Pengalaman Membeli dan Mengganti Ban Mobil di Ottoban Indonesia (Yogyakarta)

PERHATIAN

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi menggunakan jasa layanan Ottoban pada April 2022. Penulis tidak memiliki kerjasama dengan pihak Ottoban. Seluruh biaya merupakan biaya pribadi penulis. Pengalaman berbeda mungkin dapat dialami dan penulis merekomendasikan untuk mencari informasi atau referensi terbaru terkait artikel ini.

Awal April lalu, saya kembali melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan kendaraan pribadi saya. Biasanya saya hanya bepergian untuk agenda ke , atau saja. Namun, saat itu rute perjalanan agak sedikit berbeda. Bukan ke Jakarta dari Jogjakarta saja, bukan pula ke Semarang. Dan, ini kali pertama saya tidak melakukan pengecekan air aki, karena sudah ganti dengan aki kering.

Dari , saya berangkat ke Bogor, kemudian ke Jakarta, lanjut ke Tangerang, kembali ke Jakarta, dan pulang lagi ke Jogjakarta. Total perjalanan hampir satu minggu penuh.

Puji Tuhan, perjalanan berjalan dengan lancar. Kendaraan Mobilio yang saya bawa juga dalam kondisi baik. Apalagi, seluruh perjalanan ini merupakan perjalanan , benar-benar sendiri. Cuaca selama perjalanan juga cukup bersahabat, kecuali ketika perjalanan malam dari Bogor menuju Jakarta, sempat hujan, namun beruntung tidak disertai angin.

Ban Belakang Tidak Nyaman

Sekembali dari perjalanan, saya masih menggunakan kendaraan untuk mobilitas. Ada yang sedikit terasa kurang nyaman, tapi saya pikir saat itu ban cuma kurang angin saja.

Seminggu setelahnya, saat saya melakukan perjalanan (agak jauh), ternyata benar terasa kurang nyaman. Istri saya yang saat itu lebih merasakan, karena dia duduk di kursi belakang bersama dengan anak saya.

Karena dugaan awal adalah ban yang kurang angin, jadi ketika perjalanan sempat kami pastikan tekanan ban dalam kondisi yang cukup. Lagi-lagi, puji Tuhan karena perjalanan malam itu dengan waktu tempuh pulang pergi total hampir 3 jam dapat dilewati dengan selamat.

Sesampai di rumah, akhirnya saya cek ban.Dan, benar saja. Ban belakang sisi sebelah kiri sudah dalam kondisi sudah aus, jadi permukaan ban sudah tidak rata lagi. Sedikit ada semacam “retakan”. Duh! Untuk ban belakang sisi kanan, beruntung masih dalam kondisi cukup aman.

Kondisi ini baru diketahui Sabtu malam. Jelas sudah masalah ada di mana, dan kesimpulannya cuma satu: ganti ban segera. Alasan utama tentu karena faktor keselamatan.

Ganti Ban

Hari Minggu pagi, saya coba cari-cari opsi dimana saya beli (dan ganti) ban mobil. Ada sebenarnya toko ban yang direkomendasikan. Saya beli ban untuk roda depan sekitar 1,5 tahun lalu. Secara harga lebih miring dibandingkan dengan toko ban lain. Masalahnya, hari Minggu tutup.

Jadi saya coba melihat-lihat kembali harga ban di situs niaga-el seperti . Hal ini sekadar untuk mencari tahu saja, berapa harga pasaran ban yang saya pilih yaitu GT Radial Champiro Ecotec 185/65 R15.

Selain itu saya juga coba kontak beberapa toko ban di Jogjakarta setelah mencari melalui . Saya mendapatkan jawaban dan produk tersedia. “Masalahnya”, kebanyakan tutup karena hari Minggu. Ada pula yang toko tersedia di Tokopedia, bisa pesan melalui Tokopedia, lalu pemasangan dengan datang langsung ke toko. Harga juga cocok. Sayangnya, ketika saya mau order, saya diberitahu kalau akan cek stok dulu, dan baru dikabari Senin.

Saya agak memaksakan untuk bisa selesai urusan hari Minggu, untuk menghindari mengurus hal ini di hari dan jam kerja. Dan, supaya ban bisa segera ganti.

Istri saya juga sempat tanya di grup perumahan, dimana pada beli ban. Beberapa menyebutkan nama yang familiar seperti MARI BAN, BAH PETRUK, dan ada yang menyebutkan Ottoban. Nama terakhir ini sebenarnya agak asing, tapi katanya bisa beli lewat niaga-el Tokopedia. Jadi, saya malah penasaran mencari lebih lanjut.

Setelah saya mencari tahu lebih lanjut, sepertinya Ottoban — dengan nama merek Ottoban Indonesia (situs: https://ottobanindonesia.com) — ini cocok dengan kebutuhan di hari itu. Kenapa?

Pengalaman Perpanjangan SIM Melalui SIM Corner di Jogjakarta

Akhir Januari ini, saya perlu melakukan perpanjangan masa aktif SIM A milik saya. Saya sempat mencari informasi bagaimana proses perpanjangan SIM di kota ini. Tetapi, informasinya masih agak membingungkan. Sempat juga banyak baca mengenai perpanjangan SIM secara daring. Dan, beberapa teman juga menginformasikan kalau perpanjangan secara daring ini bisa jalan lancar juga. Tapi, opsi ini sepertinya kurang cocok untuk kondisi saya (saat itu).

Perpanjangan SIM secara daring (online)

Beberapa kondisi yang menjadikan proses perpanjangan SIM secara daring ini menjadi pilihan cocok, apabila:

  1. Masa berakhir/kedaluarsa masih cukup lama. Kalau tidak salah, ini bisa dilakukan bahkan tiga bulan sebelum kedaluarsa. Saya lupa tepatnya.
  2. Tetap harus melakukan tes dengan mendatangi dokter/fasilitas kesehatan yang telah ditentukan.
  3. Melakukan proses secara daring melalui Digital Korlantas POLRI yang aplikasi juga sudah tersedia di Play Store untuk Android dan App Store untuk iOS.

Awalnya saya sempat akan menggukan metode ini. Tapi, saya batalkan karena tetap harus melakukan tes kesehatan juga, dan saat itu tinggal 7 (tujuh) hari sebelum masa kedaluarsa SIM saya. Untuk prosesnya, kalau saya baca-baca di , dan juga melalui linimasa , layanan ini bisa menjadi pilihan. Tinggal ikuti saja prosesnya.

Perpanjangan SIM secara luring (offline)

Ada dua pilihan jika akan melakukan perpanjangan SIM dengan cara ini. Pertama, melalui layanan SIM keliling. Kedua, langsung ke Satpas Polresta . Ketiga, datang langsung ke SIM Corner. Pilihan pertama sebenarnya bisa menjadi opsi. Kalau mencari di internet/berita, cukup banyak jadwal SIM keliling ini di Jogjakarta.

Pilihan kedua yaitu langsung ke Satpas Polresta Yogyakarta, sempat pula saya jadikan pilihan. Mengenai antrian, sudah disediakan antrian secara online, jadi ada kepastian. Setelah saya isikan dalam antrian, saya mendapatkan antrian 3 (tiga) hari sebelum tanggal kedaluarsa SIM, dan dapat langsung datang pukul 10.00 pagi ke Satpas Polresta Yogyakarta.

