Pengalaman Pengembalian Barang Pesanan di Tokopedia

Dari puluhan — atau bahkan mungkin ratusan — transaksi yang saya lakukan di , mungkin baru minggu kemarin saya mengalami kasus dimana saya harus melakukan pengembalian barang karena alasan barang tidak sesuai dengan deskripsi produk.

by Karolina Grabowska

Terakhir kali melakukan pengembalian barang tahun lalu, lebih karena produk dalam kondisi tidak sempurna. Dan, prosesnya waktu itu cukup lancar. Pengalaman kurang mengenakkan sedikit terobati karena penjual memberikan jawaban yang baik. Andai saja saat itu pengecekan barang bisa dilakukan lebih teliti. Pun demikian, bisa saja terjadi ketika proses ekspedisi.

Kali ini, pengalaman saya sedikit berbeda.

Proses transaksi sebenarnya OK saja, dan barang diterima dengan baik tanpa masalah. Ketika melakukan unboxing, barang dalam kondisi baik. Hanya saja, barang yang dikirim berbeda dengan deskripsi order. Bahkan, isi barang juga berbeda dengan label pengiriman yang tertera dalam deskripsi resi.

Saya hubungi penjual melalui fitur chat di aplikasi Tokopedia. Kurang lebih begini diskusinya.

Saya: “Selamat siang, mau update terkait pemesanan. Jadi, barang sudah saya terima, tapi yang dikirim barangnya beda, saya ada unboxing juga. apakah dapat dibantu?”
Penjual: “Iya adanya itu saja gan.Maaf stok kita adanya (ukuran yagn salah di sini)”

Percakapan melalui chat di Tokopedia

Lha! Iya, tetap dikirim walaupun (sebenarnya) stoknya berbeda. Jadi harapannya apa? Pembeli tidak komplen? Duh!

Saya tentu tidak memilih ganti barang, karena toh sudah jelas stok tidak ada. Andai saja penjual sejak awal menginfokan kalau stok (ternyata) tidak tersedia. Jadinya kan tidak perlu ribet mengirim kembali.

Saya lalu coba kembali ke penjual yang lain. Ternyata ada beberapa opsi. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya tanyakan mengenai stok terlebih dahulu. Dan, dapat dua informasi penting:

  1. Barang ready , ketika saya tanyakan ketersediaan barang sesuai tautan produk;
  2. Tipe dan seri barang tersedia, ketika saya tanyakan dengan detail.

Proses transaksi lancar saja, dan ketika barang sampai, kembali barang tidak sesuai pesanan juga!

Dan, ketika menghubungi penjual, jawaban tidak kalah lucu, “Emang gak bisa ya gan? Salah kirim kek nya. Dituker aja deh”

Sejuta topan badai!

Saya memilih untuk langsung saja ajukan komplain, tanpa menjawab apa-apa lagi. Saya rasa tidak perlu lagi melanjutkan diskusi.

Kali ini, seller Tokopedia kurang asik. Dua kali pesanan dalam satu minggu pula!

Ulasan Monitor LED Dell S2721DS 27 Inchi

Beberapa waktu setelah saya bekerja dari rumah, saya sempat terpikir untuk memiliki sebuah monitor yang berukuran agak besar untuk kenyamanan bekerja. Saya sempat gunakan juga sebenarnya “televisi” sebagai monitor, tapi tentu saja ini bukan pilihan yang bijak.

Akhirnya, setelah satu tahun lebih, saya memutuskan untuk membeli sebuah monitor yang akan saya gunakan bersama dengan 15″.

Catatan:

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan produsen monitor, maupun layanan lain yang disebutkan dalam artikel ini. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Karena sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan monitor, awalnya saya agak bingung harus memulai pencarian saya dari mana. Akhirnya, saya lemparkan pertanyaan sekaligus meminta rekomendasi melalui linimasa saya. Berikut beberapa balasan rekomendasi, atau paling tidak yang sedang dipakai:

  1. S2721DS
  2. ThinkVision T27P10
  3. Dell s2721QS
  4. Thinkvision E24-20
  5. LG 24” 4K 24UD58-B

“Beruntung” tidak terlalu banyak rekomendasi yang bisa membuat saya bisa tambah bingung menentukan pilihan. Awalnya, saya berpikir untuk membeli yang 24″ karena sudah cukup besar. Ternyata, beberapa rekan yang kesehariannya bekerja dengan monitor eksternal lebih merekomendasikan untuk ukuran 27″.

