COVID-19: Kabupaten Sleman Tanpa Zona Hijau Per Akhir Juli 2020

Sudah sekitar 3,5 tahun ini saya menjadi warga Sleman, walaupun KTP masih Bantul. Walaupun angka kasus COVID-19 di Yogyakarta pada umumnya, dan di Kabupaten Sleman pada khususnya tidak sebanyak propinsip lain seperti Jakarta atau Jawa Timur, namun tetap saja, angkanya terus bertambah.

Hari ini, Kabupaten Sleman tidak lagi memiliki zona hijau, karena ditemukan kasus positif di Kecamatan Cangkringan — yang sampai dengan awal Juli 2020 tidak memiliki kasus.

Walaupun memang, tidak serta merta semua kecamatan saat ini berada dalam zona merah. Sempat juga di awal akhir Juni 2020 dilaporkan bahwa ada penurunan jumlah penambahan kasus, yang menjadikan tidak adanya kecamatan dalam zona merah di Sleman.

Mengenai definisi zona:

  • Zona Merah: Jika ada salah satu desa atau lebih di wilayah kecamatan dalam satu bulan terakhir terdapat penularan setempat atau transmisi lokal.
  • Zona Oranye: Jika ada lebih dari satu desa di wilayah kecamatan terdapat kasus positif aktif.
  • Zona Kuning: Jika ada salah satu desa di wilayah kecamatan pernah atau masih ada kasus positif.
  • Zona Hijau: Jika tidak pemah ada kasus positif di desa wilayah.

Semoga pertambahan kasusnya semakin terkendali. Stay safe!

Tak Ada Lagi Istilah ODP, PDP, dan OTG

Kementerian Kesehatan melalui Menteri Kesehatan Terawan mengubah penggunaan istilah yang sudah cukup akrab di telinga masyarakat seperti ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), dan OTG (Orang Tanpa Gejala) dengan beberapa definisi baru. Beberapa hari lalu, pemerintah juga ‘merasa’ bahwa istilah ‘new normal’ bukanlah sebuah pilihan yang tepat.

Pengubahan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). 

Perubahan istilah menjadi:

  1. ODP berubah istilah menjadi kontak erat
  2. PDP menjadi kasus suspek,
  3. OTG menjadi kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik)

Perubahan istilah ini kalau secara rasa — menurut saya pribadi — terkesan menjadi ‘tidak semenakutkan sebelumnya’. Entahlah. Istilah ‘kontak erat’ mungkin terasa lebih lembut dibandingkan ‘Orang Dalam Pemantauan’, begitu juga ‘suspek’ yang terasa lebih tidak semenakutkan ‘Pasien Dalam Pengawasan’.

Bertanam

Sejak terpaksa harus berada di rumah terus karena pandemi COVID-19, banyak aktivitas yang dulunya rutin menjadi terabaikan begitu saja. Ritme keseharian berubah dengan perlahan, dan muncul menjadi ritme baru — yang kadang tidak baru juga — yang seolah menjadi… normal.

Salah satu kegiatan yang dulu sering saya lakukan adalah bertanam. Itu adalah salah satu aktivtas yang saya sangat nikmati. Berkotor-kotor dengan tanah, menghabiskan akhir pekan dengan ke pasar tanaman — walaupun tidak selalu membawa pulang apapun, menyiangi rumput, atau bahkan memencar tanaman dalam pot menjadi beberapa pot.

Hampir empat bulan aktivitas tersebut saya tinggalkan. Ya walaupun tidak sepenuhnya. Menyiram tanaman masih cukup rutin. Paling hanya menggeser sedikit posisi pot, menyiangi rumput liar. Kecuali bagian menyiram tanaman, aktivitas lain belum tentu seminggu sekali saya lakukan.

Jadi, kalau sekarang muncul tren berkebun di rumah, atau grow your own food, saya malah hampir tidak melakukannya. Mungkin karena sudah terlalu capek dengan aktivitas sehari-hari.