Karena saya belum tentu dapat hadir sesuai jadwal sesuai antrian di Satpas Polresta Yogyakarta, akhirnya saya juga melihat opsi ketiga: datang langsung ke SIM Corner. Setelah mencari informasi:

  1. Pilihan SIM Corner di Jogja City Mall atau SIM Corner di Ramai Mall Malioboro.
  2. Jam buka operasi akan mengikuti jam buka mall, dan kalau kuota sudah terlayani semua, maka layanan selesai. Diperkirakan sekitar jam makan siang harusnya sudah selesai semua. Namun, untuk proses antrian sudah dapat dilaksanakan pagi hari. Tentang pengambilan antrian, saya mendapatkan informasi yang lebih jelas untuk pilihan lokasi yang di Ramai Mall .

Layanan Panggilan Ganti Aki Mobil di Shop and Drive

Sudah beberapa kali saya melakukan perjalanan ke luar kota ( dan ) dengan menggunakan kendaraan pribadi dalam periode dua tahun terakhir ini.

Perjalanan terakhir saya lakukan di awal tahun 2022 lalu. Semuanya berjalan dengan cukup baik, perjalanan lancar tanpa hambatan yang berarti.

Setiap kali melakukan perjalanan, saya selalu mengecek kondisi kendaraan mulai dari isi angin, cek kondisi aki, radiator, dan lain sebagainya. Semua untuk menghindari potensi masalah yang mungkin timbul.

by Moose Photos from Pexels

Aki Soak

Setelah kembali dari perjalanan, keesokan harinya mobil tidak dapat saya starter. Duh! Saya coba kembali ternyata memang gagal. Sepertinya ada masaah di aki. Sejak beli, memang saya hampir tidak terlalu memerhatikan kondisi aki. Ini kesalahan yang akhirnya saya sadari.

Karena kendaraan perlu segera dalam kondisi semula, saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan layanan pengecekan aki yang bisa dipanggil. Saya teringat ada Shop and Drive yang ada tidak jauh dari tempat saya.

Memesan Layanan Shop and Drive

Catatan

Pengalaman menggunakan layanan Shop and Drive merupakan pengalaman pribadi pada Januari 2022. Saya tidak menerima imbalan, atau memiliki kerjasama dengan Shop and Drive. Seluruh biaya merupakan biaya pribadi. Pengalaman berbeda mungkin didapatkan.

Awalnya, saya mencoba menggunakan aplikasi Shop and Drive (iOS) di ponsel saya. Ternyata, aplikasi ini tidak terlalu memberikan pengalaman yang menyenangkan. Akhirnya, saya telepon langsung saja. Saya informasikan mengenai masalah di kendaraan, dan berakhir dengan saya minta dibawakan aki baru untuk ganti. Sebelumnya saya sempat fotokan kondisi aki terakhir, dan melihat kondisi serta usia aki, mengganti aki menjadi keputusan yang paling bijaksana.

Sebelumnya, aki yang digunakan merupakan aki basah dan saya minta diganti dengan aki kering.

Saya lupa persisnya, tapi sekitar lima belas menit kemudian saya dihubungi oleh teknisi Shop and Drive yang mengkonfirmasi masalah dan pesanan saya. Karena lokasi rumah dan bengkel Shop and Drive tidak terlalu jauh, tak lama kemudian teknisi sampai di rumah menggunakan sepeda motor.

Teknisi langsung memeriksa kondisi aki dan melakukan pengetesan dengan menggunakan alat. Proses ini berlangsung cepat saja, dan hasil pengetesan menunjukkan memang aki sudah dalam kondisi yang tidak ideal. Belakangan bahkan saya baru tahu kalau aki “ternyata” sudah berumur 5 tahun. Duh!

Proses penggantian aki baru juga berjalan cepat saja. Berikut beberapa hal terakit proses pembelian/penggantian aki ini:

  1. Aki lama saya saya “tukarkan” dengan yang baru, jadi ada sedikit potongan harga dari harga total keseluruhan.
  2. Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp870.000,- sudah termasuk baterai/aki (kering) baru, potongan aki lama, dan biaya jasa. Pembayaran menggunakan non-tunai, jadi cukup nyaman.
  3. Aki mendapatkan garansi 18 bulan. Terkait ini, disarankan untuk setiap 3 bulan dapat dilakukan pengecekan di Shop and Drive mana saja, sehingga garansi dapat terus aktif.

Secara umum, layanan dari Shop and Drive ini sangat baik dan efisien. Sepertinya untuk ke depannya jika membutuhkan layanan terkait kendaraan, Shop and Drive ini bisa jadi solusi.

Untunglah…

Awalnya, saya agak kesal juga karena ada kondisi aki soak ini yang jadinya ada pengeluaran tambahan yang di luar rencana. Tapi, banyak yang lebih disyukuri.

Puji Tuhan, hal ini terjadi ketika saya sudah sampai di rumah dari perjalanan. Saya agak ngeri juga membayangkan kalau kondisi ini terjadi ketika saya masih dalam perjalanan dari Bogor/Jakarta ke melalui tol. Permasalahan ini terjadi di rest areea atau bahkan dalam perjalanan di tol, sepertinya bukan hal yang menyenangkan.

Jadi, sudah cek aki?

Perjalanan Jogjakarta ke Semarang Lewat Tol

Beberapa minggu lalu, saya ada keperluan untuk pergi ke . Ternyata, ini malah kali pertama perjalanan ke Semarang (dari ) dengan kendaraan pribadi. Sebelumnya, pilihan hanyalah menggunakan bis atau travel.

Karena sebelumnya sudah pernah melewati tol ketika perjalanan ke Jakarta dan , jadi untuk perjalanan ke Semarang, rute melewati tol lebih menjadi pilihan.

Rute

Secara jarak, rute jalan tol ini sedikit lebih jauh dibandingkan melewati rute non-tol (melalui Magelang). Dari sisi waktu tempuh, mungkin juga tidak terpaut jauh. Namun, pilihan melewati tol bisa sebagai antisipasi jalanan sedikit padat di pagi hari jika melewati rute non-tol.

Saya mengambil rute dari Jogjakarta ke Semarang melalui tol Colomadu.

Biaya

Untuk biaya, tentu sedikit lebih mahal karena ada biaya tol dan bahan bakar yang sedikit lebih banyak. Saya lupa tepatnya, tapi untuk menjangkau Semarang (tengah kota), biaya sekitar Rp70.000-Rp80.000 untuk sekali perjalanan.

Becak Ini Disewakan

Sebuah becak di suatu perempatan, di .

Saya cukup akrab dengan pemandangan beberapa becak yang mangkal di perempatan lampu merah yang lokasinya tak jauh dari tempat saya tinggal. Beberapa minggu lalu — Juni 2021– ada sedikit pemandangan yang berbeda. Sebuah tulisan yang dicetak diatas kertas bertuliskan “BECAK INI DI SEWAKAN” tertempel di sana.

Masih cukup jelas fotokopi identitas yang tertempel di bagian belakang tempat duduk penumpang. Berat, pemandangan yang tidak nyaman. Saya memang mempunyai romantisme dengan kendaraan yang satu ini.