Untuk mempermudah pilihan, saya menentukan anggaran paling tinggi Rp4.000.000,-. Dan, setelah membaca beberapa ulasan, melihat ulasan dari pengguna lain, saya memutuskan untuk membeli Dell S2721DS.

Spesifikasi

Berikut spesifikasi dasar untuk Dell S2721DS:

  • Ukuran panel: 27 inchi
  • Tipe panel: IPS
  • Resolusi: QHD 2560 x 1440 @ 75 Hz
  • Aspek rasio: 16:9
  • Konektor: 2x HDMI 1.4, 1x DP1.2
  • Daya: 19 watt (sleep/standby: 0,3 watt)

Spesifikasi lengkap dapat dilihat di situs Dell.

Pembelian

Awalnya saya berniat untuk membeli produk ini secara langsung di toko komputer. Namun, ternyata barang ini tidak banyak bisa saya temukan. Saya tanyakan ke salah satu teman saya yang juga sudah memiliki produk ini, ternyata barang sedang tidak ada dalam stok, dan harga saat ini lebih tinggi dibanding saat dia membelinya.

EIGER

Di linimasa saya kemarin, tiba-tiba banyak dipenuhi oleh cuitan mengenai kejadian yang melibatkan (PT. Eigerindo Multi Produk Industri) melalui akun @eigeradventure di Twitter dan (awalnya) dengan salah seorang warganet yang membagikan surat keberatan terkait sebuah ulasan yang diunggah di platform .

Ketika saya melihat isi surat keberatan tersebut, saya langsung menuju ke laman video-nya yang berjudul “REVIEW Kacamata EIGER Kerato l Cocok Jadi Kacamata Sepeda” karena penasaran juga. Lalu saya putar videonya, dari awal sampai akhir, tanpa ada bagian yang saya lewatkan. Komentar saya: “Ini video dan kontennya bagus! Ulasan personal, dan secara umum menginformasikan sesuatu yang positif terhadap produk (kacamata) dari EIGER!”

Saya juga sering melakukan ulasan untuk produk, jasa, atau layanan di situs ini. Namun memang jarang yang sifatnya /visual. Dari persepektif kreator (di video tersebut) saya apresiasi sekali karena membuat konten tersebut juga membutuhkan usaha.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin Menjawab (di Mata Najwa)

Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa

Ketika Menteri Kesehatan terdahulu (Terawan Agus Putranto) tidak hadir memenuhi undangan Najwa Shihab di program Mata Najwa — entah apapun alasannya, mungkin sibuk — saya sempat berpikir mungkin di lain kesempatan. Jadi, masih menjadi harapan karena saya penasaran juga apa yang sebenarnya informasi yang dimiliki oleh (rencana, target, , dan lain sebagainya) dapat dikomunikasikan kepada publik.

Publik perlu tahu. Publik berhak tahu. Itu pikir saya.

Tapi ternyata, keadaan berkata lain. Jabatan Menteri sudah diisi dengan sosok baru, Budi Gunadi Sadikin. Jujur saja, awalnya saya berpikir ini bagaimana Menteri Kesehatan kok bukan/tidak memiliki latar belakang dunia kedokteran atau kesehatan masyarakat. Tapi, pemikiran saya tidak bertahan lama setelah ternyata banyak negara yang memiliki menteri kesehatan bukan dengan latar belakang kedokteran.

misalnya. Gan Kim Yong sebagai menteri kesehatan sebelumnya malah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja. Atau Andrew James Little di Selandia Baru. Dan masih banyak lagi negara yang memiliki menteri kesehatan bukan dari kalangan dokter/kesehatan seperti Kanada, Inggris, Jerman, Jepang, Australia, Denmark, dan lain sebagainya.

