Menonton Film Disney+ Hotstar di TV Melalui Chromecast

Ketika di bulan Agustus 2020 lalu, Telkomsel menawarkan promosi tarif spesial untuk layanan Disney+ Hotstar, saya memutuskan untuk menggunakan promosi tersebut. Walaupun, saya tidak terlalu memiliki ekspektasi terlalu tinggi akan bagaimana nantinya.

Rp30.000 untuk menikmati layanan ini selama 3 (tiga) bulan sampai Desember 2020 sepertinya tak ada salahnya dicoba. Apalagi, karena sudah tidak berlangganan Netflix, saya mengandalkan YouTube untuk sekadar menonton hiburan.

Dan, 5 September 2020 yang lalu kali pertama saya mengeksplorasi layanan ini melalui aplikasi Android. Saya coba juga instal aplikasi ini di iPad.

Nonton di Chromecast

Walaupun sudah sekitar 4 tahun lalu Chromecast ini saya beli, tapi sampai sekarang bisa dikatakan tidak ada masalah. YouTube dan (dulunya) Netflix juga bisa dinikmati dengan mudah di TV melalui Chromecast.

Tapi, tidak untuk Disney+ Hotstar ini. Saya tidak menemukan tombol secara langsung untuk meng-cast seperti YouTube atau Netflix. Agak kurang maksimal saja mungkin pengalaman menonton kalau hanya dapat dinikmati di perangkat bergerak seperti ponsel atau tablet.

Padahal, ketika awalnya saya login di iPad saya, dan saya “terdeteksi” di India, saya sempat melihat gambar ikon untuk “cast” ke Chromecast seperti yang biasa saya lihat di YouTube atau Netflix, seperti terlihat dalam gambar di bawah (pojok kanan atas).

Karena melalui ponsel dan tablet juga gagal, saya coba mengggunakan Google Chrome melalui alamat https://www.hotstar.com/id. Google Chrome sendiri sudah memiliki fungsi untuk “cast” melalui Chromecast. Tapi, ini sedikit berbeda karena dengan cara ini, sebenarnya kita me-mirror sebuah tab di peramban Google Chrome.

Tapi, cara ini cukup berhasil, walaupun bukan yang paling nyaman. Caranya cukup mudah:

  1. Buka situs Disney+ Hotstar melalui peramban Google Chome
  2. Dari menu opsi di Google Chrome, pilih Cast
  3. Pilih ke piranti mana yang ingin dituju untuk menampilkan konten dalam tab peramban.

Perkiraan Harga Berlangganan Paket Spotify Setelah Pajak Digital

Walaupun secara jelas diumumkan mengenai berapa perubahan harga berlangganan layanan Spotify, tapi ini soal waktu saja. Terakhir, Netflix sudah memberlakukan harga beru per Agustus 2020.

Saya sendiri menggunakan layanan Spotify, dan tagihan saya dibuat tanggal 16 setiap bulannya. Sampai dengan awal Agustus ini, belum ada informasinya. Dengan penambahan biaya pajak, kita sepertinya bisa memperkirakan besaran harga “baru” paket Spotify.

Berikut perkiraan saya:

  1. Spotify Premium Rp49.990 akan menjadi Rp55.000 (pembulatan dari Rp54.989)
  2. Spotify Premium untuk Pelajar Rp24.990 akan menjadi Rp27.500 (pembulatan dari Rp27.489)
  3. Spotify Premium Duo Rp71.490 akan menjadi Rp79.000 (pembulatan dari Rp78.639)
  4. Spotify Premium Family Rp79.000 akan menjadi Rp87.000 (pembulatan dari Rp86.900)

Kalaupun naik, saya tetap akan menggunakannya. Karena saya memang menyukai layanannya, dan penambahan pajak juga sesuatu yang saya bisa terima.

Harga Langganan Netflix Per Agustus 2020 Setelah Pajak Digital

Bulan Agustus ini, ada yang sedikit berbeda untuk harga layanan digital Netflix karena kebijakan pemberlakukan pajak digital sudah dilakukan.

Berikut harga berlangganan Netflix untuk beberapa pilihan paket layanan setelah pemberlakukan pajak.

  • Mobile (Ponsel) Rp 49.000 menjadi Rp 54.000
  • Basic (Dasar) Rp 109.000 menjadi Rp 120.000
  • Standard / HD (Standar) Rp 139.000 menjadi Rp 153.000
  • Premium / Ultra HD (Premium) Rp 169.000 menjadi Rp 186.000

Di halaman Netflix sendiri saat ini, harga juga sudah menampilkan harga terbaru:

Watch Netflix on your smartphone, tablet, Smart TV, laptop, or streaming device, all for one fixed monthly fee. Plans range from IDR54,000 to IDR186,000 a month. No extra costs, no contracts.