Sudah Divaksinasi AstraZeneca

Awal tahun ini, saya dengan sadar memilih untuk divaksinasi jika kesempatan itu mendapatkan vaksinasi memang ada. Kalau ditanya saya masuk golongan yang pro- atau anti-vaksinasi, untuk ke diri saya, saya memilih untuk mendapatkan vaksinasi.

Ya, sederhana saja, saat ini vaksinasi merupakan salah satu proses yang masuk akal untuk menekan lanju . Dan, jika saat ini vaksinasi merupakan pilihan terbaik, kenapa tidak?

by Artem Podrez from Pexels

Pilihan Vaksin

Yang sudah beredar banyak setelah Sinovac tentu . Di awal Juni 2021 ini, yang banyak tersedia adalah AstraZeneca. Lalu, kenapa mau dikasih AstraZeneca, bukankan AstraZeneca itu bla-bla-bla-bla?

Ya, saya cukup banyak baca. Ada kasus penerima vaksinasi yang sampai meninggal karena pembeukan darah setelah menerima AstraZeneca, sedangkan sebelum-sebelumnya ketika pakai Sinovac aman saja.

Saya juga membaca opini bahkan dari orang-orang yang saya kenal bahwa AstraZeneca ini efeknya lebih keras — daripada Sinovac. Dan, yang ngomong rata-rata ada dalam kelompok yang belum vaksinasi sama sekali, dan berdasarkan baca berita atau dengar dari orang lain.

Apakah saya takut untuk menerima AstraZeneca? Perasaan was-was pasti ada. Pun kecil, kasus lanjutan setelah vaksinasi bisa terjadi kepada siapapun, termasuk saya. Tapi, di saat yang sama, bahwa saya bisa tertular COVID-19 atau menjadi carrier itu juga bisa terjadi, itu adalah fakta.

Jadi, alih-alih menunda untuk menghindari AstraZeneca, saya memutuskan untuk menerimanya. Apakah dengan tidak menerima AstraZeneca saya akan bisa menerima sesuai pilihan saya? Apalagi pilihan tersebut hanya berdasarkan “kayaknya yang A lebih aman”, atau “katanya si B bagus yang vaksin C”. Saya sendiri juga bukan orang medis, tapi satu hal yang saya pegang: vaksin yang beredar pasti sudah melalui proses penelitian, uji klinis, dan mendapatkan ijin edar. Puluhan atau bahkan ratusan ribu orang sudah menerima AstraZeneca sebelum saya. Jadi, kenapa tidak?

Efek Samping AstraZeneca

Sebelum vaksinasi pada hari Rabu, sehari sebelumnya saya tidak ada persiapan selain istirahat yang cukup saja. Dan, pagi sebelum vaksinasi — sekitar jam 11.00 WIB — saya sempatkan sarapan. Selebihnya, biasa saja. Saya sudah baca KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) untuk AstraZeneca di berbagai sumber, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Hari Pertama (Rabu)

Sebelum proses vaksinasi, diawali dengan pengisian dan pernyataan persetujuan sebagai bagian dari proses screening. Suhu badan normal, tekanan darah normal, dan semua pertanyaan terkait antisipasi dan efek pasca vaksinasi dijawab apa adanya. Tidak ada yang serius dan menghalangi.

Proses observasi di tempat setelah vaksinasi juga tidak ada masalah. Belu ada gejala/efek lanjutan yang langsung terlihat. Bahkan, setelah vaksinasi, saya langsung beraktivitas seperti biasa, termasuk bekerja sampai sore hari.

Malamnya sekitar pukul 20.00 WIB, suhu badan agak naik, terasa agak demam, tapi belum sampai mengganggu sekali. Rasanya seperti mau meriang. Kepala sedikit pusing saja. Kondisi ini terjadi terus, sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Saya putuskan untuk minum obat sakit kepala, karena ini diperbolehkan juga. Kondisi badan terasa dingin, tapi suhu badan agak naik. Lidah juga tidak pahit, bisa mengecap rasa seperti biasa.

Setelah minum obat, saya paksakan istirahat.

Hari Kedua (Kamis)

Pagi bangun masih agak demam, tapi tidak sepanas hari sebelumnya — yang dirasakan. Saya juga tidak sempat ukur suhu badan. Kepala masih sedikit pusing, tapi aktivitas biasa tidak terganggu.

Karena saya rasa tidak terlalu mengganggu, jadi aktivitas harian masih saya lakukan termasuk bekerja. Cuma, badan rasanya jadi terasa lebih lelah saja. Jadi, beberapa saat saya selingi dengan rebahan. Yang pasti, tetap makan dan minum saja.

Sampai malam hari, demam masih, tapi terasa berkurang termasuk sakit kepala. Tapi, secara umum badan terasa lebih enak dari hari sebelumnya. Ketika akan berangkat tidur, badan juga biasa saja. Tidak terasa dingin juga. Bagian lengan atas bekas suntikan agak terasa kaku/pegal. Di hari kedua, saya tidak mengonsumsi obat sama sekali.

Hari Ketiga (Jumat)

Jumat pagi ketika bangun tidur, kondisi badan semua sudah bisa dikatakan normal. Badan tidak ada demam sama sekali, efeknya seperti malam sakit, minum obat, lalu pagi bangun dengan suhu badan normal dan badan segar. Sakit kepala yang sebelumnya ada, tinggal terasa sedikit sekali.

Cuma memang badan masih agak terasa capek saja. Tapi, dengan sedikit dipaksa untuk bergerak, jalan-jalan sebentar di luar rumah, dan aktivitas biasa, badan justru terasa lebih enak.

Area lengan atas tetap terasa agak kaku dan pegal saja, tapi secara umum tidak menghalangi aktivitas sama sekali.

Vaksinasi Lanjutan

Berbeda dengan Sinovac yang memiliki jarak 28 hari dari dosis pertama ke dosis kedua, jarak vaksinasi kedua untuk AstraZeneca adalah 12 minggu. Untuk saya, dijadwalkan di minggu akhir Agustus 2021 untuk dosis keduanya.

Informasi mengenai tanggal vaksinasi dosis satu, termasuk jenis vaksin yang dipakai tertera dengan jelas di kartu vaksinasi. Saya sendiri mendapatkan AstraZeneca batch CTMAV 547.

Akhirnya, Swab Antigen Juga

by Testalize.me on Unsplash

Akhirnya, hari ini saya melakukan swab untuk kali pertama di HI-LAB Diagnostic Center, salah satu laboratorium yang berada di tengah kota, di seputaran Kotabaru, di sisi selatan Stadion Kridosono. Ini satu area dengan Klinik Mata Sehati, tempat saya memeriksakan mata.

Sekarang memang sudah cukup banyak opsi untuk melakukan di , pemilihan lokasi ini tidak ada preferensi khusus. Ya saya milih lokasi ini saja. Kebetulan juga, ART yang akhirnya kembali bekerja juga melakukan tes di lokasi tersebut.

Kenapa?

Jadi beberapa hari lalu, setelah saya bertemu dengan seorang teman, keesokan harinya dia memberitahu kalau salah satu teman istrinya terindikasi terpapar . Sempat kaget juga, tentu saja. Saya bertemu teman saya tidak lama, mungkin hanya sekitar 2 jam. Dan, itu cuma berdua, di tempat yang sirkulasi udara cukup baik, dan duduk tidak berhadapan, dan tetap menjaga jarak aman.

