Pengalaman Membeli dan Mengganti Ban Mobil di Ottoban Indonesia (Yogyakarta)

PERHATIAN

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi menggunakan jasa layanan Ottoban pada April 2022. Penulis tidak memiliki kerjasama dengan pihak Ottoban. Seluruh biaya merupakan biaya pribadi penulis. Pengalaman berbeda mungkin dapat dialami dan penulis merekomendasikan untuk mencari informasi atau referensi terbaru terkait artikel ini.

Awal April lalu, saya kembali melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan kendaraan pribadi saya. Biasanya saya hanya bepergian untuk agenda ke , atau saja. Namun, saat itu rute perjalanan agak sedikit berbeda. Bukan ke Jakarta dari Jogjakarta saja, bukan pula ke Semarang. Dan, ini kali pertama saya tidak melakukan pengecekan air aki, karena sudah ganti dengan aki kering.

Dari , saya berangkat ke Bogor, kemudian ke Jakarta, lanjut ke Tangerang, kembali ke Jakarta, dan pulang lagi ke Jogjakarta. Total perjalanan hampir satu minggu penuh.

Puji Tuhan, perjalanan berjalan dengan lancar. Kendaraan Mobilio yang saya bawa juga dalam kondisi baik. Apalagi, seluruh perjalanan ini merupakan perjalanan , benar-benar sendiri. Cuaca selama perjalanan juga cukup bersahabat, kecuali ketika perjalanan malam dari Bogor menuju Jakarta, sempat hujan, namun beruntung tidak disertai angin.

Ban Belakang Tidak Nyaman

Sekembali dari perjalanan, saya masih menggunakan kendaraan untuk mobilitas. Ada yang sedikit terasa kurang nyaman, tapi saya pikir saat itu ban cuma kurang angin saja.

Seminggu setelahnya, saat saya melakukan perjalanan (agak jauh), ternyata benar terasa kurang nyaman. Istri saya yang saat itu lebih merasakan, karena dia duduk di kursi belakang bersama dengan anak saya.

Karena dugaan awal adalah ban yang kurang angin, jadi ketika perjalanan sempat kami pastikan tekanan ban dalam kondisi yang cukup. Lagi-lagi, puji Tuhan karena perjalanan malam itu dengan waktu tempuh pulang pergi total hampir 3 jam dapat dilewati dengan selamat.

Sesampai di rumah, akhirnya saya cek ban.Dan, benar saja. Ban belakang sisi sebelah kiri sudah dalam kondisi sudah aus, jadi permukaan ban sudah tidak rata lagi. Sedikit ada semacam “retakan”. Duh! Untuk ban belakang sisi kanan, beruntung masih dalam kondisi cukup aman.

Kondisi ini baru diketahui Sabtu malam. Jelas sudah masalah ada di mana, dan kesimpulannya cuma satu: ganti ban segera. Alasan utama tentu karena faktor keselamatan.

Ganti Ban

Hari Minggu pagi, saya coba cari-cari opsi dimana saya beli (dan ganti) ban mobil. Ada sebenarnya toko ban yang direkomendasikan. Saya beli ban untuk roda depan sekitar 1,5 tahun lalu. Secara harga lebih miring dibandingkan dengan toko ban lain. Masalahnya, hari Minggu tutup.

Jadi saya coba melihat-lihat kembali harga ban di situs niaga-el seperti . Hal ini sekadar untuk mencari tahu saja, berapa harga pasaran ban yang saya pilih yaitu GT Radial Champiro Ecotec 185/65 R15.

Selain itu saya juga coba kontak beberapa toko ban di Jogjakarta setelah mencari melalui . Saya mendapatkan jawaban dan produk tersedia. “Masalahnya”, kebanyakan tutup karena hari Minggu. Ada pula yang toko tersedia di Tokopedia, bisa pesan melalui Tokopedia, lalu pemasangan dengan datang langsung ke toko. Harga juga cocok. Sayangnya, ketika saya mau order, saya diberitahu kalau akan cek stok dulu, dan baru dikabari Senin.

Saya agak memaksakan untuk bisa selesai urusan hari Minggu, untuk menghindari mengurus hal ini di hari dan jam kerja. Dan, supaya ban bisa segera ganti.

