Perkiraan Harga Berlangganan Paket Spotify Setelah Pajak Digital

Walaupun secara jelas diumumkan mengenai berapa perubahan harga berlangganan layanan Spotify, tapi ini soal waktu saja. Terakhir, Netflix sudah memberlakukan harga beru per Agustus 2020.

Saya sendiri menggunakan layanan Spotify, dan tagihan saya dibuat tanggal 16 setiap bulannya. Sampai dengan awal Agustus ini, belum ada informasinya. Dengan penambahan biaya pajak, kita sepertinya bisa memperkirakan besaran harga “baru” paket Spotify.

Berikut perkiraan saya:

  1. Spotify Premium Rp49.990 akan menjadi Rp55.000 (pembulatan dari Rp54.989)
  2. Spotify Premium untuk Pelajar Rp24.990 akan menjadi Rp27.500 (pembulatan dari Rp27.489)
  3. Spotify Premium Duo Rp71.490 akan menjadi Rp79.000 (pembulatan dari Rp78.639)
  4. Spotify Premium Family Rp79.000 akan menjadi Rp87.000 (pembulatan dari Rp86.900)

Kalaupun naik, saya tetap akan menggunakannya. Karena saya memang menyukai layanannya, dan penambahan pajak juga sesuatu yang saya bisa terima.

Mengisi Data Pajak Layanan Google

Setelah adanya informasi untuk pengisian data NPWP untuk layanan Amazon Web Service kemarin, Google menyusul untuk mengirimkan pemberitahuan.

Walaupun, sebelum pemberitahuan itu saya memang sudah memasukkan informasi NPWP yang akan dikenai pajak. Saat ini saya membayar untuk layanan Google GSuite.

To comply with local laws in Indonesia, starting Aug 1, 2020, Google will begin charging 10% Value Added Tax (VAT) on sales of digital products or services to customers located in Indonesia. No action is required on your part with regard to your Google GSuite account.

Isi inforrmasi dalam surel yang dikirimkan Google terkait pajak atas layanan Google

Mungkin setelah ini Spotify menyusul.

Pajak Digital Layanan Amazon, Google, Netflix, dan Spotify Mulai 1 Agustus 2020

Mulai 1 Agustus 2020 nanti, beberapa layanan digital yang digunakan oleh pengguna internet atau layanan daring di Indonesia akan mengalami kenaikan harga. Ada enam perusahaan penyedia produk/layanan digital yaitu Amazon Web Services Inc, Google Asia Pacific Pte. Ltd,Google Ireland Ltd, Google LLC, Netflix International B.V., dan Spotify AB yang akan mengenakan pajak PPN 10% kepada konsumen.

Jadi, yang menggunakan layanan seperti Amazon Web Service (AWS), Google Cloud Platform (termasuk layanan Google lain), Netflix, dan Spotify perlu siap untuk membayar sedikit lebih.

Dari beberapa layanan tersebut, hanya Netflix yang tidak saya gunakan. Walaupun tidak akan terlalu signifikan — karena tagihan saya untuk layanan tersebut tidak besar — tapi mungkin ini juga lumayan. Contohnya, saya berlangganan Spotify Premium dengan total tagihan perbulan saat ini sebesar Rp79.000. Dengan dikenai pajak, maka tagihan saya akan berubah menjadi Rp86.900.

Tentu, ini strategi pemerintah untuk menambah pemasukan. Apalagi potensi pajak yang muncul dari Netflix sebagai dampak dibukanya akses Netflix oleh grup Telkom. Dengan kondisi ini, ada potensi pajak lebih dari Rp96 miliar per tahun dari Netflix.

Dari panel akun saya di Amazon Web Service (AWS), sudah ada isian untuk memasukkan informasi nomor NPWP. Begitu juga dari panel konsumen Google (saya lihat dari layanan Google Apps for Work). Untuk Spotify, saya belum melihat ada isian untuk mengisi NPWP.

Podcast: Dua Bulan Work from Home

Pertengahan Mei 2020 ini, tepat dua bulan sejak ikut Work From Home karena pandemi Covid-19. Agak susah sih, tapi dari sekian banyak pilihan, sepertinya memang Work From Home (atau Stay at Home) adalah pilihan paling bijaksana.