Saya sendiri, kalau di luar rumah khususnya ketika ada bertemu orang dan ada kemungkinan mengobrol, pasti mengusahakan selalu menggunakan masker dobel. Masker kain ditambah masker medis di sisi dalam. Dan, sampai saat ini masih cukup nyaman.

“Harusnya aman karena kan selalu pakai masker terus, dan bahkan dobel” adalah salah satu perasaan yang di awal muncul, setelah mendapatkan saya berinteraksi dengan orang yang kontak yang walaupun belum tentu positif. Jadi, pilihannya tes atau tidak.

Akhirnya, memutuskan untuk swab antigen saja untuk memastikan.

Proses Registrasi dan Swab Antigen

Saya melakukan proses pendaftaran secara daring melalui situs yang disediakan. Proses registrasi berjalan dengan mudah dan efisien. Saya cukup mendaftar, menentukan jadwal pemeriksaan, dan melakukan pembayaran melalui transfer . Untuk dokumen, saya menyertakan KTP saja.

Biaya yang saya keluarkan untuk tes ini adalah Rp225.000,-.

Beruntung antrian tidak panjang. Setelah mengonfirmasi kedatangan, saya langsung diminta menunggu di area tunggu. Saya mungkin menunggu sekitar sekitar 15 menit saja.

Dan, giliran saya tiba. Petugas menjelaskan prosedur dengan ringkas dan jelas, dan saya tinggal menikmati prosesnya, alat swab masuk ke kedua lubang hidung saya. Agak tidak nyaman, tapi syukurlah semua proses berjalan cepat dan lancar.

Hasil

Proses swab saya berlangsung sekitar puklu 08.50 WIB. Dan, hasil tes swab saya terkirim ke surel saya sekitar pukul 09.39 WIB. Jadi kurang dari satu jam hasil sudah dapat diketahui. Mungkin karena proses antrian tidak banyak hari ini.

Puji Tuhan.

Rekomendasi Jasa Reparasi Kursi Kantor/Kerja di Jogjakarta

Kursi kerja di rumah yang saya pakai memang beberapa kali ganti. Tapi, bukan karena beli melainkan karena saya ada beberapa kursi. Jadi berusaha untuk menemukan kursi yang paling pas. Ada satu kursi dari IKEA yang cukup cocok. Bukan kursi yang empuk dan mewah, tapi secara desain lebih cocok.

Dan, rata-rata kursi memang kurang sesuai untuk saya karena kurang tinggi. Ya, ada sedikit tantangan memang untuk saya yang memiliki tinggi hampir 180cm.

Selain kursi dari IKEA tadi, ada satu buah kursi dengan pegas/hidrolik di rumah, yang dalam kondisi cukup bagus. Masalahnya, pegas/hidrolik tidak berfungsi lagi. Dengan segala hal alasan yang membuat malas untuk mencari solusi, akhirnya kemarin memutuskan untuk mereparasi kursi ini. Targetnya, pegas bisa berfungsi kembali, sehingga kursi bisa lebih tinggi lagi. Walaupun, saya yakin pasti akan tetap kurang tinggi.

Kenapa tidak beli atau mengubah tinggi meja? Saat ini, ini bukan solusi.

Mencari Jasa Reparasi Kursi di Jogjakarta

Catatan

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi pada awal Maret 2021. Pengalaman/hasil mungkin berbeda, namun saya mendapatkan pengalaman dan layanan yang baik, dan dengan senang hati merekomendasikannya.

Setelah melakukan pencarian melalui , saya menemukan beberapa opsi. Saya kontak beberapa layanan melalui /nomor yang tersedia. Dan, hanya satu yang membalas. Saya memang memilih untuk jasa yang tersedia tidak terlalu jauh dari tempat saya.

& sparepart kursi kantor” adalah nama yang saya temukan di mesin pencarian. Lokasinya ada di sisi barat ring road , dan tidak jauh dari tempat saya. Ketika saya hubungi melalui WhatsApp, saya langsung sampaikan apakah bisa dilakukan servis, dengan sedikit menjelaskan masalah di kursi saya.

Alih-alih memberikan jawaban untuk ganti pegas/hidrolik, saya diberi opsi apakah mau “dikunci tingginya” saja. Jadi, tidak bisa naik turun lagi. Solusi ini jauh lebih murah, kalau mau diambil. Dan, pengerjaannya juga lebih cepat. Harganya Rp40.000,- saja kalau service ini. Kalau ganti hidrolik, ada di kisaran Rp180.000,- — tapi ini mungkin bisa berbeda bergantung jenis kursinya.

Tanpa tunggu lama, saya langsung saja janjian untuk datang ke lokasi. Lokasinya agak masuk ke gang, tapi mobil bisa parkir di dekat lokasi atau bahkan kalau agak berat, bisa drop langsung di depannya.

Ternyata yang berkomunikasi di saya adalah pemiliknya langsung, yang belakangan baru saya tahu namanya Mas Hendra. Orangnya ramah, dan memberikan layanan dan informasi yang oke sekali. Ketika datang menjelang jam makan siang, saya memang hanya bertemu dengan dua orang pegawainya. Dan, diminta untuk meninggalkan kursi, untuk diambil nanti. Sebenarnya, saya inginnya langsung dikerjakan, saya tunggu. Tapi, mungkin karena ada antrian, atau yang mengerjakan belum siap.

Sekitar dua jam berselang, saya dihubungi kembali melalui WhatsApp kalau kursi saya sudah siap. Agak sore, saya datang ke lokasi kembali dan langsung ketemu dengan Mas Hendra.

Saya sampaikan saja sebenarnya saya ini butuh kursi ini “lebih tinggi” dari kursi normal. Kondisinya saat saya datang, kursi memang sudah sesuai kondisi aslinya, dan sepertinya sedikit lebih tinggi. Saya tanya, apakah bisa lebih tinggi lagi, ya? Dengan kondisi tetap saja tidak perlu hidrolik, karena lagi-lagi saya tidak perlu terlalu disesuaikan tingginya. Akhirnya diganti lagi besi penyokong kursinya dengan yang lebih tinggi. Setelahnya, saya diminta untuk mencobanya. “Sepertinya ini cukup tinggi, semoga pas,” pikir saya.

Karena ini adalah sparepart terpisah, jadi ada biaya tambahan yang murah juga. Sebenarnya tidak ada patokan, tapi Mas Hendra bilang, Rp10.000,- juga tidak apa-apa. Saya tidak mau, saya akhirnya bayar Rp20.000,-. Kenapa lebih tinggi? Ya, karena saya tidak hanya bayar untuk harga sparepart, tapi juga atas jasanya. I’m buying the good service also!

Jadilah, sore itu saya mengeluarkan biaya total Rp60.000,-. Kalau tanpa ada modifikasi tambahan, total Rp40.000,-. Jadi, kalau memang ini sudah mencukupi, ya harganya sekian. Harga yang sangat oke untuk saya. Apalagi, dengan layanan yang sangat baik.

Sesampai di rumah, saya coba sandingkan dengan meja yang saya miliki. Dan, pas! Posisi duduk lebih nyaman, dengan posisi tangan terhadap meja juga lebih ideal untuk kegiatan bekerja.

Jika tertarik menggunakan layanan ini — bukan hanya servis kursi, tapi termasuk sofa, bahkan kursi barber — silakan langsung ke lokasi di bawah ini.

