Ke Ngayogjazz 2022

Minggu lalu, 19 November 2022, saya ikut menikmati gelaran Ngayogjazz 2022. Walaupun acara ini — kalau tidak salah — sudah diadakan sejak 2007, tapi saya bisa dikatakan hanya beberapa kali saja nonton.

Dan, karena tahun 2022 ini akhirnya diselenggarakan lagi, jadi saya memang sudah meniatkan untuk datang.

Awalnya, sempat ragu-ragu, karena saya sempat kena COVID-19 juga. Tapi, syukurlah bisa dikatakan sudah sehat, jadi sore itu ikut menikmati suasana Ngayogjazz.

Saya baru datang sekitar Magrib ke dusun Cibuk Kidul, tempat dilaksanakannya Ngayogjazz tahun ini. Sempat nyasar beberapa kali ketika mencari tempat parkir. Dan, akhirnya dapat tempat parkir yang berjarak sekitar 1,5km dari lokasi. Cara ke lokasi? Ya, jalan kaki, sama seperti kebanyakan pengunung yang jumlahnay mungkin ribuan malam itu.

Kenapa tidak pakai ojek dari warga? Enahlah, malam itu saya sedang ingin menikmati berjalan kaki.

Saya menikmati acara itu dengan berpindah dari panggung ke panggung. Hampir tidak terlalu fokus kepada rundown acara, tentang siapa yang main di panggung apa. Jadi, sedang berkeliling, dan ada penampil, ya saya nikmati saja performanya.

Semua panggung sudah saya singgahi, termasuk panggung yang ada di halaman warga, yang ada kandang sapi tak jauh dari sana.

Itulah istimewanya. Sebuah pesta, dengan kemasan yang… saya suka.

Bagi saya, acara ini bukan hanya soal merayakan sebuah pesta dengan nuansa yang apa adanya, dengan banyak pihak yang berpartisipasi, dan saling mendukung. Semua bersenang-senang.

Justru di acara seperti ini, malah jadi banyak bertemu dengan teman-teman yang sudah lama tidak saya temui. Menikmati jalan di kampung, dengan segala hal yang “apa adanya”.

Tentang suasana, menurut saya Monita Tahalea mendeskripsikan dengan sangat apik melalui tulisan dalam satu posting di akun -nya.

Masyarakat penikmat seni berjalan-jalan dengan tertib menyerap suasana. Para musisi yang berpotensi dan kreatif berkesenian dengan gembira dan bahagia, seniman-seniman hadir bersilaturahmi. Tidak satupun sejauh pandanganku ada yang membawa aliran viralisme dengan gimmick belaka.
Panggung besar dan mapan turut menghidupkan panggung-panggung yang tersembunyi; musik di depan kantor kelurahan, ibu berjualan pop mie, baju-baju daster, wedang, seblak , pengrajin rotan, kolektor VW, sepeda ontel, hingga bapak yang menjual balon sekalipun.

Monita Tahalea, tentang Ngajyogjazz 2022

Saat Monita tampil di Panggung Sepat, saya tidak melihatnya langsung di panggung. Hanya sayup terdengar dari tempat berdiri saya yang malam itu sedang melihat Barry Likumahuwa tampil di Panggung Cethul.

Matur nuwun, Hon!

Menparekraf Sandiaga Uno tentang Dana Testing Corona Dialihkan untuk Biaya PCR-Antigen Wisatawan

Diperlukan keringanan biaya testing untuk calon wisatawan yang ke Bali. Ini yang akan kita pertimbangkan sebagai bentuk insentif yang bisa kita berikan, yakni testing (biaya PCR atau ) yang dibebankan ke . Ternyata anggaran testing itu sampe Rp 6 triliun yang belum terserap, baru sedikit sekali yang terserap. Jadi, saya nanti mengusulkan dan dorong ke PEN agar itu bisa dialihkan, anggaran yang tidak terserap sebagai intensif.

