Perjalanan Berikutnya

Di bulan Februari ini, satu tahun sudah saya tinggal di Jakarta. Sebuah periode waktu yang menurut saya lumayan lama juga. Kalau tidak salah ingat, tanggal 2 Februari 2011 2010 saya sampai di Jakarta — setelah di waktu-waktu sebelumnya saya sering bolak-balik Jakarta-Jogja. Saya datang ke kota ini, untuk mencoba menjawab tantangan, membulatkan tekat untuk bekerja bersama dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama. Saya menikmatinya dan sebagian mimpi saya yang terwujud, bersama dengan teman-teman saya.

Banyak hal-hal non-materi yang telah saya dapatkan di kota ini. Teman-teman baru, pengalaman baru, ilmu baru dan hal-hal lain yang kadang membuat saya berpikir. Beberapa minggu lalu, saya pulang ke kampung halaman untuk beberapa hari. Saya rasa saya tidak pernah lebih dari 1 minggu berada di Jogja. Hasilnya, saya serudak-seruduk kesana kemari, hanya untuk bertemu dengan teman, dan keluarga. “Lho, sudah balik (ke Jakarta) lagi?” mungkin menjadi pertanyaan yang sering muncul setiap saya pulang. “Bagaimana Jakarta?”, “Kerasan tinggal di Jakarta?”, “Hati-hati di Jakarta…” dan “Kapan pulang ke Jogja lagi?” merupakan pertanyaan lain yang muncul.

U-Turns Are Allowed

Saya berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan lelah, walaupun kadang saya ingin sekadar beristirahat, tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin bersama orang-orang terdekat. Tapi, sering kali hal ini menjadi sebuah kemewahan yang jarang terwujud. Orang tua saya pernah bertanya, “Apa tidak capek, bolak-balik terus… Kita saja yang melihat rasanya capek…”. Saya sempat terdiam. Untunglah orang tua bisa menerima kondisi ini. “Ah, kalau dilihat ya capek, tapi kalau dijalani sih ya tidak capek-capek bangetlah…”. Entah saya jujur atau bohong pada diri saya sendiri ketika mengatakan hal ini.

Baca juga:  Menerima pembayaran dari luar negeri melalui Pacto Moneygram

Ada banyak hal menarik di Jakarta ini. Namun, saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri kalau saya ingin tinggal di kota kelahiran saya: Jogjakarta. Dan, saya merasakan keinginan tersebut semakin besar. Saya tahu, ini bukan tanpa risiko. Mungkin saya akan mencoba meyakinkan diri saya sendiri, sama seperti ketika saya memutuskan untuk berada di Jakarta.

Saya lupa baca/mendengar dimana, konon katanya, “It’s hard to live in Jakarta. But, sometime it’s harder to leave Jakarta…” Begitu kurang lebih. Sepertinya saya harus menyetujui kalimat itu. Saya tidak ingin mengeluh. Entah ini membuat saya menjadi lebih kuat, atau justru sebaliknya. Menjaga kewarasan di kota ini, kadang membutuhkan usaha dan pengorbanan.

Setahun lalu, saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya membuat keputusan yang tepat. Saat ini, keyakinan tersebut muncul kembali…