam hal pembayaran. Misalnya, untuk transaksi nominal di bawah Rp100.000 saya biasanya memilih GoPay, OVO, atau Shopee Pay.

Logo DANA

Sedikit berbeda misalnya ketika melakukan pembayaran untuk transaksi ke supermarket, saya lebih memilih menggunakan DANA. Saya tidak tahu persis kapan mulainya, tapi mungkin sekitar tahun lalu, ketika akan melakukan transaksi, kadang harus melewati proses verifikasi tambahan dengan menggunakan deteksi wajah.

Tentu, ini menjadi salah satu hal baik terkait dengan lapisan keamanan dari aplikasi. Karena, selain PIN, dengan memindai wajah dari pemilik akun untuk otorisasi, proses transaksi seharusnya akan menjadi lebih aman. Namun, ada sedikit kekurangnyamanan terkait fitur ini.

Keamanan dengan kenyamanan memang menjadi sebuah diskusi yang panjang. “Maunya” keamaman dan kenyamanan ini bisa berjalan bersama. Tapi, nyatanya memang tidak selalu bisa berjalan berbarengan.

Mematikan Fitur Face Login

Saya tetap mengapresiasi bahwa DANA menawarkan fitur ini. Jelas, saya tidak melihat bahwa fitur ini merupakan fitur yang jelek. Namun, menurut saya ada beberapa kondisi yang kurang cocok untuk saya sebagai pengguna:

  1. Face Login tidak terlalu bersahabat dengan pengguna yang memakai masker.
    Kalau fitur ini digunakan di rumah saja, saya rasa tidak terlalu masalah. Ya walaupun di rumah memang jadi cenderung lebih “aman”, karena tidak perlu ada pihak lain yang mengawasi atau lebih sedikit potensi penyalahgunaan akun. Sedangkan kalau di luar rumah, di masa pandemi COVID-19 ini, saya selalu memakai masker, termasuk ketika sedang berbelanja. Jadi, membuka masker di kasir untuk melakukan validasi pembayaran sepertinya bukan menjadi pilihan untuk saya.
  2. Seingat saya, ada dua kali proses dalam verifikasi dengan wajah di aplikasi DANA ini. Pertama, untuk memvalidasi bahwa benar itu adalah muka pengguna. Kedua, pengguna diminta untuk “berkedip” sebagai konfirmasi proses selanjutnya.

Tentu, pengalaman pengguna lain bisa berbeda.

Beruntung fitur Face Login ini bisa dinonaktifkan dari menu “Me” lalu ke “Profile Settings” (menu sesuai dengan pengaturan bahasa di antar muka ponsel). Jadi, untuk saat ini, saya rasa PIN sudah cukup. Jika nanti ingin mengaktifkan kembali, prosesnya juga mudah.

Categories
Umum

Akhirnya, Swab Antigen Juga

Photo by Testalize.me on Unsplash

Akhirnya, hari ini saya melakukan swab Antigen untuk kali pertama di HI-LAB Diagnostic Center, salah satu klinik laboratorium yang berada di tengah kota, di seputaran Kotabaru, di sisi selatan Stadion Kridosono. Ini satu area dengan Klinik Mata Sehati, tempat saya memeriksakan mata.

Sekarang memang sudah cukup banyak opsi untuk melakukan swab Antigen di Jogjakarta, pemilihan lokasi ini tidak ada preferensi khusus. Ya saya milih lokasi ini saja. Kebetulan juga, ART yang akhirnya kembali bekerja juga melakukan tes di lokasi tersebut.

Kenapa?

Jadi beberapa hari lalu, setelah saya bertemu dengan seorang teman, keesokan harinya dia memberitahu kalau salah satu teman istrinya terindikasi terpapar COVID-19. Sempat kaget juga, tentu saja. Saya bertemu teman saya tidak lama, mungkin hanya sekitar 2 jam. Dan, itu cuma berdua, di tempat yang sirkulasi udara cukup baik, dan duduk tidak berhadapan, dan tetap menjaga jarak aman.

Saya sendiri, kalau di luar rumah khususnya ketika ada bertemu orang dan ada kemungkinan mengobrol, pasti mengusahakan selalu menggunakan masker dobel. Masker kain ditambah masker medis di sisi dalam. Dan, sampai saat ini masih cukup nyaman.

