Rutinitas Baru dan Tidak Begitu Baru

Berada di rumah hampir dua puluh empat jam sehari, selama tiga minggu berturut-turut ini jelas mengubah kebiasaan sehari-hari. Bahkan, kebiasaan baru juga akhirnya muncul. Kalau ada teori yang mengatakan bahwa “apabila sesuatu dilakukan secara terus menerus tanpa henti selama 21 hari, maka dia akan menjadi sebuah kebiasaan baru“, mungkin ada benarnya juga.

Pola Rutin

Yang pasti, bangun lebih pagi. Apalagi setelah tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Bangun setiap hari sekitar pukul 05.30-06.00. Begitu bangun, beberes bentar, lalu ke dapur. Kalau hari kerja, biasanya sebelum jam 09.00 beberapa rutinitas pagi — berdua bersama istri — sudah harus beres seperti: memandikan bayi, bikin sarapan buat bayi dilanjut menyuapi, buka korden di lantai bawah, buka jendela kamar, masak, bikin teh, sarapan, menyapu, dan mandi.

Sesiangan aktivitas seperti biasa dan dibagai sama istri. Kalau siang mungkin cukup normal saja. Paling beli dari tukang sayur yang lewat — kalau ada yang mau dibeli — atau pesan dari warung sembako depan untuk kebutuhan harian. Saya sendiri akan banyak di depan komputer karena memang bekerja. Walaupun, kadang pas jam makan siang atau istirahat bentar saya kadang saya pakai untuk kegiatan di dapur seperti mencuci atau bahkan memasak untuk makan siang. Memasaknya yang sederhana saja tentunya.

Menjelang sore dan jam bekerja, lanjut dengan memandikan bayi, bikin makan malam, memasak (kadang jika pas ingin masak), mandi, makan malam, dan akan berlanjut agak malam. Biasanya ditutup dengan melipat cucian, membersihkan semua cucian di dapur, dan pel lantai.

Kadang, ada juga kegiatan lain, yang kebanyakan adalah tentang beberesih dan merapikan rumah. So far so good, I guess.

Aktivitas di atas sebenarnya tidak terlalu berubah dari biasanya. Bedanya, cuma tidak ada asisten rumah tangga saja yang dulu ikut kebanyakan memang untuk baby sitting jika diperlukan, walaupun ikut bebersih juga.

Belanja

Yang pasti, tiga minggu ini hampir tidak pernah lagi ke pasar tradisional; sebuah aktivitas yang saya sangat suka dan nikmati. Berjalan di lorong pasar, mencium bau sayuran, bumbu dapur, buah segar, amisnya ikan, aroma tahu dan tempe.

Belum lagi interaksi dengan penjual sayur langganan, dan beberapa kios yang saya kunjungi, karena saya punya prinsip tentang belanja di pasar bahwa ‘tidak semua barang harus dibeli di satu tempat’. Termasuk prinsip, ‘belinya tidak selalu di penjual yang sama, walaupun ada penjual langganan’.

Saya sangat merindukan semua itu.

Tapi, barang-barang yang biasanya saya beli di pasar tetap saya bisa dapatkan. Kebetulan, hampir tiap hari tukang sayur keliling yang di kompleks juga lewat. Bedanya, sekarang agak siang. Barang belanjaan juga sekarang banyak yang karena pesanan.

“Agus”. Itu adalah nama tukang sayur keliling di kompleks. Entah ini nama sebenarnya atau cuma biar gampang saja. Tentu, kehadirannya sangat membantu! Jadilah, kalau memang lagi ingin belanjaan yang spesifik dan amannya pesan dulu, kami tuliskan di WhatsApp si Agus ini.

Beres.

Kalau si Agus ini tidak datang, atau memang ingin beli sayuran yang agak banyak dan lebih beragam, warung sembako depan kompleks perumahan juga sangat bisa diandalkan. Mulai dari daun salam, ketumbar, kunyit, cemilan, sampai air galon isi ulang dan tabung gas isi ulang 5,5kg juga siap diantar.

Bahkan, kalau mau pesan yang lebih spesifik, bisa di hari sebelumnya, karena setiap pagi mereka belanja ke salah satu pasar besar di Jogjakarta — untuk dijual lagi — jadi bisa sekaligus nitip. Biasanya saya cuma nitip sayuran dan bumbu-bumbu saja.

Karena memang konsepnya ‘nitip’ bukan ‘beli yang sudah ada di warung’, jadi temulawak 1 kg yang masih segar, lengkuas setengah kilo, sampai kunyit yang masih segar bisa datang sampai di depan pintu.

Bahkan, melalui komunikasi di WhatsApp, sering juga malah tanya, “ada sayuran apa di sana (warung)?” kalau kita tidak ada ide beli sayuran apa. Haha!

Selain itu, kadang belanja juga masih di Indomaret (melalui aplikasi dan layanan kurir), dan juga ke Superindo.

Kegiatan Lain

Aktivitas berkumpul dengan teman-teman satu komunitas gereja yang biasanya dilakukan setiap Kamis malam, sekarang diganti secara daring. Kegiatan utama untuk saling sharing, bercerita, bertukar kabar tetap dapat dilanjutkan. Tentu, sensasinya akan berbeda dibandingkan dengan bertemu secara langsung.

Tapi, esensi utama justru makin terasa manfaatnya untuk bagaimana bisa mengetahui kabar satu dengan yang lainnya, termasuk saling men-support satu sama lain. “Apa kabar?” menjadi sebuah kalimat yang sangat berarti dalam situasi saat ini.

Karena ibadah di gereja juga ditiadakan sejak tiga minggu lalu dan diganti dengan ibadah secara daring, otomatis pertemuan langsung untuk pelayanan bersama juga tidak ada lagi. Pertemuan singkat untuk briefing diubah secara daring juga, dengan jadwal yang sama pula.

Mungkin, menulis kembali di blog ini juga menarik untuk dijadikan kebiasaan.

Karena di rumah saja, jadi makin banyak kesempatan untuk nonton di Netflix, bukan?

Bukan. Gak sempat lagi. Haha!