Sriwijaya Air SJY 182

Sumber gambar: Instagram @jokowi

Sebuah kabar sedih di awal tahun 2021 dari dunia transportasi udara terkait jatunya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182. Saya sendiri pernah beberapa kali menggunakan maskapai ini untuk perjalanan dari Jogjakarta ke Jakarta dan sebaliknya.

Artikel Kronologi, Fakta, dan Misteri Jatuhnya Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJY 182 di Kompas dapat menjadi rujukan awal mengenai bagaimana kronologi dan fakta terkait dengan insiden tersebut.

Perjalanan Ke Luar Kota Dengan Kendaraan Pribadi di Masa Pandemi. Kenapa Tidak Naik Pesawat?

Ketika beberapa waktu lalu ada sebuah urusan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan secara jarak jauh di Jakarta, akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri acara terkait pekerjaan di Jakarta pada pertengahan November 2020 lalu. Dan, dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Jakarta dengan kendaraan pribadi, sendiri tanpa teman/supir pengganti.

Mengapa tidak naik pesawat atau kereta saja? Bukankah lebih praktis (dan lebih murah)?

Beruntung, saya tinggal di Yogyakarta, dan rute tujuan perjalanan saya semua masih ada di pulau yang sama, punya beberapa pilihan moda transportasi. Sempat memang terpikir untuk memilih antara pesawat, atau bahkan kereta api. Dua moda transportasi yang paling saya sering gunakan kalau bepergian dari Yogyakarta ke Jakarta (dan sebaliknya).

Barang Bawaan

Perjalanan kemarin, saya berencana akan ada di Jakarta selama sekitar lima hari. Artinya, bawaan saya jelas akan jauh lebih banyak — soal baju saja sudah pasti jumlah jauh berbeda karena selama masa pandemi jadi lebih sering ganti baju. Belum lagi bawaan selain baju seperti laptop yang biasanya saya bawa dalam tas punggung saya.

Dengan banyaknya barang bawaan, otomatis akan berpengaruh terhadap cara mobilitas saya. Saya sempat membayangkan bagaimana bawaan saya harus berpisah sementara ketika saya menggunakan pesawat terbang. Membawa cukup banyak barang bawaan ketika ke Stasiun Tugu atau meninggalkan Stasiun Gambir, sudah terbayang repotnya.

Kalau saya naik pesawat, jelas koper saya harus masuk bagasi — apalagi saya akhirnya membawa dua buah koper dalam ukuran medium. Dan, mungkin bisa jadi saya over baggage.

Soal barang bawaan, kali ini pertimbangan saya adalah saya tidak mau terlalu repot membawa, dan saya mengusahakan sebisa mungkin saya berpisah dengan barang bawaan saya.

Jarak, Maskapai, dan Pilihan Waktu Perjalanan

Kalau saya naik pesawat, berarti saya harus terbang melalui Yogyakarta International Airport (YIA), yang jaraknya jauh dari rumah saya. Menurut Google Maps, lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Dan, saya harus berangkat menggunakan GrabCar/GoCar dengan biaya mungkin sekitar Rp200.000,-. Padahal, pengalaman terakhir saya menggunakan GrabCar bulan lalu tidak terlalu menyenangkan.

Kalau mau yang lebih murah, saya bisa menggunakan Damri yang lokasi keberangkatan dari salah satu mal di Sleman, tidak terlalu jauh dari rumah. Dan, dari rumah saya tetap harus menggunakan GrabCar atau GoCar.

Untuk ke Jakarta, saya juga perlu untuk memilih maskapai apa yang perlu saya gunakan. Pilihan saya sempitkan kepada dua maskapai: Citilink Indonesia dan Garuda Indonesia. Dan, saya tidak terlalu nyaman dengan jadwal penerbangan yang ada. Apalagi, tidak semua jadwal memberlakukan seat distancing dalam pengaturan kursinya.

Belum lagi bahwa saya harus berada di bandara jauh lebih awal. Ditambah dengan jauhnya jarak ke bandara YIA, paling tidak mungkin saya harus berangkat empat jam lebih awal. Misal saya ambil perjalanan pukul 14.40 WIB, mungkin sekitar pukul 11.00 WIB saya sudah harus meninggalkan rumah. Bahkan, bisa lebih awal kalau saya menggunakan Damri, karena saya tidak dapat memastikan jam berapa Damri akan berangkat.

