Pengalaman Perpanjangan SIM Melalui SIM Corner di Jogjakarta

Akhir Januari ini, saya perlu melakukan perpanjangan masa aktif SIM A milik saya. Saya sempat mencari informasi bagaimana proses perpanjangan SIM di kota Jogjakarta ini. Tetapi, informasinya masih agak membingungkan. Sempat juga banyak baca mengenai perpanjangan SIM secara daring. Dan, beberapa teman juga menginformasikan kalau perpanjangan secara daring ini bisa jalan lancar juga. Tapi, opsi ini sepertinya kurang cocok untuk kondisi saya (saat itu).

Perpanjangan SIM secara daring (online)

Beberapa kondisi yang menjadikan proses perpanjangan SIM secara daring ini menjadi pilihan cocok, apabila:

  1. Masa berakhir/kedaluarsa masih cukup lama. Kalau tidak salah, ini bisa dilakukan bahkan tiga bulan sebelum kedaluarsa. Saya lupa tepatnya.
  2. Tetap harus melakukan tes kesehatan dengan mendatangi dokter/fasilitas kesehatan yang telah ditentukan.
  3. Melakukan proses secara daring melalui Digital Korlantas POLRI yang aplikasi juga sudah tersedia di Play Store untuk Android dan App Store untuk iOS.

Awalnya saya sempat akan menggukan metode ini. Tapi, saya batalkan karena tetap harus melakukan tes kesehatan juga, dan saat itu tinggal 7 (tujuh) hari sebelum masa kedaluarsa SIM saya. Untuk prosesnya, kalau saya baca-baca di internet, dan juga melalui linimasa media sosial, layanan ini bisa menjadi pilihan. Tinggal ikuti saja prosesnya.

Perpanjangan SIM secara luring (offline)

Ada dua pilihan jika akan melakukan perpanjangan SIM dengan cara ini. Pertama, melalui layanan SIM keliling. Kedua, langsung ke Satpas Polresta Yogyakarta. Ketiga, datang langsung ke SIM Corner. Pilihan pertama sebenarnya bisa menjadi opsi. Kalau mencari di internet/berita, cukup banyak jadwal SIM keliling ini di Jogjakarta.

Pilihan kedua yaitu langsung ke Satpas Polresta Yogyakarta, sempat pula saya jadikan pilihan. Mengenai antrian, sudah disediakan antrian secara online, jadi ada kepastian. Setelah saya isikan data dalam antrian, saya mendapatkan antrian 3 (tiga) hari sebelum tanggal kedaluarsa SIM, dan dapat langsung datang pukul 10.00 pagi ke Satpas Polresta Yogyakarta.

Karena saya belum tentu dapat hadir sesuai jadwal sesuai antrian di Satpas Polresta Yogyakarta, akhirnya saya juga melihat opsi ketiga: datang langsung ke SIM Corner. Setelah mencari informasi:

  1. Pilihan SIM Corner di Jogja City Mall atau SIM Corner di Ramai Mall Malioboro.
  2. Jam buka operasi akan mengikuti jam buka mall, dan kalau kuota sudah terlayani semua, maka layanan selesai. Diperkirakan sekitar jam makan siang harusnya sudah selesai semua. Namun, untuk proses antrian sudah dapat dilaksanakan pagi hari. Tentang pengambilan antrian, saya mendapatkan informasi yang lebih jelas untuk pilihan lokasi yang di Ramai Mall Malioboro.

Uji Coba Manajemen Rekayasa Lalu Lintas untuk Pedestrianisasi Malioboro di Bulan November 2020

Beberapa bulan lalu, sempat ada informasi tentang adanya rencana Malioboro tertutup bagi kendaraan bermotor — namun tetap ada beberapa moda kendaraan yang diperbolehkan — untuk mendukung Malioboro sebagai kawasan pejalan kaki.

Rupanya, realisasi rencana tersebut mulai terealisasi melalui ujicoba rekayasa lalu lintas yang diberlakukan di kawasan Malioboro sepanjang periode tanggal 3-15 November 2020. Jadi, untuk beberapa kawasan seputar Malioboro, arus lalu lintas akan dibuat satu arah saja.