Netflix FAQ: How much does Netflix cost?

Pajak Digital Layanan Amazon, Google, Netflix, dan Spotify Mulai 1 Agustus 2020

Mulai 1 Agustus 2020 nanti, beberapa layanan digital yang digunakan oleh pengguna internet atau layanan daring di Indonesia akan mengalami kenaikan harga. Ada enam perusahaan penyedia produk/layanan digital yaitu Amazon Web Services Inc, Google Asia Pacific Pte. Ltd,Google Ireland Ltd, Google LLC, Netflix International B.V., dan Spotify AB yang akan mengenakan pajak PPN 10% kepada konsumen.

Jadi, yang menggunakan layanan seperti Amazon Web Service (AWS), Google Cloud Platform (termasuk layanan Google lain), Netflix, dan Spotify perlu siap untuk membayar sedikit lebih.

Dari beberapa layanan tersebut, hanya Netflix yang tidak saya gunakan. Walaupun tidak akan terlalu signifikan — karena tagihan saya untuk layanan tersebut tidak besar — tapi mungkin ini juga lumayan. Contohnya, saya berlangganan Spotify Premium dengan total tagihan perbulan saat ini sebesar Rp79.000. Dengan dikenai pajak, maka tagihan saya akan berubah menjadi Rp86.900.

Tentu, ini strategi pemerintah untuk menambah pemasukan. Apalagi potensi pajak yang muncul dari Netflix sebagai dampak dibukanya akses Netflix oleh grup Telkom. Dengan kondisi ini, ada potensi pajak lebih dari Rp96 miliar per tahun dari Netflix.

Dari panel akun saya di Amazon Web Service (AWS), sudah ada isian untuk memasukkan informasi nomor NPWP. Begitu juga dari panel konsumen Google (saya lihat dari layanan Google Apps for Work). Untuk Spotify, saya belum melihat ada isian untuk mengisi NPWP.

Telkom Buka Blokir Netflix

Setelah lebih dari 4 (empat) tahun layanan Netflix diblokir oleh Telkom, mulai hari ini 7 Juli 2020 Netflix akhirnya dapat diakses oleh pengguna internet yang memakai layanan Telkom (IndiHome dan Telkomsel).

Saat ini, saya tidak menggunakan layanan internet dari Telkom di rumah, dan bahkan tidak lagi berlangganan Netflix. Tentu, ini kabar baik bagi mereka — yang koneksi ke Netflix terblokir — yang sebelumnya berusaha dengan berbagai macam cara supaya dapat menonton tayangan Netflix.

Khusus pelanggan Telkom IndiHome, masih ada FUP (Fair Usage Policy). Jadi, jika memutuskan untuk berlangganan Netflix, jangan lupa periksa juga FUP. Kalau menilik laman Telkom IndiHome tentang FUP, ketentuan/kebijakan adalah:

  • Telkom memperhatikan dan peduli terhadap penggunaan layanan Internet secara tidak wajar, oleh karena itu Telkom menerapkan Fair Usage Policy (FUP) untuk menjaga kualitas layanan Seluruh pelanggan IndiHome.
  • Ketentuan FUP ini berlaku bagi seluruh pelanggan IndiHome Fiber dengan minimal kecepatan 10 Mbps. Layanan IndiHome di bawah 10 Mbps tidak dikenakan FUP. Kecepatan internet setelah FUP tetap akan cukup nyaman bila digunakan secara wajar, sehingga dengan penerapan FUP tersebut, layanan akses internet IndiHome tetap unlimited.
  • Kebijakan FUP ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Ketentuan dan Syarat Berlangganan IndiHome
  • Telkom berhak untuk mengubah ketentuan kebijakan FUP setiap saat tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya kepada pelanggan. Informasi terkait kebijakan FUP akan ditampilkan di website indihome.co.id
  • Pelanggan akan mengalami penurunan kecepatan Internet apabila mencapai FUP dalam periode 1 bulan. Penghitungan FUP berbasis bulanan. Usage yang dipergunakan untuk menghitung FUP akan direset (di-nol-kan kembali) setiap awal bulan, sehingga diawal bulan usage pelanggan dihitung mulai dari 0 GB.
  • FUP hanya diberlakukan untuk layanan Internet sehingga pengguna UseeTV dibebaskan dari FUP.
  • Tidak ada penambahan biaya apabila penggunaan melampaui FUP.