Kalau saya sudah mendarat di Jakarta, berarti saya masih harus berurusan dengan pengambilan bagasi, keluar bandara, mencari transportasi ke arah Jakarta. Yang, biasanya ini juga memakan waktu yang tidak sedikit.

Soal kereta, sepertinya saya sudah tidak terlalu jadikan opsi sejak awal.

Yang pasti, dari semua pilihan yang ada, saya harus menyesuaikan jadwal. Belum lagi terkait dengan kebutuhan bahwa saya harus membawa dokumen hasil pemeriksaan (rapid test).

Dengan segala pertimbangan ini, perjalanan dengan kendaraan pribadi jadi makin masuk akal. Nah, “masalahnya” adalah: saya belum pernah sekalipun ke Jakarta naik mobil sendirian.

Persiapan dan Biaya

Selain meyakinkan diri sendiri bahwa naik kendaraan pribadi adalah pilihan terbaik, saya juga harus memastikan bahwa perjalanan saya akan aman, kendaraan yang saya gunakan juga dalam kondisi baik. Beruntung, baru sekitar tiga bulan lalu, saya mengganti ban depan mobil saya. Pertengahan Oktober lalu, kendaraan juga melakukan servis berkala. Dan, karena menggunakan kendaran sendiri, jadi mungkin sudah lebih ‘mengenal’ kendaraan ini seperti apa.

Soal rute, saya sempat tanya ke beberapa rekan dan saudara saya. Intinya: lewat tol saja, aman, cepat, dan seharusnya penunjuk jalan pasti jelas. Kalau sudah masuk ke Jakarta, apalagi saya akan melewati rute yang cukup familiar, harusnya tidak masalah sama sekali.

Mengenai biaya, untuk perjalanan dari Yogyakarta dan Jakarta kemarin saya habis sekitar Rp800.000,- untuk tol dan bahan bakar kendaraan saya (Mobilio). Di rest area saya tidak mengeluarkan biaya apapun, karena untuk makanan kebetualan saya sudah membawa bekal yang cukup lengkap, termasuk makanan kecil dan minuman. Biaya ini jumlahnya mungkin cukup besar, apalagi saya cuma perjalanan seorang diri. Jika mungkin berbarengan dua atau tiga orang, pastinya akan jauh lebih hemat.

Namun, jika dihitung saya menggunakan pesawat terbang ke Jakarta, apalagi hari Minggu, kurang lebih biaya untuk perbandingan adalah sebagai berikut:

Kalau ditotal, sekitar Rp1.180.000,-. Jadi, dengan kendaraan pribadi masih bisa sedikit lebih murah. Apakah cukup melelahkan perjalanan? Yang saya rasakan sih tidak begitu melelahkan. Karena justru bisa lebih fleksibel untuk istirahat.

Jakarta Lagi

Setelah delapan bulan lebih tidak bepergian ke luar kota, baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan, kembali perlu untuk melakukan perjalanan. Kali ini, jika tidak ada halangan perjalanan akan ke Jakarta.

Setelah menimbang begitu banyak hal terkait perjalanan terutama di masa pandemi ini, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan pribadi ke Jakarta. Tentu, menggunakan pesawat menjadi pertimbangan sejak awal. Kali ini, tak selalu segala hal bisa dikerjakan jarak jauh.

Penghapusan Airport Tax/Passenger Service Charge (PSC) di 13 Bandara di Indonesia

Kabar baik untuk para pengguna jasa angkutan pesawat terbang, karena pemerintah baru saja menghapuskan beban airport tax atau Passanger Service Charge (PSC) untuk penerbangan dari 13 bandara di Indonesia. Istilah pajak bandara ini juga dikenal dengan Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) Tentu, ini kabar baik bagi mereka yang harus bepergian dengan pesawat.

Gambar pesawat AirAsia di area Bandara Soekarno-Hatta (CGK)

Stimulus ini berlaku mulai 23 Oktober 2020 sampai dengan 31 Desember 2020. Daftar 13 bandar udara yang dihapus:

  1. Bandara Soekarno-Hatta (CGK)
  2. Bandara Hang Nadim (BTH)
  3. Bandara Kualanamu Medan (KNO)
  4. Bandara Bali I Gusti Ngurah Rai Denpasar (DPS)
  5. International Yogyakarta Kulon Progo (YIA)
  6. Halim Perdanakusuma Jakarta (HLP)
  7. Bandara Internasional Lombok Praya (LOP)
  8. Jenderal Ahmad Yani Semarang (SRG)
  9. Bandara Sam Ratulangi Manado (MDC)
  10. Bandara Komodo Labuan Bajo (LBJ)
  11. Bandara Silangit (DTB)
  12. Bandara Banyuwangi (BWX)
  13. Bandara Adi Sucipto (JOG)

Dengan penghapusan ini, otomatis akan ada penyesuaian harga tiket yang selama ini harga yang tertera sudah termasuk dengan PSC. Dari puluah kali terbang — ketika harga tiket sudah termasuk PSC — saya sebenarnya tidak terlalu memerhatikan rincian biaya. Yang saya tahu berapa total harga, dan kadang saya memastikan saja apakah biaya tersebut sudah termasuk bagasi atau tidak.