Terawan tentang kalung antivirus Corona Kementan

Belum terlalu mempelajari isinya apa. Tapi yang penting adalah kalau itu membuat secara psikologis dan mentalnya itu percaya, imunnya naik.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tentang kalung antivirus Corona Kementerian Pertanian yang akan diproduksi massal (Sumber: Kompas)

AirAsia Indonesia Terbang Lagi untuk Beberapa Rute Domestik Mulai 19 Juni 2020

Setelah Lion Air yang membuka beberapa rute penerbangan domestik pada 10 Juni 2020 lalu, AirAsia Indonesia melakukan langkah yang sama. Beberapa rute penerbangan domestik akan dibuka mulai 19 Juni 2020.

Mengutip dari keterangan resmi dari situs AirAsia, berikut beberapa rute yang akan dilayani.

No. PenerbanganAsalTujuanBerangkatTibaFrekuensi (hari)
QZ 7520Jakarta (CGK)Bali (DPS)09.2512.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 7521Bali (DPS)Jakarta (CGK)12.5013.35Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 192Jakarta (CGK)Medan (KNO)12.1014.40Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 193Medan (KNO)Jakarta (CGK)15.0517.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu

Memang belum banyak, karena secara kebijakan dan karena perubahan standar prosedur operasional pasti banyak yang harus disesuaikan terlebih dahulu.

Rencana penerbangan saya bulan April 2020 lalu juga menggunakan maskapai ini, walaupun harus saya batalkan, dan sampai sekarang belum jelas juga status pengembalian dana karena pembatalan. Walaupun, kalau memang saya tidak eligible untuk mendapatkan refund ya tidak apa-apa, tapi status tiket kasus nomor 40585971 milik saya sampai saya tulis artikel ini juga masih “Sedang Berlangsung”.

Dear AirAsia Indonesia, I <3 you, but could you please check my case on the refund? If it should be closed and I could not get my refund, just close my ticket. Thank you!

Thomas Arie Setiawan, your happy customer
AirAsia Indonesia depart from Adistucipto Airport (JOG)

Secara prosedur, kurang lebih sama dengan bagaimana maskapai lain yang merujuk kepada Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

AirAsia Indonesia sendiri telah memiliki “Panduan Terbang Bersama AirAsia Selama Masa Kewaspadaan COVID-19”, dimana penumpang (untuk penerbangan domestik) disayaratkan untuk:

  1. Menunjukkan kartu dentitas diri (KTP atau tanda pengenal lainnya yang sah);
  2. Melengkapi dengan surat keterangan uji Rapid-Test dengan hasil non reaktif yang berlaku 3 hari atau Surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif yang berlaku 7 hari pada saat keberangkatan, atau Surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) yang dikeluarkan oleh Dokter Rumah Sakit/Puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas Test PCR dan/atau Rapid-Test;
  3. Mengunduh dan mengaktifkan aplikasi Peduli Lindungi pada perangkat telepon seluler

Dengan tambahan:

  1. Mengisi kartu kewaspadaan kesehatan elektronik (e-HAC) yang dapat diakses melalui aplikasi seluler e-HAC Indonesia (Android) atau http://sinkarkes.kemkes.go.id/ehac.
  2. Khusus penumpang dari/ke DKI Jakarta diharuskan memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang dapat diproses di https://corona.jakarta.go.id/id/izin-keluar-masuk-jakarta#11sektor
  3. Khusus penumpang tujuan akhir Bali wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif dan mengisi formulir https://cekdiri.baliprov.go.id/
  4. Khusus penumpang tujuan akhir Lombok wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif.
  5. Mengisi surat pernyataan AirAsia. (Surat pernyataan dapat diunduh di Google Drive dalam format PDF)

Walaupun saya belum ada rencana untuk bepergian dengan pesawat — dan sebisa mungkin menghindari bepergian jarak jauh apalagi sampai menggunakan moda transportasi umum — persyaratan perjalanan memang jauh lebih ketat. Tapi, saya lebih setuju kalau memang pesyaratan ini benar-benar dijalankan oleh seluruh pihak, termasuk penumpang.

Stay safe, good people!

dr. Reisa Kartikasasri Broto Asmoro

Saya mengikuti berita tentang Covid-19 selintas-selintas saja. Achmad “Pak Yuri” Yurianto sebagai juru bicara Pemerintah terkait kasus Covid-19 banyak muncul dalam pemberitaan karena beliau memang yang bertugas mengumumkan apapun terkait Covid-19. Dan apapun yang disampaikan adalah informasi resmi dari pemerintah.