Menparekraf Sandiaga Uno tentang pengalihan biaya pengetesan dialihkan untuk membiayai PCR atau rapid test antigen wisatawan (yang mau ke Bali). Sumber: Kumparan

Sebentar, Pak Sandiaga Uno… Sebentar.

Sependek pengetahuan saya, pendapat Anda ini agak membingungkan. Benar bahwa Bali terdampak karena menjadi faktor penting perekonomian di sana. Bukan bermaksud mengecilkan, tapi daerah lain — walaupun bukan selalu terkait pariwisata — juga mengalami dampak yang luar bisa karena ini.

Sekali lagi, ini bukan sentimen saya soal Bali, tapi tentang pernyataan beliau ini. Saya juga suka Bali ketika berlibur ke Bali.

Tapi, Pak… saya agak bingung dengan logika berpikir Anda.

Glagah yang Sepi

Karena sudah cukup lama tidak mengunjungi eyangnya di ujung selatan , hari ini saya membawa keluarga untuk datang berkunjung sebentar. Kemarin, si bocah juga baru saja berulang tahun.

Kunjungan singkat tersebut sekaligus kesempatan mampir ke pantai. Dan Pantai Glagah merupakan pilihan siang itu. Tidak ada ekspektasi, selain bahwa semoga cuaca cukup baik. Pengalaman sesekali kali ke pantai — di masa pandemi — memang biasanya memilih jam dan hari yang ‘kurang diminati orang’.

Otomatis memang pantai/obyek wisata pasti cenderung sepi. Pengunjung berkurang. Dan, siang itu, saya menjumpai kawasan Pantai Glagah ini memang sepi. Setelah saya membayar retribusi obyek wisata sebesar Rp18.000 untuk tiga orang, saya langsung mengarahkan kendaraan ke area pantai. Dan, tujuan pertama ke kawasan laguna.

Laguna Pantai Glagah

Ketika mampir di area laguna, saya hanya melihat sekitar emapt mobil saja parkir. Ada beberapa sepeda motor terparkir. Sepi sekali. Ada sebuah perasaan sedih. Entahlah, tidak nyaman melihatnya.

Pantai Glagah.

Ketik sampai ke kawasan parkir pantai, saya hanya melihat satu mobil yang sedang parkir. Lagi-lagi, sangat sepi. Semoga ini memang karena sedang bulan puasa. Walaupun saya tetap mendukung protokol untuk tetap dijalankan, tapi di saat yang sama bahwa ada yang menggantungkan penghasilan dari sektor ini, pemandangan yang sepi ini cukup berhasil mengusik saya.

Beberapa orang yang berjaga parkir juga sepertinya menjalani hari yang cukup berat. Beberapa warung juga sepi. Beberapa kawasan yang sepertinya disiapkan (atau dulu malah sudah pernah beroperasi) juga sepertinya tidak menunjukkan bahwa ada aktivitas perekonomian di sana.

Sepi. Sedih.

Akhirnya, Ada Kabar tentang Pengembalian Dana dari AirAsia Indonesia

Karena beberapa minggu sejak saya mengajukan klaim pengembalian dana (refund) atas penerbangan dengan AirAsia Indonesia yang saya batalkan tidak ada kabar, saya kira proses mungkin saja memang tidak dapat dijalankan.

Apalagi pembatalan tersebut bisa dikatakan sangat mepet dengan jadwal penerbangan. Seingat saya, saya bahkan membatalkan penerbangan di hari yang sama dengan jadwal penerbangan saya di bulan Maret 2020. Jadi, kalaupun ini tidak berhasil diproses ya tidak mengapa.

Ketika bulan Juni 2020 lalu AirAsia membuka beberapa rute penerbangan domestik, status klaim pengembalian saya juga belum ada perubahan. Masih dalam status “sedang diproses”. Bahkan, ketika AirAsia mengumumkan transformasi mereka menjadi ‘super app’ di bulan Oktober 2020, juga tidak ada perubahan.