“Harusnya aman karena kan selalu pakai masker terus, dan bahkan dobel” adalah salah satu perasaan yang di awal muncul, setelah mendapatkan saya berinteraksi dengan orang yang kontak yang walaupun belum tentu positif. Jadi, pilihannya tes atau tidak.

Akhirnya, memutuskan untuk swab antigen saja untuk memastikan.

Proses Registrasi dan Swab Antigen

Saya melakukan proses pendaftaran secara daring melalui situs yang disediakan. Proses registrasi berjalan dengan mudah dan efisien. Saya cukup mendaftar, menentukan jadwal pemeriksaan, dan melakukan pembayaran melalui transfer bank. Untuk dokumen, saya menyertakan KTP saja.

Biaya yang saya keluarkan untuk tes ini adalah Rp225.000,-.

Beruntung antrian tidak panjang. Setelah mengonfirmasi kedatangan, saya langsung diminta menunggu di area tunggu. Saya mungkin menunggu sekitar sekitar 15 menit saja.

Dan, giliran saya tiba. Petugas menjelaskan prosedur dengan ringkas dan jelas, dan saya tinggal menikmati prosesnya, alat swab masuk ke kedua lubang hidung saya. Agak tidak nyaman, tapi syukurlah semua proses berjalan cepat dan lancar.

Hasil

Proses swab saya berlangsung sekitar puklu 08.50 WIB. Dan, hasil tes swab saya terkirim ke surel saya sekitar pukul 09.39 WIB. Jadi kurang dari satu jam hasil sudah dapat diketahui. Mungkin karena proses antrian tidak banyak hari ini.

Puji Tuhan.

Categories
Umum

Tentang Pendataan Vaksinasi COVID-19 untuk Lansia (Melalui Google Form)

Photo by Anete Lusina from Pexels

Pada awal Februari 2021 lalu, BPOM mengeluarkan persetujuan penggunaan darurat (emergency use authorization) vaksin CoronaVac untuk usia 60 tahun ke atas dengan dua dosis suntikan vaksin, yang diberikan dalam selang waktu 28 hari.

Ya, tentu saja ini kabar baik. Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan bagaimana mekanismenya. Tapi, saya justru tertarik tentang bagaimana proses pendataannya. Jadi, beredar beberapa info dan tautan melalui kanal komunikasi di grup WhatsApp mengenai mekanismenya dengan mengisi data… melalui Google Form.

Iya, Google Form.

Google Form tentu memiliki fitur yang dibutuhkan untuk dapat menginput data dengan mudah bagi publik. Data yang masuk bahkan sudah sangat mudah untuk dikelola, karena bisa langsung dapat tersedia dalam format spreadsheet.

Tapi, kenapa menggunakan Google Form ya? Maksud saya lebih kepada bukankan ini — pengisian menggunakan Google Form — akan cukup mudah untuk disalahgunakan? Sesulit apa untuk menyalahgunakan formulir semacam ini? Apalagi, informasi seperti ini sangat “menarik” bagi banyak orang. Bayangkan saja, tautan yang ‘ilegal’ dengan format formulir yang sama persis beredar di masyarakat, lalu data terisi, lalu siapapun yang memiliki formulir itu memegang data.

Bayangkan juga, bahwa ini lalu tidak dibuat hanya terkait pendataan data untuk vaksinasi COVID-19 bagi lansia. Entah mengapa proses input data ini tidak dilaksanakan terpusat di situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Atau, di situs Satgas Penanganan COVID-19. Kalaupun di tingkat yang lebih kecil, bisa ada di situs dinas kesehatan kota/kabupaten. Apa iya tidak bisa membuat sebuah mekanisme mandiri, sehingga data-data yang masuk dapat lebih terlindungi?

Sehingga, peluang untuk mekanisme pengisian data untuk disalahgunakan bisa paling tidak sedikit dikurangi.

Data yang perlu diisi berdasarkan “formulir resmi” terkait pendataan ini seperti NIK (Nomor Induk Keluarga), tanggal lahir, nomor ponsel, dan alamat. Semoga saja, tidak perlu banyak beredar “formulir palsu” nantinya.

