Pengalaman Perpanjangan SIM Melalui SIM Corner di Jogjakarta

Akhir Januari ini, saya perlu melakukan perpanjangan masa aktif SIM A milik saya. Saya sempat mencari informasi bagaimana proses perpanjangan SIM di kota ini. Tetapi, informasinya masih agak membingungkan. Sempat juga banyak baca mengenai perpanjangan SIM secara daring. Dan, beberapa teman juga menginformasikan kalau perpanjangan secara daring ini bisa jalan lancar juga. Tapi, opsi ini sepertinya kurang cocok untuk kondisi saya (saat itu).

Perpanjangan SIM secara daring (online)

Beberapa kondisi yang menjadikan proses perpanjangan SIM secara daring ini menjadi pilihan cocok, apabila:

  1. Masa berakhir/kedaluarsa masih cukup lama. Kalau tidak salah, ini bisa dilakukan bahkan tiga bulan sebelum kedaluarsa. Saya lupa tepatnya.
  2. Tetap harus melakukan tes dengan mendatangi dokter/fasilitas kesehatan yang telah ditentukan.
  3. Melakukan proses secara daring melalui Digital Korlantas POLRI yang aplikasi juga sudah tersedia di Play Store untuk Android dan App Store untuk iOS.

Awalnya saya sempat akan menggukan metode ini. Tapi, saya batalkan karena tetap harus melakukan tes kesehatan juga, dan saat itu tinggal 7 (tujuh) hari sebelum masa kedaluarsa SIM saya. Untuk prosesnya, kalau saya baca-baca di , dan juga melalui linimasa , layanan ini bisa menjadi pilihan. Tinggal ikuti saja prosesnya.

Perpanjangan SIM secara luring (offline)

Ada dua pilihan jika akan melakukan perpanjangan SIM dengan cara ini. Pertama, melalui layanan SIM keliling. Kedua, langsung ke Satpas Polresta . Ketiga, datang langsung ke SIM Corner. Pilihan pertama sebenarnya bisa menjadi opsi. Kalau mencari di internet/berita, cukup banyak jadwal SIM keliling ini di Jogjakarta.

Pilihan kedua yaitu langsung ke Satpas Polresta Yogyakarta, sempat pula saya jadikan pilihan. Mengenai antrian, sudah disediakan antrian secara online, jadi ada kepastian. Setelah saya isikan dalam antrian, saya mendapatkan antrian 3 (tiga) hari sebelum tanggal kedaluarsa SIM, dan dapat langsung datang pukul 10.00 pagi ke Satpas Polresta Yogyakarta.

Karena saya belum tentu dapat hadir sesuai jadwal sesuai antrian di Satpas Polresta Yogyakarta, akhirnya saya juga melihat opsi ketiga: datang langsung ke SIM Corner. Setelah mencari informasi:

  1. Pilihan SIM Corner di Jogja City Mall atau SIM Corner di Ramai Mall Malioboro.
  2. Jam buka operasi akan mengikuti jam buka mall, dan kalau kuota sudah terlayani semua, maka layanan selesai. Diperkirakan sekitar jam makan siang harusnya sudah selesai semua. Namun, untuk proses antrian sudah dapat dilaksanakan pagi hari. Tentang pengambilan antrian, saya mendapatkan informasi yang lebih jelas untuk pilihan lokasi yang di Ramai Mall .

Legalisir Dokumen Kependudukan Secara Daring/Online

Karena ada satu keperluan, saya membutuhkan beberapa dokumen kependudukan yang harus saya siapkan. Dan, bukan hanya salinan fotokopi, namun dokumen yang sudah dilegalisir. Sebenarnya tidak ada masalah dengan proses ini, karena memang bukan kali pertama melakukan legalisir dokumen.

by Lum3n from Pexels

“Masalahnya” adalah jarak tempat tinggal dengan kantor dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil) bisa dikatakan cukup jauh. Perjalanan bisa jadi satu jam sendiri naik kendaraan pribadi.

Awalnya, saya tanyakan ke salah satu teman saya yang bekerja sebagai ASN di salah satu dinas pemerintahan di DIY mengenai jam operasional disdukcapil. Ketika saya menyampaikan keperluan saya, dia menyarankan untuk melakukannya saja secara daring/online. Lalu saya diberi informasi mengenai layanan Legalisir Online. Jadi, alih-alih datang dengan membawa salinan fotokopi dan dokumen asli, kita hanya perlu mengirimkan dokumen melalui surel, kemudian dokumen yang telah dilegalisir akan dikirimkan pula melalui surel.