Khusus untuk jalan Malioboro sendiri, yang boleh melintas hanya kendaraan tidak bermotor/bermesin, dan bis umum TransJogja.

Untuk yang akan berkunjung ke kawasan Malioboro dengan kendaraan pribadi, ini bisa menjadi tantangan sendiri, karena sebenarnya tidak terlalu banyak kantong parkir yang tersedia. Tempat parkir yang bisa digunakan ada di Jalan Abu Bakar Ali di sisi utara Malioboro, Ngabean, area Pasar Beringharjo, dan di sisi depan Ramai Mal.

Jumlahnya sudah pasti akan tidak mencukupi, tapi mungkin ini supaya memang mendorong untuk menggunakan transportasi publik, atau hitung-hitung jalan kaki kalau parkir agak jauh dari Malioboro.

Ni Made Dwi Panti Indrayanti — Plt Kepala Dinas Perhubungan DIY — menjelaskan, rekayasa lalu lintas dilakukan dengan skema giratori atau berlawanan arah jarum jam. Di sekitar Kawasan Malioboro, yakni Jalan Mayor Suryotomo, Jalan Mataram, Jalan Abu Bakar Ali, Jalan Pembela Tanah Air, dan Jalan Letjen Suprapto akan diberlakukan satu arah. 

“Untuk Jalan Malioboro, kami hanya memperkenankan kendaraan tidak bermotor yang boleh melintas, kecuali bus Trans Jogja, kendaraan kepolisian, kendaraan layanan kesehatan, pemadam kebakaran dan kendaraan patroli. Harapannya memang ini akan mendukung penataan secara tertib transportasi yang memang menjadi bagian dari rekomendasi, dari dossier tim kebudayaan untuk mendukung kawasan filosofis ini,” tuturnya.

Rekayasa lalu-lintas di Jalan Malioboro diterapkan Selasa (3/11) mulai pukul 11 pagi hingga 10 malam. Sedangkan jalan di luar Malioboro akan berlaku selama 24 jam. Oleh karena itu waktu loading barang untuk aktivitas ekonomi yang ada di kawasan Malioboro dapat dilakukan setelah jam 10 malam hingga sebelum jam 6 pagi. 

Sumber: Uji Coba Malioboro Semi Pedestrian Dilakukan Dua Pekan

Berkebun Menyiangi dan Memencar Tanaman

Libur panjang di akhir Oktober lalu banyak saya habiskan dengan kegiatan di rumah saja. Benar-benar tidak tertarik untuk keluar rumah untuk refreshing atau ke tempat publik lainnya. Jangnkan ke Malioboro, ke lokasi yang sebenarnya juga tidak jauh dari rumah saja tidak terlalu menggoda.

Saya habiskan libur dengan kembali berkutat bersama tanaman, di lahan yang cukup terbatas. Kali ini, agendanya menyiangi dan memencar tanaman yang ada di rumah. Jenis tanaman yang kami miliki bukan yang untuk skala pehobi serius. Jadi, benar-benar skala hobi kecil saja.

Jika dibandingkan, tanaman yang ada di rumah juga hasil dari meminta dari saudara malah lebih banyak dibanding yang beli, lalu memencar sendiri, sedikit demi sedikit. Ada juga yang dulu bawa dari rumah lama. Atau, bawa ketika mengunjungi orang tua di Bantul.

Dan, beberapa juga karena “menyelamatkan” punya tetangga.

Yang banyak saya pencar kemarin adalah tanaman Zamia Dolar — begini saya biasa menyebutnya — yang ada di di beberapa pot, dan pot serasa sudah cukup kepayahan menampungnya. Memencarnya juga cukup sederhana saja. Yang termasuk agak susah justru ketika mengeluarkan dari pot, karena cukup berat.

Untuk pot, agak campur-campur sesuai dengan ukuran batang dan jumlah batang yang akan ditanam. Ada juga yang akhirnya ditanam di polibag.

Rencananya, akan saya rawat dulu. Kalau ada yang mau beli, boleh juga dengan harga yang saya yakin akan murah. Atau, mungkin saja seperti yang biasa kami lakukan selama ini: dibagi-bagi saja buat yang main ke rumah sebagai kenang-kenangan.