Categories
Umum

Hotel Sebagai Alternatif Tempat Bekerja di Luar Kantor atau Rumah

Ilustrasi foto oleh Arina Krasnikova via Pexels

Selama hampir satu tahun berada dalam masa pandemi — dan entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir — saya memang beberapa kali memutuskan untuk berada di luar rumah, untuk bekerja. Tentu, dibandingkan dengan masa sebelum pandemi, aktivitas ini sangat berkurang.

Saya coba hitung, kalau tidak salah, secara total saya hanya pernah empat kali duduk di tempat yang memungkinkan saya untuk bekerja — membuka laptop. Namun, itupun belum tentu saya bekerja dan dalam periode waktu yang tidak terlalu lama (tidak sampai seharian).

Selain di warung kopi — yang didesain dan dikelola untuk sekaligus menjadi coworking space — saya akhirnya juga kadang bekerja dari hotel. Agak berbeda memang, karena bagi saya hotel dari dulu bukan opsi utama jika ingin sekadar duduk, membuka laptop, lalu bekerja.

Bekerja dari Hotel

Lebih tepatnya, ini memanfaatkan fasilitas restoran yang tersedia di hotel. Setelah beberapa waktu lalu saya melihat kalau Prime Plaza Hotel Yogyakarta menawarkan semacam Work From Hotel, saya akhirnya mencobanya.

Catatan

Seluruh cerita terkait dengan pengalaman menggunakan layanan/area di Prime Plaza Hotel Yogyakarta (PPH Yogyakarta) merupakan pengalaman pribadi, dan tidak memiliki afilitasi/kerjasama dengan pihak hotel. Semua biaya yang muncul merupakan biaya pribadi. Pengalaman berbeda mungkin terjadi, dan saya mendorong untuk mengkonsultasikan dengan pihak hotel, jika diperlukan. Semua foto merupakan koleksi pribadi.

Paket “Work From Hotel” ini sebenarnya merupakan sebuah alternatif terkait dengan pemesanan makanan di hotel. Secara prinsip, tanpa harus menggunakan opsi paket “Work From Hotel (WFH)” , tetap bisa saja memesan makanan dari resto, untuk dinikmati di area resto, dan mulai bekerja di tempat yang tersedia.

Untuk kunjungan pertama, saya coba paket seharga Rp55.000. Secara umum, ada beberapa pilihan “paket” yang dapat dipilih sesuai selera, yaitu:

  1. Kopi/teh dan snack, seharga Rp55.000
  2. Kopi/teh, snack dan makan siang, seharga Rp75.000
  3. Coffee break, makan siang, meeting room, seharga Rp100.000

Harga tersebut adalah harga termasuk pajak. Dan, ini dapat digunakan selama jam operasional hotel yaitu setiap hari (termasuk Sabtu dan Minggu), mulai pukul 07.00-23.00 WIB. Informasi lebih lengkap bisa dilihat di https://work-from-hotel.web.app, tapi tetap ada baiknya juga menghubungi narahubung melalui WhatsAppp.

Jam operasional hotel ini lebih memberikan fleksibilitas. Walaupun saya memanfaatkan di jam kerja saja, dan tidak seharian penuh juga pada akhirnya.

Setelah saya menghubungi narahubung ke WhatsApp sekadar konfirmasi layanan ini, saya datang ke lokasi, dan saat itu sekitar pukul 11.00 WIB. Untuk prosedur masuk ke hotel, masih sama dengan sewaktu kali pertama saya datang sekitar dua bulan lalu.

Setelah memarkir kendaraan saya, saya menuju ke area lobi untuk pemeriksaan suhu, menggunakan hand sanitizer dan memindai QR Code yang perlu saya isi sebagai tamu. Pengisian data ini menggunakan Google Form. Area parkir roda dua dan empat tersedia di bagian depan dan sangat luas menurut saya. Oh ya saya masuk melalui pintu masuk utama di Jl. Affandi.

Oleh petugas di lobi, saya ditanyai ada keperluan apa/mau kemana, saya sampaikan mau ke restoran. Dan, selanjutnya lancar saja. Saya sempatkan ke resepsionis, dan diarahkan untuk langsung saja ke area Colombo Pool Terrace, yaitu restoran yang semi outdoor, yang lokasinya ada di samping kolam renang.

