Hello, HEY!

Yes, I’m joining the crowd to give HEY — email service by the awesome guys at Basecamp — a shout. I wrote them to request for an invite three around three days ago. I am sure that they’re having lots of invitation requests, but today, I finally got the invitation code to register an account.

Before registering, I have read some key information about HEY: about how it works, the HEY manifesto, some key points on the FAQ page, and also how the pricing will work. I also understand that Imbox is not a typo.

Some key points about HEY

In my opinion, these are some key points about HEY. It’s not about my personal preference, but more about ‘what I — or probably you — should now by having a @hey.com account.

  1. It’s NOT an email client. So, it’s not like Gmail for Android/iOS. It’s not Outlook you can have on your Android, Mac, or iOS devices. It’s not even close to Spark, Postbox, or Newton.
  2. It’s an email service provider, with — currently — @hey.com domain for the email address created. That’s right, it’s like Gmail by Google, or Yahoo Mail, or Outlook. It’s also like how you have your email address, powered by your cPanel-based hosting, or maybe you have it installed yourself and having Roundcube as the interface. Creating an account at HEY is like you open an account at Gmail, or having an email at Yahoo Mail service.
  3. It’s not free. It’s a paid service. To enjoy the full service at the moment, with the upcoming features in the futures, we need to pay US$99/year minimum. We need to pay extra if for ‘shorter’ username. 2-characters of username costs US$999/year, and 3-character of username will cost US$349/year. And, we need to pay a year in advance.
  4. It offers “better” privacy. Hint: Gmail.
  5. It might change your workflow. It might be better for some people, but probably it’s not for everyone.

More features that might works better for you can be seen at HEY website.

Let’s give it a try

Reading some of those points above, I was curious about how it works. I mean about the interface, functionalities, workflows, and more. It’s 2020, and making working with email to become an enjoyable experience — for those who work a lot with emails — is still a big challenge.

I am a Gmail user — or Gmail-based email, because I also use Google App for Work — and I use lots of Google services. I signed up for my Gmail account when it was still ‘invite only’ period.

My first question about HEY was, “If HEY is that good, how the integration between services I currently use?”. I have an Gmail email, and once I signed up for it, I can use all the other services right away. The integration between those [Google] service is already that good.

I still believe that HEY is not ‘just another email provider’. Basecamp is a reputable company. I follow Signal vs Noise blog. I bought both REMOTE and REWORK. It’s built by people who know what they do, and who want to make the idea of working to become something efficient and fun at the same time. If we’re talking about productivity, Basecamp should be mentioned here.

I already logged-in to my email account. I have HEY app installed on my iPad and Android phone. I also already sent my first email to it.

Let’s see.

25 fundamental email issues

HEY, a new email service by Basecamp, has plan to solve some fundamental issues with… email. HEY has the list of fundamental issues with email. It’s a long list, but I agree with most of them.

Gagal Isi Saldo OVO dari CIMB Niaga

Untuk top-up saldo OVO — saya memiliki akun OVO Premiere, saya hampir selalu transfer dari rekening BCA melalui BCA Mobile. Dan, tidak pernah gagal sama sekali. Saldo OVO langsung bertambah secara instan. Begitu juga ketika saya top-up saldo Go-Pay.

Beberapa hari lalu, saya mencoba untuk top-up saldo OVO dari CIMB Clicks. Prosesnya cukup sederhana, yaitu dengan melakukan transfer ke nomor 8099 diikuti dengan nomor ponsel yang terdaftar di akun OVO.

Proses transfer berhasil. Namun, ternyata saldo OVO tidak secara instan bertambah. Saya pikir, mungkin perlu waktu. Jadi saya tunggu saja.

Sekitar satu jam, ternyata tidak bertambah juga saldo OVO saya. Akhirnya saya tanyakan kepada pihak CIMB melalui layanan pesan (chat). Saya berikan juga tangkapan layar transaksi saya ketika diminta. Oleh petugas layanan konsumen, saya diminta untuk menghubungi Call Center CIMB Niaga.

Pengalaman saya sebelumnya menghubungi Call Center CIMB Niaga tidak terlalu baik. Oh ya, saat itu saya juga ‘hanya’ melakukan top-up Rp100.000,-. Akhirnya, saya putuskan untuk meminta bantuan melalui surel ke bantuan konsumen. Saya kirimkan surel ke [email protected] Dalam surel saya sertakan juga bukti transaksi yang saya lakukan.

