Mampir Kawasan Wisata Kaliurang (Telogo Putri)

Bulan lalu, tanpa terlalu direncana, kami malah mampir ke kawasan wisata Kaliurang, lebih tepatnya ke Telogo Putri. Tidak terlalu banyak ekspektasi, kecuali untuk sekadar keluar rumah dan mengunjungi tempat terbuka. Berutung lokasi Kaliurang tidak terlalu jauh, hanys ekitar 20km saja dari rumah.

Waktu itu hari masih cukup pagi, jadi harapannya memang jalanan dan lokasi belum terlalu ramai.

Beruntung pagi itu cuaca cukup baik. Dan, sesampai di kawasan Kaliurang, kabut cukup tips, cuaca dingin, dan tidak terlalu banyak orang. Kawasan parkir Telogo Putri pagi itu juga tidak terlalu ramai dengan kendaraan pribadi.

Saya lupa kapan kali terakhir saya ke tempat ini, tapi lebih dari dua atau 3 tahun lalu. Kali ini, tentu saja berbeda. Selain bawa anak, lokasi juga terlihat berbeda. Lebih sepi. Tentu ini terkait karena memang operasional tidak seperti dulu. Sekarang, banyak tempat cuci tangan, dan spanduk informasi untuk tetap menjalankan protokol kesehatan COVID-19.

Awalnya sempat ingin masuk. Tapi, loket tiket tertutup rapat. Mungkin memang sedang ditutup sementara, atau belum buka. Tak mengapa, karena memang tujuan utama kami hanya sekadar jalan-jalan saja.

Para penjual jadah tempe dan aneka jajanan masih ada seperti biasa. Warung makan ada yang buka, tapi sepertinya lebih banyak yang tutup. Sedih juga sebenarnya melihat kondisi ini. Kami saat itu tidak membeli jajanan apa-apa.

Oh ya, yang jelas terlihat berbeda adalah begitu banyaknya terlihat monyet di sekitar kawasan luar loket tiket. Ada yang di warung-warung makan. Ibu-ibu pemilik warung sepertinya juga sudah cukup terbiasa dengan kondisi ini. Sepertinya mereka turun dari hutan untuk mencari makan. Sempat saya lihat ada beberapa monyet keluar dari warung yang pintunya tidak tertutup rapat sambil membawa seplastik kerupuk.

Dan, ketika mau pulang, ada beberapa orang yang baru saja membeli oleh-oleh, plastik bawaan yang berisi makanan juga “dirampas” oleh monyet. Jadilah plastik pembungkus sobek, dan makanan berceceran. Tak butuh waktu lama kawanan monyet mendekat untuk berebut.

Kenaikan Upah Minimum Propinsi DIY Tahun 2021 Sebesar 3,54%

Mulai tanggal 1 Januari 2021, Upah Mininum Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta akan mengalami kenaikan sebesar 3,54% menjadi Rp1.765.000. Keputusan ini ditetapkan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui Keputusan Gubernur DIY nomor 319/KEP/2020 tentang Penetapan UMP DIY 2021 pada hari Sabtu, 31 Oktober 2020.

Sebenarnya, kenaikan ini justru tidak sesuai dengan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan UMP tahun 2021 yang menganjurkan agar tidak ada kenaikan upah minimun di tahun 2021 karena pandemi COVID-19.

Merujuk ke publikasi dari situs Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta:

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi sekaligus Ketua Dewan Pengupahan Provinsi DIY, Aria Nugrahadi, S.T., M.Eng. menyampaikan, rekomendasi ini merupakan hasil sidang pleno Dewan Pengupahan DIY. Sidang terdiri atas tiga unsur yaitu pemerintah, pekerja/buruh dan pengusaha. Pembahasan kenaikan UMP ini juga mempertimbangkan peningkatan perekonomian bagi pekerja dan kelangsungan usaha pada saat pandemi Covid-19. Selain itu untuk menjaga stabilitas dan menciptakan suasana hubungan industrial yang kondusif.