Walaupun, soal FUP ini memang masih ada simpang siur.

macOS Catalina

Kemarin, saya melakukan perbaruan sistem operasi di MacBook Pro saya dari macOS High Sierra ke macOS Catalina. Dengan begitu banyak fitur dan perbaikan yang ditawarkan, sebenarnya tidak terlalu banyak fitur yang saya akhirnya manfaatkan.

Beberapa highlight mengenai yang baru di macOS Catalina bisa dilihat dalam video dibawah ini. Apple juga menyediakan halaman khusus mengenai apa yang ditawarkan oleh sistem operasi versi terbaru mereka.

Saya sendiri saat ini hanya menggunakan dua produk Apple dan saya bukan termasuk yang ingin melengkapi diri dengan produk terbaru dari Apple. MacBook Pro Retina 15″ saya keluaran mid-2012, dan ada sebuah iPad Mini 2 yang tidak mendapatkan dukungan iOS 13. Namun, saya mungkin termasuk yang sebisa mungkin memperbarui aplikasi atau sistem operasi — jika memang masih bisa diperbarui.

Perbaruan sama seperti proses sebelumnya. Sempat saya ragu, apakah saya perlu menunggu terlebih dahulu untuk memperbarui atau langsung saja. Kemungkinan terburuk paling ada beberapa aplikasi yang belum diperbarui jadi tidak dapat digunakan.

Musik, podcast, dan TV

Salah satu perbaruan yang cukup besar ada pada fitur hiburan. Namun, sepertinya tidak ada yang akan saya pakai. Untuk musik — termasuk mendengarkan podcast, saya lebih sering mendengarkan Spotify (dengan berlangganan Spotify Premium). Kalau menonton film atau video, pilihan saya ke Netflix dan YouTube. Bagi saya, layanan yang saya pakai tersebut sudah mencukupi kebutuhan saya.

Photos, Notes, Reminder

Aplikasi Photos, Notes, dan Reminder juga mendapatkan perbaikan. Namun, saya saat ini sudah cukup nyaman dengan menggunakan Google Photos. Saya hampir tidak menyimpan foto — dari kamera ponsel Android — di MacBook. Semua langsung saya unggah ke Google Photos. Untuk pencatatan, saya paling sering masih menggunakan Google Keep. Reminder saya jarang gunakan. Kalaupun perlu reminder paling hanya berupa alarm atau saya buat saja di Google Calendar.

Jadi, semua perbaruan terkait fitur diatas sudah cukup terfasilitasi oleh layanan Google di ponsel Android. Soal sinkronisasi juga tidak ada masalah sama sekali.

GoPlay dari Gojek

Akhir September 2019 lalu, Gojek meluncurkan layanan video on demand GoPlay kepada publik dengan harga Rp89.000 per bulan yang dapat dinikmati melalui aplikasi GoPlay. Awalnya saya cukup penasaran, karena siapa tahu GoPlay ini menawarkan sesuatu yang lebih menarik dibandingkan Netflix sebagai aplikasi utama yang saya pakai saat ini untuk menonton film.

Sayangnya, tidak ada opsi untuk masuk misalnya dalam masa percobaan (trial) layanan. Netflix menawarkan uji coba gratis 30 hari, dengan biaya langganan Rp109.000 per bulan. Memang sedikit lebih mahal dari GoPlay, tapi sampai saat ini saya masih setia dengan Netflix dibanding layanan sejenis seperti Hooq atau iflix.

Kalau Netflix juga menawarkan Netflix Originals, GoPlay juga menawarkan konten serial secara eksklusif melalui GoPlay Originals. Di awal, rencana ada tiga konten serial yaitu ‘Saiyo Sakato’ dengan Salman Aristo dan Gina S. Noer sebagai produser (showrunners), ‘Tunnel’ garapan Shanty Harmayn dan Tanya Yuson, dan ‘Gossip Girl Indonesia’ dengan sutradara Nia Dinata.

YouTube, Netflix, dan Spotify

Dari sekian banyak pilihan untuk menikmati hiburan di rumah, saya hanya menikmati hiburan melalui YouTube, Netflix, dan Spotify. Beruntung koneksi internet yang dipakai di rumah tidak memblokir akses ke Netflix.

Walaupun ada televisi yang menangkap siaran televisi lokal, namun jarang sekali saya menontonnya. Bahkan, jika memang ada acara yang disiarkan hanya di televisi, kalau juga dapat dinikmati melalui YouTube, saya memilih untuk menontonnya melalui YouTube di ponsel, dan tak jarang saya broadcast ke televisi melalui Chromecast.