Wajah Malioboro Saat Libur Panjang Akhir Oktober 2020

Oktober 2020 ditutup dengan libur panjang. Saya yang tinggal di daerah utara Yogyakarta, walaupun hanya sesekali keluar rumah dan harus melewati Jalan Kaliurang (utara ring road) — Jakal atas kalau banyak orang Jogja menyebutnya — merasakan suasana yang berbeda.

Dari arah selatan menuju utara — karena banyak obyek wisata yang ke arah Kaliurang — sudah terjadi kemacetan. Mobil berplat luar kota cukup banyak terlihat.

Hari berikutnya, melewati banyak tempat makan yang sepertinya kalau orang luar Yogyakarta akan mampir, terlihat penuh. Jalanan, tentu saja lebih ramai. Perempatan ring road Jl. Affandi dan Jl. Kaliurang, terlihat padat.

Malioboro? Saya tidak terpikir untuk melewatinya. Tapi, semoga foto di bawah ini cukup menggambarkan kondisi Malioboro. Obyek wisata lain, mungkin juga jauh lebih ramai dari biasanya.

https://www.instagram.com/p/CG5A_hXFhJO/

Seorang teman yang mengelola penginapan di daerah Yogyakarta bagian selatan juga kebanjiran pesanan. Seluruh kamar full booked.

Selamat datang di… Yogyakarta.

Dua Bangunan Hotel Mutiara Yogyakarta Dibeli oleh Pemda DIY Seharga 170 Miliar

… iya, 170 miliar rupiah, dengan menggunakan Dana Keistimewaan (danais) tahun anggaran 2020. Total anggaran tersebut untuk membeli lahan dan kedua bangunan tersebut. Rencananya, akan digunakan sebagai sentra UMKM, yang lokasinya berada di lokasi yang sangat strategis, di kawasan Malioboro. Mengutip berita dari krjogja.com:

Sultan mengatakan bagian bangunan yang ada di sebelah utara akan diubah menjadi sentra Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di DIY. 43 kamar akan diubah menjadi gerai pamer sekaligus jual beli UMKM yang nantinya masih akan menjalani serangkaian renovasi.

krjogja.com: Dibeli Dengan Danais Rp 170 Miliar, Hotel Mutiara Bakal Jadi “Mall” UMKM

“Ya bukan mall sebutannya ya, tapi sentra untuk UMKM begitu saja. Kami ingin meningkatkan kualitas UMKM DIY agar punya ruang di kawasan Malioboro, meski nanti sifatnya mungkin tetap menyewa”

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X tentang pembelian dua bangunan Hotel Mutiara senilai 170 miliar.
Hotel Mutiara Malioboro, Yogyakarta (sisi utara)

Mengenai bagaimana pemanfaatan atau pengelolaannya, termasuk rencana lanjutannya sepertinya masih perlu dipikirkan dan direncanakan. Mengutip Kompas:

Sultan menyebut, pemilik UMKM yang ingin berjualan di sentra UMKM di kawasan Malioboro tersebut nantinya harus membayar uang sewa kepada Pemda DIY. Namun, besaran uang sewa itu belum bisa dipastikan. Selain itu, jumlah UMKM yang bisa ditampung di gedung sentra UMKM tersebut juga belum bisa dipastikan.

Aris — Kepala Paniradya Kaistimewan DIY — menjelaskan, proses pembelian dua bangunan Hotel Mutiara itu sudah dimulai sejak Februari 2020. Sementara itu, proses pembayaran kepada pemilik hotel tersebut dilakukan pada pertengahan September 2020.

Aris menambahkan, setelah pembelian dilakukan, Pemda DIY akan melakukan uji konstruksi dan kajian pengelolaan terhadap bangunan yang dibeli tersebut. Uji konstruksi dilakukan untuk mengetahui kualitas bangunan, sementara kajian pengelolaan dilakukan agar bangunan tersebut bisa dikelola secara baik. ”Kajian pengelolaan dan uji konstruksi dilakukan pada tahun 2020,” katanya.