Dan, kinerja mereka sudah cukup membuktikan bahwa hal seperti ini bisa berhasil. Belum tentu pasti gagal, tapi bisa saja menteri memiliki performa yang lebih baik. Toh, pada akhirnya bagaimana menteri dapat mengorkestra dan bersinergi untuk tujuan utama yang ingin dicapai, menjadikan kerja bersama untuk mencapai keberhasilan bersama/kolektif?

Rasa “pesimis” terhadap kondisi penanganan COVID-19 di Indonesia, dan termasuk kegemasan terhadap aksi/informasi yang selama ini tidak tersampaikan kepada publik dari Kementerian Kesehatan RI cukup terobati ketika kali pertama saya melihat video keterangan pers Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada akhir Desember lalu.

Kembali ke bagaimana Pak Budi Gunadi Sadikin menjawab begitu banyak pertanyaan yang terwakilkan di Mata Najwa hari Rabu lalu. Saya secara pribadi seperti mendapatkan pemahaman, pengertian, dan informasi yang cukup mencerahkan. Saya juga paham, ini bukan sebuah kerja ringan. Tapi, bagaimana pertanyaan dijawab dan direspon, termasuk bahwa dikatakan jika memang tidak/kurang tahu, ada sebuah harapan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Yang saya jelas tangkap, bagaimana semuanya dikomunikasikan kepada publik oleh Kementerian Kesehatan melalui acara Mata Najwa kemarin perlu untuk diapresiasi.

Walaupun sebaiknya memang tidak perlu membandingkan, tapi sulit untuk tidak membandingkan bagaimana model komunikasi Budi Gunadi Sadikin dan Pak Terawan. Kalau melihat bagaiman pernyataan atau hal-hal dikomunikasikan atau dikomentari oleh Pak Terawan, arsip di dan media sudah sangat banyak.

Untuk wawancara Menteri Kesehatan di Mata Najwa hari Rabu lalu, bisa dilihat di kanal . Berikut tautan seluruh episodenya.

  1. Budi Gunadi Sadikin, Pengisi Kursi Kosong Menkes
  2. Swab Test Mahal? Vaksin Aman? Menkes Budi Menjawab
  3. Cerita Ojek Online Jadi Relawan Vaksin
  4. Kondisi Pandemi Pasca-liburan Akhir Tahun
  5. Rumah Sakit dan Lonjakan Kasus Corona
  6. Menkes Budi Bicara Kacaunya Data Kasus COVID-19
  7. Cek Suhu di Kepala atau di Tangan, Pak Menteri?

Keterangan Pers Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, 29 Desember 2020

Sejak reshuffle kabinet minggu lalu, dimana salah satu menteri yang diganti adalah Menteri , awalnya saya ada reaksi yang agak heran. Ini reaksi spontan. Karena, dalam kondisi pandemi , dimana ini masalah kesehatan yang sangat penting, pemegang jabatan Menteri Kesehatan yang baru justru bukan dari kalangan kedokteran.

Kalau tentang bagaimana Menteri Kesehatan yang sebelumnya yaitu Terawan Agus Putranto, saya malah lebih sulit lagi harus bereaksi bagaimana.

Lalu hari ini ada keterangan pers dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Lalu saya melihat secara utuh, dari awal sampai akhir. Dan, mungkin ini salah satu pemaparan terbaik dari pihak yang berwenang, dari pihak yang memiliki peluang untuk dapat menyampaikan informasi, dan menggunakan kewenangan dan peluang itu dengan baik. Alih-alih dengan bahasa yang kesana kemari, bahasa yang rumit, tapi saya rasa apa yang dijelaskan sangat runut, mendetil, dan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Dan, setelah melihat video singkat ini saya cuma berpikir, kenapa ya dulu — jaman Menteri Kesehatan sebelumnya — tidak pernah cara penyampaian informasi untuk publik dengan cara atau paparan seperti ini?

Berikut beberapa slide yang ada dalam keterangan pers tersebut.

Menengok Protokol Kesehatan COVID-19 di Prime Plaza Hotel Jogjakarta

Selama pandemi, salah satu tempat publik (tertutup) yang sering saya kunjungi adalah supermarket untuk keperluan berlanja, baik yang lokasinya berdiri sendiri atau menjadi satu dengan area lain seperti yang ada di dalam mall.