Istri saya juga sempat tanya di grup perumahan, dimana pada beli ban. Beberapa menyebutkan nama yang familiar seperti MARI BAN, BAH PETRUK, dan ada yang menyebutkan Ottoban. Nama terakhir ini sebenarnya agak asing, tapi katanya bisa beli lewat niaga-el Tokopedia. Jadi, saya malah penasaran mencari lebih lanjut.

Setelah saya mencari tahu lebih lanjut, sepertinya Ottoban — dengan nama merek Ottoban Indonesia (situs: https://ottobanindonesia.com) — ini cocok dengan kebutuhan di hari itu. Kenapa?

Romantisme Becak

Kalau harus menyebutkan pemandangan apa yang “mengganggu”, jawaban saya salah satunya adalah becak, ya tentu saja dengan tukang becaknya. Sebagai orang yang tinggal di sejak kecil, melewati perjalanan keseharian sejak kecil dengan kemewahan bisa mengalami banyak hal sederhana tapi manis, becak bagi saya memiliki tempat tersendiri.

Tempat yang istimewa. Manis.

Lahiran Diantar Becak

Dulu waktu kecil, saya sempat mendengar bahwa proses kelahiran saya juga tidak lepas dari peran becak. Karena, ternyata untuk ke bidan tempat saya lahir, almarhum ibu saya datang ke bidan/ dengan menggunakan becak. Begitu juga pulangnya. Saya hanya rekam saja cerita itu.

Sampai saya tumbuh lebih besar, dan ketika ada dalam periode saya tinggal di rumah eyang — dimana saya dulu menghabiskan masa kecil saya — saya mendapati beberapa tukang becak yang cukup akrab dengan keluarga. Dan, tukang becak itu jadi langganan pula untuk eyang saya. Ada beberapa yang secara usia waktu saya mengenalnya mungkin seusia almarhum bapak.

Saya suka mengobrol, dan sampai ada satu topik obrolan yang membahas bagaimana Pak Yatin — sebut saja namanya demikian — mengantarkan almarhum ibu saya untuk melahirkan saya. Termasuk, ketika mengantar saya pulang.

Kula rumiyin sing ngeterke ibune njenengan pas lahirane njenengan, (Saya dulu yang mengantarkan ibumu ketika melahirkan kamu)” katanya. Bermula dari ini, dalam kesempatan berbeda, fakta ini akhirnya memicu obrolan, rahasia-rahasia kecil, dan tentu saja cerita yang tidak pernah diungkapkan. Karena, ibu saya meninggal ketika saya SMP kelas 3.

Dan, ceritanya begitu banyak. Bahkan, cerita tentang bagaimaan saya pulang dari dokter, diantar becak, masih diceritakan dengan cukup jelas. Puji Tuhan, banyak hal baik yang diceritakan.

Karena Pedal Harus Terus Bergerak

Bagi orang asli Yogyakarta dimana becak sudah menjadi pemandangan sehari-hari, mungkin moda/jasa ini sangat jarang dilirik. Soal kecepatan, jelas kalah. Soal kenyamanan, juga kurang bisa bersaing dengan moda lain. Soal harga, sesuai kesepakatan. Jangan tanyakan soal jarak tempuh, jelas sangat terbatas.

Saya sendiri kadang mengusahakan untuk tetap ‘berinteraksi’ dengan becak ini. Misal, kalau saya ke pasar dari rumah eyang, walaupun jalan kaki hanya 10 menit saja, saya usahakan akan pakai becak, tentu saja kalau tukang becak sedang tidak narik dan ada di ujung gang keluar rumah.

Atau, secara acak kadang kalau misal ingin makan, saya pilih naik becak, dan mengajak makan tukang becaknya.

Kalau ada sekiranya yang bisa membuat pedal tukang becak terus berputar, saya akan lakukan. Entah di Yogyakarta, atau juga misal sewaktu ke Solo.Dan yang paling penting sebenarnya adalah ada sebuah perasaan senang yang sudah terdeskripsikan. That happy feeling because you do something good.

