Cinta

Pertengahan bulan Juli 2015 lalu, setelah libur Lebaran, saya memutuskan melakukan (kembali) hal sederhana untuk sedikit berkontribusi dalam program adopsi orangutan. Kali pertama saya mengikutnya dulu setelah Natal, dengan berbagi adopsi seekor orangutan bernama Miko.

Cinta

“Cinta”. Itulah nama orangutan yang ikut saya adopsi bersama sampai dengan awal tahun 2016 nanti, setelah terakhir kemarin saya Ruthie.

Miko (lagi)

Dulu, ketika saya tahu ada program adopsi bersama (shared adoption) dari BOSF (the Borneo Orangutan Survival Foundation), saya memutuskan untuk ikut berpartisipasi dengan ikut sedikit berkontribusi untuk Miko di tahun 2011. Dan, ini fotonya saat itu (berdasarkan informasi dari situsnya.

Miko

Setelah itu, pilihan saya jatuh ke Ruthie di bulan Maret 2013. Dan, ini foto Ruthie.

Ruthie

Dan, di akhir April 2015 ini, saya mendapatkan informasi lanjutan tentang Miko. Dan, ini foto terbarunya.

Perkenalkan: Ruthie

Di tahun 2011 yang lalu, saya memutuskan untuk ikut program shared adoption orangutan melalui¬†BOSF (the Borneo Orangutan Survival Foundation). Saat itu, saya memberikan kado kecil — saya sebenarnya lebih suka untuk menyebut kontribusi ini sebagai “kado” kepada salah satu orangutan yang bernama Miko. Saat itu, kado kecil saya untuk periode satu tahun.

Tak ada harapan untuk mendapatkan balasan apapun. Yang pasti, lebih sekadar ingin ikut berpartisipasi untuk sesuatu hal yang bertujuan baik. Itu saja.

Miko

Akhir tahun 2012 yang lalu, kado saya untuk Miko habis. Saya sudah sempat berjanji kepada diri saya untuk meneruskan kembali. Bisa untuk Miko lagi, atau orangutan yang lain. Awalnya, saya berpikir untuk melanjutkan kado ini pada akhir Januari lalu, hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahun saya untuk salah satu dari sekian banyak orangutan.

Dan, saya melupakan momen tersebut. Ada beberapa kesibukan yang membuat saya lupa agenda kecil saya tersebut. Karena tiba-tiba teringat di bulan Maret 2013 ini, saya putuskan untuk melakukannya kembali.

Ruthie

Dan, saya jatuh hati kepada tatapan mata salah satu orangutan yang bernama Ruthie. Dari informasi seputar profil Ruthie yang saya dapatkan, berikut sedikit latar belakang:

Because Ruthie is so aggresive she’s missing out on the best medicine there is… a little laughter. Poor Ruthie, she looks too tough to admit it, but all she needs is a little love. She can’t go back to school and get a chance of being release into the wild like this.

Ruthie doesn’t only bite other orangutans, she also harms herself, but she can hardly be blamed for this. After her mother was killed, Ruthie was ill-treated as a pet, which left her physically and mentally scarred.

Oh ya, apakah saya pernah melihat langsung Miko atau Ruthie? Belum. Walaupun keinginan itu ada. Tapi, saya lebih melihatnya kalaupun tidak bisa melihat langsung itu pasti dengan alasan yang sangat kuat. Orangutan memang lebih baik berada di tangan yang tepat (dokter, perawat, atau pelatih), dan kontak dengan manusia lebih diminimalkan.

Saya kadang kepikir ingin sekadar foto bareng. Hahaha! Walaupun foto hanya dengan latar belakang salah satu orangutan tersebut. Tapi, daripada hal tersebut malah mengganggu — membawa efek yang kurang baik — lebih baik saya “meninggalkannya” untuk berada ditangan yang lebih tepat.

Semoga kado kecil ini bisa bermanfaat — walaupun memang kebutuhan perawatan orangutan ini sangat besar.

 

Miko

Akhir tahun 2011 yang lalu, orangutan menjadi salah satu topik berita yang menghiasi media. Sayangnya, bukan sebuah topik berita yang menggembirakan, namun ¬†malah sebaliknya. Ini mungkin bukan sebuah isu yang muncul begitu saja. Mungkin, apa yang diberitakan — pembunuhan terhadap orang hutan yang dianggap sebagai hama, maupun bentuk eksploitasi yang lainnya — sudah berlangsung lama.

Ada rasa kasihan, dan ada juga perasaan marah melihat apa yang ditayangkan. “Masa pemerintah tidak bisa melakukan apa-apa terkait hal ini?”, pikir saya. Tapi, mungkin ini bukan menjadi prioritas dari pemerintah saat ini. Entah, mungkin pemerintah sedang sibuk dengan yang lainnya.

Linimasa Twitter juga dihiasi dengan informasi-informasi seputar orangutan. Ingin rasanya saya melakukan sesuatu. Singkatnya, saya memutuskan untuk ikut dalam program Shared Adoption dari¬†BOSF (the Borneo Orangutan Survival Foundation). Terus terang, saya baru tahu tentang program ini pertama kali. Setelah mencari tahu informasi melalui membaca dan juga bertanya secara terbuka di linimasa Twitter — dan mendapatkan jawaban yang cukup, saya putuskan untuk ikut program adopsi berbagi ini. Pilihan saya jatuh kepada seorang orangutan. Namanya Miko, yang menurut saya dia itu ganteng :)

Proses administrasi saya rasa tidak sulit. Beberapa kali berikirim email dengan perwakilan dari BOSF tersebut, dan sekitar satu minggu kemudian saya mendapatkan informasi bahwa bantuan saya — yang saya yakin masih sangat sedikit — sudah diterima.

Kenapa saya melakukan ini? Saya hanya berkeinginan untuk melakukan sebuah langkah nyata yang mungkin kecil. Sangat kecil. Tapi saya yakin, kalau banyak yang ikut berpartisipasi, hasilnya mungkin akan lebih besar lagi.

Tahun ini, masa donasi saya sudah akan habis. Dan, saya tidak ragu untuk melanjutkan ke periode berikutnya jika masih diberi kesempatan.