Terlihat mudah. Dan, sepertinya ini perlu dicoba.

Legalisir Dokumen

Saya membutuhkan dua dokumen yang dilegalisir, yaitu KTP dan Kartu Keluarga. Kebetulan, Kartu Keluarga saya ini tergolong “baru”, dikeluarkan tahun 2019, dan tanda tangan pejabat berwenang sudah dalam format QR Code.

Di bagian bawah dokumen Kartu Keluarga, tertulis “Dokumen ini telah ditandatangani secara menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Badan Sertifikasi Elektronik (BSrE), BSSN.

Untuk proses di disdukcapil Kabupaten Bantul, prosesnya sebagai berikut:

  1. Siapkan hasil pindai (scan) dokumen yang akan dilegalisir dalam format PDF. Dokumen dalam bentuk digital ini harus dari dokumen asli, bukan fotokopi.
  2. Untuk KTP, saya pindai dua sisi, kemudian saya masukan dalam dengan posisi berdampingan layaknya ketika difotokopi. Semua dokumen saya pindai berwarna.
  3. Pastikan dokumen cukup jelas terbaca. Jika bisa, pindai dengan resolusi yang cukup baik.
  4. Setelah semua dokumen PDF siap — satu jenis dokumen dalam satu PDF — kirimkan ke: [email protected] dengan judul surel misanya “Legalisir Dokumen KTP/KK“. Saya mengirimkan dengan judul surel: Legalisir Dokumen KTP/KK {Nama saya}. Ya, supaya lebih mudah/jelas saja.

Saya mengikuti instruksi yang tersedia terkait dengan isi surel. Dalam isi surel, saya tuliskan:

Kepada Disdukcapil Kab. Bantul.

Yang memohonkan:
NIK: {nomor NIK}
Nama: {nama sesuai KTP}
Alamat: {alamat sesuai KTP}
HP: {nomor ponsel}

Yang dimohonkan:
KTP a.n. {nama saya}
KK a.n. {nama kepala keluarga dalam KK}

Terima kasih.

Isi surel kepada disdukcapil untuk permohonan legalisir dokumen secara online/daring.

Saya kirimkan dokumen sekitar pukul 12.50 WIB pada hari Senin. Kalaupun baru diproses pada sore hari atau bahkan keesokan harinya, tidak ada masalah juga.

Ternyata saya salah. Sekitar pukul 13.10 WIB (tidak sampai 30 menit) saya sudah mendapatkan balasan melalui surel saya. Dokumen yang sudah dilegalisir ada dalam lampiran. Saya tidak tahu ini karena antrian sedang sedikit jadi proses cepat, tapi dalam pengalaman saya mengurus dokumen di disdukcapil Bantul, seluruh proses memang cepat, sih.

Dokumen Kartu Keluarga tidak dikirimkan karena tidak dilegalisir dan saya mendapatkan informasi tambahan dari petugas dalam surel bahwa sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) mengenai Dokumen Kependudukan No 104 tahun 2019 Pasal 19 ayat (6) bahwa: Dokumen Kependudukan seperti Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Akta Kematian, Akta Perkawinan yang sudah menggunakan Tanda Tangan Elektronik (TTE) tidak perlu di legalisir.

Bagaimana jika Kartu Keluarga belum memiliki QR Code? Untuk mendapatkan yang terbaru, bisa saja melalui perbaruan untuk dapat dicetak ulang.

Terima kasih untuk pelayanan yang sangat cepat, Disdukcapil Kabupaten Bantul!

Glagah yang Sepi

Karena sudah cukup lama tidak mengunjungi eyangnya di ujung selatan , hari ini saya membawa keluarga untuk datang berkunjung sebentar. Kemarin, si bocah juga baru saja berulang tahun.

Kunjungan singkat tersebut sekaligus kesempatan mampir ke pantai. Dan Pantai Glagah merupakan pilihan siang itu. Tidak ada ekspektasi, selain bahwa semoga cuaca cukup baik. Pengalaman sesekali kali ke pantai — di masa pandemi — memang biasanya memilih jam dan hari yang ‘kurang diminati orang’.