Pemda DIY Beli Dua Bangunan Hotel di Malioboro Rp 170 Miliar
Hotel Malioboro Yogyakarta (sisi selatan)

Oh ya, bangunan Hotel Mutiara ini bukan termasuk cagar budaya, karena baru berdiri sejak tahun 1972. Sedangkan untuk masuk dalam kategori cagar budaya, bangunan sudah harus berusia minimal 50 tahun. Jadi, dua tahun lagi mungkin sudah masuk cagar budaya, kalau bangunan asli masih berdiri.

Tarif Bus DAMRI Malioboro-Pantai Parangtritis, Malioboro-Pantai Baron, dan YIA-Pantai Baron (Oktober 2020)

Walaupun masih dalam masa pandemi COVID-19, Perusahaan umum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) membuka beberapa rute baru di Yogyakarta, untuk menjangkau beberapa tempat wisata — khususnya pantai — dan termasuk Yogyakarta International Airport (YIA).

Bupati Bantul Suharsono saat meresmikan DAMRI Palbapang-YIA di Terminal Palbapang, Kamis (17/9/2020) (Sumber foto: Jumali/Harian Jogja)

Hal tersebut untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam masa pandemi COVID-19.

Khusus untuk tujuan pantai, memang ini masih menjadi tantangan tersendiri, karena angkutan umum publik yang selama ini memang bisa dikatakan cukup minim. Layanan seperti Grab atau Gojek mungkin masih menjadi opsi yang lebih menarik walaupun secara biaya juga tidak tergolong murah. Tapi, itu opsi yang mungkin terbaik.

Opsi lain, tentu saja dengan menggunakan kendaraan pribadi, termasuk bagi wisatawan yang datang ke Jogja, bisa saja dengan menyewa sepeda motor.

Tarif dan Rute

Berikut daftar rute dan tarif DAMRI yang bisa dijadikan rujukan. Rute ini mulai beroperasi pada 15 Oktober 2020.

Jangan sampai Malioboro ditutup

Jangan sampai (Malioboro) saya tutup, jangan sampai terjadi Covid kedua, itu harus kita hindari. Jadi saya minta kesadaran mereka yang ada di Malioboro.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, tentang aktivitas warga Jogja yang berkumpul (terutama di kawasan Malioboro) tanpa masker. (Sumber: Kompas)

Jaga Jarak di Kawasan Malioboro Menjelang Normal Baru

Hari minggu lalu, beredar informasi (termasuk foto dan video) bagaimana ramainya aktivitas manusia di kawasan Malioboro, terutama kawasan titik nol kilometer. Rencana mulai dilaksanakannya era “normal baru” disikapi dengan beragam cara. Salah satunya: keluar rumah.

Dua bulan lebih dalam pembatasan gerak dan aktivitas khusunya di luar rumah tentu saja tidak mudah. Sementara penambahan kasus positif juga belum mengalami penurunan yang signifikan — dan malah sebaliknya — tapi memperpanjang pembatasan sosial juga sepertinya bukan dipandang menjadi opsi terbaik.

Pertengahan minggu lalu (awal Juni 2020), setelah dua bulan lebih tidak ke lokasi yang jauh dari rumah, saya mencoba untuk melihat Jogjakarta di waktu malam. Tidak malam banget, karena saat itu baru sekitar pukul 18.30 WIB. Malam itu, saya mengendarai mobil.

Kawasan Jalan Magelang terlihat cukup ramai. Lalu lintas kendaraan tidak bisa dikatakan sepi juga. Pemandangan yang kurang lebih sama — bahkan seperitnya mlaah lebih ramai — ketika mendekati tugu Jogja dari arah barat, ketika di lampu merah, saya melihat cukup banyak pesepeda yang berdiri sambil mengambil foto di salah satu ikon kota ini.

Masker? Walaupun tidak menghitung secara detail, tapi sekilas yang tidak pakai masker cukup banyak. Beberapa tempat makan atau nongkrong juga buka. Tak terlihat terlalu ramai memang, tapi buka.

