Tantangan Mencari Properti Rumah Pertama di Jogjakarta

Ini adalah cerita pengalaman saya dan istri dalam mencari hunian di kota Jogjakarta. Perlu saya tuliskan, siapa tahu bermanfaat. Tulisan merupakan pengalaman dan pendapat pribadi. Seluruh informasi ini berdasarkan kondisi pada akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018. Beberapa informasi mungkin tidak relevan lagi berdasarkan waktu.

Rumah Pertama

Kami harus bersyukur karena setelah menikah, kami dapat menempati rumah tanpa terlebih dahulu harus mengontrak. Beberapa bulan, kami tinggal di rumah kerabat istri. Kemudian, hampir di satu tahun usia pernikahan, kami tinggal di rumah lain yang selama ini saya tempati. Bukan milik sendiri, namun milik orang tua saya.

Tidak ada masalah sama sekali sebenarnya. Namun, kami sangat ingin untuk memiliki rumah pertama. Sebelumnya memang sudah sempat untuk mendefinisikan hal-hal yang menjadi pertimbangan atau impian untuk hunian. Namun, setelah berjalannya waktu, sepertinya harus ada penyesuaian dari kriteria awal.

Kriteria dan Pertimbangan

Kriteria dan pertimbangan yang kami miliki sebenarnya cukup banyak, namun kami pikir ini juga masih kriteria umum. Jadi, tidak ada yang sangat spesifik.

  1. Rumah — yang siapa tahu bisa — menjadi rumah yang produktif. Jadi, di awal kami masih mempertimbangkan apakah hunian yang akan kami miliki akan dapat diproduktifkan misalnya disewakan sepenuhnya, atau disewakan sebagian.
  2. Berada dalam kawasan perumahan. Hal ini sebenarnya lebih kepada alasan keamanan, lingkungan, dan juga fasilitas umum.
  3. Lokasi strategis. Walapun definisi ‘strategis’ ini cukup sulit, namun bayangan kami adalah lokasi berada daerah kota Jogjakarta, masih di dalam ringroad atau sedikit diluar ringroad.
  4. Harga masih dalam budget. Ini tentu saja yang paling penting, karena kami juga tidak mau terlalu memaksakan sekali.
  5. Bukan apartemen. Walaupun sudah mulai banyak penawaran apartemen di Jogjakarta, namun apartemen bukan pilihan.

Berbekal dengan kriteria di atas, akhirnya kami mulai melakukan pencarian.

Kehilangan Dompet (Lagi)

Awal bulan September ini, saya kembali lagi kehilangan dompet. Sekitar setahun yang lalu, saya juga mengalami kejadian yang sama. Bedanya, kali ini saya kehilangan lebih banyak barang yang ada dalam dompet; mulai dari berbagai jenis kartu sampai dengan uang tunai karena saya baru saja mengambil di ATM beberapa jam di hari saya kehilangan dompet tersebut.

Yang pasti: repot.

Hal yang pertama saya lakukan saat saya menyadarinya (sekitar pukul 23.30) adalah menelpon bank untuk memblokir seluruh kartu debit/kredit. Petugas layanan nasabah BNI dan BCA yang saya hubungi melalui Call Center malam itu membantu saya untuk mengurus seluruh proses. Seluruh kartu sudah terblokir, dan tinggal bagaimana keesokan harinya melakukan pengurusan penggantian kartu. Untuk identitas yang saya gunakan, saya mengandalkan paspor.

Surat Keterangan Kehilangan dari Kepolisian

Untunglah tempat tinggal saya tidak jauh dari kantor polisi. Sekitar pukul 08.00 saya sudah berada di kantor polisi untuk membuat laporan kehilangan. Setelah seluruh data yang saya perlukan selesai, hal yang pertama saya lakukan adalah mengurus penggantian kartu ATM.

Ini juga karena kebetulan saya sudah hampir tidak memiliki uang tunai.

Kartu Debit dan Kredit

Pertama, saya ke Kantor Cabang BNI tempat saya membuat rekening — yang tidak jauh juga dari tempat tinggal. Bukti identitas asli berupa paspor yang saya bawa ternyata cukup membantu. Pagi itu, antrian tidak terlalu ramai. Dan, sekitar tiga puluh menit, saya sudah mendapatkan kartu ATM yang baru. Untuk penggantian kartu kredit BNI, ternyata saya diminta untuk langsung menghubungi layanan kartu kredit melalui telepon.

Pengalaman Menggunakan Layanan Internet Smart Telecom

Pertengahan Januari tahun ini, saya memutuskan untuk menggunakan layanan internet Smart Telecom. Setelah membaca informasi, bertanya dengan beberapa teman, saya putuskan untuk memilih layanan ini — dibanding dengan layanan yang sejenis. Ini juga terkait dengan kepindahan saya ke Jakarta (dari Jogja) untuk beberapa bulan. Saat itu, saya masih menggunakan layanan Speedy untuk keperluan koneksi internet di rumah. Dan, saya cukup puas dengan layananan Telkom Speedy.

Kebutuhan koneksi internet saya mungkin bisa dikatakan rata-rata. Tidak terlalu banyak aktivitas simultan seperti mengunduh berkas yang besar. Yang penting, aktivitas berselancar, memperbarui blog, dan hal-hal lain terkait pekerjaan bisa dilakukan. Saya banyak mendengar kalau kecepatan akses yang didapatkan tidak bisa maksimal seperti yang dijanjikan. Walaupun demikian, kecepatan akses saya rasa masih bisa diterima. Tidak cepat sekali, tidak juga lambat. Lumayan.

