Jakarta ke Jogjakarta dengan Taksaka

Minggu lalu, dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Jogjakarta, saya menggunakan jasa kereta api. Rencananya, memang akan menggunakan pesawat terbang. Tapi, ketika mencoba mencari tiket di tempat yang sebelumnya saya datangi, kantor ticketing tersebut sudah tidak ada lagi (tutup). Akhirnya, saya putuskan saja untuk menggunakan kereta.

Sebenarnya, saya agak malas kalau mengingat pengalaman keterlambatan. Tapi, saya singkirkan sejenak hal tersebut. Siang hari sebelum berangkat — saya menggunakan kereta api Taksaka Malam — saya sama sekali belum memiliki tiket. Asumsinya, kalau hari Minggu dari Jakarta, mungkin tidak banyak penumpang yang berangkat. Sore harinya teman saya menyampaikan bahwa kereta api yang akan saya tumpangi masih memiliki cukup banyak kursi kosong, dan dijadwalkan berangkat pada pukul 20:45.

Continue reading “Jakarta ke Jogjakarta dengan Taksaka”

Ketika Bepergian dengan Pesawat Terbang

Saya memang tidak harus sering melakuan perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang. Tapi, memang ada perubahan dalam hal frekuensi bepergian dibandingkan tahun kemarin dan tahun sebelumnya. Dan, rata-rata perjalanan juga tidak jauh, masih di pulau Jawa saja. Dulu, saya lebih memilih kereta api (jika memang tujuan memungkinkan untuk dijangkau dengan moda transportasi ini). Memang, paling sering ya cuma tujuan Jogjakarta-Jakarta saja.

Tapi, jika dibandingkan dengan sekarang saya lebih sering menggunakan jasa penerbangan. Efisiensi waktu kadang lebih menjadi prioritas. Apalagi, jika menilik dari harga yang tidak terpaut jauh — dibandingkan kereta api misalnya.

Pemandangan dari jendela ketika menggunakan jasa Air Asia.
Pemandangan dari jendela ketika menggunakan jasa Air Asia.

Sampai sekarang, kadang masih ada kekhawatiran tentang keselamatan perjalanan. Tapi, kalau dipikir lagi, bukankah semua perjalanan memang memiliki resiko? Syukurlah sampai sekarang saya masih bisa menikmati perjalanan dengan aman. Dan, kebetulan belum mengalami keterlambatan perjalanan yang mengganggu jadwal yang sudah direncanakan. Keterlambatan paling parah yang pernah saya alami terakhir kali ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api beberapa bulan lalu. Setiap perjalanan, saya sering menikmatinya dengan melihat pemandangan dari sisi jendela. Walaupun kadang memang tidak mendapat tempat duduk di sisi jendela.

Continue reading “Ketika Bepergian dengan Pesawat Terbang”

Masih tentang Keterlambatan Kereta Api Gajayana Jurusan Jakarta

Perjalanan dengan menggunakan kereta api Gajayana yang mengalami keterlambatan lebih dari lima jam dari jadwal yang ditentukan harus saya lalui. Ini bukan sebuah pilihan. Suka atau tidak, mau tidak mau, harus saya terima. Keadaan yang mengharuskan saya ambil kereta malam — pengennya pakai Taksaka Malam. Kedatangan kereta di Stasiun Tugu sudah mengalami keterlambatan sekitar 30 – 60 menit. Ada yang berbeda kali ini. Disamping tempat duduk ada colokan listrik! Dalam perjalanan menggunakan kereta, satu hal yang mengganggu adalah ketika handphone kehabisan baterai. Ya, karena handphone mungkin jadi satu-satunya teman dalam perjalanan. Apalagi kalau perjalanan sendiri dan tidak menemukan teman mengobrol.

Kira-kira pukul 06.00, kereta berhenti. Saya baru saja terbangun dari tidur sebentar. Ah, sudah jam 6, berarti tidak lama lagi sudah memasuki Jakarta. Ternyata perkiraan saya salah. Kereta berhenti tidak tahu dimana. Akhirnya, saya keluar dari kereta — karena banyak penumpang melakukan hal yang sama. Diluar, sempat juga jadinya ngobrol dengan penumpang yang lain. Semua kurang lebih mengeluhkan hal yang sama: jadwal berantakan. Mulai dari yang harus masuk kantor, ketemu orang, menyelesaikan pekerjaan dan lain-lain. Sedangkan saya, sudah pasti jadwal yang sudah saya atur bersama dengan teman saya juga harus berubah.

Continue reading “Masih tentang Keterlambatan Kereta Api Gajayana Jurusan Jakarta”

Pengalaman Mencari Tiket Kereta Api

Minggu lalu, saya pergi ke Jakarta untuk sebuah keperluan. Setelah mempertimbangkan jadwal dan agenda (yang kebetulan saat itu sedang cukup sibuk), saya memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api. Awalnya, saya berencana menggunakan pesawat terbang, tapi harga tiket saat itu sedang kurang bersahabat. Apalagi, kalau saya harus menggunakan pesawat pagi, sebuah perjuangan tersendiri nantinya.

Untuk mendapatkan tiket kereta api, tidak semudah yang dibayangkan. Ya, seharusnya memang mudah, karena tinggal menuju loket pembelian tiket di Stasiun Tugu Yogyakarta, antri, bayar… selesai. Waktu itu saya menunggu kurang lebih 100 antrian. Cukup panjang dan lama juga, karena loket yang melayani pembelian hanya dua (dari 5 atau 6 yang ada). Setelah tiba giliran saya, pemesanan tiket saya tidak dapat diproses dengan alasan sistem sedang offline. Nah loh! Sudah antri lebih dari satu jam, tidak bisa. Menyebalkan!

Ternyata, sistim (atau sistem?) yang sedang offline hanya jadwal kereta api Gajayana (yang ingin saya gunakan). Saya tanya, kira-kira kapan bisa memroses pesanan tiket, ternyata tidak ada jawaban pasti. Ya, petugas tidak dapat memastikan. Oh ya, ini pengalaman pertama menggunakan kereta api Gajayana, karena biasanya saya gunakan Taksaka Malam. Saya sempat agak panik. Akhirnya, saya putuskan untuk beli saja lewat jasa agen. Kebetulan di loket tersebut ada informasi tentang agen tiket. Saya coba keberuntungan saya untuk menelpon salah satunya. Melalui telepon, saya diberitahu kalau sistim sedang tidak bekerja, alias offline. Ternyata, agen tiket tersebut lokasinya tidak jauh dari rumah. Akhirnya saya pesan ke petugas agen kalau saya mau (dan pasti!) pesan tiketnya dan minta diberitahu kalau sistim sudah beroperasi kembali.

Tidak lama kemudian, saya mendapatkan telepon dari agen tiket tersebut yang memberitahukan bahwa tiket bisa dipesan. Langsung saya minta di-book-kan untuk saya. Singkatnya, saya mendapatkan tiket saya tersebut hari itu juga, dengan tambahan biaya Rp. 10.000,00. Ah, kalau tahu seperti ini, mendingan dari awal saya beli lewat agen! Menurut jadwal, kereta api akan berangkat pukul 23.33 dan sampai di Stasiun Gambir pukul 07.15. Tapi, yang namanya jadwal kan itu rencananya. Kenyataannya, saya baru sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 13.00! Gila!