Hasil Rekomendasi Dewan Pengupahan DIY yang disepakati berupa saran dan pertimbangan kenaikan Upah Minimum, sebesar 3,33% berdasarkan kajian tenaga ahli menggunakan data BPS. Unsur pengusaha tidak berkeberatan atas kenaikan Upah Minimum sebesar 3,33%

Sumber: Situs Pemda DIY tentang kenaikan UMP DIY tahun 2021

Kenaikan akhir memang lebih tinggi dari rekomendasi. Sebagai perbandingan, untuk Jawa Tengah, kenaikan UMP untuk tahun 2021 adalah sebesar 3,27%. Oh ya, untuk tahun 2020, UMP DIY adalah sebesar 1.704.068.

Walaupun mengalami kenaikan, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki UMP paling rendah jika dibandingkan secara nasional. Angka tersebut sedikit lebih kecil dari UMP Jawa Tengah yakni Rp1.742.015 dan Jawa Timur Rp1.768.777.

Wajah Malioboro Saat Libur Panjang Akhir Oktober 2020

Oktober 2020 ditutup dengan libur panjang. Saya yang tinggal di daerah utara Yogyakarta, walaupun hanya sesekali keluar rumah dan harus melewati Jalan Kaliurang (utara ring road) — Jakal atas kalau banyak orang Jogja menyebutnya — merasakan suasana yang berbeda.

Dari arah selatan menuju utara — karena banyak obyek wisata yang ke arah Kaliurang — sudah terjadi kemacetan. Mobil berplat luar kota cukup banyak terlihat.

Hari berikutnya, melewati banyak tempat makan yang sepertinya kalau orang luar Yogyakarta akan mampir, terlihat penuh. Jalanan, tentu saja lebih ramai. Perempatan ring road Jl. Affandi dan Jl. Kaliurang, terlihat padat.

Malioboro? Saya tidak terpikir untuk melewatinya. Tapi, semoga foto di bawah ini cukup menggambarkan kondisi Malioboro. Obyek wisata lain, mungkin juga jauh lebih ramai dari biasanya.

Seorang teman yang mengelola penginapan di daerah Yogyakarta bagian selatan juga kebanjiran pesanan. Seluruh kamar full booked.

Selamat datang di… Yogyakarta.

Kendala Teknis Bekerja dari Rumah

Walaupun menjadi keinginan banyak orang, namun bekerja dari rumah tak lepas dari kendala. Baik itu kendala yang bisa diantisipasi karena kita memiliki kontrol, tapi ada juga kendala yang muncul karena faktor di luar kita. Puji Tuhan, saya saat ini dapat bekerja dari rumah, sebuah berkat tersendiri, apalagi ditambah dalam kondisi sulit COVID-19 ini.

Ada yang sifatnya teknis, tapi ada pula yang non-teknis, terutama gangguan yang muncul karena… kita ada di rumah. Teorinya, ini tentang bagaimana kita mengelola distractions. Atau, ini tentang bagaimana kita fokus bekerja. Nyatanya, memang tidak selalu semudah teori yang ada.

Kendala atau gangguan non-teknis, tentu ada, bahkan banyak. Tapi setelah tujuh bulan lebih benar-benar ada di rumah, ada beberapa kendala utama: mati listrik dan koneksi internet.

Mati Listrik

Saya tidak tahu berapa frekuensi mati listrik dalam satu bulan untuk dikatakan “sering” atau “jarang”. Tapi, dalam satu bulan, mungkin ada beberapa kali waktu. Saya tidak hitung persisnya, tapi mungkin sekitar 2-3 kali dalam satu bulan.

Kebanyakan memang karena kegiatan perawatan, instalasi, atau kegiatan lain yang sudah terjadwal. Bukan karena misalnya daya di rumah tidak mencukupi. Biasanya, kalau lagi kena giliran mati listrik, mati listrik berlangsung sekitar 2 (dua) jam. Dan, biasanya juga berlangsung di jam kerja. Selama ini di area saya antara jam 10.00-13.00 WIB.

Agak sedikit berbeda jika mati listrik di luar jadwal. Karena sepertinya sudah masuk musim penghujan, kadang tiba-tiba saja mati listrik. Pernah terakhir kali kalau tidak salah hampir 4 (empat) jam. Duh!

Saya sih yakinnya cuma kalau ada masalah pasti akan disegerakan untuk diperbaiki oleh PLN. Beruntung juga di kompleks perumahan saya, cukup sering warga langsung kontak PLN dan mengabarkan ke grup perumahan kalau sudah dilaporkan.