Dan, mungkin salah satu pantangan saya adalah saya pantang untuk nawar. Dan, mungkin yang paling sulit adalah ketika tukang becak tidak menentukan harga. Tapi, karena sudah cukup sering menggunakan jasa becak, jadi sediit banyak sudah tahu perkiraan tarifnya. Menurut saya, daripada nawar yang jadinya terlalu murah/rendah, lebih baik sejak awal tidak usah merencanakan naik becaknya. Ya, menurut saya seperti itu.

Dan, Sekarang Masa Pandemi COVID-19

Melihat cukup banyak becak yang berhenti di pinggir jalan saat pandemi saat ini, rasanya menyesakkan. Jangankan pandemi, kehadiran moda transportasi lain saja sudah memporakporandakan keseharian dalam mencari rejeki. Apalagi sekarang.

Romantisme yang sudah saya lewatkan puluhan tahun dengan becak (dan tukang becaknya), membuat kondisi saat ini menjadi lebih sentimentil. Yang pasti… sedih.

Beberapa kali ketika saya mengunjungi rumah tempat eyang saya, saya masih melihat tukang becak langganan keluarga kami. Ada sedikit pemandangan berbeda, becak yang menunggu penumpang makin banyak, semua tak bergerak.

I hate this kind of view. I don’t like this kind of feeling.

Puji Tuhan diberikan berkat untuk bisa berbagi, walaupun tidak banyak, tapi semoga bisa sedikit membantu. “Matur nuwun sanget… (Terima kasih sekali…),” yang terucap ketika memberikan sedikit berkat di saat ini begitu berbeda, begitu berat.

Bless them!

Few Things You Need to Know About The New Yogyakarta International Airport (YIA)

According to the news, the new Yogyakarta International will be operating in late April 2019. For the first phase, some airlines like Garuda , Air Asia Indonesia, and Silk Air will have their inaugural flights.

I will not talk about the controversies, but one thing for sure: there will be a new airport to support the ‘current’ airport that is too small to handle millions of passengers per year.

Location

New Yogyakarta International Airport is located in Kulon Progo Regency. Yes, it’s still in Yogyakarta Special Region. See below. “So, is near the city center?”, “Is it far from International airport?”, you may be asking.

I personally haven’t visited this ‘new’ airport. As a citizen who lives not far from city center, — I define area as the city center here — New Yogyakarta International Airport is quite far.

In a very normal traffic, I can reach Malioboro area for about 25-30 minutes by car. Referring to Google Maps, the distance between Adisutjipto Airport and Malioboro area (I use Tugu Monument as the point of reference) is around 9-10km.

Leaving for your destination from Adisutjipto should not be difficult also as you can find taxies easily. Or, you can use ride sharing transportation like Go-Jek Indonesia or Grab. If your destination is also available using Trans Jogja bus, it might be a solution also. Even, if you need go to directly to city for example, the train station is just outside the arrival area.

Compared to the above route, the distance from the ‘new’ airport is ‘only’ around 48km (I pick the ‘shortest’ route provided by ).

How far is the New Yogyakarta International Airport?

If you could not figure out yet how far is the new airport, let’s see some other contexts for comparisons. We will use the distance between Yogyakarta Monument as the starting point and Google Maps to measure the distance.

So, distance from Yogyakarta Tugu Monument to:

How to get there?

I think as the bus operator will server the route to the new airport, and the train from as well. But, I think it will take a little bit time. Renting a car might be little expensive. Taking Go-Car from Go-Jek or Grab is a reasonable option. Conventional metered-taxi, probably. It will cost more, I suppose. I checked the fare for Go-Car and Grab, it is around IDR 180,000-200,000.

Pengalaman Mengurus Penggantian Paspor Online di Kantor Imigrasi Yogyakarta (April 2016)

Hari ini, 4 April 2016 saya ke Kantor Kelas I untuk melakukan proses penggantian saya yang akan habis masa berlakunya bulan Juni 2016. Sewaktu membuat paspor pertama kali, saya membuatnya melalui prosedur online dan mendapatkan pengalaman yang baik. Seluruh proses berjalan dengan lancar. Jadi, dengan pengalaman tersebut, saya juga memutuskan untuk melakukan proses penggantian paspor dengan cara online juga.

Berikut ini adalah pengalaman sementara saya mulai proses pendaftaran permohonan, pengumpulan berkas, sampai dengan foto dan pemindaian biometrik.