Service & sparepart kursi kantor
Jalan Sadewo, Gang Sencaki Barat No.85, RT.06/RW.12, Area Sawah, Nogotirto, Kec. Gamping, Kabupaten , Daerah Istimewa Yogyakarta 55292
Telepon/WhatsApp: 0823-4997-1874 (Mas Hendra)

Hotel Sebagai Alternatif Tempat Bekerja di Luar Kantor atau Rumah

Ilustrasi foto oleh Arina Krasnikova via Pexels

Selama hampir satu tahun berada dalam masa pandemi — dan entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir — saya memang beberapa kali memutuskan untuk berada di luar rumah, untuk bekerja. Tentu, dibandingkan dengan masa sebelum pandemi, aktivitas ini sangat berkurang.

Saya coba hitung, kalau tidak salah, secara total saya hanya pernah empat kali duduk di tempat yang memungkinkan saya untuk bekerja — membuka . Namun, itupun belum tentu saya bekerja dan dalam periode waktu yang tidak terlalu lama (tidak sampai seharian).

Selain di warung kopi — yang didesain dan dikelola untuk sekaligus menjadi coworking space — saya akhirnya juga kadang bekerja dari hotel. Agak berbeda memang, karena bagi saya hotel dari dulu bukan opsi utama jika ingin sekadar duduk, membuka laptop, lalu bekerja.

Bekerja dari Hotel

Lebih tepatnya, ini memanfaatkan fasilitas restoran yang tersedia di hotel. Setelah beberapa waktu lalu saya melihat kalau Prime Plaza Hotel Yogyakarta menawarkan semacam Work From Hotel, saya akhirnya mencobanya.

Catatan

Seluruh cerita terkait dengan pengalaman menggunakan layanan/area di Prime Plaza Hotel (PPH Yogyakarta) merupakan pengalaman pribadi, dan tidak memiliki afilitasi/kerjasama dengan pihak hotel. Semua biaya yang muncul merupakan biaya pribadi. Pengalaman berbeda mungkin terjadi, dan saya mendorong untuk mengkonsultasikan dengan pihak hotel, jika diperlukan. Semua foto merupakan koleksi pribadi.

Paket “Work From Hotel” ini sebenarnya merupakan sebuah alternatif terkait dengan pemesanan makanan di hotel. Secara prinsip, tanpa harus menggunakan opsi paket “Work From Hotel (WFH)” , tetap bisa saja memesan makanan dari resto, untuk dinikmati di area resto, dan mulai bekerja di tempat yang tersedia.

Untuk kunjungan pertama, saya coba paket seharga Rp55.000. Secara umum, ada beberapa pilihan “paket” yang dapat dipilih sesuai selera, yaitu:

  1. Kopi/teh dan snack, seharga Rp55.000
  2. Kopi/teh, snack dan makan siang, seharga Rp75.000
  3. Coffee break, makan siang, meeting room, seharga Rp100.000

Harga tersebut adalah harga termasuk . Dan, ini dapat digunakan selama jam operasional hotel yaitu setiap hari (termasuk Sabtu dan Minggu), mulai pukul 07.00-23.00 WIB. Informasi lebih lengkap bisa dilihat di https://work-from-hotel.web.app, tapi tetap ada baiknya juga menghubungi narahubung melalui WhatsAppp.

Jam operasional hotel ini lebih memberikan fleksibilitas. Walaupun saya memanfaatkan di jam kerja saja, dan tidak seharian penuh juga pada akhirnya.

Setelah saya menghubungi narahubung ke sekadar konfirmasi layanan ini, saya datang ke lokasi, dan saat itu sekitar pukul 11.00 WIB. Untuk prosedur masuk ke hotel, masih sama dengan sewaktu kali pertama saya datang sekitar dua bulan lalu.

Setelah memarkir kendaraan saya, saya menuju ke area lobi untuk pemeriksaan suhu, menggunakan hand sanitizer dan memindai QR Code yang perlu saya isi sebagai tamu. Pengisian ini menggunakan Form. Area parkir roda dua dan empat tersedia di bagian depan dan sangat luas menurut saya. Oh ya saya masuk melalui pintu masuk utama di Jl. Affandi.

Oleh petugas di lobi, saya ditanyai ada keperluan apa/mau kemana, saya sampaikan mau ke restoran. Dan, selanjutnya lancar saja. Saya sempatkan ke resepsionis, dan diarahkan untuk langsung saja ke area Colombo Terrace, yaitu restoran yang semi outdoor, yang lokasinya ada di samping kolam renang.

Petugas restoran menyambut saya dengan ramah, dan sepertinya cukup well-informed bahwa ada tamu yang datang untuk “Work From Hotel”. Saya ambil tempat duduk agak di pinggir. Saya amati sekilas untuk akses ke colokan juga tersedia di bawah meja.

Saya tidak punya ekspektasi untuk minuman atau snack yang saya dapatkan untuk harga Rp55.000 yang saya bayarkan. Jadi ya tunggu saja. Setelah saya duduk, beberapa saat kemudian saya diinformasikan mengenai akses yang bisa digunakan, dan selanjutnya saya ditawarkan apakah mau minum teh atau kopi. Siang itu, saya merencanakan mungkin akan berada disana sekitar 2-3 jam saja. Jadi apapun yang disajikan saya perkirakan cukup untuk menemani saya siang itu.

Akhirnya saya tidak jadi membuka laptop, dan bekerja dari saya. Untuk minuman, saya memilih kopi — yang akhirnya kopi ini bisa untuk porsi dua gelas. Kopinya sendiri merupakan black coffee, dimana ini sesuai dengan ekspektasi saya. Mungkin jika ingin yang selain kopi, bisa memilih teh, yang sepertinya penyajian juga hampir sama. Snack dan sedikit cemilan cukup untuk menemani kopi dan waktu bekerja.

Pengalaman pertama saya untuk mencoba alternatif tempat bekerja di hotel kali ini cukup menarik. Saat saya datang, ada beberapa tamu hotel atau pengunjung yang sedang ada di area restoran. Tapi, karena area cukup luas dan penataan meja/kursi cukup lapang, jadi ya tidak masalah juga. Oh ya, karena area ini semi outdoor, jadi untuk yang mungkin membutuhkan tempat merokok, area ini cukup baik. Ya, walaupun saya sudah tidak merokok juga. Ada sebenarnya pilihan untuk area restoran yang indoor dengan AC. Tapi, saat itu saya memagn lebih tertarik yang semi outdoor.

Sriwijaya Air SJY 182

Sumber gambar: Instagram @jokowi

Sebuah kabar sedih di awal tahun 2021 dari dunia udara terkait jatunya Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182. Saya sendiri pernah beberapa kali menggunakan maskapai ini untuk perjalanan dari ke dan sebaliknya.

Artikel Kronologi, Fakta, dan Misteri Jatuhnya Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJY 182 di dapat menjadi rujukan awal mengenai bagaimana kronologi dan fakta terkait dengan insiden tersebut.

Jakarta Lagi

Setelah delapan bulan lebih tidak bepergian ke luar kota, baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan, kembali perlu untuk melakukan perjalanan. Kali ini, jika tidak ada halangan perjalanan akan ke .

Setelah menimbang begitu banyak hal terkait perjalanan terutama di masa pandemi ini, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan pribadi ke Jakarta. Tentu, menggunakan menjadi pertimbangan sejak awal. Kali ini, tak selalu segala hal bisa dikerjakan jarak jauh.