Hari berikutnya — karena saya mengirim surel setelah pukul 17.00, jadi baru mendapatkan balasan di hari berikutnya — saya mendapat respon:

Menindaklanjuti email Bapak, kami informasikan bahwa proses tindak lanjut telah dilakukan dengan hasil sebagai berikut:

Mohon maaf atas kendala yang Bapak alami. Setelah kami lakukan pengecekan untuk transaksi yang di lakukan tidak berhasil, dan dana Bapak saat ini berada di rekening penampung bank CIMB Niaga. Kami informasikan dana akan di kembalikan ke rekening dalam 10 hari kalender. Mohon kesediaan Bapak menunggu prosesnya hingga akhir hari pada tanggal 20 Juni 2019.

Bapak dapat memberikan balasan melalui email ini dalam kurun waktu 3 (tiga) hari kerja apabila terdapat hal yang ingin disampaikan.

Terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada kami. Melayani Bapak merupakan kebanggaan bagi kami.

Jadi, singkatnya proses top-up ke akun OVO gagal. Dan, beruntung saya hanya mengisi dalam nominal yang tidak terlalu besar. Apa jadinya kalau nominal besar yang ditransfer dan harus dalam kondisi seperti di atas?

Repot.

Update: Dana yang dijanjikan untuk dikembalikan ke rekening akhirnya saya terima pada 20 Juni 2019 sesuai dengan informasi yang dijanjikan.

Berpindah ke Layanan Biznet Home Internet dari Telkom IndiHome

Akhirnya, rencana saya untuk berpindah layanan dari IndiHome PT Telkom Indonesia telah berhasil akhir minggu lalu. Saya akhirnya menggunakan layanan Biznet Home Internet dari Biznet.

Proses Registrasi

Sebenarnya, sudah cukup lama saya ingin menggunakan layanan dari Biznet ini. Namun, saat itu jaringan belum tersedia. Saya pernah memang mengirimkan inquiry melalui email, namun tidak mendapatkan balasan. Mungkin saat itu memang karena layanan belum tersedia.

Saya tidak tahu kapan tepatnya layanan ini tersedia di tempat tinggal saya. Namun, saat melalukan pengecekan di awal bulan ini, ternyata layanan sudah tersedia. Akhirnya lakukan registrasi melalui laman web Biznet Home pada tanggal 4 Mei 2017. Saat itu, saya memilih paket Home Internet 1 dengan harga paket Rp 240.000,00.

Setelah saya lakukan registrasi, saya mendapatkan surel balasan yang berisi mengenai detil permintaan layanan, termasuk harga awal yang termasuk instalasi sebesar total Rp 487.000,00. Saat itu, saya tidak langsung melakukan pembayaran, karena saya belum mendapatkan kepastian apakah layanan tersebut memang dapat terpasang atau tidak.

Tanggal 5 Mei 2017, saya mendapatkan kontak dari Biznet yang akan melakukan survei terkait dengan jaringan. Siang hari, akhirnya ada dua orang dari Biznet yang datang ke rumah. Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa internet dapat terpasang, dan nanti akan dikirimkan beberapa informasi pemasangan beserta dengan instruksi pembayaran karena data registrasi saya perlu diperbarui. Sore harinya, saya mendapatkan informasi pendaftaran kembali melalui surel, dan saya langsung lakukan pembayaran.

123RF Verification on Credit Purchase

123RF

Disclaimer: This review is based on my personal experience. 123RF did not request me to write this article and I’m not endorsed or paid for making this review.

Today, I just decided to purchase some credits under my account at 123RF.com since I need to get some images from there. After creating an account, I simply made a purchase. It was a simple process. When I made the my purchase, I was connected to my office VPN. So, I was detected in Singapore while I was physically in Yogyakarta, Indonesia.

I filled in all billing information. I have been making lots of transactions using my credit cards, and I had most of them succeeded.

When I hit the purchase button, I got a notification saying that a verification process was needed and it would be by calling my phone number. I waited for the next few minutes. But, I didn’t get any phone call (on my mobile number).

So, I decided to contact 123RF from its Live Chat feature. So, I provided the customer service staff with my invoice number and some basic information about my order and account. The customer service staff informed me to make verification process based on the instruction sent to my email. She also requested my mobile number again and I gave her my numbers.

I replied the email with the information about my full name, bank account information, and my home address. I provided all the information based on my credit card information. No credit card number of verification number provided during this process.