Nominal tiket penerbangan saya saat itu sektiar Rp1.400.000. Jumlah yang lumayan juga sebenarnya.

Tapi, saya juga cukup paham bahwa dunia aviasi atau sangat terkena dampaknya. Dunia aviasi jelas sangat memegang peranan penting, karena langsung terkait dengan sektor bisnis lainnya. Mobillitas orang berkurang, banyak bisnis juga tidak berjalan secepat sebelumnya. Dunia pariwisata termasuk perhotelan, pasti juga kena dampaknya.

Thai Airways juga menjajaki bisnis restoran dan pa tong go karena pandemi yang terus menghantam ini.

Jadi, saya mungkin salah satu dari ratusan ribu, atau bahkan jutaan orang yang dengan berbagai kasus berurusan dengan maskapai. Pemrosesan kasus tentu saja mengalami kenaikan yang luar biasa. Sangat luar biasa. Bagian terbaruk untuk kasus saya adalah klaim tidak dapat diproses, dan saya menerimanya.

Namun, hari ini (14 Januari 2021), saya mendapatkan telepon dari AirAsia . Saya pikir, mungkin bagian pemasaran yang menawarkan paket, , atau informasi saja. Tapi, ternyata bukan.

Singkatnya, telepon itu memberitahuan mengenai perbaruan status klaim tiket saya. Nominal refund saya dapat diproses, dan akan dikembalikan sebagai kredit akun untuk dapat saya gunakan untuk pemesanan tiket di masa mendatang.

Tapi, saya mungkin sampai dengan akhir tahun belum tentu akan bepergian. Mengenai tenggang waktu pemakaian kredit, ternyata cukup lama yaitu 2 (dua) tahun sejak kredit ditambahkan ke akun saya. Dan, ini dapat digunakan untuk pembelian tiket kemana saja, dan untuk penumpang siapa saja. Kalau total pembelian lebih dari kredit, saya hanya perlu membayar selisihnya. Dan, jika pembelian kurang dari kredit saya, maka sisa kredit akan tetap ada di akun saya.

Sebenarnya ada juga pilihan utnuk dikembalikan secara transfer , tapi proses ini akan memakan waktu sangat lama. Kalau tidak salah dengar, paling cepat mungkin dalam jangka waktu 6 (enam) bulan.

“Kalau tidak terbang dalam jangka waktu 2 (dua) tahun ke depan, lalu buat apa kredit akunnya?”

Ya, mungkin pembelian nanti bukan untuk saya. Saya juga belum pastikan, apakah kredit akun bisa digunakan untuk layanan pembelian lain di situs AirAsia.com misal pemesanan hotel, atau pembelian jasa lainnya. Kalau bisa, ya mungkin bisa nanti digunakan untuk ini.

Saat saya menulis ini, kredit akun memang belum ditambahkan, tapi bagaimana menyelesaikan kondisi ini, saya rasa layak untuk diapresiasi.

Terima kasih, AirAsia Indonesia.

Menengok Protokol Kesehatan COVID-19 di Prime Plaza Hotel Jogjakarta

Selama pandemi, salah satu tempat publik (tertutup) yang sering saya kunjungi adalah supermarket untuk keperluan berlanja, baik yang lokasinya berdiri sendiri atau menjadi satu dengan area lain seperti yang ada di dalam mall.

Khusus untuk area seperti hotel, saya hampir tidak pernah mengunjungi. Apalagi selama pandemi ini saya juga tidak pernah melakukan perjalanan ke luar kota, yang mengharuskan saya harus menginap di hotel. Setelah berbulan, dengan berbagai perkembangan, pelaku bisnis sudah banyak melakukan adaptasi kebiasan baru — saya lebih suka istilah “kebiasaan baru” dibandingkan dengan new normal sebenarnya.

Hotel sebagai salah satu komponen penting dalam dunia juga melakukan adaptasi. Tentu, ini tidak mudah, tapi kalau tidak beradaptasi, mau jadi apa?