Khusus untuk area seperti hotel, saya hampir tidak pernah mengunjungi. Apalagi selama pandemi ini saya juga tidak pernah melakukan perjalanan ke luar kota, yang mengharuskan saya harus menginap di hotel. Setelah berbulan, dengan berbagai perkembangan, pelaku bisnis sudah banyak melakukan adaptasi kebiasan baru — saya lebih suka istilah “kebiasaan baru” dibandingkan dengan new normal sebenarnya.

Hotel sebagai salah satu komponen penting dalam dunia juga melakukan adaptasi. Tentu, ini tidak mudah, tapi kalau tidak beradaptasi, mau jadi apa?

Karena sebuah keperluan, beberapa hari lalu saya mengunjungi Prime Plaza Hotel , sebuah hotel bintang 4 yang ada di Jl. Affandi. Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya menginap di tempat ini. Dan, kunjungan terakhir saya kesana kalau tidak salah tahun lalu, sebelum pandemi untuk sebuah acara yang saat itu hanya memakai lokasi resto saja.

Walaupun tidak sampai menginap, tapi karena kunjungan kemarin saya jadi sedikit menyempatkan untuk melihat bagaimana protokol berjalan di hotel ini.

Ketika memasuki area pintu masuk utama, langsung disambut dengan informasi yang terpampang cukup jelas mengenai beberapa protokol kesehatan yang perlu ditaati oleh setiap penunjung. Ada juga automatic dispenser hand sanitizer, yang bisa digunakan secara contactless. Terakhir, ada QR Code yang perlu dipindai yang setelah saya coba, isinya adalah tautan untuk mengisi beberapa terkait kedatangan.

Hal ini untuk mempermudah perncatatan siapa saja yang masuk ke area hotel, yang tentu saja akan nantinya bermanfaat untuk melakukan contact tracing jika diperlukan. Walaupun, semoga saja tidak perlu ada contact tracing ya… Persis sebelum masuk pintu, ada screening pengecekan suhu tubuh.

Oh ya, kenapa tidak ada tempat cuci tangan secara langsung, ya hal semacam ini selain memenuhi protokol juga secara estetika lebih baik.

Setelah melewati pintu masuk utama lalu belok ke kanan, ada lokasi resepsionis. Selain ada cairan pembersih tangan, alat tulis yang akan digunakan oleh tamu sudah dipisahkan antara yang bersih dan yang yang telah dipakai. Jadi langsung dipisahkan. Jadi, setiap alat tulis yang dipakai otomatis memang selalu dibersihkan. Ini cocok karena alat tulis, selama pengalaman saya check-in di hotel merupakan salah satu benda yang paling sering dipakai bergantian.

Masih di area resepsionis, ada informasi lain bagi tamu terkait beberapa persyaratan/protokol bepergian dengan menggunakan transportasi publik. Selain itu, ada lagi juga QR Code lain yang ternyata isinya mengarahkan ke laman untuk mengisi informasi riwayat perjalanan oleh tamu yang akan menginap. Sedikit berbeda dengan yang ada di pintu masuk, karena ketika sudah di resepsionis, besar kemungkinan yang adalah tamu yang menginap. Jadi, formulir ini lebih spesifik untuk tamu menginap.

Sofa tempat duduk yang ada di area lobi juga diubah pengaturannya, sehingga konsep social distancing atau jaga jarak bisa lebih mudah terpenuhi.

Walaupun posisi sudah berjauhan, tapi pengaturan supaya yang duduk tidak berhadapan layak untuk diapresiasi
Pengaturan jaga jarak untuk area sofa yang ukuran lebih besar.

Secara umum, walaupun memang cuma sebentar, bahkan tidak sampai melihat-lihat jauh ke area dalam seperti kolam renang, area gym, dan fasilitas lain, tapi saya cukup nyaman berada disana. Suasana berbeda mungkin bisa terjadi kalau tamu penuh. Tapi, menurut saya hotel merupakan salah satu tempat dimana layanan menjadi yang utama. Jadi, pengaturan dan protokol pasti akan sebaik dan sebisa mungkin untuk dilaksanakan.