In the next few seconds, I got a phone call from 123RF. She introduced herself as Jessica from 123RF, and she was using Bahasa Indonesia. She asked me for some details about my order and the situation that I made an order  from Singapore (while my address is in Yogyakarta, Indonesia). Of course, I was more than happy to give the best answer. Then, she told me that she would be back to work on my order.

After few minutes, I got another call from her telling that the credit was already under my account. I checked directly by refreshing my browser, and the credit was there.

Overall, I had a good experience on my first credit order. I know that each companies — when it comes to payment or security — has its own standard of the payment or security. 123RF has its own verification process. Based on my experience just now, 123RF made the verification simple enough.

Inbox by Gmail: Moving Spam email to Inbox

screen-shot-2016-09-13-at-2-32-16-pm

I’ve been using Inbox by Gmail as my default web-based email to manage emails powered by Gmail. The “Snooze” and “Pin” are just helpful to keep me organised with my emails. Everything works, but there is a small things that — in my opinion — little bit inconvinient: dealing with Spam.

Gmail’s spam filter is great. But, sometime, I found that Google makes mistakes on the spam identification. Of course, it should be easy to bring back emails marked as spam to the inbox. Well, not while using Inbox by Gmail.

Viewing an email under the Spam folder will give the same experience. How to move email to inbox?

There is a menu to “Move to…”, but I could not see “Inbox” as one of the folder. The solution? Simple: Pin it.

Pinned email will go back to the inbox. It’s much simpler with the classic Gmail.

Moving to Google Apps for Work

Google Apps for Work

It’s been two for around two months since my small office moved the email service to Google Apps for Work. So far, it’s been a great experience and I think it was the right decision to make.

Why Moving?

Before moving to Google Apps for Work, we manage the email servers on our own. Meaning, we needed to do the setup, maintenance, including backup. There are less than twenty email accounts to manage under two main domains. The email was hosted on a cloud-based server — we used DigitalOcean. Everything was running almost without any issues.

We depend on emails on day-to-day operation. At the same time, we need to have (almost) zero maintenance and increase our productivity. Our small team needs to share lots of things like documents, spreadsheets, and agendas. The thing is that we need to use our personal Google account to share documents. The other things is on the storage. I have more than 6 GB of email (for work). So, moving to Google Apps for Work is an anticipation. Here are some main reasons on the migration:

  1. Zero maintenance. By outsourcing the email service to Google, we at least only need to keep the domain active.
  2. Integration with other Google services like Google Docs, Google Sheets, Google Calendar, and more. The integration also includes the seamless collaboratoin between coworkers.
  3. Flexible storage. By default, I have 30 GB of storage for my Gmail, Google Drive, and photos. If later I need to upgrade, the price is pretty reasonable. 100 GB for IDR 27,000 (per account) is a good deal.
  4. Simple setup and management. Setting up each service provided by Google Apps for Work is very easy.

Migration Process

The migration process was pretty easy. Since there were only around 12 email accounts, so moving them individually did not take too much time. My coworkers moved all the email account by themselves. The only challenge is not to have the downtime. There is a simple guide to work on this area. During the registration process, I only need to use a primary domain — and setup the secondary domain as domain alias later on.

For the cost efficiency, I worked on the settings on email routing. For example, if there is an email address that was only accessed by specific people in the organisation, I created some routing rules. By this, I can minimise the number of accounts.

After all emails (including attachments) had been migrated to Google Apps, we kept the “old” servers online for few days just to make sure that no data left behind. I was not sure how long the whole processes was completed, but it was around one week.

Good story

“Telling a good story, whether that’s through email, film, or any medium, creates a connection. And it’s this connection that leads to attention, which leads to trust, which leads to sales.” — Mikael Cho: Why you don’t need design like Apple

Microsoft buys Wunderlist

Microsoft buys Wunderlist. Previously, Microsoft also bought Acompli, an email app for both iOS and Android which later rebranded as Outlook.

Waiting for my Website Stencil Kit from UI Stencils

wstn01721205812057

Last December 2014, I decided to buy Website Stencil Kit directly from UI Stencils website. Actually, I wanted to buy the other stencil kits, but since this is my first-time experience buying from this site, I purchased an item only. This is not my first international order since I have been ordering items from outside the country (Indonesia) few times. I had no issues purchasing books from Amazon, Smashing Magazine, and also some other goods from online stores. So, this is a valid reason to buy some stuff online.