Persiapan

Menurut saya, hal-hal yang diperlukan sebelum melakukan proses awal ini yang cukup penting antara lain:

  • Pastikan berkas persyaratan sudah dimiliki. Untuk keperluan ini, perlu disiapkan berkas antara lain: KTP (asli, bukan fotokopi), Akta Kelahiran (asli, bukan fotokopi), Kartu Keluarga (asli, bukan fotokopi), dan paspor saat ini yang akan diganti (asli, bukan fotokopi). Seluruh berkas tersebut perlu untuk di fotokopi.
  • Waktu, karena saat selesai melakukan proses pembayaran, kita akan menentukan sendiri kapan akan datang ke Kantor Imigrasi.

Proses Pra Permohonan Online

Saya melakukan permohonan melalui situs Layanan Paspor Online Direktorat Jendral Imigrasi. Dalam halaman tersebut, saya masuk ke menu Pra Permohonan Personal.

situs Layanan Paspor Online Direktorat Jendral Imigrasi

Situs Layanan Paspor Online Direktorat Jendral Imigrasi

Selanjutnya, cukup mengikuti panduan pengisian, dan pastikan untuk kolom isian dengan tanda bintang (asterisk) terisi dengan benar. Ketika saya mengisi pada bagian identitas Kartu Tanda Penduduk, saya sempat agak ragu karena saya sudah menggunakan KTP-el (Kartu Tanda Penduduk ) yang berlaku seumur hidup, sedangkan kolom isian pada bagian tanggal tidak ada pilihan “Seumur hidup”. Untuk bagian ini, saya isi saja dengan durasi 5 (lima) tahun sejak tanggal KTP saya diterbitkan. Hasilnya, ketika dilakukan pemeriksaan tidak ada masalah semua berjalan dengan baik.

Tips Memilih Taksi di Bandara Adisutjipto Jogjakarta

Saya sering mendapatkan beberapa pertanyaan terkait salah satu cara meninggalkan (atau menuju) ke dengan menggunakan armada taksi — selain tentu saja menggunakan bis Trans , ataupun . Dua atau tiga tahun terakhir ini, saya memang cukup sering harus menuju/meninggalkan bandara Adisutjipto, yang kebanyakan untuk urusan pekerjaan. Dan, taksi adalah salah satu pilihan saya.

Seputar Taksi di Jogjakarta

Di Jogjakarta, pilihan taksi cukup beragam dan memberlakukan tarif dengan menggunakan argometer. Walaupun, ada satu atau dua armada yang kadang menawarkan dengan tanpa menggunakan argometer, namun jumlahnya sangatlah sedikit.

Perusahaan taksi yang beroperasi juga beragam, namun semuanya menggunakan tarif per kilometer yang sama. Dan, semua dapat juga dipesan dengan menggunakan telepon melalui operator. Juga, taksi di Jogjakarta ini beroperasi 24 jam, walaupun secara jumlah armada, untuk kondisi setelah jam 22.00 mungkin yang beroperasi lebih sedikit.

Untuk perjalanan dalam kota, taksi beroperasi dengan menggunakan sistem argometer. Namun, jika perjalanan keluar kota, atau mungkin ke obyek wisata tertentu, akan dikenakan tarif resmi yang ditentukan oleh masing-masing perusahaan taksi. Silakan tanya kepada pengemudi atau operator taksi tentang detil harganya. Saya pernah membandingkan, rata-rata harganya sama.

Pengalaman Menggunakan Layanan Uber Jakarta

Walaupun sudah cukup lama layanan taksi Uber dapat dinikmati di sebagai salah satu pilihan moda , namun saya baru saja mencobanya sendiri dalam satu bulan terakhir. Selain Jakarta, layanan di juga dapat dinikmati di kota lain seperti Bandung dan Bali.

17613487154_f554babe7b_b

Kalau dari melihat beberapa pengalaman dari pengguna Uber, sepertinya sangat banyak yang mendapatkan pengalaman positif (dibandingkan yang negatif). Saya sendiri berdomisili di , dan cukup sering harus berada di Jakarta kebanyakan untuk urusan pekerjaan. Dan, sarana transportasi seperti taksi atau bis Transjakarta merupakan pilihan moda yang sering saya pakai.