Catatan

Walaupun secara umum saya merasa nyaman dan aman ketika berada di sana, ada beberapa detil kecil yang menurut saya pribadi mungkin bisa menjadi catatan. Tentu, ini pendapat pribadi saja.

  1. Informasi jika ditampilkan dengan bahasa mungkin akan lebih mudah dipahami oleh pengunjung. Faktanya, dalam kondisi saat ini mungkin pengunung atau tamu hotel mayoritas merupakan tamu lokal/domestik. Atau jika memang harus dua bahasa, terjemahan dalam Bahasa Inggris tetap bisa ditampilkan, tapi bahasa Indonesia tetap yang utama.
  2. Karena saya memang benar-benar hanya berada di seputar area lobby, jadi yang saya lihat memang tidak banyak seperti bagaimana tempat publik seperti di kolam renang, atau pusat kebugaran, termasuk apakah ada perubahan atau tidak tentang kondisi kamar. Tapi, melihat dari bagaimana semuanya terlihat di area depan, sepertinya standar protokol kebersihan jelas menjadi perhatian khusus.

protokol keamanan dan standar kesehatan bisa juga diliaht melalui video di bawah ini. Dalam video ini juga terlihat kalau untuk sterilisasi kamar juga menggunakan lampu UV-C.

Kontak dan Lokasi

Karena berada di tengah kota dan di salah satu jalan utama di Jogjakarta, hotel ini dapat dengan mudah ditemukan. Akses masuk kendaraan juga sangat mudah.

Prime Plaza Hotel Jogjakarta
Kompleks Colombo, Jl. Affandi, Gejayan, Mrican, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten , Daerah Istimewa 55281 (Google Maps)
Telepon: 0274 584 222
Pemesanan: 0817 9575 292 atau surel [email protected]
: jogja.pphotels.com
: @primeplazahoteljogjakarta

62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah

Dengan menggabungkan yang kami kumpulkan dari sumber terbuka, Tim Buka Mata Narasi menyusun kembali secara rinci, menit demi menit pembakaran Halte TransJakarta Sarinah pada 8 Oktober 2020. Hasil analisis kami menemukan bahwa para pelaku memang datang untuk membakar Halte TransJakarta dan memperburuk situasi aksi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja.

Narasi Newsroom: YouTube – 62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah

Pengalaman Fisioterapi di Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)

Minggu lalu, untuk kali pertama saya merasakan kondisi badan yang tidak nyaman karena (sepertinya) ada cidera otot. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi bagian bahu dan punggung atas sebelah kanan rasanya sakit sekali. Ditambah dengan leher — terutama di bagian kanan — juga sakit luar biasa ketika dipakai untuk menunduk atau menengok.

Catatan

Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan pemberi layanan. Semua yang saya tulis merupakan pendapat dan pengalaman pribadi. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin bisa terjadi. Saya sarankan untuk mencari informasi terbaru terkait pemberi layanan. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pada Oktober 2020.

Ada beberapa dugaan penyebab. Mungkin karena saya dalam posisi salah ketika mengangkat barang — karena kadang geser-geser meja atau angkat galon — atau mungkin juga ketika mau menggendong anak saya.

Saya sendiri banyak bekerja di depan meja menggunakan , sangat bisa jadi ini juga memengaruhi kondisi badan terutama bagian atas.

Hari Selasa malam terasa cukup sakit. Ketika tidur, bahu sangat tidak nyaman. Apalagi ketika mau bangun dari posisi berbaring. Saya cukup kepayahan untuk bangun, karena mungkin memang ada bagian otot yang harus bekerja. Ketika berada di depan komputer, juga sudah sangat tidak nyaman.

Sempat terpikir untuk ke tukang pijat atau tukang urut. Tapi, karena saya yakin ini cidera, akhirnya saya putuskan untuk ke tempat saja di . Saya pernah baca, sebenarnya tidak masalah kalau ke tukang pijat atau tukang urut, tapi mungkin ketika untuk kasus badan capek, biar lebih segar, namun bukan untuk kondisi cidera. Jadi, bukannya tukang pijit/tukang urut itu jelek atau tidak direkomendasikan, kali ini soal pilihan saya saja.