I understand that it takes time. I had my Smashing Magazine’s The Mobile Book after waiting (and made another confirmation) for about 6 months. Amazon usually took 3-4 weeks.

I had my order confirmation from UI Stencils on December 26, 2015. Yes, I was aware that it might take a little bit longer since it was during Christmas and New Year holidays. The total transaction was $35.50 ($6.50 for shipping). A week after that, I got another email confirmation informing that my order have been shipped.

It’s been almost 6 weeks and I haven’t received my order. Well, I think I just need to wait a little bit longer.

Update: I reached UI Stensil Twitter account (@UIStencils)  about the situation and got a quick response via email.  Thank you! I was informed that it might take upto 6 weeks to arrive. And, they asked me to inform if I do not receive my order until the end of this February. Since they’re responsive, I think I can wait until first week or second of March.

Update March 20, 2015: Finally, I have just received my order. So, it took around 10 weeks to arrive.

Google Offers Free 2GB Extra for Google Drive

Screen Shot 2015-02-10 at 11.43.52 PM

Google offers 2GB of storage for Google Drive for those who completes Google’s security checkup process. This offer ends on February 17, 2015. It’s also to celebrate Safer Internet Day. Right now, I have 15 GB of storage for my Google Drive and use around 5 GB of it). There are still plenty of room for my storage, but 2 GB of free upgrade is too good to be skipped.

The security checkup is a simple and straight forward. It’s to make sure that your Google account is safe by doing some checking on these areas:

  • Recovery information. Make sure you to have an active phone number and alternative email for account recovery.
  • Recent activities. Review the recent login activities using Google account.
  • Account permission. Check the services, or apps you give permission to use or connect to Google account.
  • App password. You can use specific password for logins. So, using Google, you don’t always supply your primary password. If you’re not sure or find the applications you don’t recognize, remove them.
  • 2-step verification. I use this security method. Just make sure to have backup phone number there, including the backup codes.

Even this offer does not apply to Google Apps for Work and Google Apps for Education, but it’s recommended that Google account owners should review the security checkup. After completing the security review checkup, the additional storage will be automatically added at the end of February 2015.

Acquired: Sunrise, Launchpad Toys, MyFitnessPal and Endomondo

Lot’s of acquisitions just now: Google bought Launchpad Toys (story telling app maker), Microsoft just had Sunrise (the app calendar, and I’m using it on my iOS devices and Android) for $100 million. Not long ago, Microsoft also acquired Accompli, an email client app. MyFitnessPal and Endomondo just got acquired by Under Armour for $475 million and $85 million.

Ulasan Windows Phone 8 dan Aplikasi pada Ponsel Lumia

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang ponsel Lumia 535. Sebelum saya menuliskan artikel tersebut, saya sudah mencoba menggunakan ponsel (beserta dengan sistem operasi Windows Phone) walaupun belum dalam frekuensi sehari-hari. Selanjutnya, dalam waktu sekitar satu minggu terakhir, saya mencoba untuk menggunakannya dalam keseharian saya. Jadi, saya ingin mencoba ‘memberi kesempatan’ kepada ponsel Lumia (atau sistem operasi Windows Phone) ini untuk menjawab kebutuhan saya.

lma19735091275091725

Artinya, saya mencoba melakukan aktivitas rutin saya — yang biasanya saya lakukan di ponsel Android, iPhone dan iPad — di ponsel Lumia. Walaupun secara spesifik saya menggunakan Lumia 535 dalam tulisan ini, namun secara keseluruhan — koreksi jika saya salah — saya rasa saya bisa saja mendapatkan pengalaman yang sama ketika menggunakan jenis ponsel dari seri keluaran lain, sepanjang ponsel tersebut menggunakan sistem operasi Windows Phone.

Tulisan berikut berdasarkan versi Sistem Operasi Windows Phone 8.10.14226.359, versi Firmware 02055.00000.14511.22002.

Layar (yang mungkin terlalu) sensitif

Baik ketika saya menggunakan iPhone atau ponsel OPPO R819, saya tidak mengalami terlalu banyak perbedaan tentang sensitifitas layar. Gesture yang saya lakukan dapat berjalan dengan baik dan hampir tidak mengalami perbedaan berarti. Namun, ketika saya menggunakan ponsel Lumia, saya sering mengalami bahwa layar terlalu sensitif. Ketika saya swipe/scroll, saya sering mengalami bahwa gesture terbaca sebagai ‘tap’. Saya sebenarnya ingin scroll, namun sering kali malah membuka aplikasi. Dan, ini seringkali terjadi.