Sebelumnya, saya sudah menginstal aplikasi Uber di ponsel saya. Saat ini, aplikasi Uber dapat diunduh untuk ponsel dengan sistem operasi Android, iOS, dan Windows Phone. Proses registrasi sendiri dapat dilakukan dengan mudah, dan bagian yang terpenting adalah bahwa penumpang perlu untuk memiliki . Ini karena konsep Uber yang cashless, atau tidak ada transaksi dengan menggunakan uang secara langsung. Seluruh transaksi langsung dibebankan ke kartu kredit.

Memesan taksi Uber melalui aplikasi

Pemesanan dengan menggunakan aplikasi dapat dilakukan dengan mudah. Saat membuka aplikasi, kita bisa melihat apakah ada armada Uber yang tersedia dalam area disekitar kita. Sebelum kita mengkonfirmasi pemesanan, berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan:

  • Melihat ada atau tidaknya armada
  • Jika ada, maka akan diberikan informasi perkiraan kapan armada terdekat bisa sampai ke tujuan penjemputan
  • Mendapatkan informasi perkiraan tentang biaya perjalanan dari titik penjemputan sampai dengan tujuan akhir. Informasi perkiraan biaya ini bergantung kepada armada pilihan apakah uberX, atau UberBLACK

Fitur-fitur inilah yang bagi saya menjadi penentu apakah saya mau/dapat melakukan pemesanan armada Uber. Kadang, bahkan saya secara acak menggunakan fitur estimasi harga dari sebuah lokasi ke lokasi lainnya, sekadar untuk mengetahui perkiraan harga yang harus saya bayarkan.

Setelah menetukan lokasi penejemputan (dan tujuan), kita tinggal melakukan pemesanan. Aplikasi (dengan algoritma yang dimilikinya) akan mencoba mencariakan armada. Jika ada pengemudi yang merespon dan dapat melayani pesanan, maka pesan akan dikirimkan untuk memberitahu profil pengemudi.

Jika diperlukan, kita bisa langsung menghubungi pengemudi. Saya sendiri pernah menghubungi pengemudi setelah melakukan pemesanan, sekadar ingin mengkonfirmasi pesanan saya. Di lain kesempatan, pengemudi malah lebih dulu menghubungi saya dan memberitahukan tentang posisinya, walaupun saya bisa memantau juga posisi dari aplikasi Uber.

Perjalanan dan Tarif

Ketika membandingkan dengan moda lain seperti taksi dengan tarif biasa (misal: Bluebird, Express, atau yang lain), secara sekilas saya mendapati bahwa Uber lebih murah. Misalnya, dengan rute yang sama (dan kondisi lalu lintas yang sama), selisih total biaya perjalanan bisa mencapai sekitar Rp 20.000,- sampai Rp 30.000,-.

18232378412_2c8c91c8c1_h2

Konsep cashless (tanpa melibatkan transaksi dengan uang fisik secara langsung) juga merupakan hal yang saya sukai. Kalau melihat harga dari bukti transaksi yang diberikan, ada beberapa parameter yang mentukan harga yaitu: harga tarif dasar, jarak tempuh, waktu perjalanan, dan biaya tol (jika ada).

Kebetulan, salah satu perjalanan saya ada yang melewati gerbang tol. Dan, biaya tol langsung dibebankan (dan dideteksi) oleh aplikasi.

Karena informasi tersebut, ketika melewati pintu tol, saya tidak perlu menyiapkan uang untuk membayar. Pengemudi sudah menyiapkan sendiri uang pembayarannya. Saya hanya memberikan uang kepada pengemudi ketika meninggalkan area parkir dan ada biaya parkir yang harus dibayarkan.

Dari pemesanan yang pernah saya lakukan, saya mendapatkan dua jenis kendaraan yaitu Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza.

Mobil Uber yang mengantarkan ke Bandara Soekarno-Hatta.
Mobil Uber yang mengantarkan ke Soekarno-Hatta.

Jenis kendaraan baru diketahui setelah kita mendapatkan mobil pesanan. Namun, dari beberapa kali menggunakannya, saya mendapati kalau standar pelayanan, dan kebersihan kurang lebih sama baiknya.