Petugas restoran menyambut saya dengan ramah, dan sepertinya cukup well-informed bahwa ada tamu yang datang untuk “Work From Hotel”. Saya ambil tempat duduk agak di pinggir. Saya amati sekilas untuk akses ke colokan listrik juga tersedia di bawah meja.

Saya tidak punya ekspektasi untuk minuman atau snack yang saya dapatkan untuk harga Rp55.000 yang saya bayarkan. Jadi ya tunggu saja. Setelah saya duduk, beberapa saat kemudian saya diinformasikan mengenai akses internet yang bisa digunakan, dan selanjutnya saya ditawarkan apakah mau minum teh atau kopi. Siang itu, saya merencanakan mungkin akan berada disana sekitar 2-3 jam saja. Jadi apapun yang disajikan saya perkirakan cukup untuk menemani saya siang itu.

Akhirnya saya tidak jadi membuka laptop, dan bekerja dari iPad saya. Untuk minuman, saya memilih kopi — yang akhirnya kopi ini bisa untuk porsi dua gelas. Kopinya sendiri merupakan black coffee, dimana ini sesuai dengan ekspektasi saya. Mungkin jika ingin yang selain kopi, bisa memilih teh, yang sepertinya penyajian juga hampir sama. Snack dan sedikit cemilan cukup untuk menemani kopi dan waktu bekerja.

Pengalaman pertama saya untuk mencoba alternatif tempat bekerja di hotel kali ini cukup menarik. Saat saya datang, ada beberapa tamu hotel atau pengunjung yang sedang ada di area restoran. Tapi, karena area cukup luas dan penataan meja/kursi cukup lapang, jadi ya tidak masalah juga. Oh ya, karena area ini semi outdoor, jadi untuk yang mungkin membutuhkan tempat merokok, area ini cukup baik. Ya, walaupun saya sudah tidak merokok juga. Ada sebenarnya pilihan untuk area restoran yang indoor dengan AC. Tapi, saat itu saya memagn lebih tertarik yang semi outdoor.

Categories
Umum

Linimasa Instagram Lebih Ringkas (dan Lebih Bermanfaat)

Foto oleh Kate Torline di Unsplash

Setelah saya bebersih akun Instagram, dengan mengurangi jumlah following, linimasa Instagram dan Instagram Stories menjadi lebih ringkas. Sebenarnya bukan cuma mengurangi, tapi memang jadi ada akun yang malah saya ikuti. Tapi, secara umum saya kurangi. Dan, akun yang saya berhenti ikuti cukup banyak. Berikut yang sudah hampir tidak ada di lnimasa Instagram saya:

  1. Akun selebritas. Hampir tidak lagi akun selebritas yang saya ikuti. Ya, dulu mungkin menarik untuk diikuti, tapi setelah dipikir-pikir, buat apa ya saya ikuti? Walaupun mungkin masih ada, tapi bagi saya mereka itu lebih kepada figur publik, dan saya memang suka dengan kontennya — yang kebanyakan bukan terkait posisi dia sebagai seberitas.
  2. Akun terkait hobi, jualan, dan lebih spesifik akun jualan tanaman. Ketika hype hobi bertanam muncul dan makin teman saya yang hobi bercocok tanam — baik hidroponik maupun tanaman hias — saya banyak mengikuti akun dengan tema tersebut. Jadi, mungkin linimasa saya sekarang tidak sehijau beberapa bulan kemarin.
  3. Akun layanan daring seperti Gojek Indonesia dan Grab, termasuk akun layanan digital seperti dompet digital, layanan perbankan, dan akun yang terkait dengan niaga-el (e-commerce), juga sudah tidak ada dalam linimasa saya. Walaupun, aplikasinya beberapa masih terinstal di ponsel Android saya.
  4. Akun yang tidak saya kenal. Dulu saya mengikuti balik akun Instagram yang mengikuti akun saya. Tapi, setelah saya secara acak ikuti, ternyata saya heran karena ya… sebenarnya tidak kenal. Bahkan, ada yang saya tidak memiliki “mutual connection”.
  5. Akun terkait dunia penerbangan, akun wisata/perjalanan, atau hiburan. Termasuk akun travel/food blogger. Saya sisakan mungkin tidak sampai 10 dalam kategori ini.
  6. Akun yang tidak aktif. Saya lihat daftar akun yang saya ikuti dan menghapus cukup banyak akun yang selama ini hampir tidak pernah saya lihat di linimasa atau Instagram Stories. Tapi, ya bisa saja karena saya tidak masuk dalam “Closed Friend” akun tersebut. Yang soal ini ya tidak apa-apa juga. Kadang sebelumnya saya lihat dulu akunnya sekadar melihat kapan konten terakhir diunggah.