Mencari tempat fisioterapi di Jogjakarta

Sebelumnya, saya sering dengar bahwa di Jogja memang ada beberapa tempat untuk fisioterapi. Mulai dari yang ada di rumah sakit, atau yang berpraktik secara mandiri. Di Universitas Negeri , ada juga tempat semacam ini, namanya Physical Therapy Clinic FIK UNY.

Saya coba di , ada juga beberapa rumah sakit yang memiliki layanan fisioterapi. Semakin mencari, semakin banyak pilihan. Jadilah saya bertanya ke teman saya yang sebelumnya pernah juga melakukan fisioterapi di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNY.

Setelah berdiskusi, saya mendapatkan opsi lain kalau mau, dan dia juga sudah mencobanya, dan merekomendasikan ke saya untuk coba ke Jogja Orthopaedic Sport Clinic (). Saya tanya kapan kali terakhir ke sana, katanya sekitar dua bulan lalu.

Booking appointment

Saat itu, saya lebih perlu untuk segera mendapatkan pertolongan. Saya buka dulu situs Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC) di jogjaorthosportclinic.com. Saya baca profil singkatnya, dan saya lakukan booking appointment. Sejujurnya, agak ragu apakah saya segera mendapatkan balasan atau tidak. Jadi, saya langsung coba kontak melalui .

Sekitar jam 09.00 WIB saya terhubung melalui WhatsApp dan saya langsung melakukan booking appointment untuk pukul 11.00 WIB hari itu juga.

Jadi, JOSC ini lokasinya ada di Jalan Colombo No. 6C, di kompleks ruko sebelah sisi selatan kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Lokasi persisnya ada di sebelah Pizza Hut Delivery. Lokasi yang cukup menguntungkan untuk yang bawa kendaraan roda empat, karena parkir bisa langsung di depan lokasi.

Perbaruan info (Desember 2021): Lokasi JOSC yang baru berada di Jl. Pakuningratan No. 32A, tidak jauh dari Yogyakarta.

Terapi di JOSC

Saya datang sekitar pukul 11.00 (agak mepet dari jadwal) karena lalu lintas yang agak padat ketika menuju ke sana. Pertama untuk protokol , ada tempat cuci tangan dan sabun yang tersedia di dekat pintu masuk. Ketika sampai di meja resepsionis, saya juga diperiksa suhu badan. All good.

Karena baru pertama kali datang, saya diminta untuk mengisi melalui formulir yang disediakan. Data yang diisi juga data-data umum saja.

Search on 2020

An interesting about the advanced technology implementation on Search. That includes hum to search on Google app.

Reaksi Ahli Biologi Molekuler yang Asli Nonton Video Diskusi Anji dan Hadi Pranoto

Beberapa waktu lalu, sempat muncul sebuah yang cukup populer di platform , antara Anji — seorang musisi — dengan Hadi Pranoto yang diperkenalkan oleh Anji sebagai Profesor Hadi Pranoto. Saya sendiri tidak menontonnya, hanya membaca beritanya saja. Ada pro-kontra, tentu saja.

Walaupun, akhirnya video tersebut telah diturunkan oleh YouTube, tapi yang lebih menarik justru pendapat/reaksi terhadap video tersebut, dari sudut pandang sains, dari orang yang menyampaikan informasi berdasarkan bidang keilmuan. Beliau adalah Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, PhD.

Tentang beliau, cukup mudah informasinya untuk ditemukan di , termasuk publikasi lain yang mendukung bidang keilmuan.

Indonesian Lifestyle: Explained

There can be hundreds or probably thousands of on how to describe . I just watched a video that give one of the best explanations about Indonesia on the culture, lifestyle, foods, and other things.

Siap Kembali ke Normal Lagi?

Karena kebijakan yang melonggarkan aturan terkait pembatasan sosial, yang entah dengan parameter atau pertimbangan yang mana — mungkin pertimbangan ekonomi adalah faktor utamanya — sepertinya suka atau tidak tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya.