Pak Santo yang pagi itu mengantarkan saya ke Alam Sutera, menyapa saya dengan ramah. Ketika kendaraan sudah mulai berjalan sekitar 5 menit, beliau menanyakan ke saya apakah AC mobil sudah cukup temperaturnya. Tak lama kemudian, beliau juga memberi tahu saya tentang rute yang akan diambil dan di gerbang tol mana kami akan masuk. Bahkan, di mobil beliau, sudah disiapkan air mineral dan permen. Saya sendiri tidak mengambilnya, karena saat itu saya sudah membawa sendiri.

17651790844_5d09904b12_o

Jadwal Kereta Api Jogja, Solo, dan Kutoarjo

Walaupun jarang menggunakan jasa layanan untuk perjalanan singkat ke , satu hal yang sepertinya sulit untuk didapatkan (melalui ) adalah jadwal keberangkatan. Padahal ada beberapa alternatif kereta seperti , Sriwedari AC, dan Madiun Jaya. Beberapa kali informasi yang saya dapatkan paling valid adalah dengan menelpon ke stasiun, atau datang langsung.

7241720412

Ketika mengunjungi Stasiun kemarin, saya mendapatkan informasi jadwal kereta yang berlaku mulai tanggal 1 April 2013. Berikut informasinya:

Pramex -Solo

  • Jogja-Solo: 10.50, 14.40, 20.10
  • Solo-Jogja: 05.30, 13.00, 16.20

Pramex

  • Jogja-Kutoarjo: 06.50, 15.50, 17.35
  • Kutoarjo-Jogja: 09.40, 17.30, 19.00

Sriwedari AC

  • Jogja-Solo: 05.25, 08.00, 09.15, 12.00, 13.00, 17.45, 18.40
  • Solo-Jogja: 07.05, 06.00, 10.10, 11.10, 14.30, 15.45, 20.05

Madiun Jaya

  • Jogja-Madiun: 09.50, 18.30
  • Madiun-Jogja: 06.00, 14.50

tersebut saya dapatkan saat saya mencari informasi di layanan pelanggan di Stasiun Tugu, pada tanggal 8 September 2013. Untuk informasi harga tiket:

  • Pramex: Rp 10.000,-
  • Sriwedari AC: Rp 20.000,-
  • Madiun Jaya AC: Rp 50.000,-

Catatan lain:

  • Sistem pembelian tiket dibuka dua jam sebelum jadwal keberangkatan.
  • Karena padatnya perjalanan/penumpang, maka sering kali saya menjumpai penumpang yang kehabisan tiket. Sistem pemesanan sudah terintegrasi, jadi misalnya di Stasiun Tugu (untuk ke Solo) tiket sudah habis, dapat dipastikan bahwa tiket juga tidak bisa didapatkan di Stasiun Lempuyangan (Jogja).
  • Informasi ini saya dapatkan untuk berbagi informasi. Jika ada data/informasi yang kurang akurat, mohon maaf. Informasi terbaru seputar jadwal kereta api bisa langsung ditanyakan di layanan penumpang di Stasiun.

Sejenak Mengunjungi Kota Solo (Bagian 1)

Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk mengunjungi . Bulan Juli lalu sempat juga ke Solo, untuk keperluan berbeda. Saat itu, saya ke Solo cuma untuk transit melanjutkan perjalanan ke .

Perjalanan saya ke Solo terakhir kemarin meninggalkan beberapa kesan, dan pengalaman baru. Rencana awal hanyalah untuk sekadar melihat-lihat ke — karena di tidak ada — dan juga bertemu dengan seorang teman.

Perjalanan ke Solo

Saya memutuskan untuk menggunakan kereta dengan alasan waktu tempuh yang paling cepat. Untuk jadwal kereta sendiri, saya tidak terlalu memusingkan jam berapa kereta akan berangkat. Sekitar pukul 09.45 saya mendekati Stasiun .

Stasiun Tugu

Persis ketika mendekati loket pembelian tiket, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa kereta Madiun Jaya akan segera diberangkatkan pukul 09.50. Saya sempat menanyakan apakah saya masih bisa membeli tiket untuk jadwal tersebut. Ternyata tidak.