Gerobak angkringan beberapa juga telah buka, dan saya lihat juga ada yang beli. Walaupun, tetap juga ada yang tidak pakai masker. Jaga jarak (social distancing)? Sepertinya tidak sepenuhnya terjadi.

Saya kemudian menuju arah selatan ke Jalan Mangkubumi. Warung-warung pinggir jalan sudah ada yang buka. Orang berjalan kaki, atau bersepeda ada juga malam ini. Atau, sekadar duduk-duduk, ada juga.

Beberapa toko di sisi barat Malioboro terlihat buka, walaupun cenderung sepi pengunjung. Sedih juga melihatnya, tapi bagaimana lagi kondisi memang sangat tidak mudah saat ini. Beberapa orang terlihat berjalan di area pejalan kaki pedestrian yang menurut saya memang sudah tertata dengan jauh lebih baik. Beberapa orang terlihat duduk di bangku yang disediakan. Ada yang menjaga jarak, tapi tak sedikit yang sepertinya tidak mengindahkan konsep jaga jarak.

Ada tukang parkit yang mengarahkan kendaraan untuk masuk area parkir ketika saya mendekati area mal Malioboro. Cukup banyak orang juga di sana. Pemandangan yang kurang lebih sama saya lihat di sepanjang jalan Malioboro sampai ujung selatan. Oh ya, Mirota Batik yang biasanya ramai, malam itu terlihat agak gelap.

Ada perasaan yang berbeda malam itu. Sedih juga, karena aktivitas sangat berbeda dari biasanya. Malam itu, Malioboro terlihat jauh lebih sepi. Murung.

Kawasan titik nol kilometer Yogyakarta yang biasanya sangat ramai, malam itu terlihat… cukup ramai. Tidak bisa dikatakan sepi juga, karena cukup banyak orang yang duduk-duduk di bangku. Beberapa bermain sepeda, atau sekadar foto-foto. Area di depan Museum 1 Maret malam itu mungkin seperti “sepi versi hari biasa”. Begitu juga di kawasan seberangnya, di seberang gedung BNI. Kuran glebih sama.

Masih tentang apakah pada pakai masker dan melaksanakan konsep jaga jarak? Sepertinya tidak terlalu terlihat mencolok. Bangku yang biasanya diduduki oleh dua orang, tetap saja diduduki dua orang, dengan jarak rapat.

Dari titik nol, saya berbelok ke arah kiri. Terlihat jauh lebih sepi sampai dengan depan Taman Pintar.

Saya sudah cukup melihat, dan memutuskan untuk pulang kembali ke ruamh di sisi utara Yogyakarta.

Semoga saja kesadaran untuk tetap melaksanakan prinsip-prinsip dasar perilaku sehat seperti menjaga jarak, dan menggunakan masker pada kondisi harus menggunakan makin dilaksanakan saja.

Uji Coba Rencana Lalu Lintas Kawasan Malioboro Juni 2019

Karena lokasi tempat tinggal dan mobilitas yang agak jauh dari Malioboro, jadi sangat jarang saya melintasi Jalan Malioboro. Bahkan, belum tentu sekali dalam sebulan saya melewati Malioboro. Pun harus menuju lokasi yang melewati Malioboro, saya memilih rute alternatif yang biasanya cenderung lancar.

Beberapa minggu lalu sempat melewati Malioboro dan wajah Malioboro memang sudah banyak berubah. Area pejalan kaki lebih bersahabat. Jalanan yang lebih bersih. Kalau soal macet kendaraan rasa rasa masih sulit dihindari, karena memang ini kawasan wisata. Dan, semua jenis kendaraan bisa masuk kawasan ini. Sebut saja kendaraan roda dua, becak, andong, becak bermotor, bis Trans Jogja, dan juga sepeda. Belum lagi mobil pribadi.

Malioboro jelas punya daya tarik sendiri dan masih menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun internasional. Termasuk bagi warga Jogja atau sekitarnya.

Terhadap rencana untuk mengurangi “beban” Malioboro dengan melakukan pembatasan kendaraan yang melintas, ada rencana untuk ujicoba arus lalu lintas pada pertengahan Juni 2019.