Thai Airways, Restoran Bertema Pesawat, dan Pa Tong Go

Dari sekian banyak industri dan bisnis di dunia, indsutri perjalanan mungkin salah satu yang terkena dampak sangat besar, dan sangat cepat. Tak butuh berbulan-bulan untuk dampaknya langsung dirasakan.

Karena orang juga mulai berpikir ulang untuk bepergian entah untuk urusan pekerjaan atau hiburan, industri penerbangan — yang otomatis juga memengaruhi industri lain dalam sektor pariwisata — langsung perlu penyesuaian. Mulai dari pengurangan rute, pengurangan frekuensi penerbangan, termasuk pengurangan beban operasional lainnya.

Sedih melihatnya. Ditambah ketika pembatasan perjalanan harus dilakukan karena regulasi dari otoritas.

Thai Airways salah satunya. Untuk tetap membuat operasional berjalan, mereka melakukan beberapa penyesuaian bisnis, melakukan adaptasi, seperti yang dilakukan oleh puluhan, ratusan, atau bahkan jutaan bisnis di dunia.

Restoran Thai Airways

Restoran yang ditawarkan oleh Thai Airways ini memberikan pengalaman makan dengan tema ‘penerbangan’. Dengan menu, armosfer, dan pengalaman khas ala Thai Airways. Tentu, ini juga sudah pasti Thai Airways tidak bisa mengoperasikan penerbangan komersialnya.

Patong-go

Berikutnya, Thai Airways juga mulai melakukan langkah yang lain yaitu berjualan roti goreng, dengan nama patong-go atau diistilahkan dengan deep-fried dough. Mungkin kalau di Indonesia, mirip seperti cakwe, atau bolang baling. Atau, mungkin odading lebih bisa lebih mirip dengan ini. Tentu, kita tak perlu mendebatkan mana yang duluan apakah pa tong go, odading, cakwe, atau bolang baling yang duluan. Atau malah galundeng?

(Photo: Chanat Katanyu/Bangkok Post)

Acting THAI president Chansin Treenuchagron told reporters that the fried dough sticks were popular and people formed long queues to buy them each morning at the airline’s five food outlets in Bangkok. Monthly sales were around 10 million baht. Encouraged by this, the airline planned to franchise its fried dough sticks, so THAI and its partners could mutually benefit from their popularity.

Bangkok Post: Thai Airways cashing in on fried dough

Semangat!

AirAsia Indonesia Terbang Lagi untuk Beberapa Rute Domestik Mulai 19 Juni 2020

Setelah Lion Air yang membuka beberapa rute penerbangan domestik pada 10 Juni 2020 lalu, AirAsia Indonesia melakukan langkah yang sama. Beberapa rute penerbangan domestik akan dibuka mulai 19 Juni 2020.

Mengutip dari keterangan resmi dari situs AirAsia, berikut beberapa rute yang akan dilayani.

No. PenerbanganAsalTujuanBerangkatTibaFrekuensi (hari)
QZ 7520Jakarta (CGK)Bali (DPS)09.2512.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 7521Bali (DPS)Jakarta (CGK)12.5013.35Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 192Jakarta (CGK)Medan (KNO)12.1014.40Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 193Medan (KNO)Jakarta (CGK)15.0517.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu

Memang belum banyak, karena secara kebijakan dan karena perubahan standar prosedur operasional pasti banyak yang harus disesuaikan terlebih dahulu.

Rencana penerbangan saya bulan April 2020 lalu juga menggunakan maskapai ini, walaupun harus saya batalkan, dan sampai sekarang belum jelas juga status pengembalian dana karena pembatalan. Walaupun, kalau memang saya tidak eligible untuk mendapatkan refund ya tidak apa-apa, tapi status tiket kasus nomor 40585971 milik saya sampai saya tulis artikel ini juga masih “Sedang Berlangsung”.