Sempat saya tanyakan kepada petugas tiket, apakah saya bisa mendapatkan informasi jadwal kereta . Petugas tersebut menyampaikan kalau informasi jadwal bisa didapatkan di bagian layanan pengguna. Ternyata tempatnya tidak jauh dari lokasi, masih di area tersebut. Setelah saya mendapatkan, saya coba pelajari secara singkat.

Kereta berikutnya adalah jurusan -Solo, pukul 10.50. Berarti masih ada waktu sekitar satu jam lagi. Saya langsung kembali ke loket untuk membeli tiket, harga saat itu adalah Rp. 10.000,-

Floating CSS menu on YouTube Flash Videos

I currently involve in a project that put videos as its primary contents. My involvement is not primary on the . I’m just helping a little. What I like from the process is to find solution. One of the problem is on the navigation menu. It’s very common to have navigation with sub-menus. Without having special objects like , everything should be under control. But, not this time.

The problem

When embedding a video from YouTube (in this case, using the iframe method), the navigation is broken because it sits behind the . The same result with the old embed code. See the below:

It’s wrong. The menu should be displayed above the video. It should be like the below:

So, is there a simple way to fix this problem? Yes.

The solution

The solution is pretty easy. You only need to add a parameter for the embed code. It’s wmode=transparent. I will use an example here. This is an embed code from Serabi Solo video at YouTube:

The code above should me modified by adding wmode=transparent parameter. The final code will be like this:

It’s easy, right? But, what if you want to use the old embed code? You can fix the problem using a same method. For example, this is ’s old embed code from the same video:






You need to add a parameter. Just add .
The final code will be like this:







Have !

Serabi Solo

Last few weeks ago, I went to my relative’s house in Karanganyar. I had a chance to visit City for about two hours before leaving this city to . Wihout any plans, I stopped at Klewer (one of the biggest traditional markets in Solo City) and tried Serabi Solo. Solo is famous for its Serabi Notosuman, anyway.

While enjoying this serabi, I took some and create a short episode for my . It was unplanned, but I decided to do it fast. I was thinking of having myself talking for few seconds in this video. I was lucky to have my relative with me. So, I asked him to hold the and directed him to hold and use my camera . The result is not super perfect, but I think it’s good enough.
https://.com/watch?v=Gi-lO8OMUns

About Nokia Tune


I just knew that tune was composed in 1902. This tune — also called Grande Valse — is a phrase from a composition for guitar, Gran Vals, by the Spanish classical guitarist and composer Francisco Tárrega. And, it’s estimated that this Nokia tune is heard 1.8 billion times per day, about 20,000 times per second. [: Nokia tune on Wikipedia]

Ovi Maps (3.04) is available. How do I use Ovi Maps?

Few days ago, Nokia Ovi Maps v. 3.04 for mobile was released for public. If you’re following the news, released with Free worldwide Walk & Drive navigation last January. And, I have my Ovi on my Nokia 5800 XM upgraded. And I like it. Find more details about Ovi Maps.

Now, I want to share how I use Ovi daily use. Right now, I’m in Jakarta and I have been staying in this city for few months. It’s not my first time, but still, I’m not familiar with the streets and routes. I met Ovi Maps when I had my N78 few years ago and found it really useful. But, it was when I stayed in my hometown, .

Mobile photoblogging (by orangescale)I love taking pictures with mobile device. When I found out that all captured using my N78 can have location information, I usually had the GPS information turned on. By this, I can find out where the photos were taken and — the important thing — was that I knew where I stood. How is it useful? A simple example: I went to Solo city and took a picture at the railway station. Then, I went to some places in and took another picture. The result? I could find out what places I visited (with photos).

Okey, that was related to . In Jakarta, when I go to a place I usually save the location — based on the GPS . This is useful since I can also find the navigation, or at least what direction/route I should take from one place to my destination. Usually, when I took or taxi — and I’m not familiar with the street route, the first thing I do is firing up my map. Until today, I never lost. :D

Anyway, I rarely notice about the 3D view. But, when I took my time to explore Jakarta in Ovi Maps, I found some buildings/landmarks available in 3D view map. For example: Monumen Nasional (see pictures below).

Buildings/Landmarks Jakarta OviMaps (by orangescale) Monas, Jakarta (by orangescale)

For more screenshots about some buildings/landmarks I found using Ovi Maps, you can go my Flickr photostream set.