Kalau saya pribadi sih cenderung lebih setuju kalau Malioboro ini menjadi salah satu jalan yang bebas kendaraan bermotor. Atau, paling tidak hanya transportasi tidak bermotor saja yang bisa lewat.

Few Things You Need to Know About The New Yogyakarta International Airport (YIA)

According to the news, the new Yogyakarta International Airport will be operating in late April 2019. For the first phase, some airlines like Garuda Indonesia, Air Asia Indonesia, and Silk Air will have their inaugural flights.

I will not talk about the controversies, but one thing for sure: there will be a new airport to support the ‘current’ airport that is too small to handle millions of passengers per year.

Location

New Yogyakarta International Airport is located in Kulon Progo Regency. Yes, it’s still in Yogyakarta Special Region. See map below. “So, is near the city center?”, “Is it far from Adisutjipto International airport?”, you may be asking.

I personally haven’t visited this ‘new’ airport. As a citizen who lives not far from city center, — I define Malioboro area as the city center here — New Yogyakarta International Airport is quite far.

In a very normal traffic, I can reach Malioboro area for about 25-30 minutes by car. Referring to Google Maps, the distance between Adisutjipto Airport and Malioboro area (I use Tugu Monument as the point of reference) is around 9-10km.

Leaving for your destination from Adisutjipto should not be difficult also as you can find taxies easily. Or, you can use ride sharing transportation like Go-Jek Indonesia or Grab. If your destination is also available using Trans Jogja bus, it might be a solution also. Even, if you need go to directly to Solo city for example, the train station is just outside the arrival area.

Compared to the above route, the distance from the ‘new’ airport is ‘only’ around 48km (I pick the ‘shortest’ route provided by Google Maps).

How far is the New Yogyakarta International Airport?

If you could not figure out yet how far is the new airport, let’s see some other contexts for comparisons. We will use the distance between Yogyakarta Tugu Monument as the starting point and Google Maps to measure the distance.

So, distance from Yogyakarta Tugu Monument to:

How to get there?

I think Damri as the bus operator will server the route to the new airport, and the train from PT KAI as well. But, I think it will take a little bit time. Renting a car might be little expensive. Taking Go-Car from Go-Jek or Grab is a reasonable option. Conventional metered-taxi, probably. It will cost more, I suppose. I checked the fare for Go-Car and Grab, it is around IDR 180,000-200,000.

Pengalaman Membeli Buku Secara Online di Amazon

Sebenarnya bukan kali pertama saya membeli barang/layanan dari luar negeri. Hanya saja, kebanyakan berupa barang digital, misalnya buku elektronik, atau piranti lunak. Dari semua transaksi, bisa dikatakan tidak ada yang mengalami masalah. Semuanya berjalan dengan lancar.

Tanggal 13 November 2011 yang lalu, saya memutuskan untuk membeli sebuah buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Memang sih, sudah tersedia dalam bahasa Indonesia juga, namun dari beberapa ulasan dan tanggapan yang saya dengar dan baca, cukup banyak yang merasa kurang puas terhadap hasil terjemahannya. Saya coba lihat di Gramedia Malioboro, saat itu kalau tidak salah harganya Rp 110.000,00.

Di Periplus (masih di Malioboro juga) sebenarnya ada saya lihat buku ini dalam bahasa Inggris. Agak lupa tepatnya berapa harganya dalam rupiah, tapi tertulis di bagian belakang seharga $35 dollar Amerika.

Saya coba periksa langsung ke situs Amazon melalui aplikasi dari ponsel saya, dan saat itu buku dijual dengan harga diskon $17.88. Penawaran yang menarik. Saya coba melakukan pemesanan untuk melihat total biaya yang harus saya bayarkan (termasuk pengiriman). Ternyata total yang harus saya bayarkan adalah $27.86, dengan informasi perkiraan pengiriman selama 3 (tiga) minggu. Untuk metode pengirimannya, saya memilih “Standard International Shipping”.

Yahoo Maps powered by Ovi Maps. And more!