Informasi paling umum ya tentu saja seperti statistik harian.

Ada yang sedikit berbeda kemarin ketika mengikuti berita — yang lagi-lagi saya ikuti dengan sekilas — tentang Covid-19. Nama dr. Reisa Broto Asmoro tiba-tiba muncul. Tak heran, karena dari sekian banyak berita, tiba-tiba saja ada sosok wanita yang ikut memberikan informasi terkait Covid-19 (di Indonesia).

Ternyata dr. Reisa Broto Asmoro ini merupakan anggota dari Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, mendampingi Pak Yuri sebagai juru bicara.

Lion Air Group akan Terbang Lagi untuk Rute Domestik 10 Juni 2020

Lion Air Group dengan maskapai Lion Air (kode penerbangan JT), Wings Air (kode penerbangan IW), Batik Air (kode penerbangan ID) akan kembali beroperasi pada 10 Juni 2020. Sebelumnya, mereka mengumumkan penghentian sementara operasional penerbangan domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Keputusan Lion Air Group dengan pertimbangan atas evaluasi setiap pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya, bahwa banyak calon penumpang yang tidak dapat melaksanakan perjalanan udara disebabkan kurang memenuhi kelengkapan dokumen-dokumen sebagaimana persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan selama masa kewaspadaan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Keterangan pers Lion Air terkait penghentian sementara operasional penerbangan domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Pembukaan kembali operasional pada 10 Juni 2020 tersebut didasarkan kepada pertimbangan bahwa “calon penumpang pesawat udara sudah semakin memahami serta akan dapat memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan pesawat udara yang ditetapkan selama masa waspada pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)”.

Keputusan ini juga merujuk kepada telah diterbitkannya Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Selain prosedur keselamatan dan kesehatan pribadi, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam penerbangan. Walaupun ini merujuk kepada rilis yang dikeluarkan oleh Lion Air, tapi saya rasa maskapai lain — dan moda transportasi masal lain seperti kereta api atau kapal kurang lebih akan sama, yaitu:

  1. Jika tes kesehatan yang digunakan Rapid Testmaka masa berlaku adalah 3 hari, atau jika tes kesehatan yang digunakan Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), maka masa berlaku ialah 7 hari, atau
  2. Apabila kedua metode tes di atas tidak tersedia di daerah asal, maka calon penumpang harus mendapatkan surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) dari dokter rumah sakit/ Puskesmas.Untuk itu calon penumpang Lion Air Group harus mencermati masa berlaku dari dokumen kesehatan yang digunakan.

Walaupun saya belum berencana untuk melaksanakan perjalanan ke luar kota lagi dalam waktu dekat, sepertinya hal tersebut perlu saya catat dulu sebagai rujukan. Yang pasti, memang tidak akan sesederhana dan sefleksibel sebelum era Covid-19.

Dan, tentu saja meluangkan waktu lebih lama untuk tiba di bandara, karena adanya prosedur-prosedur baru yang mengakibatkan proses persiapan pemberangkatan penumpang menjadi lebih lama.

Stay safe, everyone!

Siap Kembali ke Normal Lagi?

Karena kebijakan pemerintah Indonesia yang melonggarkan aturan terkait pembatasan sosial, yang entah dengan parameter atau pertimbangan yang mana — mungkin pertimbangan ekonomi adalah faktor utamanya — sepertinya suka atau tidak tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya.

Sulit sebenarnya untuk tidak membandingkan bagaimana penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia dengan negara lain. Memang sih, ada hal-hal yang sebaiknya tidak perlu dibanding-bandingkan. Tapi, karena ini sifatnya global, agak sulit untuk tidak membandingkan.

Dua hari lalu, Selandia Baru mengumumkan untuk membuka diri dengan lebih luas. sejak mereka melakukan lockdown mulai 25 Maret 2020 lalu. Negara ini menurunkan sistem peringatan menjadi Tingkat 1 (Level 1) dari standar peringatan Tingkat 4 dari yang mereka punya.