Selama menikmati promo gratis berlangganan 100 hari, saya juga tidak terlalu banyak mendapati masalah yang cukup merepotkan. Memang kadang-kadang koneksi tiba-tiba terputus tanpa sebab yang jelas. Tapi, kalau dibandingkan dengan total lama pemakaian, saya merasa hal tersebut bisa saya tolerir. Tentang kecepatan koneksi/sinyal, tetap bahwa lokasi menentukan kecepatan akses.

Di tengah kota Jogja saya tidak terlalu mendapatkan masalah. Di Bantul — karena hampir bisa dikatakan tidak mendapatkan jangkauan sinyal — pengalaman menggunakan Smart Telecom ini bisa dikatakan sangat mengecewakan. Ya, ini karena memang jangkauan saja belum sampai lokasi.

Ketika saya pindah ke Jakarta, salah seorang teman saya juga memutuskan untuk mencoba layanan ini. Keputusan ini juga setelah teman saya tersebut mencoba untuk menggunakan modem Smart milik saya di rumahnya. Masalah yang kadang juga muncul adalah ketika koneksi tiba-tiba terputus, padahal sinyal tertangkap penuh.

Akhir-akhir ini saya mengamati kalau kecepatan mengunggah berkas menjadi sangat sulit. Untuk berkas-berkas kecil sebenarnya tidak terlalu masalah. Saya pernah mengunggah 3 berkas masing-masing sebesar sekitar 100 Kb ke laman Facebook saya, bisa dikatakan kecepatannya sangat mengecewakan. Sering kali gagal. Tapi, masalah seperti ini tidak terjadi ketika saya mengunggah satu persatu. Hal yang sama juga ketika saya mengunggah foto ke Flickr. Kecepatannya terasa lambat sekali, walaupun saya rasa ukuran berkas tidak terlalu besar.

Catatan: Tulisan ini adalah pengalaman pribadi, dan tidak disponsori oleh pihak manapun.

Isu Tsunami dan Kepanikan Gempa Jogja 2006

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya: Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006.

Entah dari mana isu adanya tsunami berawal. Yang pasti, rumor tentang adanya tsunami ini benar-benar membuat suasana menjadi sangat kacau. Ada sempat keraguan bahwa tsunami benar-benar terjadi. Tapi, keadaan panik mengalahkan akal sehat saya, dan mungkin ratusan (atau bahkan ribuan) orang yang saat itu juga sedang sangat panik. Dari arah selatan, kendaraan melaju kencang. Motor, mobil bahkan truk dengan lampu menyala bergerak cepat ke utara. Saat sampai di perempatan jalan utama, ada dua orang polisi lalu lintas yang sedang mengatur arus kendaraan.

Salah seorang polisi berusaha untuk menenangkan dengan menyebutkan bahwa tidak terjadi tsunami. Petugas yang satunya lari dari tengah jalan, menuju ke pos jaga. Entah ingin memberitahukan tentang kepanikan yang baru terjadi, atau ikut berusaha menyelamatkan diri, entahlah…

2006_tsu_1

Warga dan kendaraan yang semula hanya berdiri dan berhenti di pinggir jalan menjadi ikut panik dan segera melarikan kendaraan masing-masing. Yang kebetulan sedang berjalan, berusaha memberhentikan kendaran lain untuk bisa menumpang. Gambaran keadaan yang terjadi kurang lebih sama seperti yang terlihat di televisi beberapa saat setelah gempa.

Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006

Sudah hampir satu minggu, peristiwa gempa di Padang, Sumatera Barat berlalu. Turut berduka cita bagi para korban dan juga keluarga yang mendapatkan musibah. Ketika pertama kali melihat tayangan televisi, dan juga informasi lanjutan tentang gempa tersebut, langsung saya teringat tentang apa yang melanda kota Bantul dan Jogja (dan beberapa wilayah lainnya) pada saat terjadi gempa besar tahun 2006 yang lalu.

Saya tidak akan membandingkan tentang mana yang lebih parah. Satu hal yang pasti, tidak ada yang menginginkan terjadinya bencana tersebut. Walaupun sudah lebih dari tiga tahun setelah gempa tersebut, saya pribadi masih merasakan perasaan trauma, karena keluarga saya juga menjadi salah satu korban. Saya merasa sangat bersyukur (dan beruntung), karena harta yang paling bernilai — nyawa kami sekeluarga — masih kami miliki. Sesaat setelah gempa, ayah saya pernah bilang, “Uwis, rapopo. Sing penting kabeh slamet… (Sudah tidak apa-apa, yang penting semua selamat).

Ikut Pemilu Legislatif 2009 atau tidak?

Pemilu Legislatif tahun 2009 tinggal seminggu lagi. Tapi, sampai sekarang saya juga tidak tahu apakah saya terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) atau tidak. Mau cari tahu, tidak terlalu bersemangat. Tidak cari tahu, kok penasaran juga.

Tempat tinggal saya saat ini memang tidak sesuai dengan alamat yang ada di KTP saya. Saya tinggal di Jogjakarta, tapi menurut KTP, saya terdaftar sebagai warga Bantul.

Ya, kita lihat saja nanti. Kalau bisa ikut memberikan suara, ya ikut. Kalau tidak, ya sudah…

Warta Ekonomi E-Government Award 2008

Selamat untuk Kabupaten Bantul atas penghargaan dalam ajang Warta Ekonomi E-Government Award 2008 untuk kategori website kabupaten. Pertama dengar kabar ini ketika Yan Arief sedang di Jakarta untuk ikut hadir dalam acara itu. (link)

Selamat! Eh iya, KTP saya masih domisili Bantul. Jadi, saya ini sebenarnya juga wong Bantul. :D