Otomatis memang pantai/obyek wisata pasti cenderung sepi. Pengunjung berkurang. Dan, siang itu, saya menjumpai kawasan Pantai Glagah ini memang sepi. Setelah saya membayar retribusi obyek wisata sebesar Rp18.000 untuk tiga orang, saya langsung mengarahkan kendaraan ke area pantai. Dan, tujuan pertama ke kawasan laguna.

Laguna Pantai Glagah

Ketika mampir di area laguna, saya hanya melihat sekitar emapt mobil saja parkir. Ada beberapa sepeda motor terparkir. Sepi sekali. Ada sebuah perasaan sedih. Entahlah, tidak nyaman melihatnya.

Pantai Glagah.

Ketik sampai ke kawasan parkir pantai, saya hanya melihat satu mobil yang sedang parkir. Lagi-lagi, sangat sepi. Semoga ini memang karena sedang bulan puasa. Walaupun saya tetap mendukung protokol untuk tetap dijalankan, tapi di saat yang sama bahwa ada yang menggantungkan penghasilan dari sektor ini, pemandangan yang sepi ini cukup berhasil mengusik saya.

Beberapa orang yang berjaga parkir juga sepertinya menjalani hari yang cukup berat. Beberapa warung juga sepi. Beberapa kawasan yang sepertinya disiapkan (atau dulu malah sudah pernah beroperasi) juga sepertinya tidak menunjukkan bahwa ada aktivitas perekonomian di sana.

Sepi. Sedih.

Lokasi dan Harga Pemeriksaan/Tes Swab Antigen di Yogyakarta (Desember 2020)

Dengan adanya kebijakan bagi mereka yang melakukan perjalanan dari/ke beberapa daerah seperti , Bali, dan mengenai persyaratan untuk melakukan swab , otomatis pemeriksaan harus dari yang biasanya rapid test juga sudah cukup.

Kebijakan ini sebenarnya berlaku secara nasional mulai 18 Desember 2020 sampai dengan 8 Januari 2021. Beberapa minggu lalu, saya melihat belum terlalu banyak tempat yang melayani pemeriksaan swab antigen. Namun, beberapa hari terakhir ini, keadaan sudah cukup berubah. Banyak rumah sakit dan laboratorium di Yogyakarta yang akhirnya menyediakan layanan pemeriksaan swab antigen ini.

Berikut beberapa informasi terkait lokasi dan biaya pemeriksaan swab antigen di Yogyakarta.

Perhatian!

Informasi yang tertulis berasal dari berbagai sumber dan valid saat dituliskan. Sangat disarankan untuk selalu melakukan pengecekan informasi/ terbaru dengan menghubungi narahubung rumah sakit, klinik, atau laboratorium tujuan.

Rumah Sakit

Lokasi dan Harga Pemeriksaan/Tes Swab Antigen di Yogyakarta.

Laboratorium

  1. Laboratorium Klinik Parahita
    Alamat: Jl. Kaliurang No.26, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten , Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
    Telepon: 0811 333 21 888 / 0811 333 26 888
    Website: labparahita.com / Surel: [email protected]
    Instagram: @labparahita
  2. INTIBIOS LAB Yogyakarta
    Alamat: Jl. Ngapak – Kentheng No.KM 5, Area Sawah, Banyuraden, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55293 (Google Maps)
    Telepon: 082130001433
    Website: intibioslab.id / Surel: [email protected]
    Instagram: @intibioslab_jogja
  3. Laboratorium Kimia Farma Jalan Adisutjipto
    Alamat: Jl. Laksda Adisucipto No.63A, Ambarukmo, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 (Google Maps)
    Telepon: 0274-489135
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  4. Laboratorium Kimia Farma Jalan Parangtritis
    Alamat: Jl. Parangtritis No.130, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143 (Google Maps)
    Telepon: 0274-419745
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  5. Laboratorium Kimia Farma Jalan Kaliurang Km. 6
    Alamat: Jl. Kaliurang KM.6 No.48, Purwosari, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55582 (Google Maps)
    Telepon: 0274-885220
    Website: labkimiafarma.co.id
    Instagram: @kimiafarmajogja
  6. HI-LAB Yogyakarta
    Alamat: Jl. Yos Sudarso No.27, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224 (Google Maps)
    Telepon: 0274-557722
    Website: hilab.co.id / Surel: [email protected]
    Instagram: @hilabjogja
  7. Yogyakarta International (YIA)
    Alamat: Jl. Wates – Purworejo No.Km, RW.42, Area Kebun, Glagah, Kec. Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55654 (Google Maps)
    Telepon: 082220178484
    Instagram: @bandarayogyakarta
  8. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Laboratorium Kesehatan Sleman
    Alamat: Purwosari, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284 (Google Maps)
    Website: labkes.slemankab.go.id / Telepon: 081215083297
    Instagram: @uptdlabkessleman