Email/surel (surat elektronik), Kalender, dan Kontak

wp_ss_20141125_0003

Secara prinsip, surel dapat dipergunakan dengan cukup baik, dalam pengertian bahwa seluruh surel saya baca melalui ponsel. Saya mencoba untuk menambahkan beberapa akun surel seperti Gmail, Yahoo Mail, Outlook, dan email kantor, semua dapat berjalan dengan baik.

Untuk kalender, saya menggunakan Google Calendar sebagai layanan utama untuk mengatur kalender/agenda. Dan, untuk kontak, saya menjadikan layanan Google (melalui Gmail) untuk pengelolaan kontak. Seluruh kontak saya dapat saya impor tanpa masalah.

Untuk kalender dan surel, saya harus berneogisasi dengan diri saya sendiri terutama pada bagaimana keseluruhan experience. Kalau fokusnya adalah bahwa informasi bisa saya dapatkan melalui ponsel Lumia, hal ini sudah terjawab.

Namun, bagaimana terkait dengan tampilan, pengalaman pengguna dan antar muka? Ini memang preferensi yang sangat personal. Tapi, saya harus bilang bahwa saya tidak terlalu menikmati untuk bekerja dengan surel dan kalender di ponsel Lumia saya.

Aplikasi Bertukar Pesan (Messaging)

Untuk bertukar pesan pendek, saya sudah hampir tidak pernah menggunakan SMS. Aplikasi utama yang sering saya pakai — diantara begitu banyak pilihan aplikasi chatting — adalah WhatsApp dan Telegram. Untunglah kedua aplikasi tersebut tersedia untuk Windows Phone.

Aplikasi WhatsApp di Microsoft Lumia (Windows Phone)
Aplikasi WhatsApp di Microsoft Lumia (Windows Phone)

(Tautan: WhatsApp untuk Windows Phone, Telegram untuk Windows Phone).

WhatsApp dan Telegram secara prinsip dapat berjalan dengan cukup baik secara performa. Dan, penting bagi saya karena kedua aplikasi tersebut dikembangkan resmi oleh penyedia layanan. Kadang, saya juga menggunakan Skype dan juga Blackberry Messenger. Saya tidak menggunakan Google Hangouts di Windows Phone, karena aplikasi resmi tidak bisa saya temukan. Dan,saya memang agak jarang menggunakannya — karena tidak banyak rekan dalam kontak saya yang menggunakannya secara aktif (dibandingkan dengan yang ada di WhatsApp atau Telegram).

Papan Ketik yang terlalu besar

Ini memang masalah selera, namun, menurut saya papan ketik (keyboard) yang dimiliki oleh ponsel Lumia ini memakan terlalu banyak area layar. Dan, secara pribadi saya sendiri kurang nyaman dengan kondisi ini.

Dukungan/pilihan aplikasi

Ponsel saat ini banyak sekali digunakan untuk kebutuhan yang bermacam-macam. Saya sendiri selain untuk keperluan pekerjaan, juga memanfaatkan ponsel untuk berinteraksi (melalui aplikasi bertukar pesan), ataupun menggunakan layanan media sosial untuk berbagi informasi, gambar, dan aktivitas lainnya.

Saya memiliki harapan untuk dapat tetap menggunakan aplikasi sehari-hari yang saya pakai walaupun saya berpindah ponsel (dengan sistem operasi berbeda). Hampir semua yang saya lakukan di iPhone dapat saya lakukan di Android — dan juga sebaliknya — walaupun dengan tampilan antar muka yang sedikit berbeda. Namun, secara umum saya mendapatkan pengalaman yang hampir sama.

Hal ini yang tidak bisa saya dapatkan melalui Windows Phone di ponsel Lumia saya. Kalaupun ada aplikasi sejenis, baik yang dikembangkan oleh penyedia layanan atau oleh pengembang lain, tetap saja secara keseluruhan saya kurang menikmati tampilan, disain, dan pengalaman aplikasi yang ditawarkan.

Di akhir tahun 2014, VentureBeat merilis tentang bagaimana aplikasi yang dikembangkan oleh masing-masing sistem operasi untuk perangkat bergerak. Dalam hal ini bagaimana aplikasi yang dibuat oleh Apple (iOS), Google (Android), dan Microsoft (Windows Phone) dan ketersediaannya di masing-masing pasar aplikasi.