Sulit sebenarnya untuk tidak membandingkan bagaimana penanganan pandemi di Indonesia dengan negara lain. Memang sih, ada hal-hal yang sebaiknya tidak perlu dibanding-bandingkan. Tapi, karena ini sifatnya global, agak sulit untuk tidak membandingkan.

Dua hari lalu, Selandia Baru mengumumkan untuk membuka diri dengan lebih luas. sejak mereka melakukan lockdown mulai 25 Maret 2020 lalu. Negara ini menurunkan sistem peringatan menjadi Tingkat 1 (Level 1) dari standar peringatan Tingkat 4 dari yang mereka punya.

Kegiatan ekonomi mulai berjalan dengan normal, tidak ada jaga jarak. Mungkin bisa dibilang mendekati normal.

Tapi, semua itu dilakukan setelah lebih dari dua minggu tidak ditemukan kasus positif baru Covid-19.

While we’re in a safer, stronger position, there’s still no easy back to pre-Covid life, but the determination and focus we have had on our health response will now be vested in our economic rebuild.

Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru

Melihat dan berita tentang Selandia Baru, rasanya kok senang ya. Walaupun, itu tidak terjadi di negara tercinta ini. Ada kepedulian dari negara, ada peran serta masyarakat yang begitu terasa. Suka saja gitu.

Kembali ke Indonesia…

Grafik penambahan kasus per hari sepertinya belum ada terlihat menurun atau melandai. Yang ada, malah tambah banyak. Di saat sudah mulai digadang-gadang untuk memasuki normal baru, pada 9 Juni 2020 jumlah kasus terkonfirmasi malah menunjukan angka tertinggi, 1.043 kasus.

Tentu saja, kondisi Selandia Baru tidak begitu saja dijadikan benchmark. Demografi berbeda, jumlah penduduk berbeda, pemahaman tentang dan sanitasi juga berbeda, kebijakan politik berbeda, dan masih banyak “berbeda” yang lainnya.

Tidak semua orang memiliki kemewahan yang sama untuk dapat bekerja dari rumah. Bahkan, mungkin jumlah orang yang benar-benar bisa berada di rumah, dengan segala macam kebutuhan hidup “terkirim ke rumah” juga jumlahnya lebih banyak.

Kantor mulai buka walaupun terbatas. Tempat publik yang memicu keramaian, juga mulai dibuka, dengan protokol yang ada yang keberhasilannya ditentukan oleh masyarakat sendiri.

Menurut saya, siap atau tidak seiap dengan “normal baru” ini lebih kepada bagaimana kita mengelola risiko. Kalau dirasa ada risiko yang cukup besar, tentu hal yang bijaksana adalah bagaimana kita menghindari atau meminimalkan dengan sebaik-bainya.

Kalau memang tidak harus bepergian, untuk keperluan yang benar-benar penting, mungkin bisa dibatalkan, atau dikelola waktunya — jika waktu bisa lebih fleksibel. Saya beberapa minggu lalu juga kadang masih harus ke supermarket. Tapi, waktunya saya kondisikan ketika di jam-jam tidak sibuk. Tentu saja, bersyukur karena memiliki fleksibilitas itu.

Jaga Jarak di Kawasan Malioboro Menjelang Normal Baru

Hari minggu lalu, beredar informasi (termasuk foto dan ) bagaimana ramainya aktivitas manusia di kawasan , terutama kawasan titik nol kilometer. Rencana mulai dilaksanakannya era “normal baru” disikapi dengan beragam cara. Salah satunya: keluar rumah.

Dua bulan lebih dalam pembatasan gerak dan aktivitas khusunya di luar rumah tentu saja tidak mudah. Sementara penambahan kasus positif juga belum mengalami penurunan yang signifikan — dan malah sebaliknya — tapi memperpanjang pembatasan sosial juga sepertinya bukan dipandang menjadi opsi terbaik.

Pertengahan minggu lalu (awal Juni 2020), setelah dua bulan lebih tidak ke lokasi yang jauh dari rumah, saya mencoba untuk melihat di waktu malam. Tidak malam banget, karena saat itu baru sekitar pukul 18.30 WIB. Malam itu, saya mengendarai mobil.