Dear AirAsia Indonesia, I <3 you, but could you please check my case on the refund? If it should be closed and I could not get my refund, just close my ticket. Thank you!

Thomas Arie Setiawan, your happy customer
AirAsia Indonesia depart from Adistucipto Airport (JOG)

Secara prosedur, kurang lebih sama dengan bagaimana maskapai lain yang merujuk kepada Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

AirAsia Indonesia sendiri telah memiliki “Panduan Terbang Bersama AirAsia Selama Masa Kewaspadaan COVID-19”, dimana penumpang (untuk penerbangan domestik) disayaratkan untuk:

  1. Menunjukkan kartu dentitas diri (KTP atau tanda pengenal lainnya yang sah);
  2. Melengkapi dengan surat keterangan uji Rapid-Test dengan hasil non reaktif yang berlaku 3 hari atau Surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif yang berlaku 7 hari pada saat keberangkatan, atau Surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) yang dikeluarkan oleh Dokter Rumah Sakit/Puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas Test PCR dan/atau Rapid-Test;
  3. Mengunduh dan mengaktifkan aplikasi Peduli Lindungi pada perangkat telepon seluler

Dengan tambahan:

  1. Mengisi kartu kewaspadaan kesehatan elektronik (e-HAC) yang dapat diakses melalui aplikasi seluler e-HAC Indonesia (Android) atau http://sinkarkes.kemkes.go.id/ehac.
  2. Khusus penumpang dari/ke DKI Jakarta diharuskan memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang dapat diproses di https://corona.jakarta.go.id/id/izin-keluar-masuk-jakarta#11sektor
  3. Khusus penumpang tujuan akhir Bali wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif dan mengisi formulir https://cekdiri.baliprov.go.id/
  4. Khusus penumpang tujuan akhir Lombok wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif.
  5. Mengisi surat pernyataan AirAsia. (Surat pernyataan dapat diunduh di Google Drive dalam format PDF)

Walaupun saya belum ada rencana untuk bepergian dengan pesawat — dan sebisa mungkin menghindari bepergian jarak jauh apalagi sampai menggunakan moda transportasi umum — persyaratan perjalanan memang jauh lebih ketat. Tapi, saya lebih setuju kalau memang pesyaratan ini benar-benar dijalankan oleh seluruh pihak, termasuk penumpang.

Stay safe, good people!

Lion Air Group akan Terbang Lagi untuk Rute Domestik 10 Juni 2020

Lion Air Group dengan maskapai Lion Air (kode penerbangan JT), Wings Air (kode penerbangan IW), Batik Air (kode penerbangan ID) akan kembali beroperasi pada 10 Juni 2020. Sebelumnya, mereka mengumumkan penghentian sementara operasional penerbangan domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Keputusan Lion Air Group dengan pertimbangan atas evaluasi setiap pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya, bahwa banyak calon penumpang yang tidak dapat melaksanakan perjalanan udara disebabkan kurang memenuhi kelengkapan dokumen-dokumen sebagaimana persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan selama masa kewaspadaan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Keterangan pers Lion Air terkait penghentian sementara operasional penerbangan domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Pembukaan kembali operasional pada 10 Juni 2020 tersebut didasarkan kepada pertimbangan bahwa “calon penumpang pesawat udara sudah semakin memahami serta akan dapat memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan pesawat udara yang ditetapkan selama masa waspada pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)”.

Keputusan ini juga merujuk kepada telah diterbitkannya Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Selain prosedur keselamatan dan kesehatan pribadi, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam penerbangan. Walaupun ini merujuk kepada rilis yang dikeluarkan oleh Lion Air, tapi saya rasa maskapai lain — dan moda transportasi masal lain seperti kereta api atau kapal kurang lebih akan sama, yaitu:

  1. Jika tes kesehatan yang digunakan Rapid Testmaka masa berlaku adalah 3 hari, atau jika tes kesehatan yang digunakan Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), maka masa berlaku ialah 7 hari, atau
  2. Apabila kedua metode tes di atas tidak tersedia di daerah asal, maka calon penumpang harus mendapatkan surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) dari dokter rumah sakit/ Puskesmas.Untuk itu calon penumpang Lion Air Group harus mencermati masa berlaku dari dokumen kesehatan yang digunakan.

Walaupun saya belum berencana untuk melaksanakan perjalanan ke luar kota lagi dalam waktu dekat, sepertinya hal tersebut perlu saya catat dulu sebagai rujukan. Yang pasti, memang tidak akan sesederhana dan sefleksibel sebelum era Covid-19.