Biaya dan Ketersediaan Layanan

Untuk biaya, berdasarkan ketetapan Pemerintah Pusat dalam Surat Edaran No HK. 02.02/I/4611/2020 yang dikeluarkan per tanggal 18 Desember 2020, batasan tarif tertinggi pemeriksaan Rapid Test Antigen-Swab sebesar Rp 250.000 untuk Pulau Jawa dan 275.000 untuk di luar Pulau Jawa.

Harga di setiap rumah sakit atau laboratorium mungkin berbeda. Disarankan untuk selalu merujuk ke masing-masing rumah sakit/laboratorium. Kebanyakan info terbaru juga mudah didapatkan melalui profil Instagram.

Sekali lagi, sangat disarankan untuk menghubungi penyedia layanan terlebih dahulu untuk memastikan. Jika ada informasi yang kurang sesuai, atau ada tambahan data, akan dicoba diperbarui dalam artikel ini.

Berkebun Menyiangi dan Memencar Tanaman

Libur panjang di akhir Oktober lalu banyak saya habiskan dengan kegiatan di rumah saja. Benar-benar tidak tertarik untuk keluar rumah untuk refreshing atau ke tempat publik lainnya. Jangnkan ke , ke lokasi yang sebenarnya juga tidak jauh dari rumah saja tidak terlalu menggoda.

Saya habiskan libur dengan kembali berkutat bersama tanaman, di lahan yang cukup terbatas. Kali ini, agendanya menyiangi dan memencar tanaman yang ada di rumah. Jenis tanaman yang kami miliki bukan yang untuk skala pehobi serius. Jadi, benar-benar skala hobi kecil saja.

Jika dibandingkan, tanaman yang ada di rumah juga hasil dari meminta dari saudara malah lebih banyak dibanding yang beli, lalu memencar sendiri, sedikit demi sedikit. Ada juga yang dulu bawa dari rumah lama. Atau, bawa ketika mengunjungi orang tua di .

Dan, beberapa juga karena “menyelamatkan” punya tetangga.

Yang banyak saya pencar kemarin adalah tanaman Zamia Dolar — begini saya biasa menyebutnya — yang ada di di beberapa pot, dan pot serasa sudah cukup kepayahan menampungnya. Memencarnya juga cukup sederhana saja. Yang termasuk agak susah justru ketika mengeluarkan dari pot, karena cukup berat.

Untuk pot, agak campur-campur sesuai dengan ukuran batang dan jumlah batang yang akan ditanam. Ada juga yang akhirnya ditanam di polibag.

Rencananya, akan saya rawat dulu. Kalau ada yang mau beli, boleh juga dengan harga yang saya yakin akan murah. Atau, mungkin saja seperti yang biasa kami lakukan selama ini: dibagi-bagi saja buat yang main ke rumah sebagai kenang-kenangan.

Tarif Bus DAMRI Malioboro-Pantai Parangtritis, Malioboro-Pantai Baron, dan YIA-Pantai Baron (Oktober 2020)

Walaupun masih dalam masa pandemi COVID-19, Perusahaan umum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik (DAMRI) membuka beberapa rute baru di , untuk menjangkau beberapa tempat wisata — khususnya pantai — dan termasuk Yogyakarta International ().

Bupati Suharsono saat meresmikan Palbapang-YIA di Terminal Palbapang, Kamis (17/9/2020) (Sumber foto: Jumali/Harian )

Hal tersebut untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam masa pandemi .

Khusus untuk tujuan pantai, memang ini masih menjadi tantangan tersendiri, karena angkutan umum publik yang selama ini memang bisa dikatakan cukup minim. Layanan seperti atau mungkin masih menjadi opsi yang lebih menarik walaupun secara biaya juga tidak tergolong murah. Tapi, itu opsi yang mungkin terbaik.

Opsi lain, tentu saja dengan menggunakan kendaraan pribadi, termasuk bagi wisatawan yang datang ke Jogja, bisa saja dengan menyewa sepeda motor.