Karena sebuah keperluan, beberapa hari lalu saya mengunjungi Prime Plaza Hotel , sebuah hotel bintang 4 yang ada di Jl. Affandi. Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya menginap di tempat ini. Dan, kunjungan terakhir saya kesana kalau tidak salah tahun lalu, sebelum pandemi untuk sebuah acara yang saat itu hanya memakai lokasi resto saja.

Walaupun tidak sampai menginap, tapi karena kunjungan kemarin saya jadi sedikit menyempatkan untuk melihat bagaimana protokol kesehatan berjalan di hotel ini.

Ketika memasuki area pintu masuk utama, langsung disambut dengan informasi yang terpampang cukup jelas mengenai beberapa protokol kesehatan yang perlu ditaati oleh setiap penunjung. Ada juga automatic dispenser hand sanitizer, yang bisa digunakan secara contactless. Terakhir, ada QR Code yang perlu dipindai yang setelah saya coba, isinya adalah tautan untuk mengisi beberapa terkait kedatangan.

Hal ini untuk mempermudah perncatatan siapa saja yang masuk ke area hotel, yang tentu saja akan nantinya bermanfaat untuk melakukan contact tracing jika diperlukan. Walaupun, semoga saja tidak perlu ada contact tracing ya… Persis sebelum masuk pintu, ada screening pengecekan suhu tubuh.

Oh ya, kenapa tidak ada tempat cuci tangan secara langsung, ya hal semacam ini selain memenuhi protokol juga secara estetika lebih baik.

Setelah melewati pintu masuk utama lalu belok ke kanan, ada lokasi resepsionis. Selain ada cairan pembersih tangan, alat tulis yang akan digunakan oleh tamu sudah dipisahkan antara yang bersih dan yang yang telah dipakai. Jadi langsung dipisahkan. Jadi, setiap alat tulis yang dipakai otomatis memang selalu dibersihkan. Ini cocok karena alat tulis, selama pengalaman saya check-in di hotel merupakan salah satu benda yang paling sering dipakai bergantian.

Masih di area resepsionis, ada informasi lain bagi tamu terkait beberapa persyaratan/protokol bepergian dengan menggunakan publik. Selain itu, ada lagi juga QR Code lain yang ternyata isinya mengarahkan ke laman untuk mengisi informasi riwayat perjalanan oleh tamu yang akan menginap. Sedikit berbeda dengan yang ada di pintu masuk, karena ketika sudah di resepsionis, besar kemungkinan yang adalah tamu yang menginap. Jadi, formulir ini lebih spesifik untuk tamu menginap.

Sofa tempat duduk yang ada di area lobi juga diubah pengaturannya, sehingga konsep social distancing atau jaga jarak bisa lebih mudah terpenuhi.

Walaupun posisi sudah berjauhan, tapi pengaturan supaya yang duduk tidak berhadapan layak untuk diapresiasi
Pengaturan jaga jarak untuk area sofa yang ukuran lebih besar.

Secara umum, walaupun memang cuma sebentar, bahkan tidak sampai melihat-lihat jauh ke area dalam seperti kolam renang, area gym, dan fasilitas lain, tapi saya cukup nyaman berada disana. Suasana berbeda mungkin bisa terjadi kalau tamu penuh. Tapi, menurut saya hotel merupakan salah satu tempat dimana layanan menjadi yang utama. Jadi, pengaturan dan protokol pasti akan sebaik dan sebisa mungkin untuk dilaksanakan.

Catatan

Walaupun secara umum saya merasa nyaman dan aman ketika berada di sana, ada beberapa detil kecil yang menurut saya pribadi mungkin bisa menjadi catatan. Tentu, ini pendapat pribadi saja.