Baca juga: Pengalaman Merasakan Layanan yang Baik dari Aduan Pelanggan PLN

Koneksi Internet

Kendala yang berikutnya adalah gangguan koneksi internet. Walaupun bisa dikatakan gangguan ini sangat jarang terjadi untuk koneksi internet di rumah yang saya pakai, tapi karena lagi-lagi tetap butuh listrik, kalau listrik mati, otomatis koneksi internet juga terganggu.

Ada opsi untuk tethering menggunakan koneksi dari ponsel. Masalahnya, ketika listrik mati, koneksi internet dari ponsel juga terganggu, susah sekali — koneksi sangat tidak stabil — untuk mendapatkan koneksi dari provider XL maupun Telkomsel yang saya gunakan.


Berbeda dalam kondisi biasanya yang saya dengan mudah mencari tempat untuk bekerja misal di warung kopi, kali ini saya memilih mengandalkan koneksi yang ada. Kalau sampai listrik mati cukup lama, dan laptop yang saya gunakan juga sudah saatnya harus istirahat dulu, ya apa boleh buat, harus mengandalan ponsel atau piranti lainnya.

Rental Bioskop Cinépolis

Sepertinya, penawaran untuk merental bioskop Cinépolis Indonesia baru-baru ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang ingin menikmati nonton film dengan suasana bioskop — layar besar dan audio yang memanjakan telinga memang sulit tergantikan. Cinépolis — dulu namanya Cinemaxx — memiliki beberapa paket layanan rental.

Saya kunjungi situs cinepolisrental.com dan beberapa inforamsi sudah ada disana. Selain untuk menonton dengan fasilitas standar menonton bioskop ala Cinèpolis Indonesia, rental ini bisa juga untuk keperluan lain seperti gathering, meeting, pesta, atau main game bersamaan. Yang pasti, jika ini terkait “berkumpul dalam jumlah terbatas, dengan orang-orang yang sudah dikenal/ditentukan saja”, tentu ini menjadi opsi menarik.

Ada tiga pilihan paket:

  1. Squad, harga Rp599.000,-
  2. Superhero, harga Rp799.000,-
  3. Empire, harga Rp999,000,-

Fasilitas ketiga paket tersebut sama yaitu untuk durasi 2 jam (dengan tambahan 1 jam sebelum dan setelah acara), menentukan film dan waktu. Yang membedakan adalah kapasitas maksimum pengunjung, yaiut 15, 20, dan 25 orang.

Mungkin layanan ini cocok untuk mereka yang ingin tetap menikmati hiburan di bioskop — walaupun tidak harus nonton — tapi bersama dengan orang-orang yang lebih terseleksi, sehingga faktor kesehatan dan keamanan di masa pandemi COVID-19 ini lebih terjaga.

Sayangnya, memang belum semua bioskop Cinèpolis mendukung promo/layanan ini. Saat ini, baru berlaku di Jakarta, yaitu Pluit Village, Plaza Semanggi, Gajah Mada Plaza, Tamini Square, Cibubur Junction dan Metro Kebayoran. Periode waktu berlangsung sampai 3 November 2020, dan dapat berubah. Mungkin bisa berlangsung lebih cepat, atau sebaliknya.

Terkait dengan materi film, apakah boleh membawa film sendiri atau tidak, dan pilihan film apa saja, kondisinya cukup sederhana:

  1. Film yang diputar hanya yang sedang berlangsung di Cinèpolis,
  2. Jika membawa film sendiri, film diharusnya merupakan film yang original.

Untuk memutar di layar besar, pihak Cinèpolis hanya menyediakan kabel HDMI saja. Jadi laptop dan piranti lainnya perlu disediakan sendiri.

Tertarik?

AirAsia Sekarang dengan airasia.com, Super App untuk Pasar ASEAN

Masih dari dunia penerbangan, AirAsia juga melakukan transformasi menjadi super app. Beberapa waktu lalu, ketika saya mengunjungi kembali situs AirAsia.com, saya mendapati beberapa hal yang berbeda. Saya iseng untuk mencari sebuah jadwal penerbangan dengan rute domestik. Hasilnya? Ternyata hasil pencarian tidak seperti sebelumnya yang hanya menampilkan jadwal penerbangan yang dilayani oleh AirAsia, tapi juga didominasi oleh penawaran dari maskapai lain.

Juni lalu, AirAsia juga sudah membuka beberapa penerbangan domestik di Indonesia.