Sebenarnya saya belum lama menikmati Netflix kembali setelah dulu kali pertama Netflix muncul saya hanya memanfaatkan periode trial saja. Karena memang tidak terlalu suka menonton film, serial, atau drama. Apalagi dulu sewaktu menggunakan layanan IndiHome yang memblokir Netflix. Walapun layanan seperti HOOQ atau iflix dapat diakses dengan baik, tapi tetap hampir tidak pernah menonton. Pun ada film bagus yang sedang tayang, menonton di bioskop masih menjadi pilihan.

Namun, akhirnya saya harus menyerah kepada Netflix. Dan, sampai saat ini saya cukup menikmatinya, walaupun belum ada secara spesifik serial yang saya ikuti. Pilihan film juga kalau ada rekomendasi atau secara acak saja menonton dari begitu banyak pilihan yang ada. Sama seperti YouTube, saya menikmati Netflix di layar televisi melalui Chromecast.

Dan, untuk musik saya memilih Spotify (Premium). Karena selera musik saya juga termasuk sederhana dan tidak ribet, saat ini Spotify sudah cukup memenuhi kebutuhan selera musik saya. Saya tidak ikut berlangganan ataupun instal JOOX. Tapi ini soal selera saja, bukan?

Solution: Brain freeze Chromecast

I have a positive experience using Chromecast. Mostly, I use it to cast YouTube, and Spotify (sometime). But, recently I use Netflix more.

I did not how it was started, but yesterday I could not cast Netflix on my Chromecast. Nothing was changed. I used the exactly the same setup.

When I tried to cast YouTube, it worked without any issues, but not with Netflix. After few attempts, I finally have it worked again by reinstalling the Netflix app on my Android phone. Everything is back to normal again now.

Bingung dengan Rincian Biaya/Tagihan Telkom IndiHome!

Sudah bulan kedua ini saya berlangganan layanan IndiHome. Proses menjadi pelanggan juga tidak selancar yang saya perkirakan. Namun, pada akhirnya saya bisa mendapatkan layanan IndiHome untuk mendukung keseharian saya baik dalam bekerja, maupun untuk keperluan lain yang menggunakan koneksi internet.

Beberapa rekan kerja saya juga menggunakan layanan IndiHome dengan paket yang sama. Sebelum saya mendapatkan tagihan pertama saya, kami bertukar informasi mengenai jumlah tagihan. Dan, ternyata tagihan tidak sama. Tentu saja, ada beberapa komponen tagihan yang memengaruhi. Namun, selisihnya sepertinya terlalu banyak satu sama lain.

Akhirnya, saya mendapatkan tagihan pertama di bulan Februari 2016, dengan rincian seperti di bawah ini:

BIAYA INDIHOME 3P: 248.710,00
RESTUSI/DISKON/DEBET: 105.000,00
PPN UNSUR KENA PAJAK: 35.820,00
DENDA TERBAYAR: 3.000,00
PERCAKAPAN PONSEL: 4.488,00
Total Tagihan: Rp 397.018,00

Masih dibawah Rp 400.000,00 sesuai dengan alokasi budget saya — selain ada alokasi untuk kebutuhan pulsa di ponsel, dan layanan mobile data. Untuk kebutuhan internet di rumah, penggunaan untuk kebutuhan sehari-hari saja. Saya bekerja dengan laptop saya, menggunakan internet juga di ponsel dan tablet. Layanan kabel UseeTV juga kadang saya manfaatkan, walaupun sebenarnya cukup jarang juga.

Walaupun dulu ada kabar tentang kebijakan FUP (Fair Usage Policy) dari Telkom, atau pemblokiran Netflix, bahkan pengurangan jumlah kanal siaran di UseeTV, hal tersebut tidak terlalu signifikan bagi saya. Bahkan, kalau saya boleh memilih, saya lebih memilih untuk menggunakan layanan internet saja. Layanan televisi UseeTV dan telepon rumah hampir bisa saya abaikan. Masalahnya, ketiga layanan tersebut (internet, tv cable, dan telepon rumah) sudah menjadi satu paket layanan.

Trans7 On The Spot: Cari di YouTube, Tayangkan!

Sebenarnya saya cukup jarang menonton siaran televisi lokal. Selain karena memang saya lebih suka melihat tayangan melalui internet seperti di YouTube, Vimeo, atau sekadar membaca berita. Akhir-akhir ini saya kadang menikmati hiburan melalui Netflix, walaupun belum genap satu bulan dapat diakses oleh pengguna internet di Indonesia, Netflix sudah dalam status diblokir oleh Telkom Indonesia sebagai penyedia layanan internet yang saya pakai. Siaran televisi lokal sendiri memang ada beberapa yang kadang saya tonton seperti acara Kick Andy di MetroTV. Walaupun, kadang memang secara acak saja saya nyalakan televisi, atau melihat karena misalnya di rumah ada yang sedang menonton.