  1. Informasi jika ditampilkan dengan bahasa mungkin akan lebih mudah dipahami oleh pengunjung. Faktanya, dalam kondisi saat ini mungkin pengunung atau tamu hotel mayoritas merupakan tamu lokal/domestik. Atau jika memang harus dua bahasa, terjemahan dalam Bahasa Inggris tetap bisa ditampilkan, tapi bahasa Indonesia tetap yang utama.
  2. Karena saya memang benar-benar hanya berada di seputar area lobby, jadi yang saya lihat memang tidak banyak seperti bagaimana tempat publik seperti di kolam renang, atau pusat kebugaran, termasuk apakah ada perubahan atau tidak tentang kondisi kamar. Tapi, melihat dari bagaimana semuanya terlihat di area depan, sepertinya standar protokol kebersihan jelas menjadi perhatian khusus.

protokol keamanan dan standar kesehatan bisa juga diliaht melalui video di bawah ini. Dalam video ini juga terlihat kalau untuk sterilisasi kamar juga menggunakan lampu UV-C.

Kontak dan Lokasi

Karena berada di tengah kota dan di salah satu jalan utama di Jogjakarta, hotel ini dapat dengan mudah ditemukan. Akses masuk kendaraan juga sangat mudah.

Prime Plaza Hotel Jogjakarta
Kompleks Colombo, Jl. Affandi, Gejayan, Mrican, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten , Daerah Istimewa 55281 (Google Maps)
Telepon: 0274 584 222
Pemesanan: 0817 9575 292 atau surel [email protected]
: jogja.pphotels.com
: @primeplazahoteljogjakarta

Dua Bangunan Hotel Mutiara Yogyakarta Dibeli oleh Pemda DIY Seharga 170 Miliar

… iya, 170 miliar rupiah, dengan menggunakan Dana Keistimewaan (danais) tahun anggaran 2020. Total anggaran tersebut untuk membeli lahan dan kedua bangunan tersebut. Rencananya, akan digunakan sebagai sentra UMKM, yang lokasinya berada di lokasi yang sangat strategis, di kawasan . Mengutip berita dari krjogja.com:

Sultan mengatakan bagian bangunan yang ada di sebelah utara akan diubah menjadi sentra Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di DIY. 43 kamar akan diubah menjadi gerai pamer sekaligus jual beli UMKM yang nantinya masih akan menjalani serangkaian renovasi.

krjogja.com: Dibeli Dengan Danais Rp 170 Miliar, Hotel Mutiara Bakal Jadi “Mall” UMKM

“Ya bukan mall sebutannya ya, tapi sentra untuk UMKM begitu saja. Kami ingin meningkatkan kualitas UMKM DIY agar punya ruang di kawasan Malioboro, meski nanti sifatnya mungkin tetap menyewa”

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X tentang pembelian dua bangunan Hotel Mutiara senilai 170 miliar.
Hotel Mutiara Malioboro, (sisi utara)

Mengenai bagaimana pemanfaatan atau pengelolaannya, termasuk rencana lanjutannya sepertinya masih perlu dipikirkan dan direncanakan. Mengutip :

Sultan menyebut, pemilik UMKM yang ingin berjualan di sentra UMKM di kawasan Malioboro tersebut nantinya harus membayar uang sewa kepada Pemda DIY. Namun, besaran uang sewa itu belum bisa dipastikan. Selain itu, jumlah UMKM yang bisa ditampung di gedung sentra UMKM tersebut juga belum bisa dipastikan.

Aris — Kepala Paniradya Kaistimewan DIY — menjelaskan, proses pembelian dua bangunan Hotel Mutiara itu sudah dimulai sejak Februari 2020. Sementara itu, proses pembayaran kepada pemilik hotel tersebut dilakukan pada pertengahan September 2020.

Aris menambahkan, setelah pembelian dilakukan, Pemda DIY akan melakukan uji konstruksi dan kajian pengelolaan terhadap bangunan yang dibeli tersebut. Uji konstruksi dilakukan untuk mengetahui kualitas bangunan, sementara kajian pengelolaan dilakukan agar bangunan tersebut bisa dikelola secara baik. ”Kajian pengelolaan dan uji konstruksi dilakukan pada tahun 2020,” katanya.