Kegiatan ekonomi mulai berjalan dengan normal, tidak ada jaga jarak. Mungkin bisa dibilang mendekati normal.

Tapi, semua itu dilakukan setelah lebih dari dua minggu tidak ditemukan kasus positif baru Covid-19.

While we’re in a safer, stronger position, there’s still no easy path back to pre-Covid life, but the determination and focus we have had on our health response will now be vested in our economic rebuild.

Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru

Melihat video dan berita tentang Selandia Baru, rasanya kok senang ya. Walaupun, itu tidak terjadi di negara tercinta ini. Ada kepedulian dari negara, ada peran serta masyarakat yang begitu terasa. Suka saja gitu.

Kembali ke Indonesia…

Grafik penambahan kasus per hari sepertinya belum ada terlihat menurun atau melandai. Yang ada, malah tambah banyak. Di saat sudah mulai digadang-gadang untuk memasuki normal baru, pada 9 Juni 2020 jumlah kasus terkonfirmasi malah menunjukan angka tertinggi, 1.043 kasus.

Tentu saja, kondisi Selandia Baru tidak begitu saja dijadikan benchmark. Demografi berbeda, jumlah penduduk berbeda, pemahaman tentang kesehatan dan sanitasi juga berbeda, kebijakan politik berbeda, dan masih banyak “berbeda” yang lainnya.

Tidak semua orang memiliki kemewahan yang sama untuk dapat bekerja dari rumah. Bahkan, mungkin jumlah orang yang benar-benar bisa berada di rumah, dengan segala macam kebutuhan hidup “terkirim ke rumah” juga jumlahnya lebih banyak.

Kantor mulai buka walaupun terbatas. Tempat publik yang memicu keramaian, juga mulai dibuka, dengan protokol yang ada yang keberhasilannya ditentukan oleh masyarakat sendiri.

Menurut saya, siap atau tidak seiap dengan “normal baru” ini lebih kepada bagaimana kita mengelola risiko. Kalau dirasa ada risiko yang cukup besar, tentu hal yang bijaksana adalah bagaimana kita menghindari atau meminimalkan dengan sebaik-bainya.

Kalau memang tidak harus bepergian, untuk keperluan yang benar-benar penting, mungkin bisa dibatalkan, atau dikelola waktunya — jika waktu bisa lebih fleksibel. Saya beberapa minggu lalu juga kadang masih harus ke supermarket. Tapi, waktunya saya kondisikan ketika di jam-jam tidak sibuk. Tentu saja, bersyukur karena memiliki fleksibilitas itu.

Jangan sampai Malioboro ditutup

Jangan sampai (Malioboro) saya tutup, jangan sampai terjadi Covid kedua, itu harus kita hindari. Jadi saya minta kesadaran mereka yang ada di Malioboro.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, tentang aktivitas warga Jogja yang berkumpul (terutama di kawasan Malioboro) tanpa masker. (Sumber: Kompas)

Bill Gates tentang Virus Corona

Saya baru saja melihat wawancana Trevor Noah dengan Bill Gates tentang topik yang tentu saja menjadi topik nomor satu di duni saat ini: virus Corona (COVID-19).

Dari begitu banyak video yang membahas tentang virus Corona, saya menikmati wawancana ini. Topik dan alurnya serius — karena toipk ini memang serius — tapi menarik untuk diikuti.

Video lain yang tak kalah menarik untuk disimak tentu saja video Bill Gates dalam acara TED di tahun 2015 lalu yang membawakan topik “The next outbreak? We’re not ready”.

COVID-19 dan Yang Terdekat

Puji Tuhan, sampai dengan hari ini diberi kesehatan. Membaca perkembangan COVID-19 melalui media daring di dunia, khususnya di Indonesia makin hari kok rasanya makin mengkhawatirkan. Saya bukannya tidak optimis bahwa wabah ini akan segera selesai, tapi bagaimana pemerintah menyikapi kok sepertinya sangat jauh dari harapan ya…

Sejak wabah ini muncul di pemberitaaan, apa kata pejabat di pemerintahan? Seorang menteri kesehatan di republik ini saja berkomentar yang secara impresi memperlihatkan ketidakseriusannya. Entah apa motifnya. Menghindari kepanikan? Mungkin. Karena memang tidak tahu? Entah. Terkesan sombong? Tidak tahu juga.