Di Indonesia saja, AirAsia mungkin tidak melayani banyak rute dibanding dengan maskapai lain. Apalagi di masa pandemi COVID-19 sekarang ini. Pencarian pilihan perjalanan sekarang menggunakan/berafiliasi dengan Kiwi.com.

Dengan menjadi super app, banyak layanan yang sekarang dapat dipesan melalui situs airasia.com maupun aplikasi. Saya sendiri, belum mencoba satupun. Penasaran juga, apakah ini akan sebaik layanan sejenis seperti Traveloka atau Tiket.com.

Juga, airasia.com memperkenalkan logo dan identitas baru.

Peluncuran aplikasi super airasia.com merupakan wujud inovasi berkelanjutan dari airasia guna meningkatkan nilai tambah bagi pelanggan. Kami memahami kebutuhan pelanggan akan fleksibilitas perjalanan, sehingga kami meluncurkan inovasi baru AirAsia Unlimited Pass, fasilitas yang memungkinkan pelanggan untuk pesan sekarang dan terbang nanti, yang kini telah tersedia di beberapa negara dan menjadi model untuk maskapai lain. Kami memahami saat ini pelanggan sudah sangat ingin bepergian, sehingga kami meluncurkan SNAP, paket tiket pesawat plus hotel dengan jaminan harga terbaik. Kami juga memahami saat ini masyarakat ingin berbelanja dengan nyaman dari rumah, dan oleh karenanya kami menghadirkan layanan belanja dan pengiriman ke rumah untuk produk bebas cukai, makanan dan hidangan segar untuk beberapa wilayah

Karen Chan, CEO airasia.com (sumber)

Untuk jasa penerbangan, AirAsia masih salah satu favorit saya. Bukan hanya karena harga tiket yang oke, tapi juga layanan yang juga baik. Walaupun karena kondisi khusus, pengalaman terakhir dengan AirAsia adalah tentang pengembalian tiket (refund) yang sepertinya juga belum ada kejelasan.

Thai Airways, Restoran Bertema Pesawat, dan Pa Tong Go

Dari sekian banyak industri dan bisnis di dunia, indsutri perjalanan mungkin salah satu yang terkena dampak sangat besar, dan sangat cepat. Tak butuh berbulan-bulan untuk dampaknya langsung dirasakan.

Karena orang juga mulai berpikir ulang untuk bepergian entah untuk urusan pekerjaan atau hiburan, industri penerbangan — yang otomatis juga memengaruhi industri lain dalam sektor pariwisata — langsung perlu penyesuaian. Mulai dari pengurangan rute, pengurangan frekuensi penerbangan, termasuk pengurangan beban operasional lainnya.

Sedih melihatnya. Ditambah ketika pembatasan perjalanan harus dilakukan karena regulasi dari otoritas.

Thai Airways salah satunya. Untuk tetap membuat operasional berjalan, mereka melakukan beberapa penyesuaian bisnis, melakukan adaptasi, seperti yang dilakukan oleh puluhan, ratusan, atau bahkan jutaan bisnis di dunia.

Restoran Thai Airways

Restoran yang ditawarkan oleh Thai Airways ini memberikan pengalaman makan dengan tema ‘penerbangan’. Dengan menu, armosfer, dan pengalaman khas ala Thai Airways. Tentu, ini juga sudah pasti Thai Airways tidak bisa mengoperasikan penerbangan komersialnya.

Patong-go

Berikutnya, Thai Airways juga mulai melakukan langkah yang lain yaitu berjualan roti goreng, dengan nama patong-go atau diistilahkan dengan deep-fried dough. Mungkin kalau di Indonesia, mirip seperti cakwe, atau bolang baling. Atau, mungkin odading lebih bisa lebih mirip dengan ini. Tentu, kita tak perlu mendebatkan mana yang duluan apakah pa tong go, odading, cakwe, atau bolang baling yang duluan. Atau malah galundeng?

(Photo: Chanat Katanyu/Bangkok Post)

Acting THAI president Chansin Treenuchagron told reporters that the fried dough sticks were popular and people formed long queues to buy them each morning at the airline’s five food outlets in Bangkok. Monthly sales were around 10 million baht. Encouraged by this, the airline planned to franchise its fried dough sticks, so THAI and its partners could mutually benefit from their popularity.