Pemda DIY Beli Dua Bangunan Hotel di Malioboro Rp 170 Miliar
Hotel Malioboro Yogyakarta (sisi selatan)

Oh ya, bangunan Hotel Mutiara ini bukan termasuk cagar budaya, karena baru berdiri sejak tahun 1972. Sedangkan untuk masuk dalam kategori cagar budaya, bangunan sudah harus berusia minimal 50 tahun. Jadi, dua tahun lagi mungkin sudah masuk cagar budaya, kalau bangunan asli masih berdiri.

Thai Airways, Restoran Bertema Pesawat, dan Pa Tong Go

Dari sekian banyak industri dan bisnis di dunia, indsutri perjalanan mungkin salah satu yang terkena dampak sangat besar, dan sangat cepat. Tak butuh berbulan-bulan untuk dampaknya langsung dirasakan.

Karena orang juga mulai berpikir ulang untuk bepergian entah untuk urusan pekerjaan atau , industri penerbangan — yang otomatis juga memengaruhi industri lain dalam sektor — langsung perlu penyesuaian. Mulai dari pengurangan rute, pengurangan frekuensi penerbangan, termasuk pengurangan beban operasional lainnya.

Sedih melihatnya. Ditambah ketika pembatasan perjalanan harus dilakukan karena regulasi dari otoritas.

salah satunya. Untuk tetap membuat operasional berjalan, mereka melakukan beberapa penyesuaian bisnis, melakukan adaptasi, seperti yang dilakukan oleh puluhan, ratusan, atau bahkan jutaan bisnis di dunia.

Restoran Thai Airways

Restoran yang ditawarkan oleh Thai Airways ini memberikan pengalaman makan dengan tema ‘penerbangan’. Dengan menu, armosfer, dan pengalaman khas ala Thai Airways. Tentu, ini juga sudah pasti Thai Airways tidak bisa mengoperasikan penerbangan komersialnya.

Patong-go

Berikutnya, Thai Airways juga mulai melakukan langkah yang lain yaitu berjualan roti goreng, dengan nama patong-go atau diistilahkan dengan deep-fried dough. Mungkin kalau di , mirip seperti cakwe, atau bolang baling. Atau, mungkin odading lebih bisa lebih mirip dengan ini. Tentu, kita tak perlu mendebatkan mana yang duluan apakah pa tong go, odading, cakwe, atau bolang baling yang duluan. Atau malah galundeng?

(: Chanat Katanyu/Bangkok Post)

Acting THAI Chansin Treenuchagron told reporters that the fried dough sticks were popular and formed long queues to buy them each morning at the ’s five food outlets in Bangkok. Monthly sales were around 10 million baht. Encouraged by this, the airline planned to franchise its fried dough sticks, so THAI and its partners could mutually benefit from their popularity.

Bangkok Post: Thai Airways cashing in on fried dough

Semangat!

Tarif Bus DAMRI Malioboro-Pantai Parangtritis, Malioboro-Pantai Baron, dan YIA-Pantai Baron (Oktober 2020)

Walaupun masih dalam masa pandemi COVID-19, Perusahaan umum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik (DAMRI) membuka beberapa rute baru di , untuk menjangkau beberapa tempat wisata — khususnya pantai — dan termasuk Yogyakarta International ().

Bupati Suharsono saat meresmikan Palbapang-YIA di Terminal Palbapang, Kamis (17/9/2020) (Sumber foto: Jumali/Harian )

Hal tersebut untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam masa pandemi .

Khusus untuk tujuan pantai, memang ini masih menjadi tantangan tersendiri, karena angkutan umum publik yang selama ini memang bisa dikatakan cukup minim. Layanan seperti atau mungkin masih menjadi opsi yang lebih menarik walaupun secara biaya juga tidak tergolong murah. Tapi, itu opsi yang mungkin terbaik.