Aplikasi Google, Apple, and Microsoft di sistem operasi bergerakDari grafik diatas, Microsoft memang cukup banyak menyediakan aplikasi buatannya untuk tersedia di sistem operasi lain. Tentu saja, di Windows Phone Store, Microsoft menjadi rajanya.  Bahkan, di Apple App Store, Microsoft justru memiliki aplikasi yang lebih banyak dibandingkan kompetitornya.

Namun, ini tidak sebaliknya. Secara aplikasi memang Microsoft memiliki jumlah yang banyak. Tapi, Apple dan Google sepertinya justru tidak tertarik untuk mendistribusikan aplikasi mereka (atau membuatnya tersedia) untuk Windows Phone.

Apple sendiri justru di Apple App Store hanya memiliki sedikit aplikasi. Tapi, sistem operasi, distribusi/penjualan ponsel menjadi magnet sendiri bagi para pengembang aplikasi atau perusahaan untuk membuat aplikasi tersedia disana.

Penutup

Setelah mencoba dalam penggunaan sehari-hari, serta menyesuaikan dengan kondisi sehari-hari bagaimana saya memanfaatkan sebuah ponsel, saya merasa bahwa untuk saat ini ponsel Lumia — dalam hal ini Microsoft Lumia 535 — kurang cocok untuk saya. Secara hardware, Microsoft Lumia 535 ini menurut saya cukup baik, namun terkait dengan aplikasi pendukung, banyak kebutuhan yang belum terjawab — bagi saya untuk penggunaan sehari-hari.

Catatan: Jika harus memilih salah satu aplikasi yang paling bagus (dan karena hanya tersedia di Windows Phone), saya tetap merasa MixRadio adalah aplikasi terbaik.

Ulasan Ponsel Microsoft Lumia 535 Dual SIM

Microsoft, sebagai perusahaan yang mengakuisisi Nokia, mengeluarkan produk ponsel pertama yang menghilangkan identitas “Nokia”, yaitu Microsoft Lumia 535. Jadi, tidak perlu bingung mengapa dulu ada istilah ‘Nokia Lumia’, namun nama Lumia sendiri sekarang tidak disandingkan dengan ‘Nokia’.

Microsoft Lumia 535

Pertengahan Desember 2014 ini, saya memutuskan untuk membeli Lumia 535. Produk Lumia 535 ini saya beli melalui pre-order di Blibli dan saat itu saya mendapatkan penawaran harga sekitar Rp 1.250.000,00 (pembayaran menggunakan kartu kredit). Saya memang cukup lama tidak menggunakan produk Nokia Lumia/Microsoft (sekarang Microsoft Lumia). Sehari-hari, saya sendiri menggunakan produk Apple (iPhone 5, iPad 3, dan MacBook Pro 15″ Retina Display), dan juga OPPO (OPPO R819). Jadi, secara sistem operasi di ponsel, saya sehari-hari menggunakan iOS dan Android.

Spesifikasi dan Disain

Untuk spesifikasi, saya tidak akan terlalu membahasnya disini. Ulasan lengkap tentang spesifikasi teknis Lumia 535 bisa dilihat langsung di situs Microsoft. Beberapa informasi singkat tentang spesifikasi dasar yang mungkin perlu dilihat adalah:

  • Mendukung dual SIM
  • Ukuran layar 5 inchi
  • Sistem operasi: Windows Phone 8.1 (Lumia Denim)
  • Kamera utama dan kamera depan dengan resolusi 5 MP
  • Dimensi: panjang: 140,2 mm, lebar: 72,4 mm, tebal: 8,8 mm, dan berat: 146 gram
  • Resolusi layar: qHD (960 x 540)
  • RAM: 1 GB
  • Memory internal: 8 GB. Dapat ditambah dengan MicroSD sampai dengan 128 GB.

Pilihan warna cukup beragam sesuai dengan selera yaitu hitam, putih, oranye, hijau, dan biru. Saya sendiri memilih warna oranye. Untuk finishing material casing adalah dengan finishing glossy. Secara disain, saya menyukainya. Walaupun dari sisi ukuran bukanlah yang paling kecil, dan paling tipis, namun secara keseluruhan dari sisi disain tidak mengecewakan. Paling tidak, masih cukup nyaman untuk dipegang dengan satu tangan. Untuk yang berjari agak pendek, mungkin akan terasa agak kurang nyaman dengan dimensi yang ditawarkan.