Dan, tentu saja meluangkan waktu lebih lama untuk tiba di bandara, karena adanya prosedur-prosedur baru yang mengakibatkan proses persiapan pemberangkatan penumpang menjadi lebih lama.

Stay safe, everyone!

Pengembalian Dana (Refund) AirAsia Indonesia

Saya suka terbang bersama dengan AirAsia. Ketika di Indonesia harga tiket pesawat juga mengalami lonjakan, sampai AirAsia akhirnya memilih untuk meninggalkan layanan OTA (Online Travel Agent), dengan senang hati saya memesan langsung melalui situsnya (kadang juga melalui aplikasi mobile).

Hari Sabtu tanggal 7 Maret 2020 dari Jakarta menuju Jogjakarta adalah penerbangan saya yang terakhir bersama AirAsia Indonesia. Saat itu, penerbangan berjalan dengan sangat baik. Saya tidak mengeluh sama sekali.

Rencananya, tanggal 15 Maret 2020 saya akan terbang bersama dengan satu rekan kerja ke Jakarta — dari Jogjakarta — dan pulang tanggal 17 Maret 2020 dengan AirAsia Indonesia. Lagi-lagi, karena saya memang puas dengan layanan yang diberikan, dan karena jadwal yang kebetulan sesuai.

Tapi, penerbangan harus dibatalkan, karena saya memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas perjalanan karena perkembangan pandemi Corona Covid-19 yang tidak membaik, bahkan sebaliknya.

Saya melakukan proses pengajuan pengembalian dana melalui mekanisme yang ada. Walaupun, sampai sekarang memang belum ada perkembangan yang berarti.

Pengembalian dana akan dikreditkan dengan cara yang sama dengan metode pembayaran yang digunakan untuk memesan.

Status terakhir pada halaman pencatatan kasus.

Karena AirAsia Indonesia Menawarkan Harga Tiket Lebih Murah

Minggu ini, saya perlu kembali melakukan perjalanan terkait pekerjaan ke Jakarta. Karena jadwal, maka saya putuskan untuk naik pesawat terbang. Memang, harga tiket pesawat untuk rute domestik yang ditawarkan maskapai di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan.

Paling simpel, ketika melakukan pengecekan ke situs online travel agent seperti Traveloka atau Tiket.com. Dari Jogjakarta ke Jakarta misalnya, yang beberapa bulan lalu tiket pesawat seperti Citilink, Sriwijaya, atau Lion mungkin ada dikisaran sekitar Rp400.000-Rp600.000. Namun, waktu saya check sudah diangka Rp800.000-an.

AirAsia yang beberapa bulan lalu memutuskan untuk tidak ikut dalam kerjasama dengan seluruh online travel agent menawarkan harga yang lebih jauh lebih baik. Dengan jadwal keberangkatan di hari dan jam yang hampir sama, saya mendapatkan harga tiket sekitar Rp430.000-an saja untuk perjalanan ke Jakarta dari Jogja pada hari Minggu. Dan, untuk pulang ke Jogja kembali pada hari Selasa (malam) saya bahkan mendapatkan tiket dengan harga kurang dari Rp400.000.

Layanannya? Saat itu, seluruh perjalanan saya lancar, tepat waktu, dengan mendapatkan pengalaman terbang yang baik.

Terima kasih, AirAsia!

Hampir Tertinggal AirAsia Indonesia QZ-7550 CGK-JOG

Akhir pekan lalu saya melakukan perjalanan dari Jakarta ke Jogjakarta menggunakan maskapai AirAsia Indonesia QZ-7550. Ini adalah perjalanan saya dengan AirAsia Indonesia setelah sekian lama menggunakan maskapai lainnya. Saat itu, AirAsia Indonesia menawarkan harga tiket yang paling murah untuk perjalanan Jakarta ke Jogja.

Saya melakukan pemesanan langsung di situs AirAsia, karena waktu itu AirAsia menarik penjualan tiket di Traveloka — sedangkan Traveloka merupakan situs utama untuk pembelian tiket saya selama ini.

Telat check-in!

Saya sebenarnya tidak terlalu suka untuk datang ke bandara dengan waktu yang terlalu berisiko. Prinsipnya: lebih awal lebih baik, tidak terburu-buru. Namun, tidak pada saat minggu lalu.

Damri yang membawa saya ke Terminal 2F dari Gambir sebenarnya tepat waktu. Saya berangkat sekitar dua jam dari jadwal keberangkatan, dan saya sangat yakin bahwa lalu-lintas cukup bersahabat waktu itu.