Opsi lain, tentu saja dengan menggunakan kendaraan pribadi, termasuk bagi wisatawan yang datang ke Jogja, bisa saja dengan menyewa sepeda motor.

Tarif dan Rute

Berikut daftar rute dan tarif DAMRI yang bisa dijadikan rujukan. Rute ini mulai beroperasi pada 15 Oktober 2020.

Cerita Perjalanan ke Malaysia (Hari Pertama)

Kalau mendengar kata , pikiran saya seringkali langsung tertuju kepada hubungan yang terasa kurang manis antara dengan Malaysia. Terutama ketika menyangkut , atau budaya. Kadang merasa kesal, tapi jujur saja lebih sering merasa tidak memedulikan. Tidak akan selesai kalau harus mencari siapa yang salah atau dipersalahkan, atau siapa yang benar.

Jadi, lebih sering isu seputar hubungan yang kurang harmonis tidak terlalu menyita perhatian saya.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mendatangi Malaysia, negeri jiran sahabat Indonesia. Kedatangan saya untuk kali pertama tersebut untuk urusan pekerjaan, jadi praktis jadwal dan agenda lebih banyak terkait pekerjaan, bukan liburan. Saya hanya menghabiskan 3 hari 2 malam disana. Tidak banyak waktu mengeksplorasi negara yang memiliki 13 negara bagian, dan 3 wilayah persekutuan tersebut. Dan, ini beberapa catatan dalam perjanan saya.

Terbang menuju Kuala Lumpur

Bersama dengan 4 orang rekan kerja, saya berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dengan maskapai Air Asia pada pukul 06:25. Saya sendiri sudah tiba di lokasi sekitar pukul 05.30. Proses pemeriksaan dan pembayaran tax juga cukup cepat dan lancar.

Air Asia QZ8190 berangkat tepat waktu, tidak ada yang istimewa dalam perjalanan. Saya sendiri menghabiskan sebagian waktu dalam penerbangan untuk tidur — karena belum tidur sama sekali malamnya. Sekitar pukul 09:25 waktu Kuala Lumpur, pesawat mendarat di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) (KUL).

Setelah sampai, saya dan rekan-rekan yang lain memutuskan untuk sarapan (atau lebih tepatnya makan siang). Pilihan jatuh ke Old Town White Coffee. Untuk pilihan menu, saya memilih Old Town Nasi Lemak dengan Ayam Goreng. Untuk minum, saya memilih segelas Teh Tarik.

Nasi Lemak with Fried Chicken
Nasi Lemak with Fried Chicken

Setelah selesai makan, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan taksi ke kawasan Damansara Perdana di Petaling Jaya. Saat itu, saya memang tidak terlalu mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasinya. Perkiraan perjalanan sekitar satu jam. Tujuannya sendiri adalah ke kantor rekanan. Biaya taksi sendiri — dengan harga dari counter taksi yang ada adalah RM 84.30.

FAM Trip Journalist: Mei 2008, Yogyakarta

Beberapa hari yang lalu, (19 Mei 2008), saya bersama dengan rekan saya Yan Arief mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam agenda acara FAM TRIP Journalist. Kemunculan kami disini atas undangan dari Bapak Octo Lampito dari Harian Kedaulatan Rakyat. Secara singkat acara ini merupakan sebuah kunjungan ke tempat-tempat tujuan wisata yang dilakukan oleh pihak-pihak seperti kota, jurnalist, agen perjalanan. Sehingga acara ini mampu memberikan sebuah kesan dan pengalaman estetis tersendiri ketika individu berinteraksi dengan obyek (produk) wisata.

Untuk kegiatan ini di didukung oleh Dinas Seni dan Budaya Kota . Untuk hari pertama ini — dari rangkaian acara mulai tanggal 19 – 21 Mei 2008) — agenda pertama adalah mengunjungi Candi Borobudur. Hari ini (20 Mei 2008) peringatan Hari Raya Waisak 2552 dipusatkan di Candi Mendut dan Borobudur.