Sepertinya ya sesuai hasil yang ingin dituju: lebih ringkas — dan lebih “ada manfaatnya”. Karena, sebenarnya ada cukup banyak akun yang malah saya ikuti. Dan, kebanyakan adalah terkait dengan pandemi COVID-19, seperti akun dokter, atau akun yang berisi infomrasi singkat dan tentunya bermanfaat.

Categories
Umum

Masih di Masa Pandemi: Opsi Kerja Jarak Jauh/Di Luar Rumah dari Hotel di Yogyakarta

Sejak masa pandemi COVID-19, salah satu yang berubah adalah salah satu kebiasaan untuk bekerja dari luar, dan khususnya ke kafe atau coffee shop, atau co-working space. Saya cukup merindukan suasana yang berbeda dari suasana kantor, atau suasana di rumah.

Seingat saya, kali terakhir saya duduk di coffee shop itu sekitar bulan Oktober atau November tahun lalu di Prada Coffee Argulo di daerah Gejayan, Yogyakarta. Salah satu tempat ngopi favorit saya. Dulu ada juga yang di Kotabaru yang juga salah satu tempat favorit, tapi sekarang sudah tutup.

Karena kebutuhan tiap orang berbeda termasuk saya, jadi kadang spesifik tempat kopi porsinya lebih banyak untuk yang bekerja dengan lebih santai, karena tak jarang karena ketemu dengan teman, ngobrol lebih sering terjadi. Haha! Ya, bagaimana lagi, kebutuhan sosial kan juga harus dipenuhi.

Co-working space, dengan para tamu yang hadir memang cenderung lebih bekerja menjadi opsi yang lain. Starbucks mungkin juga pilihan menarik, tapi saya cukup jarang juga, hanya sesekali saja.

Kerja dari hotel?

Ini juga pilihan, walaupun jarang dimanfaatkan termasuk oleh saya. Saya tidak terlalu ingat kapan kali terakhir saya bekerja dari hotel. Maksudnya, untuk ke area resto, membuka latop, dan mulai bekerja. Padahal, seharusnya ini menjadi pilihan yang menarik. Karena, untuk pelayanan, kebersihan, dan suasana pasti akan berbeda. Walaupun mindset tentang hotel juga tidak mungkin lepas seperti:

  • Harga mahal
  • Wifi standar hotel, walaupun ada tapi lebih kepada fasilitas tambahan saja
  • Suasana kurang santai. Dengan pakai casual, bisa saja bagi beberapa orang lebih intimidatif dibandingkan ke co-working space atau coffee shop.

Dan, yang paling utama karena hotel pada umumnya tidak didesain sebagai tempat bekerja atau co-working space. Jadi, ketika beberapa waktu lalu saya dengar Prime Plaza Hotel Yogyakarta menawarkan layanan bekerja dari hotel — mereka menyebutnya “Work From Hotel (WFH)” — saya tertarik untuk mencoba dan menjadikannya opsi.

Prime Plaza Hotel Yogyakarta ini sebenarnya bukan hotel baru dan cukup akrab bagi merkea yang tinggal di Yogyakarta, apalagi yang sering melewati Jalan Affandi, Gejayan atau komplek Colombo. Di pertengahan November 2020 lalu, saya bahkan sempat berkunjung kesana karena suatu keperluan. Dan, kalau terkait dengan protokol kesehatan di masa COVID-19, yang saat itu saya temui semua berjalan dengan baik.