Tarif dan Rute

Berikut daftar rute dan tarif DAMRI yang bisa dijadikan rujukan. Rute ini mulai beroperasi pada 15 Oktober 2020.

COVID-19: Kabupaten Sleman Tanpa Zona Hijau Per Akhir Juli 2020

Sudah sekitar 3,5 tahun ini saya menjadi warga , walaupun KTP masih . Walaupun angka kasus di pada umumnya, dan di Kabupaten Sleman pada khususnya tidak sebanyak propinsip lain seperti atau Jawa Timur, namun tetap saja, angkanya terus bertambah.

Hari ini, Kabupaten Sleman tidak lagi memiliki zona hijau, karena ditemukan kasus positif di Kecamatan Cangkringan — yang sampai dengan awal Juli 2020 tidak memiliki kasus.

Walaupun memang, tidak serta merta semua kecamatan saat ini berada dalam zona merah. Sempat juga di awal akhir Juni 2020 dilaporkan bahwa ada penurunan jumlah penambahan kasus, yang menjadikan tidak adanya kecamatan dalam zona merah di Sleman.

Mengenai definisi zona:

  • Zona Merah: Jika ada salah satu desa atau lebih di wilayah kecamatan dalam satu bulan terakhir terdapat penularan setempat atau transmisi lokal.
  • Zona Oranye: Jika ada lebih dari satu desa di wilayah kecamatan terdapat kasus positif aktif.
  • Zona Kuning: Jika ada salah satu desa di wilayah kecamatan pernah atau masih ada kasus positif.
  • Zona Hijau: Jika tidak pemah ada kasus positif di desa wilayah.

Semoga pertambahan kasusnya semakin terkendali. Stay safe!

Tantangan Mencari Properti Rumah Pertama di Jogjakarta

Ini adalah cerita pengalaman saya dan istri dalam mencari hunian di kota . Perlu saya tuliskan, siapa tahu bermanfaat. Tulisan merupakan pengalaman dan pendapat pribadi. Seluruh informasi ini berdasarkan kondisi pada akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018. Beberapa informasi mungkin tidak relevan lagi berdasarkan waktu.

Rumah Pertama

Kami harus bersyukur karena setelah menikah, kami dapat menempati rumah tanpa terlebih dahulu harus mengontrak. Beberapa bulan, kami tinggal di rumah kerabat istri. Kemudian, hampir di satu tahun usia pernikahan, kami tinggal di rumah lain yang selama ini saya tempati. Bukan milik sendiri, namun milik orang tua saya.

Tidak ada masalah sama sekali sebenarnya. Namun, kami sangat ingin untuk memiliki rumah pertama. Sebelumnya memang sudah sempat untuk mendefinisikan hal-hal yang menjadi pertimbangan atau impian untuk hunian. Namun, setelah berjalannya waktu, sepertinya harus ada penyesuaian dari kriteria awal.

Kriteria dan Pertimbangan

Kriteria dan pertimbangan yang kami miliki sebenarnya cukup banyak, namun kami pikir ini juga masih kriteria umum. Jadi, tidak ada yang sangat spesifik.

  1. Rumah — yang siapa tahu bisa — menjadi rumah yang produktif. Jadi, di awal kami masih mempertimbangkan apakah hunian yang akan kami miliki akan dapat diproduktifkan misalnya disewakan sepenuhnya, atau disewakan sebagian.
  2. Berada dalam kawasan perumahan. Hal ini sebenarnya lebih kepada alasan keamanan, lingkungan, dan juga fasilitas umum.
  3. Lokasi strategis. Walapun definisi ‘strategis’ ini cukup sulit, namun bayangan kami adalah lokasi berada daerah kota Jogjakarta, masih di dalam ringroad atau sedikit diluar ringroad.
  4. Harga masih dalam budget. Ini tentu saja yang paling penting, karena kami juga tidak mau terlalu memaksakan sekali.
  5. Bukan apartemen. Walaupun sudah mulai banyak penawaran apartemen di Jogjakarta, namun apartemen bukan pilihan.

Berbekal dengan kriteria di atas, akhirnya kami mulai melakukan pencarian.

Kehilangan Dompet (Lagi)

Awal bulan September ini, saya kembali lagi kehilangan dompet. Sekitar setahun yang lalu, saya juga mengalami kejadian yang sama. Bedanya, kali ini saya kehilangan lebih banyak barang yang ada dalam dompet; mulai dari berbagai jenis kartu sampai dengan uang tunai karena saya baru saja mengambil di beberapa jam di hari saya kehilangan dompet tersebut.