Bangkok Post: Thai Airways cashing in on fried dough

Semangat!

Menjajal GrabCar GrabProtect dari Grab Indonesia dengan Kualitas Layanan yang Berbeda

Saya suka menggunakan layanan Grab dan Gojek. Masing-masing punya kelebihannya sendiri, terutama untuk fitur transportasi, pemesanan makanan, dan pengantaran barang. Untuk Grab, layanan yang paling saya gunakan adalah GrabFood. Layanan transportasi seperti GrabBike dan GrabCar juga kadang saya gunakan. Namun, sejak pandemi COVID-19, sudah lebih dari 7 (tujuh) bulan saya tidak menggunakan kedua layanan transportasi ini.

Sampai minggu lalu, akhirnya saya menggunakan layanan transportasi dari Grab, yaitu GrabCar. Layanan ini akhirnya saya gunakan karena saya perlu melakukan perjalanan, dan saya memang tidak membawa mobil sendiri. Dari pilihan yang ada yaitu menggunakan layanan kendaraan roda dua atau roda empat, saya memutuskan untuk memilih layanan roda empat (GrabCar). Grab juga menjadi salah satu opsi saya ketika di Jogjakarta, ataupun ketika saya bepergian ke Jakarta.

Ketika melihat pilihan armada di aplikasi Grab, saya diberikan saran untuk menggunakan layanan GrabCar Protect selain GrabCar, GrabTaxi, GrabCar Plus, GrabCar 6, dan GrabGerak. Dan, saya bepergian sendirian.

Di situs Grab, ada sedikit penjelasan mengenai GrabProtect ini.

Menurut deskripsi, tentang GrabCar Protect ini:

GrabCar Protect adalah transportasi khusus yang menyediakan layanan ekstra dalam keamanan dan kenyamanan perjalanan dalam situasi COVID-19.

Jadi, diantara opsi yang ada, jika konteksnya adalah opsi paling “aman”, maka GrabCar Protect seharusnya menjadi pilihan utama. Dan, dibandingkan dengan opsi kendaraan yang lain, harga juga sedikit lebih mahal (jika dibandingkan dengan GrabCar, bahkan GrabCar Plus dan GrabCar 6. Masih tentang GrabCar Protect ini, kalau di aplikasi, ada beberapa hal yang dituliskan, yaitu:

  1. Kapasitas 1-3 penumpang
  2. Partisi plastik untuk melindungi pengemudi dan penumpang
  3. Pengemudi mendapatkan pelatihan khusus dan SOP
  4. Pengemudi dengan APD (masker, sarung tangan, pembersih tangan)
  5. Penyemprotan desinfektan secara berkala pada mobil
  6. Tarif yang tertera termasuk biaya pemesanan senilai Rp4.000 yang mencakup inovasi fitur keselamatan terbaru, pelatihan pengemudi, asuransi perjalanan dan biaya operasional lainnya.

Sedikit tambahan dalam deskripsi juga ada keterangan “Extra protection from Lifebuoy”. Dengan segala informasi tersebut, cukup menjadi alasan bagi saya untuk akhirnya memilih GrabProtect.

Perjalanan Pertama: Puas dan Menyenangkan

And, I felt safe.

Itulah pengalaman yang saya dapatkan ketika kali pertama menggunakan layanan ride sharing Grab dengan armada GrabProtect. Jelas saja ekspektasi jauh berbeda dibandingkan sebelum masa pandemi COVID-19.

Kenapa saya puas dan perjalanan pertama di hari itu berlangsung dengan menyenangkan dan ada perasaan aman? Karena:

  1. Sekat partisi antara kabin pengemudi dengan penumpang terpasang dengan baik
  2. Pengemudi menggunakan masker
  3. Kondisi mobil bersih
  4. Ada cairan hand sanitizer di kantong pintu penumpang

Dengan kondisi tersebut, saya tidak keberatan juga untuk diajak mengobrol, walaupun memang tidak sepanjang perjalanan. Saya sendiri juga menggunakan masker, kacamata, dan juga membawa hand sanitizer dalam tas.

Setelah selesai perjalanan, dengan senang hati saya memberikan rating 5, walaupun pengemudi juga tidak spesifik meminta saya memberikan rating 5.