Podcast: Dua Tahun Berhenti Merokok

Saya merokok sudah lama, sejak SMA. Namun satu momen dalam kehidupan saya, dimana saya meniatkan untuk mencoba berhenti merokok. Ternyata bisa. Susah, tapi bisa. Dan, Mei 2020 menjadi bulan dimana tepat dua tahun saya berhenti merokok. Dalam episode ini, saya ingin berbagi tentang proses saya berhenti merokok, sampai apa pelajaran serta efeknya? Ternyata banyak. Selamat menikmati episode ketiga dalam podcast saya ini. Terima kasih.

macOS Catalina

Kemarin, saya melakukan perbaruan sistem operasi di MacBook Pro saya dari macOS High Sierra ke macOS Catalina. Dengan begitu banyak fitur dan perbaikan yang ditawarkan, sebenarnya tidak terlalu banyak fitur yang saya akhirnya manfaatkan.

Beberapa highlight mengenai yang baru di macOS Catalina bisa dilihat dalam video dibawah ini. Apple juga menyediakan halaman khusus mengenai apa yang ditawarkan oleh sistem operasi versi terbaru mereka.

Saya sendiri saat ini hanya menggunakan dua produk Apple dan saya bukan termasuk yang ingin melengkapi diri dengan produk terbaru dari Apple. MacBook Pro Retina 15″ saya keluaran mid-2012, dan ada sebuah iPad Mini 2 yang tidak mendapatkan dukungan iOS 13. Namun, saya mungkin termasuk yang sebisa mungkin memperbarui aplikasi atau sistem operasi — jika memang masih bisa diperbarui.

Perbaruan sama seperti proses sebelumnya. Sempat saya ragu, apakah saya perlu menunggu terlebih dahulu untuk memperbarui atau langsung saja. Kemungkinan terburuk paling ada beberapa aplikasi yang belum diperbarui jadi tidak dapat digunakan.

Musik, podcast, dan TV

Salah satu perbaruan yang cukup besar ada pada fitur hiburan. Namun, sepertinya tidak ada yang akan saya pakai. Untuk musik — termasuk mendengarkan podcast, saya lebih sering mendengarkan Spotify (dengan berlangganan Spotify Premium). Kalau menonton film atau video, pilihan saya ke Netflix dan YouTube. Bagi saya, layanan yang saya pakai tersebut sudah mencukupi kebutuhan saya.

Photos, Notes, Reminder

Aplikasi Photos, Notes, dan Reminder juga mendapatkan perbaikan. Namun, saya saat ini sudah cukup nyaman dengan menggunakan Google Photos. Saya hampir tidak menyimpan foto — dari kamera ponsel Android — di MacBook. Semua langsung saya unggah ke Google Photos. Untuk pencatatan, saya paling sering masih menggunakan Google Keep. Reminder saya jarang gunakan. Kalaupun perlu reminder paling hanya berupa alarm atau saya buat saja di Google Calendar.

Jadi, semua perbaruan terkait fitur diatas sudah cukup terfasilitasi oleh layanan Google di ponsel Android. Soal sinkronisasi juga tidak ada masalah sama sekali.

YouTube, Netflix, dan Spotify

Dari sekian banyak pilihan untuk menikmati hiburan di rumah, saya hanya menikmati hiburan melalui YouTube, Netflix, dan Spotify. Beruntung koneksi internet yang dipakai di rumah tidak memblokir akses ke Netflix.

Walaupun ada televisi yang menangkap siaran televisi lokal, namun jarang sekali saya menontonnya. Bahkan, jika memang ada acara yang disiarkan hanya di televisi, kalau juga dapat dinikmati melalui YouTube, saya memilih untuk menontonnya melalui YouTube di ponsel, dan tak jarang saya broadcast ke televisi melalui Chromecast.

Sebenarnya saya belum lama menikmati Netflix kembali setelah dulu kali pertama Netflix muncul saya hanya memanfaatkan periode trial saja. Karena memang tidak terlalu suka menonton film, serial, atau drama. Apalagi dulu sewaktu menggunakan layanan IndiHome yang memblokir Netflix. Walapun layanan seperti HOOQ atau iflix dapat diakses dengan baik, tapi tetap hampir tidak pernah menonton. Pun ada film bagus yang sedang tayang, menonton di bioskop masih menjadi pilihan.

Namun, akhirnya saya harus menyerah kepada Netflix. Dan, sampai saat ini saya cukup menikmatinya, walaupun belum ada secara spesifik serial yang saya ikuti. Pilihan film juga kalau ada rekomendasi atau secara acak saja menonton dari begitu banyak pilihan yang ada. Sama seperti YouTube, saya menikmati Netflix di layar televisi melalui Chromecast.

Dan, untuk musik saya memilih Spotify (Premium). Karena selera musik saya juga termasuk sederhana dan tidak ribet, saat ini Spotify sudah cukup memenuhi kebutuhan selera musik saya. Saya tidak ikut berlangganan ataupun instal JOOX. Tapi ini soal selera saja, bukan?