Kawasan Jalan Magelang terlihat cukup ramai. Lalu lintas kendaraan tidak bisa dikatakan sepi juga. Pemandangan yang kurang lebih sama — bahkan seperitnya mlaah lebih ramai — ketika mendekati dari arah barat, ketika di lampu merah, saya melihat cukup banyak pesepeda yang berdiri sambil mengambil foto di salah satu ikon kota ini.

Masker? Walaupun tidak menghitung secara detail, tapi sekilas yang tidak pakai masker cukup banyak. Beberapa tempat makan atau nongkrong juga buka. Tak terlihat terlalu ramai memang, tapi buka.

Gerobak angkringan beberapa juga telah buka, dan saya lihat juga ada yang beli. Walaupun, tetap juga ada yang tidak pakai masker. Jaga jarak (social distancing)? Sepertinya tidak sepenuhnya terjadi.

Saya kemudian menuju arah selatan ke Jalan Mangkubumi. Warung-warung pinggir jalan sudah ada yang buka. Orang berjalan kaki, atau bersepeda ada juga malam ini. Atau, sekadar duduk-duduk, ada juga.

Beberapa toko di sisi barat Malioboro terlihat buka, walaupun cenderung sepi pengunjung. Sedih juga melihatnya, tapi bagaimana lagi kondisi memang sangat tidak mudah saat ini. Beberapa orang terlihat berjalan di area pejalan kaki pedestrian yang menurut saya memang sudah tertata dengan jauh lebih baik. Beberapa orang terlihat duduk di bangku yang disediakan. Ada yang menjaga jarak, tapi tak sedikit yang sepertinya tidak mengindahkan konsep jaga jarak.

Ada tukang parkit yang mengarahkan kendaraan untuk masuk area parkir ketika saya mendekati area mal Malioboro. Cukup banyak orang juga di sana. Pemandangan yang kurang lebih sama saya lihat di sepanjang jalan Malioboro sampai ujung selatan. Oh ya, Mirota Batik yang biasanya ramai, malam itu terlihat agak gelap.

Ada perasaan yang berbeda malam itu. Sedih juga, karena aktivitas sangat berbeda dari biasanya. Malam itu, Malioboro terlihat jauh lebih sepi. Murung.

Kawasan titik nol kilometer yang biasanya sangat ramai, malam itu terlihat… cukup ramai. Tidak bisa dikatakan sepi juga, karena cukup banyak orang yang duduk-duduk di bangku. Beberapa bermain sepeda, atau sekadar foto-foto. Area di depan Museum 1 Maret malam itu mungkin seperti “sepi versi hari biasa”. Begitu juga di kawasan seberangnya, di seberang gedung . Kuran glebih sama.

Masih tentang apakah pada pakai masker dan melaksanakan konsep jaga jarak? Sepertinya tidak terlalu terlihat mencolok. Bangku yang biasanya diduduki oleh dua orang, tetap saja diduduki dua orang, dengan jarak rapat.

Dari titik nol, saya berbelok ke arah kiri. Terlihat jauh lebih sepi sampai dengan depan Taman Pintar.

Saya sudah cukup melihat, dan memutuskan untuk pulang kembali ke ruamh di sisi utara Yogyakarta.

Semoga saja kesadaran untuk tetap melaksanakan prinsip-prinsip dasar perilaku sehat seperti menjaga jarak, dan menggunakan masker pada kondisi harus menggunakan makin dilaksanakan saja.

Bill Gates tentang Virus Corona

Saya baru saja melihat wawancana Trevor Noah dengan Bill Gates tentang topik yang tentu saja menjadi topik nomor satu di duni saat ini: virus ().

Dari begitu banyak yang membahas tentang , saya menikmati wawancana ini. Topik dan alurnya serius — karena toipk ini memang serius — tapi menarik untuk diikuti.

Video lain yang tak kalah menarik untuk disimak tentu saja video Bill Gates dalam acara TED di tahun 2015 lalu yang membawakan topik “The next outbreak? We’re not ready”.