Bahkan, katanya untuk harga juga cukup bersaing dengan menawarkan beberapa fleksibilitas. Ada yang bisa digunakan untuk harian, dan katanya harga mulai dari Rp50.000 Rp55.000 untuk sekali datang, sudah termasuk kopi/teh dan makanan kecil.

Jadi, mari dicoba.

Categories
Umum

Jadi, Ikut Divaksinasi atau Tidak?

Hari ini, saat penanganan pandemi COVID-19 masih tak kunjung membaik, Indonesia mencatat ada 14.224 kasus baru. Dan, tak hanya itu, ada 5.279 kasus aktif baru (dalam perawatan), dengan positive rate 31,35%. Ketiga angka tersebut merupakan angka tertinggi yang pernah tercatat. Angka tersebut berdasarkan jumlah 45.358 orang yang dites.

Tentang kebijakan untuk menekan persebaran COVID-19 yang dilakukan oleh pemerintah pusat, atau pemerintah daerah, sepertinya juga tidak membawa perbaikan. Alih-alih menerapkan prosedur pelaksanaan yang mendukung pergerakan/mobilitas manusia, tak jarang justru kebijakannya malah berkebalikan.

Sebenarnya ingin optimis bahwa pandemi ini — khususnya di Indonesia — akan ke arah perbaikan. Jumlah kasus menurun, jumlah kematian menurun, tenaga kesehatan juga semakin ringan pekerjaannya. Tapi…

Dan, sepertinya pemerintah lebih menekankan kepada proses vaksinasi sebagai jawaban. padahal, proses vaksinasi ini tidak akan serta merta menghambat laju perkembangan kasus baru di Indonesia. Prosesnya sangat panjang. Dan, seiring dengan proses itu, sangat tidak mustahil dengan tingkat kedisiplinan orang yang masih banyak abai, kasus akan terus naik pula.

Lalu, divaksinasi atau tidak?

Saya tidak tertarik untuk membahas tentang mereka yang pro atau anti terhadap vaksinasi. Itu pilhan mereka. Bahwa ada sanksi jika menolak, biarlah penegakan hukum atau dasar aturannya yang berbicara. Tentang efektivitas, vaksin Sinovac yang diberikan secara gratis, bagian paling penting adalah sudah sesuai dengan standar WHO, dan mendapatkan ijin edar darurat (Emergency Use Authorization) dari BPOM pada 11 Januari 2021 lalu.

Kalau saya, dengan tidak ada banyak pilihan solusi, jika memang sudah saatnya dan saya memang bisa mendapatkan giliran vaksinasi, saya akan menerimanya. Kalau melihat fenomenanya, bukan tidak mungkin justru kehadiran vaksin dengan jadwal vaksinasinya ini membuat proses penanganan penyebaran menjadi lebih sulit.

Bisa saja orang berpikir bahwa karena sudah divaksinasi, maka akan aman. Padahal, selain bahwa prosesnya cukup panjang — pemerintah menargetkan akan selesai dalam 15 bulan — tapi untuk masing-masing penerima vaksin juga tidak serta merta aman.

Ada proses pembentukan antibodi, proses vaksinasi dilakukan dua kali untuk masing-masing penerima dengan jarak 2 minggu. Dan, tidak semua orang mendapatkan jadwal vaksinasi yang sama. Semoga saja kondisi ini juga disadari, jangan malah melegalkan untuk mengendorkan protokol kesehatan.

Semoga.

Categories
Umum

Presiden Joko Widodo: Indonesia Termasuk Mampu Mengelola Pandemi COVID-19 (Januari 2021)

Walau pandemik belum berlalu tapi kita bersyukur bahwa kita termasuk negara yang mampu mengelola tantangan ini, penanganan kesehatan yang bisa dikendalikan dengan terus meningkatkan kewaspadaan dan pertumbuhan ekonomi yang sudah naik kembali sejak kuartal 3 lalu meski dalam kondisi minus.

Tahun 2020 yang baru saja kita lalui benar-benar menguji ketangguhan kita, menguji keuletan sebagai bangsa besar ujian yang tidak mudah, sebuah ujian yang sangat sulit pandemik COVID-19 telah mengakibatkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi di seluruh dunia

Presiden Jowo Widodo, di Istana Kepresidenan Bogor, Minggu (10 Januari 2021), di hadapan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-48 PDIP