Tentu saya memiliki kekhawatiran. Apalagi, beberapa kerabat dekat saya juga suka tidak suka akan berada dalam kondisi yang memiliki risiko.

Adik saya, bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Jogjakarta. Adik saya yang lainnya — cowok, dulu sekolah di perawatan — sebelum wabah ini makin besar bekerja memeriksa kesehatan pengemudi truk yang melintas pada pagi hari di area pinggir propinsi.

Tante saya, punya sebuah klinik di daerah Jogja bagian timur. Dimana kliniknya juga melayani beberapa pasien jika memang perlu rawat inap. Beberapa teman sekolah juga ada yang menjadi dokter dan bidan di luar Pulau Jawa. Ada teman dalam kumpulan yang bekerja di salah satu rumah sakit rujukan COVID-19.

Saya kenal dengan mereka. Dan, saya yakin lebih banyak orang yang memiliki kondisi yang jauh lebih tidak mengenakkan dari saya.

Tetap sehat, kalian semua.

Tiga Minggu Bekerja dari Rumah. Apa Kabar?

Tiga minggu sudah aktivitas untuk berada di rumah dalam menerapkan social distancing saya jalani, sebagai salah satu usaha untuk mengindari persebaran COVID-19. Walaupun konsep bekerja dari rumah (work from home) atau bekerja jarak jauh (remote working) sudah bukan hal baru, namun kali ini sangat berbeda.

Alih-alih bekerja dari rumah, yang sering terjadi justru ini adalah momen “berada di rumah, dan berusaha kerja”, karena kondisinya memang ‘tidak seperti biasanya’. Ruang gerak terbatas, mobilitas juga terbatas. Apalagi, tetap berada di rumah dengan mengurangi sekali interaksi sosial secara fisik.

Bagi saya yang suka dengan interaksi sosial, yang merasa energized jika bertemu orang atau berada di luar rumah, ini tidak mudah.

Bekerja

Saya cukup beruntung karena memiliki priviledge untuk dapat bekerja dari rumah, atau pekerjaan saya memang bisa dikerjakan secara jarak jauh, tidak selalu perlu bertatap muka. Sedih rasanya, karena bekerja bagi orang lain tidak semudah itu — dan setiba-tiba itu — digantikan dengan konsep bekerja dari rumah.

Bekerja dengan sepenuh hati, dengan sebaik-baiknya. Itu konsepnya. Namun, di saat yang sama banyak sektor usaha yang terpengaruh karena wabah COVID-19. Yang artinya, ini bisa terjadi kepada siapa saja, kapan saja.

Pengembalian Dana (Refund) AirAsia Indonesia

Saya suka terbang bersama dengan AirAsia. Ketika di Indonesia harga tiket pesawat juga mengalami lonjakan, sampai AirAsia akhirnya memilih untuk meninggalkan layanan OTA (Online Travel Agent), dengan senang hati saya memesan langsung melalui situsnya (kadang juga melalui aplikasi mobile).

Hari Sabtu tanggal 7 Maret 2020 dari Jakarta menuju Jogjakarta adalah penerbangan saya yang terakhir bersama AirAsia Indonesia. Saat itu, penerbangan berjalan dengan sangat baik. Saya tidak mengeluh sama sekali.

Rencananya, tanggal 15 Maret 2020 saya akan terbang bersama dengan satu rekan kerja ke Jakarta — dari Jogjakarta — dan pulang tanggal 17 Maret 2020 dengan AirAsia Indonesia. Lagi-lagi, karena saya memang puas dengan layanan yang diberikan, dan karena jadwal yang kebetulan sesuai.

Tapi, penerbangan harus dibatalkan, karena saya memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas perjalanan karena perkembangan pandemi Corona Covid-19 yang tidak membaik, bahkan sebaliknya.

Saya melakukan proses pengajuan pengembalian dana melalui mekanisme yang ada. Walaupun, sampai sekarang memang belum ada perkembangan yang berarti.

Pengembalian dana akan dikreditkan dengan cara yang sama dengan metode pembayaran yang digunakan untuk memesan.

Status terakhir pada halaman pencatatan kasus.