Prosedur Pembayaran BPJS Pertama Kali Melalui Bank/ATM

Hari ini adalah hari terakhir pembayaran iuran BPJS Kesehatan pertama kali untuk asisten rumah tangga yang ada di rumah dan anaknya. Jadi, beberapa waktu lalu, saya dan istri sepakat untuk sedikit membantu asisten rumah tangga dengan mendaftarkan dan membayar iuran bulanannya.

Istri saya yang mengurus seluruh proses registrasi. Untuk pembayaran, giliran saya. Sewaktu menerima informasi instruksi pembayaran, pembayaran dilakukan melalui transfer ke Virtual Account Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Mandiri.

Sebenarnya cukup banyak kanal pembayaran yang bisa dipakai untuk membayar iuran BPJS Kesehatan ini. Cuma, untuk pembayaran pertama kali hanya dapat dilakukan melalui transfer melalui ATM atau setor tunai di bank. Dari pilihan yang ada, saya ada rekening BNI. Sayangnya, kartu ATM entah kemana. Jadi opsinya adalah transfer langsung.

Akhirnya, saya mendatangi salah satu kantor cabang BNI yang ada di dekat rumah. Satpam yang menyambut saya menyampaikan bahwa saya cukup ke teller saja untuk bayar dengan menginformasikan nomor Virtual Account untuk pembayaran. Setelah menunggu beberapa menit, benar saja saya diminta untuk menginfokan nomor Virtual Account.

Tapi, pembayaran ternyata gagal. Petugas teller menyampaikan kalau sistem sedang offline. Saya tidak tanya lebih lanjut, kesalahan ada di sisi mana. Ketika saya tanya solusinya apa, pilihannya menunggu untuk coba lagi (dimana saya harus antri lagi), atau saya coba bayar melalui bank lain dan disebutkan Bank Mandiri yang berada persis di samping kantor cabang BNI tadi.

Akhirnya saya putuskan untuk ke Bank Mandiri saja. Berbeda dengan BNI, di Bank Mandiri saya diminta untuk mengisi formulir setoran. Saya isi dua formulir setoran. Dan, antrian cukup banyak. Sekitar dua puluh menit, tiba juga giliran saya membayar di teller. Ternyata oleh petugas teller saya diminta untuk mengubah jumlah pembayaran dengan nominal total dan peruntukan pembayaran satu saja, karena yang saya bayar pesertanya dalam satu Kartu Keluarga.

Setelah itu, semua proses pembayaran selesai.

Mengubah Daya Listrik PLN itu Tak Sulit (Maret 2019)

Akhirnya, saya melaksanakan perubahan daya listrik di rumah dari 2.200 VA ke 3.500 VA. Dan saya melakukannya secara daring, langsung melalui situs PLN.

Pertama, saya mengisi formulir Perubahan Daya/Migrasi di situs PLN. Data-data yang perlu disediakan tidak terlalu banyak. Rumah yang saya tempati masih menggunakan nama pemilik/pelanggan sebelumnya, jadi saya hanya perlu mengisi untuk Data Pemohon. Setelah mengisi semuanya, akan langsung terlihat berapa total biayanya.

Kali ini saya memanfaatkan diskon dari PLN yang sedang memberikan diskon 50% untuk biaya penambahan daya listrik. Tentu saja, diskon ini sangat lumayan! Sebenarnya, PLN juga ada program lain dimana ada diskon penambahan daya apabila memiliki/membeli kompor/motor listrik (diskon 75%) dan bahkan diskon 100% apabila membeli mobil listrik. Karena saya tidak masuk dalam dua kriteria diatas, diskon 50%-pun tak selayaknya ditolak.

Continue reading “Mengubah Daya Listrik PLN itu Tak Sulit (Maret 2019)”

Biaya Transaksi Kartu Kredit yang Tidak Asyik

Ketika minggu lalu berbelanja di Terminal Bangunan untuk membeli beberapa kebutuhan renovasi kecil rumah, saya bermaksud melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit BNI. Saat itu tidak ada promo untuk pembayaran kartu, jadi mendapatkan promo bukan alasan.

Jumlah transaksi saya saat itu sekitar Rp1.000.000. Saya tidak melihat informasi bahwa pembayaran bisa dilakukan menggunakan cicilan 0% kartu kredit. Walaupun, bisa saja saya nanti konversikan pembayaran penuh kartu kredit menjadi cicilan, atau mungkin malah sebaliknya.

“Pak, untuk pembayaran dengan kartu kredit akan dikenakan biaya transaksi sebesar 1,8%”, begitu kurang lebih yang disampaikan oleh petugas kasir yang melayani saya. Jumlahnya tidak terlalu besar memang, tapi kenapa musti ada potongan? Saya tentu saja ingin memanfaatkan kondisi bahwa saya punya kartu kredit. Tapi, sepertinya hari itu keinginan saya batalkan dengan akhirnya menggunakan pembayaran dengan kartu debit.

Pengalaman Membuka dan Menutup Deposito Online BNI

Saya lupa kapan kali pertama saya membuka rekening deposito di BNI, mungkin sekitar dua tahun lalu, atau lebih. Cuma satu hal yang saya ingat adalah bahwa saya melakukannya secara daring (online). Dan, prosesnya sangat sederhana.

Membuka Rekening Deposito BNI

Seluruh proses saya lakukan melalui halaman internet banking BNI dan tidak terlalu bertele-tele. Sebelum membuka rekening deposito, berikut beberapa catatan (sumber):

  • BNI mensyaratkan untuk pembukaan rekening deposito, kita harus memiliki dana untuk setoran awal deposito sebesar minimal 10 juta.
  • Untuk jangka waktu, bisa dipilih sesuai kebutuhan. Saat itu, saya memilih jangka waktu 3 (tiga) bulan, karena deposito saya gunakan sebagai cadangan dana yang sewaktu-waktu saya bisa ambil juga.
  • Karena dilakukan secara daring, maka saya juga tidak mendapatkan bilyet sebagai bukti fisik kepemilikan deposito.