Disclaimer: This is not a sponsored post. I write this based on personal experience.

Jadwal dan Harga Tiket Kereta Api Pramex

Sudah cukup lama sejak terakhir kali saya menggunakan jasa kereta . Setiap kali akan menggunakan kereta Pramex — baik dari ke ataupun sebaliknya, pasti cukup kebingungan untuk mencari informasi tentang jadwal keberangkatan. Ya, bisa sih telpon informasi di stasiun. Berharap menemukan informasi — yang bisa dipercaya — melalui situs web sepertinya juga sia-sia. Mungkin ada, tapi tidak begitu yakin 100%.

Kemarin siang, akhirnya dengan sedikit nekat — sudah dapat informasi sih, tapi belum yakin sepenuhnya — saya coba langsung ke Stasiun Solo Balapan setelah menemani Lala pulang kampung. Sampai di Stasiun Solo Balapan kira-kira pukul 14.20. Lihat jadwal, ternyata ada yang keberangkatan pukul 14.45! Akhirnya tidak harus menunggu lama (atau baru saja ketinggalan kereta). Tanpa pikir panjang langsung ke loket untuk beli tiket. Eh, ternyata harga tiket sudah berubah dari yang semula Rp. 7.000,– sekarang menjadi Rp. 8.000,–. Dan melihat dari pengumuman yang terpasang, perubahan ini sejak bulan Agustus 2009.

Ternyata tidak hanya harga tiket yang berubah. Bentuk tiket juga mengalami perubahan. Mungkin sudah lama sih, beberapa bulan mungkin. Tapi saya benar-benar lupa terakhir kali naik Pramex itu kapan dan bentuk tiketnya seperti apa. Karena bentuknya yang tipis dan seperti lembaran kertas biasa, tadi hampir saja malah sempat terbuang.

Perjalanan cukup lancar, tapi terlambat sekitar 10 menit sampai di tujuan. Entah kenapa alasan keterlambatannya apa. Yang pasti, penumpang tidak begitu banyak. Mungkin kalau berangkat lebih sore lagi, bisa beda ceritanya.

14th Yogyakarta Gamelan Festival 2009

ygf
Gamelan (YGF) is an annual in . This year, it’s the 14th festival and has “EVERYWHERE” as the event . Anyway, this event is organized by Gayam16. There are many agenda during this event including music , exhibition and also workshop from July 16-18.
This event also invites musicians from some cities like Pamekasan (Madura), Tolitoli (Central Sulawesi), , and also from United Kingdom, USA, France and Japan. It’s a little bit different now. Sapto Raharjo, a gamelan music maestro, was passed away in February 2009.
The music performances will be held in Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta from July 16-18, 2009. And here’s the schedule:

  • Thursday — July 16, 2009
    • Concert (8PM – 11PM)
      • Y. Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa (Yogyakarta)
      • Kutiplak Ndang Tak (Yogyakarta)
      • KPH9 (USA and Yogyakarta)
      • Agus Bing and Prabumi Ethnic Jazz Band (Solo)
      • Stupa (Yogyakarta)
    • Exhibition (10AM – 11PM)
      • Tribute to Sapto Raharjo
  • Friday — July 17, 2009
    • Concert (8PM – 11PM)
      • Gita Rarya (Yogyakarta)
      • Kito Siopo? (Japan, UK and Yogyakarta)
      • Alex Grillo and Friends (France and Yogyakarta)
      • Singgayan (Tolitoli, Central Sulawesi)
    • Talkshow (3PM – 5PM)
      • Cultural Dialogue (at Amphitheather, Taman Budaya Yogyakarta)
    • Exhibition (10AM – 11PM)
      • Tribute to Sapto Raharjo
  • Friday — July 18, 2009
    • Concert (8PM – 11PM)
      • Youngsters Gamelan 16 (Yogyakarta)
      • Rene Lysloff and SaKAna (USA)
      • Kabud Hitam (Pamekasan, Madura)
    • Workshop (1PM – 4PM)
      • Gamelan Nowadays (at Auditorium of Lembaga Indonesia Perancis)
    • Exhibition (10AM – 11PM)
      • Tribute to Sapto Raharjo