Dan, tak jarang beberapa acara televisi hanya berisi tentang kompilasi berita yang sumbernya juga dari internet. Benar, memang kalau dilihat dari sisi jumlah penonton, banyak yang mungkin belum melihat informasi yang salah satu sumbernya adalah internet. Dan, karena konten video adalah konten utama dari acara televisi, YouTube merupakan ladang konten bagi stasiun TV.

Acara On The Spot yang ditayangkan di Trans7 di hari Senin-Jumat pukul 19.15 WIB ini ‘menarik’, karena berisi kompilasi video tentang sebuah topik. Dan, topiknya juga dibuat semenarik mungkin bagi penontonya. Sebut saja kompilasi video tentang “7 Kisah Kapal Hantu”, “7 Fakta Misterius di Dunia”, atau “7 Pengalaman Setelah Meninggal”. Sumber videonya? Kebanyakan dari YouTube (walaupun mungkin tidak semua).

Bagaimana atribusi penyebutan sumbernya? Sederhana saja, cukup ditulis dengan “Source: Youtube” seperti terlihat dalam contoh dua cuitan berikut yang diunggah melalui akun On The Spot di Twitter (@Trans7OnTheSpot).

Saya memang bukan kreator video di YouTube secara aktif. Namun, ada salah satu YouTuber bernama Martin Johnson yang videonya dipakai dalam acara On The Spot Trans7 yang menyampaikan pendapatnya. Saya rasa video berikut cukup mewakili kreator video di YouTube.

Layanan Netflix Diblokir oleh Telkom Indonesia

Walaupun saya memang bukan penikmat film, namun kehadiran Netflix di Indonesia pada awal Januari 2016 yang lalu merupakan daya tarik tersendiri. Saya sendiri saat ini masih mencoba layanan ini melalui periode trial. Hasilnya? Memuaskan. Saya bisa memilih film apa yang ingin saya tonton. Dan, yang tidak kalah penting adalah bahwa saya menikmatinya secara legal.

Harga yang ditawarkan menurut saya juga masih terjangkau, mulai dari Rp. 109.000,- per bulan saja untuk paket yang paling murah yaitu paket Basic, selain ada juga paket lain yaitu Standard dan Premium. Untuk kebutuhan sendiri, paket Basic ini sudah mencukupi.

“Kami blokir Netflix karena tidak memiliki ijin atau tidak sesuai aturan di Indonesia, dan banyak memuat konten yang tidak diperbolehkan di negeri ini. Kami ini Badan Usaha Milik Negara (BUMN), harus menjadi contoh dan menegakkan kedaulatan Negara Kedaulatan Republik Indonesia (NKRI) dalam berbisnis,” Direktur Consumer Telkom Dian Rachmawan. (Sumber)

Namun, belum juga genap satu bulan, layanan Netflix ini diblokir oleh PT Telkom Indonesia. Tentu saja ini dampaknya langsung saya rasakan, karena belum genap satu bulan juga saya berlangganan layanan IndiHome dari Telkom Indonesia. Mulai 27 Januari 2016, Netflix telah diblokir oleh Telkom dengan salah satu alasan karena banyak mengandung konten pornografi. Ya, alasan yang seolah menjadi pembenaran untuk seluruh blokir konten di internet.

Baik, mungkin benar bahwa ada konten-konten yang “tidak diperbolehkan” seperti pornografi. Saya sendiri kalau materi-materi pornografi belum melihat dan tidak tertarik mencari di Netflix. Tapi, ini seolah Netflix adalah gudang dari materi-materi pornografi. Padahal, untuk berlangganan Netflix saja, sudah ada sebuah filter tersendiri.inimal memiliki akun, dan ketika sudah melakukan pembayaran, metoda pembayaran juga sebenarnya sudah merupakan sebuah penyaring tersendiri.

Alasan lain? Entahlah. Tapi, sejak hadir di beberapa negara di awal tahun ini — secara total, Netflix telah hadir di 130 negara, termasuk Indonesia– dari sisi bisnis ekspansi Netflix tentu saja langsung memberikan dampak positif.

Kalau misalnya ini terkait dengan regulasi, mungkin secara regulasi juga ada yang harus dilihat lebih jauh lagi. Saya tidak mengerti regulasi yang seperti apa. Apa seperti yang terdahulu dalam kasus lain juga yaitu kerjasama dengan pemerintah untuk penyaringan filter, buka kantor di Indonesia, bayar pajak, dan lainnya?

Baiklah, mari kita nonton di Netflix lagi.