Menengok Protokol Kesehatan COVID-19 di Prime Plaza Hotel Jogjakarta

Selama pandemi, salah satu tempat publik (tertutup) yang sering saya kunjungi adalah supermarket untuk keperluan berlanja, baik yang lokasinya berdiri sendiri atau menjadi satu dengan area lain seperti yang ada di dalam mall.

Khusus untuk area seperti hotel, saya hampir tidak pernah mengunjungi. Apalagi selama pandemi ini saya juga tidak pernah melakukan perjalanan ke luar kota, yang mengharuskan saya harus menginap di hotel. Setelah berbulan, dengan berbagai perkembangan, pelaku bisnis sudah banyak melakukan adaptasi kebiasan baru — saya lebih suka istilah “kebiasaan baru” dibandingkan dengan new normal sebenarnya.

Hotel sebagai salah satu komponen penting dalam dunia juga melakukan adaptasi. Tentu, ini tidak mudah, tapi kalau tidak beradaptasi, mau jadi apa?

Karena sebuah keperluan, beberapa hari lalu saya mengunjungi Prime Plaza Hotel , sebuah hotel bintang 4 yang ada di Jl. Affandi. Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya menginap di tempat ini. Dan, kunjungan terakhir saya kesana kalau tidak salah tahun lalu, sebelum pandemi untuk sebuah acara yang saat itu hanya memakai lokasi resto saja.

Walaupun tidak sampai menginap, tapi karena kunjungan kemarin saya jadi sedikit menyempatkan untuk melihat bagaimana protokol berjalan di hotel ini.

Ketika memasuki area pintu masuk utama, langsung disambut dengan informasi yang terpampang cukup jelas mengenai beberapa protokol kesehatan yang perlu ditaati oleh setiap penunjung. Ada juga automatic dispenser hand sanitizer, yang bisa digunakan secara contactless. Terakhir, ada QR Code yang perlu dipindai yang setelah saya coba, isinya adalah tautan untuk mengisi beberapa terkait kedatangan.

Hal ini untuk mempermudah perncatatan siapa saja yang masuk ke area hotel, yang tentu saja akan nantinya bermanfaat untuk melakukan contact tracing jika diperlukan. Walaupun, semoga saja tidak perlu ada contact tracing ya… Persis sebelum masuk pintu, ada screening pengecekan suhu tubuh.

Oh ya, kenapa tidak ada tempat cuci tangan secara langsung, ya hal semacam ini selain memenuhi protokol juga secara estetika lebih baik.

Setelah melewati pintu masuk utama lalu belok ke kanan, ada lokasi resepsionis. Selain ada cairan pembersih tangan, alat tulis yang akan digunakan oleh tamu sudah dipisahkan antara yang bersih dan yang yang telah dipakai. Jadi langsung dipisahkan. Jadi, setiap alat tulis yang dipakai otomatis memang selalu dibersihkan. Ini cocok karena alat tulis, selama pengalaman saya check-in di hotel merupakan salah satu benda yang paling sering dipakai bergantian.

Masih di area resepsionis, ada informasi lain bagi tamu terkait beberapa persyaratan/protokol bepergian dengan menggunakan publik. Selain itu, ada lagi juga QR Code lain yang ternyata isinya mengarahkan ke laman untuk mengisi informasi riwayat perjalanan oleh tamu yang akan menginap. Sedikit berbeda dengan yang ada di pintu masuk, karena ketika sudah di resepsionis, besar kemungkinan yang adalah tamu yang menginap. Jadi, formulir ini lebih spesifik untuk tamu menginap.

Sofa tempat duduk yang ada di area lobi juga diubah pengaturannya, sehingga konsep social distancing atau jaga jarak bisa lebih mudah terpenuhi.

Walaupun posisi sudah berjauhan, tapi pengaturan supaya yang duduk tidak berhadapan layak untuk diapresiasi
Pengaturan jaga jarak untuk area sofa yang ukuran lebih besar.

Secara umum, walaupun memang cuma sebentar, bahkan tidak sampai melihat-lihat jauh ke area dalam seperti kolam renang, area gym, dan fasilitas lain, tapi saya cukup nyaman berada disana. Suasana berbeda mungkin bisa terjadi kalau tamu penuh. Tapi, menurut saya hotel merupakan salah satu tempat dimana layanan menjadi yang utama. Jadi, pengaturan dan protokol pasti akan sebaik dan sebisa mungkin untuk dilaksanakan.

Catatan

Walaupun secara umum saya merasa nyaman dan aman ketika berada di sana, ada beberapa detil kecil yang menurut saya pribadi mungkin bisa menjadi catatan. Tentu, ini pendapat pribadi saja.

  1. Informasi jika ditampilkan dengan bahasa mungkin akan lebih mudah dipahami oleh pengunjung. Faktanya, dalam kondisi saat ini mungkin pengunung atau tamu hotel mayoritas merupakan tamu lokal/domestik. Atau jika memang harus dua bahasa, terjemahan dalam Bahasa Inggris tetap bisa ditampilkan, tapi bahasa Indonesia tetap yang utama.
  2. Karena saya memang benar-benar hanya berada di seputar area lobby, jadi yang saya lihat memang tidak banyak seperti bagaimana tempat publik seperti di kolam renang, atau pusat kebugaran, termasuk apakah ada perubahan atau tidak tentang kondisi kamar. Tapi, melihat dari bagaimana semuanya terlihat di area depan, sepertinya standar protokol kebersihan jelas menjadi perhatian khusus.

protokol keamanan dan standar kesehatan bisa juga diliaht melalui video di bawah ini. Dalam video ini juga terlihat kalau untuk sterilisasi kamar juga menggunakan lampu UV-C.

Kontak dan Lokasi

Karena berada di tengah kota dan di salah satu jalan utama di Jogjakarta, hotel ini dapat dengan mudah ditemukan. Akses masuk kendaraan juga sangat mudah.

Prime Plaza Hotel Jogjakarta
Kompleks Colombo, Jl. Affandi, Gejayan, Mrican, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten , Daerah Istimewa 55281 (Google Maps)
Telepon: 0274 584 222
Pemesanan: 0817 9575 292 atau surel [email protected]
: jogja.pphotels.com
Instagram: @primeplazahoteljogjakarta

Menjajal GrabCar GrabProtect dari Grab Indonesia dengan Kualitas Layanan yang Berbeda

Saya suka menggunakan layanan dan . Masing-masing punya kelebihannya sendiri, terutama untuk fitur , pemesanan makanan, dan pengantaran barang. Untuk Grab, layanan yang paling saya gunakan adalah GrabFood. Layanan transportasi seperti GrabBike dan juga kadang saya gunakan. Namun, sejak pandemi , sudah lebih dari 7 (tujuh) bulan saya tidak menggunakan kedua layanan transportasi ini.

Sampai minggu lalu, akhirnya saya menggunakan layanan transportasi dari Grab, yaitu GrabCar. Layanan ini akhirnya saya gunakan karena saya perlu melakukan perjalanan, dan saya memang tidak membawa mobil sendiri. Dari pilihan yang ada yaitu menggunakan layanan kendaraan roda dua atau roda empat, saya memutuskan untuk memilih layanan roda empat (GrabCar). Grab juga menjadi salah satu opsi saya ketika di , ataupun ketika saya bepergian ke .