Perjalanan Kedua: Tidak Begitu Menyenangkan

Dari begitu banyaknya perjalanan yang saya lewati menggunakan Grab atau Gojek, saya kadang tetap bisa menerima misalkan perjalanan bisa dikatakan “tidak sempurna”. Pengemudi agak ngebut, saya masih OK terlebih ketika terlihat juga percaya diri dalam membawa kendaraan. Salah rute, saya juga pernah. Memilih untuk turun karena tujuan terlanjur dilewati daripada harus putar balik dengan jarak yang jauh, saya juga tidak keberatan.

Nah, perjalanan kedua dengan armada GrabCar GrabProtect di hari yang sama kemarin bisa dikatakan tidak begitu menyenangkan. Kenapa?

  1. Driver tidak menggunakan masker! Saya tahu, sudah ada sekat antara pengemudi dan penumpang, tapi tidak menggunakan masker bukan sebuah gesture yang baik menurut saya. Karena, tetap saja, mobil adalah sebuah tempat dengan area yang tertutup dan ada sirkulasi dari AC.
  2. Tidak ada hand sanitizer yang dapat diakses secara mandiri oleh penumpang. Entah memang tidak ada, atau sebelumnya ada tapi ketika saya naik tidak ada disana. Walaupun, ini tidak terlalu masalah bagi saya karena saya sudah bawa sendiri.

Dan, dibandingkan dengan pengemudi sebelumnya, dengan tidak menggunakan masker justru pengemudi yang ini lebih sering mengajak ngobrol. Saya tidak begitu nyaman, tapi saya juga coba tetap sopan dengan menjawab seperlunya. Foto sengaja tidak saya publikasikan dalam artikel ini, namun ada dalam ponsel saya. Saya sengaja tidak menegur, karena saya masih ragu dengan reaksi yang akan saya terima. Mungkin saya kurang tepat membiarkannya, tapi saya sadar dengan keputusan saya saat itu.

Selesai perjalanan, saya tetap mengucapkan terima kasih, dan pengemudi meminta saya untuk jangan lupa memberi bintang 5. Sebenarnya, kalau mau fair, saya ingin memberi bintang 3. Tapi, niat tersebut saya batalkan. Saya memilih untuk tidak memberikan rating sama sekali.


Mungkin saya berlebihan, tapi dalam kondisi yang agak khusus saat ini, dengan adanya opsi dari penyedia layanan bagi konsumen, tentu hal tersebut merupakan sesuatu yang harus diapresiasi. Semoga penyedia layanan seperti Grab dalam kondisi ini juga memperketat prosedur operasional. Tapi, pengemudi dan penumpang juga memegang peranan penting sehingga kondisi aman dan nyaman bisa terpenuhi.

Servis Rutin Mobil Menggunakan Layanan Honda Extra Care

Bukan Oktober ini, akhirnya memutuskan untuk melakukan perawatan berkala kendaraan roda empat milik kami. Perawatan ini ini untuk servis 50.000 km. Mobil ini memang bukan mobil baru, namun mobil tangan kedua menggantikan mobil sebelumnya — dari merek yang sama yaitu Honda — tapi dengan model yang berbeda. Sewaktu beli, saat itu angka kilometer masih menunjukkan sekitar 27.000 km.

Di servis sebelumnya tahun 2019 lalu (ketika ambil servis rutin per 10.000 km), saya mendapatkan opsi apakah akan langsung mengambil paket perawatan untuk servis berikutnya. Dengan pertimbangan bahwa secara hitungan memang lebih murah — saya lupa tepatnya berapa selisihnya, tapi nominalnya cukup lumayan juga — dan karena juga memang untuk servis kendaraan sebisa mungkin dilakukan rutin, jadi saya ambil penawaran tersebut.

Saat itu, saya membayar Rp2.770.000,- untuk total dua kali servis. Dan, saya bisa menggunakan “jatah” servis ini sampai satu tahun berikutnya, atau di kilometer di jadwal service berikutnya. Saya pikir, dengan mobillitas saya yang sebenarnya juga tidak banyak dengan mobil, tapi satu tahun untuk menempuh jarak sekitar 10.000 km sepertinya bisa jadi.