Some of you probably have heard about this news: Nokia and Yahoo! have an agreement to work on they really’re really good at. According to the press release:

Today, Yahoo! and Nokia announced a worldwide strategic alliance to extend the reach of their industry leading online services and offer people rich experiences that keep them connected to their world and the world around them.
Building on more than five years of collaboration, Nokia and Yahoo! ® will leverage each others’ strengths in e-mail, instant messaging and maps and navigation services, to provide consumers with access to world-class experiences on both PC and mobile devices.

You can also find the press release at Yahoo! Yodel Anecdotal. So, what does it mean for you? Probably… nothing. But, for me it means something. Let me tell you why.

I use Flickr — and I’m really enjoying it. Sometime, I take advantage of its geo-location feature. I can put my photos into map. You can do it manually, or automatically using geo-location meta data captured from your mobile device. I did it using my mobile device. Flickr photos with geo-location information will be integrated with Yahoo! Map. You can see my Flickr map page to see it in action. Is it good? Yes, but not that good. Why?

  • When I had my photos with location information, they’re not placed at the correct information. So, I have to edit their location in the map.
  • Yahoo! Map does not have much details about my hometown, Jogjakarta. Especially, when it comes to street names. For example, my photo taken in Malioboro Street, it’s detected as it was taken in other area, and it’s not even close.
  • I remembered that I have put my photos into correct location. But for some reasons — I don’t know why — the location was changed. I hope I’m wrong with this. The zoom effect or something, I don’t know.

With the new partnership I mention above, I hope I can see improvements. Ovi Maps has a great database of location, and it works really well. I know, sometime it has some mistakes on the street naming, but… still, it’s a great tool.

Menonton dan Memotret Karnaval Festival Upacara Adat di Jogjakarta

Ketika tadi sedang ada dirumah, kira-kira pukul 15.30 sayup terdengar suara alat musik tradisional dimainkan dari pinggir jalan. Ah, tumben ada karnaval lewat. Memang ini sebuah kejadian yang agak jarang karena karnaval atau arak-arakan rata-rata diadakan di sepanjang Jalan Malioboro. Tanpa pikir panjang, langsung lari sambil nyamber kamera. Siapa tahu ada yang bisa dipotret. Jarak antara rumah dengan pinggir jalan tidak jauh, sekitar 30 meter.

Sesampainya dipinggir jalan, lha kok ternyata sudah banyak warga yang sedang asik menonton. Eyang saya — dan beberapa tetangga sekitar rumah juga sudah duduk mengambil posisi. Waaahhh… Ternyata rombongan yang terdengar tadi sudah lewat depan pintu gang rumah. Karena belum terlalu jauh, sempatkan lari saja mendahului rombongan tersebut. Untung belum jauh. Langsung ambil posisi ditengah jalan, dan mulai jeprat-jepret, tanpa tahu ini sebenarnya karnaval dalam rangka acara apa. Hehehe…

Jogja Wall Nation: Mural Competition

There will be an event in Jogjakarta called “Jogja Wall Nation” this weekend (October 14-15). It’s a mural competition. The competition will take place in Malioboro area. What makes it different is that the event will start in the evening until early in the morning. I got news that right now (when I write this post), there are already 150+ registered participants.
Jogja Wall Nation
Now, if you’re journalists, bloggers or social media users who want to come to this event, you’re all welcome. Malioboro street will be closed from around 10 PM (October 14th). If you want to know more about this event you send your questions/inquiries from its website or don’t hesitate to contact me directly. More info about this event can be found at Jogja Wall Nation official website.

Jogtug Celebrated 64th Anniversary of Indonesia's Independence

Few days ago, I joined @jogtug (Jogjakarta Twitter User Group) to celebrate 64th anniversary of Indonesia’s independence day. The community gathered in an event called #pitulasanTU (the word ‘pitulas‘ means “seventeen” in English). Why seventeen? Because Indonesia celebrates its independence day on Agustus 17.
#pitulasanTU took place at Gedung Agung, Malioboro, Yogyakarta. The idea was simple. We wanted to share something about Indonesia to tourists. And, we chose “gasing“, a traditional toy as the medium. We also handed some gifts to them. When we found tourists there, we talked to them, gave them the some souvenirs (pin and stickers), and asked them whether they wanted to play gasing with us.