Siap Kembali ke Normal Lagi?

Karena kebijakan yang melonggarkan aturan terkait pembatasan sosial, yang entah dengan parameter atau pertimbangan yang mana — mungkin pertimbangan ekonomi adalah faktor utamanya — sepertinya suka atau tidak tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya.

Sulit sebenarnya untuk tidak membandingkan bagaimana penanganan pandemi di Indonesia dengan negara lain. Memang sih, ada hal-hal yang sebaiknya tidak perlu dibanding-bandingkan. Tapi, karena ini sifatnya global, agak sulit untuk tidak membandingkan.

Dua hari lalu, Selandia Baru mengumumkan untuk membuka diri dengan lebih luas. sejak mereka melakukan lockdown mulai 25 Maret 2020 lalu. Negara ini menurunkan sistem peringatan menjadi Tingkat 1 (Level 1) dari standar peringatan Tingkat 4 dari yang mereka punya.

Kegiatan ekonomi mulai berjalan dengan normal, tidak ada jaga jarak. Mungkin bisa dibilang mendekati normal.

Tapi, semua itu dilakukan setelah lebih dari dua minggu tidak ditemukan kasus positif baru Covid-19.

While we’re in a safer, stronger position, there’s still no easy back to pre-Covid life, but the determination and focus we have had on our health response will now be vested in our economic rebuild.

Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru

Melihat dan berita tentang Selandia Baru, rasanya kok senang ya. Walaupun, itu tidak terjadi di negara tercinta ini. Ada kepedulian dari negara, ada peran serta masyarakat yang begitu terasa. Suka saja gitu.

Kembali ke Indonesia…

Grafik penambahan kasus per hari sepertinya belum ada terlihat menurun atau melandai. Yang ada, malah tambah banyak. Di saat sudah mulai digadang-gadang untuk memasuki normal baru, pada 9 Juni 2020 jumlah kasus terkonfirmasi malah menunjukan angka tertinggi, 1.043 kasus.

Tentu saja, kondisi Selandia Baru tidak begitu saja dijadikan benchmark. Demografi berbeda, jumlah penduduk berbeda, pemahaman tentang dan sanitasi juga berbeda, kebijakan politik berbeda, dan masih banyak “berbeda” yang lainnya.

Tidak semua orang memiliki kemewahan yang sama untuk dapat bekerja dari rumah. Bahkan, mungkin jumlah orang yang benar-benar bisa berada di rumah, dengan segala macam kebutuhan hidup “terkirim ke rumah” juga jumlahnya lebih banyak.

Kantor mulai buka walaupun terbatas. Tempat publik yang memicu keramaian, juga mulai dibuka, dengan protokol yang ada yang keberhasilannya ditentukan oleh masyarakat sendiri.

Menurut saya, siap atau tidak seiap dengan “normal baru” ini lebih kepada bagaimana kita mengelola risiko. Kalau dirasa ada risiko yang cukup besar, tentu hal yang bijaksana adalah bagaimana kita menghindari atau meminimalkan dengan sebaik-bainya.

Kalau memang tidak harus bepergian, untuk keperluan yang benar-benar penting, mungkin bisa dibatalkan, atau dikelola waktunya — jika waktu bisa lebih fleksibel. Saya beberapa minggu lalu juga kadang masih harus ke supermarket. Tapi, waktunya saya kondisikan ketika di jam-jam tidak sibuk. Tentu saja, bersyukur karena memiliki fleksibilitas itu.