Ketika melihat pilihan armada di aplikasi Grab, saya diberikan saran untuk menggunakan layanan GrabCar Protect selain GrabCar, GrabTaxi, GrabCar Plus, GrabCar 6, dan GrabGerak. Dan, saya bepergian sendirian.

Di situs Grab, ada sedikit penjelasan mengenai GrabProtect ini.

Menurut deskripsi, tentang GrabCar Protect ini:

GrabCar Protect adalah transportasi khusus yang menyediakan layanan ekstra dalam keamanan dan kenyamanan perjalanan dalam situasi COVID-19.

Jadi, diantara opsi yang ada, jika konteksnya adalah opsi paling “aman”, maka GrabCar Protect seharusnya menjadi pilihan utama. Dan, dibandingkan dengan opsi kendaraan yang lain, harga juga sedikit lebih mahal (jika dibandingkan dengan GrabCar, bahkan GrabCar Plus dan GrabCar 6. Masih tentang GrabCar Protect ini, kalau di aplikasi, ada beberapa hal yang dituliskan, yaitu:

  1. Kapasitas 1-3 penumpang
  2. Partisi plastik untuk melindungi pengemudi dan penumpang
  3. Pengemudi mendapatkan pelatihan khusus dan SOP
  4. Pengemudi dengan APD (masker, sarung tangan, pembersih tangan)
  5. Penyemprotan desinfektan secara berkala pada mobil
  6. Tarif yang tertera termasuk biaya pemesanan senilai Rp4.000 yang mencakup inovasi fitur keselamatan terbaru, pelatihan pengemudi, asuransi perjalanan dan biaya operasional lainnya.

Sedikit tambahan dalam deskripsi juga ada keterangan “Extra protection from Lifebuoy”. Dengan segala informasi tersebut, cukup menjadi alasan bagi saya untuk akhirnya memilih GrabProtect.

Perjalanan Pertama: Puas dan Menyenangkan

And, I felt safe.

Itulah pengalaman yang saya dapatkan ketika kali pertama menggunakan layanan ride Grab dengan armada GrabProtect. Jelas saja ekspektasi jauh berbeda dibandingkan sebelum masa pandemi COVID-19.

Kenapa saya puas dan perjalanan pertama di hari itu berlangsung dengan menyenangkan dan ada perasaan aman? Karena:

  1. Sekat partisi antara kabin pengemudi dengan penumpang terpasang dengan baik
  2. Pengemudi menggunakan masker
  3. Kondisi mobil bersih
  4. Ada cairan hand sanitizer di kantong pintu penumpang

Dengan kondisi tersebut, saya tidak keberatan juga untuk diajak mengobrol, walaupun memang tidak sepanjang perjalanan. Saya sendiri juga menggunakan masker, kacamata, dan juga membawa hand sanitizer dalam tas.

Setelah selesai perjalanan, dengan senang hati saya memberikan rating 5, walaupun pengemudi juga tidak spesifik meminta saya memberikan rating 5.

Perjalanan Kedua: Tidak Begitu Menyenangkan

Dari begitu banyaknya perjalanan yang saya lewati menggunakan Grab atau Gojek, saya kadang tetap bisa menerima misalkan perjalanan bisa dikatakan “tidak sempurna”. Pengemudi agak ngebut, saya masih OK terlebih ketika terlihat juga percaya diri dalam membawa kendaraan. Salah rute, saya juga pernah. Memilih untuk turun karena tujuan terlanjur dilewati daripada harus putar balik dengan jarak yang jauh, saya juga tidak keberatan.

Nah, perjalanan kedua dengan armada GrabCar GrabProtect di hari yang sama kemarin bisa dikatakan tidak begitu menyenangkan. Kenapa?

  1. Driver tidak menggunakan masker! Saya tahu, sudah ada sekat antara pengemudi dan penumpang, tapi tidak menggunakan masker bukan sebuah gesture yang baik menurut saya. Karena, tetap saja, mobil adalah sebuah tempat dengan area yang tertutup dan ada sirkulasi dari AC.
  2. Tidak ada hand sanitizer yang dapat diakses secara mandiri oleh penumpang. Entah memang tidak ada, atau sebelumnya ada tapi ketika saya naik tidak ada disana. Walaupun, ini tidak terlalu masalah bagi saya karena saya sudah bawa sendiri.

Dan, dibandingkan dengan pengemudi sebelumnya, dengan tidak menggunakan masker justru pengemudi yang ini lebih sering mengajak ngobrol. Saya tidak begitu nyaman, tapi saya juga coba tetap sopan dengan menjawab seperlunya. Foto sengaja tidak saya publikasikan dalam artikel ini, namun ada dalam ponsel saya. Saya sengaja tidak menegur, karena saya masih ragu dengan reaksi yang akan saya terima. Mungkin saya kurang tepat membiarkannya, tapi saya sadar dengan keputusan saya saat itu.

Selesai perjalanan, saya tetap mengucapkan terima kasih, dan pengemudi meminta saya untuk jangan lupa memberi bintang 5. Sebenarnya, kalau mau fair, saya ingin memberi bintang 3. Tapi, niat tersebut saya batalkan. Saya memilih untuk tidak memberikan rating sama sekali.


Mungkin saya berlebihan, tapi dalam kondisi yang agak khusus saat ini, dengan adanya opsi dari penyedia layanan bagi konsumen, tentu hal tersebut merupakan sesuatu yang harus diapresiasi. Semoga penyedia layanan seperti Grab dalam kondisi ini juga memperketat prosedur operasional. Tapi, pengemudi dan penumpang juga memegang peranan penting sehingga kondisi aman dan nyaman bisa terpenuhi.

Pengalaman Fisioterapi di Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC)

Minggu lalu, untuk kali pertama saya merasakan kondisi badan yang tidak nyaman karena (sepertinya) ada cidera otot. Saya lupa tepatnya karena apa, tapi bagian bahu dan punggung atas sebelah kanan rasanya sakit sekali. Ditambah dengan leher — terutama di bagian kanan — juga sakit luar biasa ketika dipakai untuk menunduk atau menengok.

Catatan

Saya tidak mendapatkan imbalan ataupun memiliki kerjasama dengan pemberi layanan. Semua yang saya tulis merupakan pendapat dan pengalaman pribadi. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin bisa terjadi. Saya sarankan untuk mencari informasi terbaru terkait pemberi layanan. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pada Oktober 2020.

Ada beberapa dugaan penyebab. Mungkin karena saya dalam posisi salah ketika mengangkat barang — karena kadang geser-geser meja atau angkat galon — atau mungkin juga ketika mau menggendong anak saya.

Saya sendiri banyak bekerja di depan meja menggunakan , sangat bisa jadi ini juga memengaruhi kondisi badan terutama bagian atas.

Hari Selasa malam terasa cukup sakit. Ketika tidur, bahu sangat tidak nyaman. Apalagi ketika mau bangun dari posisi berbaring. Saya cukup kepayahan untuk bangun, karena mungkin memang ada bagian otot yang harus bekerja. Ketika berada di depan komputer, juga sudah sangat tidak nyaman.