Benar saja, hampir tidak ada kemacetan, jalanan lancar. Masalahnya adalah Terminal 2F adalah terminal terakhir dalam rute. Jadi, tujuan pertama ke Terminal 3 Ultimate, dilanjutkan ke Terminal 1, dan terakhir ke Terminal 2.

Sewaktu sampai di Terminal 2 sekitar pukul 13.55 WIB, saya melihat jadwal penerbangan saya — yang dijadwalkan terbang pukul 14:30 WIB — dan sudah boarding! Agak panik, apalagi saat itu saya belum melakukan check-in. Ketika saya sampai di mesin check-in, ternyata check-in sudah ditutup, dan saya diarahkan untuk check-in manual! Sambil menuju ke konter check-in, saya sudah terpikir bagaimana rencana selanjutnya kalau ternyata saya tidak bisa melanjutkan penerbangan. Satu hal yang pasti: berantakan semua rencana!

Catatan Perjalanan: Citilink QG-106 HLP-JOG, 14 Februari 2018

Tidak ada yang terlalu istimewa dari perjalanan pulang menuju Jogjakarta minggu lalu. Sesampai di Halim Perdanakusuma (HLP), lalu lintas penumpang cukup ramai, dalam cuaca yang cukup cerah. Saya menunggu cukup lama karena saya sampai di bandara sekitar pukul 13.30 WIB, sedangkan Citilink QG-106 yang akan saya tumpangi dijadwalkan baru terbang pukul 18.25 WIB.

Saat menunggu waktu untuk check-in hujan lebat sempat mengguyur, walaupun sebentar. Hampir sekitar satu jam cuaca agak kurang bisa ditebak. Kadang terang, kadang tiba-tiba hujan muncul disertai dengan angin.

Untunglah, perjalanan lancar walaupun mengalami sedikit keterlambatan.

Catatan Perjalanan: AirAsia QZ-7553 JOG-CGK, 12 Februari 2018

Sudah cukup lama saya tidak terbang bersama AirAsia Indonesia. Alasan utamanya karena beberapa kali perjalanan ke Jakarta saya lebih memilih pertimbangan waktu keberangkatan dan lokasi kedatangan.

Waktu keberangkatan dari Terminal B Bandara Adisutjipto Yogyakarta (JOG) hari itu terlambat dari jadwal. Untunglah hari itu tidak ada agenda penting, sehingga walaupun mengalami keterlambatan total hampir satu jam dari jadwal tidak perlu ada agenda yang terganggu.

Perjalanan cukup lancar dengan cuaca yang relatif baik siang itu, walaupun ada beberapa kali turbulensi kecil. Pesawat mendarat di Terminal 2F, Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan dari sana langsung menuju tujuan di Jakarta dengan menggunakan taksi.

Penerbangan Internasional AirAsia Pindah ke Terminal 3 Soekarno-Hatta

Mulai 22 Januari 2018 pukul 03.00 WIB, seluruh penerbangan internasional AirAsia berpindah ke Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Konter check-in dan penyerahan bagasi AirAsia terletak pada konter D 14-18 di area keberangkatan Terminal 3. Sebelumnya, keberangkatan penerbangan internasional berangkat dari Terminal 2E. Penerbangan domestik AirAsia tetap beroperasi di Terminal 2F.

Catatan Perjalanan: Citilink QG-108 HLP-JOG, 17 Januari 2018

Penerbangan ke Jogjakarta dari Halim Perdanakusuma pada pertengahan Januari 2018 dengan maskapai Citilink Indonesia QG-108 kali ini berjalan dengan sangat lancar. Tidak ada keterlambatan, bahkan waktu kedatangan di Bandara Adisutjipto, Jogjakarta sedikit lebih cepat dari jadwal.

Sore itu, Halim Perdanakusuma sebenarnya dilanda hujan. Sempat khawatir apakah cuaca ini akan mengganggu penerbangan atau tidak. Karena tiba di bandara cukup awal, sekitar pukul 15.00 WIB sedangkan penerbangan saya dijadwalkan pukul 19:30 WIB, jadi sejenak menghabiskan waktu sebelum bisa check-in.

Berbeda dengan pertengahan Desember tahun lalu, kali ini konter untuk melakukan check-in secara mandiri yang berada di area keberangkatan beroperasi secara penuh. Apalagi, kebetulan saya juga tidak harus membawa barang dalam bagasi.