Yang pasti: repot.

Hal yang pertama saya lakukan saat saya menyadarinya (sekitar pukul 23.30) adalah menelpon untuk memblokir seluruh kartu debit/kredit. Petugas layanan nasabah dan yang saya hubungi melalui Call Center malam itu membantu saya untuk mengurus seluruh proses. Seluruh kartu sudah terblokir, dan tinggal bagaimana keesokan harinya melakukan pengurusan penggantian kartu. Untuk identitas yang saya gunakan, saya mengandalkan .

Surat Keterangan Kehilangan dari Kepolisian

Untunglah tempat tinggal saya tidak jauh dari kantor polisi. Sekitar pukul 08.00 saya sudah berada di kantor polisi untuk membuat laporan kehilangan. Setelah seluruh yang saya perlukan selesai, hal yang pertama saya lakukan adalah mengurus penggantian kartu ATM.

Ini juga karena kebetulan saya sudah hampir tidak memiliki uang tunai.

Kartu Debit dan Kredit

Pertama, saya ke Kantor Cabang BNI tempat saya membuat rekening — yang tidak jauh juga dari tempat tinggal. Bukti identitas asli berupa paspor yang saya bawa ternyata cukup membantu. Pagi itu, antrian tidak terlalu ramai. Dan, sekitar tiga puluh menit, saya sudah mendapatkan kartu ATM yang baru. Untuk penggantian BNI, ternyata saya diminta untuk langsung menghubungi layanan kartu kredit melalui telepon.

Pengalaman Menggunakan Layanan Internet Smart Telecom

Pertengahan Januari tahun ini, saya memutuskan untuk menggunakan layanan Smart Telecom. Setelah membaca informasi, bertanya dengan beberapa teman, saya putuskan untuk memilih layanan ini — dibanding dengan layanan yang sejenis. Ini juga terkait dengan kepindahan saya ke (dari ) untuk beberapa bulan. Saat itu, saya masih menggunakan layanan Speedy untuk keperluan koneksi internet di rumah. Dan, saya cukup puas dengan layananan Telkom Speedy.

Kebutuhan koneksi internet saya mungkin bisa dikatakan rata-rata. Tidak terlalu banyak aktivitas simultan seperti mengunduh berkas yang besar. Yang penting, aktivitas berselancar, memperbarui blog, dan hal-hal lain terkait pekerjaan bisa dilakukan. Saya banyak mendengar kalau kecepatan akses yang didapatkan tidak bisa maksimal seperti yang dijanjikan. Walaupun demikian, kecepatan akses saya rasa masih bisa diterima. Tidak cepat sekali, tidak juga lambat. Lumayan.

Selama menikmati gratis berlangganan 100 hari, saya juga tidak terlalu banyak mendapati masalah yang cukup merepotkan. Memang kadang-kadang koneksi tiba-tiba terputus tanpa sebab yang jelas. Tapi, kalau dibandingkan dengan total lama pemakaian, saya merasa hal tersebut bisa saya tolerir. Tentang kecepatan koneksi/sinyal, tetap bahwa lokasi menentukan kecepatan akses.

Di tengah kota Jogja saya tidak terlalu mendapatkan masalah. Di — karena hampir bisa dikatakan tidak mendapatkan jangkauan sinyal — pengalaman menggunakan Smart Telecom ini bisa dikatakan sangat mengecewakan. Ya, ini karena memang jangkauan saja belum sampai lokasi.

Ketika saya pindah ke Jakarta, salah seorang teman saya juga memutuskan untuk mencoba layanan ini. Keputusan ini juga setelah teman saya tersebut mencoba untuk menggunakan modem Smart milik saya di rumahnya. Masalah yang kadang juga muncul adalah ketika koneksi tiba-tiba terputus, padahal sinyal tertangkap penuh.

Akhir-akhir ini saya mengamati kalau kecepatan mengunggah berkas menjadi sangat sulit. Untuk berkas-berkas kecil sebenarnya tidak terlalu masalah. Saya pernah mengunggah 3 berkas masing-masing sebesar sekitar 100 Kb ke laman Facebook saya, bisa dikatakan kecepatannya sangat mengecewakan. Sering kali gagal. Tapi, masalah seperti ini tidak terjadi ketika saya mengunggah satu persatu. Hal yang sama juga ketika saya mengunggah foto ke Flickr. Kecepatannya terasa lambat sekali, walaupun saya rasa ukuran berkas tidak terlalu besar.