Sempat terpikir untuk ke tukang pijat atau tukang urut. Tapi, karena saya yakin ini cidera, akhirnya saya putuskan untuk ke tempat saja di . Saya pernah baca, sebenarnya tidak masalah kalau ke tukang pijat atau tukang urut, tapi mungkin ketika untuk kasus badan capek, biar lebih segar, namun bukan untuk kondisi cidera. Jadi, bukannya tukang pijit/tukang urut itu jelek atau tidak direkomendasikan, kali ini soal pilihan saya saja.

Mencari tempat fisioterapi di Jogjakarta

Sebelumnya, saya sering dengar bahwa di Jogja memang ada beberapa tempat untuk fisioterapi. Mulai dari yang ada di rumah sakit, atau yang berpraktik secara mandiri. Di Universitas Negeri , ada juga tempat semacam ini, namanya Physical Therapy Clinic FIK UNY.

Saya coba di , ada juga beberapa rumah sakit yang memiliki layanan fisioterapi. Semakin mencari, semakin banyak pilihan. Jadilah saya bertanya ke teman saya yang sebelumnya pernah juga melakukan fisioterapi di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNY.

Setelah berdiskusi, saya mendapatkan opsi lain kalau mau, dan dia juga sudah mencobanya, dan merekomendasikan ke saya untuk coba ke Jogja Orthopaedic Sport Clinic (). Saya tanya kapan kali terakhir ke sana, katanya sekitar dua bulan lalu.

Booking appointment

Saat itu, saya lebih perlu untuk segera mendapatkan pertolongan. Saya buka dulu situs Jogja Orthopaedic Sport Clinic (JOSC) di jogjaorthosportclinic.com. Saya baca profil singkatnya, dan saya lakukan booking appointment. Sejujurnya, agak ragu apakah saya segera mendapatkan balasan atau tidak. Jadi, saya langsung coba kontak melalui .

Sekitar jam 09.00 WIB saya terhubung melalui WhatsApp dan saya langsung melakukan booking appointment untuk pukul 11.00 WIB hari itu juga.

Jadi, JOSC ini lokasinya ada di Jalan Colombo No. 6C, di kompleks ruko sebelah sisi selatan kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Lokasi persisnya ada di sebelah Pizza Hut Delivery. Lokasi yang cukup menguntungkan untuk yang bawa kendaraan roda empat, karena parkir bisa langsung di depan lokasi.

Perbaruan info (Desember 2021): Lokasi JOSC yang baru berada di Jl. Pakuningratan No. 32A, tidak jauh dari Yogyakarta.

Terapi di JOSC

Saya datang sekitar pukul 11.00 (agak mepet dari jadwal) karena lalu lintas yang agak padat ketika menuju ke sana. Pertama untuk protokol , ada tempat cuci tangan dan sabun yang tersedia di dekat pintu masuk. Ketika sampai di meja resepsionis, saya juga diperiksa suhu badan. All good.

Karena baru pertama kali datang, saya diminta untuk mengisi melalui formulir yang disediakan. Data yang diisi juga data-data umum saja.

Jaga Jarak di Kawasan Malioboro Menjelang Normal Baru

Hari minggu lalu, beredar informasi (termasuk foto dan ) bagaimana ramainya aktivitas manusia di kawasan , terutama kawasan titik nol kilometer. Rencana mulai dilaksanakannya era “normal baru” disikapi dengan beragam cara. Salah satunya: keluar rumah.

Dua bulan lebih dalam pembatasan gerak dan aktivitas khusunya di luar rumah tentu saja tidak mudah. Sementara penambahan kasus positif juga belum mengalami penurunan yang signifikan — dan malah sebaliknya — tapi memperpanjang pembatasan sosial juga sepertinya bukan dipandang menjadi opsi terbaik.

Pertengahan minggu lalu (awal Juni 2020), setelah dua bulan lebih tidak ke lokasi yang jauh dari rumah, saya mencoba untuk melihat di waktu malam. Tidak malam banget, karena saat itu baru sekitar pukul 18.30 WIB. Malam itu, saya mengendarai mobil.

Kawasan Jalan Magelang terlihat cukup ramai. Lalu lintas kendaraan tidak bisa dikatakan sepi juga. Pemandangan yang kurang lebih sama — bahkan seperitnya mlaah lebih ramai — ketika mendekati dari arah barat, ketika di lampu merah, saya melihat cukup banyak pesepeda yang berdiri sambil mengambil foto di salah satu ikon kota ini.

Masker? Walaupun tidak menghitung secara detail, tapi sekilas yang tidak pakai masker cukup banyak. Beberapa tempat makan atau nongkrong juga buka. Tak terlihat terlalu ramai memang, tapi buka.

Gerobak angkringan beberapa juga telah buka, dan saya lihat juga ada yang beli. Walaupun, tetap juga ada yang tidak pakai masker. Jaga jarak (social distancing)? Sepertinya tidak sepenuhnya terjadi.

Saya kemudian menuju arah selatan ke Jalan Mangkubumi. Warung-warung pinggir jalan sudah ada yang buka. Orang berjalan kaki, atau bersepeda ada juga malam ini. Atau, sekadar duduk-duduk, ada juga.

Beberapa toko di sisi barat Malioboro terlihat buka, walaupun cenderung sepi pengunjung. Sedih juga melihatnya, tapi bagaimana lagi kondisi memang sangat tidak mudah saat ini. Beberapa orang terlihat berjalan di area pejalan kaki pedestrian yang menurut saya memang sudah tertata dengan jauh lebih baik. Beberapa orang terlihat duduk di bangku yang disediakan. Ada yang menjaga jarak, tapi tak sedikit yang sepertinya tidak mengindahkan konsep jaga jarak.

Ada tukang parkit yang mengarahkan kendaraan untuk masuk area parkir ketika saya mendekati area mal Malioboro. Cukup banyak orang juga di sana. Pemandangan yang kurang lebih sama saya lihat di sepanjang jalan Malioboro sampai ujung selatan. Oh ya, Mirota Batik yang biasanya ramai, malam itu terlihat agak gelap.

Ada perasaan yang berbeda malam itu. Sedih juga, karena aktivitas sangat berbeda dari biasanya. Malam itu, Malioboro terlihat jauh lebih sepi. Murung.

Kawasan titik nol kilometer yang biasanya sangat ramai, malam itu terlihat… cukup ramai. Tidak bisa dikatakan sepi juga, karena cukup banyak orang yang duduk-duduk di bangku. Beberapa bermain sepeda, atau sekadar foto-foto. Area di depan Museum 1 Maret malam itu mungkin seperti “sepi versi hari biasa”. Begitu juga di kawasan seberangnya, di seberang gedung . Kuran glebih sama.

Masih tentang apakah pada pakai masker dan melaksanakan konsep jaga jarak? Sepertinya tidak terlalu terlihat mencolok. Bangku yang biasanya diduduki oleh dua orang, tetap saja diduduki dua orang, dengan jarak rapat.

Dari titik nol, saya berbelok ke arah kiri. Terlihat jauh lebih sepi sampai dengan depan Taman Pintar.

Saya sudah cukup melihat, dan memutuskan untuk pulang kembali ke ruamh di sisi utara Yogyakarta.

Semoga saja kesadaran untuk tetap melaksanakan prinsip-prinsip dasar perilaku sehat seperti menjaga jarak, dan menggunakan masker pada kondisi harus menggunakan makin dilaksanakan saja.