Tarif Bus DAMRI Malioboro-Pantai Parangtritis, Malioboro-Pantai Baron, dan YIA-Pantai Baron (Oktober 2020)

Walaupun masih dalam masa pandemi COVID-19, Perusahaan umum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) membuka beberapa rute baru di Yogyakarta, untuk menjangkau beberapa tempat wisata — khususnya pantai — dan termasuk Yogyakarta International Airport (YIA).

Bupati Bantul Suharsono saat meresmikan DAMRI Palbapang-YIA di Terminal Palbapang, Kamis (17/9/2020) (Sumber foto: Jumali/Harian Jogja)

Hal tersebut untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam masa pandemi COVID-19.

Khusus untuk tujuan pantai, memang ini masih menjadi tantangan tersendiri, karena angkutan umum publik yang selama ini memang bisa dikatakan cukup minim. Layanan seperti Grab atau Gojek mungkin masih menjadi opsi yang lebih menarik walaupun secara biaya juga tidak tergolong murah. Tapi, itu opsi yang mungkin terbaik.

Opsi lain, tentu saja dengan menggunakan kendaraan pribadi, termasuk bagi wisatawan yang datang ke Jogja, bisa saja dengan menyewa sepeda motor.

Tarif dan Rute

Berikut daftar rute dan tarif DAMRI yang bisa dijadikan rujukan. Rute ini mulai beroperasi pada 15 Oktober 2020.

Prioritas Pemberian Vaksin COVID-19

Walaupun penanganan juga masih terus diusahakan dan hasilnya juga kok ya sepertinya belum terlalu mengesankan, namun pernyataan tersebut perlu dicatat. Apakah nanti ada pihak-pihak yang sebenarnya mampu atau bisa dalam kondisi tidak mendesak namun memaksakan diri untuk mendapatkan vaksin dengan lebih cepat? Ya, kita lihat saja nanti.

Published
Categorized as UmumTagged

Wawancara Najwa Shihab dengan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto

Mungkin, ini adalah “wawancara terbaik” dari Najwa Shihab terkait dengan pandemi di Indonesia. Walaupun ada banyak sekali pertanyaan yang sangat ingin diketahui oleh masyarakat — kalau tidak boleh dibilang bahwa informasi tersebut seharusnya memang diberikan tanpa perlu diminta oleh masyarakat — tapi pertanyaan yang diajukan sepertinya masuk dalam pertanyaan yang paling ingin diketahui jawabannya.

Sedih melihatnya…

Published
Categorized as UmumTagged

Jokowi tentang ekonomi dan kesehatan (7 September 2020)

Disampaikan pada bulan September 2020, sejak kasus COVID-19 mulai santer pada Maret 2020, saat sudah terjadi banyak kelonggaran dalam penegakan aturan dan protokol yang memungkinkan penyebaran COVID-19 semakin banyak. Dan, ketika 6 September 2020 angka total kasus di Indonesia menunjukkan 198.049 (+3.113), dengan kasus aktif 44 44.795 (+573), sembuh 144.440 (+2.431) dan meninggal dunia: 8.806 (+122) (Sumber: @kawalcovid19)

Reaksi Ahli Biologi Molekuler yang Asli Nonton Video Diskusi Anji dan Hadi Pranoto

Beberapa waktu lalu, sempat muncul sebuah video yang cukup populer di platform YouTube, antara Anji — seorang musisi — dengan Hadi Pranoto yang diperkenalkan oleh Anji sebagai Profesor Hadi Pranoto. Saya sendiri tidak menontonnya, hanya membaca beritanya saja. Ada pro-kontra, tentu saja.

Walaupun, akhirnya video tersebut telah diturunkan oleh YouTube, tapi yang lebih menarik justru pendapat/reaksi terhadap video tersebut, dari sudut pandang sains, dari orang yang menyampaikan informasi berdasarkan bidang keilmuan. Beliau adalah Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, PhD.

Tentang beliau, cukup mudah informasinya untuk ditemukan di internet, termasuk publikasi lain yang mendukung bidang keilmuan.

Presiden Jokowi tentang COVID-19 (3 Agustus 2020)

Suasana minggu-minggu terakhir ini cukup membuat masyarakat khawatir. Makin banyak yang tidak taat protokol kesehatan. Kasus positif Covid-19 kini mencapai 111.455 orang, 68.975 sembuh dan 5.236 meninggal. Meski, case recovery rate kita cukup bagus, yaitu 61,9 % sembuh.

Sumber: Cuitan @jokowi