Catatan: Tulisan ini adalah pengalaman pribadi, dan tidak disponsori oleh pihak manapun.

Isu Tsunami dan Kepanikan Gempa Jogja 2006

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya: Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006.

Entah dari mana isu adanya tsunami berawal. Yang pasti, rumor tentang adanya tsunami ini benar-benar membuat suasana menjadi sangat kacau. Ada sempat keraguan bahwa tsunami benar-benar terjadi. Tapi, keadaan panik mengalahkan akal sehat saya, dan mungkin ratusan (atau bahkan ribuan) orang yang saat itu juga sedang sangat panik. Dari arah selatan, kendaraan melaju kencang. Motor, mobil bahkan truk dengan lampu menyala bergerak cepat ke utara. Saat sampai di perempatan jalan utama, ada dua orang polisi lalu lintas yang sedang mengatur arus kendaraan.

Salah seorang polisi berusaha untuk menenangkan dengan menyebutkan bahwa tidak terjadi tsunami. Petugas yang satunya lari dari tengah jalan, menuju ke pos jaga. Entah ingin memberitahukan tentang kepanikan yang baru terjadi, atau ikut berusaha menyelamatkan diri, entahlah…

2006_tsu_1

Warga dan kendaraan yang semula hanya berdiri dan berhenti di pinggir jalan menjadi ikut panik dan segera melarikan kendaraan masing-masing. Yang kebetulan sedang berjalan, berusaha memberhentikan kendaran lain untuk bisa menumpang. Gambaran keadaan yang terjadi kurang lebih sama seperti yang terlihat di televisi beberapa saat setelah gempa.

Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006

Sudah hampir satu minggu, peristiwa gempa di Padang, Sumatera Barat berlalu. Turut berduka cita bagi para korban dan juga keluarga yang mendapatkan musibah. Ketika pertama kali melihat tayangan televisi, dan juga informasi lanjutan tentang gempa tersebut, langsung saya teringat tentang apa yang melanda kota dan (dan beberapa wilayah lainnya) pada saat terjadi gempa besar tahun 2006 yang lalu.

Saya tidak akan membandingkan tentang mana yang lebih parah. Satu hal yang pasti, tidak ada yang menginginkan terjadinya bencana tersebut. Walaupun sudah lebih dari tiga tahun setelah gempa tersebut, saya pribadi masih merasakan perasaan trauma, karena keluarga saya juga menjadi salah satu korban. Saya merasa sangat bersyukur (dan beruntung), karena harta yang paling bernilai — nyawa kami sekeluarga — masih kami miliki. Sesaat setelah gempa, ayah saya pernah bilang, “Uwis, rapopo. Sing penting kabeh slamet… (Sudah tidak apa-apa, yang penting semua selamat).

Ikut Pemilu Legislatif 2009 atau tidak?

Legislatif tahun 2009 tinggal seminggu lagi. Tapi, sampai sekarang saya juga tidak tahu apakah saya terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) atau tidak. Mau cari tahu, tidak terlalu bersemangat. Tidak cari tahu, kok penasaran juga.

Tempat tinggal saya saat ini memang tidak sesuai dengan alamat yang ada di KTP saya. Saya tinggal di , tapi menurut KTP, saya terdaftar sebagai warga .

Ya, kita lihat saja nanti. Kalau bisa ikut memberikan suara, ya ikut. Kalau tidak, ya sudah…

Warta Ekonomi E-Government Award 2008

Selamat untuk Kabupaten atas penghargaan dalam ajang Warta Ekonomi E-Government Award 2008 untuk kategori kabupaten. Pertama dengar kabar ini ketika Yan Arief sedang di untuk ikut hadir dalam acara itu. (link)

Selamat! Eh iya, KTP saya masih domisili Bantul. Jadi, saya ini sebenarnya juga wong Bantul. :D

Bird flu hits Jogjakarta?

I just heard a news from Buletin Siang (RCTI). The news reported that there was one died because of bird flu in . One child from Magelang (near Jogjakarta) was died. Few months ago, there was a bird flu case in (near Jogjakarta too). And the story gone.