Proses pembukaan rekening dapat diakses melalui menu Layanan Lainnya, kemudian pilih Permohonan Layanan lalu Rekening Deposito — Buka Rekening Deposito. Setelah itu, lanjutkan dengan mengisi formulir yang tersedia. Setelah selesai semua, maka rekening deposito Anda akan siap secara instan.

Continue reading “Pengalaman Membuka dan Menutup Deposito Online BNI”

Mengubah Cicilan Kartu Kredit Menjadi Non-cicilan

Saya punya kartu kredit karena salah satu manfaatnya bisa dipakai untuk melakukan pembelian dengan cicilan 0%. Namun, karena satu dan lain hal, saya perlu untuk membatalkan cicilan saya, menjadi pembayaran secara langsung. Padahal, transaksi pembelian sudah selesai.

Membatalkan Cicilan

Ketika saya harus membatalkan cicilan tersebut, pertama saya hubungi bank penerbit kartu kredit yang saya pakai untuk transaksi. Saat itu saya menggunakan kartu kredit dari BNI. Beberapa poin yang saya sampaikan/terima:

  • Saya tanyakan apakah transaksi saya sudah dibukukan. Dan, ternyata memang sudah, dan sudah ada catatan bahwa pembayaran menggunakan cicilan 0%.
  • Karena saya belum mendapatkan tagihan — melalui e-statement — jadi saya belum bisa melakukan pembayaran. Untuk pembayaran, biasanya lakukan melalui auto debet.
  • Ketika saya sampaikan bahwa saya ingin mengubah metode pembayaran menjadi pembayaran penuh, saya diminta untuk menghubungi merchant.
  • Diinfokan kalau tagihan akan dicetak pada malam hari, di hari yang sama saat saya menelpon. Jadi, saya sebaiknya segera menghubungi merchant.

Berbekal informasi tersebut, saya menghubungi pihak merchant. Ternyata, pihak merchant tidak dapat melakukan hal ini, karena ini dilakukan dari sisi bank.

Duh.

Continue reading “Mengubah Cicilan Kartu Kredit Menjadi Non-cicilan”

Mendapatkan Kembali PIN Kartu Kredit BNI Melalui SMS

Saya cukup sering melakukan transaksi menggunakan kartu kredit. Saya hanya menggunakan dua buah kartu kredit utama dari BCA dan BNI. Mengikuti anjuran keamanan, saat ini kedunya juga sudah menggunakan PIN (Personal Identifiation Number). Diluar transaksi daring — yang (kadang) menggunakan 3D Secure PIN — saya kadang juga menggunakan transaksi langsung menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture) di beberapa gerai.

Pernah sebenarnya pakai PIN ketika melakukan transaksi, tapi kebanyakan saya gunakan tanpa PIN. Jadi tinggal tanda tangan saja.

871iulias7f13tlkqhsfasf

Ada satu gerai makanan cepat saji dimana saya sudah melakukan transaksi beberapa kali. Dan, selalu menggunakan tanda tangan alias tanpa PIN. Sampai pada akhirnya kemarin saya bertransaksi dan harus menggunakan PIN. Saya tanyakan, apakah ada opsi untuk pakai tanda tangan?

Continue reading “Mendapatkan Kembali PIN Kartu Kredit BNI Melalui SMS”

Kehilangan Dompet (Lagi)

Awal bulan September ini, saya kembali lagi kehilangan dompet. Sekitar setahun yang lalu, saya juga mengalami kejadian yang sama. Bedanya, kali ini saya kehilangan lebih banyak barang yang ada dalam dompet; mulai dari berbagai jenis kartu sampai dengan uang tunai karena saya baru saja mengambil di ATM beberapa jam di hari saya kehilangan dompet tersebut.

Yang pasti: repot.

Hal yang pertama saya lakukan saat saya menyadarinya (sekitar pukul 23.30) adalah menelpon bank untuk memblokir seluruh kartu debit/kredit. Petugas layanan nasabah BNI dan BCA yang saya hubungi melalui Call Center malam itu membantu saya untuk mengurus seluruh proses. Seluruh kartu sudah terblokir, dan tinggal bagaimana keesokan harinya melakukan pengurusan penggantian kartu. Untuk identitas yang saya gunakan, saya mengandalkan paspor.

Surat Keterangan Kehilangan dari Kepolisian

Untunglah tempat tinggal saya tidak jauh dari kantor polisi. Sekitar pukul 08.00 saya sudah berada di kantor polisi untuk membuat laporan kehilangan. Setelah seluruh data yang saya perlukan selesai, hal yang pertama saya lakukan adalah mengurus penggantian kartu ATM.

Ini juga karena kebetulan saya sudah hampir tidak memiliki uang tunai.

Kartu Debit dan Kredit

Pertama, saya ke Kantor Cabang BNI tempat saya membuat rekening — yang tidak jauh juga dari tempat tinggal. Bukti identitas asli berupa paspor yang saya bawa ternyata cukup membantu. Pagi itu, antrian tidak terlalu ramai. Dan, sekitar tiga puluh menit, saya sudah mendapatkan kartu ATM yang baru. Untuk penggantian kartu kredit BNI, ternyata saya diminta untuk langsung menghubungi layanan kartu kredit melalui telepon.

Continue reading “Kehilangan Dompet (Lagi)”