Pencuri yang Mengaku

Bukan, bukan. Ini tidak ada kaitannya dengan salah satu judul sinetron. Dan, ini bukan tentang rencana saya membuat sinetron. Saya gak ngerti tentang seperti itu.

Jadi ceritanya, kemarin saya mau pulang setelah nongkrong sejenak disalah satu tempat di daerah Mampang Prapatan. Sewaktu akan menyeberang jalan, ada dua orang berboncengan mengendarai kuda supaya baik jalannya berhenti didepan saya. Maksud saya, sepeda motor. Ya mereka berhenti karena saya kebetulan juga menyeberang di lampu merah, dan lampu sedang menyala merah.

“Mas, kalau ke arah Depok kemana ya?”, tanya dia. Saya memang bukan orang Jakarta, dan baru sekitar satu tahun berada di Jakarta. Tapi saya agak tahu arahnya, saya tunjuk arah.
“Kalau ini lurus jalan apa?”
“Ini lurus ke Buncit…”

Orang itu diam sejenak, kemudian mendekatkan kepalanya ke saya, dan dengan suara yang lebih pelan bertanya lagi ke saya, “Kalau disini jual handphone batangan dimana ya?”. Awalnya saya tidak begitu ngeh, tapi saya ingat kalau di dekat perempatan Mampang saya beberapa kali lihat — karena sering iseng jalan ke arah itu — ada beberapa penjual telepon genggam di pinggir jalan. “Disana mas, tidak jauh…”, jawab saya.

“Mau jual handphone nih bang…”, katanya. Sebenarnya saya sedang tidak butuh handphone. Selain karena sudah ada dua, dan juga karena sedang tidak ada budget. Dia mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam. Pertama kali memperlihatkan saya langsung mengenalinya, karena tipe ponsel yang diperlihatkan sama seperti milik saya. Nokia N8! Wah!

Sebelum saya sempat merespon apa-apa, dia melanjutkan kalau dia mau jual cepat saja karena sedang butuh duit. Dalam hati, saya bilang ya sama kalau butuh duit. Hehehehe… Intinya: dia mau jual itu ponsel DAN dia bilang, kalau kalau dia mengambil ponsel itu dari tangan bos-nya. Nah, “mengambil dari tangan orang lain”. Iya, mencuri. Siyal! Usai sudah harapan untuk memiliki ponsel N8 satu lagi *halah!*

Baca juga:  Pengalaman Menyewa Safe Deposit Box (di bank)

Saya tidak ada keinginan beli sejak awal, apalagi ketika orang itu mengaku kalau memang itu ponsel adalah hasil curian. Lha saya sudah banyak dosa, mosok iya masih ditambah dengan membeli barang hasil curian — apalagi orang itu sudah jelas-jelas mengaku. Tapi, jiwa entrepreneur orang tersebut sepertinya cukup gigih. Terus menawarkan ke saya. Tanpa menyebutkan angka. Selalu yang dia ulang-ulang adalah, “Ini sudah 3G ini…” Itu saja. Saya tolak dan dia semakin semangat untuk membujuk saya.

Akhirnya, saya coba untuk menyudahi saja pembicaraan di pinggir jalan itu, “Mas, saya sedang tidak butuh HP. Maaf mas, saya mau pulang….”, saya ucapkan dengan nada sedikit serius. “Ya sudah, Bang. Makasih….”

Mereka berlalu dari hadapan saya. Saya lanjutkan menyeberang. Untuk pulang.